• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

2.3 Perkawinan Pada Masyarakat Suku Karo

2.3.3 Setelah Upacara

Sebagian orang mungkin menganggap bahwa acara pesta pernikahan adalah puncak dari acara pernikahan itu.Tetapi bagi masyarakat Karo, sesungguhnya acara/upacara yang dilakukan setelah perkawinan adalah upacara yang paling penting.Sebab melalui acara ini, seseorang yang telah/baru menikah tersebut dapat diterima di dalam keluarga barunya (keluarga suami/istri) sebagai anggota keluarga yang baru (diterima dalam komunitas).Selain itu, fungsi dari ritual ini juga sebagai pengikat persekutuan dan penyatuan nilai-nilai masyarakat Karo khususnya di dalam suatu keluarga yang baru saja melaksanakan pesta perkawinan adat. Oleh karena itu, di dalam skripsi ini akan dibahas sedikit tentang beberapa ritual yang dilaksanakan oleh masyarakat Karo sebagai ritus setelah perkawinan yang merupakan bagian dari ritus kehidupan masyarakat Karo.

1. Mukul

Pengesahan perkawinan secara adat diikuti dengan unsur kepercayaan tradisional yaitu “mukul (persadaan tendi)” yang merupakan semacam doa tentang perkawinan tersebut dan diikuti dengan makan

malam bersama pengantin serta upacara pelaminan. 1

9. Pengantin laki-laki (si empo) membuat satu simpul yang berisi uang perak dalam kain pengantin perempuan (si sereh). Namun hal ini sudah tidak dilakukan lagi setelah kekristenan masuk ke Tanah Karo.

[1]Di dalam acara mukul ini dilakukan beberapa hal, yakni:

1. Kalimbubu mengantarkan pengantin ke jabu (rumah) tempat mukul 2. Menetapkan jabu (rumah) pengantin

3. Kalimbubu dan Anak Beru menyiapkan perlengkapan mukul 4. Mempersatukan pengantin lewat acara makan dalam satu piring 5. Mempersatukan Sangkep Nggeluh (keluarga)

6. Ngobah tutur (mengubah tutur)

7. Melaksanakan Runggun Sangkep Nggeluh/ Runggun Pijer Podi (musyawarah keluarga) yang berisi percakapan tentang hal-hal yang menggembirakan dan kata-kata peneguhan bagi keluarga baru tersebut.

8. Pengantin memasuki pelaminan/kamar

Acara mukul ini dilakukan pada malam hari setelah acara pesta selesai digelar.Acara mukul merupakan acara makan bersama kedua pengantin bersama sanak keluarga terdekat. Acara ini diadakan di rumah kedua pengantin. Namun jika pengantin baru tersebut belum memiliki rumah, maka akan diadakan dirumah orang tua pengantin laki-laki (tetapi di daerah Langkat, acara mukul ini diselenggarakan dirumah pengantin perempuan). Acara ini dilaksanakan sebagai upacara mukul atau persada tendi (mempersatukan roh) antara kedua suami istri baru tersebut. Untuk acara

tersebut pihak Kalimbubu Singalo Bere-Bere (saudara laki-laki dari pihak ibu dan keluarganya) membawa Manuk Sangkep berikut sebutir telur ayam.Kemudian pihak Anak Beru (saudara perempuan dari pihak ayah dan keluarganya) pengantin membuat dan mempersiapkan Manuk Sangkep itu hingga dapat disajikan.

Bahan-bahan yang dipersiapkan oleh Kalimbubu tersebut adalah:

a. Beras meciho (beras putih dan bersih) : 1 tumba (2 liter)

b. Manuk Megersing (ayam yang berwarna coklat keemasan): 1 ekor

c. Tinaruh manuk mbentar (telur dari ayam yang berwarna putih) : 1 butir (biasanya dipersiapkan oleh ibu pengantin perempuan)

d. Pinggan pasu (piring besar khas Karo): 1 buah e. Uis arinteneng untuk menjadi alas pinggan pasu f. Amak cur (tikar putih yang terbuat dari bengkuang) g. Peralatan untuk makan secukupnya.

