BAB IV ANALISA DATA DAN INTERPRETASI
A. ANALISA DATA
3. Responden 3
a. Jadwal Wawancara
Tabel 4.5 Jadwal Wawancara pada Responden 3
NO Hari, Tanggal Durasi Tempat
1. 21 April 2012 16 menit ruang kaca di ITBC
2. 24 April 2012 77 menit ruang kaca di ITBC
3. 02 Mei 2012 35 menit ruang kaca di
ITBC
4. 10 Agustus 2012 55 menit ruang kaca di ITBC
b. Deskripsi identitas diri responden 3
Tabel 4.6 Gambaran Umum Responden 3
Keterangan Responden 3
Nama (Inisial) B3
Jenis Kelamin Laki-laki
Usia 29 tahun
Status Tidak menikah
Agama Buddha
Suku Jawa
Pendidikan -
Banyaknya vassa yang telah dijalankan
c. Rangkuman hasil wawancara responden 3
B3 merupakan anak ke 2 dari 4 bersaudara. B3 telah mengenal Agama Buddha sejak kecil. Tujuannya dari Jawa ke Medan adalah untuk bertemu dengan Eyang (Bhikkhu yang berdiam di Vihara Borobudur) guna mempelajari Meditasi selama setahun dengan Eyang dan menuju tahap selanjutnya sebagai seorang samanera atau Bhikkhu bila memungkinkan.
Keinginan tersebut disampaikan kepada keluarganya sebelum kepergiannya ke Medan, namun tidak ada reaksi yang dikeluarkan oleh keluarganya saat ia menceritakan niatnya untuk menjalani kehidupan sebagai seorang Bhikkhu. Niatnya untuk ke Medan sudah bulat. Baginya, apapun komentar dari orang tuanya ia akan tetap pergi karena tiket sudah dibeli. Sesampainya di Medan, ia pun bertemu dengan Eyang dan ceritakan tujuannya ke Medan kepada Eyang, Eyang lalu mengajaknya ke Vihara Kassapa selama dua minggu untuk mengikuti pelatihan Meditasi Vipassana (salah satu jenis latihan meditasi yang ada didalam Agama Buddha) yang tengah berlangsung pada saat itu. Setelah selesai mengikuti latihan Vipassana selama dua minggu, Eyang mengatakan kepadanya bahwa satu minggu lagi ia akan diangkat. Saat itu yang ada dalam dipikirannya hanyalah ia akan diangkat menjadi murid untuk belajar meditasi.
Tidak sampai satu minggu berlalu, Eyang kembali ke Vihara Kassapa dan mengatakan padanya bahwa tanggal 21 bukanlah hari yang baik untuk melakukan penahbisan sehingga ia memutuskan untuk
melakukannya pada tanggal 19, yaitu hari ini. Saat itu B3 baru menyadari bahwa maksud penahbisan yang dikatakan oleh Eyang adalah ditahbis menjadi samanera. Atas persetujuaan dari B3, maka ia pun ditahbis menjadi seorang samanera tiga minggu setelah kedatangannya ke Medan.
Tujuh bulan setelah menjadi samanera, Eyang memohon ia dan teman-temannya untuk membuat passport. Saat itu B3 tidak menyetujuinya dan menahan dengan banyak alasan oleh karena ia masih merasa belum cukup siap dan berani untuk ke Thailand. Hal itu disebabkan oleh kemampuan Bahasa Thailandnya yang hampir bisa dikatakan nol. Akhirnya setelah satu tahun menjalani kehidupan sebagai seorang samanera, B3 pun berangkat ke Thailand untuk ditahbis menjadi seorang Bhante.
Beberapa hari setelah ia di Thailand, ia pun ditahbis menjadi seorang Bhante Theravada. Ia menjadi Bhante dibawah bimbingan Rompo A, gurunya di Thailand. Bagi B3 kehidupan dan cara belajar di Thailand tidak jauh berbeda dengan cara mengajar Eyang, guru mereka sebelumnya. Mereka tidak dididik secara formal. Mereka hanya perlu meniru segala sesuatu yang dilakukan oleh Rompo.
