BAB IV ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL PENELITIAN 40
4.1.1. Responden 1
1. Wawancara Ke-1
Wawancara pertama ini dilakukan pada Selasa, 02 Oktober 2018, pukul 19.30 hingga 20.35. Adapun durasi wawancaranya adalah 62 menit 49 detik.
Wawancara dilakukan di rumah responden, tepatnya di kamar pribadi milik responden. Pemilihan waktu dan tempat ini disesuikan dengan waktu luang dan keinginan responden. Kamar pribadi dianggap responden sebagai sebagai tempat yang nyaman karena menyediakan privasi.
Kamar responden berukuran 3x3 meter. Kamar tersebut didominasi warna pink yang diasumsikan peneliti sebagai warna kesukaan responden.
Tedapat sebuah lemari pakaian di dinding bagian kanan pintu masuk. Meja pendek sebagai meja belajar dan diatasnya banyak tumpukan buku. Terdapat tempat tidur 3 kaki dengan sprei berwarna pink bermotif beruang. Tempat tidur ini dijadikan tempat duduk saat peneliti melakukan wawancara dengan responden. Diatas tempat tidur itu juga, diletakkan meja lipat yang digunakan untuk meletakkan ponsel dan panduan wawancara. Ponsel digunakan sebagai
voice recorder atau alat perekam suara selama wawancara dilakukan.
Disamping kanan atas tempat tidur, terdapat rak kayu yang berisikan kosmetik-kosmetik milik responden.
Waktu yang sudah menunjukkan malam hari membuat responden berpenampilan sangat santai. Ia menggunakan kaus abu-abu dengan lis hitam.
Bajunya bermotif seragam tim baseball. Responden menggunakan celana tidur berawarna abu-abu. Rambut responden digerai kemudian saat wawancara dilakukan ia menggulung rambutnya ke atas. Secara fisik, responden tampak lebih berisi karena tingginya yang lebih kurang hanya 155 cm. Pada hari itu, kondisi fisik responden tampak sehat, walau sebenarnya responden sedang mengalami flu.
Pada saat menyambut kedatangan peneliti, responden tampak semangat, terlihat dari gerakan tubuhnya yang enerjik menyuruh peneliti masuk dan segera mengajak ke kamar responden. Pada awal dilakukan wawancara, responden menyuarakan kebingungannya dalam bersikap di wawancara ini. Ia berpikir bahwa wawancara ini harus dilakukan dengan serius dan tegang. Kemudian, peneliti meyakinkan responden untuk bersikap santai dan sewajarnya orang mengobrol. Boleh sambil tertawa jika lucu dan menangis jika memang ingin menangis, dan sebagainya. Saat menit-menit awal, responden sering tertawa. Ia juga terkadang menunjukkan sikap malu-malu yang dapat dilihat dari menutupi dan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Sambil menjawab, responden sering menumpukan pipinya di tangan kanan. Hal yang paling sering dilakukan oleh responden adalah
memiringkan tubuhnya ke kanan, kemudian tegak lagi, lalu menumpukan wajahnya ke kedua tangannya dan tegak lagi. Ia juga terkadang memeluk guling atau memangkunya.
Ekspresi responden dilihat dari wajah, gerak dan mimik selama berbicara menunjukkan wajah yang cerah. Matanya membulat, bibirnya terangkat kadang-kadang pipinya memerah. Namun, di tengah-tengah wawancara mata responden memerah. Air matanya keluar hanya sampai di pelupuk mata, tidak menetes ke pipi. Wajah responden tampak menegang keningnya berkerut, tetapi bibirnya tetap terangkat naik. Sambil sedikit tertawa, responden mengatakan, “kan, mau nangis.” Tidak lama kemudian reponden menangis, air matanya jatuh ke pipi. Ia mengusap matanya yang berair dan mengeringkannya sebanyak tiga kali. Responden menangis tetapi ia tetap terus bercerita. Ketika dia bisa menghentikan tangisnya, responden mengusap matanya sekali lagi, mengeringkan air matanya dengan jemarinya.
Terkadang hal-hal yang mengganggu juga terjadi, misalnya responden bergerak terlalu jauh dari alat perekam, membuat peneliti harus memindahkan alat perekam untuk memastikan suara responden terdengar. Sementara, peneliti beberapa kali harus mengecek jam di ponsel untuk memantau waktu agar wawancara tidak selesai terlalu malam. Akhirnya, wawancara dihentikan ketika mencapai durasi satu jam dan waktu menunjukkan pukul setengah sembilan malam.
