BAB IV ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL PENELITIAN 40
4.1.2. Responden 2
1. Wawancara ke-1
Wawancara pertama ini dilakukan pada Kamis, 04 Oktober 2018, pukul 13.00 WIB hingga 14.30. Adapun durasi wawancaranya adalah 74 menit 36 detik.
Wawancara dilakukan di Fakultas Psikologi USU, tepatnya di gedung B ruang B.2.1. Pemilihan waktu dan tempat ini disesuikan dengan waktu luang yang dimiliki responden. Ruang B.2.1 dianggap tempat paling memadai karena menyediakan privasi dan tidak terlalu ribut. Meskipun begitu, di dalam ruangan ini tidak hanya ada responden dan peneliti. Terdapat dua orang perempuan yang merupakan mahasiswa Psikologi yang dikenal baik oleh responden dan peneliti sehingga kehadiran mereka tidak mengganggu.
Ruangan B.2.1 berukuran kira-kira 3x4 meter. Ruangan tersebut didominasi dengan warna cokelat. Terdapat sebuah papan tulis putih yang tergantung di dinding sebelah kiri pintu masuk. Sejajar dengan pintu masuk, terdapat sebuah meja kerja dan dua bangku kayu. Di sanalah duduk dua orang perempuan yang dikenal peneliti dan responden. Sementara, peneliti dan responden duduk di kursi kayu yang berada di seberang pintu masuk.
Dibelakang kami terdapat sebuah jendela besar yang terbuka. Peneliti dan responden duduk terpisahkan sebuah meja kerja. Di meja kerja tersebut peneliti letakkan ponsel yang berfungsi sebagai alat perekam suara.
Responden menggunakan kemeja cokelat bermotif geometris berlengan pendek dan celana katun. Responden juga membawa sebuah ransel
berwarna biru. Rambutnya diikat satu kebelakang. Responden berpenampilan formal dan rapi karena baru saja selesai mengikuti perkuliahan. Sebelum wawancara dimulai, responden meminta waktu untuk makan siang terlebih dahulu sambil mengobrol ringan mengenai kehidupan kampus dan organisasi.
Selama wawancara berlangsung, suasana yang diciptakan adalah suasana informal sehingga responden bisa berbicara apa saja. Bahkan, selama wawancara diperbolehkan makan makanan ringan seperti keripik yang dibawa responden. Ada pun hal-hal yang mengganggu selama proses wawancara adalah suara-suara ribut dari luar ruangan, beberapa orang yang bergantian menyapa peneliti atau responden dan menanyakan sedang apa.
Sepuluh menit sebelum wawancara diakhiri, wawancara terpaksa dijedakan karena seorang senior yang meminta bantuan kepada peneliti dan responden untuk mengisi skala penelitiannya.
Selama wawancara responden terasa semangat menceritakan kisahnya.
Hal ini ditunjukkan dengan mata yang berbinar dan bibir yang tertarik ke atas.
Terkadang, responden menunjukkan ekspresi kesal ketika ia bercerita mengenai hal-hal yang membuatnya kesal. Hal tersebut ditunjukkan dengan tangan yang mengepal, memukul-mukul meja pelan, dan menepuk-nepuk paha. Responden juga menepuk-nepuk dadanya ketika ia mengalamatkan dirinya sendiri.
2. Wawancara ke-2
Wawancara kedua ini dilakukan pada Kamis, 18 Oktober 2018, pukul 11.00 WIB hingga 12.15. Adapun durasi wawancaranya adalah 67 menit 37 detik.
Masih seperti sebelumnya, wawancara dilakukan di Fakultas Psikologi USU, tepatnya di gedung B ruang B.2.1. Pemilihan waktu dan tempat ini disesuikan dengan waktu luang yang dimiliki responden. Seperti alasan sebelumnya, ruang B.2.1 dianggap tempat paling memadai karena menyediakan privasi dan tidak terlalu ribut. Kali ini, di ruangan ini hanya terdapat peneliti dan responden. Beberapa kali, memang ada orang-orang yang dikenal peneliti masuk dan mengecas ponsel tetapi tidak lama.
