• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berikut ini merupakan informasi segmen operasi Perseroan untuk periode yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2021, serta untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2020 dan 2019:

(dalam jutaan Rupiah)

Keterangan 30 Juni 2021

Jasa Penjualan Barang Eliminasi Konsolidasi

Pendapatan 9.255 5.096 (500) 13.851

Beban pokok pendapatan (5.365) (3.148) 500 (8.013)

Laba bruto 5.838

(dalam jutaan Rupiah)

Keterangan 31 Desember 2020

Jasa Penjualan Barang Eliminasi Konsolidasi

Pendapatan 3.576 12.464 - 16.040

Beban pokok pendapatan (1.018) (5.742) - (6.761)

Laba bruto 9.279

(dalam jutaan Rupiah)

Keterangan 31 Desember 2019

Jasa Penjualan Barang Eliminasi Konsolidasi

Pendapatan 3.160 1.546 - 4.706

Beban pokok pendapatan (1.419) (634) - (2.053)

Laba bruto 2.654

7. JUMLAH PINJAMAN YANG MASIH TERUTANG

Sampai dengan diterbitkannya Prospektus ini, Perseroan tidak memiliki pinjaman kepada pihak perbankan maupun perusahaan pembiayaan.

8. MANAJEMEN RISIKO KEUANGAN Risiko-risiko Keuangan

Perseroan dan Perusahaan Anak dipengaruhi oleh berbagai risiko keuangan, termasuk risiko kredit, risiko likuiditas dan risiko pasar. Tujuan manajemen risiko Perseroan dan Perusahaan Anak secara keseluruhan adalah untuk secara efektif mengendalikan risiko-risiko ini dan meminimalisasi pengaruh merugikan yang dapat terjadi terhadap kinerja keuangan mereka.

Manajemen risiko keuangan berada dibawah pengawasan langsung oleh Direksi yang bertugas mengidentifikasi dan mengevaluasi risiko keuangan dalam kerjasama yang erat dengan unit-unit operasi Perseroan dan Perusahaan Anak. Direksi menentukan prinsip manajemen risiko keuangan secara keseluruhan, serta kebijakan pada area tertentu, seperti risiko kredit dan risiko likuiditas, serta penggunaan instrumen keuangan derivatif dan nonderivatif, dan investasi atas kelebihan likuiditas.

a. Risiko Kredit

Risiko kredit adalah risiko dimana salah satu pihak atas instrumen keuangan akan gagal memenuhi kewajibannya dan menyebabkan pihak lain mengalami kerugian keuangan. Risiko kredit yang dihadapi Perseroan dan Perusahaan Anak berasal dari kegiatan operasi (terutama dari piutang usaha kepada pihak ketiga) dan dari kegiatan pendanaan, termasuk rekening bank.

Eksposur risiko kredit Perseroan dan Perusahaan Anak terutama adalah dalam mengelola piutang usaha. Perseroan dan Perusahaan Anak melakukan pengawasan kolektibilitas piutang sehingga dapat diterima penagihannya secara tepat waktu dan juga melakukan penelaahan atas masing-masing piutang pelanggan secara berkala untuk menilai potensi timbulnya kegagalan penagihan dan membentuk pencadangan berdasarkan hasil penelaahan tersebut.

Eksposur Perseroan dan Perusahaan Anak terhadap risiko kredit timbul dari kelalaian pihak lain, dengan eksposur maksimum sebesar jumlah tercatat aset keuangan Perseroan dan Perusahaan Anak, sebagai berikut:

32

(dalam jutaan Rupiah)

Keterangan 30 Juni 31 Desember

2021 2020 2019

Kas 4.833 2.339 -

Piutang usaha 976 - -

Piutang lain-lain 120 36 -

Piutang pihak berelasi 941 837 937

Total 6.871 3.212 937

b. Risiko Likuiditas

Risiko likuiditas didefinisikan sebagai risiko saat posisi arus kas Perseroan dan Perusahaan Anak menunjukkan bahwa penerimaan jangka pendek tidak cukup menutupi pengeluaran jangka pendek.

Kebutuhan likuiditas Perseroan dan Perusahaan Anak secara historis timbul dari kebutuhan untuk membiayai investasi dan pengeluaran barang modal terkait dengan program perluasan usaha. Perseroan dan Perusahaan Anak membutuhkan modal kerja yang substansial untuk membangun proyek-proyek baru dan untuk mendanai operasional.

