• Tidak ada hasil yang ditemukan

: Sejarah Bendera Merah Putih – Asal Mula Dan Maknanya

Dalam dokumen 1. sampul 4. BUKU PRAMUKA YASPI AL MISRI (Halaman 79-93)

kemudian menjadi lambang kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dengan diresmikannya merah putih sebagai bendera Negara Indonesia, maka benda ini menjadi sakral.

Negara membuat aturan khusus mengenai tata cara perlakuan bendera merah putih. Hal ini bertujuan agar bendera merah putih terjaga kehormatannya. Adapun peraturan yang dibuat negara dituangkan dalam beberapa bentuk perundang-undangan. Antara lain UUD 1945 Pasal 35, UU Nomor 24 Tahun 2009, dan Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1958.

A. Asal Mula

Sebelum keberadaan dan cara pembuatannya dilindungi oleh undang-undang negara, sejarah bendera merah putih ini dipilih menjadi lambang kesaktian Indonesia karena merupakan bagian dari kejayaan nusantara di masa lalu. Seperti yang kita ketahui, negara Indonesia terdiri atas masyarakat majemuk. Keberagaman tersebut ternyata malah menjadi pemersatu dan sumber kekayaan bangsa Indonesia.

Indonesia di zaman pra imperialisme dan kolonialisme adalah kesatuan pulau-pulau yang diperintah oleh banyak kerajaan. Beberapa diantaranya menjadi kerajaan besar yang

Materi Diklat Kepramukaan Yaspi Al Misri (Untuk Kalangan Sendiri) Page 74 kuat dan disegani di dunia internasional. Para pendahulu kita bermaksud mengambil salah satu elemen dari kebudayaan yang sudah terbukti menjayakan nama nusantara di kancah luar negeri.

Adat dan kebudayaan yang sangat kaya dimiliki Indonesia sejak zaman kerajaan.

Termasuk juga beberapa simbol kerajaan besar yang kemudian menyebar dan dijadikan lambang pusaka oleh beberapa kerajaan kecil dan keturunannya. Berikut adalah asal mula penggunaan bendera merah putih di bumi Indonesia.

1. Budaya Austronesia

Ada beberapa pendapat yang berkembang seputar asal mula penggunaan bendera merah putih sebagai lambang negara kita. Salah satunya adalah asal mula warna merah putih yang dimuliakan dalam budaya ras Austronesia.

Sumbernya adalah mitologi ras Austronesia yang menganggap langit berwrna putih sebagai ibu dan tanah tempat kita berpijak sebagai bapak. Kedua benda ini diakui sebagai pasangan yang tak dapat terpisahkan. Tanpa langit, hujan tidak akan turun menyuburkan tanaman dan member kehidupan pada makhluk hidup lain. Namun jika tidak ada tanah, maka makhluk hidup tidak memiliki tempat tinggal dan beraktivitas. Sehingga hilang pulalah seluruh sejarah yang ada di bumi.

Mitologi ras Austronesia ini berkembang di sepanjang wilayah persebaran ras tersebut. Misalkan saja Tahiti, Kepulauan Madagaskar di Afrika dan termasuk juga negara Indonesia.

2. Kerajaan di Jawa

Pendapat yang kedua mengemukakan bahwa warna bendera merah putih yang dipakai Indonesia sebagai lambang negara mengikuti lambang yang dipakai beberapa kerajaan di Jawa Timur. Kerajaan-kerajaan di wilayah tersebut merupakan kerajaan besar yang disegani dunia luar. Selain itu, kerajaan di Jawa Timur banyak yang menurunkan raja-raja pendiri keraja-rajaan di daerah lain maupun pemimpin negara Indonesia pasca kemerdekaan.

Kerajaan di Jawa Timur banyak yang menyumbangkan kekayaan budaya bagi kepentingan nasional. Keturunan-keturunannya banyak yang juga menjadi pahlawan bagi negara kita di masa penjajahan oleh bangsa asing. Misalkan saja Pangeran Diponegoro.

Diketahui dari kitab Pararaton bahwa Jayakatwang melawan kekuasan kerajaan Singosari yang pada waktu itu dipimpin oleh Raja Kertanegara sebagai raja pamungkas di Singosari. Tahun yang tertulis saat kejadian tersebut setara dengan 1222-1292 Masehi.

Penyerangan Jayakatwang dari Kerajaan Gelang-gelang ini membawa panji berwarna merah putih ketika beraksi melakukan penyerangan.

