Suatu Tinjauan terhadap Data
5. Mekanisme Produksi Konten oleh Media: Logika Kerja Media
5.2. Kekuasaan dan Media
5.2.1. Sensor dan Intervensi dalam Media
Memiliki kekuasaan untuk dapat terlibat di media merupakan suatu keistimewaan, tidak hanya karena dapat mengetahui informasi, tetapi juga mencetak informasi tersebut sebelum dipublikasikan. Ketika hal ini berjalan, intervensi dalam kerja media dan konstruksi informasi juga terjadi. Proses konstruksi berita hampir selalu terjadi, hanya tekniknya saja yang sedikit berbeda. Contohnya, Dandhy Laksono, seorang mantan jurnalis yang saat ini bekerja sebagai pembuat film, pernah mengalami intervensi ini secara langsung dan tidak langsung sehingga dia harus bertarung untuk mempertahankan kebebasannya.29 Meskipun pada akhirnya dia harus keluar dari perusahaan, sebagai salah satu anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Dandhy masih terlibat dalam organisasi untuk memperbaiki kerja wartawan. Intervensi pemilik atau eksekutif media dan pengaruh mereka terhadap konten memang telah banyak ditengarai sudah terjadi. Tetapi intervensi ini menjadi lebih parah di industri media siar khususnya di televisi yang notabene menggunakan domain publik. Menurut data tahun 2012, setidaknya 91,7% masyarakat Indonesia di atas umur 10 tahun menonton televisi.30 Sebagai media yang paling banyak dikonsumsi, televisi memiliki tanggung jawab lebih besar kepada publik, tapi pada saat yang bersamaan juga merupakan media yang paling menguntungkan. Di sini timbul konflik: media harus beroperasi secara bertanggung jawab, tetapi di sisi lain mereka merupakan entitas ekonomi yang mengedepankan profit.
Seringkali intervensi ini tidak langsung datang dari pemiliknya. Namun demikian, ada sebuah sistem yang memagari kerja media yang pada saat bersamaan mengekspresikan kepentingan pemilik dalam cara-cara yang tidak kasat mata. Lebih lanjut, intervensi ini seringkali berada di level manajemen yang pada akhirnya mempengaruhi para editor. Cara-cara intervensi dapat termanifestasi melalui dekonstruksi cerita dan publikasi (menambahkan atau mengurangi fakta) berdasarkan permintaan. Seringkali permintaan semacam ini diikuti oleh pembayaran uang yang besar dari si pemohon. Editor kemudian menyampaikan hal ini kepada jurnalis/reporter/semua staff di meja editorial untuk ditindaklanjuti. Di beberapa media, wartawan memiliki kekuasaan untuk menolak permintaan tertentu untuk merekonstruksi liputan mereka. Wartawan dapat mengkomunikasikan keberatan mereka untuk dan tidak melaksanakan permintaan tersebut dalam rapat redaksi yang dilakukan di media. Namun, proses diskusi redaksi yang terbuka ini bukan merupakan praktik yang umum terjadi di media pada zaman sekarang ini. Seorang responden kami dari televisi swasta nasional menyatakan bahwa di perusahaannya, permintaan untuk memasukkan informasi tertentu (biasanya bukan untuk konsumsi publik) tidak pernah tertera di atas kertas, tetapi mereka tetap harus memenuhi permintaan tersebut. Mereka menerima perintah atau tugas dari editor dan harus menjalankan permintaan itu. Permintaan ini juga tidak pernah diterima secara langsung oleh wartawan lapangan karena mereka memiliki otoritas yang terbatas ketika menentukan berita mana yang layak atau tidak layak tayang.
28 Silakan lihat bab 4 dari laporan ini.
29 Kasus Dandhy melawan dua pemilik media disidangkan di Mahkamah Konstitusi tahun 2012. Testimoni Dandhy dapat diakses di http://www.mahkamahkonstitusi.go.id/putusan/putusan_sidang_78%20PUU%20 2011-telah%20baca%203%20Okt%202012.pdf.
Itu (perintah meliput berita) kan lewat pimpinan, lewat pimpinan terus perintahnya jatuh ke kita. Kalau lewat kita (reporter), kita bisa menolak..
