Penulis dilahirkan di Jailolo pada tanggal 18 Oktober 1972 dari ayah Absalom Samad dan Ibu Martha The Wowor. Penulis merupakan anak ke lima dari enam bersaudara.
Tahun 1991 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Ternate Maluku Utara dan pada tahun yang sama masuk Universitas Pattimura Ambon serta diterima pada Jurusan Budidaya Pertanian, Program Studi Agronomi Fakultas Pertanian, dan menamatkan studi pada tahun 1998. Bekerja sebagai staf pengajar di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Goal Sahu Timur tahun 2006-2010. Staf penyuluh pertanian kontrak daerah dari tahun 2007-2010. Penulis diterima menjadi tenaga pendidik pada Sekolah Tinggi Pertanian Kewirausahaan (STPK) Banau Halmahera Barat melalui seleksi dosen tahun 2009. Pada tahun 2010 didukung oleh Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat dan beasiswa BPPS on going, penulis berkesempatan melanjutkan studi Program Magister Pascasarjana pada Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam Dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor.
Selama mengikuti program magister, penulis menjadi pengurus Forum Wacana Mahasiswa Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, dan pernah menjadi Ketua Pelaksana kegiatan Forum Wacana Pascasarjana IPB bekerjasama dengan Kopi Kapal Api tahun 2012 untuk Penanaman 1000 pohon di Desa Cihideng Hilir Dramaga Bogor.
RINGKASAN
FONIIKE SAMAD. Dampak Pertambangan Nikel Terhadap Sosial - Ekonomi - Ekologi Masyarakat Di Kecamatan Wasile Kabupaten Halmahera Timur. Dibimbing oleh EKA INTAN KUMALA PUTRI dan ARYA HADI. DHARMAWAN.
Pertambangan energi dan mineral di Indonesia pada 20 tahun terakhir ini mengalami kemajuan pesat, yang ditandai dengan meningkatnya volume produksi dan perkembangan usaha eksploitasi jenis sumberdaya energi dan mineral. Hasil penyelidikan dan pemetaan geologi yang telah dilakukan di sekitar 90 persen wilayah daratan Indonesia, telah mengidentifikasi wilayah dari Sabang sampai Merauke memiliki potensi kekayaan berbagai jenis mineral dan energi yang sangat diminati pasar ekspor (Ness,1999), disamping kawasan Timur Indonesia juga memiliki kekayaan sumberdaya mineral dan energi pertambangan yang sangat besar (Katili, 2002). Kontribusi pertambangan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tahun 1996 telah mencapai 5,25 persen. Kenaikan ini menunjukkan bahwa sektor pertambangan dapat menjadi sektor andalan bagi pembangunan perekonomian suatu negara (Ness,1999). Tambang dapat memberikan nilai tambah, jika deposit yang tersimpan di perut bumi dieksploitasi secara efektif (Yusgiantoro, 2000) sehingga dapat memberikan manfaat secara ekonomi bagi kesejahteraan rakyat, pembangunan wilayah, pertumbuhan industri dan perdagangan, serta peningkatan pendapatan nasional dan daerah, juga merupakan salah satu landasan terpenting pembangunan nasional Indonesia (Katili, 1998).
Kecamatan Wasile, Kabupaten Halmahera Timur salah satu kecamatan yang memiliki sumberdaya tambang nikel, dan memiliki dampak terhadap sosial, ekonomi dan lingkungan kehidupan masyarakat. Penelitian ini bertujuan adalah untuk menganalisis dampak pertambangan nikel terhadap sosial - ekonomi - ekologi masyarakat di Kecamatan Wasile, Kabupaten Halmahera Timur. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Wasile, Kabupaten Halmahera Timur, karena merupakan salah satu kecamatan yang memilki sumberdaya tambang, dan pada desa yang dekat dan jauh dari lokasi pertambangan nikel, Desa Batu Raja (desa yang dekat) dan Desa Subaim (desa yang jauh). Dengan sampling dalam penelitian ini terdiri dari masyarakat lokal yang berada di sekitar dan yang berada jauh dari kawasan perusahaan pertambangan nikel, namun ikut merasakan dampak dari pertambangan dimaksud. Jumlah sampel yang diambil dari responden yaitu 80 orang yang merupakan 40 orang dari masing-masing desa. Lapangan dengan menggunakan Kuesioner, Indepth Interview dengan menggunakan analisis Change in Productivity, analisis Chi-Square, dan SWOT.
