• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil analisis pragmatik terhadap kartun editorial “Bang One” pada program berita TV One seperti yang telah dijelaskan pada bab IV maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Konteks yang melatarbelakangi kartun editorial Bang One cenderung berkembang. Konteks peristiwa komunikasi kartun editorial Bang One berperan sebagai esensi utama yang digunakan untuk menunjukkan bentuk tak terujar, sehingga akan memperjelas maksud tuturan. Selanjutnya, konteks tujuan dalam kartun editorial Bang One secara keseluruhan dipengaruhi oleh pemberitaan yang sedang marak di media. Konteks perilaku dari para peran dalam peristiwa komunikasi dalam kartun editorial sebagian besar mengandung tema sosial. Selanjutnya, secara umum Konteks media/ saluran komunikasi yang digunakan partisipan (tokoh) dalam kartun editorial Bang One berinteraksi dengan bersemuka antara satu sama lain, sedangkan komunikasi tak langsung dilakukan tanpa adanya tokoh partisipan sehingga dikondisikan bahwa yang diajak berkomunikasi adalah pemirsa yang menyaksikan tayangan kartun editorial tersebut.

2. Praanggapan yang paling sering muncul dalam kartun editorial Bang One adalah praanggapan faktif, hal ini disebabkan karena informasi yang ditampilkan dalam kartun editorial Bang One merupakan informasi yang marak diberitakan oleh media, sehingga masyarakat akan cenderung tahu bahwa apa yang disampaikan adalah kebenaran. Selain itu daya kemustahilan praanggapan tersebut tidak dapat dijelaskan dengan perlakuan semantik apapun karena pengertian tersebut didasarkan pada kondisi faktual.

3. Implikatur yang digunakan dalam kartun editorial Bang One adalah implikatur konvensional dan implikatur konversasional. Implikatur konvensional dalam kartun editorial Bang One menggunakan konteks logika sebagai landasan untuk memahaminya. Implikatur tersebut sebagian besar timbul dari komentar Bang One yang berusaha mengkomunikasikan makna

commit to user

yang bersifat ironis, metaforis, dan sebagainya. Sedangkan implikatur konversasional yang digunakan dalam kartun editorial Bang One digunakan (implikasi) agar pernyataan yang disampaikan itu lebih santun dan ringan. 4. Penyimpangan prinsip kerjasama yang dilakukan dalam kartun editorial Bang

One bertujuan untuk mengolah pengalihan dari topik yang diulas ke bentuk lain (ekspresi visual) untuk memperkaya komentar. Penyimpangan terhadap maksim kuantitas cukup sering dilakukan ini sengaja dilakukan untuk mendapatkan nilai kelucuan dan memberi pesan khusus kepada pemirsa, sedangkan penyimpangan terhadap maksim kualitas sangat sedikit karena kartun editorial Bang One memiliki konteks yang jelas dalam tiap judulnya dan minimnya peristiwa tanya jawab antartokoh dalam kartun editorial tersebut. Bentuk penyimpangan terhadap maksim relevansi juga ditemukan, hal ini dikarenakan secara tersurat (eksplisit) respons yang diberikan tidak terlihat relevansinya dengan pokok pembicaraan, karena sudah ada latar belakang pengetahuan (background knowledge) yang sama antara penutur dan lawan tutur maka komunikasi masih tetap bisa berjalan.

B. Implikasi

Secara umum Konteks media/ saluran komunikasi yang digunakan partisipan (tokoh) dalam kartun editorial Bang One berinteraksi dengan bersemuka antara satu sama lain, sedangkan komunikasi tak langsung dilakukan tanpa adanya tokoh partisipan sehingga dikondisikan bahwa yang diajak berkomunikasi adalah pemirsa yang menyaksikan tayangan kartun editorial tersebut, hal ini dimaksudkan agar pemirsa ikut berpartisipasi dalam menyikapi pemberitaan yang diangkat dalam kartun editorial tersebut. Namun yang demikian justru sering menimbulkan tanda tanya bagi pemirsa, karena komentar dan sikap Bang One tidak mampu dipahami oleh pemirsa yang tidak memiliki pemahaman terhadap konteks.

