• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL PENELITIAN 40

4.1.3. Responden 3

1. Wawancara Ke-1

Wawancara pertama dilakukan pada Senin, 15 Oktober 2018. Wawancara dilakukan di lingkungan kampus Psikologi USU. Peneliti dan responden memilih duduk di koridor lantai dua gedung C, karena kelas yang biasa peneliti gunakan sedang dipakai. Peneliti juga memilih ruangan yang lebih terbuka agar suasana lebih nyaman karena peneliti dan responden berbeda jenis kelamin. Durasi wawancara kedua ini adalah 59 menit 53 detik.

Pemilihan waktu disesuaikan dengan permintaan responden yang baru selesai kuliah pukul 13.00.

Wawancara ini dilakukan di lingkungan kampus sehingga responden tampil rapi sesuai peraturan kampus. Responden menggunakan baju kemeja bermotif kotak-kotak berwarna merah, hitam dan cream. Responden menggunakan celana denim tidak ketat berwarna biru jeans. Responden juga menggunakan tas ransel besar berwarna hitam. Selama wawancara berlangsung, tas tersebut diletakkan di meja tetapi tangan responden tidak beranjak merangkul tasnya.

Sisi koridor yang dipilih tepat berada di depan ruang serbaguna di gedung C Fakultas Psikologi. Tempat itu dipilih karena menyediakan sebuah meja dan beberapa bangku untuk duduk. Peneliti duduk menghadap pintu ruang serbaguna, sementara responden duduk dihadapan peneliti. Peneliti dan responden dipisahkan sebuah meja dosen berwarna cokelat. Diatas meja

tersebut diletakkan seluruh barang yang dibawa peniliti dan responden.

Sebenarnya lokasi tersebut tidak terlalu tepat untuk menyelenggarakan wawancara, tetapi karena masih jam kuliah, peneliti sulit menemukan tempat yang lebih pantas.

Hal-hal yang mengganggu selama wawancara adalah suara-suara ketukan palu dan alat-alat pertukangan karena ternyata sedang dilakukan renovasi di gedung tersebut. Beberapa kali, peneliti terpaksa memberi jeda pada wawancara selagi menunggu suara yang mengganggu hilang, untuk memastikan seluruh jawaban bisa terdengar dan terekam jelas. Beberapa kali juga peneliti dan responden harus mengulang kalimat yang diutarakan karena tidak terdengar jelas oleh masing-masing pendengar.

Di awal wawancara, peneliti bisa melihat responden merasa kaku dan malu untuk berbicara. Ia banyak terdiam sejenak, keningnya berkerut, matanya melirik ke atas tetapi bibirnya sedikit tertarik ke atas. Ia menimbang-nimbang jawaban apa yang harus ia katakan. Sebelah kaki responden tampak keluar dari kursi, menandakan dia sedikit tidak nyaman.

Namun, seiring berjalannya wawancara, responden menjadi lebih santai, ia duduk bersandar di kursinya. Tangannya tetap merangkul tasnya yang berada di atas meja dan sesekali memilin-milin tali tasnya. Walau begitu, responden tidak terlalu banyak berbicara, ia menjawab apa yang ditanyakan saja serta lebih banyak menggunakan gerakan kepala untuk menyatakan iya dan tidak.

Responden juga sering tertawa dan tersenyum selama wawancara berlangsung. Diujung wawancara, terlihat responden mulai sibuk

memperhatikan ponselnya dan peneliti pun segera menghentikan wawancara dan mempersilakan responden melanjutkan kegiatannya.

2. Wawancara ke-2

Wawancara kedua dilakukan pada Senin, 12 November 2018.

Wawancara kedua ini berselang cukup lama dari wawancara pertama karena peneliti dan responden tidak menemukan waktu yang tepat untuk melakukan wawancara. Responden harus mengikuti ujian tengah semester selama dua minggu sebelumnya, sehingga peneliti memberikan responden untuk mempersiapkan diri tanpa harus menyediakan waktu untuk peneliti.

