BAB III METODE PENELITIAN
F. Prosedur Penelitian
1. Tahap Persiapan Penelitian
Pada tahap persiapan penelitian, peneliti menggunakan sejumlah hal yang diperlukan untuk melaksanakan penelitian (Moleong, 2006), yaitu sebagai berikut:
Peneliti mengumpulkan berbagai informasi dan teori-teori yang berhubungan dengan gambaran psychological well-being pada seseorang.
b. Menyusun pedoman wawancara
Agar wawancara yang dilakukan tidak menyimpang dari tujuan penelitian, peneliti menyusun butir-butir pertanyaan berdasarkan kerangka teori dari dimensi-dimensi yang ada untuk menjadi pedoman wawancara.
c. Persiapan untuk mengumpulkan data
Peneliti mengumpulkan informasi tentang calon responden penelitian dari teman-teman peneliti, panti rehabilitasi, rumah sakit, sekolah, dan yayasan pembinaan olahraga cacat. Setelah mendapatkannya, lalu peneliti menghubungi calon responden untuk menjelaskan tentang penelitian yang akan dilakukan dan menanyakan kesediaannya untuk berpartisipasi dalam penelitian.
Peneliti melakukan pendekatan ke sebuah panti rehabilitasi bagi orang cacat di daerah Pematang Siantar untuk memperoleh data mengenai individu yang mengalami kecacatan yang diakibatkan oleh kecelakaan dan berada pada rentang usia 18-40 tahun. Peneliti sempat berkenalan dan berbincang-bincang dengan seorang pasien, berinisial F, yang berada dipanti rehabilitasi tersebut. Peneliti menyatakan maksud dan tujuan peneliti kemudian F setuju untuk menjadi salah seorang responden peneliti. Namun ketika peneliti meminta waktu F dan menyatakan akan berkunjung serta melakukan wawancara, F menyatakan bahwa F sedang berada di Riau di tempat kedua orangtuanya dan F tidak bisa memastikan kapan akan kembali ke Pematang Siantar lagi.
Kemudian peneliti mencari informasi dari seorang teman peneliti yang pernah mendapatkan perawatan dipanti rehabilitasi tersebut mengenai teman-temannya yang sesuai dengan kriteria penelitian. Teman peneliti memperkenalkan peneliti dengan H yang tinggal di kota Pematang Siantar. Peneliti mencoba menghubungi H dan meminta kesediaannya menjadi responden penelitian. Namun karena kesibukannya bekerja sebagai salah seorang karyawan di bagian marketing peneliti mengalami kesulitan untuk membuat janji bertemu dengan H dan peneliti memutuskan untuk tidak menggunakan H sebagai responden penelitian.
Peneliti lalu mendatangi sebuah yayasan pembinaan olahraga bagi orang cacat yang berlokasi di jalan Stadiun Teladan Medan. Di yayasan tersebut peneliti dikenalkan dengan seorang atlet tenis meja berskala nasional, berinisial A, yang mengalami kecacatan pada tangan kirinya. Peneliti mendapat persetujuan dari A untuk menjadi responden penelitian dan peneliti sempat melakukan wawancara pertama dengan A tetapi ketika peneliti meminta kesediannya untuk melakukan wawancara kedua tiba-tiba A tidak memberikan respon. Peneliti kemudian mencari informasi mengenai keberadaan A dari teman-temannya sesama atlet dan peneliti menerima kabar bahwa A sedang berada di pulau Bali selama beberapa minggu untuk mengikuti pertandingan dan teman-temannya juga tidak memiliki informasi kapan A akan kembali ke Medan. Dikarenakan ketidakjelasan kapan A akan kembali ke Medan, demi efisiensi waktu maka peneliti memutuskan untuk tidak menggunakan A sebagai responden penelitian.
Yayasan pembinaan olah raga bagi orang cacat tersebut tidak hanya mengenalkan peneliti dengan A tetapi juga memberikan informasi mengenai dua calon responden lagi yang sesuai dengan kriteria penelitian, masing-masing berinisial R dan A. Pada awalnya peneliti bertemu dengan R di yayasan tersebut dan menyatakan maksud dan tujuan peneliti. Namun setelah berbincang-bincang akhirnya peneliti mengetahui bahwa usia R tidak sesuai dengan kriteria penelitian, lebih dari 40 tahun, kemudian peneliti memutuskan tidak menggunakan R sebagai reponden selanjutnya. Keesokan harinya, peneliti bertemu dengan responden A yang sesuai dengan kriteria penelitian kemudian peneliti memutuskan A menjadi responden penelitian.
