• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

A. Analisa Data

2. Responden II

Jl. Iskandar Muda

c. Memindahkan rekaman hasil wawancara ke dalam bentuk transkrip verbatim

Setelah proses wawancara selesai dilakukan dan hasil wawancara telah diperoleh, peneliti kemudian memindahkan hasil wawancara ke dalam verbatim tertulis. Pada tahap ini, peneliti melakukan koding dengan membubuhkan kode-kode pada materi yang diperoleh. Koding dimaksudkan untk dapat mengorganisasi dan mensistemasi data secara lengkap dan mendetail sehingga data dapat memunculkan gambaran tentang topik yang dipelajari (Poerwandari, 2007).

d. Melakukan analisa data

Bentuk transkrip verbatim yang telah selesai dibuat kemudian dibuatkan salinannya, peneliti kemudian menyusun dan menganalisa data dari hasil transkrip wawancara yang telah dikoding menjadi sebuah narasi yang baik dan

menyusunnya berdasarkan alur pedoman wawancara yang digunakan saat wawancara. Peneliti membagi penjabaran analisa data responden ke dalam dimensi-dimensi dalam psychological well-being.

e. Menarik kesimpulan, membuat diskusi dan saran

Setelah analisa data selesai dilakukan, peneliti menarik kesimpulan untuk menjawab rumusan permasalahan. Kemudian peneliti menuliskan diskusi berdasarkan kesimpulan dan data hasil penelitian. Setelah itu, peneliti memberikan saran-saran sesuai dengan kesimpulan, diskusi dan data hasil penelitian.

III.F.3. Tahap Pencatatan Data

Untuk memudahkan pencatatan data, peneliti menggunakan alat perekam sebagai alat bantu agar data yang diperoleh dapat lebih akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Sebelum wawancara dimulai, peneliti meminta izin kepada responden untuk merekam wawancara yang akan dilakukan dengan mp4

player. Dari hasil rekaman ini kemudian akan ditranskripsikan secara verbatim

untuk dianalisa. Transkrip adalah salinan hasil wawancara dalam pita suara yang dipindahkan ke dalam bentuk ketikan di atas kertas.

III.F.4. Prosedur Analisa Data

Beberapa tahapan dalam menganalisis data kualitatif menurut Poerwandari (2007), yaitu:

Koding adalah proses membubuhkan kode-kode pada materi yang diperoleh. Koding dimaksudkan untuk dapat mengorganisasikan dan mensistemasi data secara lengkap dan mendetail sehingga data dapat memunculkan dengan lengkap gambaran tentang topik yang dipelajari. Semua peneliti kualitatif menganggap tahap koding sebagai yang penting, meskipun peneliti yang satu dengan peneliti yang lain memberikan usulan prosedur yang tidak sepenuhnya. Pada akhirnya, penelitilah yang berhak (dan bertanggung jawab) memilih cara koding yang dianggapnya paling efektif bagi data yagn diperolehnya (Poerwandari, 2007).

b. Organisasi Data

Highlen dan Finley (dalam Poerwandari, 2007) menyatakan bahwa organisasi data yang sistematis memungkinkan peneliti untuk:

1. Memperoleh data yang baik,

2. Mendokumentasikan analisis yang dilakukan

3. Menyimpan data dan analisis yang berkaitan dalam penyelesaian penelitian Hal-hal yang penting untuk disimpan dan diorganisasikan adalah data mentah (catatan lapangan dan kaset hasil rekaman), data yang sudah diproses sebagiannya (transkrip wawancara), data yang sudah ditandai/dibubuhi kode-kode khusus dan dokumentasi umum yang kronologis mengenai pengumpulan data dan langkah analisis.

c. Tahapan Interpretasi/analisis

Kvale (dalam Poerwandari, 2007) menyatakan bahwa interpretasi mengacu pada upaya memahami data secara lebih ekstensif sekaligus mendalam. Ada

tiga tingkatan konteks interpretasi yang diajukan Kvale (dalam Poerwandari, 2007), yaitu: pertama, konteks interpretasi pemahaman diri (self

understanding) terjadi bila peneliti berusaha memformulasikan dalam bentuk

yang lebih padat (condensed) apa yang oleh responden penelitian sendiri dipahami sebagai makna dari pernyataan-pernyataannya. Interpretasi tidak dilihat dari sudut pandang peneliti, melainkan dikembalikan pada pemahaman diri responden penelitian, dilihat dari sudut pandang dan pengertian responden penelitian tersebut. Kedua, konteks interpretasi pemahaman biasa yang kritiis