Berdasarkan hasil penelitian pertambangan nikel di kawasan ini memberikan sumbangan ekonomi terhadap daerah yang signifikan dalam hal : (a) Pendapatan daerah, (b) Perluasan kesempatan kerja dan (c) Pengurangan pengangguran di daerah. Namun secara sosial dan ekologi, dampaknya tidak dirasakan oleh masyarakat.
Hasil SWOT, dengan menghasilkan skor IFE sebesar 3,17 dan EFE sebesar 2,50 yang berada pada garis Grow and Buid dan Houl and Maintain, yang menunjukkan bahwa pemerintah Kabupaten Halmahera Timur lemah dalam strategi terhadap dampak negatif dari masuknya pertambangan nikel. Sehingga rumusan kebijakan yang diusulkan adalah : (1) Tidak ada penerbitan ijin baru. (2) Posisi hold and maintain dari analisis SWOT, artinya perusahaan nikel yang sudah ada dapat tetap diteruskan operasinya, namun perusahaan harus memperhatikan dampak sosial dan ekologi yang terjadi pada masyarakat dan lingkungan. Saran kebijakan yang diajukan oleh hasil riset ini adalah memperbesar skema-skema CSR untuk memperbaiki dampak buruk operasi perusahaan tambang di bidang sosial dan ekologi.
SUMMARY
FONIIKE SAMAD. Nikel Mining Impact to Sosial - Economic - Community Ecology in East Halmahera District Wasile. Supervised by EKA INTAN KUMALA PUTRI and ARYA HADI DHARMAWAN.
Wasile, one of the East Halmahera district contained nickel mining, and a great influence on the social, economic and environmental life of the community. Thus this study refers to the theory and previous studies, researchers tried to base it on a frame of mind that the Sustainability of social, economic society strongly influenced by; carrying capacity of the environment, natural resources, human resources, facilities and infrastructure, the financial, social and cultural rights. The purpose of this study was to analyze the impact of nickel mining on socio - economic - ecological communities in the sub District Wasile, East Halmahera.
The research center is a sample of 2 (two) villages that are near and far away from the mining of nickel, the village of Batu Raja (near the village) and Subaim Desa (village far). By sampling in this study consisted of local people to be around and who are far away from the nickel mining company, yet to feel the impact of the mining question. The number of samples taken from the respondents ie 80 people consisting of 40 people from each village who are near and far away from the mine site consisting of local people actively working. Direct Observation Field Interviews In-depth interviews using questionnaires Change in Productivity analysis or can be referred to as the Productivity method, Chi-square analysis, and SWOT.
Based on the results of mining in the region contribute to the local economy are significant in terms of: (a) regional Revenue, (b) Expansion of employment opportunities, (c) Reduction of unemployment in the area. But the social and ecological impact is not profitable to society. The formulation of the proposed policy are: (1) there was no issuance of new licenses. The hold and maintain the position of the SWOT analysis, meaning that the company's existing nickel can be allowed to continue operations, but the company must pay attention to social and ecological impacts that adversely affect local communities and the environment. Suggestions policies proposed by this research is to increase CSR schemes to improve the adverse effects of mining companies operating in the fields of social and ecological.
1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pertambangan energi dan mineral di Indonesia pada 20 tahun terakhir ini mengalami kemajuan pesat, yang ditandai dengan meningkatnya volume produksi dan perkembangan usaha eksploitasi jenis sumberdaya energi dan mineral. Pertambangan energi dan mineral pada tahun 1970 an belum banyak berkembang di Indonesia. Hasil penyelidikan dan pemetaan geologi yang telah dilakukan di sekitar 90 persen wilayah daratan Indonesia, mulai dari Sabang sampai Merauke memiliki potensi kekayaan berbagai jenis mineral dan energi yang sangat diminati pasar ekspor (Ness,1999). Disamping itu, kawasan Timur Indonesia juga memiliki kekayaan sumberdaya mineral dan energi pertambangan yang sangat besar (Katili, 2002).
