• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sektor Industri

Dalam dokumen BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang (Halaman 25-33)

2.3 Kinerja Pelayanan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumatera Barat

2.3.1 Sektor Industri

Sektor industri pengolahan merupakan sektor strategis, karena disamping diharapkan mampu menyerap tenaga kerja sangat besar juga memiliki keterkaitan kedepan dan keterkaitan kebelakang. Berdasarkan hasil penghitungan tahun 2015 total nilai PDRB sektor industri pengolahan atas dasar harga berlaku sebesar Rp. 18.321.465,53 juta, atau setara dengan 10,25 persen dari total nilai PDRB Sumatera Barat. Berikut gambaran sumbangan sektor industri pengolahan terhadap PDRB dalam waktu 6 (enam) tahun terakhir.

Tabel 2.3.2

Produk Domestik Regional Bruto Atas Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah) Tahun 2010-2015

No. Sub Lapangan Usaha 2010 2011 2012 2013 2014 2015

1 Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan.

27,278 30,542 32,887 36,256 41,219 44,412 2 Pertambangan dan Penggalian 4,782 5,292 5,838 6,757 8,049 8,831 3 Industri Pengolahan 12,277 13,903 15,149 16,186 17,424 18,321 4 Pengadaan Listrik dan Gas 103 100 96 92 116 153 5 Pengadaan Air 113 118 126 130 140 161 6 Konstruksi 8,279 9,540 11,000 12,884 15,015 16,893 7 Perdagangan Besar dan eceran, dan

Reparasi Mobil dan Sepeda Motor

15,895 17,862 19,861 21,697 23,742 26,248 8 Transportasi dan Pergudangan 10,938 12,606 13,902 16,493 19,422 21,550 9 Penyediaan Akomodasi dan Makan

Minum 1,069 1,219 1,376 1,571 1,852 2,190 10 Informasi dan Komunikasi 5,763 6,409 7,312 7,731 8,451 8,571 11 Jasa Keuangan dan Asuransi 3,034 3,492 4,150 4,633 5,119 5,584 12 Real Estate 2,153 2,346 2,527 2,837 3,244 3,603 13 Jasa Perusahaan 459 501 556 627 692 774 14 Administrasi Pemerintahan,

Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 6,637 7,558 8,393 9,245 9,703 9,705 15 Jasa Pendidikan 3,366 3,939 4,549 5,418 5,933 6,626 16 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 1,258 1,456 1,735 1,969 2,110 2,257 17 Jasa Lainnya 1,607 1,792 1,979 2,373 2,665 2,932 105,017 118,674 131,436 146,900 164,899 178,810 Produk Domestik Regional Bruto

Sumber : BPS Sumatera Barat, data diolah

Dari tabel diatas dapat diketahui, bahwa dari sisi produksi sektor industri pengolahan mengalami peningkatan, namun diiringi dengan peningkatan produksi beberapa sektor strategis lainnya, sehingga kontribusi terhadap pereknonomian Sumatera Barat dalam

5 (lima) tahun terakhir mengalami penurunan. Lebih lanjut tentang gambaran kontribusi sektor industri pengolahan terhadap perekonomian Sumatera Barat dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2.3.3

Kontribusi Sektor Industri Pengolahan Terhadap PDRB Provinsi Sumatera Barat 2010-2015

No. Kategori Uraian 2010 2011 2012 2013 2014 2015

1 A Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan. 25.97 25.74 25.02 24.67 25.04 24.84 2 B Pertambangan dan Penggalian 4.55 4.46 4.44 4.60 4.86 4.94 3 C Industri Pengolahan 11.69 11.71 11.53 11.02 10.46 10.25 4 D Pengadaan Listrik dan

Gas

0.10 0.08 0.07 0.06 0.07 0.08 5 E Pengadaan Air 0.11 0.10 0.10 0.09 0.08 0.09 6 F Konstruksi 7.88 8.04 8.37 8.77 8.99 9.45