2. Wawancara Ke-2
Wawancara kedua dilakukan pada Selasa, 16 Oktober 2018. Wawancara dilakukan di sebuah coffee shop yang berlokasi di Mall Center Point, Medan.
Peneliti dan responden datang bersama dan sampai di lokasi pukul 14.34 tetapi wawancara baru dimulai pukul 14.54. Durasi wawancara kedua ini adalah 55 menit. Pemilihan tempat juga masih berdasarkan permintaan responden yang ingin wawancara kedua dilakukan di sore hari sambil menikmati suasana kafe agar lebih santai dan nyaman serta sambil berjalan-jalan. Sebenarnya, wawancara kedua sudah dijadwalkan pada Jumat, 12 Oktober 2018, tetapi 13 menit 43 detik wawancara berjalan, responden memiliki keperluan mendadak sehingga harus meninggalkan lokasi pertemuan. Jadi total durasi wawancara kedua adalah 68 menit 43 detik.
Wawancara kedua ini dilakukan diluar rumah sehingga responden tampil lebih rapi. Responden juga menggunakan jilbab. Jilbab yang digunakan berawarna cream dan bermotif polkadot cokelat tua dengan aksen color block berwarna cokelat merah dan oranye. Responden menggunakan baju kemeja berwarna pink salem dan celana kain hitam. Ia juga menggunakan tote-bag berwarna hijau botol. Responden memang berpenampilan formal karena baru saja pulang dari kampus.
Coffee shop yang dipilih adalah sebuah coffee shop kecil. Hanya berisikan 10 meja. Terdiri dari 5 meja untuk dua orang, 4 meja untuk 4 orang dan sebuah meja untuk delapan orang. Peneliti dan reponden diarahkan ke sebuah meja untuk 4 orang, yang merupakan satu-satunya meja yang kosong.
Responden dan peneliti memilih duduk disebuah sofa panjang yang agak
sedikit tertutup karena ada dinding sekitar 60 cm di bagian kanan dan kirinya.
Peniliti dan responden memilih duduk berdampingan agar bisa mengobrol dengan suara kecil tetapi tetap terdengar. Pada awalnya, peneliti menumpukkan dua buah bantal sofa diantara peneliti dan responden untuk menempatkan ponsel sebagai alat perekam suara. Namun, karena orang yang mengobrol cukup banyak, peneliti memutuskan untuk memegang ponsel dan memposisikannya di depan wajah responden. Durasi wawancara yang panjang membuat responden terkadang menawari untuk bergantian memegang recorder tersebut.
Pada wawancara kali ini, responden tidak lagi menangis. Ia lebih banyak tertawa. Responden juga tampak lebih banyak mengeluarkan emosi kesal. Tampak dari responden yang banyak mengeluarkan suara mendesis dan menggeram. Kemudian ia juga banyak menepuk-nepuk bantal dan meghantam telapak tangan kirinya dengan kepalan tangan kanannya.
Responden juga menunjukkan raut heran dengan menyipitkan mata, mengerutkan kening dan melambai-lambaikan tangannya disamping kepala.
Namun, diwawancara kali ini, responden banyak terdistraksi dengan pesan-pesan yang masuk di ponselnya.
b. Hasil Wawancara 1. Latar belakang
Responden pertama ini adalah seorang perempuan berusia 22 tahun berinisial V. V merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Responden merupakan
mahasiswi semester 9 di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Saat ini ia sedang mempersiapkan seminar proposal skripsinya.
Saat ini ia sedang menjalin hubungan dengan D yang sudah berlangsung selama satu tahun. D merupakan mahasiswa USU Fakultas Ilmu Komputer. Walaupun V sudah satu tahun menjalin komitmen dengan D, sesungguhnya V dan D sudah kenal sejak 4 tahun yang lalu. Mereka menjalani masa pendekatan selama 3 tahun dan berpacaran selama satu tahun.
Sebelumnya, V sudah pernah berpacaran sebanyak lima kali dengan lama hubungan yang bervariasi, paling lama adalah dua tahun.
“Ada yang … eum, yang bener ya, yang lama. Eee, dua bulan, tujuh bulan, setahun lebih, dua tahun, yang terakhir ini udah setahun.”
(W1.P1.V.A_No34)
V bertemu dengan D masih pada masa SMA. V dan D berbeda sekolah. V dikenal karena berasal dari sekolah elit yang terletak ditengah kota. Sekolah V terkenal dengan anak-anak orang kaya dan sombong-sombong.