Kontribusi pertambangan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tahun 1996 telah mencapai 5,25 persen, kenaikan ini menunjukan bahwa sektor pertambangan dapat menjadi sektor andalan bagi pembangunan perekonomian suatu negara (Ness,1999). Kontribusi ekonomi usaha pertambangan terhadap pembangunan nasional melalui penerimaan negara sangat besar, namun terhadap pembangunan daerah dan masyarakat di sekitar wilayah pertambangan, baik melalui program pemberdayaan masyarakat maupun program pembangunan lainnya, belum dapat memberikan jaminan kesejahteraan sosial-ekonomi. Kegiatan pertambangan pada dasarnya merupakan proses pengalihan sumberdaya alam menjadi modal nyata ekonomi bagi negara dan selanjutnya menjadi modal sosial.
Pandangan yang sama dikemukakan oleh Yusgiantoro (2000), bahwa tambang dapat memberikan nilai tambah jika deposit yang tersimpan di perut bumi dieksploitasi secara efektif sehingga dapat memberikan manfaat secara ekonomi bagi kesejahteraan rakyat, pembangunan wilayah, pertumbuhan industry dan perdagangan, serta peningkatan pendapatan nasional dan daerah, juga merupakan salah satu landasan terpenting pembangunan nasional Indonesia (Katili, 1998).
Sebagai negara penganut paham sumberdaya alam untuk kesejahteraan rakyat, Indonesia cenderung menggunakan prinsip pembangunan berkelanjutan yaitu mengolah kekayaan sumberdaya alam dan energi secara bijaksana agar kondisi lingkungan tetap lestari dan bermutu tinggi. Lingkungan yang lestari, menunjukkan adanya pembangunan yang tetap berlangsung dari generasi ke generasi, dan lingkungan yang lestari hanya dapat dilahirkan dari pola pikir yang memiliki rasa bijak lingkungan yang besar (Naiola,1996).
Perkembangan produksi barang tambang mineral nasional dari tahun 1996 sampai pada tahun 2011 secara nasional ditunjukkan pada Tabel 1.
Tabel 1 Produksi Barang Tambang Mineral, 1996-2011
Sumber : Badan Statistik Republik Indonesia (BPS. Tahun 2012)
Tabel 1 menunjukkan bahwa hasil produksi tambang mineral Indonesia khususnya tambang nikel meningkat dari tahun ke tahun, yang memberi dampak secara ekonomi cukup signifikan tetapi secara lingkungan menimbulkan degradasi dan secara sosial menimbulkan konflik di beberapa daerah di Indonesia. Hal ini berarti bahwa pembangunan berkelanjutan belum dapat terwujud di Indonesia hingga saat ini.
Konsep pembangunan berkelanjutan diperkenalkan pertama pada tahun 1987 oleh The World Commission on Environment and Development (WCED) melalui laporan“Our Common Future”(Cicin-Sain et. al 1998). Substansinya, adalah pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan saat ini tanpa membatasi peluang generasi mendatang. Tidak menyebabkan penurunan kapasitas produksi ekonomi dimasa mendatang (Barry, 1997). Keberlanjutan secara ekologis, ekonomi, sosial, budaya, dan politik (Rahim, 2000). Mengandung prinsip “Justice as fairness” yang berarti manusia dari generasi yang berbeda mempunyai tugas dan tanggungjawab terhadap manusia lainnya seperti yang ada dalam satu generasi (Beller, 1990).
