• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENEMUAN DAN ANALISIS DATA

4.4 Sistem Kekeluargaan

Menurut Koentjaraningrat (dalam Saad 2009: 105), untuk mengetahui lebih lanjut mengenai sistem persaudaraan harus merujuk kepada tiga aspek: (1) unit keluarga merujuk pada lingkaran hubungan keluarga; (2) prinsip yang menentukan pilihan untuk mengambil bagian dalam pengertian prinsip keturunan dan (3) perkawinan adat yang menentukan komposisi

Kecamatan Pantai labu Kabupaten Deli Serdang Wilayah Sumatra Utara bersumber dari ajaran Islam menyebabkan banyak persamaan antara keduanya. Walau bagaimanapun, kebiasaan pemujaan terhadap selain Allah Swt., masih dilakukan oleh masyarakat Melayu Kampung Bagan Serdang kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang Wilayah Sumatra Utara. Namun, mereka lebih mempercayai kekuatan yang besar hanya pada Allah Swt. Mereka menganggap ritual tolak bala merupakan sebagian dari budaya leluhur dan oleh karena itu, budaya dan agama memiliki ruang masing-masing dan berjalan seiringan.

Untuk mewujudkan interaksi dengan makhluk halus tersebut, masyarakat biasanya meminta pawang yang memiliki kelebihan di luar jangkauan manusia biasa (supernatural) untuk melakukannya. Interaksi tersebut wujudnya dalam bentuk upacara laut seperti perawatan penyakit, jamu laut, dan upacara perkawinan sesuai dengan hajat yang diinginkan. Kepercayaan yang mereka miliki diwariskan oleh nenek moyang terdahulu.

Kaum Melayu Serdang Kampung Bagan Serdang Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang yakin bahwa ada makhluk halus yang bersifat baik dan bersifat jahat. Roh-roh ini berperan mengendalikan dunia mereka. Kebahagiaan, kesedihan, malah suatu penyakit dipengaruhi oleh roh tersebut. Makhluk tersebut mendiami tempat seperti pohon, batu-batuan, atau hewan di air.

Kebiasaan ritual tolak bala ini memiliki nilai yang dapat dijadikan pedoman hidup dalam mengatur hubungan manusia

sehingga menjadi acuan tradisi Kaum Melayu Serdang Kampung Bagan Serdang Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang Wilayah Sumatra Utara. Tradisi ini merupakan sesuatu yang sukar untuk diubah karena sudah sejati dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, tradisi terbentuk menjadi norma yang sudah ditetapkan dalam kehidupan masyarakat (Ghazali, 2011: 33).

Hubungan antara budaya dan agama dalam konteks agama dilihat sebagai kenyataan dan fakta sosial yang menjadi sumber nilai, sosial, dan budaya. Agama dan kepercayaan lain seringkali bertepatan dengan budaya. Agama bukan saja didekati oleh doktrin atau institusinya, tetapi juga didekati melalui sistem sosial, antara realitas sosial, dan yang lain. Seiring dengan pendapat Parsons (dalam Ghazali, 2011: 33), Agama adalah komitmen untuk menjaga, agama bukan semata-mata kepercayaan, tetapi suatu perawatan atau kebiasaan (amalan).

Sebagai realitas sosial, agama, dan bentuk hidup di zaman masyarakat.

4.4 Sistem Kekeluargaan

Menurut Koentjaraningrat (dalam Saad 2009: 105), untuk mengetahui lebih lanjut mengenai sistem persaudaraan harus merujuk kepada tiga aspek: (1) unit keluarga merujuk pada lingkaran hubungan keluarga; (2) prinsip yang menentukan pilihan untuk mengambil bagian dalam pengertian prinsip keturunan dan (3) perkawinan adat yang menentukan komposisi

kakak yang tinggal di suatu lingkungan tertentu (prinsip tempat tinggal).

Menurut Chony ( dalam di Imron (2005: 27) Sistem kekeluargaan dijelaskan bukan saja karena ikatan perkawinan atau hubungan keluarga, tetapi karena hubungan darah. Di samping itu, Chony juga mengemukakan bahwa kunci pada sistem perkawinan adalah sekumpulan keturunan. Silsilah keturunan dikaitkan karena mereka mempunyai nenek moyang yang sama.

Ketiga-tiga pandangan tersebut dapat membantu pemahaman yang lebih jelas tentang unit kekeluargaan sebagai kesadaran bersama yang memiliki aturan kehidupan yang suci dan mulia bagi Kaum Melayu Serdang Kecamatan Pantai Labu. Dilihat dari sudut rangers of kinship affiliation, Kaum Melayu Serdang Kampung Bagan Serdang Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang tergolong dalam sistem kekeluargaan yang berdasarkan garis keturunan ayah dan ibu (bilateral) karena tidak bersifat selektif dalam urusan batas lingkungan tempat tinggal saja.