“Orang-orang kan tahu anak-anak situ yang sombong-sombong lah, apa yang gimana.”
(W1.P1.V.A_No177)
Selain sekolahnya yang terkenal dengan stereotip tersebut, keluarga V juga berkecukupan sehingga membuat V dianggap sama dengan kebanyakan anak-anak di sekolahnya karena V selalu tampak menggunakan mobil kemanapun ia pergi.
“waktu itu aku di antar naik mobil sama mantan aku. Terus aku juga pernah karena sore malam gitu kan, aku bawak mobil ke les.”
(W1.P1.V.A_No181b) Padahal, sebenarnya V sendiri bukanlah orang yang seperti itu. V memang pendiam dan tidak mudah menyapa orang yang tidak dikenal, tetapi jika sudah kenal, V adalah anak yang sangat baik dan perhatian.
“… Padahal aku memang kalau dari awal, orang ga nyapa aku duluan, aku gak bakalan nyapa. Tapi kalau udah di sapa, udah temenan ya aku yang baik kali gitu....”
(W1.P1.V.A_No179b) Selama menjalani pendekatan dengan D, V juga banyak didekati dengan laki-laki lainnya. V pun terkadang menyambut laki-laki yang berusaha mendekatinya sebagai pengalihan isu jika D sedang menghilang tidak ada kabar.
“Karena dia nggak nge-chat aku. Jadi ya daripada aku bosen. Terus aku ladenin aja (mereka).”
(W2.P1.V.A_No346) Perjalanan pendekatan V dengan D tidaklah mudah. Selama tiga tahun pendekatan, hubungan mereka terkadang dekat, terkadang sangat renggang. V bahkan sempat membenci D karena menghilang begitu saja. Perasaan benci itu membuat V malas menghubungi D dan membuat hubungan mereka semakin renggang. Padahal V masih sering melihat D aktif di sosial media. V berpikiran bahwa D tidak lagi mau berhubungan dengan V. V sering bingung apa sebenarnya harus ia lakukan dengan D. Bahkan ia sampai menangis diam-diam, padahal V bukanlah orang yang mudah menangis karena pria.
“Aku orangnya jarang kali nangisin cowok. Aku orangnya cengeng kali kalau soal, kalau soal keluarga. Bukan keluarga sih. Kek nengok video-video yang sedih-sedih gitu sering nangis. Tapi kalau karena
laki-laki aku gak pernah nangis. Kalau nangis tu kayak yang udah sakit kali gitu.”
(W2.P1.V.A_No428)
Dari pengalamannya bersama D ini, ada sebuah pelajaran yang didapat V yaitu: kedepannya dia akan lebih berhati-hati dan mudah menaruh hati.
“Gak ada sih. Ya awalnya tu, aturan kalau tau bakalan lama kali kayak gini... tapi kan, kalau ini kan, lama di tungguin ujung-ujungnya jadian kan. Coba kalau lama ditungguin ujung-ujungnya ya tetap lama-lama gitu aja. Kek yang maunya tu sebelum tambah sayang, tambah berharap sama dia, kalau dari awal tu udah mencium bau-bau kecuek-cuekan, udah tinggalin aja. Daripada.... daripada makin suka terus mau ngelepas tu payah.”
(W2.P1.V.A_No424) 2. Dinamika Pembentukan Hubungan Romantis
Saat itu, masa SMA sudah hampir usai. V disibukkan dengan persiapan ujian Nasional dan ujian masuk kuliah. Sebuah tempat bimbangan belajar di daerah Glugur, Medan Barat menjadi tempat pilihan V untuk membantunya mempersiapkan dirinya. Selain jadwal les, V pun sering menambah jam belajarnya dengan mengikuti jam diskusi diluar hari lesnya. Saat itulah, V melihat sosok laki-laki berperawakan tinggi, badannya tidak gemuk tapi juga tidak kurus, sesuai dengan preferensi V, dan dia juga berkulit putih. Fisiknya yang sesuai dengan tipe ideal menurut V membuat V tertarik untuk mengetahui siapa sosok tersebut.
“Karena masuk dikriteria tipe aku….”
(W1.P1.V.A_No73)
“Putih. Berbadan gitu, gak kurus tapi gak gendut. Ehm, tinggi lumayanlah ya standart tapi tinggi, gak tinggi kali. Terus ya karena putih.”