Suatu daerah tidak akan terus menerus berada dalam keadaannya sekarang, namun dari waktu ke waktu akan mengalami perubahan. Perubahan ini dapat bergerak maju tetapi dapat pula mengalami kemunduran. Demikan pula halnya dengan Maluku Utara, dan lebih khusus lagi adalah Kabupaten Halmahera Timur. Adanya kegiatan penambangan nikel di Kabupaten Halmahera Timur, yang melibatkan masyarakat secara langsung (direct) atau tidak langsung (indirect)
Tahun Batu bara Bauksit Nikel Perak Granit Biji Besi Konsentrat Tembaga
(ton) (ton) (ton) (Kg) (ton) (ton) (tonmetrik)
1996 50,332,047 841,976 3,426,867 255,404 4,827,058 425,101 1,758,910 1997 55,982,040 808,749 2,829,936 249,392 8,824,088 516,403 1,817,880 1998 58,504,660 1,055,647 2,736,640 383,191 9,662,649 509,978 2,640,040 1999 62,108,239 1,116,323 2,798,449 361,377 8,720,155 502,198 2,645,180 2000 67,105,675 1,150,776 2,434,585 310,430 5,941,370 420,418 3,270,335 2001 71,072,961 1,237,006 2,473,825 333,561 3,976,274 440,648 2,418,110 2002 105,539,301 1,283,485 2,120,582 281,903 3,975,434 190,946 2,851,190 2003 113,525,813 1,262,705 2,499,728 272,050 3,938,915 245,911 3,238,306 2004 128,479,707 1,331,519 2,105,957 255,053 4,035,040 79,635 2,812,664 2005 149,665,233 1,441,899 3,790,896 326,993 4,302,849 87,940 3,553,808 2006 162,294,657 2,117,630 3,869,883 270,624 4,514,654 84,954 817,796 2007 188,663,068 1,251,147 7,112,870 268,967 1,793,440 84,371 796,899 2008 178,930,188 1,152,322 6,571,764 226,051 2,050,000 445,525,932 655,046 2009 228,806,887 935,211 4,863,352 359,451 na 45,610,587 973,347 2010 323,325,793 2,200,00 9,475,362 335,040 2,172,080 8,975,507 993,152 2011 415,765,068 24,714,940 12,482,829 227,173 3,316,813 11,814,544 1,472,238
melalui penyerapan tenaga kerja. Disamping itu, adanya peningkatan pendapatan daerah maka perlu dimasukkan dampak kegiatan pertambangan kedalam Perencanaan Pembangunan Daerah (RAPBD). Sebab, dampak ekonomi yang diberikan dengan adanya kegiatan ini bukan saja pada satu sektor tertentu, namun sangat kompleks yang terkait dengan kegiatan ekonomi yang ada, seperti sektor jasa dan lainnya.
Kemajuan ekonomi tidak terjadi pada waktu yang sama di berbagai wilayah dan apabila disuatu wilayah terjadi pembangunan maka akan terdapat daya tarik yang kuat dan akan menciptakan konsentrasi pembangunan ekonomi di sekitar wilayah tersebut (trickle down effect). Pembangunan tersebut bermula dari terjadinya konsentrasi pembangunan disebabkan oleh faktor-faktor yang timbul di wilayah maju dan mempengaruhi pembangunan di wilayah kurang maju. Untuk tambang nikel di beberapa lokasi di Maluku Utara, kegiatannya dapat memberikan hasil yang besar maka lokasi tersebut menjadi suatu daerah aglomerasi yang dapat mendorong kegiatan-kegiatan ekonomi lainnya di daerah ini.
Pertambangan nikel dapat dilakukan secara terbuka (open pit mining) dan tertutup (under ground mining) termasuk penggalian, pengerukan dan penyedotan untuk mengambil deposit nikel yang ada didalam tanah (Von Bulow, 1993). Penambangan nikel dimulai dengan penebangan pohon dan semak-semak selanjutnya dilakukan pemindahan tanah permukaan ke tempat penampungan sementara (Suhala dan Supriatna, 1995). Unit bisnis pertambangan nikel daerah operasi di Kabupaten Halmahera Timur adalah PT. Aneka Tambang Tbk, yang pekerjaan penambangannya dilaksanakan 90 persen oleh kontraktor yaitu; PT. Minerina Bakti dan PT. Yudistira Bumi Bhakti. Hasil nikel selanjutnya dipasok ke pabrik di Pomala dan sebagian besar di pasarkan ke Jepang dan Australia. Dengan
prinsip “kekayaan alam untuk kesejahteraan rakyat” maka bahan tambang perlu
diolah dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat tetapi tetap menjaga kelestarian lingkungannya.
