• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.4. Simpanan Karbon melalui Penerapan PHL

Penerapan PHL di suatu areal IUPHHK-HA berpotensi mencegah emisi karbon melalui pencegahan degradasi hutan dan juga meningkatkan penyimpanan karbon melalui pertumbuhan kembali (regrowth) dan restorasi/ rehabilitasi hutan (Rusolono 2009). Di wilayah Peten, Guatemala, konsesi hutan bersertifikat FSC 20 kali lebih rendah laju deforestasi dan laju kebakaran hutannya dibandingkan areal yang dilindungi (Hughell dan Butterfield 2008 dalam Rusolono 2009).

Menurut Masripatin (2010), terkait dengan perubahan iklim, selain PHL, semua kegiatan kehutanan Indonesia pada dasarnya masuk dalam kategori pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan (REDD+), sebagai contoh:

1 Pengurangan emisi dari deforestasi melalui pencegahan atau meminimalkan konversi hutan, pencegahan perambahan yang berakhir dengan perubahan tata guna lahan,

2. Pengurangan degradasi hutan melalui pemanenan kayu ramah lingkungan atau reduce impact logging (RIL), pemberantasan illegal logging, pengendalian kebakaran, dan penanganan perladangan berpindah,

3. Menjaga stok karbon melalui konservasi hutan,

4. Peningkatan stok karbon hutan melalui penanaman dan kegiatan lain yang mendorong peremajaan hutan, misalnya melalui restorasi hutan.

Salah satu kriteria pengelolaan hutan produksi lestari (PHPL) adalah penerapan RIL yang merupakan kriteria 2 dan 3 dalam ”Kriteria dan Indikator Pengelolaan Hutan yang Berkelanjutan” seperti yang tertuang dalam SK Menhut Nomor 4795/KPTS-11/2002. Di dalam Standar LEI 5000-1, Sistem Pengelolaan Hutan Alam Produksi Lestari, RIL tertera dalam Aspek Kelestarian Fungsi

Produksi yaitu pada Kriteria 2: Kelestarian Hasil Hutan dan Indikator P2.8: Penerapan reduce impact logging (LEI 2000).

Upaya pengurangan emisi karbon global selain dilakukan melalui pencegahan deforestasi dan degradasi hutan, juga dapat dicapai melalui perbaikan pengelolaan hutan (improved forest management, IFM) (Putz et al. 2008). Salah satu bentuk IFM adalah penerapan RIL di hutan alam produksi. Menurut Hurd (2009), RIL adalah serangkaian tindakan atau praktik guna meminimalkan dampak negatif terhadap hutan dari operasi pemanenan kayu. Adapun menurut CIFOR (2009), RIL atau pembalakan berdampak rendah, adalah penebangan pohon yang dilakukan dengan terencana dan berdasarkan prinsip kehati-hatian untuk meminimalkan dampak terhadap lingkungan di sekitarnya. RIL juga dapat mengurangi emisi gas yang disebabkan oleh kegiatan pembalakan.

Berdasarkan kajian Putz et al. (2008) di Malaysia, pada periode 30 tahun setelah penebangan, di kawasan hutan bekas tebangan (LOA) yang dibalak dengan metode RIL diprediksi memiliki simpanan karbon lebih tinggi 30 ton/ha dibandingkan dengan LOA yang dibalak dengan metode pemanenan konvensional (conventional logging, CL). Dengan demikian penerapan RIL akan mengurangi emisi karbon sekitar 30%. Hal yang sama ditemukan pula pada hasil uji coba di kawasan hutan Amazon, Brasil (Tabel 1).

Tabel 1 Karbon yang hilang dan disimpan akibat penerapan metode CL dan RIL

No. Keterangan Malaysia Brasil

1 Total karbon di hutan yang tidak ditebang (ton C/ha) 213 186

2 Intensitas tebangan (m3/ha) 125 30

3 Karbon yang hilang dan disimpan setelah 30 tahun

a. Hilang karena metode CL (ton C/ha) 108 19 b. Hilang karena metode RIL (ton C/ha) 78 12 c. Karbon yang disimpan oleh metode RIL (ton C/ha) 30 7 4. Karbon yang hilang dan disimpan setelah 60 tahun

a. Hilang karena metode CL (ton C/ha) 93 24 b. Hilang karena metode RIL (ton C/ha) 57 14 c. Karbon yang disimpan oleh metode RIL (ton C/ha) 36 10 Sumber: Putz et al. 2008

Selain itu, penerapan RIL dapat mencegah 50% kerusakan pada tegakan tinggal. Apabila RIL diterapkan di seluruh hutan tropika dunia, akan mengurangi emisi sebesar 0,16 gigaton karbon/tahun, atau sekitar 10% dari total emisi karbon dari deforestasi hutan tropika global sebesar 1,5 gigaton karbon/tahun (atau 20% total emisi karbon antropogenik global). Dari segi pembiayaan, Holmes et al.

(1999) dalam Priyadi et al. (2009) mengestimasi biaya pembalakan dengan metode RIL lebih hemat sebesar 12% dibandingkan metode CL.

