BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.7 UML
Menurut Booch (2005), Unified Modelling Language (UML) merupakan suatu bahasa dan menurut Larman (2005) UML adalah standar notasi diagram untuk menggambarkan atau menyajikan gambar terkait dengan perangkat lunak, terutama yang berbasis objek. UML merupakan bahasa yang digunakan untuk visualisasi, spesifikasi, konstruksi dan dokumentasi. UML adalah sebuah "bahasa"
yg telah menjadi standar dalam industri untuk visualisasi, spesifikasi, konstruksi dan dokumentasi dalam perancangan sistem software. UML menawarkan sebuah standar untuk merancang model sebuah sistem.
UML adalah sebuah modeling language, bukanlah sebuah metode untuk mengembangkan sistem, melainkan hanya berupa notasi yang kemudian pada saat ini diterima dengan luas sebagai bahasa pemodelan object yang standar. Sebagian besar metode, pada prinsinya terdiri dari sebuah modeling language dan sebuah proses. Modeling language adalah notasi (terutama grafikal) yang digunakan metode untuk mengekspresikan rancangan.
Sebagai bagian dalam memodelkan atas aplikasi yang akan dibuat, umumnya pengembang menggunakan UML sebagai media untuk memvisualisasikan ide kepada programmer dan user. Cara ini digunakan untuk menyamakan pemahaman antar stakeholder. Untuk spesifikasi, UML menyediakan model yang tepat/tidak ambigu dan lengkap. UML membuat langkah detail dalam analisis pengambilan keputusan, perancangan dan implementasi pada software sistem (software intensive system). Pada Karya akhir ini akan digunakan dua buah notasi UML yaitu Use Case Diagram dan Activity Diagram.
1. Use Case Diagram
Use case diagram menggambarkan fungsionalitas yang diharapkan dari sebuah sistem. Sebuah use case menggambarkan suatu urutan interaksi antara satu atau lebih aktor dan sistem. Penekanan dalam use case adalah “apa” yang diperbuat sistem, dan bukan “bagaimana”. Sebuah use case merepresentasikan sebuah interaksi antara aktor dengan sistem. Menurut Mathiassen (2000), use case
diagram adalah suatu gambaran interaksi antara system eksternal dan pengguna system dan dengan cara apa pengguna dapat berinteraksi dengan system.
Dalam fase requirements, model use case mengambarkan sistem sebagai sebuah kotak hitam dan interaksi antara aktor dan sistem dalam suatu bentuk naratif, yang terdiri dari input user dan respon-respon sistem. Setiap use case menggambarkan perilaku sejumlah aspek sistem, tanpa mengurangi struktur internalnya. Selama pembuatan model use case secara pararel juga harus ditetapkan obyek-obyek yang terlibat dalam setiap use case.
Menurut Mathiassen (2000), use case specification merupakan keterangan lengkap dari tiap-tiap use case yang ada. Tujuan dari use case specification adalah menyediakan sebuah pandangan application domain yang lengkap mengenai interaksi para actor dengan sistem.
Adapun notasi yang digunakan dalam use case diagram dapat dilihat pada gambar 2.9 berikut ini:
Gambar 2.9 Notasi pada Use Case Diagram (Mathiassen, 2000) 2. Activity Diagram
Diagram lain yang digunakan untuk menggambarkan berbagai alir aktivitas dalam sistem yang sedang dirancang, bagaimana masing-masing alir berawal, decision yang mungkin terjadi, dan bagaimana mereka berakhir disebut dengan Activity
Diagram. Activity diagram juga dapat menggambarkan proses paralel yang mungkin terjadi pada beberapa eksekusi.
Activity diagram merupakan suatu state diagram khusus, di mana sebagian besar state adalah action dan sebagian besar transisi di-trigger oleh selesainya state sebelumnya (internal processing). Dengan demikian activity diagram tidak menggambarkan behaviour internal sebuah sistem (dan interaksi antar subsistem) secara pasti, tetapi lebih menggambarkan proses-proses dan jalur-jalur aktivitas dari tingkat atas secara umum.
Sebuah aktivitas dalam activity diagram dapat direalisasikan oleh satu use case atau lebih. Aktivitas menggambarkan proses yang berjalan, sementara use case menggambarkan bagaimana aktor menggunakan sistem untuk melakukan aktivitas.