Setelah menjalani ke-Bhikkhuan selama empat vassa di Thailand, ia diminta untuk mengantar Rompo ke Medan karena Rompo belum pernah ke Medan dan tidak bisa berbahasa Indonesia dengan fasih. Oleh karena permasalahan visa kependudukan di Thailand, ia pun akhirnya menetap di Indonesia selama tiga bulan dan kembali ke Thailand setelahnya.
Sementara Rompo pulang ke Thailand terlebih dahulu dengan diantar oleh B1.
Pada saat Kathina (upacara peringatan selesainya masa vassa pada sekitar bulan oktober dan umat dapat mulai mendanakan empat kebutuhan pokok para Bhikkhu kepada para Bhikkhu), B3 diminta Eyang untuk kemB3li ke Indonesia dan membantu acara Kathina di Indonesia. Sejak saat itu, B3 mulai kembali menetap di Medan sampai sekarang.
d. Hasil observasi wawancara responden 3
1) Wawancara 1
Peneliti telah mengenal Bhante sejak wawancara awal yang dilakukan pada bulan september 2011. Diantara kesibukan Bhante dan kepergian Bhante ke Thailand, Peneliti baru bisa bertemu dengan Bhante pada bulan ini. Peneliti sampai di Vihara yang biasanya didiami oleh B3 pada pagi hari jam 9.20. Saat itu B3 sedang melakukan pelepasan makluk hidup dan berdoa di belakang vihara. Peneliti pun duduk dan menunggu B3 kembali. Bhante kembali pada jam kurang lebih 9.50. Anton, yang merupakan teman peneliti, menceritakan maksud kedatangan peneliti kepada Bhante. Bhante meminta untuk menunggu sebentar sementara ia mencuci kakinya terlebih dahulu. Bhante pun pergi mencuci kaki. Setelah itu Peneliti dan Andi menuju ruangan berkaca tempat biasanya Bhante makan siang.
Peneliti dan Anton memberikan penghormatan kepada Bhante setelah itu peneliti bersama dengan Anton berbincang sebentar selama
10 menit dengan Bhante. Setelah itu Peneliti memberikan “inform consent” kepada Bhante untuk dibaca. Setelah itu, Bhante bertanya beberapa hal, ia pun setuju dan menandatangani surat tersebut. Setelah itu sesi wawancara pun dimulai. Kegiatan wawancara berlangsung dengan santai dimana ada tiga orang ada didalam ruangan (Peneliti, Bhante dan Anton). Bhante tertawa beberapa kali saat bercerita. Bhante bercerita dengan duduk kaki bersila. Wawancara berlangsung sebentar sampai jam 10.20 (selama kurang lebih lima belas menit) karena umat yang mengundang Bhante untuk makan siang telah datang menjemput. Peneliti dan Anton pun menghentikan wawancara dan memutuskan waktu untuk pertemuan selajutnya. Setelah selesai, Peneliti dan Anton memberikan penghormatan kepada Bhante dan meminta izin pulang.