Kalau kita sendiri bisa menolak tapi kalau itu perintah, kita tidak tahu ini untuk kepentingan apa. [Pimpinan berkata] Kau tampilkan ini lah, [walaupun] kita tidak kompeten dalam topik yang kita bicarakan, sudahlah kau bikin saja. Ini yang pimpinan memanfaatkan kekuasaannya... Kalau ini untuk kepentingan pemilik baik dari sisi bisnis maupun politis dia kita masih bisa menerima... tapi dibawah-bawah pemilik ini lho, yang atasan kita langsung yang pemred yang memanfaatkan itu [pemberitaan & kekuasaan].
(Wawancara dengan narasumber anonim, seorang mantan produser di perusahaan televisi nasional yang dimiliki oleh politisi, 2013)
Berdasarkan informasi dari narasumber kami tersebut, terlihat bahwa seringkali media beroperasi di suatu kondisi di mana ketika seseorang memiliki kekuasaan (dalam hal ini uang), mereka dapat membeli suara di produksi berita. Skema pembelian berita ini terjadi di banyak saluran televisi. Biasanya permintaan semacam ini datang dari politisi, institusi pemerintahan dan bahkan dari pelaku bisnis untuk keuntungan pribadi mereka sendiri. Permintaan semacam ini datang ke meja editor yang memiliki otoritas untuk menayangkan berita. Sepertinya, hal ini menjadi cara bagi mereka yang duduk di level manajerial untuk mendapatkan pendapatan tambahan. Karenanya, seluruh hal ini telah terinstitusionalisasi.
...Kalau semua perintah atasan kita debat kita tolak itu sistem tidak akan jalan, tapi kita tahu ini ‘bau’ ini, ini berbau nih berita ini, kita kerjakan tidak dengan hati. Itu dari sisi moralitas saya merasa seperti diludahin lah.
(Wawancara dengan narasumber anonim, mantan wartawan di perusahaan penyiaran nasional, 19/03/2013).
Dari wawancara yang kami lakukan, terlihat ada dua mekanisme operasi di media. Pertama, adalah mekanisme editorial tertutup di mana seringkali diskusi editorial menjadi diskusi satu arah. Karena itu, wartawan tidak memiliki kesempatan untuk mengekspresikan pandangan mereka mengenai beberapa isu ataupun untuk memberikan masukan mengenai topik apa yang seharusnya diliput oleh media. Dalam hal ini, hubungan kerja antara editor dan wartawan menimbulkan situasi yang menempatkan wartawan di posisi dilematis: mengikuti arahan editor sehingga dapat terus bekerja di perusahaan tersebut atau menolak dan beresiko dipecat. Mekanisme ini tidak menyediakan kesempatan bagi wartawan dan awak media untuk menyuarakan keprithatinan mereka dan menerapkan hubungan yang hegemonis di ruang redaksi.
Mekanisme kedua adalah proses editorial terbuka di mana wartawan dan editor memiliki hak untuk mengekpresikan opini dan keberatan mereka terhadap isu-isu yang menyentuh kepentingan publik.
Biasanya penugasannya itu lewat direct memo yang berupa undangan dan berisi pesan bahwa acara itu penting untuk diliput padahal sebenarnya acara itu biasa saja, hanya acara tentang peluncuran bisnis si pemegang saham atau teman dari pemegang saham. [Liputannya] paling hanya masuk ke berita pendek. Nah, setelah beritanya turun pemegang sahamnya protes karena (namanya) tidak disebutkan. Namanya dimasukkan tapi hanya sekadarnya saja… Pemegang saham lapor ke managing editor… tapi didiamkan saja. Mungkin karena akhirnya kita dibela juga oleh managing editor atau pemimpin redaksi. (Wawancara dengan narasumber anonim, wartawan koran nasional, 04/03/2013).