Menurut Undang-undang (UU) Nomor 04 tahun 2010 tentang pertambangan mineral dan batubara, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 55 Tahun 2010 tentang pembinaan dan penggunaan penyelenggaraan pengelolaan usaha pertambangan, dengan jelas dinyatakan bahwa setiap pengusahaan pertambangan harus memiliki ijin penambangan yang disebut Kuasa Pertambangan (KP), dengan tugas melakukan penyelidikan umum, eksplorasi, eksploitasi, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan. Untuk mendapatkan KP dilakukan perjanjian Kontrak Karya (KK) antar Pemerintah Indonesia dengan perusahaan yang mengusahakan penggalian tambang. Peraturan Menteri (Permen) ESDM No. 28 Tahun 2009 Tentang penyelenggaraan usaha jasa pertambangan mineral dan batubara, UU Nomor 22 tahun 1999 mengatur tentang pemerintah daerah dan UU Nomor 22 tahun 2010 mengatur tentang wilayah pertambangan, yang menjelaskan daerah otonomi berwenang mengelola sumberdaya yang terdapat didaerahnya, seperti memberi ijin usaha, penyelidikan umum, eksplorasi, eksploitasi, pengolahan dan pemurnian, serta pengangkutan dan penjualan.
Penambangan nikel memberikan penerimaan royalti dari eksploitasi nikel terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di Kabupaten Halmahera Timur dan efek positifnya dapat menimbulkan pendapatan masyarakat dari usaha
baru yang muncul dari aktivitas pertambangan nikel di Kabupaten Halmahera Timur. Illustrasinya dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Halmahera Timur Dasar Harga Konstan Berlaku Menurut Lapangan Usaha Tahun 2000-2009 (Juta Rupiah).
Sumber : BPS Pusat, PDRB Kabupaten Halmahera Timur, 2010
Tabel 2 menunjukkan bahwa sektor pertambangan nikel memberikan kontribusi ekonomi sebesar 23 persen, suatu nilai yang cukup besar jika dibandingkan dengan kontribusi sektor lainnya. Hal ini berarti bahwa tambang nikel dapat meningkatkan pendapatan daerah di Kabupaten Halmahera Timur.
Perumusan Masalah
Sumberdaya mineral dan energi beberapa tahun ini telah menimbulkan banyak permasalahan terhadap kehidupan manusia dan lingkungan sekitar. Permasalahan lingkungan yang memprihatinkan bagi dunia pertambangan beberapa waktu yang lalu adalah pencemaran teluk Buyat di Minahasa Sulawesi Utara, akibat kegiatan penambangan emas oleh PT. NMR, yang limbahnya tidak dikelola dengan baik sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan dan merugikan masyarakat. Kejadian-kejadian seperti ini kemudian memunculkan kesan bahwa dalam hubungan dengan lingkungan hidup, tidak ada sektor lain yang lebih terpuruk dibanding sektor pertambangan. Masalah yang sering muncul adalah pencemaran terhadap sumberdaya tanah dan kualitas air yang berakibat padaturunnya produktivitas tanah dan turunnya daya dukung lingkungan. Saat ini sudah ada kebijakan untuk pengolahan lahan pasca tambang, yaitu reklamasi lahan. Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No. 1211.K/008/M.PE/1995 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Perusakan dan Pencemaran Lingkungan pada Kegiatan Usaha Pertambangan Umum dan Keputusan Direktorat Jendral Pertambangan Umum No. 336.K/271/DDJP/1996 tentang Jaminan Reklamasi, merupakan dasar kebijakan implementasi reklamasi lahan pasca tambang.
Diberlakukannya UU No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan pasal 38 ayat (4) menyatakan bahwa pada kawasan hutan lindung dilarang melakukan penambangan dengan pola tambang terbuka (open pit mining). Pada dasarnya, dengan atau tanpa pemberlakuan UU No. 41 tahun 1999, pertambangan akan selalu bersinggungan dengan kawasan kehutanan. Pertambangan selalu dianggap sebagai penyebab kerusakan lingkungan, termasuk kerusakan hutan, jika penambangan dilakukan dengan pola tambang terbuka (open pit mining).