Acara mukul ini diawali dengan kedatangan kedua pengantin dan rombongan dari rumahnya menuju rumah orangtua pengantin perempuan.

Sesampai di depan pintu rumah orangtua pengantin perempuan, kedua pengantin berhenti sejenak untuk itepungtawari dengan ngamburken beras meciho (melemparkan beras putih) kepada kedua pengantin. Sanak saudara yang hadir akan ralep-alep ras ndehile (bersorak-sorak) ketika nepung wari (melempar beras) ini. Kemudian pihak Kalimbubu akan memberi petuah atau berkat (pasu-pasu): " Enda amburi kami kam alu beras meciho, maka piher pe beras enda, piherenlah tendi ndu duana ". (Ini kami hamburkan/ tuangi kalian dengan beras putih bening, agar sama seperti beras yang kuat dan bersih ini,

maka Roh kalian berdua juga kuat dan murni (bersih).Setelah itu mereka dapat masuk kerumah dan dilanjutkan dengan acara suap-suapan antara kedua pengantin di dalam kamar dengan ditemani 2 atau 3 orang keluarga.Biasanya yang menemani itu adalah perempuan, bisa saja bibi, ibu atau mami (istri paman dari pihak ibu) pengantin yang dianggap sudah mewakili Sangkep Nggeluh (sanak saudara).(Bangun, 1986 : 40)

Kedua pengantin di suruh duduk di atas tikar putih (amak cur) kemudian dipakaikan pakaian adat. Pengantin pria (si empo) ibulangi=

dipakaikan bulang-bulang (kain khusus untuk laki-laki yang dipakaikan di kepala) dan pengantin perempuan (si sereh) itudungi=dipakaikan tudung (dipakaikan di kepala perempuan). Kemudian bibi pengantin kemudian memberi sekepal nasi ke masing-masing pengantin dan si suami menyuapkan nasi yang ditangannya ke mulut istrinya, lalu diikuti si istri menyuapkan nasi yang ditangannya ke mulut suaminya. Ketika menyuapi nasi itu, mereka akan berkata “ Enda dahupken nakan pukulen enda gelah pagi perjabunta pe bagi nakan pukulen enda, la nggit sirang.” ( Ini, makanlah nasi yang sudah dikepal ini agar pernikahan kita sama seperti nasi yang telah dikepal ini, erat dan tidak dapat terpisahkan). Nasi yang dikepal tersebut diambil dari masakan Manuk Sangkep yang telah disediakan sebelumnya dan diberikan juga kepada bibi, ibu atau mami yang menemani di kamar itu.Setelah pengantin selesai mukul, barulah kemudian sanak saudara makan bersama.

Pada zaman dulu, biasanya ada seorang tetua (guru) yang diikutsertakan untuk melakukan Ngoge gerek-gereken.Makanan Manuk Sangkep dan telur sebutir untuk kedua pengantin tersebut dilihat

maknanya.Biasanya guru tersebut meramalkan masa depan kedua suami istri yang baru tersebut. Bahkan biasanya ada pula guru perkatika yang menentukan saat yang baik untuk menikah sebelum acara pernikahan dilakukan. Dulu, semua upacara adat Karo seperti proses melamar, membayar utang adat kepadaKalimbubu menggunakan semua sarana-sarana perlengkapan adat misalnyaseperti belo bujur(sirih) yang diletakkan diataspinggan pasu dan uis arinteneng yang berada diatas amak cur. Belo bujur ini mengandung arti berkat Tuhan/ supaya diberkati Tuhan dan uis arinteneng tersebut memiliki arti agar roh-roh menjadi tenang.Adat Karo yang seperti ini sudah ada sejak dahulu kala atau setidaknya jauh sebelum Injil memasuki wilayah Karo.Namun sejak Injil masuk ke masyarakat Karo, acara

“Ngoge gerek-gereken” yang dilaksanakan untuk melihat nasib kedua pengantin tersebut sudah ditiadakan dan tidak dibutuhkan lagi.