(critical commonsense understanding) terjadi bila peneliti berpijak lebih jauh

dari pemahaman diri responden penelitiannya. Peneliti mungkin akan menggunakan kerangka pemahaman yang lebih luas daripada kerangka pemahaman responden, bersifat kritis terhadap apa yang dikatakan oleh responden, baik dengan memfokuskan pada ’isi’ pernyataan maupun pada responden yang membuat pernyataan. Meski demikian, semua itu tetap dapat ditempatkan dalam konteks penalaran umum : peneliti mencoba mengambil posisi sebagai masyarakat umum dalam mana responden penelitian berada. Ketiga, konteks interpretasi pemahaman teoritis adalah konteks paling konseptual. Pada tingkat ketiga ini, kerangka teoritis tertentu digunakan untuk memahami pernyataan-pernyataan yang ada, sehingga dapat mengatasi konteks pemahaman diri responden ataupun penalaran umum.

d. Pengujian Terhadap Dugaan

Dugaan adalah kesimpulan sementara. Dengan mempelajari data, kita mengembangkan dugaan-dugaan yang juga merupakan

kesimpulan-kesimpulan sementara. Dugaan yang dikembangkan tersebut juga harus dipertajam dan diuji ketepatannya. Begitu tema-tema dan pola-pola muncul dari data, untuk meyakini temuannya, selain mencoba untuk terus menajamkan tema dan pola yang ditemukan, peneliti juga perlu mencari data yang memberikan gambaran berbeda dari pola-pola yang muncul tersebut. Hal ini berkaitan erat dengan upaya mencari penjelasan yang berbeda-beda mengenai data yang sama. Berbagai perspektif harus disesuaikan untuk memungkinkan keluasan analisis serta mengecek bias-bias yang tidak disadari oleh peneliti.

BAB IV

ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan diuraikan analisa hasil wawancara dengan para responden penelitian dalam bentuk narasi. Pada bab ini juga akan dikemukakan deskripsi data responden, data observasi, data wawancara, dan interpretasi data. Dengan demikian akan diperoleh dinamika psikologis responden penelitian untuk menjawab pertanyaan penelitian.

Selanjutnya pada bab ini akan terdapat kutipan dalam setiap bagian analisa yang akan diberikan kode-kode tertentu karena satu kutipan dapat saja diinterpretasikan beberapa kali. Contoh kode yang digunakan adalah R1. WI/b19-22/hal.3, maksud kode ini adalah kutipan pada responden satu, wawancara pertama, baris 19 sampai 22, verbatim halaman 3.

IV.A. Responden I

Tabel 3. Gambaran Umum Responden II

Identitas Deskripsi Responden

Nama Andra

Usia ± 30 tahun

Pekerjaan Atlet atletik

Jenis kecacatan yang dialami Cacat kaki sebelah kiri

Mengalami kecacatan pada usia… ± 16 tahun (kelas 1 SMA)

Kondisi fisik pasangan Cacat tangan sebelah kanan

Anak ke Anak ke 3 dari 3

Latar belakang ekonomi keluarga Menengah ke bawah

IV.A.1. Rangkuman Wawancara

Responden pertama dalam penelitian ini, bernama Andra (bukan nama sebenarnya), seorang pria dari suku batak Karo, berusia sekitar 30 tahun, dan beragama Islam. Andra merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara dan selama ini hubungannya dengan kedua saudaranya sangat dekat, begitu juga dengan orangtuanya, khususnya dengan ibu. Saat masih duduk di bangku sekolah, kedua orangtua Andra memutuskan untuk berpisah. Andra bersama kedua saudaranya tinggal dengan sang ibu. Situasi dan kondisi tersebut membuat Andra semakin dekat dengan ibu.

Pada usia sekitar 16 tahun, Andra mengalami kecelakaan lalu lintas ketika sepeda motor yang dikendarai bersama temannya menabrak sebuah mobil yang tiba-tiba berhenti didepan mereka ketika mereka hendak membelokkan kendaraan mereka di sebuah persimpangan jalan di daerah padang bulan.

