BAB IV ANALISA DATA DAN INTERPRETASI
A. ANALISA DATA
1. Responden 1
a. Jadwal wawancara
Tabel 4.1 Jadwal Wawancara pada Responden 1
NO Hari, Tanggal Durasi Tempat
1. 27 September 2011 70 menit ruang kaca di ITBC
2. 20 Maret 2012 77 menit ruang kaca di ITBC
3. 24 Maret 2012 68 menit ruang kaca di ITBC
4. 15 Mei 2012 21 menit depan kuti sangha
di ITBC
5. 11 Juli 2012 94 menit lobi ITBC
b. Deskripsi identitas diri responden 1
Tabel 4.2 Gambaran Umum Responden 1
Keterangan Responden 1
Nama (Inisial) B1
Jenis Kelamin Laki-laki
Usia 34
Status Tidak menikah
Agama Buddha
Suku Jawa
Pendidikan Sarjana
Banyaknya vassa yang telah dijalankan
9 Vassa
c. Rangkuman hasil wawancara responden 1
B1 merupakan anak tunggal dari latar belakang keluarga yang memiliki kepercayaan terhadap agama yang bervariasi. Ayah B1 beragama Islam dan Ibu B1 beragama Buddha dan B1 sendiri pun awalnya memiliki status beragama Buddha. Namun ia tidak pernah pergi ke Vihara dan selalu melakukan aktifitas di Gereja bersama teman-temannya. Ia bersekolah di sekolah khusus Agama Kristen. Tiga tahun setelah ia tamat SMA, ia mulai pergi ke Vihara dan aktif disana.
Pertama kali B1 datang ke Vihara, ia langsung diangkat sebagai ketua persamuan muda mudi Vihara tersebut. Keinginan untuk menjadi seorang Bhante timbul setelah pertemuannya dengan salah seorang Bhikkhu saat ia ke Bandung.
B1 sempat meminta izin tiga kali kepada orangtuanya agar ia direstui untuk menjalani kehidupan monastik, kehidupan sebagai seorang Bhante. Ibu B1 menanyakan keyakinan dirinya akan keputusan untuk menjadi seorang Bhante. Oleh karena keputusan B1 sudah bulat, Ibu B1 pun menyetujui dan menandatangani surat persetujuan itu sendirian karena Ayah B1 masih belum menyetujui keputusannya untuk menjadi seorang Bhante.
B1 pun ditahbiskan sebagai seorang samanera pada tahun 2000 di Jawa Tengah. B1 menjalani kehidupannya sebagai seorang samanera selama dua setengah tahun. Setelah itu, ia meminta kepada gurunya untuk ditahbiskan sebagai seorang Bhikkhu di Thailand. Ia memilih sebagai Bhikkhu Theravada di Thailand karena ia merasa aliran Theravada cocok dengan dirinya. B1 sempat mengalami penolakan selama beberapa kali oleh Vihara di Thailand ketika ia memohon untuk ditahbiskan sebagai seorang Bhikkhu. Sampai akhirnya ia bertemu dengan Rompo A, yang setuju untuk menahbiskannya dan menjadi guru beliau ketika di Thailand. Rompo A juga akan menjadi guru dan sosok penting bagi B2 maupun B3 nantinya.
Setelah satu tahun di Thailand, B1 diminta oleh Eyang, seorang Bhante Senior yang berdiam di Medan dan berperan penting bagi B2 maupun B3 nantinya, untuk pulang ke Medan dan mengatakan akan memberikan B1 hadiah. Hadiah yang diberikan oleh Eyang digunakan untuk merenovasi beberapa bagian dari vihara yang ada di kampung
halamannya. Setelah itu, B1 kembali ke Thailand dan menjalani pendidikannya di Universitas khusus Bhante dan samanera selama kurang lebih lima tahun.