7 G Perdagangan Besar

dan eceran, dan Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 15.14 15.05 15.11 14.77 14.29 14.68 8 H Transportasi dan Pergudangan 10.42 10.62 10.58 11.22 11.71 12.05 9 I Penyediaan Akomodasi

dan Makan Minum

1.02 1.03 1.05 1.07 1.10 1.22

10 J Informasi dan

Komunikasi

5.49 5.40 5.56 5.26 5.20 4.79

11 K Jasa Keuangan dan

Asuransi 2.89 2.94 3.16 3.15 3.10 3.12 12 L Real Estate 2.05 1.98 1.92 1.93 1.95 2.01 13 M, N Jasa Perusahaan 0.44 0.42 0.42 0.43 0.42 0.43 14 O Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib

6.32 6.37 6.39 6.29 6.10 5.43

15 P Jasa Pendidikan 3.21 3.32 3.46 3.69 3.69 3.71

16 Q Jasa Kesehatan dan

Kegiatan Sosial

1.20 1.23 1.32 1.34 1.32 1.26 17 R, S, T, U Jasa Lainnya 1.53 1.51 1.51 1.62 1.62 1.64 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 Produk Domestik Regional Bruto

Sumber : BPS Sumbar

Dari sisi pertumbuhan sektor ini pada tahun 2015 tumbuh sebesar 1,84 persen, melambat dibandingkan tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 5,40 persen. Pertumbuhan sektor industri pengolahan Sumatera Barat pada periode 2010-2015 menunjukkan tren yang terus menurun, dengan tingkat pertumbuhan dibawah tingkat pertumbuhan sektor industri pengolahan nasional (2015), sedangkan periode 2013-2014 berada diatas pertumbuhan industri pengolahan nasional. Lebih jelas dapat dilihat pada grafik berikut.

Grafik 2.3.1

Pertumbuhan Industri Pengolahan Sumatera Barat Dibandingkan Industri Pengolahan Nasional (%)

2010 2011 2012 2013 2014 2015 Pertumbuhan sektor industri Sumatera Barat 2.18 4.74 6.46 5.14 5.40 1.84 Pertumbuhan sektor industri Nasional 3.79 6.26 5.62 4.49 4.63 4.25 0 1 2 3 4 5 6 7

Sumber : BPS Pusdatin, data diolah

Berdasarakan grafik diatas, dapat diketahui bahwa terjadi perlambatan pertumbuhan sektor industri pengolahan di Sumatera Barat. Terjadinya pelambatan kinerja sektor industri pengolahan disebabkan berkurangnya aktivitas produksi IKM selama tahun 2015 karena tingginya daya saing produk-produk sejenis yang berasal dari daerah lain. Dalam hal ini Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan terus berupaya meningkatkan pertumbuhan sektor industri pengolahan dengan terus meningkatkan daya saing industri pengolahan melalui beberapa pendekatan, antara lain melalui pendekatan pengembangan sentra-sentra industri potensial; pendekatan klaster; dan pengembangan kompetensi inti daerah.

Sementara itu, jumlah industri di Sumatera Barat dalam 6 (enam) tahun terakhir mengalami pertumbuhan negatif dengan rata-rata pertumbuhan sebesar minus 6 persen. Dalam kurun waktu 2010-2015 tersebut, tercatat jumlah industri pada tahun 2010 sebanyak 35.860 industri, tahun 2011 menjadi 34.397 industri, tahun 2012 menjadi 31.637 industri, tahun 2013 menjadi 32.218 industri dan tahun 2014 menjadi 24.841 industri. Selengkapnya terkait jumlah industri dan pertumbuhannya tertera seperti dalam tabel dan gambar berikut.

Tabel 2.3.4

Perkembangan IKM Sumatera Barat Tahun 2010-2015

NO. Tahun Unit Usaha Tenaga Kerja (orang) Nilai Investasi (Rp.000) Nilai Produksi (Rp.) 1 2010 35,860 131,243 1,157,768,426 3,500,925,441 2 2011 34,397 125,891 1,872,445,748 9,998,248,283 3 2012 31,637 120,138 904,371,430 4,265,336,727 4 2013 32,218 128,820 990,826,162 5,644,321,813 5 2014 24,841 103,912 754,794,431 5,812,078,078 6 2015** 24,872 104,012 766,569,224 5,916,927,900

Rentang waktu 6 (enam) tahun tersebut (2010-2015) di Provinsi Sumatera Barat telah dikembangkan industri unggulan berdasarkan Perpres No. 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional. Industri unggulan yang dikembangkan adalah :