2. Runggun Sangkep Nggeluh

Runggun Sangkep Nggeluh dilakukan setelah selesai makan bersama.Isi percakapan dalam acara ini adalah berupa petuah dan kata-kata peneguhan bagi keluarga baru tersebut.dalam acara ini pihak Kalimbubu singalo bere-bere memberi pedah-pedah (nasihat dan petuah yang menguatkan).

` 3.Ngobah tutur

Ngobah tutur merupakan acara perkenalan yang dituntun oleh tetua ataupun orang yang lebih tua (namun biasanya adalah anak beru, kalimbubu atau bibi-nya). Pengantin perempuan (si sereh) akan diajak berkeliling mendatangi dan berkenalan dengan sanak saudara dan keluarga

dekat suaminya dengan membawa Belo pengobah tutur (sirih dan perlengkapannya) untuk dibagikan kepada bibi, ibu, nenek atau mami suaminya kendati si sereh itu bukan orang yang suka memakan sirih.

Demikian juga dengan si empo.Iadiperkenalkan untuk mengenal mama (paman istrinya dari pihak ibu), bengkila (paman istrinya dari pihak ayah) dan bulang (kakek) istrinya dengan membawa, menawarkan dan membagikan rokok kepada mereka kendati si empo itu tidak merokok.

Hal ini bertujuan agar pengantin yang baru menikah itu nantinya mengenal keluarga barunya dan juga untuk mengubah posisi hubungan keluarga akibat perkawinan tersebut.(Sebab biasanya di dalam adat Karo, setiap orang itu/ sesama orang Karo adalah saudara dan keluarga.Ada kemungkinan mami si empo adalah bibi jauh dari si sereh.Namun ketika sudah menikah, si sereh tersebut harus mengubah tutur-nya menjadi memanggil mami juga meski sebelumnya ia memanggil bibi). Hal ini yang ingin diluruskan melalui acara Ngobah tutur tersebut. Sehingga kelak tidak akan ada kesalahpahaman, salah menyebut dan salah kedudukannya di dalam adat.Setelah acara ini, maka pengantin sudah diperbolehkan untuk memasuki kamar. (Bangun, 1986 : 45)

2.3.4 Bentuk Keluarga Pada Suku Karo

Kekerabatan bisa dihubungkan dengan aspek budaya, agama, politik, dan lain sebagainya.Hubungan dan kedudukan antar anggota dalam organisasi sosial dapat dilihat dari kekerabatannya.Kita mengenal sistem kekerabatan matrilineal, patrilineal, dan bilateral.Matrilineal adalah sistem kekerabatan yang menarik garis dari ibu, sedangkan patrilineal dari

ayah.Bilateral adalah sistem kekerabatan yang menarik garis dari kedua belah pihak.

Adanya sistem kekerabatan dimulai dari perkembangan evolusi manusia yang awalnya hanya kawanan yang hidup tanpa ikatan.Perkembangan kemampuan berpikir juga membuat manusia menyadari bagaimana dia bisa berada di dunia, yaitu hasil dari perkawinan orang tuanya.Lalu dia menyadari kalau orang tuanya adalah hasil dari perkawinan generasi diatasnya lagi. Semenjak itulah mulai dikenal sistem kekerabatan, peristilahan bagi ayah, ibu, kakek, nenek, paman, bibi, sepupu dan lain sebagainya dalam banyak budaya di dunia.begitu juga masyarakat Karo yang mengenal sistem kekerabatan dengan sebutan Rakut Sitelu. Masyarakat Karo menganut sistem kekerabatan patrilineal, yang menarik garis keturunan dari pihak ayah. Otomatis marga orang Karo diturunkan dari ayah.Rakut SiteluRakut ( ikatan ) dan sitelu ( tiga ), maka secara bahasa berarti ikatan yang tiga, mengartikan bahwa orang Karo tidak lepas dari keluarganya. Ada juga yang menyebutnya Sangkep Nggeluh ( kelengkapan hidup ), ada juga Daliken Sitelu. Daliken ( tungku ) dan sitelu ( tiga ) , mengartikan bahwa orang Karo juga tidak lepas dari yang namanya keluarga.