Wawancara tetap dilakukan di lingkungan kampus Psikologi USU. Kali ini, peneliti menggunakan gazebo di taman psikologi USU sebagai lokasi wawancara. Peneliti masih memilih ruangan yang lebih terbuka agar suasana lebih nyaman karena peneliti dan responden berbeda jenis kelamin.

Durasi wawancara kedua ini adalah 55 menit 09 detik. Pemilihan waktu disesuaikan dengan permintaan responden yakni jam 12.30.

Seperti sebelumnya, karena wawancara ini dilakukan di lingkungan kampus sehingga responden tampil rapi sesuai peraturan kampus.

Responden menggunakan baju kemeja berwarna hitam polos dan menggunakan jaket biru. Jaket tersebut tidak ia kancingkan. Responden menggunakan celana chino berwarna khaki. Responden masih membawa tas yang sama, yaitu tas ransel besar berwarna hitam.

Gazebo yang dipilih adalah gazebo yang paling sepi isinya. Hanya ada seorang perempuan yang kebetulan adalah teman dekat peneliti. Peneliti

bertanya kepada responden apakah ia tidak keberatan jika bergabung dengan teman peneliti tersebut, dan responden mengatakan tidak keberatan. Peneliti duduk di dekat tiang yang menyediakan stop kontak, karena peneliti harus mengisi daya baterai ponsel peneliti agar tetap bisa merekam wawancara kali ini. Sementara responden duduk bersila dan menyandar di tiang yang ada di hadapan peneliti. Tas dan buku-buku peneliti dijadikan sanggahan untuk meletakkan ponsel yang berfungsi sebagai alat perekam.

Hal-hal yang mengganggu selama wawancara adalah beberapa kali teman-teman peneliti dan responden datang menyapa serta menanyakan sedang apa. Beberapa kali, peneliti juga harus memastikan ponselnya merekam dengan baik. Sementara, responden terlihat melihat jamnya sebanyak dua kali di akhir-akhir wawancara.

Tidak seperti wawancara sebelumnya, kali ini responden terlihat lebih santai dan terbuka. Ia lebih banyak tertawa dan tersenyum. Ia juga lebih leluasa bercerita. Terkadang, responden menepuk-nepuk pahanya. Ia terlihat semangat. Sesekali ia membenarkan rambutnya. Responden juga lebih fokus dengan wawancara ini dari pada ponselnya, hal ini ditunjukkan dari perilaku responden yang mengabaikan ponselnya meski terdengar denting ponsel.

b. Hasil Wawancara 1. Latar belakang

Responden ketiga ini adalah seorang laki-laki berinisial Y. Ia berumur 21 tahun. Y memiliki 4 saudara dan dia adalah anak terakhir. Y merupakan mahasiswa di Fakultas Psikologi USU angkatan 2016. Y memang terlambat

kuliah satu tahun dari rata-rata kelompok umurnya. Y merupakan seorang mahasiswa perantauan. Ia berasal dari kota Siantar.

Saat ini, Y sedang menjalin hubungan romantis dengan seorang wanita bernama T. T adalah mahasiswi Fakultas Psikologi USU juga bahkan satu angkatan dan satu kelas dengan T. Hubungan mereka sudah berjalan 6 bulan.

“Haha. (Hubungannya sudah berlangsung) Mau jalan 6, kak.”

(W1.L1.Y.A_No16) Awalnya, hubungan mereka hanya sebatas sahabat. Sampai suatu hari, seorang senior Y di kampus mengatakan padanya bahwa T dan seorang teman wanita Y lainnya menyukainya. Y memang memiliki banyak teman-teman wanita yang senang menjadikannya tempat berbagi. Hal tersebut dikarenakan Y lebih suka mendengarkan orang bercerita dan membantu teman-temannya selagi bisa. Namun, sepertinya teman-temannya salah mengerti. Karena Y yang dengan dengan 3 wanita yang menyukainya, maka seniornya itu menyarankan agar Y tidak bermain-main dan memilih salah satu dari mereka.