Televisi merupakan media elektronik yang jamak dimiliki oleh setiap keluarga. Pemirsa televisi berasal dari berbagai lapisan masyaraka dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang berbeda-beda. Tidak semua pemirsa dapat memahami implikatur yang digunakan dalam kartun editorial tersebut, hal ini

commit to user

akan menimbulkan kesulitan untuk memahami maksud redaktur, sebaiknya redaktur diharapkan tidak terlalu sering menggunakan istilah-istilah rumit dan memberikan penjelasan untuk singkatan yang kurang familiar, agar berimplikasi sesuai tujuan.

Selanjutnya, tayangan yang terbuka dan berimbang seharusnya melahirkan keberagaman tidak hanya sebagai sarana kritik, kartun editorial Bang One diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam sosialisasi bahasa yang baik, benar, dan informatif. Sebagai salah satu tayangan yang menarik yang dapat diakses oleh seluruh pemirsa televisi, penggunaan konteks dan penyimpangan terhadap prinsip kerja sama bisa digunakan sebagai bahan pembelajaran Bahasa Indonesia, khususnya siswa kelas Menengah. Kartun editorial yang tidak hanya menghibur tapi juga cerdas dan aktual dapat digunakan oleh guru untuk melatih siswa untuk memahaminya, kemudian menanggapi (memberikan kritik dan memberikan persetujuan) dalam bentuk lisan (berbicara) maupun tulisan (menulis) dalam berbagai bentuk paragraf (naratif, deskriptif,ekspositif).

Penggunaan kartun editorial Kabar Bang One sebagai media dan bahan pembelajaran memiliki kesesuaian dengan KTSP khususnya kelas X, dalam hal ini kartun editorial Kabar bang One merupakan produk berita yang dapat digunakan sebagi sumber informasi yang dipahami oleh siswa berdasarkan konteks untuk kemudian disimpulkan, diungkapkan baik secara lisan maupun tulisan, dan dikritisi (disanggah atau didukung). Secara khusus siswa diharapkan memiliki skemata terhadap pemberitaan yang berkembang untuk dapat memahami kartun editorial tersebut, sehingga akan melibatkan ketrampilan berbahasa mulai dari membaca, menyimak, berbicara hingga menulis. Selain itu, guru diharapkan selektif dalam memilih kartun editorial yang akan digunakan dalam pembelajaran agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, salah satunya adalah ketidakmampuan guru untuk menjelaskan konteks. Dengan ini diharapkan siswa dan guru mampu melakukan curah pikir bahasa secara kreatif dan kritis sebagai salah satu upaya untuk mewujudkan pembelajaran bahasa aktif.

commit to user C. Saran

1. Bagi redaktur

Para redaktur diharapkan dapat lebih memperhatikan penggunaan bahasa untuk mengungkap konteks agar tidak provokatif dan tidak terlalu sering menggunakan istilah-istilah rumit dan memberikan penjelasan untuk singkatan yang kurang familiar, agar berimplikasi sesuai tujuan.

2. Bagi pengajar bahasa Indonesia

Para guru atau pengajar bahasa Indonesia sekolah menengah diharapkan dapat membantu mengarahkan dan membekali siswa dengan pengetahuan bahasa yang luas, khususnya pragmatik dalam jurnalistik.

3. Bagi peneliti lain

Penelitian mengenai analisis pragmatik dalam kartun editorial Bang One pada program berita TV One ini hanya difokuskan pada analisis konteks, praanggapan, implikatur dan penyimpangan prinsip kerja sama. Penulis mengharapkan kiranya peneliti lain dapat mengembangkan penelitian yang serupa dengan pembahasan yang lebih berkembang.