Dalam mengelola risiko likuiditas, Perseroan dan Perusahaan Anak memantau dan menjaga tingkat kas yang dianggap memadai untuk membiayai operasional Perseroan dan Perusahaan Anak dan untuk mengatasi dampak dari fluktuasi arus kas. Perseroan dan Perusahaan Anak juga secara rutin mengevaluasi proyeksi arus kas dan arus kas aktual, termasuk jadwal jatuh tempo pinjaman, dan terus menelaah kondisi pasar keuangan untuk memelihara fleksibilitas pendanaan dengan cara menjaga ketersediaan komitmen fasilitas kredit. Risiko likuiditas Perseroan dan Perusahaan Anak relatif kecil karena aset lancar Perseroan dan Perusahaan Anak dapat mencukupi liabilitas jangka pendeknya.

Pengelolaan Permodalan

Tujuan utama dari pengelolaan permodalan Perseroan dan Perusahaan Anak adalah untuk memastikan bahwa dipertahankannya peringkat kredit yang kuat dan rasio modal yang sehat agar dapat mendukung kelancaran usahanya dan memaksimalkan nilai dari pemegang saham. Perseroan dan Perusahaan Anak mengelola struktur modalnya dan membuat penyesuaian-penyesuaian sehubungan dengan perubahan kondisi ekonomi dan karakteristik dari risiko usahanya. Agar dapat menjaga dan menyesuaikan struktur modalnya, Perseroan dan Perusahaan Anak akan menyesuaikan jumlah dari pembayaran dividen kepada para pemegang saham atau tingkat pengembalian modal atau menerbitkan surat saham. Tidak ada perubahan dalam tujuan, kebijakan dan proses dan sama seperti penerapan tahun-tahun sebelumnya.

Perseroan dan Perusahaan Anak memonitor struktur modalnya dengan menggunakan rasio utang terhadap modal, dimana total utang dibagi dengan total modal.

Perhitungan rasio utang terhadap modal adalah sebagai berikut:

(dalam jutaan Rupiah)

Keterangan 30 Juni 31 Desember

2021 2020 2019

Total liabilitas 3.522 1.251 785

Ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk 34.838 3.535 917

Rasio Utang terhadap Modal 0,10 0,35 0,86

9. KEJADIAN ATAU TRANSAKSI YANG TIDAK NORMAL DAN JARANG TERJADI ATAU PERUBAHAN PENTING DALAM EKONOMI YANG DAPAT MEMPENGARUHI PENDAPATAN DAN PROFITABILITAS

Sejak COVID-19 memasuki wilayah Indonesia pada Maret 2020, pemerintah mencanangkan regulasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)itu sendiri berlangsung selama empat belas hari dan di antara empat belas hari tersebut, Pemprov akan memantau dan mengevaluasi perkembangan dari keadaan kota. Pemantauan dilakukan berdasarkan kurva kasus positif COVID-19. Akibat dari penerapan regulasi tersebut, banyak perusahaan yang terdesak untuk segera mencari strategi agar keberlangsungan perusahaan tetap terwujud. Sayangnya, kasus positif COVID-19 di berbagai daerah masih mengalami peningkatan, bahkan setelah PSBB. Hal ini menyebabkan pemerintah memutuskan berkali-kali memperpanjang masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ataupun merubah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi menjadi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diperketat.

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) berdampak besar bagi banyak perusahaan, baik perusahaan swasta maupun perusahaan milik negara. Efek pertama dari pandemi ini adalah beralihnya sistem finansial perusahaan ke zero-based budgeting.

Kedua adalah adanya Pemutusan Hubungan Karyawan (PHK) besar-besaran di berbagai perusahaan. Efek ketiga adalah kekacauan produksi yang dialami berbagai perusahaan. Efek keempat adalah penurunan produktivitas perusahaan. Dampak

33

terakhir adalah runtuhnya perusahaan akibat kebangkrutan yang disebabkan ketidakmampuan perusahaan untuk bertahan di tengah pandemi.

Sektor industri yang akan terus bertahan dan berkembang di tengah pandemi Covid-19 yaitu pangan, farmasi, rumah sakit, serta Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang akan tetap terus bertahan tetap sektor pangan yang sehat dan obat-obatan sehingga perusahaan farmasi masih akan jadi tren, termasuk rumah sakit.

