• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.7 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan karya akhir ini adalah sebagai berikut:

BAB 1: Pendahuluan

Pada bagian ini berisikan latar belakang masalah, identifikasi masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, batasan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan. Selanjutnya bagian latar belakang, akan dilanjutkan kepada bagian identifikasi masalah yang membahas secara lebih rinci mengapa penelitian ini perlu dilakukan dan sampai dapat diformulakan sebuah research question yang akan dijawab melalui penelitian ini. Sedangkan bagian batasan penelitian akan membahas hal apa saja yang mejadi batasan dalam melakukan penulisan, dan bagian manfaat penulisan akan membahas manfaat penulisan dari sudut pandang penulis, ilmu pengetahuan, dan PNJ.

BAB 2: Tinjauan Pustaka

Berisi tinjauan pustaka yang digunakan dalam pengerjaan penelitian. Tinjauan Pustaka yang akan diuraikan akan mencakup bahasan tentang pemahaman bagaimana konsep Knowledge Management, Knowledge Management System,

Soft System Metodology, Ecology of Knowledge Management, UML, lingkup penelitian secara umum, dan tinjauan terhadap penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya. Pada bagian tinjauan terhadap penelitian juga akan dibahas perbedaan apa yang membedakan antara penelitian yang sudah dilakukan dan penelitian yang saat ini dilakukan. Pada akhir dari bab 2 ini, akan dibahas kerangka pikir penelitian yang akan dilakukan.

BAB 3: Metodologi Penelitian

Pada bab ini, secara khusus membahas tentang metode pengumpulan data sekunder, identifikasi permasalahan, pengumpulan data primer, analisa dan interpretasi data, perancangan KMS, dan prototipe yang akan dibangun. Bab ini juga akan membahas metode apa yang digunakan untuk mendapatkan data sekunder dan primer serta akan dibahas perbedaan antara kedua jenis data tersebut. Bagian perancangan KMS akan membahas hal-hal apa saja yang akan dibangun dalam perancangan ini, sedangkan untuk bagian prototipe akan dijelaskan jenis prototipe yang akan dihasilkan.

BAB 4: Profil Organisasi

Memberikan gambaran tentang profil organisasi PNJ mulai dari sejarah, struktur organisasi, visi dan misi, rencana strategis, organisasi pengelola penelitian di PNJ, serta gambaran tentang penelitian yang sedang dilakukan oleh PNJ. Bab ini secara lebih khusus akan membahas kondisi penelitian saat ini yang sedang dilakukan PNJ. Hal ini juga termasuk uraian tentang jenis penelitian, prosedur, dan pengelolaan terhadap penelitian yang dijalankan.

BAB 5: Pembahasan

Berisikan tentang proses identifikasi terhadap proses bisnis penelitian di PNJ yang diuraikan kedalam tujuh langkah Soft System Methodologi. Output dari SSM ini yaitu sebuah model konseptual tentang sistem aktivitas manusia yang sudah dilakukan validasi terhadap dunia nyata. Sistem aktivitas manusia tersebut akan ditransformasi kedalam SECI model sehingga menghasilkan sebuah fitur bagi KMS. Pada bagian lain akan dilakukan identifikasi terhadap kebutuhan KM yang kemudian di klasifikasikan kedalam model Ecology of Knowledge Management.

Output dari Ecology of Knowledge Management juga merupakan fitur bagi

pengembangan KMS sehingga hasilnya akan dipadukan dengan fitur dari konseptual model dari SSM. Masing-masing dari fitur KMS tersebut akan di petakan kedalam UML dengan menggunakan diagram use case dan activity diagram. Infrastruktur TI dan desain user interface juga merupakan cakupan dalam perancangan KMS. Hasil dari perancangan KMS akan dilakukan konfirmasi dan persetujuan dengan pihak PNJ sekaligus untuk mendapatkan umpan balik atas sistem yang di bangun.