2) Wawancara 2
Saat Peneliti dan Anton datang, B3 masih di atas. Saat itu Anton melihat seorang samanera yang sedang berada di halaman Vihara, Anton menceritakan maksud kedatangannya kepada Samanera terseubt. Samanera pun pergi memanggil B3. Setelah kembali, samanera meminta Anton menunggu sebentar. Tidak lama kemudian, B3 muncul dengan memakai jubah lengkapnya seperti biasa. Peneliti dan Anton pun mengikuti B3 menuju ruangan seperti biasa dan memberikan penghormatan kepada Bhante. Pagi itu wawancara di awali dengan ngobrol santai selama kurang lebih lima belas menit. Setelah itu peneliti memulai sesi wawancara untuk melanjutkan sesi
wawancara yang sempat terputus beberapa hari yang lalu. Peneliti menghidupkan alat perekam dan menaruhnya di atas meja. B3 duduk dengan tangan terlipat diatas meja dan menjawab pertanyaan dengan tenang. B3 tertawa beberapa kali saat jawab pertanyaan Peneliti dan menceritakan kisah hidupnya. Pada saat pertengahan sesi wawancara, Anton mengambil alat perekam dan menaruhnya di depan Bhante. Bhante pun langsung memegang alat perekam itu dan medekatkan dengan dirinya agar suaranya lebih terdengar jelas sambil menjawab pertanyaan yang diberikan peneliti. Kurang lebih lima belas menit setelah sesi wawancara berlangsung, seorang pegawai Vihara masuk dan mengatakan ada telepon untuk Bhante sambil menyerahkan telepon. Bhante pun menjawab telepon terlebih dahulu. Lalu, pegawai tersebut pergi meninggalkan telepon itu bersama dengan Bhante. Setelah Bhante selesai menjawab telepon, wawancara dimulai kembali. Sepuluh menit kemudian, telepon berdering lagi, Bhante pun mengangkat telepon sebentar baru melanjutkan kembali sesi wawancara. Setelah selesai wawancara, peneliti pun menutup alat perekam. Sesi wawancara berlangsung selama kurang lebih satu jam lima menit. Oleh karena waktu masih cukup panjang sebelum Bhante makan siang, peneliti dan Anton pun mengobrol santai selama kurang lebih 1 jam setelah itu meminta izin pulang dengan Bhante dan mememberikan penghormatan.
3) Wawancara 3
Peneliti bersama dengan Anton datang dengan tujuan untuk bertemu B1 terlebih dahulu setelah itu baru melakukan wawancara dengan B3. Namun karena B1 sedang ada tamu, peneliti dan Anton pun menunggu. Setelah kurang lebih setengah jam menunggu, peneliti membaca papan pengumuman dan terlihat bahwa hari ini juga terdapat undangan makan siang diluar kepada Bhante. Peneliti dan Anton pun memutuskan untuk mewawancara B3 terlebih dahulu karena B1 masih ada tamu. Anton menceritakan maksud kedatangannya kepada samanera yang ada diluar dan samanera masuk untuk memberitahu B3. Tidak lama kemudian B3 keluar dengan jubah kuningnya lengkap seperti biasa. Peneliti menuju ruangan seperti berpintu kaca. Setelah Bhante duduk bersila di depan peneliti dan Anton, Peneliti dan Anton pun memberikan penghormatan kepada Bhante. Wawancara dimulai secara langsung dengan awal ngobrol yang hanya 5 menit. Wawancara berlangsung dengan santai. Alat perekam peneliti letakkan di atas meja. Beberapa menit setelah wawancara dimulai, Anton mengambil alat perekam tersebut dan menaruhnya di depan Bhante. Bhante memegangnya dan mendekatkan alat perekam tersebut sambil berbicara. Kurang lebih lima belas menit setelah wawancara, B1 datang dan peneliti bersama dengan Anton menyapanya. Wawancara terpotong sebentar saat itu dimana peneliti bersama dengan Anton mengobrol sebentar dengan B1. Setelah itu B1 kembali ke Kutinya
(tempat tinggal para Bhante) dan wawancara pun dimulai kembali. Saat pertengahan wawancara, Bhante tertawa beberapa kali pada saat wawancara berlangsung. Wawancara berlangsung selama kurang lebih 35 menit. Wawancara selesai ketika waktu telah menunjukkan pukul 10.15. Sebelum memohon izin dengan Bhante, peneliti dan Anton mengobrol sebentar untuk menanyakan jadwal kegiatan Bhante kedepannya. Setelah selesai, Peneliti bersama dengan Anton pun memohon izin dan memberikan penghormatan kepada Bhante. Bhante pun kembali ke kutinya untuk bersiap-siap untuk pergi ke undangan makan siang.