Jawa masa itu sudah cukup maju. Pewarnaan panji kerajaan berwarna merah putih sangat masuk akal. Orang-orang pada zaman dahulu memanfaatkan buah kapuk randu dan kapas katun sebagai sumber kain warna putih. Sementara warna merah didapat dari

Materi Diklat Kepramukaan Yaspi Al Misri (Untuk Kalangan Sendiri) Page 75 kain putih yang diberi pewarna alam. Pewarna alami ini didapatkan dari buah manggis, buah belimbing wuluh dan daun jati.

Setelah dipakai pada penghancuran kerajaan Singasari, kerajaan Kediri juga memakai warna tersebut untuk lambang kerajaan. Disusul oleh kerajaan Majapahit yang panjinya melebar hingga wilayah Kampuchea (Kamboja). Kebenaran ini bersumber dari kitab Negarakertagama yang dikarang oleh Mpu Prapanca sebagai penghormatan kepada Raja Hayam Wuruk dan Patihnya, Gadjah Mada yang telah membuat sejarah Kerajaan Majapahit berada di masa kejayaan (1380-1389 Masehi).

Dalam kitab tersebut, Mpu Prapanca menyebutkan warna merah putih merupakan warna yang dimuliakan oleh kerajaan Majapahit. Hal ini terbukti dari penggunaan dwi warna tersebut sebagai lambang pada kereta keluarga raja Majapahit maupun kerajaan-kerajaan kecil yang tunduk pada Majapahit.

Merah dan putih juga sudah merasuk dalam kebudayaan masyarakat Jawa sejak dahulu. Buktinya bisa anda lihat pada pembuatan jenang (bubur) merah putih yang selalu hadir saat upacara adat dan selamatan orang Jawa.

Selain digunakan pada sejarah di atas, bendera merah putih peninggalan Kyai Ageng Tarub hingga kini masih disimpan rapi di Keraton Surakarta. Kyai Ageng Tarub adalah keturunan Raden Wijaya yang kemudian menurunkan beberapa putra sebagai raja di tanah Jawa.

Pada masa pemerintahan Sultan Agung (1613-1645), beliau juga menggunakan panji berwarna merah putih sebagai perlindungan dan lambang kekuatan bala tentaranya saat menyerang negara Pati. Kejadian ini bersumber dari Babad Tanah Jawa jilid II.

3. Kerajaan Minangkabau

Selanjutnya ada pendapat yang menyetujui bendera merah putih terinspirasi dari bendera Kerajaan Minangkabau. Pendapat ini bersumber dari kitab Tembo Alam yang menyebutkan penggunaan bendera merah-putih-hitam digunakan semasa pemerintahan Adityawarman pada abad ke-14.

Warna merah merupakan perlambangan prajurit kerajaan yang pemberani. Bagian putih adalah representasi dari para ulama dan pemuka agama yang suci. Sedangkan hitam adalah warna adat Minangkabau (penghulu adat). Dalam suatu kitab tembo alam Minangkabau yang disalin pada tahun 1840 dari kitab yang lebih tua terdapat ambar bendera alam Minangkabau, berwarna Merah Putih Hitam. Bendera ini merupakan pusaka peninggalan jaman kerajaan Melayu-Minangkabau dalam abad ke 14, ketika Maharaja Adityawarman memerintah (1340-1347).

Warna Merah = warna hulubalang (yang menjalankan perintah) Warna Putih = warna agama (alim ulama)

Warna Hitam = warna adat Minangkabau 4. Tanah Batak

Materi Diklat Kepramukaan Yaspi Al Misri (Untuk Kalangan Sendiri) Page 76 Selain dari Minangkabau dan tanah Jawa, ada pula sumber yang menyebutkan bendera merah putih dipakai oleh Sisingamangaraja dalam melawan kolonialisme belanda.

Pusaka Sisingamangaraja dari keturunan pertama hingga ke-12 semuanya berupa pusaka piso gaja dompak. Panji merah putih akhirnya dipakai Sisingamangaraja XII dengan menambahkan lambang piso gaja dompak yang dirupakan sebagai pedang kembar.

5. Kerajaan Aceh

Salah satu wilayah kerajaan yang sangat sulit ditembus oleh Belanda adalah Kerajaan Aceh. Kerajaan ini memiliki tingkat kesatuan yang sangat kuat. Sampai-sampai Belanda harus mengirim Snouck Hurgronje untuk menyusup ke dalam wilayah Aceh dan mempelajari kelemahan mereka dari dalam.