No Laporan Usaha 2008 2009
1 Pertanian 94.702,36 99.184,65
2 Pertambangan dan Migas 51.504,61 59.279,10
3 Industri Pengolaan 10.029,13 11.183,01
4 Listrik, Gas dan Air Bersih 383,94 401,49
5 Bangunan 5.105,38 5.679,74
6 Perdagangan, Hotel & Restoran 34.954,05 37.203,21
7 Pengangkutan dan komunikasi 8.493,30 9.024,22
8 Keuangan Persewaan dan Jasa Perusahaan 3.490,61 3.881,31
9 Jasa-jasa 10.899,94 11.254,25
PDRB dengan MIGAS dan PERTAMBANGAN PDRB tanpa PERTAMBANGAN
219.563,33 168.058,71
237.090,98 179.027,79
Wilayah penambangan Tanjung Buli awalnya merupakan hutan produksi, namun dalam rencana pengembangan wilayah selanjutnya, lokasi tersebut diarahkan sebagai wilayah penambangan nikel. Mengingat potensi mineral nikel yang terkandung didalamnya bernilai ekonomis, karena mampu menjadi sumber PAD yang lebih besar dibandingkan hasil produksi hutan. Oleh karena perubahan atau konversi hutan menjadi tambang nikel maka kerusakan hutan di Tanjung Buli tidak dapat dihindari. Walaupun perusahaan nikel tersebut hingga Tahun 2007 terus melakukan kegiatan reklamasi pada lahan pasca penambangan.
Reklamasi lahan ini dipertegas lagi dengan UU No. 32 Tahun 2009 pasal 16 menyatakan bahwa setiap penanggung jawab usaha dan atau kegiatan, wajib melakukan kegiatan reklamasi pada lahan pasca penambangan. Pengelolaan lingkungan hidup di kawasan pertambangan merupakan upaya untuk menciptakan lingkungan pertambangan yang berkualitas, yang melibatkan baik para perencana, pengambilan keputusan, penegakan hukum, dan pejabat pemerintah, ataupun dunia usaha dan masyarakat. Oleh karena itu, kesamaan persepsi dan sikap semua pihak yang terlibat dalam menghadapi persoalan lingkungan hidup perlu dibina agar pengelolaan lingkungan dapat mencapai hasil yang diharapkan. Berdasarkan UU No. 41 Tahun 1999, pemerintah pusat berhak menentukan hutan negara dan merencanakan penggunaan hutan, serta hanya perlu memberi perhatian terhadap rencana tata guna lahan yang dibuat berdasarkan UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Sementara itu, UU No 22 Tahun 1999 dan No. 32 Tahun 2004 tentang Otanomi Daerah memberikan kewenangan atas berbagai sumberdaya alam kepada pemerintah daerah sebesar 80 persen. Hal ini membuka peluang daerah untuk mengembangkan potensi sumberdaya yang dimilikinya, termasuk potensi hutan.
Tabel 3 Produksi Pertambangan Menurut Jenis Tambang Kabupaten Halmahera Timur 2006 – 2009.
Kegiatan penambangan selalu memunculkan pengaruh positif dan negatif. Pengaruh positif kegiatan penambangan dapat dilihat kontribusinya terhadap pendapatan asli daerah, membuka isolasi wilayah, menyumbangkan devisa negara, dan daerah menyediakan kesempatan kerja, serta pengadaan barang dan jasa untuk komsumsi dan yang berhubungan dengan kegiatan produksi disamping itu dapat menyediakan peranan bagi pertumbuhan sektor ekonomi lainnya (Mangkusubroto, 1995). Beberapa kejadian sebagai dampak negatif dari kegiatan penambangan dapat dilihat dari terjadinya ancaman terhadap lingkungan fisik, biologi, sosial, ekonomi dan warisan nasional ancaman terhadap ekologi dan pembangunan berkelanjutan (Barton, 1993).
