• Tidak ada hasil yang ditemukan

sekitarnya Lantai PGA tampak bersih mengkilat.

Budi dengan tanaman bonsai yang menghiasi lingkungan asri di sekitar PGA

Suasana PGA yang asri, tempat Budi bekerja

P r o f i l

Untuk mencapai kawah puncak, biasa digunakan jalur pendakian dari Cibodas, Cimacan (Bogor, Cianjur), dan Selabintana (Sukabumi), dan jalur lain yang hanya boleh digunakan oleh para pendaki gunung profesional.

Menurut Budi, lokasi-lokasi atau jalur-jalur pendakian menuju puncak Gunung Gede yang paling berbahaya adalah jalan menuju air terjun Cibeureum, dan Kawah Wadon. ”Jalan setapak menuju air terjun Cibeureum berada di tebing, sehingga para pejalan bisa terpelesat karena tanahnya berlumut dan basah akibat teraliri air

0

panas bersuhu kira-kira 60 C. Jalan menuju Kawah Wadon, terutama pada posisi yang terjal dengan batuan yang mudah longsor, tercium bau gas solfatara yang tajam dan suhu dapat

o

mencapai 160 C”, katanya menjelaskan.

Pos PGA Gede berada di kaki gunung sebelah utara, terletak pada kawasan hutan pinus di Desa Ciloto, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur. Cara pencapaian lokasi PGA Gede cukup mudah. Dari arah Bandung kami menuju Ciloto Puncak, dan berhenti di persimpangan jalan menuju PGA Gede, yaitu di Desa Ciloto. Lokasi desa ini terletak di jalan satu arah dari Cianjur menuju Jakarta. Dari persimpangan itu melalui jalan kecil berjarak 1 km kami tiba di Pos PGA Gede. Perjalanan dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda empat. Lama perjalanan baik dari Bandung maupun dari Jakarta ke PGA itu kurang lebih 3 jam.

Pos Pengamatan Gunung Api Gede

54 W a r t a G e o l o g i . M a r e t 2 0 0 7 Profil 55

PGA tempat Budi bekerja memiliki ukuran luas 20 m x 12 m. Di tangan Budi dan kedua temannya, PGA itu terlihat asri. Di sekeliling PGA tampak tanaman bonsai menghiasi lingkungan asri di sekitarnya. Selain itu kebersihan ruangan benar- benar diperhatikan.

Pos itu sering dikunjungi. Para pengunjung Pos terdiri dari geolog dalam maupun luar negeri dan masyarakat sekitar. Persentase masyarakat yang berkunjung ke PGA terdiri dari 40% masyarakat umum, dan 60% golongan pelajar SMP dan SMA yang melakukan study tour. Sementara kunjungan dari instansi terkait kurang karena memang status Gunung Gede adalah aktif normal.

Berkenalan lebih jauh dengan Budi

Budi bernama lengkap Budiman Kurniawan. Laki- laki kelahiran Bogor, 45 tahun yang lalu itu diterima bekerja Direktorat Vulkanologi, Departemen Pertambangan pada September 1984. Setahun kemudian ia ditempatkan sebagai pengamat di PGA Gunung Gede ini.

”Saya memang hobby naik gunung. Ketika mendengar ada pembuatan PGA di Gunung Gede, saya mencoba melamar. Kebetulan Pak Katili mengeluarkan aturan bahwa pengamat yang dipilih diprioritaskan dari putra daerah,” ujarnya.

Dapat dikatakan hobby mendaki itulah mengantarkan Budi menjadi salah seorang petugas PGA di lingkungan PVG, DESDM. Kini di Pos PGA Gunung Gede ini Budi bekerja dengan dua pengamat lainnya, yaitu Rohman dan Warja. Selain naik gunung, Budi memiliki hobby membaca. Di tempat bekerjanya itu tampak koleksi majalah tempo dan koran-koran. Malam- malam saat menjaga pos diisi dengan nonton TV dan ibadah. Sekali-kali Budi bermain game di komputer. Menurut Budi, perasaan yang harus dilawan oleh para petugas PGA adalah rasa

o o

Gunung Gede, secara geografis terletak pada koordinat 6 47' LS dan 106 59' BT. Terletak pada ketinggian 2958 m di atas permukaan laut rata-rata (dpl) atau sekitar 1850 m dari kota Pacet, Cianjur.