Permasalahan yang ia hadapi pada saat kuliah adalah Bahasa. Bahasa Thailand yang dipelajarinnya saat di Buriram berbeda dengan Bahasa Thailand yang digunakan di tempatnya kuliah. Bahasa lainnya yang digunakan adalah Bahasa inggris yang mana juga merupakan kesulitan lain baginya karena ia juga tidak bisa berbahasa inggris. Setelah kesulitan yang ia hadapi ketika kuliah dan usaha kerasnya untuk belajar, akhirnya B1 diangkat menjadi asisten dosen di Universitasnya. Setelah selesai kuliah, B1 pun kembali ke Indonesia dan menetap di salah satu Vihara di Indonesia sejak tahun 2009 sampai saat ini. Walaupun B1 telah menetap di salah satu Vihara, tidak menutup kemungkinan ia diminta untuk ke kota-kota tertentu ataupun negara-negara tertentu dimana ia dibutuhkan.
d. Hasil observasi wawancara responden 1
1) Wawancara 1
Ketika peneliti dan Anton (teman peneliti) sampai ke Vihara tempat B1 berdiam, Ia baru saja selesai makan siang dengan Bhante-Bhante yang lain. Peneliti dan Anton pun langsung masuk ke ruangan memberi hormat saat Bhante lainnya berjalan keluar. B1 tetap duduk di tempat duduknya sambil melihat peneliti dan Anton. Ini adalah pertemuan pertama peneliti dengan B1. Anton yang telah
mengenal lama B1 mulai menjelaskan kembali kepada B1 tujuan kedatangan Peneliti. B1 pun setuju untuk di wawancara.
Wawancara dilakukan di ruangan dengan pintu kaca dan ukuran kurang lebih 2x3 meter. B1 terlihat duduk di atas alas duduknya dan bersandar di tempat sandaran yang terbuat dari kain dan plastik. Ia duduk dengan kaki bersila dan posisi tangan terbuka. Ia tidak menyentuh meja di depannya. Semua pertanyaan dijawabnya dengan santai. Oleh karena jawabannya sangat menarik dan panjang, peneliti meminta izin kepada B1 untuk merekam sesi wawancara tersebut. B1 langsung setuju. Ia duduk menunggu peneliti mengeluarkan Handphonenya yang akan digunakan sebagai alat perekam. Setelah alat perekam siap digunakan, sesi wawancara pun kembali dimulai.
B1 sering tersenyum juga tertawa pada saat wawancara berlangsung untuk mencairkan suasana. Setelah selesai wawancara, peneliti menutup alat perekam. Anton bersama dengan peneliti pun mengobrol dengan santai bersama dengan Bhante sambil membahas mengenai Ajaran Agama Buddha selama kurang lebih satu jam. Oleh karena sudah hampir jam tiga dan mengingat Bhante harus istirahat, Peneliti dan Anton lalu memberi hormat kepada Bhante dan meminta izin pulang. Sebelum pulang B1 memberikan permen kepada peneliti dan Anton.
2) Wawancara 2
Saat peneliti dan Anton sampai di Vihara tempat B1 berdiam, terlihat B1 sedang makan siang dengan Bhante-Bhante yang lain. Peneliti bersama dengan temannya pun duduk menunggu B1 dan Bhante lainya menyelesaikan makan siang mereka. Setelah selesai, Bhante lainnya pun keluar dari ruangan satu persatu. B1 yang melihat kehadiran peneliti, tidak beranjak dari tempat duduknya. Peneliti bersama temannya berjalan masuk ke ruangan. Ruangan berbentuk kecil kurang lebih 2x3 meter sama seperti ruangan pertama kali peneliti melakukan sesi wawancara. Sambil menunggu piring piring di bereskan, Peneliti dan Anton ngobrol santai bersama Bhante selama kurang lebih setengah jam. Saat itu B1 memberikan beberapa jenis makanan kepada peneliti dan temannya seperti emping dan meminta kepada seorang abang yang berkerja di Vihara untuk menyediakan teh dingin kepada peneliti dan temanyna. Setelah itu, peneliti memberikan “inform consent” kepada Bhante dan menjelaskan prosedur dan tujuan penelitian.