Ruangan B.2.1 berukuran kira-kira 3x4 meter. Ruangan tersebut didominasi dengan warna cokelat. Terdapat sebuah papan tulis putih yang tergantung di dinding sebelah kiri pintu masuk. Kali ini, peneliti dan responden duduk di kursi yang posisinya dekat dengan papan tulis tersebut.
Peneliti dan responden duduk berhadapan, tetapi tidak ada meja yang memisahkan. Sebagai pengganti, sebuah kursi yang memiliki meja tangan ditarik dan diposisikan didekat kami sebagai tempat meletakkan ponsel yang berfungsi sebagai alat perekam suara.
Pada wawancara kedua ini, responden menggunakan baju kemeja lengan pendek berwarna putih gading dengan motif daun-daun tropis. Ia menggunakan celana jogger cokelat. Responden menggunakan tas ransel yang sama seperti sebelumnya dan tatanan rambutnya juga masih sama, yaitu diikat satu kebelakang. Kali ini, meski responden juga membawa camilan, tetapi selama wawancara responden tidak menyentuh camilan tersebut. Pada wawancara kali ini, responden lebih banyak menggunakan ponselnya yang beberapa kali berbunyi dan menunjukkan pesan masuk. Hal yang paling
menganggu selama wawancara adalah suara ribut dari lorong yang ada disebelah ruangan karena bertepatan dengan perayaan mahasiswa yang lulus sidang.
Pada wawancara kali ini, responden tidak seemosional wawancara sebelumnya. Ia cenderung tenang karena tidak lagi banyak memukul meja dan pahanya. Kali ini, ia lebih banyak mengangguk semangat, dan menggerakkan tangannya ke sana kemari. Wajahnya lebih banyak menunjukkan raut mengingat, seperti mata menyipit dan kening berkerut sambil menggumamkan kata „hmm‟.
b. Hasil Wawancara 1. Latar belakang
Responden pertama ini adalah seorang perempuan berusia 22 tahun berinisial K. K merupakan anak kedua dari lima bersaudara. Responden merupakan mahasiswi semester 7 di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara. Saat ini ia sedang sibuk kuliah sambil mempersiapkan judul skripsinya.
K adalah orang yang tegas mengenai status hubungannya dengan laki-laki. K tidak segan mengatakan perasaannya kepada laki-laki-laki. Menurutnya, jika tidak dimulai, tidak akan ada kesempatan yang tercipta dan bisa-bisa direbut oleh orang lain. K juga adalah seseorang yang akan memperjuangkan hubungannya hingga akhir. Ia tidak mau jika hubungannya hanya berjalan satu atau dua bulan. Sebelumnya, K sudah pernah berpacaran sebanyak dua
kali. Yang pertama selama lima tahun, dan yang kedua berlangsung selama delapan bulan.
“Memang gak tahu kak. Kan memang kalau cewek itu kadang
langsung yang gak mau kan, gitu. K enggak, K kek ada sifat kalau gak dimulai dulu kapan, gitu. Gak mau sampai direbut orang. Terus kan K tadi emang pacaran sampe 5 taun, terus 8 bulan, ini 2,5 tahun, itu karena K sistemnya itu mempertahankan gitu. Mau putus mau putus tahankan aja dulu, nanti kalau gak kuat lagi baru lepas. Jadi gak ada kayak susah move-on, susah move-on gitu gak ada lagi.”
(W1.P2.K.A_No83a-b) Saat ini, K sedang menjalin hubungan dengan F yang merupakan seniornya di kampus. Hubungan mereka sudah berlangsung selama 2 tahun 6 bulan. K dan F memiliki keyakinan agama yang berbeda. Saat bertemu dengan F, K masih memiliki pacar yang berbeda kota tetapi dengan kondisi hubungan yang tidak baik. Selain itu, K merasa F tidak mungkin menyukainya karena ia berasal dari kabupaten sementara F adalah anak kota.