Kecelakaan ini menyebabkan Andra mengalami patah tulang di bagian kaki kirinya. Ia divonis cacat permanen oleh pihak rumah sakit. Kedua kakinya timpang dan tidak seimbang ketika berjalan. Mengetahui keadaan ini, Andra sangat sedih karena sebelumnya Andra bercita-cita menjadi seorang perwira TNI tetapi setelah kecelakaan terjadi cita-cita itu tidak akan pernah tercapai. Kesedihan yang dialami Andra bertambah besar ketika teman-teman dan kekasihnya memilih

meninggalkannya. Setelah menjalani pengobatan dan kondisinya tidak bisa kembali seperti sedia kala, Andra merasa putus asa. Pada awalnya ia hanya mengurung diri dirumah dan tidak bergaul dengan teman-teman sebayanya yang lain dan dalam keadaan putus asa Andra pernah melakukan upaya bunuh diri. Upaya bunuh diri ini dilakukan beberapa kali tetapi selalu digagalkan oleh ibu dan kedua saudaranya.

Pada saat ini, Andra terdaftar sebagai salah seorang atlet atletik berskala nasional dalam nomor lempar. Sebagai seorang atlet, Andra pernah menjuarai beberapa kejuaraan mulai dari tingkat daerah, nasional hingga tingkat Asia. Banyaknya prestasi yang telah diraih oleh Andra dalam berbagai kejuaraan membuatnya diangkat menjadi salah seorang pegawai dalam instansi pemerintahan sebagai staf olahraga. Kegiatan Andra sehari-hari sebagai seorang atlet adalah berlatih rutin sebanyak 3 (tiga) kali dalam seminggu. Sedangkan pekerjaannya sehari-hari di kantor adalah mengurus administrasi dan mengikuti rapat yang berkaitan dengan kegiatan olah raga yang akan diselenggarakan, baik tingkat sekolah maupun tingkat daerah.

Pada awalnya Andra tidak pernah bercita-cita untuk menjadi seorang atlet apalagi mengikuti kejuaraan dan memenangkannya. Namun semenjak terjadi kecelakaan yang mengakibatkan Andra mengalami cacat fisik permanen, hidup Andra mengalami perubahan, meninggalkan cita-cita semasa sekolah dan memutuskan untuk mengikuti kegiatan yang sesuai dengan kondisi fisiknya yang berbeda dari orang lain yang memiliki fisik lengkap. Melalui seorang dokter, yang fokus mengurusi orang-orang cacat seperti dirinya di sebuah yayasan, yang

merawat ibunya ketika akan operasi, Andra disarankan untuk mengikuti kegiatan ketrampilan yang di fasilitasi oleh pemerintah provinsi Sumatera Utara. Andra menyetujui saran dokter tersebut dan itulah yang merupakan awal Andra berkiprah di dunia orang cacat. Selama sekitar tiga bulan mengikuti ketrampilan, Andra mengetahui adanya kegiatan olahraga yang juga berada dibawah naungan pemerintah provinsi Sumatera Utara. Ketertarikan Andra pada olahraga membuatnya meninggalkan pelatihan ketrampilan tersebut, mengikuti sebuah pertandingan olahraga dan memenangkan pertandingan tersebut. Kemenangan itu menarik perhatian banyak orang sehingga pelatih dan yayasan pembinaan olahraga cacat menawarkannya untuk dilatih menjadi seorang atlet profesional.

Tidak hanya memiliki sebuah karir, saat ini Andra juga sudah memiliki pasangan hidup yang juga memiliki kondisi fisik yang cacat pada tangan kirinya. Pada awalnya Andra mengalami kesulitan dan penolakan ketika berusaha menjalin hubungan asmara dengan wanita, khususnya dengan yang memiliki fisik lengkap. Andra dianggap tidak mampu bekerja dan menjadi seorang kepala rumah tangga yang baik bagi pasangannya. Tetapi akhirnya Andra berhasil membuktikan bahwa orang yang cacat seperti dirinya pun mampu mengerjakan banyak hal, bahkan berprestasi.

IV.A.2. Data Observasi

Peneliti pertama kali bertemu dengan responden Andra di sebuah yayasan pembinaan olahraga untuk orang cacat. Sebelumnya peneliti membuat janji bertemu dengan Andra dengan perantaraan seorang temannya yang merupakan

atlet tenis meja sekaligus pemain catur skala nasional. Pertemuan pertama itu berlangsung pada Sabtu pagi, tanggal 22 Januari 2011 yang dimulai sekitar pukul 09.10 WIB. Andra datang lebih dulu dari peneliti sehingga ia sempat menunggu kedatangan peneliti selama beberapa menit. Setibanya di yayasan, peneliti menjenguk ke sebuah kamar yang menjadi kamar tidur para atlet pria lalu bertanya mengenai keberadaan responden kepada seorang atlet lain, bernama Jon, yang sudah lebih dulu dikenal peneliti pada kunjungan-kunjungan sebelumnya.