B1 setuju dan menandatangani surat yang diberikan oleh peneliti. Sesi wawancara pun dimulai. Wawancara berlangsung selama satu jam lebih. Saat wawancara berlangsung, B1 tertawa beberapa kali. Ia duduk sambil bersandar di tempat yang sama seperti tempat yang ia duduk ketika wawancara pertama berlangsung. Kurang lebih 40 menit setelah wawancara, seorang samanera masuk
dengan membawa buku ditangannya. Ia duduk di samping B1. Wawancara pun terhenti sebentar sementara samanera sedang bertanya kepada B1 beberapa hal yang berkaitan dengan buku yang ia bawa. Setelah selesai, samanera keluar dan sesi wawancara pun dilanjutkan. Oleh karena sudah siang dan Anton belum makan siang, Peneliti dan temannya pun meminta izin pulang dan memberikan penghormatan kepada Bhante.
3) Wawancara 3
Saat peneliti datang ke Vihara, terlihat Bhante sedang makan siang. Peneliti dan temannya pun menunggu Bhante selesai makan siang. Pada wawancara ini penelti membawa teman peneliti yang lain. Setelah selesai, Bhante terlihat sedang berbincang santai dengan Bhante yang lain. Setelah Bhante yang lain keluar, peneliti dan temannya pun masuk dan memberikan hormat kepada Bhante. Seperti biasa peneliti ngobrol santai terlebih dahulu selama kurang lebih setengah jam bersama Bhante dan bertanya kesedian Bhante untuk melakukan sesi wawancara bersama dengan teman peneliti yang lain. Seorang Ibu yang membersihkan meja makan Bhante pun mengajak Bhante mengobrol.
Setelah meja tempat Bhante makan telah selesai dibersihkan, sesi wawancara dimulai dan peneliti mulai menghidupkan alat perekam. Sesi wawancara berjalan seperti biasa. B1 pun sering tertawa dan selalu tersenyum. Setelah selesai wawancara, peneliti
menutup alat perekam. Teman peneliti masih bertanya mengenai Ajaran Buddha kepada Bhante. Setelah selesai ngobrol selama kurang lebih setengah jam peneliti bersama dengan temannya pun memohon izin untuk pulang.
4) Wawancara 4
Peneliti sampai di Vihara tempat Bhante berdiam pada jam 9:30 pagi hari. Saat itu B1 masih di Kutinya. Anton meminta tolong salah seorang samanera yang sedang berada diluar untuk memanggilkan B1 dan memberitahukannya kehadiran Peneliti dan dirinya oleh karena ia tidak memiliki izin untuk memasuki kuti Sangha. Kurang lebih dua puluh menit kemudian B1 keluar. Ia duduk di kursi di depan kutinya. Peneliti dan temannya yang duduk dilantai disamping kursi tersebut pun mengucapkan salam kepada B1. B1 menerimanya. Ia terlihat lelah saat itu. Peneliti langsung menghidupkan alat perekam dan meletakkannya di tempat duduk samping B1. B1 melihatnya langsung mengambil alat perekam itu dan mendekatkan alat perekam itu di dekat mulutnya agar suaranya dapat terdengar lebih jelas.
Wawancara dilaksanakan diruang terbuka. Ia memberikan isyarat kepada peneliti untuk memulai sesi wawancara. Wawancara pun dimulai dan dibuka oleh beberapa pertanyaan peneliti. Setelah kurang lebih 18 menit setelah wawancara. B1 berhenti karena seorang supir vihara datang dan menayakan sesuatu kepadanya.