1. Industri Pengolahan Makanan Ringan

2. Industri Hasil Laut

Industri pengolahan hasil laut khususnya ikan merupakan industri yang sangat

3. Industri Pengolahan Kakao

4. Industri Kulit dan Alas Kaki

5. Industri Tekstil dan Produk Tekstil

6. Industri Pengolahan Gambir

7. Industri Minyak Atsiri

8. Industri Maritim

9. Industri Semen

10. Industri Alsintan

Dalam pengembangan dan pembangunan sektor industri unggulan pendekatan yang digunakan antara lain melalui :

1. Pengembangan Sentra Industri

2. Pengembangan Klaster Industri

Pengembangan Sentra Industri Unggulan

Sentra Industri Kecil dan Industri Menengah (Sentra IKM) adalah lokasi pemusatan kegiatan industri kecil dan industri menengah yang menghasilkan produk sejenis, menggunakan bahan baku sejenis dan atau mengerjakan proses produksi yang sama, dilengkapi sarana dan prasarana penunjang yang dirancang berbasis pada pengembangan potensi sumber daya daerah, serta dikelola oleh suatu pengurus profesional.

Pengembangan Sentra Industri Kecil dan Industri Menengah merupakan amanah di dalam Undang-undang No. 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian, dimana pasal 14 menyebutkan peran Pemerintah Pusat dan/atau Pemerintah Daerah melakukan percepatan penyebaran dan pemerataan pembangunan industri ke seluruh wilayah negara Kesatuan Republik Indonesia melalui perwilayahan industri. Perwilayahan industri dimaksud dilaksanakan melalui pengembangan Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri, pengembangan Kawasan Peruntukan Industri, pembangunan Kawasan Industri dan pengembangan Sentra Industri Kecil dan Industri Menengah. Disamping itu dalam Pasal 74 mengamanahkan peningkatan kemampuan sentra dalam rangka penguatan kapasitas kelembagaan industri kecil dan menengah. Pengembangan Sentra IKM dilakukan dengan tujuan untuk :

a. Mempercepat persebaran dan pemerataan IKM;

b. Mendorong tumbuhnya IKM modern;

c. Meningkatkan daya saing IKM;

d. Meningkatkan upaya pembangunan IKM yang berwawasan lingkungan;

e. Meningkatkan jaringan bisnis/kerjasama; dan

f. Menyediakan sarana dan prasarana terpadu bagi IKM.

d. Strategi Pengembangan.

Pada saat ini Sentra IKM umumnya tumbuh secara informal dengan berbagai keterbatasannya dan belum dilegal formalkan, masih terbatas sentuhan dan campur tangan langsung pemerintah sehingga sangat sulit untuk berkembang. Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah diharapkan melakukan pembangunan dan pemberdayaan IKM untuk mewujudkan IKM yang berdaya saing, berperan signifikan dalam penguatan struktur industri nasional, ikut berperan dalam pengentasan kemiskinan dan perluasan kesempatan kerja,

Di Sumatera Barat, berdasarkan data yang terhimpun dari kabupaten/kota sejak tahun 2013 s.d 2015 terdapat sebanyak 156 sentra industri unggulan pada tahun 2013, 154 sentra industri unggulan pada tahun 2014, dan tahun 2015 sebanyak 157 sentra dengan sebaran sebagai mana pada tabel berikut.