Meski begitu, K dan F tidak menjalani masa pendekatan yang lama, hanya sebulan saja. Namun, menurut pengakuan K, K merasa mereka baru benar-benar melakukan pendekatan setalah berkomitmen.
“…Ya K kek, K kan orang Berastagi kan. K kadang merasa kek kampung kali yakan, kenapalah anak Medan sukak sama K, kek gitu kadang.”
(W1.P2.K.A_No101b) 2. Dinamika Pembentukan Hubungan Romantis
Sebagai mahasiswa, K banyak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Salah satunya adalah kegiatan Cinematografi yang diadakan kampusnya. Kegiatan ini membuat K juga mengenal senior-senior di kampus. Saat itu, mereka memiliki agenda membuat film untuk diikutsertakan pada sebuah lomba.
Disaat itu lah, K pertama kali bertemu dengan F, seniornya dikampus, dua tingkat diatasnya. Pada perjumpaan mereka yang pertama itu, K langsung tertarik dengan fisik F yang sesuai dengan seleranya, yaitu tinggi. K memang selalu menginginkan kekasih yang bertubuh tinggi. K juga semakin tertarik ketika mengetahui F menggunakan motor. Namun, K berpikir pasti F telah memiliki pacar.
“Jadi K waktu itu lah kenalnya di cinematography. Iya. Itu waktu sama bang D dulu itu. Ajak kak G gitu lah. Jadi buat film. K sama temen K, namanya D, sama Y. Terus itu, syutingnya itu pertama di kampus. Hm, gak tahulah ya dia udah liatin K apa enggak. K Cuma lihat, ih, abang ini ganteng ya. Gitu doang sih.”
(W1.P2.K.A_No28-30)
“… tapi sebenarnya K itu pengen kali punya cowok tinggi, gitu. … tinggi lah kak, satu enam sekian, satu tujuh kalau ga salah tujuh dua.
K kan pendek, 153 doang.”
(W1.P2.K.A_No127-130) Kontak pertama mereka terjadi ketika K diharuskan menumpang motor F untuk pergi ke lokasi pengambilan gambar untuk film mereka. K merasa tidak punya pilihan untuk menolak karena ia adalah junior di dalam kegiatan tersebut. Saat pergi bersama tersebut, K bisa menilai F adalah laki-laki yang baik ketika F memberikan pinjaman helm saat hujan. F juga mengantarnya pulang dan mengajaknya mengobrol sepanjang perjalanan.
Perilaku tersebut membuat K heran. K juga merasa F terlalu ingin tahu tetapi, K yang ingin dinilai sopan memilih menjawabnya tanpa bertanya balik.
“Terus, syuting kedua itu di rumah Kak H. Iya. Teruskan pertama itu naik mobil kak H, terus yang kedua itu, terus dia bawa motor. Terus K tahunya eh itu K mau ke ATM dulu, mau ambil duit karena mau beli makan gitu kan. Terus di bilang Kak H, K naik motor aja ya sama Bang F. Padahal mobilnya itu muat kan. Karena kan junior, jadinya,
oh iya kak, gak apa-apa. Jadinya naik, baru kali itu tuh K naik motor gede. Pas naik, kakinya terantuk, itu malu kali sumpah. Sumpah, tahan kuat aja lah ya kan. Terus, sampe di jalan, rupanya ujan. Kami beteduh dulu tuh semua. Yang naik motor itu ada bang W, K, sama bang D. Naik motor semua. Terus lanjut nih ke rumah Kak Hana.
Terus dia ngasih helm ini ke K pas ujan-ujannya. Ih, baik kali abang ini….”