Setelah memberitahukan nama dan memastikan bahwa peneliti adalah orang yang memiliki janji bertemu dengannya, Andra keluar dan menemui peneliti. Andra menawarkan untuk berbincang-bincang di luar ruangan. Andra menawarkan sebuah kursi berbahan plastik berwarna biru untuk diduduki peneliti dan mengambil kursi plastik lainnya yang berwarna merah untuk dirinya sendiri.

Andra meletakkan tempat duduknya tidak tepat berhadapan dengan peneliti melainkan sedikit miring membentuk sudut sekitar 200. Diantara posisi

kami duduk, terdapat sebuah meja berbahan dasar kayu dengan sebuah kursi yang juga berbahan dasar kayu yang berada tepat dibalik meja tersebut.

Wawancara berlangsung di sebuah tempat yang biasanya dijadikan tempat parkir kendaraan bermotor oleh para atlet atau tamu yang datang yang ditutupi oleh atap berbahan plastik berwarna kecoklatan dan banyak sampah dedaunan terlihat diatasnya. Dibagian kiri ada ruang khusus yang sehari-harinya dipakai latihan para atlet angkat berat tetapi pada saat itu tidak terpakai karena tidak ada jadwal latihan. Berhadapan dengan ruangan itu, terdapat dua buah toilet yang memperdengarkan suara tetesan air dari keran yang sengaja dibuka. Peneliti dan

responden duduk di kursi yang sehari-harinya memang tersedia di situ yang berada di depan sebuah kamar tidur atlet pria. Jendela kamar atlet tersebut terbuat dari kaca reyben dan pintu kayu dengan garis-garis vertikal di daun pintunya. Kamar atlet pria ini bersebelahan dengan kantor ketua yayasan yang juga memiliki garis-garis vertikal di daun pintunya. Di sebelah kiri kamar tersebut, terdapat kantor sekretariat yayasan dan terdapat sebuah papan pengumuman yang menempel di dinding depan kantor tersebut. Disebelah kiri kantor yayasan terdapat ruang yang agak besar yang sehari-harinya digunakan untuk latihan bagi para atlet tenis meja.

Sebelum wawancara dimulai, Andra meminta izin untuk mengambil

handphone nya yang tadinya ia tinggalkan di kamar lalu kembali setelah sekitar 1

menit kemudian.

Andra adalah seorang atlet yang memiliki tinggi badan sekitar 185 cm dan berat badan sekitar 85 kg. Dengan proporsi tubuh seperti itu, Andra tergolong proporsional dan memiliki badan berisi. Pada wawancara pertama ini Andra datang dengan mengenakan jaket berbahan parasut berwarna abu-abu dengan kombinasi warna merah di bagian depan sebelah kanan hingga tangan, celana

keper panjang berwarna abu-abu kehijauan serta mengenakan sendal jepit

berbahan dasar kulit berwarna abu-abu yang bagian depannya tidak sepenuhnya tertutup sehingga sebagian jarinya terlihat. Andra memiliki potongan rambut yang pendek dan lurus juga daun telinga yang agak besar bila dibandingkan dengan kepalanya.

Setelah memperkenalkan diri masing-masing, Andra langsung meminta peneliti untuk menyampaikan apa yang ingin ditanyakan kepadanya. Lalu peneliti memulai proses wawancara ketika peneliti merasa Andra sudah mendapatkan posisi duduk yang nyaman. Peneliti kembali menjelaskan tujuan kedatangan peneliti dan bertanya kesediaannya secara langsung untuk diwawancara. Sebelum wawancara dimulai, peneliti meminta izin merekam proses wawancara tersebut. Pada saat wawancara berlangsung, Andra hanya sesekali menatap mata peneliti dan seringnya ia hanya memandang ke depan dan hanya sesekali fokus pada tangannya ketika ia memperagakan atau ingin menekankan sesuatu yang ia bicarakan.

Pada awalnya, wawancara berlangsung dengan tenang dan tanpa gangguan tetapi setelah beberapa menit wawancara berlangsung mulai terdengar suara musik dari kamar tidur atlet pria dengan volume yang agak keras yang sedikit menggangu konsentrasi. Diluar itu tidak ada hal lain yang cukup signifikan mengganggu proses wawancara.