BAB 6: Kesimpulan dan Saran

Merupakan bagian penutup yang berisikan kesimpulan dan saran terhadap subtansi penelitian. Kesimpulan akan menguraikan bagaimana karya akhir ini dapat memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi penelitian di PNJ, sedangkan bagian saran akan di tuliskan hal-hal yang perlu dilakukan sebagai langkah perbaikan atas penelitian yang sudah dilakukan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pada Bab II ini mengulas tentang berbagai tinjauan pustaka yang digunakan sebagai dasar dalam melakukan penelitian karya akhir. Tinjauan pustaka diambil dari berbagai sumber dengan tetap mencantumkan nama identitas sumber tersebut.

2.1 Penelitian

Secara etimologi penelitian atau riset merupakan serapan dari bahasa Inggris yaitu research yang secara harfiah diartikan sebagai mencari kembali. Penelitian tidak lain dari suatu metode studi yang dilakukan seseorang melalui penyelidikan yang hati-hati dan sempurna terhadap suatu masalah, sehingga diperoleh pemecahan masalah yang tepat terhadap masalah tersebut (Hillway, 1956). Dipahami juga bahwa penelitian disamping untuk memperoleh kebenaran, kerja menyelidiki harus pula dilakukan secara sungguh-sungguh dalam jangka waktu yang lama (Whitney, 1960). Dengan demikian penelitian merupakan suatu metode untuk menemukan kebenaran sehingga penelitian juga merupakan metode berfikir secara kritis.

Kegiatan riset dimulai dengan tahapan perumusan permasalahan dan diakhiri dengan kegiatan interpretasi arti dari data untuk menjawab permasalahan awal.

Namun setelah melakukan kegiatan interpertasi dari data, kegiatan riset tidak berhenti sampai disitu, kegiatan riset berlanjut untuk kegiatan penyempurnaan, sehingga siklus riset ini tidak akan pernah berakhir. Siklus riset dapat dilukiskan melalui gambar berikut:

Gambar 2.1 Siklus Riset (Leedy, 1993)

Untuk memulai suatu penelitian, peneliti harus terlebih dahulu menemukan permasalahan yang ingin dipecahkan. Beberapa hal yang membantu penemuan tersebut adalah: membaca artikel jurnal-jurnal ilmiah pada bidang yang diminati.

Dengan membaca beberapa artikel jurnal yang memuat permasalahan dan pemecahannya diharapkan ada stimulasi dari pembacaan tersebut untuk menimbulkan ide-ide lain yang layak untuk diteliti.

Menurut Nazir (2005:26) dalam bukunya yang berjudul Metode Penelitian, berdasarkan inti riset sebagai penelitian, maka penelitian dapat dibedakan menjadi dua yaitu:

1. Penelitian dasar atau penelitian murni adalah pencarian terhadap sesuatu karena ada perhatian dan keingintahuan terhadap hasil suatu aktivitas.

2. Penelitian terapan (applied research, practical research) adalah penyelidikan yang hati-hati, sistematik dan terus menerus terhadap suatu masalah dengan tujuan untuk digunakan dengan segera untuk keperluan tertentu.

Secara Umum, penelitian yang dilakukan oleh PNJ merupakan penelitian yang berbasiskan Penelitian terapan (applied research). Berbeda dengan penelitian dasar, pada penelitian terapan, manfaat dari hasil penelitian dapat segera dirasakan oleh berbagai kalangan, dimana dalam hal ini yang menjadi mitra utama yang memanfaatkan hasil penelitian dari PNJ adalah khususnya dunia industri dan masyarakat pedesaan. Penelitian terapan biasanya dilakukan untuk memecahkan masalah yang ada sehingga hasil penelitian harus segera dapat diaplikasikan (Bambang dan Lina, 2005). Hasil penelitian tidak perlu sebagai satu penemuan baru, tetapi merupakan aplikasi baru dari penelitian yang telah ada. Peneliti yang mengerjakan penelitian dasar atau penelitian murni tidak mengharapkan hasil penelitiannya digunakan secara praktikal. Para peneliti terapanlah yang akan merinci penemuan penelitian dasar untuk keperluan praktis dalam bidang-bidang tertentu. Tiap ilmuwan yang mengerjakan penelitian terapan mempunyai keinginan agar dengan segera hasil penelitiannya dapat digunakan masyarakat dalam berbagai bidang (Nazir, 2005).