Tabel 2.3.5

Data Sentra Industri Unggulan Sumatera Barat

Jumlah

Sentra Unit UsahaJumlah Jumlah Sentra Unit UsahaJumlah Jumlah Sentra Unit UsahaJumlah 1 Industri Gambir Kab. Pesisir Selatan 2 21 2 21 2 21 Kab. Lima Puluh Kota 2 20 2 20 2 20 Kab. Pasaman 2 75 2 25 2 25 2 Industri Maritim Kab. Pasaman Barat 2 12 3 29 3 29 Kab. Pesisir Selatan 1 15 1 15 1 15 Kota Padang - - 1 6 1 6 3 Industri Semen Kab. Sijunjung 1 6 1 8 1 8 Kota Sawahlunto 1 5 1 5 1 5 Kab. Solok 1 7 1 8 1 8 Kab. Pasaman 1 8 1 4 1 4 4 Industri Minyak Atsiri Kab. Kep. Mentawai 4 51 1 8 1 8 Kab. Pasaman 11 460 - - - - Kab. Pasaman Barat 4 93 4 79 4 79 5 Industri Kulit dan Alas Kaki Kota Padang Panjang 2 16 2 67 3 75 Kota Padang 2 11 2 11 2 11 Kota Bukittinggi 2 26 2 15 2 15 Kab. Padang Pariaman 1 8 2 15 2 15 6 Industri Hasil Laut Kab. Pasaman Barat 3 105 3 106 3 106 Kota Padang 1 15 1 22 2 28 Kab. Kep. Mentawai 2 16 2 16 2 16 7 Industri Kakao Kab. Pasaman 6 872 6 872 6 872 8 Industri Makanan Ringan Kab. Agam 2 33 - - - - Kab. Lima Puluh Kota 2 21 2 21 2 21 Kab. Padang Pariaman 2 11 2 11 2 11 Kab. Pasaman Barat 4 130 5 141 5 141 Kota Bukittinggi 1 16 1 16 1 16 Kota Padang Panjang 1 8 2 22 2 22 Kota Pariaman 1 12 4 50 4 50 Kota Payakumbuh 2 11 3 30 3 30 Kota Sawahlunto 2 210 2 158 2 158 Kab. Pasaman 1 17 1 26 1 26 Kab. Pesisir Selatan 3 38 3 38 3 38 Kab. Sijunjung 2 26 2 26 2 26 Kab. Tanah Datar 8 179 8 179 8 179 Kab. Dharmasraya - - 4 28 4 28 9 Industri Tekstil Kab. Agam 1 8 2 28 2 28 Kab. Lima Puluh Kota 4 27 4 27 4 27 Kab. Padang Pariaman 6 107 6 112 6 112 Kab. Pasaman Barat 3 66 3 31 3 31 Kab. Solok 3 20 3 20 3 20 Kota Bukittinggi 2 57 3 102 3 102 Kota Padang 5 72 2 21 2 21 Kota Padang Panjang 8 78 9 83 9 83 Kota Pariaman 17 160 17 161 17 161 Kota Payakumbuh 1 7 1 11 1 15 Kota Sawahlunto 2 12 1 5 1 5 Kab. Pasaman 11 109 8 80 8 80 Kab. Pesisir Selatan 2 11 2 21 2 21 Kab. Solok Selatan 1 8 1 8 1 8 Kab. Tanah Datar 3 452 3 452 3 452 Kota Solok - - 1 7 1 7 Kab. Sijunjung - - 2 11 3 18 10 Industri Alsintan Kab. Padang Pariaman 1 3 1 3 1 3 Kab. Dharmasraya 1 3 1 26 1 26 Kab. Pasaman Barat 1 23 1 9 1 9 Kota Padang 1 16 1 10 1 10 Kota Bukittinggi 1 5 - - - - Kota Payakumbuh - - 1 4 1 4 Kota Padang Panjang - - 2 16 2 16 156 3,798 154 3,346 157 3,371 Jumlah

No. Industri Unggulan Kab/Kota

Tahun 2013 Tahun 2014 Tahun 2015

Guna meningkatkan daya saing IKM dalam sentra sebagaimana tujuan terbentuknya sentra, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumatera Barat sesuai dengan tupoksinya telah melakukan pembinaan terhadap sentra yang ada baik melalui pembinaan langsung maupun melalui Tenaga Penyuluh Lapangan (TPL) yang telah dibentuk di beberapa kab/kota. Bentuk pembinaan yang diberikan antara lain :

- Pengembangan kompetensi SDM industri kecil dan menengah berupa pelatihan dan

peningkatan keterampilan.

- Fasilitasi Pemasaran

- Fasilitasi sertifikasi produk

- Pengembangan teknik dan teknologi industri dalam bentuk penerapan

Sampai pada tahun 2015, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumatera Barat telah membina sebanyak 5 jenis industri unggulan dengan jumlah sentra sebanyak 17 sentra, sebagaimana terilustrasi pada tabel berikut.