Pada awalnya, Andra duduk bersandar dikursinya tetapi sesekali ia mencondongkan tubuhnya dan mengetuk-ngetuk meja yang berada di depannya untuk menekankan apa yang dikatakannya. Posisi duduknya agak kaku dan ia terlihat lebih sering bersandar pada kursi tempat duduknya.

Pada hampir keseluruhan wawancara berlangsung, Andra mengangkat kaki sebelah kirinya dan menempatkannya diatas kaki sebelah kanannya dalam durasi yang agak lama.

Wawancara pertama ini berlangsung selama lebih dari 35 menit dan setelah wawancara selesai, peneliti melanjutkan menjalin rapport dengan Andra dan pada saat itu Andra mulai terlihat lebih santai dan lebih terbuka dibandingkan pada saat wawancara.

Wawancara kedua dilaksanakan di sebuah warung makan kecil yang berada di simpang jalan Willem Iskandar, simpang kampus UNIMED, pada hari Selasa, 22 Februari 2011 pada sekitar pukul 12.05 WIB. Pada pertemuan kali ini, Andra datang dengan mengendarai sepeda motor berwarna hitam, dengan helm

half face yang juga berwarna hitam. Andra mengenakan seragam PNS yang

berwarna coklat dengan kaos dalam berwarna putih yang terlihat jelas di balik seragamnya yang ditutupi oleh jaket berbahan parasut berwarna putih kombinasi biru dan dibagian belakang jaket terdapat tulisan Sumatera Utara, ia juga memakai sepatu vantofel hitam dengan ujung depannya yang rata.

Setelah memarkirkan kendaraannya di tempat parkir yang berada disebelah kanan warung, Andra mengajak peneliti masuk ke warung. Warung itu merupakan sebuah warung terbuka yang terdiri dari dua gerobak makanan yang menawarkan beberapa menu seperti nasi goreng, burger, pisang bakar dan aneka jus buah serta minuman ringan lainnya. Setelah memesan minuman yang diinginkan masing-masing, Andra mengajak peneliti untuk mengambil posisi duduk agak di ujung sebelah kanan, dekat tempat dimana ia memarkirkan sepeda motornya. Andra memilih meja kedua dari ujung. Meja tersebut berwarna dasar hitam yang berukuran sekitar 1 m x 0,5 m dengan gambar sebuah iklan minuman ringan dipermukaannya. Di permukaan meja terdapat sebuah tempat sendok yang

berisi beberapa pasang sendok, sebuah tempat gelas yang berisi beberapa gelas yang ukuran dan warnanya berbeda satu sama lain, serta saos dan kecap manis dalam botol plastik berwarna bening dengan tutup atasnya berwarna biru kehijauan. Andra mengambil posisi duduk membelakangi parkiran sepeda motor lalu mempersilakan peneliti untuk duduk berhadapan dengannya.

Walaupun duduk berseberangan, Andra sedikit memiringkan posisi tubuhnya sehingga tidak duduk tepat berhadapan dengan peneliti, hampir sama seperti pada pertemuan pertama.

Sebelum wawancara dimulai, peneliti kembali meminta izin kepada Andra untuk merekam percakapan yang akan dilakukan dengan mp4 player dan Andra tidak merasa keberatan.

Tidak berbeda jauh dari pertemuan pertama, pada pertemuan kali ini pun, Andra tidak menjaga kontak mata dengan peneliti, hanya memandang lurus ke depan dan sesekali memandang pada peneliti apabila ia merasa ada pertanyaan yang kurang jelas disampaikan.

Selama proses wawancara terdapat beberapa gangguan yang disebabkan lokasi warung yang berada di tepi jalan raya, sehingga sering terdengar suara kendaraan yang lalu lalang. Namun begitu, dalam pertemuan kedua ini, Andra terlihat lebih santai, hangat dan bersahabat dibandingkan dengan pertemuan pertama. Hal ini tampak dari senyum dan wajahnya yang lebih segar dibandingkan dengan pertemuan pertama.

Wawancara kedua ini berlangsung selama sekitar 1 jam dan hampir selama itu juga posisi kaki kirinya berada di atas kaki kanannya tetapi sesekali ia

menurunkan kaki kirinya selama beberapa menit untuk kemudian dinaikkan kembali.