Gambar 2.10 Contoh Activity Diagram (Rosi, 2012) 2.8 Tinjauan Penelitian Sebelumnya
Dalam melakukan penulisan terhadap karya akhir, penulis menggunakan tiga buah karya akhir mahasiswa MTI UI sebagai acuan dalam memlakukan pembuatan karya akhir. Karya akhir yang dipilih merupakan karya akhir yang memiliki bidang penelitian dan lingkup penelitian yang sama dengan penulis, dalam hal ini yaitu bidang knowledge management dengan lingkup penelitian yaitu di bidang pendidikan. Adapun karya akhir tersebut adalah sebagai berikut:
2.8.1 Implementasi Knowledge Management System pada Organisasi Pendidikan : Studi Kasus MTI - UI (Dewi, 2007)
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan sebuah model KMS yang sesuai untuk organisasi pendidikan dengan objek penelitian yaitu Magister Teknologi Informasi Universitas Indonesia (MTI UI) dan mengembangkan KMS pada organisasi pendidikan tersebut. Metode penelitian yang digunakan yaitu dengan menggunakan metode KMS dengan basis e-learning yang telah dikembangkan sebelumnya oleh Smith and Hardaker (2000) dan Ratinavelu (2005). Sedangkan metode untuk pengumpulan data yaitu menggunakan wawancara mendalam. Ada dua hal yang dihasilkan dari peneltian ini antara lain yaitu pemetaan terhadap kebutuhan Knowledge Managament pada lingkungan MTI UI serta penilaian terhadap perbandingan software KMS yang sudah ada untuk kemudian dilakukan perbandingan dari sisi teknis dan penyesuaiannya terhadap kebutuhan Knowledge Managament untuk MTI UI. Simpulan karya akhir ini yaitu Alfresco merupakan produk KMS yang sesuai dengan kebutuhan MTI UI saat itu. Setelah dipilih Alfresco maka penulis membuat prototype Sehingga hasil akhir dari yang didapatkan adalah prototipe KMS dengan menggunakan ALFRESCO.
2.8.2 Pengembangan Model Knowledge Management System : Studi Kasus Jurusan Sistem Informasi Universitas Gunadarma (Nurzaman, 2009) Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan Model KMS pada lembaga pendidikan tinggi Jurusan Sistem Informasi Fakultas Ilmu Komputer Universitas Gunadarma. Metodologi penelitian yang digunakan adalah kerangka kerja Model Tiwana, untuk melakukan pemetaan potensi knowledge Organisasi yaitu menggunakan Model Zack, sedangkan untuk pembentukan knowledge menggunakan teori Nonaka dengan Model SECI (Socialization, Externalization, Combination, Internalization). Hasil akhir yang diperoleh yaitu berupa pemetaan terhadap kebutuhan knowledge di jurusan Sistem Informasi Universitas Gunadarma, proses knowledge management yang terjadi berdasarkan kerangka SECI, dan analisa sistem KMS yang kemudian diimplementasikan kepada activity diagram dan use case diagram. Untuk prototipe KMS yang telah disusun dapat dilihat dari bentuk tampilan luarnya.
2.8.3 Implementasi Knowledge Management pada FISIP UI (Gunawan, 2010)
Penelitian ini bertujuan untuk melakukan implementasi knowledge management yang ada pada Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia (FISIP UI).
Metode yang digunakan untuk melakukan analisa dan perancangan terhadap sistem digunakanlah Knowledge Management Roadmap. Knowledge Management Roadmap ini akan membantu pengembangan implementasi KMS, mulai dari membuat sebuah business driven knowledge management strategy, desain, pengembangan dan implementasi knowledge management systems. Hasil yang didapatkan yaitu bahwa pengembangan knowledge management system berbasis web sudah dapat dilakukan karena dukungan infrastruktur di FISIP UI yang sudah memadai. Namun untuk pengembangannya perlu dilakukan analisa terlebih dahulu terhadap beberapa teknik analisa terhadap infrastruktur yang ada, analisa CSF, dan analisa SWOT untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan dari Implementasi knowledge management di FISIP UI.