(https//www.kekerabatanmashyarakatkaro.com)

BAB III

PERBANDINGAN PERFORMANCE PERKAWINAN PADA MASYARAKAT JEPANG DAN PADA MASYARAKAT SUKU KARO

3.1 Performance Perkawinan Jepang

3.1.1 Waktu dan Tempat

Sesuai dengan kepercayaan masyarakat Jepang memprediksikan Tai Yan atau hari baik untuk pelaksanaan prosesi pernikahan.Hari yang paling jelek adalah Futsumatsu.

Untuk memilih tanggal upacara pernikahan biasanya tidak ada acara khusus atau aturan tetapi mereka menghindari pertengahan musim panas pada awal atau akhir tahun karena tidak terlalu baik orang-orang untuk menghadiri acara tersebut.Pada umumnya mereka memilih musim semi dan musim gugur yang merupakan musim yang baik untuk mengadakan upacara pernikahan.Tetapi bagi sebagian orang memilih ketidak beruntungannya untuk memudahkan pemesanan tempat upacara perkawinan dilaksanakan.Pernikahan ala Shinto bersifat pribadi sehingga hanya sedikit tamu undangan yang hadir dalam prosesi pernikahan.Tamu biasanya terdiri dari keluarga serta kerabat dekat kedua mempelai.

Durasi rangkaian pernikahan Jepang hanya memakan waktu 2-3 jam.Dewasa ini banyak orang Jepang yang menyelenggarakan perkawinan dalam satu resepse besar di Kekkon shikijo atau suatu tempat yang tata khusus untuk resepsi pernikahan termasuk penyewaan pakaian, fasilitas

fotografi, hadiah untuk para tamu dan yang lainnya.Suasana resepsi tersedia di berbagai ryotei atau rumah makan tradisional Jepang yang memberikan fasilitas khusus untuk berbagai pelayanan makanan berbagai resepsi.

3.1.2 Audience

Dalam pernikahan Shinto sangat bersifat pribadi dan hanya dihadiri oleh kerabat keluarga inti.Dalam perkawinan Jepang biasanya yang diundang adalah teman kerja, surpervisor, dan kolega.Biasanya guru atau atasan dianggap tamu kehormatan atau disegani.Tamu-tamu hanya diundang saat resepsi.Kemudian resepsi dilanjutkan acara pejamuan makan malam yang dihadiri oleh kerabat kerabat dan kedua keluarga.

Karena tempat upacara perkawinan yang relatif kecil, bukan berarti membedakan seberapa dekat hubungan sang tamu dengan keluarga kedua mempelai.

3.1.3 Teks

Umumnya, pernikahan adalah momen sakral dan terjadi satu / dalam hidup sehingga pernikahan diselenggarakan dengan persiapan yang rumit dan panjang.Upacara perkawinan Jepang pada umumnya melaksanakan ritual Shinto di kuil yang dipimpin oleh pendeta shinto.

Karena upacara pernikahan dengan cara Shinto adalah upacara yang tertutup dan hanya di hadiri oleh kerabat dekat saja. Biasanya acara yang berlangsung adalah mengucapkan janji pernikahan di depan pendeta dan di depan keluarga dekat. Setelah itu keluarga atau kerabat dekat

akanmenyampaian ucapan selamat dan kata-kata nasihat dan tuntunan hidup berumah tangga.

Penyampaian kata-kata setelah dipimpin oleh pendeta Shinto, pengantin akan membacakan sumpah pernikahan kemudian ucapan terimakasih pada tamu yang bersedia hadir.

Adapun teks pada upacara perkawinan di Jepang berkaitan dengan kalimat, kata-kata ataupun nasihat yang umumnya selalu di ucapkan dalam pelaksanaan upacara perkawinan yang dibimbing oleh pendeta.Teks paling utama dalam perkawinan adalah ikrar perkawinan yang dalam perkawinan masyarakat Jepang secara Shinto disebut sumpah sojo.Biasanya sumpah pengantin ini dibacakan oleh kedua mempelai secara bersama-sama.