4) wawancara 4
Peneliti datang bersama dengan Anton kurang lebih pukul 9 pagi. Saat itu B3 masih berada didalam kutinya (tempat tinggalnya). Anton pun meminta bantuan salah seorang samanera untuk mengabarkan kedatangan kami. Sambil menunggu, peneliti berkeliling di sekitar Vihara untuk melihat-lihat.
Setelah selesai melihat-lihat, peneliti kembali dan mendapati Anton telah duduk dan mengobrol bersama dengan B3 didalam ruangan kaca. Peneliti pun masuk kedalam ruangan dan mengucapkan salam kepada B3 lalu memberikan penghormatan. Anton sedang mengobrol santai kepada B3 sambil menceritakan mengenai pengalamannya bersama dengan B2 beberapa waktu yang lalu. Peneliti mendengarkan sambil mempersiapkan alat perekam.
Obrolan antara Anton dan B3 terasa santai. Hal ini terlihat dari tawa keluar antara B3 dan Anton diselah perbincangan mereka. Peneliti pun ikut masuk kedalam perbincangan yang ada tidak lama kemudian. Perbincangan ini berlangsung selama kurang lebih lima belas menit. Setelah selesai, B3 memberikan isyarat kepada peneliti untuk memulai wawancara. Peneliti pun mengeluarkan alat perekam yang telah dipersiapkan dan meletakkannya di dekat B3.
Posisi duduk antara Anton, Peneliti dan Bhante terlihat tidak jauh berbeda dengan posisi duduk dalam wawancara yang sebelumnya. Ruangan terlihat baru saja di Renovasi di beberapa bagiannya. Wawancara berlangsung selama kurang lebih 55 menit. Wawancara berlangsung dengan santai. Terlihat dari tawa yang keluar diantara Peneliti, Bhante dan Anton dalam sesi wawancara. B3 pun menjawab beberapa jawaban dengan candaan. Setelah selesai melakukan sesi wawancara, peneliti dan Anton masih duduk dan berbincang dengan Bhante.
Perbincangan berlangsung kurang lebih selama setengah jam. Ketika jam menunjukkan pukul 10:20 menit, peneliti dan Anton memohonn izin untuk pulang dan memberikan salam penghormatan kepada Bhante.
e. Latar belakang menjadi seorang Bhante pada responden 3
Tujuan B3 belajar meditasi pada awalnya adalah untuk mengubah sifat-sfat buruknya yang ada. Hal ini adalah saran dari abang sepupunya.
Ia pun mencari informasi mengenai pelatihan meditasi yang ada dan mendaftarkan diri untuk berlatih meditasi di Jawa. Sebelum kepergiannya, ia bertemu dengan B1 yang menceritakan mengenai kisah kehidupan Bhikkhu senior yang menjalankan ke-Bhikkhuan dengan keras dalam pelaksanaan peraturan dan meditasinya. Ia pun tertarik dan akhirnya memutuskan untuk belajar meditasi dengan Eyang di Medan. Keinginan untuk belajar Agama Buddha lebih dalam merupakan alasan lainnya kenapa ia ingin menjadi seorang Bhante Theravada.
“tertariknya bukan jadi samanera waktu itu.. tertariknya mau ikut berlatih meditasi.. karena sebelumnya kan memang udah ada keinginan latihan meditasi ketempat BSB.. itu udah ada keinginan kesana.. dan itu pun sudah ya.. sudah ditentukan tanggalnya untuk pergi kesana... diantar sama abang sepupu saya waktu itu ke kebun raya sama... setelah denger cerita tentan eyang akhirnya gak jadi.. (tertawa) malah pergi kemedan.. (tertawa) ...”
(R3.W4.b.0220-0232.h.5)
“cerita cerita dari seorang Bhikkhu tentang Bhikkhu yang sangat senior.. ya.. jadi itu awal mula keinginan... keinginan itu dikatakan didorong dari ingin belajar lebih lebih dalam tentang ajaran Buddha itu sendiri.”