Untuk lebih jelasnya, penelitian di atas dijabarkan melalui tabel berikut:
Tabel 2.3 Perbandingan Penelitian yang Sudah Dilakukan
Ratinavelu (2005) Nonaka dengan Model SECI
mulai dari membuat sebuah business driven knowledge
management strategy, desain, pengembangan dan implementasi KMS
Tabel 2.3 Perbandingan Penelitian yang Sudah Dilakukan (lanjutan)
2.8.4 Perbandingan dengan Karya Akhir yang Akan Dilakukan
Penulisan karya akhir ini dilakukan pada cakupan kegiatan penelitian yang dilakukan oleh para dosen PNJ. Tujuan dari penulisan karya akhir ini adalah untuk mebuat sebuah rancangan atau prototipe dari sebuah KMS yang sesuai untuk bidang penelitian. Penulisan karya akhir ini menggunakan dua buah sudut pandang dalam menilai kebutuhan sistem yang kemudian akan dituangkan dalam sebuah fitur dari KMS. Sudut pandang terhadap kebutuhan sistem tersebut dituangkan ke dalam sebuah metodologi yaitu Soft System Metodology yang digunakan untuk menilai sistem aktivitas manusia yaitu dari interaksi antar peneliti di PNJ, sedangkan metodologi lain yang digunakan adalah Ecology Of Knowledge Management dimana metodologi ini digunakan untuk menilai secara lebih rinci aset apa saja yang ada pada lingkup penelitian di PNJ yang harus disimpan dan dipelihara untuk kelestarian pengetahuan di PNJ.
2.9 Kerangka Pikir Penelitian
Berdasarkan studi literatur yang sudah dilakukan dan dengan didasarkan atas tinjauan pada penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya, maka penulis merumuskan kerangka pikir penelitian untuk penulisan karya akhir ini yaitu:
Gambar 2.11 Kerangka Pikir Penelitian
Kerangka pikir penulisan karya akhir ini dikerjakan dengan mengadopsi dua Methodologi penelitian yaitu Soft System Methodology (SSM) dan Ecology of
Knowledge Management (Snowden, 1998) dan ditambahkan dengan proses SECI (Nonaka, 1995) pada akhir dari masing-masing proses. Pertimbangan penggunaan SSM yaitu pertimbangan dengan menggunakan perspektif manajerial dan organisasi yang bersifat kompleks dan cenderung berubah-ubah mengikuti perkembangan yang ada. Organisasi dilihat dari sudut proses daripada sudut pandang fungsional semata. Hal ini menimbulkan adanya cara berpikir serba sistem yang merupakan cara berpikir baru sehingga memandang permasalahan sebagai keseluruhan. Proses penelitian ini dilakukan dengan menggunakan model sistem. Pengembangan model sistem tersebut dilakukan dengan penggalian masalah yang tidak terstruktur, mendiskusikan secara intensif dengan pihak terkait dan melakukan penyelesaian masalah secara bersama. Metode SSM tidak membatasi permasalahan pada variabel tertentu saja namun mencoba mengindentifikasikan sebanyak mungkin aspek (variabel) yang berinteraksi di dalam sistem. Dengan demikian pendefinisian permasalahan akan lebih lengkap karena mempertimbangkan banyak aspek dan mampu mengantisipasi kemungkinan perubahan (dinamika) yang akan terjadi. Pada akhirnya solusi yang nantinya akan dirumuskan dapat lebih efektif dan relevan dengan kondisi real organisasi (internal/eksternal). Sedangkan pertimbangan penggunaan Ecology of Knowledge Management yaitu bahwa dengan menggunakan metodologi ini maka semua aset organisasi yang bermanfaat untuk pengembangan pengetahuan akan dinilai dan dikelola secara benar dan lebih sederhana. Disamping itu, metodologi ini tetap mengedepankan menjaga aset tacit yang sudah melekat pada masing-masing individu tidak dimiliki individu tersebut semata, namun juga dapat dikelola organisasi dengan baik. Pada akhir dari tiap tahapan ditambahkan proses SECI yang bertujuan untuk mengetahui proses knowledge management (KM) apa yang digunakan dan untuk mentransformasi menjadi sebuah fitur yang berguna untuk mendukung proses tersebut.
Pada SSM, kegiatan permulaan diawali dengan kegiatan identifikasi terhadap permasalahan seputar kegiatan penelitian di PNJ. Berbagai hasil wawancara dan data awal yang didapatkan akan diolah menjadi sebuah identifikasi terhadap permasalahan penelitian di PNJ. Hasil dari identifikasi permasalahan akan digambarkan dalam bentuk rich picture. Setelah rich picture tersaji secara utuh
maka langkah selanjutnya adalah membuat sebuah analisis CATWOE dan root definition untuk sistem yang akan dibangun. Setelah ketiga langkah tersebut selesai dikerjakan maka dibuatlah sebuah konseptual model berdasarkan root definition yang sudah disusun. Konseptual model tersebut merupakan inovasi dari penulis untuk menyusun sebuah sistem aktivitas manusia dengan mendasarkan pada permasalahan yang terjadi di PNJ. Konseptual model yang dirumuskan tersebut akan divalidasi dengan cara dibandingkan dengan dunia nyata sehingga dihasilkan sebuah konseptual model yang mengakomodir terhadap sistem aktivitas manusia yang sedang berjalan pada lingkup penelitian di PNJ.