“Ee, karena... apa, sebenernya gak ada tertarik gitu. Cuman... kayak apa, ini... apa namanya, aku dari bang A juga ini. Aku tau kalok ada beberapa orang yang tertarik sama aku. Jadi salah satunya T. Jadi bang A kek yang.... aku lagi gak, apa, sebenernya gak mau pacaran juga kemarin. Cuma yaa dibilang bang A “Jangan PHP-in anak orang. Pilihlah salah satu.”, “Oh iya, nanti lah bang. Nanti.” gitu.

(W1.L1.Y.A_No56a-c) Y sama sekali tidak terganggu dengan tindakan seniornya tersebut juga fakta bahwa teman-temannya menyukai Y. Bahkan, Y merasa senang ketika mengetahui T menyukainya apalagi T adalah seorang wanita yang cantik.

“ … Terus senang juga sih, karena kan ya ada orang yang suka sama kita apalah senang lah kan. Apalagi T kan cantik juga.”

(W2.L1.Y.A_No192) Awalnya Y tidak mempercayai ucapan seniornya tersebut, tetapi seniornya tersebut dan perilaku T berhasil meyakinkan Y. Y pun mempertimbangkan saran seniornya dan memilih salah satu dari mereka.

Pilihannya adalah T karena wanita lain yang menyukainya dianggap Y masih labil dan lebih senang bermain-main. Y pun menjalani pendekatan dengan T selama dua bulan.

“Yaa dia ee, apa namanya, dia apa, buat bingung juga dia. Antara dia suka atau enggak. Jadi aku pun bingung juga dia, dia bener gak kata bang A dia suka? Sebenernya aku kayak, ini, apa, dia kok, gak deketi.

Kayak apa, kayak udah lebih kompak lagi kami kan, tapi aku bingung

„ah kayaknya enggak lah‟, cuman teman.”

(W1.L1.Y.A_No66a-c) 2. Dinamika Pembentukan Hubungan Romantis

Sebagai teman satu angkatan, Y pertama kali mengenal T ketika mereka ditempatkan di kelas yang sama saat kuliah. Saat itu masih semester satu.

Dari perjumpaan mereka selama di kelas, Y menilai T adalah seseorang yang cerewet, galak dan perfectionist.

“Pertama kali jumpa sama T ya di kelas … dari .. iya (dari semester 1). Pertamanya ya ... apa, agak apa ... cerewet, galak, sama

perfectionist gitu.”

(W1.L1.Y.A_No26a)

Y tidak pernah ada masalah dengan sifat-sifat T tersebut, karena jika pun T marah pasti ada alasan yang benar di baliknya. Y tidak mengingat bagaimana pertama kali mereka berbicara tetapi yang paling diingatnya ketika T pernah marah-marah di kelas karena teman-temannya sulit diajak

bekerjasama saat T menjadi penanggung jawab pemesanan buku. Selain itu T juga adalah orang yang dewasa, ramah dan terbuka. Menurut Y, T adalah anak yang aktif dalam kelompok, mudah diajak bekerja sama dan fleksibel.

“Dia itu ramah juga tapi apa hmm itu judes. Dia itu keras makanya judes.”