(R3.W1.b.0031-0036.h.1)
“yang sangat terinspirasi untuk menjadi Bhikkhu contohnya adalah menceritakan seorang Bhikkhu senior yang menjalankan ke
Bhikkhuan yang sangat keras.. ya dalam artian keras didalam peraturan Bhikkhu itu sendiri.”
(R3.W1.b.0043-0049.h.1)
“saya tertarik meditasi dengan tujuan untuk merubah... ya mungkin merubah sifat sifat saya yang mungkin tidak terkendali pada waktu itu ya.. “
(R3.W3.b.0006-0010.h.1)
Sesampainya di Medan dan bertemu dengan eyang, ia mengutarakan niatnya untuk mempelajari meditasi selama satu tahun
dibawah bimbingan eyang lalu ditabis menjadi samanera. Niatnya untuk bermeditasi dilandaskan dengan keinginan yang kuat untuk mengubah sifat-sifat buruknya yang sudah ada dan ketertarikannya akan kisah dimana meditasi dapat menimbulkan kesaktian dan kesucian.
“walaupun tidak seratus persen itu ya ada tertarik seperti ya diceritakan pada orang orang terdahulu itu ya.. ya tadi itu bisa me.. bisa me menimbulkan kesaktian.. bisa menimbulkan kesucian.”
(R3.W3.b.0019-0024.h.1)
“Eyang bilang itu terlalu lama. ya.. jadi terlalu lama.. dikasih waktu setengah tahun”
(R3.W1.b.0145-0147.h.3)
Tiga minggu setelah ia di Medan, Eyang mengatakan kepadanya bahwa ia akan menahbiskan B3 menjadi seorang samanera. B3 menolak pada awalnya karena ia merasa belum cukup siap dan pengetahuan mengenai pelajaran Agama Buddha yang ia miliki masih kurang. Ia juga merasa terlalu cepat karena awal perjanjiannya dengan eyang adalah setengah tahun setelah ia di Medan. Eyang pun meminta ia mempertimbangkan kembali hal tersebut. Setelah berpikir panjang, ia pun akhirnya menyetujui atas dasar pemikiran bahwa godaan begitu banyak, bila ia berlatih dengan status sebagai seorang samanera, mungkin keyakinannya lebih kuat. Ia pun ditahbis bersama dua calon samanera lainnya pada hari itu juga.
“akhirnya ke kassapa.. selama dua minggu eyang setelah setelah latihan Vipassana.. eyang bilang udah.. satu minggu lagi saya angkat. nah.. pemikiran saya bukan diangkat jadi samanera.. ya jadi kiranya saya diangkat.. kira saya diangkat jadi murid betul-betul berlatih yang serius. “
“jadi.. waktu saat itu saya memberontak tidak mau.. karena janji tetap awalnya 6 bulan.. baru tiga minggu udah mau jadi
samanera. Saya gak mau.. apa lagi paritta pun belum hapal”
(R3.W1.b.0171-0176.h.4)
“saya berpikir kalau kalau .. berlatih tidak memakai jubah kendalanya lebih berat. tetapi kalau berlatih dengan pakek jubah mungkin keyakinannya makin kuat. dari situlah saya kira
memutuskan untuk menjadi samanera. dan samanera.”
(R3.W1.b.0181-0187.h.4)
Kesulitan awal yang dialami oleh B3 ketika menjadi samanera adalah kelaparan. Biasanya B3 makan tiga kali sehari saat di Jawa, namun pada saat di Vihara Kassapa ia hanya dapat makan satu kali sehari. Hal yang dapat dilakukan oleh B3 adalah menahan diri oleh karena memang sudah tidak ada makanan lagi setelahnya. B3 mulai merasa lebih baik dan terbiasa dengan pola makan yang ada tiga bulan setelahnya. Hal ini adalah salah satu bentuk latihan kesabaran dan pengendalian diri baginya.