Setelah ia menjawab pertanyaan dari supir vihara tersebut, beberapa orang tamu datang bersama seorang Bhikkhuni. B1 meletakan alat perekam di samping tempat duduknya sambil meminta peneliti untuk menunggu sebenar. Ia langsung menyapa tamu yang datang. Mereka masuk ke ruangan yang biasanya digunakan untuk wawancara.
Setelah pembicaraan yang dilakukan selama kurang lebih lima belas menit, B1 keluar bersama dengan tamu-tamunya. Tamunya pun meminta izin kepada B1 dan mereka pun pulang. B1 duduk kembali ke tempatnya semula untuk memulai sesi wawancara. Saat itu peneliti dan Anton mengatakan kepada B1 bahwa hari ini terdapat undangan makan siang untuk B1. B1 mengiyakan sehingga peneliti menghentikan sesi wawancara agar B1 dapat mempersiapkan diri.
5) Wawancara 5
Peneliti datang bersama dengan kedua temannya datang ke Vihara pada sekitar pukul 12.30. Saat itu B1 masih berada di Kutinya. Telihat tempat yang biasanya digunakan para Bhante untuk makan siang sedang direnovasi. Tidak lama kemudian, B1 keluar dan melihat peneliti bersama dengan teman-temannya. Ia pun menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu dengan memilih keramik yang akan dibawa oleh salah seorang donatur agar dapat dikerjakan dan membahas mengenai renovasi yang akan dilakukan bersama dengan para donatur. Setelah kurang lebih satu setengah jam dan tamu-tamunya pun telah pulang. B1 berjalan menuju ke arah peneliti
lalu mengambil karpet yang ada disamping peneliti. Ia menggelar karpet itu dan duduk diatasnya. Peneliti pun memulai wawancara. Wawancara berlangsung di teras Vihara oleh karena tempat yang bisanya digunakan untuk wawancara sedang direnovasi. Wawancara dilakukan ditempat terbuka. Sekitar 16 menit setelah wawancara dimulai, seorang tamu Bhante datang berkunjung. Wawancara pun terhenti selama kurang lebih lima belas menit.Wawancara dilanjutkan setelahnya. B1 menjawab setiap pertanyaan dengan nada yang datar dan sesekali ia mengekspresikan wajahnya sesuai dengan perasaan yang ia ucapkan. Sesekali ia berbisik kepada teman peneliti saat peneliti melirik ke arah transkip wawancara. Setelah selesai melakukan wawancara, peneliti pun menutup alat perekam dan mengobrol santai dengan B1 selama kurang lebih setengah jam. Saat pulang, B1 memberikan beberapa makanan ringan untuk mengisi perut oleh karena ia tahu peneliti bersama teman-temannya belum makan siang. Peneliti pun berterima kasih kepada B1 dan meminta izin pulang.
6) Wawancara 6
Peneliti dan temannya sampai ke Vihara pada sekita pukul empat sore. Saat itu peneliti bertanya kepada pengurus Vihara dan pengurus Vihara mengatakan kepada peneliti bahwa Bhante sedang istirahat. Akhirnya peneliti menunggu di ruang ibadah. Setelah kurang lebih jam lima. Peneliti keluar dan melihat Bhante sedang
duduk didepan kutinya dan berbicara dengan salah satu tamunya. Peneliti pun duduk agak jauh dari Bhante untuk menunggunya. Setelah selesai B1 mengatakan kepada peneliti bahwa hari ini ia cukup lelah dan belum istirahat sehingga meminta peneliti untuk datang pada lain hari saja. Oleh karena peneliti memang harus menunggu sampai cukup malam sebelum diantar pulang, peneliti pun mengatakan kepada B1 bahwa peneliti dapat menunggu pada hari ini, sehingga tidak masalah bagi peneliti bila B1 ingin tidur terlebih dahulu.