Disamping proses SSM tersebut, kegiatan dari metodologi Ecology of Knowledge Management (Snowden, 1998) juga harus dilakukan. Kegiatan permulaan yang harus dilakukan yaitu pemetaan dan klasifikasi terhadap aset yang terdiri dari dokumen, informasi, dan pengetahuan di lingkungan penelitian di PNJ. Untuk kebutuhan pengetahuan yang berhasil diidentifikasi, maka akan dilakukan analisa lebih lanjut yaitu diklasifikasikan kedalam tacit knowledge dan explicit knowledge. Untuk explicit knowledge akan dilakukan indentifikasi ke dalam proses SECI yang kemudian akan diketahui fitur yang mendukung knowledge tersebut. Sedangkan tacit knowledge akan diklarifikasi lebih jauh lagi, apakah pengetahuan tersebut bisa dan haruskah untuk dibuat explicit. Bila kedua kondisi tersebut terpenuhi maka akan dilakukan identifikasi kebutuhan fitur dan penciptaan artefak.
Perpaduan antara konseptual model dan hasil analisis aset adalah berupa fitur dari KMS. Hasil dari fitur tersebut juga dilengkapi dengan analisis terhadap infrastruktur pengetahuan di PNJ sebagai dukungan terhadap pelaksanaan implementasi KMS. Fitur yang dihasilkan merupakan sebuah bahan untuk perancangan KMS dimana pada perancangan ini akan digunakan piranti UML yaitu activity diagram dan use case diagram. Dari kedua diagram tersebut akan dihasilkan sebuah prototipe untuk KMS bidang penelitian di PNJ. Hasil dari KMS tersebut bukan merupakan final draf, karena masih harus diklarifikasi ulang keadaan pihak PNJ. Hasil klarifikasi tersebut merupakan Prototipe final dari KMS untuk kegiatan penelitian di PNJ.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Pada bab ini akan mengulas tentang metodologi penelitian sebagai bahan acuan untuk memperoleh data dan panduan dalam mengolah data tersebut. Pembuatan tahapan metodologi penelitian ini merupakan implementasi dari kerangka pemikiran penelitian yang telah disusun pada bab II.
3.1 Tahapan Penelitian
Ada dua buah metodologi pokok yang akan digunakan pada penulisan karya akhir ini yaitu Soft System Methodology (SSM) dan metode Ecology of Knowledge Management (Snowden, 1998). SSM digunakan untuk mengetahui sistem aktivitas manusia yang terlibat dalam kegiatan penelitian dan saling berpengaruh untuk kegiatan tersebut. Sedangkan metode Ecology of Knowledge Management (Snowden, 1998) akan digunakan untuk pemetaan terhadap aset yang berupa dokumen, informasi, dan knowledge. Aset yang berupa knowledge akan dilakukan analisis lebih lanjut yaitu dengan cara memisahkan jenis knowledge, apakah tacit atau explicit dan melakukan proses transformasi dari tacit knowledge menjadi explicit knowledge.
Hasil analisa dengan menggunakan SSM berupa konseptual model dari sistem aktivitas manusia untuk mendukung pelaksanaan kegiatan penelitian di PNJ yang kemudian dipetakan kedalam proses SECI dan menghasilkan fitur bagi KMS.
Sedangkan keluaran dari metode Ecology of Knowledge Management berupa analisis terhadap masing-masing aset yang kemudian dari aset tersebut dengan menggunakan proses SECI akan menghasilkan fitur KMS. Kombinasi dari kedua keluaran tersebut akan dipadukan sehingga menghasilkan fitur final bagi KMS.
Dari fitur tersebut akan dirubah kedalam use case dan diagram activity untuk knowledge management system (KMS) dengan menggunakan sarana Unified Model Language (UML). Kemudian akhir dari pembuatan karya akhir ini akan dibuat sebuah prototipe KMS bidang penelitian. Adapaun untuk urutan tahapan pembuatan karya akhir ditunjukkan melalui gambar berikut:
Gambar 3.1 Tahapan Pembuatan Karya Akhir 1. Analisis Aktivitas Penelitian PNJ
Kegiatan ini merupakan kegiatan permulaan yang digunakan penulis untuk mengetahui gambaran proses penelitian. Pada tahapan ini juga akan didalami mengenai permasalahan seputar penelitian yang dikelola oleh P3M.