Tabel 2.3.6

Sentra Industri Unggulan Sumatera Barat yang Telah dibina Melalui Dinas Perindag Prov. Sumbar

No. Industri Unggulan Nama Sentra Kab/Kota PembinaanTahun Pembinaan yang telah diberikan

1 Industri Minyak Atsiri Kota Solok 2012 Kota Sawahlunto

Kab. Pasaman Barat

2 Industri Kulit dan Alas Kaki Sentra Industri Kulit Kota Padang Panjang 2011-2015 Pendirian workshop dan pelatihan

3 Industri Hasil Laut Sentra Pengolahan Ikan Laut Kab. Agam 2012 Bimbingan Teknis Kab. Padang Pariaman

Sentra Pengolahan Ikan Teri Kab. Pesisir Selatan 2013 Bimbingan Teknis Kab. Pasaman Barat

4 Industri Makanan Ringan Kab. Agam 2013-2015 Kab. Lima Puluh Kota

Sentra Industri Makanan Ringan (Arai Pinang)

Kota Pariaman 2013 Kampung Rendang Kota Payakumbuh 2012 Sentra Kerupuk Ubi Kubang Kota Sawahlunto 2013 5 Industri Tekstil Sentra Tenun Kubang Kab. Lima Puluh Kota 2012-2015

Sentra Tenun Halaban Kab. Lima Puluh Kota 2012-2013 Sentra Tenun Ampalu Kab. Lima Puluh Kota 2013 Sentra Tenun Lunto Timur Kota Sawahlunto 2012 Sentra Tenun Lunto Barat Kota Sawahlunto 2013 Sentra Tenun Pandai Sikek Kab. Tanah Datar 2012 Sentra Tenun Lintau Buo Kab. Tanah Datar 2013-2015 Sentra Tenun Kota Payakumbuh Kota Payakumbuh 2013 Sentra Tenun Sinyamu Kab. Sijunjung 2014-2015

Sentra Industri Minyak Atsiri Bimbingan teknis dan pemberian bantuan alat

Sentra Industri Makanan Berbasis Umbi-umbian

Pelatihan teknis, bantuan kemasan dan fasilitasi sertifikasi halal

Pelatihan desain dan lomba desain

Sumber : Bidang Industri Agro dan Bidang Industri Non Agro Dinas Perindag Sumbar

Untuk pengembangan sentra kedepannya, diharapkan kerjasama pemerintah kab/kota agar segera melagal formalkan sentra-sentra yang telah ada dalam bentuk kelembagaan. Sehingga pemerintah baik pusat maupun provinsi bisa mengembangkan sentra dengan lebih terarah.

Pengembangan Klaster Industri

Sebagaimana tertuang pada lampiran Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 28 tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional, dijelaskan pengertian klaster industri yaitu merupakan sekelompok industri inti yang terkonsentrasi secara regional maupun global yang saling berhubungan atau berinteraksi sosial secara dinamis, baik dengan industri terkait, industri pendukung maupun jasa penunjang, infrastruktur ekonomi dan lembaga terkait dalam meningkatkan efisiensi, menciptakan aset secara kolektif dan mendorong terciptanya inovasi sehingga tercipta keunggulan kompetitif. Klaster mempunyai 2 (dua) elemen kunci yaitu (1) Perusahaan dalam klaster harus saling berhubungan, dan (2) Berlokasi di suatu tempat yang saling berdekatan, yang mudah dikenali sebagai suatu kawasan industri.

Pembentukan klaster membantu industri kecil untuk meningkatkan daya saing. Karena dengan adanya aglomerasi perusahaan-perusahaan sejenis yang mempunyai kesamaan maupun keterkaitan aktivitas, sehingga akan membatasi eksternalitas ekonomi yang dihasilkan dan akan mengurangi/menurunkan biaya produksi perusahaan yang tergabung dalam klaster. Keuntungan yang dihasilkan dari pembentukkan klaster antara lain peluang penyerapan tenaga kerja yang lebih besar, kemudahan dalam modal, akses kepada supplier, dan input pelayanan khusus serta terjadinya transfer informasi dan ilmu pengetahuan. Disamping itu, Pendekatan klaster dipilih mengingat sistem ini telah berhasil diterapkan dalam rangka pengembangan industri di Jepang yang mencakup seluruh industri baik dalam skala besar, kecil maupun menengah. Dalam pelaksanaannya pendekatan klaster untuk IKM dilakukan dengan melibatkan seluruh perusahaan yang berada dalam klaster tersebut dan sekaligus pihak luar dan stakeholder yang terkait.