Kami waktu membikin investigasi tentang banjir di jalan tol menuju bandara 2007... Banjir besar, itu kami fokuskan disitu. Setelah diskusi sana sini kita dapatkan bahwa penyebab dari tergenangnya jalan tol adalah didirikannya perumahan Pantai Indah Kapuk. Ketika itu Pantai Indah Kapuk dimiliki oleh Ciputra Group, ya. Siapa Ciputra, Ciputra adalah komisaris Tempo... Kami harus menulis sebuah berita yang menyalahkan perusahaan yang dimiliki oleh komisaris kita sendiri. Apakah ada intervensi untuk jangan ditulis, atau hati-hati, atau ini [lainnya]? Tidak ada sama sekali, tidak ada sama sekali. Singkat kata
kami tulis lah semua berita itu termasuk konfirmasi dari Ciputra. Waktu itu Ciputra marah sekali, tidak mau ditemui, akhirnya kita door stop nanyain tentang ini segala macam. Saya tulis waktu itu, ketika dikonfirmasi Ciputra membantah dan seterusnya. Tulisan saya setor kepada redpel, diedit oleh redpel dan saya baca hasil editingnya. Apa yang dilakukan redpel? Yang dilakukan redpel adalah ketika dikonfirmasi, Ciputra koma komisaris utama Tempo Inti Media menolak. Artinya apa? Artinya dia menegaskan bahwa Ciputra adalah pemilik Tempo, dan kami menulis Ciputra, gitu loh. Dan toh itu tetap ditulis dan Ciputra marah. Dia melalui anak buahnya mengirim surat bantahan, tentu saja, dan beberapa kali ulang tahun Tempo dia tidak hadir, tapi orang kayak Ciputra tahu persis bahwa kami [redaksi TEMPO] tidak bisa diatur-atur kayak begitu.
(Wawancara dengan A. Zulkifli, Editor Senior di Majalah TEMPO, 21/03/2013).
Petikan wawancara kedua datang dari TEMPO yang berusaha untuk menjaga keterbukaan mereka di ruang redaksi dengan menulis fakta dalam situasi apapun. Meskipun permintaan ini datang dari komisaris, mereka tetap memiliki hak untuk menolak, atau bahkan mempublikasikan berita dari sudut pandang berbeda dari sudut pandang sang komisaris. Proses editorial ini sangat bergantung pada profesionalisme wartawan dan editor dan cara mereka untuk dapat menjaga akurasi informasi dan integritas profesi mereka.
Intervensi Politik dalam Media
Dari 12 kelompok media besar yang ada di Indonesia31, kami melihat bahwa 3 di antaranya dipunyai oleh pemilik yang berafiliasi dengan politik, yaitu Surya Paloh pemilik Media Group, Aburizal Bakrie pemilik Visi Media Asia, dan Hary Tanoesoedibjo pemilik MNC Group. Paloh adalah pemimpin Partai Nasional Demokrat (Nasdem), Bakrie adalah ketua Golongan Karya (Golkar), dan Hary Tanoesoedibjo baru-baru ini pindah dari Partai Nasional Demokrat ke Hati Nurani Rakyat (Hanura), pimpinan Jenderal Wiranto. Tiga orang ini menguasai hampir semua format media yang ada di Indonesia: media penyiaran, cetak, dan online. Pengaruh dari struktur kepemilikan ini mulai mengkhawatirkan, terutama ketika mereka menggunakan kekuasaannya di media untuk kepentingan pribadinya, terutama di televisi, di mana fenomena ini mulai terjadi. Contohnya, liputan mengenai deklarasi partai baru Nasional Demokrat oleh Surya Paloh yang ditayangkan Metro TV, atau laporan khusus tentang deklarasi pencalonan Aburizal Bakrie sebagai presiden yang ditayangkan TV One. Selain dari panjangnya durasi liputan, dua saluran televisi tersebut tidak memberlakukan praktik serupa (tidak meliput) deklarasi atau acara yang dilakukan oleh partai politik lainnya. Dengan menggunakan domain publik, media tersebut bukannya melayani kebutuhan publik akan informasi, tetapi justru menjadikannya alat untuk menyalurkan informasi yang menurut mereka penting. Mereka memperlakukan frekuensi seakan-akan hal itu adalah milik pribadinya sendiri, untuk melayani kepentingannya semata. Intervensi dari pemilik dan pihak eksternal dilakukan dengan terang-terangan.