Setelah beberapa waktu peneliti tidak juga mendapatkan responden, peneliti memutuskan untuk memperluas pencarian responden ke sekolah dan rumah sakit. Akan tetapi peneliti tidak juga menemukan calon responden yang sesuai. Peneliti terus mencari informasi dari teman-teman peneliti dan ada seorang teman peneliti yang mengatakan bahwa ia mengenal seorang tetangganya yang mengalami kecacatan karena kecelakaan. Kemudian peneliti diajak untuk bertemu dengan calon responden, berinisial M. Setelah berbincang-bincang dengan M, peneliti baru mengetahui kalau usia responden tidak sesuai dengan kriteria penelitian, lebih dari 40 tahun. Peneliti memutuskan untuk tidak menggunakan M sebagai responden penelitian.
Peneliti terus mencari informasi dari teman-teman peneliti dan teman peneliti memberi informasi bahwa teman peneliti tersebut memiliki dua orang kenalan yang cocok dengan kriteria penelitian, masing-masing berinisial Z dan A.
Peneliti kemudian diajak bertemu dengan calon responden Z, menyatakan maksud dan tujuan peneliti kemudian Z menyetujui untuk menjadi responden penelitian. Beberapa hari kemudian peneliti membuat janji bertemu dengan Z tetapi setiap kali peneliti mengajaknya bertemu untuk wawancara, Z selalu tidak bisa dengan berbagai alasan, sehingga akhirnya peneliti memutuskan untuk tidak menggunakannya sebagai responden penelitian. Setelah itu, peneliti diperkenalkan dengan calon responden selanjutnya, berinisial A. Peneliti menyatakan maksud dan tujuan peneliti dan akhirnya A menyatakan kesediaannya menjadi responden penelitian dan peneliti tetapkan menjadi responden kedua.
Peneliti terus melakukan proses pencarian untuk calon responden ketiga dengan tetap bertanya kepada teman-teman peneliti dan peneliti mendapatkan informasi bahwa ada dua orang calon responden yang juga sesuai dengan kriteria penelitan yang dibuat oleh peneliti. Calon responden pertama mengalami luka bakar pada seluruh wajahnya akibat upaya bunuh diri, sedangkan calon responden kedua memiliki bekas luka pada kaki kirinya karena jatuh dari pohon. Akan tetapi setelah meninjau kembali kondisi kedua responden dengan teori yang peneliti paparkan pada bab II, peneliti memutuskan bahwa kedua calon responden tersebut tidak bisa peneliti gunakan sebagai responden penelitian.
Pada akhirnya peneliti menemui seorang konselor yang pada saat itu sedang memiliki seorang klien yang mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya. Peneliti diajak untuk bertemu langsung dengan calon responden tersebut.
Setelah berbincang-bincang akhirnya peneliti menemukan bahwa calon responden ternyata mengalami kelumpuhan bukan diakibatkan oleh kecelakaan melainkan oleh sebuah penyakit kelainan darah yang dideritanya. Dalam waktu pencarian yang cukup lama, akhirnya peneliti memutuskan hanya menggunakan 2 (dua) responden penelitian saja karena keterbatasan waktu, dana dan kemampuan yang peneliti miliki.
d. Membangun rapport dan menentukan jadwal wawancara
Setelah memperoleh kesediaan dari responden penelitian, peneliti membuat janji bertemu dengan responden dan berusaha membangun rapport yang baik dengan responden. Waktu yang digunakan peneliti untuk membina rapport adalah selama 10-20 menit di setiap awal pertemuan dan akhir pertemuan. Setelah itu, peneliti dan responden penelitian menentukan dan menyepakati waktu untuk pertemuan selanjutnya untuk melaksanakan wawancara penelitian.
Pembangungan rapport dilakukan berkali-kali oleh peneliti. Pembangunan rapport dilakkan dengan berteman dengan kedua responden, sering berbincang-bincang lewat telepon ataupun lewat pesan singkat.