Dari tanah Aceh jugalah Indonesia mendapatkan sumbangan berupa emas yang dipasang di puncak Monumen Nasional. Banyak pahlawan yang kemudian terlahir dari tanah ini, seperti Cut Nyak Dien yang merupakan pahlawan nasional wanita. Nah, para pahlawan ini menggunakan bendera warna merah putih yang ditambahi lambang matahari, pedang, bulan sabit dan ayat suci Al Qur’an sebagai lambang kebanggan.

6. Kerajaan Bone

Di kerajaan Bone, bendera merah putih disebut woromporang. Bendera ini sangat diistimewakan karena menjadi lambang kekuatan dan kekuasaan kerajaan Bone di wilayah Sulawesi Selatan.

Sehingga setelah mengingat kembali betapa istimewanya warna merah putih yang sudah mendarah daging di dalam sejarah Indonesia sejak sejarah Kerajaan Singasari sejarah Kerajaan Majapahit, dan kerajaan lain di luar Jawa, para pendahulu kita memutuskan untuk mengambil dwi warna tersebut sebagai lambang bendera negara.

Namun secara umum, masyarakat awam mengartikan warna merah sebagai lambang keberanian dan putih kesucian. Pendapat ini tidak salah, namun untuk lebih detailnya ternyata kedua warna di atas memiliki sejarah asal mula yang cukup panjang.

B. Merah Putih Dalam Abad XX

1. Bendera Merah Putih berkibar untuk pertama kali dalam abad XX sebagai lambang kemerdekaan ialah di benua Eropa. Pada tahun 1922 Perhimpunan Indonesia mengibarkan bendera Merah Putih di negeri Belanda dengan kepala banteng ditengah-tengahnya. Tujuan perhimpunan Indonesia Merdeka semboyan itu juga digunakan untuk nama majalah yang diterbitkan.

2. Pada tahun 1924 Perhimpunan Indonesia mengeluarkan buku peringatan 1908-1923 untuk memperingati hidup perkumpulan itu selama 15 tahun di Eropa. Kulit buku peringatan itu bergambar bendera Merah Putih kepala banteng.

3. Dalam tahun 1927 lahirlah di kota Bandung Partai Nasional Indonesia (PNI) yang mempunyai tujuan Indonesia Merdeka. PNI mengibarkan bendera Merah Putih kepala banteng.

Materi Diklat Kepramukaan Yaspi Al Misri (Untuk Kalangan Sendiri) Page 77 4. Pada tanggal 28 Oktober 1928 berkibarlah untuk pertama kalinya bendera merah Putih

sebagai bandera kebangsaan yaitu dalam Konggers Indonesia Muda di Jakarta. Sejak itu berkibarlah bendera kebangsaan Merah Putih di seluruh kepulauan Indonesia.

C. Sang Saka Merah Putih Di Bumi Indonesia Merdeka

1. Pada tanggal 17 Agustus 1945, Bung Karno dan Bung Hatta bertempat di Pegangsaan Timur 56 (JL.Proklamasi) Jakarta, atas nama bangsa Indonesia. Sesaat kemudian bendera kebangsaan Merah Putih dikibarkan di gedung Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Bendera Merah Putih berkibar ntuk pertama kalinya di bumi Indonesia Merdeka.

2. Pada tanggal 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang dibentuk pada tanggal 9 Agustus 1945 mengadakan sidang yang pertama dan menetapkan Undang Dasar Republik Indonesia yang kemudian dikenal sebagai Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945).

3. Dalam UUD 1945, Bab I, pasal I, ditetapkan bahwa Negara Indonesia ialah Negara kesatuan yang berbentuk Republik. Dalam UUD 1945 pasal 35 ditetapkan pula bahwa bendera Negara Indonesia ialah Sang Merah Putih. Dengan demikian itu, sejak ditetapkannya UUD 1945 , Sang Merah Putih merupakan bendera kebangsaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

4. Dengan ditetapkannya UUD 1945 dan bendera kebangsaan Sang Merah Putih, maka serantak seluruh rakyat Indonesia dan pemuda Indonesia, menegakkan, mengibarkan dan mempertahankan Sang Merah Putih di bumi Indonesia. Pertempuran-pertempuran dengan serdadu colonial Belanda yang didukung oleh tentara sekutu berkobar di seluruh Indonesia. Ribuan rakyat dan pemuda Indonesia gugur sebagai pahlawan bangsa mempertahankan kemerdekaan Sang Merah Putih. Karena pengorbanan mereka kini Sang Merah Putih tegak berkibar dibumi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka dan berlandaskan Pancasila.