Di Sumatera Barat, urgensi kebijakan klaster ada pada dua tataran yaitu pemberdayaan IKM dan perekonomian regional. Dua tataran ini harus dapat diukur kontribusinya sehingga kinerja sebuah klaster industri dapat disimpulkan baik atau tidak. Saat ini, melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumatera Barat, pembentukan klaster telah dijalankan dengan baik. Sampai tahun 2015 telah dikembangkan sebanyak 5 klaster industri. Bentuk kegiatan yang telah dilakukan antara lain:

1. Melakukan pembinaan pada IKM champion dan IKM pendukung untuk dapat

meningkatkan kerjasama disepanjang rantai nilai sehingga tercipta iklim usaha yang baik;

2. Melaksanakan kegiatan pelatihan untuk meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan

IKM sehingga sesuai standar;

3. Meningkatkan pengetahuan IKM dalam penguasaan teknologi melalui pembentukan

klaster industry alsintan.

Adapun klaster yang dikembangkan pada tahun 2015 adalah klaster industri alsintan (18 IKM), klaster industri makanan ringan berbasis umbi-umbian (15 IKM) dan klaster industri tenun (41 IKM). Secara total klaster dan jumlah IKM yang dikembangkan dalam klaster sampai dengan tahun 2015 dapat diilustrasikan pada tabel berikut.

Tabel 2.3.7

Klaster yang dikembangkan di Sumatera Barat

No. Nama Klaster Lokasi Champion IKA dalam

Klaster 1. Klaster Semen Kota Padang 1 Champion : PT. Semen

Padang

229 IKM 2. Klaster Makanan

Berbasis Umbi-umbian

Kota Padang, Kota Bukittinggi, Kota Pariaman, Kota Payakumbuh, Kota Solok, Kabupaten Agam, Kabupaten Tanah Datar.

2 champion : IKM Keripik Sanjai Balado Ummi Aufa Hakim (Kota Bukittinggi) dan IKM Keripik Balado Sutan Pangeran (Kota Padang).

15 IKM

3. Klaster Tenun Kab. Lima Puluh Kota, Kab. Tanah Datar, Kota Padang, Kota

Sawahlunto, Kab. Sijunjung

4 Champion : Tenun Pandai Sikek Art untuk Daerah Pandai Sikek, Tenun Lansek Manih untuk daerah Sijunjung, Tenun Puti Suriau untuk daerah Kab. Lima Puluh Kota dan Tenun INJ Songket untuk daerah Sawahlunto.

41 IKM

4. Klaster Alsintan Kota Payakumbuh, Kab. Padang Pariaman

2 Champion : Bengkel Citra Dragon (Kab. Padang Pariaman) dan Bengkel Cherry Sarana Agro (Kota Payakumbuh)

18 IKM

5. Klaster Fashion Kota Bukittinggi 1 Champion : Ambun Suri 10 IKM

Total 313 IKM

Sumber : Bidang Industri Dinas Perindag Prov. Sumbar

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa melalui 10 IKM champion telah dapat berkolaborasi sebanyak 313 IKM lainnya didalam klaster tersebut. Namun demikian, kolaborasi yang terbentuk belum seutuhnya dapat saling membantu dan menguatkan sehingga pembentukan klaster belum memberikan dampak yang maksimal. Secara garis besar kondisi klaster di Sumatera Barat saat ini adalah:

1. Sebagaian besar IKM dalam klaster tidak memiliki keterkaitan internal satu sama

lainnya sehingga upaya “membangun kepercayaan” (trust building) sulit dilakukan;

2. Rendahnya keterkaitan dengan industi dan institusi terkait merupakan kendala yang

lumrah ditemui sehingga penguatan klaster sulit dilakukan;

3. Sebagian besar klaster memiliki struktur sosial yang mudah bercerai berai dan masih

berkutat pada strategi untuk mempertahankan hidup;

4. Kebanyakan IKM-IKM dalam klaster merupakan usaha-usaha mikro yang memiliki

ketergantungan kuat kepada para pengumpul lokal sehingga seringkali menghilangkan

jiwa kewirausahaan;

5. Produk-produknya ditujukan untuk pasar-pasar yang tidak terlalu menuntut teknologi

Dalam dokumen BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang (Halaman 25-33)