(W1.P1.V.A_No75)
Rasa tertarik dan penasaran ingin mengenal sosok tersebut membuat V memberanikan dirinya bertanya pada temannya mengenai sosok yang ditemu V tadi.
“Gak tau. Karena dari awal udah penasaran gitu…”
. (W2.P1.V.A_No98)
“Pas sekali ketemu langsug “itu siapa? kenalin lah.” gitu.” .
(W2.P1.V.A_No106) Teman V mengatakan bahwa laki-laki tersebut adalah D, teman dekatnya di sekolah. Mengetahui bahwa temannya adalah teman dekat D, maka V memberanikan diri untuk meminta tolong dengan temannya tersebut untuk mengenalkannya pada D.
“Tapi memang, temennya yang cowok, yang bareng sama dia itu temennya V. Terus V bilang sama temen V yang cewek, yang temen V kali, itu namanya siapa? Tahu gak? Oh tahu, itu namanya ini.
Yaudah, kenalin lah, V bilang kek gitu. Yaudah, nanti aku kenalin ya.”
(W1.P1.V.A_No81a-c) V yang berbeda jadwal les dengan D, membuat V sulit berjumpa dengan D, sehingga menurut V, jika dia tidak meminta tolong untuk dikenalkan, maka mereka berdua tidak akan bisa berkenalan.
“Tapi karena sama yang kali ini, kalau enggak aku yang minta kenalin, kayak mana kami bisa kenal? “
(W2.P1.V.A_No122a)
Padahal sebelumnya, V tidak pernah meminta dikenalkan dengan cowok pada teman-temannya.
“Enggak. Biasanya memang datang sendiri atau dia yang mau kenalan.”
(W2.P1.V.A_No96)
Beruntung, teman V bersedia mengenalkan V kepada D. Apalagi temannya tahu, V baru saja putus dan berharap dengan mempunyai kenalan baru, V bisa melupakan mantannya.
“Enggak (keberatan). Langsung ngenalin. Karena dia tau aku baru putus, supaya aku move on. Terus dia juga tau si cowok ini, ee, gak ada pacar.”
(W2.P1.V.A_No120) Temannya juga berbagi informasi bahwa D tidak memiliki pacar dan juga belum pernah pacaran. Temannya juga mengatakan bahwa D adalah orang baik. Hal-hal tersebut membuat V semakin yakin untuk minta dikenalkan dengan D.
“Oh, aku langsung nanya, baik gak nih orangnya? Baik kok baik. Ada ceweknya? Gak ada sih setau aku, dia gak pernah pacaran. Katanya gitu. Terus kaya yang, Oh baguslah, kalau gitu kan, lagi gak ada pacar terus gak pernah dekatin cewek, eh pernah sekali ngedeketin cewek cuma gak pernah pacaran, gak ada mantannya. Jadi yaudah, kaya yaudah gak apa-apa nih deket sama dia.”
(W1.P1.V.A_No89)
Ternyata D juga bersedia dikenalkan dengan V. Bahkan, sebenarnya D sudah mengetahui V. V memang dikenal karena berasal dari sekolah swasta elit dan berbeda dari kebanyakan anak-anak murid yang mengikuti bimbel di tempat tersebut.
“Iya, dia langsung bilang, oh yang anak sekolah 'ini?' Soalnya kan Cuma V yang di situ kan yang enggak satu sekolah sama mereka.”
(W1.P1.V.A_No93a-b)
D bahkan sudah pernah melihat V bersama mantan pacarnya.
Walaupun sempat bertanya-tanya mengapa V yang notabene termasuk anak populer bisa meminta kenalan dengan D.
“Eee, iya iya tahu kok. Kok bisa pula dia bisa minta kenalin?”
(W1.P1.V.A_No95)
Akhirnya seminggu setelah V meminta tolong untuk dikenalkan, D menghubungi V lewat applikasi obrolan daring, LINE.
“Sebenarnya bisa langsung. Cuma karena V lagi gak di Medan, lagi di Singapore, gak beli kartu, minta kenalinnya kek satu minggu lah.
Pas udah balik ke Medan langsung di chat sama dia”
(W1.P1.V.A_No87)
Dari percakapan pertama mereka, V bisa menilai D adalah orang baik karena ucapannya yang sopan serta D selalu membalas pesannya dengan cepat. Selain itu, V juga mencari tahu D lewat sosial media. Dari Instagram, V menilai bahwa penilaiannya tentang wajah D tidak salah, D benar-benar menarik secara fisik. Kemudian, dari Instagram juga, V mengetahui bahwa D suka bermain bola. Dari twitter, V bisa mengetahui sedikit tentang teman-teman D. Menurut V, D masuk ke dalam kategori ideal bagi V, yaitu tidak berperilaku yang macam-macam, tidak merokok, jarang keluar rumah, taat beragama dan juga pintar.