(W2.L1.Y.A_No198)

“Ee, deket biasa aja sih. Tapi dia.. memang dia kayak, yaa terbuka sama orang. Tapi dia tetap judes. Hmm, yaa... kalok pertama kali cakap ya gak ingat sih. Tapi yang inget, apalah... kayak dia, apa, ee, marah-marah kan. Dia kan apa kemarin komting. Komting mata kuliah... oh, gak komting sih. Dia apa... dia kan ada mata kuliah yang bukunya banyak. IBD. Tapi bukunya ni susah dicari. Jadi dia apa, ee, nyari bukunya ni sampe ke apanya tu, ke... Penerbitnya, ke

penerbitnya. Jadi dia dapat. Jadi dia itu, apalah, bantuin kami beli buku. Jadi dia kek, ee, marah-marah gitu. “tolong dibayar. aku udah capek” ee... gitu-gitu. Ya kalau satu kelompok dia, ee, aktif ya. Ya...

suka, apa, dia gak susah untuk kerja bareng. Dia lebih ke “udah kalian kerjain punya kelen nanti kumpulin ke aku”. Biasanya gitu dia.

Gak apa … gak harus ini, kerja di taman. Di satu tempat gitu enggak.

Kayak gitu.

(W1.L1.Y.A_No30b-44) Menurut Y, T adalah wanita yang cantik serta dia menyukai bahwa T mengenakan hijab. Semua ciri-ciri T sesuai dengan preferensi Y saat melihat wanita, yaitu ramah, dewasa dan menggunakan hijab.

“Kek mana ya? Yang penting baik sih, dewasa, ramah. Gitu lah keknya.”

(W2.L1.Y.A_No194)

“Fisik sebenernya gak apa kali. Soalnya cewek cantik banyak kan.

(tertawa) tapi kalau aku suka juga yang berhijab sih.”

(W2.L1.Y.A_No204-206)

Y dan T bisa menjadi dekat karena tergabung dalam satu kelompok belajar serta T yang sering menghubungi Y. Mereka sering mengobrol lewat aplikasi obrolan daring. Biasanya mereka membahas tentang tugas-tugas

ataupun kejadian-kejadian sehari-hari yang ada di kampus. Kesempatan ini juga dimanfaatkan T untuk mengetahui informasi-informasi tentang Y, seperti lokasi tempat tinggal, saudara dan sebagainya. Y tidak merasa keberatan untuk berkomunikasi dengan T, karena dia menganggap T sebagai teman dan ingin membantunya karena menurutnya, T tidak akan menghubunginya jika tidak ada perlu. Pemikiran mereka yang sejalan juga menurut T menjadi faktor yang membuat mereka bisa terus berkomunikasi.

“Baru kami sering sekelompok, dan kami satu kelas terus kan.

Mungkin bakalan cocok di kedepannya. Baru dia pun pemikiran sama, dewasa. Dan, apa, kayak gitu lah.”

(W1.L1.Y.A_No308b)

“Enggak sih. Kalok... Kalau apa, kalau aku sih orangnya gak suka nanya-nanya. Makanya aku lebih sering diam. Aku lebih suka orang itu cerita sendiri daripada... Tapi mungkin dia kek... dia juga ada sih nanya-nanya. Tapi paling nanya rumah, gimana gitu.”

(W1.L1.Y.A_No98a)

“Ee, gak ngechat aku kek... gak tau sih siapa yang ngechat duluan.

Tapi dari kawan-kawan kan. Baru cerita gitu. Yaudah, he‟eh. Dari ngasi tau apa, kek cerita-cerita gitu. Kayaknya semester... ini semester berapa? Lima ya? Kayaknya (sudah sering chat dari) semester dua lah.”

(W1.L1.Y.A_No74-78) T yang selalu berlaku seperti teman, membuat Y sempat tidak mempercayai bahwa T menyukainya. Bagi Y, komunikasi mereka terasa biasa saja, tidak spesial, karena dia juga banyak berkomunikasi dengan orang lain, termasuk wanita. Y juga tidak merasa komunikasi mereka tersebut sebagai bentuk bahwa ia memberikan harapan kepada mereka.