Awalnya B1 hanya terdiam, lalu ia pun pergi mengurus hal lainnya, setelah kurang lebih satu jam dan melihat peneliti menunggu, ia mengatakan kepada peneliti untuk tetap menunggu dan ia pun masuk ke kutinya untuk beristirahat selama kurang lebih satu jam. Ia keluar setelahnya dan bersiap untuk memulai wawancara. Lima belas menit setelah wawancara terlaksana, beberapa tamu B1 datang. B1 pun melayani mereka terlebih dahulu selama kurang lebih setengah jam lalu memulai kembali sesi wawancara.
Wawancara kembali berlangsung selama kurang lebih tujuh belas menit. Tidak lama kemudian, tamu lainnya datang akhirnya B1 pun pergi melayani tamu tersebut. Kurang lebih satu jam setelahnya B1 kembali dan mengatakan kepada peneliti bahwa ia sudah cukup lelah. Peneliti pun bepikir untuk menghentikan sesi wawancara. Namun peneliti masih harus duduk disana pada saat itu karena
peneliti belum di jemput. Saat itu B1 tetap tidak istirahat dan menunggu peneliti sambil mengobrol. Kesadaran akan hal itu membuat peneliti bertanya kepada B1 apakah ia bersedia untuk menjalankan sesi wawancara selama kurang lebih lima belas menit. Setelah ia menyetujui, sesi wawancara pun dimulai kembali. Ia menjawab setiap pertanyaan dengan tenang. Beberapa menit kemudian seorang Bhante pulang, saat itu peneliti berpikir untuk menghentikan sesi wawancara setelah menyelesaikan dua pertanyaan yang tersisa dan hanya mengobrol dengan Bhante lainnya sehingga B1 dapat beristirahat. Setelah selesai, peneliti pun menghentikan sesi wawancara dan berterima kasih kepada B1.
e. Latar belakang menjadi seorang Bhante pada responden 1
Ibu B1 beragama Buddha, sedangkan Ayah B1 beragama Islam. B1 pun beragama Kristen karena ia bersekolah disekolah khusus Kristen. B1 rajin ke Gereja dan mengikuti kegiatan di Gereja. Namun ketertarikannya di Gereja hanya sebatas berkumpul bersama teman dan bermain alat musik pada saat itu. Setelah tamat SMA, Ibunya sering mengajaknya ke Vihara. Awalnya ia tidak menyetujui, namun akhirnya ia pergi juga. Kepergiaannya dikarenakan akhirnya ia merasakan ketulusan hati Ibunya dalam mengajaknya untuk ke Vihara. Tujuan kepergiannya ke Vihara hanya sebagai formalitas agar Ibunya Bahagia.
“memang sekolah kita sekolah kristen. jadi kita dianjurkan untuk datang ke gereja.. ya.. jadi ke gereja.. ya.. digereja itu sendiri jadi aktifitasnya juga banyak.. seperti band ya.. namanya juga anak
muda.. jadi lebih cenderung suka ya.. latihan ngedrum ya.. pakek gitar.. nyanyi apa semua.. ya itu mungkin hanya sebatas itu
kesukaan yang kita miliki saat itu.”
(R1.W1.b.0010-0022.h.1)
“mama saya ya berbicara.. berbicara.. ke vihara ke vihara.. ya.. awalnya saya juga gak .. gak tanggapi.. gak perduli.. tapi lama kelamaan luluh sendiri saya.. akhirnya mama sayalah yang mengarahkan saya kesana..”
(R1.W5.b.1001-1006.h.21)
“pada saat saya datang ke Vihara.. ya.. ikut aja.. yang penting mama saya senang..”
(R1.W5.b.1019-1021.h.21)
“kata-kata beliau.. kata kata beliau yang benar benar mungkin dengan ketulusan dan kasih sayang saya juga bisa membedakan beliau mengajaknya dengan ketulusan.”