Dua bulan pertama berkenalan, D selalu menunjukkan perhatiannya, meski hanya sebatas lewat komunikasi daring. D selalu berbagi kabar dengan V. Komunikasi mereka sangat intens, hampir 24 jam selalu berbagi kabar.
Jika V tidak membalas pesannya lewat applikasi obrolan daring, maka D selalu menelepon atau mengirimkan sms kepada V. Memang, setelah tamat SMA dan bimbel sudah usai, mereka tidak lagi bertemu secara tatap muka.
Namun, perilaku-perilaku tersebut dianggap V sebagai bentuk perhatian dan bukti bahwa D juga menyukainya.
“Tapi ya, kami intensnya itu dua bulan. Dua bulan chat-nya itu bener-bener intens kali.…”
(W2.P1.V.A_No122c)
“Soalnya, udah siap UN, jadi kaya mau yang intensif kan, terus rupanya aku lulus undangan, dia juga undangan, jadi kami jarang les, gak pernah ketemu. Hmm, Yaudah dari chat kami pertama kali
komunikasi.”
(W1.P1.V.A_No111a-b)
V merasa ingin terus berkomunikasi dengan D. V selalu merasa senang saat mengobrol dengan D karena D adalah orang yang ia sukai. Walau baru berkenalan, V menilai bahwa mereka tidak lagi canggung satu sama lain dan saling terbuka. V dan D saling memberi tahu informasi tentang diri mereka masing-masing. Mereka juga saling bercerita mengenai kehidupan sehari-hari mereka. V menemukan bahwa mereka memiliki selera humor yang sama. Dari komunikasi mereka, V menyimpulkan bahwa D adalah anak baik, karena jarang pergi keluar padahal saat itu sedang libur panjang.
“Enggak. Karena kek aku yang balas chat dia panjang kek bercerita, kalau nanya sama dia juga dia balasnya panjang bercerita. Kek yang sama-sama excited gitu, karena orang baru, nih…”
(W1.P1.V.A_No139)
“emh, waktu itu kan lagi libur-liburnya. Terus dia jarang keluar rumah. Aku tuh paling suka cowok yang jarang (keluar)”
(W1.P1.V.A_No151)
Tidak butuh waku lama untuk V meyakini bahwa ia menyanyangi D.
“Karena udah sayang.”
(W1.P1.V.A_No161)
Menurut V, dia bisa menyimpulkan bahwa dia menyayangi D karena dia merasakan perasaan tidak ingin jauh dari D. V tidak ingin D pergi jauh dari kehidupannya. Perasaan tersebut tumbuh karena selain sejak awal V sudah tertarik dengan fisik D, komunikasi mereka juga sangat intens, percakapan yang menyambung serta perasaan nyaman berbagi informasi dengan D.
“Gak tahu. Karena kan chat nya itu kami benar-benar chat terus.
Pagi eh misalnya kami udah tidur jam satuan, terus pagi jam 6 itu dia udah ngechat duluan, siap-siap subuh dia udah ngechat terus aturan mau tidur lagi jadi gak tidur lagi. jadi udh banyak ngobrol, dari awal udah memang suka terus rupanya nyambung , nyaman, dia sering cerita-cerita, kan ada sih orang yang gak suka cerita tapi dia gak tipe orang yang mau ceritain keluarga. tapi dia ceritain kehidupan dia.
Apa-apa itu dia kek bilang iya kemarin aku gini-gini. Dia mau bercerita gitu, aku juga mau cerita. Apa-apa pun aku kalau misalnya dia gak nanya gitu, aku pasti bilang, misalnya eh aku mau pergi nih, gitu. Nyambung terus satu minggu chat udah mulai sayang.”
(W1.P1.V.A_No163a-b)
“karena kan memang aku yang suka duluan. Dari awal udah suka, terus rupanya respon dia juga baik. Terus kan kek senang kan, orang yang kita sukai ngerespon kita. Nanya balik segala macam, kek kita ngerasa dia juga suka. Terus kaya yang gak mau aja gitu pisah. Kek jangan ngejauh, gitu.”