“Iya, kalau (chat) kayak gitu aku masih nganggap biasa aja. Soalnya kayak gitu banyak juga orang. Ya gitu. Aku tuh eee banyak di chat-in orang. Iya, ada cewek juga (yang menghubungi). Iya, orang ini sering ngechat aku. Cerita-cerita biasa aja. Ee ya maksudnya apa tuh eee kek biasa. Apa, nanti nanya aku lagi apa terus bahas-bahas kejadian

di kampus. Ee bahas apa ya? Kek gitu lah. Tugas palingan. Kalau yang apa, kayak yang sebelum masuk PEMA, dia ya paling kalau misalnya ada tugas kayak memang lagi ngechat, ha tu nanti tu cerita panjang, siap itu udah nggak nge-chat lagi.”

(W1.L1.Y.A_No80-92) Memang sejak mereka masuk satu organisasi yang sama dan ditempatkan di divisi yang sama, hubungan mereka semakin dekat dan komunikasi mereka semakin intense. T bahkan menjadikan Y tempat berkeluh kesah, tidak hanya tentang perkuliahan tetapi juga mengenai kehidupan pribadinya. Y sering membantu T dengan memberikan pendapatnya, membantu urusan tugas kuliah bahkan menemani T pergi mencari kebutuhannya. T juga sering memberikan bantuan kepada Y.

Namun, Y tidak terlalu banyak menceritakan tentang perasaan atau masalahnya. Y lebih banyak mendengar dan T lebih banyak bercerita. Y selalu senang bisa mendengarkan dan membantu T. Ia juga menganggap bahwa T pasti menganggapnya penting sehingga T mau bercerita dengannya.

T juga selalu menghubungi Y lebih dulu, dan jika T tidak menghubunginya Y akan merasa bingung tetapi tidak menghubungi T juga. Bahkan setelah Y tahu bahwa Y menyukainya, T tidak merasa canggung harus berinteraksi dengannya.

“Kalo yang buat dekat ya karena sering satu kelompok terus

ditambah sama-sama ikut PEMA, satu apa satu divisi juga jadi makin sering jumpa. Makin sering sama-sama. Dia pun sering chat gitu kan cerita-cerita, gitu lah.”

(W2.L1.Y.A_No83)

“Dia.. dia cerita yaudah kadang aku ngasi pendapat juga gitu pokoknya. Gak selamanya dia minta pendapat sih. Tapi ya aku

langsung kasi pendapat. Karena aku sering juga kek gitu ke beberapa orang. Dari dulu.”

(W1.L1.Y.A_No112)

“Ya masih chat, terus kalau jumpa ya kaya biasa aja. Aku nanti cakap sama dia. Apalagi kalau di PEMA kan. Ya kaya bekawan, Enggak (canggung)….”

(W2.L1.Y.A_No184-186a) Menurut Y, T sebenarnya beberapa kali merasakan cemburu dengan Y karena Y terlalu banyak dekat dengan wanita. Namun, T tidak mengatakan apa-apa kepada Y, wanita itu baru mengakuinya ketika mereka sudah berpacaran. Seiring kebersamaan mereka yang semakin sering itu, Y menjadi tertarik dengan T, apalagi ketika T mengetahui bahwa T menyukainya. Namun, ia tidak terlalu memedulikannya karena Y juga tidak ingin pacaran. Walaupun begitu, ia mulai menjaga jaraknya dengan teman-teman wanita lainnya ketika ia mengetahui bahwa T menyukainya dan disarankan untuk memilih salah satu dari mereka.

“Ee. (mengangguk) Dia katanya disitu mulai ada perasaan. Aku juga gak tau, kayak kawan biasa aja. Kayak sering minta tolong kan dia.

Rupanya disitu dia kek mulai ada rasa cemburu sama beberapa orang. Yaudah aku disitu pas gak, aku belum tau disitu. Aku juga gak sering chat-chat gitu. Ya setelah jadian. Setelah jadian dia cerita.

“Aku pernah cemburu.” aku gak tau karena ya kek kawan biasa.

Karena aku kan disitu berteman sama semua orang. Jadi disitu banyak cemburu katanya….”

