• Tidak ada hasil yang ditemukan

SUASANA PEMBELAJARAN DI PERSEKOLAHAN YAYASAN JOSEPH YEEMYE JAKARTA

B. Shared Christian Praxi s sebagai Model Katekese

Shared Christian Praxis (SCP), merupakan suatu model berkatekese dengan menggunakan pendekatan dasar teologis yang kuat, model pendidikan yang progresif dengan bertolak dari keprihatinan pelayanan pastoral yang aktual. Proses berkatekese model SCP menekankan unsur dialog yang partisipatif yang menitikberatkan hubungan kebersamaan antar subyek yang setara dan sederajat baik peserta ataupun pendamping. Dari hubungan kesederajatan ini diharapkan muncul suatu kesadaran baru tentang pentingnya rasa solidaritas dan kesetiakawanan dalam perjuangan dan visi yang sama. Umat akan semakin terdorong untuk membuat suatu penegasan, penilaian, serta mengambil keputusan yang tepat yang mendorong umat pada keterlibatan baru yakni mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah di dunia ini (Groome, 1997: 4). Oleh karena itu pada bagian ini penulis akan menguraikan secara garis besar bahasan tentang tiga komponen dalam SCP, dan langkah-langkah dalam proses SCP.

1. Tiga Komponen Shared Christian Praxis

Katekese model Shared Christian Praxis (SCP) menurut Groome (1997: 2-7) memiliki 3 (tiga) komponen pokok, yakni Praxis, Christian, dan Shared.

a. Praxis

suatu transformasi hidup yang meliputi kesatuan antara praktek dan teori yang menghasilkan kreativitas. Pertemuan antara pengalaman dan penyatuan antara pengalaman hidup dan refleksi kritis membangkitkan semangat dasar yakni keterlibatan baru dalam praxis hidup sehari-hari (Groome, 1997; 2).

Praxis memiliki 3 (tiga) kompenen yang saling berkaiatan satu dengan yang lain, yang berfungsi membangkitkan imaginasi, meneguhkan kehendak yang mendorong munculnya praxis baru yang dapat dipertanggungjawabkan. Tiga komponen tersebut adalah aktivitas, refleksi, dan kreativitas. Aktivitas meliputi kegiatan mental, fisik, kesadaran tindakan personal dan sosial, hidup pribadi dan kegiatan publik agar hidup lebih bermakna bagi pribadi dan sesama. Karena bersifat historis, tindakan manusia perlu ditempatkan dalam konteks waktu dan tempat tertentu (Sumarno Ds, 2005: 15). Refleksi menekankan refleksi kritis terhadap suatu tindakan yang dipertemukan dengan nilai-nilai Kerajaan Allah dalam tradisi dan visi iman kristiani. Melalui refleksi pengalaman hidup dipertanyakan di hadapan Tuhan dan diperbaharui. Kreativitas, memadukan antara aktivitas dan refleksi hidup umat. Dinamika ini mendorong umat untuk menemukan, melahirkan dan menghasilkan tindakan atau sikap-sikap baru dalam kehidupan (Groome, 1997: 2).

b. Christian

Katekese model Shared Christian Praxis, merupakan usaha untuk mencari dan menemukan relevansi dari kekayaan visi iman kristiani dengan kehidupan umat sekarang. Dengan menggali nilai-nilai kristiani seperti perdamaian, keadilan,

persatuan, kerukunan dan persaudaraan yang merupakan perjuangan untuk perwujudan Kerajaan Allah (Groome, 1997: 2).

Tradisi kristiani menyangkut pengalaman iman jemaat yang sungguh dihayati dalam kehidupan setiap hari. Tanggapan manusia terhadap pewahyuan diri Allah yang terlaksana dalam diri Kristus di tengah-tengah kehidupan manusia. Dalam konteks ini tradisi dipahami sebagai medan perjumpaan antara rahmat Allah yang nyata dalam diri Kristus dan tanggapan manusia atas rahmat Allah. Tradisi kristiani berupa Kitab Suci, spiritualitas, refleksi teologi, sakramen, liturgi dan lain-lain (Groome, 1997: 3). Dalam hidup beriman, manusia menciptakan tradisinya sendiri, yang dapat dilihat dalam kerangka pengalaman hidupnya di dunia dalam sejarah sebagai orang beriman yang ada dalam peristiwa dan sejarah dunia dan manusia. Dengan demikian, tradisi menunjuk pada pengalaman hidup manusia konkrit sehari-hari (Sumarno Ds, 2005: 17).