(R1.W6.b.0282-0286.h.6)
Pertama kali ia ke Vihara, ia diangkat sebagai ketua dalam organisasi keagamaan di Vihara yang baru ia datangi pertama kali, walaupun pengetahuannya mengenai ajaran Agama Buddha bisa dikatakan nol. Ia diangkat menjadi ketua karena Ia sudah tamat SMA selama tiga tahun pada saat itu sehingga teman-temannya mengganggap ia lebih dewasa dalam hal usia dibanding dengan mereka.
“begitu baru masuk ke vihara.. ya.. karena mamang pada saat itu saya yang mungkin terpilih jadi ketua muda mudi ya.. ya..
langsung karena teman teman saya melihat saya walaupun saya gak ngerti tentang agama buddha.. cumana saya kan sudah lulus SMA tahun 98 99.. lulus SMA 97.”
(R1.W1.b.0053-0062.h.2)
Beberapa bulan setelahnya, yaitu pada tahun 1999 bulan 12 ia bertemu dengan seorang Bhikkhu ketika ia sedang jalan-jalan dan berkunjung di Vihara yang terletak di Surabaya. Saat itu temannya memintanya untuk bertanya kepada Bhikkhu tersebut. Akhirnya ia pun
bertanya mengenai penghapusan dosa dalam Ajaran Buddha. Setelah selesai mendengarkan penjelasan tersebut ia merasa hatinya kelegaan yang luar biasa. Darisanalah ia terinspirasi untuk menjalani kehidupan ke-Bhikkhuan. Menurutnya, peraturan ke-Bhikkhuan yang ketat lah yang dapat membuatnya mengatasi kebiasaan buruknya dan mengubah dirinya menjadi lebih baik.
“setelah saya mendapatkan kata kata itu itu inspirasi.. bukan Bhikkhu itu yang mengubah saya.. tapi kata kata itulah yang meninspirasi saya..”
(R1.W5.b.1156-1159.h.24)
“jadi sudah mendapatkan jawaban itu rasanya lega..”
(R1.W6.b.0354-0355.h.8)
Akhirnya pada bulan 2 tahun 2000, ia pun memohon izin kepada orangtuanya. Saat itu orangtuanya tidak mengizinkan. Setelah tiga kali memohon persetujuan dari orangtuanya, Ibunya pun menyetujui dan menandatangai surat persetujuan sendirian. Saat itu ayahnya masih tidak menyetujui, namun karena alasan yang diberikan oleh ayahnya kurang masuk diakal baginya, maka ia tetap memutuskan untuk menjadi seorang Samanera. Dengan membawa surat persetujuan dari Ibunya, B1 menjalani kehidupan sebagai seorang anagarika terlebih dahulu.
“.. akhirnya tahun 2000 bulan 2 .. saya minta izin sama orang tua.. tapi pada saat itu belum boleh.. gak boleh gak diizinkan.. kedua kalinya diminta lagi.. itu bulan 3.. gak diizinkan sampai bapak saya sakit.. bapak saya sakit bulan 3 sampai bulan 4.. itu satu bulan.. itu tahun 2000 ya.. karena mungkin mikir ya.. ya,.. mungkin mikir.. memang tidak semua orang tua yang bisa melepas.. yang bisa ya.. udah lah .. kalau mau pergi pergi lah.. gak ada yang seperti itu.. tapi itu juga butuh proses yang panjang.. bulan 4 saya ulangi lagi.. saya minta izin lagi.. tapi mereka gak kasih.. malah jawabannya mungkin celeneh ya.. soalnya waktu itu umur saya udah dua puluh
satu tahun.. ya.. 21 tahun pada saat itu.. sekarang udah tua.. udah umur 21.. bapak saya justru katanya lain.. ya.. mungkin ntah la ya.. mereka.. tapi akhirnya saya mempunyai sebuah trik.. ya.. saya hanya mengatakan ... kepada mereka dua kalimat.. kepengen anak.. anak mu jadi baik.. atau jadi tidak baik? itu saja... atau menjadi jahat.. jadi akhirnya mama saya lagi lagi yang memberi izin saya.. yang mengarahkan saya karena mama sayalah yang menandatangani kepergian saya dengan sepucuk surat yang saya serahkan kepada suhu untuk di tahbiskan.. ya..”