Di salah satu saluran yang dimiliki oleh politisi, kami mendapati dua jenis liputan yang berhubungan dengan aktivitas politis pemiliknya, yakni 1) wajib untuk diliput, 2) wajib untuk disiarkan. Jenis liputan yang pertama berarti merupakan suatu kewajiban bagi wartawan untuk melaporkan acara tersebut. Biasanya, sebuah tim khusus dibentuk untuk meliput secara langsung atau merekam acara. Sedangkan yang kedua berarti acara tersebut harus disiarkan baik lewat siaran langsung maupun tunda. Apapun jenisnya, liputan mengenai aktivitas politik pemilik media itu harus diprioritaskan. Jika acaranya wajib untuk disiarkan, hal ini berarti penayangan program, waktu tayang dan durasinya harus ditentukan dari awal. Mereka bahkan memiliki tim khusus yang secara spesifik menangani semua publikasi mengenai aktivitas politik sang pemilik.
Setiap hari atau setiap ada acara [terkait partai politik pemilik] kita harus wajib tayang itu sudah ditentukan programnya, jamnya, durasinya. Bahkan orang yang mengerjakan tentang itu [program terkait partai politik pemilik] tidak boleh orang sembarangan. Sudah ada timnya sendiri. Dan akibatnya produser, merubah titik koma itu tidak. Copy paste, [kemudian] masuk [tayang]... sudah begini. Mau salah mau benar tidak tahu deh. Tapi tanggung jawabnya di produser. Iya, jelas [produser bertanggung jawab].
(Wawancara dengan narasumber anonim, mantan pekerja di televisi nasional yang dimiliki oleh politisi, 2013).
Dengan mekanisme seperti ini, informasi yang disalurkan kepada publik dipenuhi dengan kepentingan pemilik. Hal ini menjadi problematis karena mereka juga menggunakan frekuensi untuk siaran yang merupakan barang publik.
Selain intervensi politik pemiliknya, ada pula skema sensor lainnya yang menciptakan batasan di sekeliling berita dan liputan. Tidak pernah ada suatu sensor resmi yang tertulis atau aturan mengenai bagaimana suatu berita dapat dituliskan, namun wartawan dan awak media sadar hal-hal apa saja yang dapat diliput – terutama berita-berita yang berhubungan langsung dengan pemilik media. Situasi ini mengkonfirmasi kritik Buordieu: perhatian media kepada hal-hal yang luar biasa, bencana, dan kisah hidup manusia lebih besar dibandingkan minatnya untuk secara substantif menelaah isu politik dan sosial; perhatian media yang sinis kepada ‘permainan’ politik yang dimainkan politisi, pelobi, berkebalikan dengan eksplorasi mengenai hal-hal yang konkrit dan efek material dari permainan ini; di mana mekanisme sensor yang terselubung diterapkan dalam berita secara langsung maupun tidak langsung oleh psar, berbagai macam cara di mana jurnalisme memiliki keterbatasan dalam pandangan publik mengenai apa yang membangun realita dan apa yang berkorespondensi dengan pembangunan politik dalam realita ini (Szeman, 2000).
Wartawan memang tidak mendapatkan perintah spesifik atau arahan untuk mengubah suatu pemberitaan menjadi tidak terlalu agresif – khususnya berita mengenai pemilik media dan/atau kerabatnya, tetapi karena hal tersebut telah tertanam dalam sistem kerja media. Namun, semua orang yang terlibat di dalamnya menyadari akan adanya suatu keharusan untuk mengurangi kadar negativitas agar lebih aman dan melindungi diri mereka dan surat kabarnya dari konflik yang dapat ditimbulkan dari pemberitaan tersebut. Mekanisme sensor ini terjadi pada semua jenjang, dari manajerial, redaksi, sampai ke wartawan dan reporter.
Wartawan yang bekerja di satu koran nasional meyakinkan kami bahwa wartawan menyadari adanya mekanisme sensor tidak terlihat ini dan karenanya, mereka secara sadar menghindari pemberitaan isu-isu tertentu yang dapat menyinggung pemilik media, dan maka dari itu, di samping kerja keras pada saat pengumpuan fakta, cerita mereka tidak akan dipublikasikan.