“Walaupun itu lapar ya tetap saja ditahan.. karena memang udah gak ada makanan..setelah makan udah habis makanannya.. jadi ya... ditahan... karena berjalannya waktu kurang lebih tiga bulan.. nah.. baru bisa normal.. baru bisa melakukan banyak kegiatan. itulah kendala utama”
(R3.W1.b.0251-0258.h.6)
Latihan yang diberikan oleh Eyang kepada dia dan teman-teman seangkatannya saat itu adalah memintanya untuk banyak diam. Eyang memberi kebebasan kepada B3 untuk melakukan apapun, namun dia harus tetap diam sepanjang hari. Diam dalam hal ini adalah diam tidak berbicara kepada siapapun dan memperhatikan pergerakan badan jasmani. Awalnya B3 merasa itu mudah, tapi ketika ada teman untuk mengobrol,
B3 mulai merasa kesulitan. Saat menjadi samanera, ia dan teman-temannya juga belajar untuk baca paritta dan pelafalan vinaya serta pelaksanaannya.
“harus banyak diam.. dimana pun tempatnya kita tetap harus diam.. kalau bisa diam selamanya.. ya jadi diam.. dalam arti diam itu diam tidak berbicara.. ya.. diam menjaga badan jasmani itu diperhatikan gitu.. itu diam ... ya.. jadi memang walaupun mungkin dulu sifat saya lebih lebih condong ke diam.. tetapi saat jadi samanera suruh diam itu pun merasa sulit.. ya..”
(R3.W2.b.0033-0043.h.1)
“sebenarnya ... merasa berat ketika ada lawan untuk berbicara..”
(R3.W2.b.0145-0146.h.3)
Tujuh bulan setelah menjadi samanera, eyang memohon ia dan teman-temannya untuk membuat passport agar mereka dapat ke Thailand dan ditahbis menjadi Bhikkhu disana. Saat itu B3 menolak karena ia merasa belum cukup siap baik dalam segi bahasa maupun dalam segi pengetahuannya sebagai seorang samanera. Akhirnya setelah satu tahun menjalani kehidupan sebagai seorang samanera, B3 pun berangkat ke Thailand. Kepergiannya dilandaskan dengan niat yang besar untuk merasakan bagaimana rasanya mempraktekkan Ajaran Buddha yang lebih tinggi. Persetujuaannya untuk ke Thailand hanya dalam kurun waktu satu tahun adalah karena kedua temannya yang lain telah setuju untuk ke Thailand. Bila ia masih menunggu, kemungkinan besar, saat dimana ia telah siap untuk ke Thailand, ia akan pergi sendiri. Sedangkan bila ia pergi saat itu ia akan pergi bersama kedua temannya.
“setelah jadi samanera.. Eyang bilang tujuh bulan setelah itu nanti ke Thailand. saya menolak..”
“ya mungkin karena yang pertama karena ada rasa takut ya.. karena Bahasa Thailand sedikitpun gak tau.”
(R3.W2.b.0276-0279.h.6)
“waktu itu setelah satu tahun jadi samanera baru ke Thailand.
ya.”
(R3.W2.b.0272-0274.h.6)
“ingin ingin mempraktekkan yan lebih lebih lebih tinggi gitu.. Bagaimana rasa nya kalau mempraktekkan ajaran Buddha yang lebih tinggi.. pada waktu itu.. mungkin latihanya lebih bermanfaat ya.. lebih bermanfaat ..”
(R3.W2.b.0283-0289.h.6)
“saat itu bikin paspor saya pun saya pun ya berpikir ya kalau kalau saya merasa takut.. kalau saya berani nanti ke Thailand cuman sendirian gak punya teman.. tapi sekarang kalau saya ke Thailand walaupun takut tapi kan punya teman gitu... “
(R3.W4.b.0803-0810.h17)
Kegiatan keseharian B3 pada saat di Thailand adalah pindapata (berjalan keliling desa untuk mendapatkan dana makanan) pada pagi hari, Chanting (berdoa), melakukan kunjungan ke desa bila ada undangan seperti orang meninggal untuk dibacakan doa dan bersih-bersih Vihara. Bila ingin tahu lebih mendalam mengenai Ajaran Agama ataupun alasan dari Rompo melakukan sesuatu, mereka harus bertanya, bila tidak, guru mereka tidak akan menjelaskan kepada mereka.