Contoh penelitian terapan misalnya yaitu penelitian pemaanfaatan mikrohidro sebagai pembangkit listrik pedesaan untuk daerah pegunungan. Hasil penelitian ini yaitu dihasilkan sebuah prototipe dari sebuah mikrohidro yang mampu dikembangkan dan diproduksi secara masal untuk kebutuhan masyarakat pedesaan.

Manfaat dari penelitian terapan adalah sebagai penyelesaian masalah yang terjadi ditengah masyarakat. Konsep yang digunakan dalam penelitian terapan juga cenderung bersifat operasional, dan bukan sebuah konsep yang abstrak. Bahkan secara extreme dikatakan bahwa penelitian terapan cenderung tidak (atau mengabaikan) menggunakan teori dalam penyusunan rancangan penelitian.

Penelitian terapan ini juga seringkali diidentikkan dengan penelitian yang mengggunakan sponsor. Cenderung demikian namun bukan berarti bahwa setiap penelitian terapan adalah penelitian yang menggunakan sponsor (Bambang dan Lina, 2005).

Penelitian terapan masih sering dikelompokkan lagi ke dalam penelitian aksi atau lebih dikenal dengan action research, yaitu penelitian terapan yang berfokus pada

tindakan sosial seperti masalah perilaku menyimpang atau juga penelitian tentang kenakalan remaja. Atau penelitian yang melibatkan hubungan antar manusia sebuah sebuah objek (Nazir, 2005).

2.2 SSM Sebagai Sistem Aktivitas Manusia

Checkland (2000) mengatakan bahwa dalam menganalisa aktivitas manusia, peneliti tidak bisa memisahkan secara jelas antara praktek dan teori. Ide yang ada didalam pikiran manusia membuatnya mengalami berbagai pengalaman dalam dunia sosial mereka, dan sebaliknya pengalaman yang ada di dunia sosial itu akan menjadi sumber ide baru.

Metode ilmu pengetahuan individu menyadari dunia sosial mereka dengan menyaringnya terlebih dahulu melalui ide yang ada di dalam diri individu.

Dengan kata lain dunia secara terus menerus mengintepretasi dan diintepretasi oleh individu yang hidup di dalamnya atau yang lebih jauh oleh Checkland dikatakan sebagai heurmenetics circle. Hubungan antara dunia sosial dan individu ditunjukkan oleh gambar di bawah ini:

Gambar 2.2 Hubungan Antara Dunia Sosial dan Individu (Checkland 1990:21)

Metode ilmu pengetahuan yang telah berkembang berhasil membantu menjadi alat perkembangan peradaban manusia. Tetapi, metode ilmu pengetahuan ini memiliki keterbatasan dalam menghadapi dan memahami kompleksitas (complexity) fenomena kemasyarakatan dan sosial. Munculnya paradigma serba sistem sebagai paradigma alternatif di dalam ilmu pengetahuan merupakan ilustrasi keterbatasan ilmu pengetahuan dalam mengatasi properti kompleksitas yang muncul.

Fenomena properti kompleksitas yang muncul itulah yang dikenal dengan fenomena serba sistem. Fenomena serba sistem ini berkaitan dengan fenomena

keseluruhan (wholes) dan paradigma berfikir serba sistem (systems thinking) inilah yang berkembang di berbagai disiplin ilmu memilki paradigma inti, yaitu paradigma yang berkaitan dengan kemunculan secara keseluruhan (emergence) dan hierarki (hierarchy), serta komunikasi (communacation) dan control (control).