(W1.P1.V.A_No167a-d) Perasaan sayang dan tidak ingin jauh tersebut V realisasikan dengan memberikan perhatian kepada D. Salah satunya, V juga turut membalas pesan D dengan cepat dan panjang. Menurut V, jika ia membalas pesan seseorang dengan cepat dan panjang, artinya ia memberikan tanda bahwa ia menyukai orang tersebut.
“Ya cepat juga, sepanjang mungkin. (tertawa). Aku kalau gak suka sama orang balas singkat.”
(W1.P1.V.A_No129-131)
Selain itu, selalu membuat topik baru agar tidak bosan, bercerita mengenai hari-hari V, dan menunjukkan kepeduliannya terhadap kehidupan D adalah cara V agar tetap bisa berhubungan dengan D. D pun juga melakukan hal yang sama.
“Ya, jangan sampai abis topik. Jangan sampai bosen. Jangan buat dia sampe bosen sama kita. Kek sebisa mungkin setiap hari itu ada aja yang kita ceritain sama dia. Walaupun sekecil mungkin kek yang biar ada topik biar gak-- biar ada topik lah, kaya kita nanya dia tadi kemana kek gitu. Ya, lebih peduli lah sama dia.”
(W1.P1.V.A_No227)
Meski V, sudah menyadari perasaannya, belum adanya komitmen diantara mereka berdua membuat V juga berusaha mendekatkan diri kepada laki-laki lain. Walau D tidak tahu, tetapi D menyadari ada yang berubah dari V, karena V jadi kurang memperhatikan D.
“Pernah, pas aku PDKT-an nih. Terus aku coba deket sama yang lain. karena udah pecah konsentrasi terus dia kek yang kenapa udah gak pernah nyariin lagi? Dia tahu dia dicariin. Pas aku udah ga nyariin dia lagi, dia nanya, kenapa? Iya, gak papa, ku bilang gitu aja.”
(W1.P1.V.A_No258-260)
Semakin sering berkomunikasi, V dan D tidak ragu membicarakan topik-topik pribadi seperti keluarga dan masalah-masalah kehidupan sehari-hari mereka. Walaupun untuk urusan keluarga, D tidak terlalu terbuka. V juga tidak mau bertanya lebih lanjut karena menghargai privasi D. Menurut V, jika memang mau bercerita, pasti akan diceritakan.
“Apa ya? Ya, cerita-cerita dia sama temen-temannya. Nanti dia cerita tadi temenku gini, iya aku ada tugas, atau banyak tugas. Ya paling dia cerita masalah dia di kampus. Dia memang dari awal jarang ceritain keluarga dia. Tapi ceritain diri dia sendiri. Terus aku mikir yaudah
sih, kan waktu itu masih PDKT. Kan yang PDKT masih aku sama dia, belum aku sama keluarganya. Kalau emang ntar emang mau serius, ya aku bakalan keluarga dia.”
(W1.P1.V.A_No319-324)
Mereka juga menjadi pengingat satu sama selain, seperti mengingatkan untuk tidak pulang malam-malam dan menjalani perkuliahan dengan benar. Namun, V masih enggan meminta bantuan kepada D karena ketakutan permintaannya akan ditolak. Meskipun, V dan D kadang-kadang mencoba menawarkan bantuan kepada masing-masing, mereka masih menganggap tawaran tersebut hanyalah basa-basi.
“Paling kalau dia keluar-keluar malam. Jangan lah pulang-pulang malam gitu. Ya, jangan pulang-pulang malam, tapi dia tetap lakuin.
Awalnya kesel. Dia itu kan anak satu-satunya. Aku bilang gini, kamu ini tiap hari pulang malam aja kerjanya. Ya gimana, namanya ada tugas, gini-gini. Udah. Namanya tugas terus aku bilang gini, kamu ini udah anak satu-satunya, mama sendiri di rumah. Yaudah, nanti anaknya jangan satu ya eh yaudah nanti anak kita jangan satu ya, 3, biar kamu ada temennya. Yah, gak jadi marah lah (tertawa)”
Awalnya kesel. Dia itu kan anak satu-satunya. Aku bilang gini, kamu ini tiap hari pulang malam aja kerjanya. Ya gimana, namanya ada tugas, gini-gini. Udah. Namanya tugas terus aku bilang gini, kamu ini udah anak satu-satunya, mama sendiri di rumah. Yaudah, nanti anaknya jangan satu ya eh yaudah nanti anak kita jangan satu ya, 3, biar kamu ada temennya. Yah, gak jadi marah lah (tertawa)”