Jenis Barang SatuanUnit 2006 2007 2008 2009
Minyak Bumi Barel 0 0 0 0
Gas Bumi Mscf 0 0 0 0
Timah m.ton 0 0 0 0
Batubara m.ton 0 0 0 0
Bauksit m.ton 0 0 0 0
Biji Nikel m.ton 728 460 8 819 749 7 642 076 6,163,242,25
Emas Kg 0 0 0 0
Perak Kg 0 0 0 0
Pasir Besi m.ton 0 0 0 0
Aspal m.ton 0 0 0 0
Konsentrat Tembaga m.ton 0 0 0 0
Dampak tambang terhadap sosial, ekonomi sangat terasa pada saat menjelang dan berhentinya operasi perusahaan penambangan, seperti pendapatan masyarakat menurun, tidak ada lapangan kerja, terjadi pemutusan tenaga kerja (Katili, 1998), sehingga menimbulkan perubahan pada lapangan kerja, tingkat dan pola pendapatan, pola produksi dan komsumsi, pendapatan dan penerimaan pemerintah dari pajak tambang dan retribusi menurun, seperti kasus yang dialami oleh PT Tambang Timah Bangka pada tahun 1990. Disana terjadi konflik antar etnis, konflik budaya, konflik tanah, kemiskinan, pengangguran, persepsi negatif terhadap perusahaan, menurunnya kualitas hidup, dan rendahnya partisipasi masyarakat.
Penambangan nikel di Kecamatan Wasile, Kabupaten Halmahera Timur mulai berproduksi pada tahun 2006. Tidak dapat disangkal lagi telah menimbulkan beberapa dampak positif di bidang sosial dan ekonomi, seperti adanya kontribusi terhadap produksi nikel nasional, kontribusi ekonomi terhadap Anggaran Pendapatan Belanja Daerah, kesempatan kerja, pendidikan, kesehatan, pengusaha kecil dan koperasi, sarana prasarana umum, serta keterbukaan wilayah. Namun, perlu juga diakui bahwa sebagai penambangan terbuka, tambang nikel juga telah menimbulkan dampak negatif. Ancaman terhadap dimensi ekologi seperti terjadinya perubahan bentang alam yang cukup luas, perubahan morfologi dan fungsi lahan, penimbunan tanah kupasan, penimbunan limbah pengolahan dan jaringan infrastrukturnya. Seperti halnya yang terjadi pada lahan bekas tambang emas di PT. Newmont Minahasa Raya (PTNMR, 2000). Dampak negatif tambang ini mempengaruhi iklim usaha dalam skala lokal seperti yang terjadi di lokasi penambangan PT. Batu Bara Bukit Asam (1996), dan sebagian mikro organisme dan horizon top soil A dan B menjadi musnah sehingga produktivitas dan stabilitas lahan menurun (Latifah, 2000).
Selanjutnya, Hardianti (2000) dalam penelitiannya di PT Freeport menyatakan bahwa luas wilayah operasi penambangan juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan munculnya malapetaka ekologi yang besar setelah masa tambang habis, dimana terjadi pemborosan sumberdaya tambang yang cukup besar dan memusnahkan keanekaragaman hayati yang ada di lokasi penambangan. Akibat penambangan, banyak komponen ekologi daerah bekas tambang yang mengalami degradasi ekologi seperti tambang emas di Kalgoorie Australia Barat, bekas tambang timah di pulau Dobo Singkep yang menyebabkan air tergenang pada lubang-lubang bekas galian sehingga menjadi sarang malaria dan munculnya hamparan tanah gundul yang tidak produktif (Kasus ANTAM Pomala dan PT. Inco). Katili (1998) juga menyatakan bahwa dampak negatif tambang menyebabkan menurunnya kualitas tanah dan air, terhadap komponen biofisik seperti terjadinya perubahan sifat tanah dan kualitas air disekitar lokasi tambang. Dampak negatif di bidang sosial ekonomi, mulai muncul disaat perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap Karyawan Perusahaan Operasional (KPO), dan Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM), sehingga mengakibatkan pengangguran baru. Demikian pula berdampak pada pendapatan petani, nelayan. pedagang, dan usaha informal dan formal mengalami penurunan sebagai akibat di tutupnya usaha penambangan (anonym, 1990). Kelangsungan hidup masyarakat secara sosial dan ekonomi, ketika kegiatan penambangan telah berakhir, perlu adanya campur tangan pemerintah dalam penciptaan mata
pencarian lokal secara lebih intensif untuk kelangsungan sosial dan ekonomi masyarakat.
Sebelum tambang nikel ditemukan, Kecamatan Wasile merupakan