(W1.P2.K.A_No40b)
Komunikasi mereka berlanjut mengobrol lewat obrolan daring ketika K menghubungi F untuk menunjukkan sebuah gambar yang ia buat dari lilin-lilin sisa shooting. Pada awalnya, komunikasi mereka hanya berkaitan dengan kegiatan ekstrakurikuler. Selain itu, komunikasi mereka juga berlanjut ketika keduanya saling mengikuti akun media sosial masing-masing. Semakin lama, mereka semakin sering mengobrol lewat aplikasi percakapan daring. F selalu menghubunginya setiap pagi bahkan menelepon K. Dari perilaku tersebut, K merasa bahwa F sedang mendekatinya. Namun, K yang masih memiliki pacar tidak terlalu menggubris F karena ia masih memiliki pacar. Sehingga, ketika tiba-tiba F tidak menghubunginya lagi, K tidak merasa kehilangan dan tidak berusaha menghubungi F lagi.
“Itu K masih punya pacar tuh, yang kawan K yang di Undip. Tapi yang hubungannya lagi gak bagus sih. K yang kaya ih apa sih abang ini. Yaudah siap itu gak komunikasian lagi ... Cuma palingan
akhirnya follow-followan IG gitu kan. Namanya juga senior. Yaudah K folback, yaudah D juga follow dia. Kaya biasa aja sih, kayak gak ada apa-apa gitu.”
(W1.P2.K.A_No40c-42)
“Lilin-lilin yang buat di taman, yang buat syuting itu malam-malam itu K susun nama dia. Jadi nama K ada, nama D ada, nama dia ada.
Dia kan orangnya lawak-lawak gitu kan. Kami kirim samanya, dari situ keknya awalnya (chating).”
(W1.P2.K.A_No56)
Selama mereka intens berkomunikasi, K dan F tidak terlalu dalam mengenal satu sama lain. Mereka selalu menunjukkan hal-hal terbaik dari diri masing-masing saja. K dan F juga hanya mengetahui hal-hal umum saja dari diri mereka, seperti asal-usul, kehidupan sehari-hari di kampus dan membicarakan masalah kegiatan ekstrakurikuler.
“Enggak (tahu banyak) …Karna K gak kepo. Ohh berarti Dia jomblo.
Udah K Taunya cuman Dia Jomblo titik. Gak tau dimana rumah Dia..
Dia berapa be… Ehh.. Ki pernah tanya berapa bersaudara.. dua, Cuma dua bersaudara trus … .. cemana ya kak.. kami Cuma Taunya..
nama K (informasi yang umum saja). Paling kaya nganter, ya trus waktu seminggu, awal kami Cuma chat - chat doang itulah. Chat – chat pertama, ilang dua minggu. Baru minggu terakhir kami
chatingan itulah udah mulai.. mulai kaya.. gimana yah.. saling deket,, saling deket,, ngajak jalan.. yaudah … I yaa, Cuma taunya abang ini ini kelas ini udah gitu doang sih, gak ada sharing kita dan K
orangnya gak kepo.”
(W1.P2.K.A_No614-620) “Karena kami menunjukkan sisi baik kami aja sih.”
(W1.P2.K.A_No426) Untuk hal-hal yang lebih pribadi, mereka hanya berbicara mengenai asmara. K menceritakan keadaan hubungannya dengan pacarnya yang berada di kota lain. K yang kecewa karena mengetahui pacarnya. N, masih menjalin hubungan dengan mantan pacar N, memilih untuk bercerita dengan F. F bahkan menyarankan agar K tidak lagi mempertahankan hubungannya lagi.
Topik hubungan K ini sering dijadikan bahan ledekan oleh F yang dianggap K sebagai bentuk perilaku F yang ingin mendekatinya.
“Yaudah, chatingan lah. Dia ngejek-ngejek K berantam sama pacar K gitu, yang hubungan gak jelas lah, apa gitu.”