(W1.L1.Y.A_No148a-152b)

“Ee, aku di situ (saat tahu T menyukainya) udah suka karena dia udah, dia baik kan, suka. Cuma aku belum, gak yakin.”

(W1.L1.Y.A_No174)

“Cuma itu lah (setelah tahu T menyukai Y) aku jadinya jaga jarak sama yang lain. Gak menjauh sih, tapi jadi lebih dekat juga sama T.

Apalagi setelah yang dia gak mau chat itu kan, udah dekat kali.”

(W2.L1.Y.A_No186b)

Mereka semakin dekat tetapi mereka sama-sama ragu dengan perasaan satu dengan yang lainnya, sehingga mereka tidak pernah mempunyai panggilan khusus untuk satu sama lain dan bertingkah selayaknya teman saja. T juga selalu menjaga jarak dengan tubuh T karena T menggunakan hijab. Meski sebenarnya T tidak mengalami masalah jika harus menyentuh tubuh Y seperti memukulnya.

“Ya paling semobil berdua gitu kan, paling jalan berdua. Tapi apa dia juga apa pake hijabkan. Jadi ya, menghargai juga lah. Gak dekat-dekat kali. Tapi yaa apa kadang dia mau juga gitu pukul-pukul aku.”

(W2.L1.Y.A_No101a) Hubungan mereka semakin dekat dan intense, hingga suatu hari, selesai mengikuti kegiatan PEMA, T mengatakan pada Y agar mereka tidak perlu berkomunikasi lagi. T merasa ini tidak akan baik untuk mereka. T tidak mengatakan alasan sebenanya. Y baru tahu alasan yang sebenarnya ketika T mengatakannya setelah mereka bersama yaitu T cemburu dengan Y. Y berasumsi bahwa T tidak ingin berkomunikasi dengannya lagi karena ia tidak yakin apakah Y menyukainya atau tidak. Namun, dengan permintaan T tersebut Y menjadi yakin bahwa T memang benar menyukainya.

“Dia pulang ke ... sama orang bang R kan. Aku tinggal soalnya mau nginap di tempat si N kan. Kami ada acara lagi. Baru disitu ngechat juga, ini apa, intens. Intens juga kan. Baru tiba-tiba dia kek ada perasaan apa, ada perasaan memang udah dekat lah. Labilnya keluar kan. Dia bilang “yaudahlah kita keknya udah gak baik ni. Udah keknya terlalu dekat. Kita gak usah berhubungan aja.”, “yaudah” aku bilang. Aku iya iya aja sih. Yaudah.”

(W1.L1.Y.A_No156c) Y sebenarnya sedih ketika harus memutuskan komunikasi mereka, karena Y sudah mulai merasa cocok dengan T. Y juga merasakan rindu

Namun, karena ia tidak mau memaksakan kehendaknya dan membuat T tidak nyaman, Y terpaksa menuruti permintaan T. Mereka berhenti komunikasi selama dua hari saja, sebelum T kembali menghubungi Y lagi. T meminta maaf dan merasa bahwa ia salah telah memutus komunikasi mereka dan Y pun memaafkannya dengan mudah karena merasa T tidak punya salah.

Hubungan mereka pun menjadi lebih dekat dari sebelumnya.

“Ee, waktu itu apa, setelah survey. Masih survey lapangan. Jadi disitu masih, ee, chat-chat itulah... Setelah pulang dari situ dia kek ngerasa apa, ee, kek apa dia punya berubah pikiran gitu. Jadi dia gak mau, dia gak ngechat kan. Siap itu yaudah aku, yaudah aku biarkan aja.

Karena ee, apa, aku gak mau maksain orang kan. Yaudah. Setelah itu ternyata dia apa, ngerasa salah. Baru dia minta maaf. Baru dia malu bilangnya kalau dia sedih. Dibilang kayak gitu.”