5. Sang Merah Putih dikibarkan pada Hari Proklamasi tanggal 17 Agustus 45 di gedung Pegangsaan Timur 56 Jakarta disebut Bendera Pusaka. Bendera Pusaka itu selalu dikibarkan di tiang yang tingginya 17 m di depan Istana Merdeka Jakarta pada tiap perayaan peringatan Hari Prokalamasi Kemerdekaan.

6. Mulai tahun 1969 Bndera Pusaka itu tidak lagi dapat dikibarkan karena sudah tua. Sebagai gantinya dikibarkan duplikatnya yang dibuat dari sutera alam Indonesia.

7. Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, Bendera Pusaka tidak pernah jatuh ke tangan musuh, meskipun tentara colonial Belanda menduduki Ibukota Negara Republik Indonesia.

8. Mengingat betapa besar arti bendera merah putih bagi bangsa Indonesia ini, maka pemerintah merilis aturan khusus tentang tata cara memperlakukan bendera merah putih tersebut. Tujuan utamanya adalah supaya bendera merah putih tersebut tetap terjaga kehormatannya. Peraturan yang dimaksud dimuat dalam perundang-undangan. Yakni

Materi Diklat Kepramukaan Yaspi Al Misri (Untuk Kalangan Sendiri) Page 78 UUD 1945 Pasal 35, UU Nomor 24 Tahun 2009 dan yang terakhir pada Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1958.

D. Inilah 5 Fakta Bendera Merah Putih yang Harus Diketahui 1. Desain Kerajaan Majapahit

Mungkin banyak yang belum tahu bahwa dulu pada abad ke-13 bendera merah putih ini mulanya digunakan sebagai desain bendera kerajaan Majapahit.

Bendera Majapahit tersebut terdiri dari sembilan garis merah

dan putih, penyebutannya pun bukan merah putih tapi menggunakan bahasa Jawa yakni Abang Putih. Panji berwarna merah putih inilah yang menjadikan prajurit Majapahit disebut sebagai Prajurit Gula Kelapa atau Prajurit Getih-Getah.

2. Asal Bahan Kain Bendera Merah Putih

Tidak diketahui pasti darimana asal kain yang digunakan untuk membuat bendera merah putih. Ada dua keterangan berbeda mengenai hal ini. Ada yang menyebut bahwa kain yang digunakan Ibu Fatmawati untuk membuat bendera berasal dari kain seprai (untuk warna putih) dan kain tenda warung soto (untuk warna merah).

Informasi ini diperoleh dari media Historia, dimana pendapat ini berasal dari keterangan Lukas Kustaryo yang disampaikan pada majalah Intisari, Agustus 1991. Hal serupa juga disampaikan Kustaryo kepada Ibu Fatmawati, tapi hingga kini tidak diketahui kebenaran mengenai informasi tersebut, sebab Ibu Fatmawati telah meninggal dunia pada tahun 1980.

Keterangan lain berasal dari buku “Catatan Kecil Bersama Bung Karno” yang dipublikasikan pada tahun 1978. Disebutkan bahwa Ibu Fatmawati dalam buku itu menyampaikan bahwa kain bahan bendera merah putih adalah kain pemberian Hitoshi Shimizu yang merupakan perwira Jepang pada Oktober 1944. Kain ini diberikan sebagai simbolisme janji kemerdekaan yang dijanjikan Jepang kepada Indonesia. Dalam buku itu juga dikutip bahwa Ibu Fatmawati mengatakan, “Yang satu blok berwarna merah, dan blok lainnya berwarna putih. Mungkin berasal dari kantor Jawa Hokokai”.

3. Bagaimana Proses Penjahitan Bendera Merah Putih?

Kain bahan bendera merah putih tersebut selanjutnya dijahit oleh Ibu Fatmawati.

Karena tengah menjahit bendera pusaka Indonesia, maka Ibu Fatmawati menjahit kain tersebut menggunakan mesin jahit tangan, bukan menggunakan mesin jahit kaki. Dalam

Materi Diklat Kepramukaan Yaspi Al Misri (Untuk Kalangan Sendiri) Page 79 buku “Catatan Kecil Bersama Bung Karno” pula beliau mengatakan, “Sebab tidak boleh lagi mempergunakan mesin jahit kaki”.