(W1.P2.K.A_No44b)
“hm, kadang nelepon K itu, kek mana ya, seminggu awal itu ya dia dekatin K. Ngechat K, kadang K balas biasa aja, selamat pagi lah, apalah. Dia ngejek K, tapi ngejek K itu kaya yang nyimpan rasa.”
(W1.P2.K.A_No266a).
K juga merasa F sangat perhatian dengan menghubunginya setiap pagi dan menanyakan keadaannya setiap saat. Bahkan F tiba-tiba memanggilnya dengan kata sayang dan mengakui bahwa K adalah pacarnya kepada adik F.
K merasa heran dan tidak nyaman mendengar F yang memanggilnya dengan kata sayang. K juga merespon dengan menanyakan maksud F yang mengatakan bahwa K pacarnya, F berpendapat bahwa tidak ada yang salah dari ucapannya. K juga tidak menggunakan panggilan yang sama untuk F.
Selain menggilnya dengan kata sayang, F juga mengajak K menemaninya pergi ke undangan pernikahan bersama teman F. Mengetahui teman-teman F adalah senior K di kampus dan mereka juga membawa pasangannya masing-masing, K memilih menolak ajakan F. K merasa heran mengapa F memilih mengajaknya. Hal-hal itu membuat K berpikir bahwa F pasti sangat menyukainya.
“terus tiba-tiba dia sering nelepon gitu lah. Terus dia tiba-tiba panggil sayang-sayang gitu.”
(W1.P2.K.A_No48a-b)
“kek mana ya bilangnya, keknya sih … bukan suka sih, Cuma dia kek deketin K terus. Dia sering ngejek-ngejek pacar K gitu kan, terus K bilang, dah putuslah aku. 'oh, iya?' terus lucu gitu lah kak, K rasa.
Dia kek senang gitu, karena dia tiba-tiba chat selamat pagi sayang.
Apa sih ini anak, ilfeel betul-betul ilfeel, cuma akhirnya kami sering jalan gitu. Dia ngajak jalan, oh pertama dia ngajak itu ke nikahannya abangnya kak H, eh, kakaknya kak H. Dia ngajak K kan. teruskan orang itu kan pasang-pasangan gitu semua kemarin. Terus ku bilang lah, ah gak maulah. Bajuku juga gak ada, anak kos tau apalah, gitu. K kemarinkan tinggal di asrama, sekitar enam bulan.”
(W1.P2.K.A_No85a-f)
“Dia sih pernah. Terus itu di mana kemarin ya? Di asrama keknya.
Belum jadian itu waktu itu. Lagi galau tuh keknya, bukan galau sih, bisa di bilang, kaya, antara galau sama enggak. Terus dia nelepon.
Terus datang adeknya kalau ga salah, bang teleponan sama siapa?
Sama pacarku, emang kenapa? K kan denger dia ngomong kek gitu.
Apa sih, Apa sih bang, gitu-gitulah. Terus katanya, kenapa
emangnya? Terus di situ dia kek nganggap K pacarnya Cuma gak jelas gitu.”
(W1.P2.K.A_No115-119)
“ … itu yang gak tau (kenapa panggil sayang). Berarti kan memang dia udah suka sama K kan ?”
(W1.P2.K.A_No449) Sempat tidak berkomunikasi lagi dengan F, K akhirnya menghubungi F lagi ketika ia putus dengan pacarnya. Saat itu K sedang merasa sedih karena putus, ia juga tidak memiliki teman dekat laki-laki lagi dan juga K merasa rindu dengan F membuat K memutuskan untuk menghubungi F lagi dengan alasan menanyakan kejalasan kegiatan ekskul mereka.
“Cuma pas putus, K galau jadi K hubungin dia.”
(W1.P2.K.A_No97b)
“Iya, ntah Rindu x yaa kak haha.Trus K tanyak syuting kita kek mana? kok gadak kejelasan? Jadi gak buat film nya? Jadi K bilang kayak nya gitu sih . Kayak rindu di chat dia , diejek-ejek dia kayak gitu.”