Kegiatan ini antara lain bertujuan untuk memahami jenis, proses dan prosedur penelitian, mengetahui pihak mana saja yang terlibat, kendala apa
saja yang muncul selama penelitian dilakukan, serta mendapatkan gambaran awal mengenai kebutuhan pengetahuan apa saja dibutuhkan untuk melakukan penelitian. Pada tahapan ini, metode yang digunakan untuk observasi yaitu dengan melakukan pengamatan secara langsung terhadap proses administrasi penelitian di P3M, pengamatan terhadap proses penelitian di Lab, dan wawancara tidak terstruktur kepada beberapa responden.
2. Pengumpulan Informasi dan Data
Ada dua jenis data yang digunakan untuk penulisan karya akhir ini yaitu data primer dan data sekunder. Data sekunder diperoleh secara langsung dari pihak P3M dan pihak manajemen PNJ. Sedangkan untuk data primer akan didapatkan melalui wawancara dan Focus Group Discussion (FGD). Metode wawancara digunakan untuk mendapatkan gambaran yang medalam mengenai situasi permasalahan penelitian, mengetahui pandangan masing-masing pihak terkait pemecahan terhadap permasalahan tersebut, dan mengetahui kebutuhan terhadap aset penelitian. Sedangkan FGD digunakan untuk melakukan konfirmasi terhadap hasil penelitian dan prototipe yang dibuat oleh penulis. Adapun responden yang akan digunakan sebagai narasumber untuk penulisan karya akhir ini yaitu :
Tabel 3.1 Responden Karya Akhir
No Responden Metode Materi yang ingin digali 1 Direktur
Bentuk dukungan PNJ terhadap penelitian dosen
2 Ketua P3M Wawancara Proses dan Prosedur penelitian
Permasalahan seputar penelitian 3 Sekretaris
P3M
Wawancara dan FGD
Macam dan Jenis penelitian di
Penilaian terhadap pengajuan proposal
Tabel 3.1 Responden Karya Akhir (lanjutan)
Proses administrasi terhadap penelitian yang masih
Pertanyaan dan keluhan banyak diterima dari dosen peneliti
Pengetahuan yang dibutuhkan pada saat penelitian
Hambatan pada saat melakukan penelitian
Kebutuahan Sarana dan prasaran pendukung untuk penelitian
Proses pencarian pengetahuan yang dibutuhkan pada saat penelitian
Proses pertukaran informasi antar peneliti
Proses penyimpanan
pengetahuan pasca penelitian
Pemanfaatan hasil penelitian
6 Staf TI Infrastruktur TI saat ini
Dukungan Aplikasi yang digunakan untuk proses penelitian
Kesiapan Implementasi KMS
3. Identifikasi Permasalahan
Semua data awal yang sudah diperoleh melalui kegiatan observasi akan digunakan penulis sebagai bahan untuk melakukan identifikasi terhadap
permasalahan seputar penelitian. Identifikasi permasalahan akan mencakup permasalahan seputar administrasi penelitian, proses penelitian, dan hasil penelitian. Dari hasil identifikasi tersebut, akan dilakukan klarifikasi kepada pihak manajemen PNJ mengenai validitasnya. Klarifikasi ini akan dilakukan dengan metode wawancara kepada pihak-pihak terkait. Keluaran dari identifikasi permasalahan ini adalah sebuah gambaran utuh mengenai situasi permasalahan yang terjadi.
4. Gap Analisis
Dari hasil identifikasi permasalahan yang sudah ditemukan, akan disusun sebuah konseptual model untuk kegiatan penelitian. Konseptual model yang disusun berdasarkan kondisi ideal yang ingin dicapai. Dari kondisi ideal tersebut akan dibandingkan dengan kondisi saat ini yang ada. Hasil perbandingan kedua kondisi tersebut akan didapatkan sebuah konseptual model yang berisikan gambaran dan tahapan yang harus dilakukan untuk mencapainya.