Sukmawati Soekarnoputri, salah seorang putri Presiden Soekarno mengatakan kepada Kompas pada tahun 2011 lalu bahwa Ibu Fatmawati menjahit bendera merah putih tersebut sembari terisak. Ibu Fatmawati menangis seolah belum percaya jika Indonesia telah merdeka dan memiliki bendera kebanggaan.

Bendera berbahan katun Jepang (ada juga yang menyebutkan bahan bendera tersebut adalah kain wool dari London yang diperoleh dari seorang Jepang. Bahan ini memang pada saat itu digunakan khusus untuk membuat bendera-bendera negara di dunia karena terkenal dengan keawetannya) berukuran 276 x 200 cm. Sejak tahun 1946 sampai dengan 1968, bendera tersebut hanya dikibarkan pada setiap hari ulang tahun kemerdekaan RI. Sejak tahun 1969, bendera itu tidak pernah dikibarkan lagi dan sampai saat ini disimpan di Istana Merdeka. Bendera itu sempat sobek di dua ujungnya, ujung berwarna putih sobek sebesar 12 X 42 cm. Ujung berwarna merah sobek sebesar 15x 47 cm. Lalu ada bolong-bolong kecil karena jamur dan gigitan serangga, noda berwarna kecoklatan, hitam, dan putih. Karena terlalu lama dilipat, lipatan-lipatan itu pun sobek dan warna di sekitar lipatannya memudar.

4. Duplikat Bendera Merah Putih

Banyak yang mengira bahwa bendera merah putih yang dikibarkan setiap hari kemerdekaan RI merupakan bendera asli. Padahal bendera tersebut adalah duplikat bendera merah putih. Hal ini dikarenakan bendera merah putih yang dijahit Ibu Fatmawati sudah mulai rusak dan memudar warnanya akibat dimakan usia. Duplikat bendera merah putih mulai dikibarkan sejak 1969. Kini bendera asli tersimpan rapi dan dijaga kehormatannya sebab bendera tersebut merupakan bendera pusaka yang menjadi titik mula kemerdekaan Indonesia.

Meski berupa bendera duplikat, bahan yang digunakan pun sangat berkualitas.

Duplikat bendera merah putih tersebut dibuat dari benang sutra asli Indonesia dan memanfaatkan alat serta bahan pewarna tradisional. 16 tahun berkibar, duplikat bendera tersebut kembali diganti dan dibuatlah duplikat kedua. Bendera duplikat yang kedua mulai dikibarkan pada tahun 1985 sampai tahun 2014. Menariknya lagi, bendera yang dikibarkan pada upacara kemerdekaan tahun 2015 merupakan bendera duplikat ketiga yang sudah disiapkan sejak tahun 1195.

5. Bendera Pusaka Sempat Dipotong Menjadi Dua

Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dikumandangkan pada hari Jum’at tanggal 17 Agustus 1945, pukul 10.00 di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta.Setelah pernyataan kemerdekaan tersebut, untuk pertama kalinya secara resmi Bendera Kebangsaan Merah Putih dikibarkan oleh Latief Hendaningrat dan Suhud. S. Bendera tersebut merupakan hasil jahitan Ibu Fatmawati Soekarno dan selanjutnya bendera inilah yang disebut “Bendera Pusaka” Bendera Pusaka berkibar siang dan malam ditengah

Materi Diklat Kepramukaan Yaspi Al Misri (Untuk Kalangan Sendiri) Page 80 hujan, tembakan sampai Ibukota Republik Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta pada tahun 1946. Pada tahun 1948 Belanda melancarkan agresi militernya.Pada waktu itu Ibukota RI berada di Yogyakarta, Bapak Husein Mutahar (Bapak Paskibraka-red) ditugaskan oleh Presiden Soekarno untuk menyelematkan Bendera Pusaka.

(Penyelematan Bendera tersebut merupakan salah satu bagian dari sejarah untuk menegakan berkibarnya Sang Merah Putih di persada Ibu Pertiwi) Untuk menyelamatkan Bendera Pusaka tersebut terpaksa Bapak Husein Mutahar harus memisahkan antara bagian yang merah serta putihnya.