Begitu juga dari sudut principles of descent, kaum Melayu Serdang Kampung Bagan Serdang Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang tergolong dalam golongan bilineal karena mereka mengambil sejumlah hak dan kewajiban harta benda untuki keturunan lelaki dan perempuan. Misalnya peralatan nelayan dan mantra-mantra penangkapan ikan diturunkan kepada

anak lelaki, sedangkan rumah beserta segala isinya diwariskan kepada anak perempuan. Jika dinilai berdasarkan nilai harta yang diwariskan, perempuan memperolehi nilai harta yang lebih rsedikit dibandingkan anak lelaki.

Dalam principles of residence, masyarakat kaum Melayu Serdang Kecamatan Pantai Labu mengamalkan prinsip uxorilocal, karena pasangan pengantin diharapkan tinggal berdekatan dengan keluarga isteri namun diberi kebebasan untuk menentukan tempat tinggalnya. Walau bagaimanapun, tidak dapat dihindari pada awalnya mereka seolah-olah membebankan keluarga perempuan. Dari segi ikatan perkawinan, kaum Melayu Serdang Kampung Bagan Serdang kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang menjalankan kedua-dua ajaran Islam dan juga aturan-aturan adat.

Sebagai gambaran perspektif yang berorientasi kolektif, sistem kekeluargaan kaum Melayu Serdang Kampung Bagan Serdang Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang mencakup keluarga terasa satu keluarga induk (Nucleus Family) dan keluarga besar (Extended Family). Sesungguhnya pada masa lalu mereka tidak mengenali rumpun keluarga yang berbentuk keluarga inti karena dalam satu keluarga besar terdapat beberapa orang anggota rumah tangga yang sudah menikah dan tinggal bersama.

Interaksi antara anggota keluarga inti berlandaskan

kakak yang tinggal di suatu lingkungan tertentu (prinsip tempat tinggal).

Menurut Chony ( dalam di Imron (2005: 27) Sistem kekeluargaan dijelaskan bukan saja karena ikatan perkawinan atau hubungan keluarga, tetapi karena hubungan darah. Di samping itu, Chony juga mengemukakan bahwa kunci pada sistem perkawinan adalah sekumpulan keturunan. Silsilah keturunan dikaitkan karena mereka mempunyai nenek moyang yang sama.

Ketiga-tiga pandangan tersebut dapat membantu pemahaman yang lebih jelas tentang unit kekeluargaan sebagai kesadaran bersama yang memiliki aturan kehidupan yang suci dan mulia bagi Kaum Melayu Serdang Kecamatan Pantai Labu. Dilihat dari sudut rangers of kinship affiliation, Kaum Melayu Serdang Kampung Bagan Serdang Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang tergolong dalam sistem kekeluargaan yang berdasarkan garis keturunan ayah dan ibu (bilateral) karena tidak bersifat selektif dalam urusan batas lingkungan tempat tinggal saja.

Begitu juga dari sudut principles of descent, kaum Melayu Serdang Kampung Bagan Serdang Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang tergolong dalam golongan bilineal karena mereka mengambil sejumlah hak dan kewajiban harta benda untuki keturunan lelaki dan perempuan. Misalnya peralatan nelayan dan mantra-mantra penangkapan ikan diturunkan kepada

anak lelaki, sedangkan rumah beserta segala isinya diwariskan kepada anak perempuan. Jika dinilai berdasarkan nilai harta yang diwariskan, perempuan memperolehi nilai harta yang lebih rsedikit dibandingkan anak lelaki.

Dalam principles of residence, masyarakat kaum Melayu Serdang Kecamatan Pantai Labu mengamalkan prinsip uxorilocal, karena pasangan pengantin diharapkan tinggal berdekatan dengan keluarga isteri namun diberi kebebasan untuk menentukan tempat tinggalnya. Walau bagaimanapun, tidak dapat dihindari pada awalnya mereka seolah-olah membebankan keluarga perempuan. Dari segi ikatan perkawinan, kaum Melayu Serdang Kampung Bagan Serdang kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang menjalankan kedua-dua ajaran Islam dan juga aturan-aturan adat.

Sebagai gambaran perspektif yang berorientasi kolektif, sistem kekeluargaan kaum Melayu Serdang Kampung Bagan Serdang Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang mencakup keluarga terasa satu keluarga induk (Nucleus Family) dan keluarga besar (Extended Family). Sesungguhnya pada masa lalu mereka tidak mengenali rumpun keluarga yang berbentuk keluarga inti karena dalam satu keluarga besar terdapat beberapa orang anggota rumah tangga yang sudah menikah dan tinggal bersama.

Interaksi antara anggota keluarga inti berlandaskan

peraturan/norma adat yang berkaitan dengan tradisi budaya Melayu. Lelaki dan wanita sama-sama memainkan peranan aktif dalam kegiatan ritual melaut dan usaha pemeliharaan tradisi ritual tolak bala tidak mengenal kelompok umur dan jenis kelamin. Siap saja dapat mempelajarinya, namun bukan sebarangan orang boleh menguasai ilmu ata keahlian dalam perawatan melalui ritual tolak bala karena ilmu ini merupakan sebuah ilham pada diri seseorang yang masih memiliki keturunan pewarisnya.

4.5 Ritual Tolak Bala dalam Fahaman Animisme dan