Aku tidak bisa tulis [berita] yang dekat dengan si pemilik, soal itu [partai politiknya]... Jadi ya mau sampai gimanapun, aku sih tidak akan pernah dimarahi menulis itu sama redakturku, aku masukkan saja [beritanya] terus tidak apa-apa, tapi tidak pernah akan turun juga dimanapun [di channel media manapun yang dimiliki oleh pemilik-politisi] ...Karena aku sudah capek menulis, sudah capek turun ke narasumber tidak naik [jadi berita], yasudahlah untuk apa aku kerjakan gitu kan.
(Wawancara dengan narasumber anonim, wartawan surat kabar nasional yang dimiliki oleh politisi, 2013). Bentuk lain dari sensor terselubung ini juga terlihat pada media yang tidak memiliki afiliasi dengan partai politik. Di media yang dikuasai oleh pemilik non-politisi, kami tidak menemui adanya mekanisme sensor. Tetapi, media ini juga menerapkan standar editorial tertentu tentang tata cara publikasi berita. Mekanisme sensor tidak ada. Tapi memang editor yang punya wewenang untuk memilih mana yang akan dia naikkan dan mana yang tidak dinaikkan[beritanya]. Dan editor tidak punya kewajiban menjelaskan [kenapa suatu berita tidak dinaikkan], dan otoritas itu dia pasti banyak punya pertimbangan termasuk keamanan [perusahaan] lah… beritanya tendensius lah.. apapun, penjelasannya macam-macam. Otoritasnya [editor] otoritas personal dan dia tidak harus menjelaskan. Ada yang banyak yang menjelaskan [alasan mengapa berita tidak dinaikkan] tapi ada juga yang tidak menjelaskan... [alasannya] banyak, penjelasannya macam-macam. Misalnya cara menempatkan problem misalnya, itu bisa editor minta ok kita udah berapa kali menulis dari sisi A, Gimana kalau sekarang kita menulis dari sisi B, sisi lain… harus sekali-kali menulis dengan angle ini [lain] dong, kita kan bukan, bukan harus di lapangan melayani satu pihak... itu bisa editor melakukan itu [menentukan berita mana yang dinaikkan dan mana yang tidak]
(Wawancara dengan A. Wisanggeni, wartawan Kompas, 9 Januari 2013).
Standar editorial diterapkan guna menjaga kelayakan suatu berita untuk naik cetak berdasarkan nilai- nilai jurnalistik media bersangkutan. Namun demikian, kami juga menemukan bahwa beberapa media yang tidak memiliki afiliasi politik ini masih harus berhati-hati ketika memberitakan isu-isu tertentu, dan pada saat yang bersamaan, secara tidak langsung, media tersebut menciptakan batas-batas bagi ceritanya. Terkadang hal ini lebih merupakan suatu kehati-hatian dalam memberitakan isu-isu sensitif. Dua contoh yang disajikan dalam laporan ini dimaksudkan untuk menjelaskan gagasan ini. Contoh pertama adalah kasus reportase Ahmadiyah.32 Ketika memberitakan kasus Ahmadiyah, Kompas jarang menyentuh alasan timbulnya kasus tersebut atau akar permasalahannya. Kompas alih-alih berfokus pada fakta mengenai insidennya, berapa banyak orang yang meninggal, kronologi insiden, tetapi tidak pernah mendiskusikan inti permasalahannya. Standar editorial/sensor terselubung ini digunakan untuk menjamin keselamatan perusahaan, dan membuat koran ini bertahan di industri jurnalisme. Dalam hal ini, surat kabar, di satu sisi, dapat meliput fenomena, insiden, dan kejadian yang ada; tetapi di sisi lain, tidak dapat menyajikan pembaca pemahaman yang mendalam mengenai isu tersebut. Kasus kedua yang kami ambil adalah standar editorial di KBR68H. Stasiun radio ini tidak memiliki mekanisme sensor pada isu-isu tertentu, tetapi mereka menyebutnya ‘kehati-hatian’ dalam menyiarkan atau menuliskan suatu berita, karena untuk setiap cerita mereka harus memikirkan dampaknya bagi perusahaan maupun publik. Selain itu, KBR68H juga sering menyiarkan diskusi mengenai isu hak asasi manusia dan isu sensitif lainnya. Untuk itulah mereka harus lebih berhati-hati ketika membawakan berita, tanpa harus menghilangkan poin penting dalam berita tersebut.