Akhirnya dengan bantuan Ibu Perna Dinata benang jahitan diantara Bendera tersebut berhasil dipisahkan. Selanjutnya kedua bagian tersebut masing-masing di simpan sebagai dasar pada kedua tas Bapak Husein Mutahar yang selanjutnya tas tersebut diisi dengan pakaian serta perlengkapan pribadi miliknya. Hal ihwal Bendera tersebut dipisahkan, karena pada waktu itu beliau mempunyai pemikiran bahwa setelah dipisah Bendera tersebut tidak lagi dapat dikatakan Bendera karena hanya sebatas secarik kain.Hal ini dilakukan guna menghindari penyitaan dari pihak Belanda.Tak lama setelah Presiden menyerahkan Bendera Pusaka, Beliau ditangkap dan diasingkan oleh Belanda bersama Wakil Presiden beserta staf kepresidenan lainnya ke Muntok, Bangka Sumatera.

Sekitar pertengahan bulan Juni 1948 Bapak Husein Mutahar menerima berita dari Bapak Soejono , isi pemberitahuan itu yakni adanya surat pribadi Presiden pada dirinya yang pada pokoknya Presiden memerintahkan Bapak Husein Mutahar guna menyerahkan kembali Bendera Pusaka kepada Beliau dengan perantaraan Bapak Soejono yang selanjutnya Bendera Pusaka tersebut dibawa serta diserahkan kepada Presiden ditempat pengasingan (Muntok, Bangka). Setelah mengetahui hal tersebut, dengan meminjam mesin jahit milik isteri seorang dokter, Bendera Pusaka yang terpisah menjadi dua bagian tersebut disatukan kembali persis pada posisinya semula, akan tetapi sekitar 2 cm dari ujung Bendera ada sedikit kesalahan jahit. Selanjutnya Bendera tersebut di serahkan kepada Bapak Soejono sesuai dengan isi surat perintah Presiden.

Usai konferensi Meja Bundar bendera merah putih barulah dikibarkan di Gedung Agung Yogyakarta tepatnya pada Juli 1949. Selanjutnya, pada 28 Desember 1949 bendera merah putih kembali dibawa ke Jakarta.

BAB XXVII : SUMPAH PEMUDA Sumpah pemuda adalah salah satu tonggak

utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan bangsa Indonesia. Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia.

Yang dimaksud dengan sumpah pemuda ialah adalah keputusan kongres pemuda kedua yang diselenggarakan dua hari

Materi Diklat Kepramukaan Yaspi Al Misri (Untuk Kalangan Sendiri) Page 81 27-28 oktober 1928 di Batavia (Jakarta). Keputusan ini menegaskan cita-cita akan ada tanah air Indonesia, bangsa Indonesia dan bahasa indonesia.

Keputusan ini juga diharapkan menjadi asas bagi setiap perkumpulan kebangsaan Indonesia dan agar disiarkan dalam segala surat kabar dan dibacakan di muka rapat perkumpulan-perkumpulan.

Peristiwa sejarah Soempah Pemoeda atau Sumpah Pemuda merupakan suatu pengakuan dari Pemuda-Pemudi Indonesia yang mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa.

Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 hasil rumusan dari Kerapatan Pemoeda-Pemoedi atau Kongres Pemuda II Indonesia yang hingga kini setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda.

Kongres Pemuda II dilaksanakan tiga sesi di tiga tempat berbeda oleh organisasi Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) yang beranggotakan pelajar dari seluruh wilayah Indonesia.

Kongres tersebut dihadiri oleh berbagai wakil organisasi kepemudaan yaitu Jong Java, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dsb. serta pengamat dari pemuda tiong hoa seperti Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan Hok, Oey Kay Siang dan Tjoi Djien Kwie.

Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh Indonesia. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat.

Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng). Dalam sambutannya, ketua PPPI Sugondo Djojopuspito berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Yamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.

Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.

Pada rapat penutup, di gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106, Sunario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan.

Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.

Adapun panitia Kongres Pemuda terdiri dari :

Materi Diklat Kepramukaan Yaspi Al Misri (Untuk Kalangan Sendiri) Page 82 Ketua : Soegondo Djojopoespito (PPPI)

Wakil Ketua : R.M. Djoko Marsaid (Jong Java)

Sekretaris : Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond) Bendahara : Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond)

Pembantu I : Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond) Pembantu II : R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia)

Pembantu I : Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond) Pembantu II : R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia)

Dalam dokumen 1. sampul 4. BUKU PRAMUKA YASPI AL MISRI (Halaman 79-93)