“本日、皆様のお立会いのもと、新郎である私、鈴木明夫と 新婦である私、和子はこれから幸せや喜びだけでなく苦しみも悲し みもすべて二人で分かち合い、明るく温かい家庭を築いていくこと をここに誓います。平成、年。つき。日鈴木明夫和子“

Selanjutnya setelah sumpah sojo, orang tua akan menyampaikan ucapan terimakasih kepada yang hadir serta mengucapkan harapan hidup baik kepada pengantin Shinto.

Pidato orang tua pengantin adalah sebagai berikut:

本日はご多用のところ、そのように多くの方々にご臨席を賜 り、心よりお礼申し上げます。山田ご夫婦には、新郎深部のたって

の希望によりご媒酌の労をお取いただき、厚く感謝申し上げます。

また、皆様方よりの温かいご祝辞は、両名にとってこの上ないはな むけとなったことと思います。皆様方のようなすばらしい人達に囲 まれた二人は、本当に幸せなことだと思います。しかしながら、両 名はまだまだ若輩者です。今後とも、両名にご指導ご鞭撻をいただ きますようお願い申し上げる次第です。本日は不行き届きの点も 多々ございましたでしょうが、なにとぞお許しを願いまして、私の ご挨拶といたします.まことにありがとうございます。

“ Hari ini, di tempat yang sering digunakan, saya ingin mengucapkan terimakasih darihati saya atas kehadiran begitu banyak orang. Sebagai ayah pengantin pasangan Yamada, saya ingin mengucapkan terimakasih karena melalui jasa perjodohan sudah menjalani hubungan dengan harapan yang sungguh-sungguh.Selai itu, terimakasih atas ucapan hangat yang anda berikan, saya pikir itu adalah hadiah yang paling indah.Dua orang seperti kami dikelilingi oleh orang-orang hebat seperti anda sekalian adalah sebuah kebanggaan bagi kami.

Namun mereka adalah pasangan yang masih muda, kami meminta dan menerima bimbingan dan dorongan dari anda sekalian di masa depan nanti. Sekian ucapan dari saya, jika ada kelalaian saya harap untuk dimaafkan.Saya sungguh-sungguh berterimakasih atas perhatiannya.”

Kemudian akan ada ucapan mewakili kerabat atau tamu yang hadir.

Pidato mewakili tamu berupa teks sebagai berikut:

田中理太郎と申します。新郎の勤務先の同じ部の部長をして おります。本日は鈴木.山村ご両家のお祝いの席にお招きいただき、

ありがとうございます。新郎深部、並びにご両家の皆様に、心より お祝いを申し上げます。お二人の門出にあたって、はなむけの言葉 を贈りたいと存じます。どんな時もいたわり合う心を忘れずに、仲 良く助け合ってきてください。お二人の幸せとど両家のますますの ご繁栄をお祈りしてお願いの言葉といたします。

“Nama saya”Rintaro Tanaka. Kami adalah direktur bagian yang sama dari kantor pengantin pria. Terima kasih, hari ini kami di undang oleh kedua keluarga untuk menghadiri perayaan Suzuki Yamamura.Saya ingin menguapkan selamat kepada kedua pengantin serta semua keluarga disini. Saya ingin memberikan kata-kata ucapan terima kasih sebagai hadiah perpisahan kepada kedua orang yang akan memulai hidup baru.

Semoga hidup bahagia dan saling membantu dalam keadaan apapun sepanjang waktu untuk peduli satu sama lain. Kami berharap dan selalu berdoa untuk kesejahteraan agar kedua pengantin memiliki keluarga yang bahagia dan begitupun kedua keluarga anda.” (Shinoda,1984 : 30)

Pada dasarnya kalimat yang disampaikan kepada pengantin berpesankan agar hidup bahagia dalam memulai keluarga yang baru, bersama-sama dalam semua keadaan dan tidak ada yang dapat memisahkan kecuali maut.