“ya seperti Chanting.. setiap kalau rompo di vihara itu selalu chanting kalau baca pariita trus selalu bersih bersih vihara”
(R3.W2.b.0418-0421.h.9)
“terus kalau ingin ingin tau lebih dalam itu rompo gak kasih tau secara langsung.. kita harus bertanya..”
(R3.W2.b.0373-0376.h.8)
Awalnya B3 berpikir bahwa ia akan tinggal di Thailand dan belajar disana selama lima vassa. Lalu kembali ke Indonesia karena peraturan
para Bhikkhu dimana Bhikkhu yang muda harus ikut guru mereka selama 5 vassa. Hal itu juga dikatakan oleh eyang kepadanya saat sebelum ia ke Thailand. Keinginannya untuk kembali ke Medan adalah karena di Medanlah ia memulai kehidupan ke-Bhikkhuan dan motivasinya untuk menjadi seorang samanera adalah dari Eyang, maka mengabdikan dirinya di Medan.
“.. itu selama lima tahun baru kembali ke Indonesia.. awal mulanya pemikirannya..”
(R3.W2.b.0836-0839.h.17)
“ya pertama kalinya mungkin karena saya orang Indonesia.. ha yang kedua sebelum saya pergi eyang juga bilang selama lima vassa nanti sudah cukup di Thailand..”
(R3.W2.b.0842-0846.h.17)
“saya jadi samanera di medan.. pergi ke Thailand juga dari Medan.. mengabdi pun harus di medan.. ya (tertawa) karena saya menjadi samanera sampai jadi Bhikkhu motivasinya juga dari eyang ...”
(R3.W2.b.0862-0868.h.18)
Saat ia sedang menjalani vassa keempat dalam proses ke-Bhikkhuaannya, Rompo A diundang ke Medan. Ia pun diminta untuk mendampingin Rompo dalam perjalanannya ke Medan. Oleh karena permasalahan visa di Thailand, akhirnya ia pun menetap di Indonesia selama tiga bulan dan Rompo kembali sendiri ke Thailand dengan diantar oleh B1.
“.. 4 vassa waktu itu saya diminta untuk ngantar rompo ke medan.. ya .. rompo A..itu ya.. sebelumnya kan gak pernah ke Medan.. itu.. ya karena di undang ke Medan.. waktu itu saya di sana hanya sendirian yang dari medan saya sendirian.. akhirnya saya pergi ke Medan sama rompo .. saat pergi ke Medan.. setiap orang yang memiliki visa non imigran yang tinggal di Thailand
saat pergi keluar Thailand harus bikin re-entry.. minta izin untuk keluar dari negara Thailand gitu.. nyatanya itu di airport itu ada.. kantor imigrasi.. imigrasi untuk membikin re-entry.. saat saya mau pulang itu ngantar rompo.. udah udah masuk ke airport udah masuk ke dalam.. ternyata di dalam itu gak ada kantornya.. katanya sepuluh hari yang lalu kantornya di bongkar.. ya.. akhirnya wah kalau pergi ke Imigrasi kalau dari airport itu kurang lebih tiga jam.. udah gak sempat lagi ... yang imigrasi yang pusatnya.. ya..kalau disitukan bisa bikin.. i.. itu gak sempat lagi akhirnya ya.. nanti kalau saya kesana saya pigi duluan nanti rompo pergi sendirian.. bisa nyasar nanti.. karena waktu itu lewat KL gitu tidak langsung ke Medan ... akhirnya ya.. udah ku putusin