Menilik sebuah fenomena sosial dengan pemikiran sistem merupakan salah satu pendekatan tersendiri dalam penelitian sosial. Action Research (AR) merupakan sebuah jenis penelitian yang sangat dekat kaitannya dengan pendekatan sistem.

AR ini merupakan penelitian yang memfasilitasi sebuah siklus “learning by doing” dimana peneliti bertindak melakukan intervensi pada kondisi yang disebut oleh Checkland sebagai problematik. Maka dari itu AR berusaha untuk memperoleh experience-based knowledge yang dapat diaplikasikan pada situasi nyata melalui praktek-praktek yang dilakukan oleh peneliti. Peneliti dalam hal ini mengambil posisi sebagai subjek yang memperbaiki situasi nyata (real situation) (Uchiyama 2009: 1-2).

Checkland (1990) menjelaskan dalam bukunya yaitu ketika peneliti Lancaster mencoba untuk menggunakan metodologi system engineering untuk situasi bermasalah ill-defined, mereka mengalami kesulitan dalam menjawab “apa itu sistem?” dan “apa tujuan dari sistem tersebut?”. Para peneliti tersebut mengatakan bahwa situasi ill-defined itu tujuannya tidak jelas dan apa yang harus dilakukan serta bagaimana cara melakukannya bersifat problematik (Checkland and Scholes 1990:24). Berdasarkan kondisi seperti ini maka Checkland mengatakan ada satu karakteristik untuk kondisi situasi yang problematik ini.

Karakteristik tersebut adalah kondisi tersebut diwarnai dengan individu dengan berbagai perannya mencoba melakukan purposeful action. Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh individu dan kelompok dengan peran tertentu ini sebenarnya berusaha untuk membuat real-world yang penuh dengan situasi-situasi problematik itu menjadi lebih baik situasinya. Dengan demikian muncullah pertanyaan-pertanyaan, jika memang demikian mengapa tiap komponen tersebut tidak duduk bersama membangun ide dan menciptakan sebuah tindakan purposeful untuk whole -- menjadi bagian dari holon (complete in all its parts)

tertentu. Pertanyaan inilah kemudian menjadi dasar melahirkan cara analisa fenomena yang disebut Soft Systems Methodology (SSM).

SSM adalah metodologi yang berdasarkan atas system thinking dan system concept yang berhubungan dengan human activity system (serba sistem aktivitas manusia), dimana mendasarkan pada pemikiran bahwa sebuah entitas keseluruhan yang pada kondisi tertentu mempertahankan identiasnya, sehingga dengan konsep ini dapat dipahami bahwa jagat raya merupakan hirarki keseluruhan yang saling berinterkoneksi dan berinterelasi (Hardjosoekarto, 2012). Pengembangan konsep serba sistem aktivitas manusia pada mulanya dimaksudkan untuk menerapkan salah satu versi berfikir serba sistem keras. Namun, para pihak yang berkepentingan didalam situasi dunia nyata merasa memiliki masalah dan ingin menemukan jawaban terkait apa, mengapa, dan bagaimana cara berfikir serba sistem keras justru tidak memadai. Arahnya kemudian berkembang kepada bagaimana mengembangkan metodologi serba sistem yang dapat mengatasi masalah yang tidak dapat begitu saja diformulasikan dengan cara berfikir serba hard systems. Disamping itu, upaya ini juga dimaksudkan untuk memperkaya konsep serba sistem aktivitas manusia itu sendiri supaya serba sistem sosial dari dunia nyata dapat dipahami dengan lebih baik. Secara ringkas, Checkland dan Poulter (2005) mengemukakan pengertian SSM adalah sebagai berikut :