3.1.4 Koteks

Bahan-bahan yang digunakan pada upacara perkawinan di Jepang adalah :

Dalam kajian koteks tidak mengkaji pada tradisi lisan tetapi focus kepada benda-benda apa yang gunakan masyarakat adat. Benda- benda tersebut dipercaya memiliki makna adat itu sendiri.selain menggunakan pakaian tradisional Jepang, juga terdapat bahan-bahan yang digunakan dalam acara perkawinan Jepang.

Mokuroku : daftar barang yang diberikan saat Yuinoo

Naga Noshi : kerang abalone yang sering digunakan di Jepang sebagai kerajinan tangan dan melambangkan umur panjang.Biasa dugunakan untuk hadiah perayaan.

Kinpoudzutsumi: tempat untuk menaruh uang yang akan digunakan dalam Yuinoo(Yuino-Kin). Uang tersebut digunakan untuk membeli obi mempelai perempuan(goobi-ryou),dan hakama untuk mempelai lelaki(gohakama –ryou).

Katsuo-boshi: ikan bonito kering yang melambangkan harapan agar pernikahannya dapat bertahan lama.

Surume : ikan kering yang melambangkan harapan agar pernikahan tersebut dapat bertahan lama.

Konbu : rumput laut kering yang melambangkan kesuburan,dengan harapan pasangan tersebut berbahagia.

Tomoshiraga : kumparan benang rami yang melambangkan harapan agar pasangan tersebut dapat terus berbahagia hingga tua.

Suehiro : kipas lipat yang melambangkan kebahagiaan dan masa depan yang lebih baik.

Yanagi-daru : tempat penyimpanan sake yang terbuat dari pohon willow. Melambangkan kepatuhan dalam pernikahan.

Makanan tradisional yang biasa dihidangkan dalam pernikahan di Jepang adalah:

Sekihan(nasi kacang merah azuki): merupakan nasi yang sangat lengket,terbuat dari kacang azuki. Merupakan makanan tradisional yang berwarna merah sebagai simbol perayaan dan acara-acara bahagia.Sekihan sering disajikan dengan gomashio dalam pernikahan jepang.Gomashio adalah campuran dari beberapa biji wijen panggang bersama dengan garam.

Kazunoko: merupakan simbol kesuburan di jepang yang merupakan alasan utama mengapa hidangan ini disajikan dalam pernikahan tradisional Jepang. Dalam bahasa Jepang kazunoko mengacu pada ikan herringroe.Ikan ini dikeringkan di bawah sinar matahari dan biasanya diawetkan dalam garam.

Datemaki: merupakan hidangan yang sangat populer yang disajikan di pernikahan Jepang. Datemaki adalah telur dadar gulung jepang yang sering disediakan selama pernikahan.

Kue sushi jepang :makanan ini terbuat dari salmon asap,nasi,telur bersama bahan lainnya. Tidak ada gaya tertentu membuat kue ini dan anda dapat mengembangkan kreativitas anda sediri untuk membuat kue ini jadi menarik.

Daifuku: daifuku yang disajikan dalam pernikahan jepang merupakan kue mochi yang populer di jepang. Kue manis ini disajikan bersama denganteh hijau kepada para tamu. Kue manis ini adalah simbol berbagi kebahagiaan anatara pengantin dengan teman,kerabat dan para tamu undangan.

Yang menarik dan selalu digunakan dalam pernikahan tradisional Jepang adalah sake. Dalam bahasa Jepang,sake disebut dengan Nihonshu(

sake Jepang). Sake sering digunakan dalam ritual upacara adat,seperti dalam melakukan pernikahan tradisional Jepang. Semua keluarga dari kedua mempelai bergantian minum sake sebagai tanda persatuan atau ikatan kekerabatan yang baru.

Sake yang dipersembahkan untuk dipersembahkan kepada dewa disebut Omiki atau Miki( お神酒、 神酒 ). Persembahan ini bertujuan untuk memohon hasil panen yang berlimpah pada tahun berikutnya.Sake banyak dimanfaatkan dalam kehidupan masyarakat Jepang.Oleh sebab itu sake dikenal sebagai alat untuk bersosialisasi.

Dokumen terkait