Untuk hal-hal tertentu ya harus saya kira. Terutama konflik ya, terutama konflik horizontal.. Bukan sensor istilahnya ya, tapi kehati-hatian lebih tepatnya. Juga intuk korban kekerasan seksual. Kekerasan seksual pada anak juga misalnya, itu wajib itu disembunyikan identitasnya. Pokoknya prinsip-prinsip dan etika jurnalistik mesti dipatuhi. Kalau sensor pada prinsipnya ga ada. Tapi kehati-hatian, iya.
(Wawancara dengan Hendratmoko, Direktur KBR68H, 10 Januari 2013).
Kami beranggapan bahwa meskipun sensor terselubung dengan alasan keselamatan semacam ini mungkin dapat dibenarkan, tetapi sensor dengan alasan kepentingan pribadi ini seharusnya dihindari atau bahkan ditolak. Karena itu, jurnalis dan editor sebagai pihak yang mengolah informasi memainkan peran yang penting dalam menjaga akurasi berita apapun yang ada pada media. Wartawan, editor dan siapapun yang terlibat dalam membentuk konten adalah mereka yang harus menjaga prinsip media. Hal ini dapat dilakukan dengan menerapkan etika dan prinsip jurnalistik, serta mengadakan diskusi reguler antara wartawan dan editor dalam ruang redaksi. Beberapa media memang masih memegang teguh prinsip mereka sebagai institusi sosial dan berdedikasi kepada masyarakat. Media- media semacam ini mengerti bahwa dalam bisnis media adalah bisnis kredibilitas dan kepercayaan. Kami mewawancarai beberapa media yang menerapkan sensor terselubung ini. Sensor terselubung yang menguasai keseluruhan sistem media ditanamkan langsung pada hari pertama saat seorang wartawan masuk ke dalam sistem. Meskipun hal ini tidak terungkap secara verbal atau tulisan, semua orang yang bekerja dalam sistem tahu benar tentang apa yang boleh dan tidak boleh diliput. Sensor ini juga dapat ditemui dalam code of conduct perusahaan dan kriteria mengenai apakah suatu cerita memiliki nilai berita atau tidak. Tetapi, dalam perusahaan media yang pemiliknya berafiliasi dengan suatu partai politik, mekanisme sensor dapat merusak kebenaran. Dari sudut pandang hak warga negara, sistem semacam ini telah mengancam hak warga negara untuk memperoleh informasi yang benar, khususnya dalam keadaan di mana melek media masih harus terus dibangun. Namun demikian, meskipun pelatihan untuk wartawan telah beberapa kali dilakukan, penerapan prinsip dan etika jurnalistik harus dijadikan diskusi harian di ruang editorial untuk menciptakan sinergi antara wartawan
32 Bagi pengikutnya, Ahmadiyah adalah gerakan kebangkitan Islam (Al Islam, 2012). Gerakan ini sekarang telah menyebar di seluruh belahan dunia termasuk Indonesia. Pada tahun 1980, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan sebuah fatwa melawan Ahmadiyah. Fatwa MUI 5/ 1980 yang terdaftar di MUI ini berdasarkan sembilan buah buku Ahmadiyah yang menyatakan bahwa jamaah Ahmadiyah bukan merupakan golongan Islam dan menyimpang dari ajaran Islam. Beberapa anggota Ahmadiyah percaya bahwa fatwa ini merupakan awal dari fase-fase anti gerakan Ahmadiyah selanjutnya dan berujung kepada beberapa penyerangan terhadap basis massa Ahmadiyah (Nugroho, Nugraha, 2012, hal. 44-46).
dan editor. Sinergi macam ini dapat membentengi ruangan editorial dari gempuran intervensi di ruang redaksi.
Kita dapat berpendapat bahwa sensor dan intervensi tidak sekadar permasalahan politisasi ataupun komodifikasi semata, tetapi juga berhubungan dengan etika kerja wartawan sebagai individu dan juga budaya perusahaan.