“SSM adalah proses mencari tahu yang berorientasi aksi atas situasi problematis dari kehidupan dunia nyata sehari-hari, para pengguna SSM melakukan pembelajaran yang dimulai dari menemu kenali situasi sampai merumuskan dan atau mengambil tindakan guna memperbaiki situasi problematis tersebut. Proses pembelajaran terjadi melalui proses yang terorganisir dimana situasi dunia nyata dieksplorasi, dengan menggunakan alat intelektual-yang memungkinkan terjadinya diskusi yang terarah-yang disebut sejumlah model aktivitas yang punya maksud yang dibangun berdasarkan sejumlah sudut pandang (world view) yang murni”

Terkait dengan unit analisa penelitian ini yaitu organisasi pendidikan, di dalam organisasi tersebut terdapat berbagai aktivitas individu dan kelompok yang memiliki tujuan-tujuan tertentu. Masing-masing individu yang terlibat penelitian

memiliki latar belakang tujuan yang berbeda. Apapun sifat organisasi, SSM berangkat dari anggapan bahwa individu-individu di dalamnya mengejar aktivitas tujuan (purposeful activity). Mereka mungkin akan mengejar tujuan yang berbeda tetapi mereka tidak bertindak secara acak (Wilson 2001: 9). Kegiatan yang dilakukan oleh individu tersebut bersifat terarah. Kegiatan yang dilakukan individu di dalam organisasi dan juga sebagai representasi organisasi terhadap organisasi lain merupakan gambaran umum dari organisasi tersebut. Ide mengenai sistem erat kaitannya dengan interaksi dari berbagai bagian untuk membentuk sesuatu yang menyeluruh. Sistem itu sendiri terdiri dari berbagai sub-sistem (SS) yang dipengaruhi oleh lingkungan yang terletak di luar daripada sistem itu sendiri.

Gambar 2.3 System Thinking (Checkland and Poulter, 2006)

Oleh karena itu lebih baik untuk melihat definisi dan model yang dihasilkan sebagai konsep yang relevan dengan organisasi yang dapat digunakan dalam berpikir tentang organisasi. Dalam SSM konsep-konsep inilah yang disebut dengan disebut Human Activity System. Seperti yang disebutkan sebelumnya di atas, bahwa aktivitas manusia di dalam organisasi ini kemudian diasumsikan memiliki tujuan, dimana masing-masing tujuan tersebut berbeda (purposeful activity). Kondisi seperti inilah yang kemudian masalah (problem) dapat dikategorikan menjadi hard problem dan soft problem. Menurut Wilson (2001) hard problem dicirikan dengan:

a) Problem dengan mudah dapat didefinisikan;

b) Asumsinya tujuan dan penyelesaian masalah dapat terdefinisi;

c) Peneliti mampu untuk mendefinisikan terlebih dahulu kriteria suksesnya;

d) Berorientasi pada teknologi.

Soft problem itu sendiri dicirikan dengan (1) sulitnya didefinisikan masalah tersebut karena sifatnya yang problem situation (2) komponen sosial, politik dan aktivitas manusia yang tinggi serta (3) terkadang “jahat”( wicked).

Beberapa konsep dasar SSM membantu untuk melakukan beberapa hal yaitu antara lain: (a) mendefinisikan tujuan sistem yang jelas itu; (b) memeriksa konektivitas antara kegiatan; (c) menciptakan ukuran kinerja dan mekanisme untuk mengumpulkan/memantau/kegiatan pengendalian; (d) membangun keputusan untuk pembuatan prosedur; (e) menentukan batas-batas sistem; (f) membangun sumber daya kontrol; (g) klarifikasi sistem dan subsistem yang terletak dalam hirarki tertentu (Graeml 2004:7).