Perseroan bekerjasama dengan pihak pemerintah dan swasta, disamping melakukan riset mandiri terkait ramuan herbal, hasil riset tersebut telah diaplikasikan dalam bentuk konkrit berupa mesin ATTACT (Airborne nano-Trapping Technology for Anti Covid-19 Treatment) pembersih udara untuk mensterilkan udara dari virus COVID-Covid-19 yang lebih aman dan nyaman dan juga riset obat-obat herbal, produk-produk tersebut telah di pantenkan dan juga telah dipasarkan produknya untuk pemanfaatan pencegahan pandemi COVID-19.

10. KEBIJAKAN PEMERINTAH DAN INSTITUSI LAINNYA YANG BERDAMPAK LANGSUNG MAUPUN TIDAK LANGSUNG TERHADAP KEGIATAN USAHA DAN INVESTASI PERSEROAN DAN PERUSAHAAN ANAK

Kebijakan pemerintah dan institusi lainnya yang berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap kegiatan usaha Perseroan dan Perusahaan Anak Perseroan adalah sebagai berikut:

- Pemberian insentif perpajakan sebesar 300% untuk perusahaan yang melakukan riset dan pengembangan sebagaimana diatur dalam PMK153/PMK.010/2020 tentang Pemberian Pengurangan Penghasilan Bruto Atas Kegiatan Penelitian Dan Pengembangan Tertentu Di Indonesia, dimana Perseroan telah memenuhi kriteria dan persyaratan yang ditetapkan dalam PMK153/PMK.010/2020 tentang Pemberian Pengurangan Penghasilan Bruto Atas Kegiatan Penelitian Dan Pengembangan Tertentu Di Indonesia untuk memperoleh fasilitas fiskal (super tax deduction) bagi perusahaan yang aktif melaksanakan kegiatan penelitian dan pengembangan.

Hal ini selaras telah dilakukan survei oleh Badan Pusat Statistik (BPS) bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bagi perusahaan yang telah melaksanakan riset dan pengembangan untuk dapat insentif perpajakan yang didasari diterimanya surat dari Badan Pusat Statistik (BPS) atas perusahaan telah melaksanakan riset dan pengembangan disamping itu juga pendaftaran lewat aplikasi Online Single Submission (OSS) oleh pihak Perseroan agar bisa menfaatkan fasilitas perpajakan yang diberikan pemerintah.

- Kebijakan pemanfaatan limbah khususnya limbah B3 seperti FABA (Fly Ash Bottom Ash) menjadi non B3. Hal ini memerlukan teknologi penanganan dan pemanfaatan limbah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi. Program ini sejalan dengan lini bisnis Perseroan dalam penguasaan teknologi pengolahan/ pemanfaatan limbah.

- Pembatasan ekspor sumber daya alam mineral yang belum diolah sebagaimana diatur dalam UU Minerba 2009. Sejalan dengan lini bisnis Perseroan yang menguasai teknologi pengolahan sumber daya alam mineral menjadi material ekstrak yang memiliki tingkat kemurnian mencapai 99 % dan meningkatkan nilai jual hinggal 10 kali lipat dari bahan baku asalnya.

- Menyongsong Indonesia maju yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional yang memerlukan akselerasi peningkatan penguasaan teknologi dalam industri nasional. Sejalan dengan visi dan misi Perseroan dalam pelayanan teknologi dan rekayasa material untuk industri nasional berdaya saing global.

- Perpu No.1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan Untuk Penanganan Pandemi Covid-19 dan/atau Dalam Rangka Menghadapi Ancaman Yang Membahayakan Perekonomian Nasional dan/atau Stabilitas Sistem Keuangan, dimana setelah dilaksanakannya Penawaran Umum Perdana Saham, Perseroan dapat memperoleh pengurangan 3 % dari PPh Badan/korporasi.

- Faktor kebijakan Pemerintah sehubungan dengan pandemi Covid-19 terutama yang berkaitan dengan pengendalian kegiatan masyarakat yang mengakibatkan Perseroan tidak dapat menjalankan kegiatan usahanya secara optimal mengingat jasa penelitian dan pengembangan membutuhkan peralatan khusus dan dilaksanakan di laboratorium yang menunjang kegiatan penelitian dan pengembangan.

34