2.5. Deforestasi dan Degradasi Hutan 2.5.1. Definisi Hutan

Dalam konteks REDD+ atau mekanisme perdagangan karbon, diperlukan definisi hutan yang lebih teknis dan kuantitatif, dengan memasukkan parameter luas, tinggi pohon, dan tutupan tajuk. Menurut FAO (2005), yang disebut hutan apabila minimal memiliki tutupan tajuk 10%, tinggi pohon 5 meter, dan luas 0,5 hektar. Sedangkan dalam COP 7 tahun 2001 di Marrakech, dirumuskan definisi tentang hutan untuk mendukung implementasi Protokol Kyoto. Definisi hutan versi COP-7 yaitu lahan berhutan dengan luas 0,05-1 hektar, tinggi pohon dewasa

in situ 2-5 meter dengan tutupan tajuk 10-30 % (GOFC-GOLD 2009). 2.5.2. Deforestasi

Umumnya deforestasi didefinisikan sebagai konversi lahan dari hutan menjadi non-hutan secara permanen atau dalam jangka waktu yang lama. Di dalam Marrakech Accords (COP-7 tahun 2001), deforestasi didefinisikan sebagai perubahan dari lahan berhutan menjadi lahan tidak berhutan akibat langsung campur tangan manusia. Sedangkan FAO mendefinisikan deforestasi sebagai konversi hutan menjadi penggunaan lahan lain, atau pengurangan tutupan tajuk pohon menjadi minimal 10% dalam jangka panjang (Angelsen 2009). Adapun menurut IFCA (2007), deforestasi adalah perubahan tutupan hutan ke bentuk tutupan lain seperti pertanian, pemukiman, dan lainnya. Konversi hutan alam menjadi hutan tanaman atau penebangan hutan di bawah Protokol Kyoto tidak masuk ke dalam kategori deforestasi.

Konversi secara permanen dari lahan berhutan menjadi bukan hutan di negara sedang berkembang berpengaruh nyata terhadap peningkatan akumulasi gas rumah kaca di atmosfir. Jika emisi karbon dioksida CO2 ditambah dengan emisi metana (CH4), nitrous oksida (N2O), dan gas-gas lainnya, maka emisi tahunan yang berasal dari deforestasi hutan tropika pada dekade 1990-an sebesar 15-25% dari total emisi GRK antropogenik (Brown 1997). Konversi hutan menyumbang sekitar 20% emisi CO2 tahunan; dan setelah lebih dari 150 tahun kegiatan konversi hutan berlangsung, aktivitas ini diperkirakan berkontribusi sebanyak 30% konsentrasi CO2 atmosfir (IPCC 2001 dalam Dresner et al. 2007).

2.5.3. Degradasi Hutan

Degradasi hutan merujuk kepada penurunan cadangan karbon di dalam hutan akibat aktivitas manusia. Sebagai contoh, degradasi bisa terjadi akibat pemanenan hutan sehingga terjadi penurunan stok karbon yang sifatnya sementara (IFCA 2007). Degradasi hutan merupakan sumber utama emisi gas rumah kaca (GRK). Di hutan Amazon Brasil, degradasi hutan bertanggung jawab terhadap 20% total emisi (Asner et al. 2005 dalam Murdiyarso et al. 2008). Di Afrika, laju degradasi hutan tahunan mendekati 50% dari laju deforestasi tahunan (Lambin et al. 2003 dalam Murdiyarso et al. 2008). Di Indonesia, laju pengurangan luas hutan sebesar 6 % per tahun yang dua pertiganya diakibatkan degradasi hutan dan sepertiganya disebabkan oleh deforestasi (Schoene 2006 dalam Murdiyarso et al. 2008).

Beberapa aktivitas yang menyebabkan terjadinya degradasi hutan di hutan tropis adalah:

1. Tebang pilih (selective logging) baik legal maupun illegal, yang ditandainya adanya rumpang (gaps), jaringan jalan (jalan sarad dan jalan angkutan), TPn, dan TPK.

2. Kebakaran hutan yang secara langsung akan mengurangi simpanan karbon hutan (carbon stock). Besar kecilnya dampak kebakaran terhadap simpanan karbon sangat tergantung kepada intensitas dan luas areal hutan yang terbakar.

3. Eksploitasi berlebihan terhadap hasil hutan non-kayu dan kayu bakar yang biasanya akan diikuti oleh aktivitas penggembalaan. Hal tersebut akan menghambat regenerasi permudaan alam. Situasi ini umumnya berlangsung di kawasan hutan tropika kering.

4. Invasi jenis tumbuhan asing atau eksotik (alien or exotic species invation) ke dalam areal hutan terdegradasi yang akan menghambat pertumbuhan hutan secara alami. Tumbuhan eksotik yang memiliki kemampuan mengganti jenis tumbuhan asli dan mudah berkembang biak tersebut akan mempercepat proses degradasi hutan baik secara alami ataupun dengan campur tangan manusia (GOFC-GOLD 2009).

5. Pembuatan arang, penggembalaan, dan perladangan berpindah (GOFC-GOLD, 2008 dalam Murdiyarso et al. 2008).