(R1.W5.b.1105-1141.h.23)
Kehidupan ke-Bhikkhuan yang dijalaninya jauh berbeda dengan apa yang dipikirkannya. Beratnya kehidupan sebagai ke-Bhikkhuan yang ia jalani membuat dirinya sempat berpikiran untuk pulang. Hal-hal yang harus ia kerjakan saat di Jawa adalah seperti mencangkul, mengangkat batu, bersih-bersih, dan lain sebagainya. Hal tersebut merupakan sesuatu yang tidak pernah ia kerjakan seumur hidupnya. Namun tekadnya yang kuat untuk menjadi seorang samanera mengalahkan dirinya. Ia terus mengatakan kepada dirinya bahwa ia sanggup menjalani kehidupan tersebut. Akhirnya, ia pun ditahbis menjadi seorang samanera di Jawa oleh gurunya. Dua minggu kemudian, ia bersama gurunya pindah ke Batam. Disanalah ia merasa latihannya lebih terdukung karena ketika ia berpikir untuk pulang, ia tidak dapat pulang oleh karena tidak memiliki biaya untuk pulang.
“nyangkul.. jadi bersih bersih rumput.. ya angkat angkat batu...”
(R1.W6.0189-0190.h.4)
“itu karena saya e..merenungkan apa yang terjadi pada saat itu ya.. jadi saya juga berpikir bahwa tujuan saya belum terealisasi.. karena tujuan saya dirumah memang untuk menjadi samanera.. dan pada saat itu memang selalu pakek baju putih.. anagarika.. dan samanera samanera itu mungkin beberapa minggu.. itu mungkin masih
setelah dari batam itulah saya.. jadi agak agak melakukan itu agak ringan.. jadi berbeda kondisinya.. vihara itu seperti ruko jadi ya.. kita hanya aktifitas kita hanya didalam”
(R1.W6.b.0152-0167.h.4)
“tetap bertahan karena satu hal juga jauh.. kalau pun saya pulang saya juga tidak ada biaya untuk pulang pada saat itu... “
(R1.W6.b.0173-0176.h.4)
Setelah menjalani kehidupan sebagai seorang samanera selama 2 tahun setengah dan dapat mengatasi setiap kesulitan yang ada, ia pun merasa cukup siap dan meminta kepada gurunya untuk ditahbiskan sebagai seorang Bhikkhu di Thailand. B1 sempat mengalami penolakan selama beberapa kali oleh Vihara di Thailand sebelum ia ditahbiskan sebagai seorang Bhikkhu karena dia sama sekali tidak bisa bahasa Thailand maupun bahasa Inggris.
“jadi samanera ke batam waktu itu 2 tahun setengah.”
(R1.W1.b.0122-0123.h.3)
“kalau waktu itu memang saya sendiri yang ingin jadi Bhante.”
(R1.W1.b.0256-0257.h.7)
“jadi basicnya ada dasar yang kuat untuk menjalankan sebagai Bhikkhu.. nah jadi setelah saya merasa sudah cukup... ya.. mungkin dua tahun setengah itu sudah cukup.. cukup lama ya..”
(R1.W1.b.0275-0280.h.7)
Keinginannya terealisasi sampai ia bertemu dengan Rompo A yang setuju untuk menerimanya dan menabiskannya sebagai seorang Bhikkhu di Thailand walaupun ia tidak dapat berbahasa Thailand ataupun Inggris. Infomasi mengenai Rompo A didapatkannya ketika ia sedang berkunjung di Vihara daerah Bangkok. Kunjungannya ke Vihara tersebut adalah memohon diterima menjadi Bhante di Vihara tersebut, namun ditolak. Saat