PGA tempat Budi bekerja

memiliki ukuran 20 m x 12

m dan merupakan PGA

terbesar di Indonesia. Di

tangan Budi dan ketiga

temannya, PGA itu terlihat

asri.

Di sekeliling PGA tampak

tanaman bonsai menghiasi

lingkungan asri di

sekitarnya. Lantai PGA

tampak bersih mengkilat.

Budi dengan tanaman bonsai yang menghiasi lingkungan asri di sekitar PGA

Suasana PGA yang asri, tempat Budi bekerja

P r o f i l

jenuh. ”Ya, karena memang lokasi PGA terasing dari dunia luar. Di sini pekerjaan kita sebagai pengamat gunung tetapi pekerjaan-pekerjaan lainnya seperti cleaning service juga kita kerjakan.”

Menurut Budi, selama ini perhatian dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi terhadap peningkatan kinerja pengamat cukup baik. Hal ini terbukti antara lain dengan diadakan kursus, diklat, dan pengenalan tugas dan kerja peralatan kepada para patugas PGA.

Budi menikah dengan Elis Aliyah Derajat tahun 1993 dan kini dikaruniai 3 anak. Muhammad Rizal Arsyad adalah anak sulungnya. Ia berumur 13 tahun dan bersekolah di kelas 1 SMP. Anak yang kedua bernama Muhammad Mughnidial. Ia duduk di bangku SD kelas 2. Anak ketiganya seorang anak perempuan bernama Salsabila dan duduk di kelas 1 SD. Istri dan anak Budi tinggal di Cianjur.

Menurut Budi, bekerja di PGA cukup berat. Setiap

hari ia harus piket dan jaga malam bergiliran

setiap 3 hari sekali. Meninggalkan keluarga di Dari pengalaman di atas, Budi berpendapat rumah sehingga belum tentu dapat berkumpul bahwa PGA perlu dilengkapi dengan alat atau pada hari raya (lebaran) merupakan salah satu sarana untuk menjelaskan kepada masyarakat (sosialisasi-red) tentang perilaku gunungapi yang risiko yang harus dihadapi Budi sebagai petugas

menjadi obyek pengamatannya, berupa brosur, PGA. Namun Budi mengaku anak-anaknya

leaflet atau majalah. Akan lebih baik lagi apabila senang ayahnya bekerja di Pos PGA. “Mereka

sarana sosialisasi tersebut berupa film. bangga saya bekerja di sini”, ujarnya.

Budi merupakan petugas PGA yang berprestasi. Gunung Meletus

Di antara prestasinya adalah: Penerima Satya Saat mengetahui Gunung Merapi meletus tahun

Lencana 20 tahun masa kerja dan Bintang Jasa lalu, Budi mengaku bangga terhadap kerja para

Karyasetia dari Presiden (pada waktu itu: rekan-rekannya di Yogyakarta. ”Kerugian dan Abdurahman Wahid), dan Pengamat Teladan korban dapat diminimalkan”, ujarnya.

Tingkat Nasional, 1996. Budi pun pernah muncul Mengenai Mbah Maridjan, Budi tidak menilai dalam berbagai surat kabar, antara lain: Kompas, negatif terhadap tokoh di Gunung Merapi

Pikiran Rakyat, Bandung Pos (sekarang sudah Yogyakarta itu. ”Saya lebih menilai peran

Sinar Harapan Suara wartawan (media cetak dan film) yang justru tidak terbit lagi), (sekarang

Pembaruan) dan Pos Kota. Beliau dan aktivitasnya dapat membahayakan masyarakat dengan pemberitaan-pemberitaannya (apabila kurang pun pernah diliput oleh stasiun TV, antara lain:

chek and recheck-red).” TPI, RCTI dan TVRI, terutama pada waktu krisis