(W1.P2.K.A_No495)
“K putus, yang K berantem sama yang N ini . Yang gak ada kontak K lagi, yaudah K lampiaskanke dia. Ngechat-ngechat dia, Bodo amat lah gitu kok yang ini gitu.”
(W1.P2.K.A_No442b)
K mengakui pada F bahwa dia telah memutuskan hubungannya yang sebelumnya. F mendukung keputusan tersebut. Setelah mengetahui bahwa F -putus, F mengajak K pergi makan dan jalan-jalan. Walaupun sebelumnya mereka juga pernah melakukannya. K yang tidak memiliki pacar lagi dan
tidak memiliki teman jalan menjadi alasan mengapa K mau diajak jalan-jalan dengan F. Sejak itu, K merasa hubungan mereka menjadi sangat dekat, meski tidak banyak orang yang tahu. F juga masih memanggilnya sayang.
“K ngechat ke dia (bilang putus), terus dia bilang apa ya, keknya gak ada bilang apa-apa. Cuma kek baguslah, cowok kek gitu ngapain di perjuangin, gitu. Terus besoknya dia ngajak jalan tuh, kami makan di setia budi kalau gak salah. itu K juga ilfeel juga loh kak. Dia kek diem aja, terus liatin mata K aja. Ya lucu aja, kok mau sih ini cowok ngajak K jalan, gitu.kek mana ya kak, dulu K itu gak punya pacar yang bawa motor. Sekalinya punya bawa motor, yang kaya gitu, gede. Ya K kek, K kan orang Berastagi kan. K kadang merasa kek kampung kali yakan, kenapalah anak Medan sukak sama K, kek gitu kadang.”
(W1.P2.K.A_No99-101)
“Terus kan, gak tahu lah kenapa K mau (diajak jalan) kemarin. Entah karena gak ada cowok lagi, gak ada temen yang diajak jalan, gak tau sih.”
(W1.P2.K.A_No132) Setelah satu bulan berkenalan dan beberapa kali pergi bersama, akhirnya K menanyakan pada F mengenai status hubungan mereka. K menganggap bahwa mereka sudah cukup dekat. K yang sebelumnya memiliki hubungan yang tidak jelas membuat K tidak ingin hal tersebut terjadi lagi.
Selain itu, alasan lain yang membuat K mengambil keputusan tersebut adalah kehadiran mantan pacar K yang mencoba kembali mendekatinya. K merasa hubungannya dengan F bisa membantunya membuat mantan pacarnya menjauhi K. Awalnya F ragu untuk menjalin hubungan dengan K karena perbedaan keyakinan mereka. Namun, K cenderung memaksa dengan mengatakan bahwa F harus bertanggung jawab karena telah memberikan K harapan selama mereka berhubungan dekat. Di hari yang sama, F akhirnya meminta K menjadi pacarnya.
“hmm, akhirnya K tanya kalau ga salah, eee kek mana nih hubungan kita. Diam dia. K tanya lagi. K rasa terlalu keras sih K tanya, eeee terlalu cepat. Cuma itu lah K kaya ada rasa ee mungkin itulah kek ada pengalaman sebelumnya kek ada hubungan ga jelas gitu.
Langsung K tanya, kek mana hubungan kita ini, gitu. baru di jawab dia, sebenarnya K sama F ini kan ini beda keyakinan. Kek mana?
Keknya gak bisa. Ya, tanggung jawablah. Tanggung jawablah yakan udah ngajak K jalan-jalan, udah manggil sayang-sayang, tanggung jawablah, K bilang gitu. terus di bilangnya yaudah. Akhirnya dia nembak K, di USU, pas tanggal 30 itu.”
(W1.P2.K.A_No133-142)
“Terus dia (mantan pacar K) hubungin--chat K lagi, yaudah kayak K ngerasa dia udah kaya penjahat gitu jadi K coba blok dia. Jadi K rasa itu yang mendorong K buat jadian sama F. Biar dia gak gangguin K lagi.”