(W1.L1.Y.A_No168a-b) Kedekatan mereka itu membuat teman-teman Y dan T serta orang-orang di kampusnya menjadi penasaran pada hubungan mereka. Awalnya Y tidak sadar dan menganggap orang-orang melihat mereka sebagai teman dekat saja. Apalagi kenyataan mereka tidak memiliki hubungan apa-apa membuat Y tidak terlalu memedulikan yang lain. Namun, kedeketan mereka belum diketahui keluarga masing-masing. Sampai sekarang pun (setelah berpacaran), Y dan T belum saling mengenalkan keluarga. Menurut Y hal itu dikarenakan bagi Y keluarganya tidak perlu tahu tentang hubungannya karena nanti hanya akan membuatnya dinasihati berlebihan.

“Oh, iya (banyak yang penasaran). Cuma memang (saat mereka) lebih dekat lagi terus orang makin banyak curiga pas awal tahun itu.

Pas udah jadian. (Tanggapannya) Gak di apa-apain. Orang emang gak ada apa-apa.”

(W2.L1.Y.A_No218-224)

“Enggak (tahu). Sebenernya kemarin awal-awal aku gak ngasi tau karena aku gak suka, apa... nanti kalau aku kasi tau, nanti aku jadi banyak diceramahin.”

(W1.L1.Y.A_No282-284) Y bisa merasakan adanya perubahan dalam diri T. Jika selama ini dia selalu terlihat, kuat, mandiri dan cerewet, di depan Y, T menunjukkan sisi lemahnya. T juga menunjukkan sisi manjanya. Dia akan bergantung pada T ketika sedang lelah. T juga menjadi sedikit lebih bersabar karena selalu diingatkan oleh Y. Untuk Y sendiri, tidak banyak yang berubah dari dirinya semenjak dekat dengan T. Dia lebih terbuka tetapi hanya dengan T saja. T lebih menjaga jaraknya dengan teman-teman wanita lain untuk menghargai T. Y juga merasa ia menjadi lebih tepat waktu dan tidak menunda pekerjaannya.

“Dia di awal dia orangnya apa, sangat cuek, terus tomboy, baru kuat lah bisa dibilang, baru tangguh, kayak di... kayak dia di apa kan, dia juga aturannya 15 juga kan. Dia kayak dituakan gitu lah, tangguh lah kan. Rupanya dia apa, rupanya dia suka manja, karena selama ini dia orangnya mandiri kan. Jadi dia gak pernah dimanja. Baru dia rapuh, gitu … Baru dia suka sendiri-sendiri. Karena kemandiriannya itu dia jadi kayak apa, ngadapin semuanya sendiri. ”

(W1.L1.Y.A_No366)

“Apa ya? Paling aku sering lebih serius sih. Kek gak becanda-becandain banyak cewek lagi. Terus juga masalah tugas gitu jadi lebih cepat ngerjainnya. Dulu gak telat juga sih, tapi kek sekang gak tunda-tunda lagi gitu.(kalau dia) Aku gak tahu, tapi aku lebih sering bilangin dia buat sabar. Jangan marah-marah, gak usah di tanggepin kali gitu. (Sekarang) Sikit-sikit berubah lah.”

(W2.L1.Y.A_No317) Y sangat senang ketika T kembali menghubunginya. Bahkan ia menjadi lebih yakin dengan perasaannya. Kebersamaan dan kedekatan mereka yang lebih dari sebelumnya membuat Y sadar jika dia semakin lama

menunggu akan membuat T semakin merasa Y tidak menyukainya, sehingga Y memilih menyatakan komitmennya. T pun langsung menerima Y menjadi pacarnya, dan mereka berdua merasa senang. Y merasa ini tindakan yang

menunggu akan membuat T semakin merasa Y tidak menyukainya, sehingga Y memilih menyatakan komitmennya. T pun langsung menerima Y menjadi pacarnya, dan mereka berdua merasa senang. Y merasa ini tindakan yang

Dokumen terkait