Untuk bisa mendapatkan deskripsi penuh tentang human activity system tersebut, maka peneliti harus mengerjakan 7 tahapan penelitian ini yaitu antara lain adalah sebagai berikut ini :

Gambar 2.4 Tujuh Langkah SSM (Graeml, 2004)

Landasan penafsiran SSM mengarah sangat kuat pada prinsip partisipasi. Proses SSM dapat dibedakan menjadi dua cara berpikir yaitu abstrak dan ideal sistem pemikiran, dan konteks yang spesifik - terkait "dunia nyata" berpikir. Salah satunya adalah aliran logika berbasis penyelidikan. Dikatakan bahwa ini harus tetap berbeda sehingga murni sistem pemikiran dapat dilakukan dengan tujuan untuk mengembangkan model yang ideal untuk diskusi. Ini tidak boleh kacau dalam perkembangan mereka dengan berefleksi dan pencampuran dalam kekacauan dari situasi "dunia nyata". Pengguna berpengalaman SSM akan bergerak dengan mudah antara dunia nyata dan dunia pemikiran sistem abstrak, tetapi akan tetap sadar membuat pergeseran.

1. Problem Situation Considered Problematic

Tahap pertama dari langkah SSM adalah menetapkan situasi yang dianggap problematik. Dalam tahap penetapan ini, hal yang perlu dijawab adalah situasi seperti apa yang dikategorikan undesired. Pada tahap yang pertama ini, peneliti melakukan eksplorasi berbagai data baik dalam bentuk data sekunder maupun juga melalui wawancara mendalam dengan beberapa informan kunci serat gate keeper dari perusahaan tersebut. Masalah berdasarkan pengalaman atau fenomena yang ada pada situasi real-world. Proses mencari tahu sosial dalam SSM berkaitan dengan situasi dunia nyata yang dianggap problematis. Oleh sebab itu, tahap pertama dalam SSM adalah proses penetapan situasi dunia nyata yang dianggap problematis tersebut. Proses pada tahap ini sangat penting karena terkait dengan keputusan oleh siapa pun, baik peneliti maupun pihak-pihak tertentu di dalam organisasi, berkenaan dengan situasi problematis yang mengundang keterpanggilan untuk melakukan suatu tindakan perubahan, perbaikan, atau penyempurnaan atas situasi problematis tersebut.

2. Problem Situation Expressed

Tahap kedua dari metode ini adalah menggambarkan problematic situation dengan lebih terstruktur. Proses membuat permasalahan lebih terstruktur dilakukan dengan cara peneliti membuat Rich Picture (RP). Rich Picture adalah sebuah potret atau gambaran yang berisi proses, struktur, iklim, manusia, isu yang

berkembang serta konflik yang terjadi dari subyek penelitian yang akan kita teliti.

Pembuatan RP ini didukung oleh berbagai data dari wawancara, observasi maupun data sekunder (berbagai aturan di tiap tingkatan) untuk memahami situasi yang sebenarnya (real situation). Peneliti membuat gambaran situasi yang sebenarnya sesuai dengan individu dan kelompok yang terlibat di dalam penelitian tersebut. Tujuan dalam membuat RP adalah untuk menangkap (capture), secara informal, (1) entitas utama, (2) struktur, (3) beberapa titik pandang tentang situasi, (4) proses yang sedang berlangsung, (5) isu yang sedang diteliti dan (6) potensi aktivitas lainnya (Checkland dan Poulter 2006 : 25). Checkland (1999) menjelaskan bahwa informasi yang dikumpulkan dalam rangka pembuatan dan penyajian rich picture meliputi struktur, proses, hubungan antar struktur dan proses tersebut, dan pokok perhatian. Gambar 2.5 di bawah ini merupakan sebuah rich picture yang dibuat dari situasi dimana sebuah sekretariat dari asosiasi pekerja profesional yang yakin bahwa banyak aktivitas dalam organisasi tersebut yang dapat banyak dikomputerisasi.

Gambar 2.5 Rich Picture (Edward, 2004)

Sementara Checkland dan Poulter (2006) menambahkan bahwa rich picture yang baik harus dibuat dengan:

 Mengidentifikasi konsep-konsep atau gagasan-gagasan utama terkait situasi yang sedang dikaji;

 Menggunakan Ikon atau Citra yang menggambarkan gagasan dari praktisi SSM;

 Mengunakan garis penghubung antar konsep dan antar gagasan utama disertai dengan penjelasan singkat bila diperlukan.