5. Konseptual Model dan SECI process
Hasil perbandingan antara kondisi saat ini dengan kondisi yang ingin dicapai akan dilakukan dengan cara konfirmasi kepada pihak yang berkompeten dalam hal ini adalah manajemen PNJ dan dosen yang terlibat penelitian. Bila disetujui, maka hasil perbandingan tersebut akan menjadi sebuah konseptual model untuk sistem aktivitas manusia pada bidang penelitian di PNJ. Bila tidak menyetujui maka penulis akan melakukan proses ulang terhadap pembuatan konseptual model yang ideal dan klarifikasi ulang terhadap kondisi penelitian saat ini. Dari konseptual model tersebut, akan di lakukan mapping kedalam proses SECI sehingga menghasilkan sebuah fitur bagi KMS.
6. Pemetaan Pengetahuan
Pada tahapan ini, penulis akan melakukan pemetaan terhadap data, informasi, dan knowledge yang dibutuhkan untuk meningkatkan kegiatan
penelitian. Pemetaan terhadap data, informasi, dan knowledge akan dilakukan dengan cara observasi dan wawancara. Wawancara akan dilakukan dengan dosen dan staf yang terlibat dalam penelitian. Dari wawancara dan observasi tersebut diharapkan akan diketahui data, informasi, dan knowledge apa yang harus dipelihara, dibagi, dan ditingkatkan pada masing-masing jurusan. Dari knowledge yang berhasil diidentifikasi tersebut, akan dilakukan klasifikasi mana yang termasuk pengetahuan berjenis tacit dan eksplisit.
7. Tranformasi pengetahuan
Pada tahapan ini dilakukan identifkasi terhadap jenis pengetahuan.
Pengetahuan yang telah dikumpulkan akan dilakukan identifikasi apakah berjenis tacit atau explicit. Dukungan terhadap pengetahuan explicit maka diciptakan artefak sebagai proses penyimpanan, sedangkan dukungan untuk pengetahuan tacit yaitu didasarkan atas hasil identifikasi. Apabila hasil dari hasil identifikasi dimungkinkan untuk dilakukan perubahan ke explicit maka akan dirubah ke explicit. Bila tidak bisa, maka akan tetap dibiarkan menjadi tacit namun diberikan dukungan infrastruktur.
8. Penciptaan Kompetensi dan Pengelolaan Pengetahuan
Pengetahuan eksplisit akan mudah diidentifikasi dan diberikan dukungan infrastruktur dengan cara menciptakan sebuah artefak. Namun untuk pengetahuan tacit akan dilakukan identifikasi terhadap orang-orang yang memegang peranan kunci, dan dilakukan klarifikasi terhadap keahlian yang dimiliki. Setelah itu untuk memelihara kemampuan tacit tersebut maka harus didukung dengan penciptaan sebuah infrastruktur yang mendukung terciptanya sebuah komunitas dan memasukkan kedalam strategi perusahaan untuk penciptaan komunitas tersebut.
9. Analisis kebutuhan fitur
Setelah dilakukan pemetaan pengetahuan, penciptaan kompetensi, dan analisa terhadap pengelolaan pengetahuan maka tahapan selanjutnya yaitu
dilakukan analisa kebutuhan fitur baik secara fungsional maupun non fungsional yang digunakan untuk rancangan KMS. Semua yang muncul pada tahapan sebelumnya akan diwakili fiturnya pada bagian ini. Proses KM akan dituangkan kedalam bentuk sebuah sistem yang mampu mengelola proses KM bidang penelitian.
10. Prototipe KMS
Sebagai bahan pembuatan Prototipe KMS adalah analisis fitur yang dihasilkan dari proses SSM dan Ecology of Knowledge Management, serta analisis terhadap dukungan infrastruktur penelitian. Hasil integrasi antara kedua metodologi tersebut akan digabungkan sehingga didapatkan sebuah perancangan KMS. Adapun untuk perancangan KMS ini akan menggunakan tools yang berupa use case diagram dan activity diagram. Use case diagram yang dirancang akan menggambarkan bagaimana kebutuhan dari KMS. Dari use case diagram akan tergambar secara jelas bagaimana interaksi antara actor yang dalam hal ini yaitu orang yang memanfaatkan aplikasi KMS dan sistem dari KMS tersebut. Actor pada use case diagram ini yaitu pengguna dan administrator dari KMS. Dari use case diagram tersebut akan digambarkan dalam sebuah activity diagram yang menggambarkan bagaimana proses aktivitas pada masing-masing modul tersebut.
3.2 Jenis dan Sumber Data Penelitian
Pada penulisan karya akhir ini, ada dua jenis data yang akan digunakan sebagai bahan penulisan. Data tersebut antara lain yaitu:
1. Data Primer
Data Primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan secara langsung
Data Primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan secara langsung