Visi kristiani menggarisbawahi adanya tanggung jawab dan pengutusan orang kristiani sebagai jalan untuk menghidupi sikap dan semangat kemuridan Kristus. Visi kristiani yang paling mendasar adalah tanggung jawab untuk mewujudkan nilai-nilai kerajaan Allah dalam kehidupan nyata setiap hari (Groome, 1997: 3). Visi merupakan manifestasi konkrit dari jawaban manusia terhadap janji Allah yang terwujud dalam sejarah atau Tradisi. Setiap manusia dalam menjalani hidup berusaha menanggapi janji Allah dalam visi kristianinya atas dasar pengenalan dan pengalaman tradisi hidup yang dihayatinya. Visi menjadi ukuran keberimanan manusia yang senantiasa terbuka akan masa depan. (Sumarno Ds, 2005: 17).Tradisi maupun visi kristiani keduanya menyingkapkan nilai-nilai kerajaan Allah yang terus-menerus dihidupi dan diusahakan. Tradisi

dan visi kristiani menumbuhkan rasa “memiliki” dan kesatuan sebagai umat beriman (Groome, 1997: 3).

c. Shared

Shared menekankan hubungan timbal balik antar peserta juga dengan pendamping yang secara dialogis saling mengungkapkan dan menukar pengalaman iman. Dalam proses ini diharapkan umat dapat saling mendukung, meneguhkan dan memperdalam bahkan menantang sehingga penghayatan iman akan lebih matang, dewasa dan sempurma. Sharing mengandung hubungan dialektis antara pengalaman aktual dengan tradisi dan visi kristiani (Groome, 1997: 4).

Sharing mengandung makna berbagi rasa, pengalaman, pengetahuan serta saling mendengarkan pengalaman orang lain. Dalam sharing terjadi dialog dengan suasana penuh persaudaraan dan cinta kasih. dalam dialog yang terpenting adalah membicarakan dan mendengarkan. Membicarakan (to tell) mempunyai makna menyampaikan kebenaran dan pengalaman yang terjadi dalam diri sebagaimana adanya. Membicarakan menekankan sikap keterbukaan dan kejujuran serta kerendahan hati untuk mengungkapkan pengalaman dan pengetahuan nyata sebagaimana yang terjadi dan yang diyakini (Sumarno Ds, 2005: 16). Mendengarkan (to listen) berarti mendengar dengan hati segala sesuatu yang dikomunikasikan oleh orang lain. Mendengarkan orang lain dapat menemukan diri sendiri dan kehendak Allah. Mendengarkan dapat menimbulkan gerak hati, empati terhadap segala sesuatu yang dikomunikasikan oleh orang lain (Sumarno Ds, 2005: 16). Dengan demikian dalam sharing bila setiap peserta saling

membicarakan dan mendengarkan dalam suasana persaudaran dan cinta kasih, maka yang terjadi bukan hanya dialog antar peserta saja, tetapi juga antar peserta dengan Tuhan (Sumarno Ds, 2005: 17).

2. Langkah-langkah dalam Shared Christian Praxis

Katekese model Shared Christian Praxis, mempunyai 5 (lima) langkah yang saling menunjang satu sama lain untuk menghantar umat mengungkapkan pengalaman hidup konkret sehari-hari dan merefleksikan dalam terang Injil dan akhirnya menemukan praxis baru untuk mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah dalam kehidupan sehari-hari (Sumarno Ds, 2005: 22) dan dalam kebersamaan sebagai umat beriman.

Langkah dalam SCP menurut Groome (1997: 8) diawali dengan langkah nol sebagai pemusatan aktivitas. Dalam langkah nol peserta diajak untuk bertolak dari pengalaman konkret pribadi maupun masyarakat sebagai sumber inspirasi untuk menentukan topik katekese. Tahap ini dimaksudkan untuk membangun kesadaran dan keterlibatan umat untuk menemukan nilai-nilai dan makna hidup. Dalam langkah ini peserta berperan aktif untuk mencari dan menemukan pengalaman hidup kongrit yang dialami dalam hidup kemasyarakatan.

Pendamping berperan untuk menciptakan lingkungan psikososial dan fisik yang mendukung (kondusif), pendamping memilih sarana yang tepat dan cocok. Membantu merumuskan prioritas tema yang tepat.

a. Langkah I: Mengungkapkan pengalaman hidup faktual peserta

mengungkapkan pengalaman hidup konkret yang dialami baik secara verbal ataupun melalui simbol-simbol. Sharing terjadi dalam suasana penuh persaudaraan dan cinta kasih (Sumarno Ds, 2005: 22). Langkah ini sifatnya obyektif dan bertujuan membantu peserta untuk lebih menyadari kehidupannya dalam situasi konkret mereka (Groome, 1997: 5).

Pendamping beperan sebagai fasilitator yang menciptakan suasana pertemuan yang mendukuang peserta mengungkapkan pengalaman. Selain itu juga pendamping merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang jelas, obyektif, terarah, tidak menyinggung harga diri dan sesuai dengan latar belakang peserta (Sumarno Ds, 2005: 19).

b. Langkah II: Mendalami pengalaman hidup peserta

Kekhasan langkah ini, umat diajak untuk merefleksikan pengalaman hidup yang dialami. Refleksi dapat menghantar peserta pada suatu sikap kritis untuk menilai baik buruknya setiap peristiwa yang dialami (Sumarno Ds, 2005: 15). Langkah ini mendorong umat untuk lebih aktif, kritis dan kreatif dalam memahami serta mengolah keterlibatan hidup mereka secara pribadi maupun masyarakat. Langkah ini bersifat analitis yang kristis, dengan tujuan peserta menemukan makna dan nilai dari pengalaman hidup mereka sehari-hari (Groome, 1997: 5).