IV.A.3. Dimensi-Dimensi Psychological Well-Being Individu Yang Cacat Karena Kecelakaan

Penerimaan Diri

Pada awalnya Andra tidak bisa menerima kondisi fisiknya yang cacat. Ia merasa menyesal dengan keadaan yang menimpanya. Penyesalan yang membuatnya tidak bisa menerima keadaannya ini berlangsung selama sekitar setahun setelah kecacatannya. Andra tidak bisa menerima kondisinya yang cacat karena dengan kondisinya ia banyak mendapat ejekan dari orang-orang disekitarnya.

”Ya waktu tau itu..spontan ya…pasrah aja ya kan...ya udah terjadi tapi kalo ditanya pada waktu itu sampe setahun pun saya masih tidak bisa terima kondisi begini.”

(R1. WI/b43-49/hal.2)

”Hanya menyesal lah…menyesal… pada waktu itu ya waktu itu ya dari kejadian sampe setahun itu, itulah... menyesal...ga menerima dengan kenyataan yang saya terima”

(R1. WI/b52-59/hal.2)

“Ya ga bisa terima lah dengan kondisi yang seperti sekarang ini...istilahnya kan kalo pun ga dalam kerja... orang cacat ini istilahnya engga pun diejek orang, diliat orang aja pun dia sensitif trus mikirnya berbeda...dengan pemikiran seperti itu ga bisa menerima aja”

(R1. W2./b1248-1258, hal 13-14)

Selain merasa menyesal, Andra juga merasakan kesedihan yang mendalam melihat kondisinya yang cacat. Perasaan sedih karena fisiknya tidak akan bisa

kembali seperti sedia kala ini membuat Andra mengurung diri dirumah dan tidak bergaul dengan teman-teman sebayanya.

“Sama sekali tidak keluar.” (R1. W2./b922, hal 3)

Ketidakmampuan Andra menerima kondisi fisiknya yang cacat membuatnya putus asa hingga berupaya bunuh diri. Upaya bunuh diri ini beberapa kali dilakukan oleh Andra tetapi selalu berhasil digagalkan oleh ibu ataupun kedua saudaranya.

“Satu mau motong urat nadi, kedua...menyendiri ke tempat yang sepi gitu... disana kan ada pante di sekitar situ...aku kan kadang ke bukit-bukitnya gitu karna kayak mana ya... udah terlampau penuh di otak ini...ga terselesaikan... jadi ya gitu lah..”

(R1. W2/b2277-2286, hal 44)

“Yang mau motong urat nadi itu dirumah...” (R1. W2/b2302-2303, hal 45)

“Selalu digagalkan... ada aja jalannya orang tau” (R1. WI/b396-397/hal.13)

Menyadari kesedihan Andra yang mendalam dan kerentanannya untuk bunuh diri, keluarga lebih memperhatikan kondisi Andra dengan menyingkirkan benda-benda yang dianggap berbahaya bagi keselamatan Andra. Selain itu, mereka memberikan motivasi yang besar agar Andra bisa tetap semangat menjalani hari-harinya.

“Dari situ lah keluarga nonstop jagain saya...” (R1. W2./b358-360, hal 12)

“Semua lah disingkirkan...itu lah kan...” (R1. W2/b2320-2321, hal 46)

”Respon keluarga…ya…ga ada…ga ada yang…ga ada yang memojokkan saya. Kalo keluarga itu uda tau keadaan saya begini, keadaan begini,

mereka itu hanya bisa sebatas motivasi. Bagaimanapun itu ya...ga masalah lah...harus semangat lagi lah dia bilang.”

(R1. WI/b19-22/hal.3)

“Ya…khususnya kalo keluarga besar ya tetap mendukung.” (R1. WI/b246-248/hal.8)

“Sangat besar, khususnya ibu…ibu itu bagaimana ya, dia takutnya ya setelah kejadian mau bunuh diri itu...bagaimana saya itu... supaya lagi termotivasi, lepas dari bayang-bayangan ini...dia itu sampe menjaga saya itu...makan...tidur...dia itu selalu ada disisi saya...dan apa pun yang saya mau lakukan itu...mak saya mau ini...dia sangat mendukung... khususnya kalo di keluarga ibu lah yang sangat mendukung untuk saya berperan sampe saat ini.

(R1. WI/b763-780/hal.23)

Keluarga, terutama ibu mendorong Andra untuk bisa bangkit dari keterpurukannya. Lewat seorang dokter yang merawat ibunya, ibunya menyarankan agar Andra mengikuti kegiatan ketrampilan yang dikhususkan bagi

Dokumen terkait