(W1.P2.K.A_No154) Status adalah hal penting dalam sebuah hubungan bagi K.
Menurutnya:
“Fungsi status itu K rasa kayak ada kontrak gitu sih. Gimana bilangnya ya. Kan ada orang yang mau ada... kayak “gak usah pacaran lah, nanti kalau udah pacaran beda rasanya”. K merasa nanti kalau K cemburu kayak mana? Terus nanti kalau K mau ngajak jalan gimana? Terus ada tiba-tiba nanti cewek deketin dia, itu K gak bisa marah gitu loh. Iya, ada hak milik K tu wajib. Pokoknya status itu buat dia terikat sama K. Kalau dia itu punya K, gitu. Kayak mana bilangnya, kayak ngerantai gitu sih. Itu sih. Dia sendiri sih K rasa sama sih kayaknya. Dia kan selalu berantem sikit-sikit minta putus, sikit-sikit minta putus, berarti minta dilepaskan rantai gitu ya kan.
Kenapa gak sih dia minta “yaudah lah terserah!”, kenapa dia minta langsung minta putus, gitu. Kan kata „putus‟ itu untuk kategori status, gitu. K ngerasa mungkin ikatan K itu yang ngebuat dia terganggu gitu. Tapi ikatan K itu juga yang buat kalau K itu pacarnya, gitu. Itu sih yang K rasa.”
(W2.P2.K.A_No80-86).
Posisi K adalah junior F di kampus membuat K berpikir untuk menyembunyikan hubungan mereka. Namun, pikiran K tersebut dibantah dengan perilaku F yang memamerkan hubungan mereka di media sosial dengan mengunggah foto mereka bersama. K terkejut tetapi ia tidak
mempermasalahkannya karena sesungguhnya dia tidak ingin menyembunyikan hubungan mereka. Meski begitu, mereka juga tidak terlalu mengumbar kedekatan mereka di lingkungan kampus. Sayangnya, status mereka tersebut tidak disambut baik dengan teman-teman mereka. Teman-teman F menunjukkan perilaku-perilaku yang membuat K tidak nyaman, seperti menatap K dengan pandangan yang aneh, bertingkah kaku ketika K berada di dekat mereka. Respon yang tidak baik tersebut terjadi karena teman-teman mereka tidak menyukai kenyataan bahwa mereka berpacaran meski berbeda agama, serta teman-teman F lebih menyukai F bersama dengan seorang wanita yang sempat dekat dengan F. Walaupun begitu, K tidak terlalu memikirkan respon orang lain terhadap hubungannya, menurutnya mereka tidak berhak menentukan dengan siapa K harus berpacaran.
“K sebenarnya mau sembunyiin. Rupanya dia sendiri yang upload ke instagram loh kak. K gak ada. „Ini anak ngapain ngupload‟ gitu. Kok di luar dugaan. Rupanya heboh tu komen-komen temennya. Rupanya temen-temennya disitu gak suka sama K. Terus sampe di depan K sendiri loh marahin dia. Tapi ada juga temannya tu yang kayak „udah lah, F. Gak usah dengerin kali‟ gitu. K diem aja sih. Tapi temen-temennya itu selalu kayak ;eh, K..; gitu, tapi nampak dia tu gak suka,
“K sebenarnya mau sembunyiin. Rupanya dia sendiri yang upload ke instagram loh kak. K gak ada. „Ini anak ngapain ngupload‟ gitu. Kok di luar dugaan. Rupanya heboh tu komen-komen temennya. Rupanya temen-temennya disitu gak suka sama K. Terus sampe di depan K sendiri loh marahin dia. Tapi ada juga temannya tu yang kayak „udah lah, F. Gak usah dengerin kali‟ gitu. K diem aja sih. Tapi temen-temennya itu selalu kayak ;eh, K..; gitu, tapi nampak dia tu gak suka,