Masih terkait dengan pembuatan rich picture, ini juga bahwa dalam rangka memahami situasi dunia nyata, Checkland dan Poulter (2006) menyarankan bahwa pentingnya dilakukannya tiga jenis atau tahap analisis yang dilakukannya dalam rangka memahami situasi dunia nyata, yaitu analisis satu, analisis dua, dan analisis tiga.

 Analisis satu

Analisis Satu merupakan langkah awal dalam pengenalan situasi problematis, pada tahapan ini ditetapkan 3 (tiga) pihak yang berperan penting dalam kaitannya dengan situasi problematis yang menjadi kajian.

Ketiga pihak tersebut yaitu pertama, pihak yang berperan sebagai Klien (Client), yaitu orang atau sekelompok orang yang menyebabkan terjadinya intervensi terkait situasi problematis yang sedang dikaji. Kedua, pihak yang berperan sebagai praktisi (practitioners) yaitu orang atau sekelompok orang yang melakukan kajian dengan menggunakan SSM. Ketiga, yaitu pihak yang berperan sebagai pemilik isu (owners of the issues addressed). Dalam hal ini adalah orang atau sekelompok orang yang berkepentingan atau yang terkena dampak dari situasi atau dampak dari hasil upaya perbaikan atas situasi problematis. Menurut Checkland dan Poulter (2006), yang menjadi penekanan dalam penetapan ketiga pihak yang berkepentingan ini adalah peran (roles), bukan orang atau sekelompok orang yang bersangkutan.

 Analisis dua (Sosial)

Pada tahap keenam dari proses SSM (tahap perumusan usulan langkah tindakan perbaikan, penyempurnaan, dan perubahan situasi dunia nyata) diperlukan dua pertimbangan yaitu argumennya dapat diterima dan secara kultural dimungkinkan. Oleh karena itu jelaslah bahwa pengenalan situasi dunia nyata, khususnya aspek sosialnya sangat penting. Itulah sebabnya, analisis dua berkonsentrasi pada analisis sosial. Maksudnya dengan memahami situasi sosial secara umum, praktisi SSM dapat membuat gambaran yang semakin komprehensif terkait dengan situasi dunia nyata.

Checkland dan Poulter (2006) menyarankan tiga elemen sosial yang menjadi fokus analisis pada tahap analisis dua yaitu elemen peran (roles), norma (norms), dan nilai-nilai (values).

 Analisis tiga (politik)

Relevansi Analisis Tiga atau analisis politik ini juga sama dengan analisis sosial. Dalam SSM sangat diyakini bahwa politik menentukan banyak hal, termasuk dalam memutuskan sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Fokus analisis tiga adalah mempelajari struktur power dalam situasi dan proses yang mengontrolnya bagaimana power dinyatakan didalam sebuah situasi.

3. Root Definition of Relevant Purposeful Activity Systems

Tahap yang ketiga dari SSM ini mengacu kepada pembuatan root definition.

Tahapan ini sudah mulai masuk ke dalam system thinking. Root definition adalah sebuah definisi teks yang singkat tentang tujuan dan cara sebuah sistem akan dimodelkan. Bukanlah real world yang dimodelkan namun sebuah sistem potensial yang bersifat logis dan koheren.

Tahap ketiga dari metode ini adalah pemilihan sistem-sistem yang relevan yang digunakan untuk pembuatan root definition serta CATWOE. Salah satu ciri dari SSM pada tahap ini adalah adanya proses transformasi Input (I) menjadi Output (O) yang diharapkan.

Root definition ditulis berdasarkan semua informasi tentang organisasi tentang organisasi yang telah dikumpulkan, diekplorasi, dan dibahas melalui tahapan

Root definition ditulis berdasarkan semua informasi tentang organisasi tentang organisasi yang telah dikumpulkan, diekplorasi, dan dibahas melalui tahapan