Peran pendamping dalam langkah ini meliputi, menciptakan suasana pertemuan yang menghormati dan mendukung setiap gagasan serta sumbangan saran peserta, mengundang refleksi kritis setiap peserta, mendorong peserta supaya mengadakan dialog dan penegasan bersama yang bertujuan memperdalam,

menguji pemahaman, kenangan, dan imajinasi peserta, mengajak setiap peserta untuk berbicara tetapi tidak memaksa, menggunakan pertanyaan yang menggali tidak menginterogasi dan mengganggu harga diri pesrta dan menyadari kondisi peserta (Sumarno Ds, 2005: 20).

c. Langkah III: Menggali pengalaman iman kristiani

Pada langkah III ini secara lebih mendalam umat diajak secar pribadi maupun bersama menafsirkan pesan inti teks yang dapat menghantar umat menemukan kehendak Allah atau menemukan pesan inti yang sesuai dengan situasi hidup sehari-hari (Sumarno Ds, 2005: 18). Langkah ini berorientasi pada usaha supaya tradisi dan visi kristiani menjadi terjangkau; lebih dekat dan relevan pada hidup peserta di zaman sekarang. Langkah ini bertujuan untuk mengkomunikasikan nilai-nilai tradisi dan visi kristiani yang mendorong dan meneguhkan iman peserta dalam keterlibatan mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah (Groome, 1997: 6).

Peran pendamping dalam langkah ini adalah menghormati tradisi dan visi kriatiani sebagai yang otentik dan normatif, memberi informasi dan membantu pesrta agar nilai-nilai tradisi dan visi kristiani menjadi miliknya, menggunakan metode yang tepat, bersikap tidak mendikte tetapi mengantar peserta ke tingkat kesadaran, tafsiran dari pembimbing mengikutsertakan kesaksian iman, harapan dan hidupnya sendiri, dan membuat persiapan yang matang agar kegiatan dapat berjalan lancar, tidak kaku, dan semua peserta dapat dihantar pada penghayatan iman kristiani yang lebih mendalam (Sumarno Ds, 2005: 21).

d. langkah IV: Menerapkan iman kristiani dalam situasi konkrit peserta

Kekhasan langkah IV ini adalah mengajak peserta menerapkan pesan inti dalam situasi konkrit hidup sehari-hari. Pesan inti diterapkan sesuai dengan situasi dan kebutuhan peserta (Sumarno Ds, 2005: 23). Dalam proses ini peserta dapat saling mendialogkan hasil pengolahan pengalaman pada langkah pertama dan ketiga kemudian didialogkan dengan isi pokok tradisi dan visi kristiani. Dalam hal ini peserta diajak menemukan nilai-nilai kristiani yang perlu dikembangkan sehingga nilai-nilai Kerajaan Allah semakin terwujud dalam kehidupan pribadi maupun bersama (Groome, 1997: 7).

Peran pendamping dalam langkah ini sebagai informator. Sebagai informator pendamping dituntut untuk menghormati kebebasan dan hasil penegasan peserta, meyakinkan peserta untuk mempertemukan nilai pengalaman hidup dan visi dengan nilai Tradisi dan Visi kristiani, mendorong peserta untuk merubah sikap dari pendengar pasif menjadi pihak yang aktif, menyadari bahwa tafsiran pembimbing bukan kata mati, dan mendengar dengan hati tanggapan, pendapat dan pemikiran peserta (Sumarno Ds, 2005: 21).

e. langkah V: Mengusahakan suatu aksi konkrit

Kekhasan langkah ini mengajak peserta untuk mengusahakan suatu aksi konkrit atau niat bersama sebagai bentuk keterlibatan baru bagi dunia. Langkah ini bertujuan mendorong peserta agar sampai pada keputusan konkret baik secara pribadi maupun bersama berusaha mewujudkan iman kristiani secara kreatif dan bertanggung jawab (Sumarno Ds, 2005: 21). Keputusan sebagai tindakan atau sikap baru yang diambil, merupakan tanggapan umat beriman, terhadap

pewahyuan Allah atau undangan Allah bagi manusia yang berlangsung secara terus menerus di sepanjang sejarah hiup Gereja (Groome, 1997: 7).

Peran pendamping adalah menyadari hakikat praktis, inovatif dan transformatif, merumuskan pertanyaan oprasional, menekankan sikap optimis yang realistis pada peserta, merangkum hasil langkah pertama sampai keempat supaya dapat membantu peserta, mengusahakan supaya pesrta sampai pada keputusan pribadi dan bersama, dan pesrta diajak merayakan liturgi sederhana untuk mendoakan keputusan (Sumarno Ds, 2005: 22).