• Tidak ada hasil yang ditemukan

Skala peta

Dalam dokumen BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar belakang (Halaman 78-84)

BASIS DATA

III.3.5. Skala peta

Peta merupakan model miniatur dari permukaan bumi, sehingga besaran suatu jarak di muka bumi harus digambarkan di peta dengan ukuran lebih kecil dengan perbandingan tertentu sesuai tujuan pembuatan peta. Skala peta adalah perbandingan jarak di peta dengan jarak sebenarnya di lapangan (International Cartographic Association, 1973 dalam Maling, 1989). Bila skala adalah S, jarak di peta dp dan jarak sebenarnya di lapangan dL, maka skala peta dihitung dengan persamaan 3.3. S = dp/dL. ... (3.3) 2 4 30’ 30’ 30’ 1030 Nomor 1508-6 Nomor 1508-4 Nomor 1508-1 5 6 1 2 3 1 Skala 1 2 3 4 Nomor 1508-3 10

Nomor lembar 1508, skala 1: 250.000

Nomor 1508-242, skala 1:25.000 Nomor 1508-22, skala 1:50.000 15’ 15’ 30’ 30’ 4 3

Pada persamaan (3.3), bila dp di peta diukur dan S diketahui, maka jarak di lapangan dL dapat ditentukan. Bila informasi S tidak ada, maka dL tidak dapat ditentukan. Atau kalau S diketahui, namun skala tersebut tidak benar, dLtetap dapat dihitung namun dL tidak merepresentasikan jarak yang sebenarnya. Dalam konteks batas daerah, bila dp merupakan panjang segmen batas yang tergambar di peta, maka bila tidak ada informasi skala (S), maka panjang segmen batas di lapangan tidak bisa ditentukan. Atau kalau S dicantumkan namun tidak benar, maka panjang segmen batas di lapangan juga tidak benar.

Cara menampilkan atau mengekspresikan skala di peta dapat dilakukan dengan tiga cara. Pertama, dengan pernyataan dalam bentuk verbal (word statement). Dalam word statement, frase kata ditulis singkat, jelas dan sedapat mungkin tidak menimbulkan multi tafsir, sebagai contoh: “1 cm di peta sama dengan 0,5 km di lapangan”. Kedua, dengan perbadingan (ratio), yaitu perbandingan antara jarak di peta dengan jarak sebenarnya di lapangan. Dalam perbandingan, unit satuan jarak di peta harus sama dengan unit satuan jarak di lapangan, sebagai contoh pada skala 1:50.000, artinya jarak 1 cm di peta sama dengan 50.000 cm di lapangan. Ketiga, dengan digambar secara grafis. Kelebihan skala yang ditampilkan secara grafis, bila dilakukan perbesaran atau pengecilan, maka perubahan skala akan secara otomatis mengikuti secara proporsional dengan peta yang diperbesar atau diperkecil (Muehrcke, 1978). Dalam praktek, tampilan skala peta dengan perbandingan dan dengan secara grafis dilakukan secara bersamaan seperti Gambar 3.17.

Gambar 3.17. Tampilan skala peta secara perbandingan (ratio) dan secara grafis (Soendjojo dan Riqqi, 2012)

Skala perbadingan

Skala peta juga berkorelasi dengan cakupan area yang dipetakan dan kerincian atau kedetailan informasi yang terkandung di dalam peta seperti diilustrasikan dengan grafik pada Gambar 3.18. (Muehrcke, 1978). Pada gambar 3.17, ditunjukkan bahwa semakin kecil skala peta maka cakupan area yang dipetakan semakin luas/global, sebaliknya semakin besar skala peta maka cakupan area yang dipetakan semakin sempit/lokal. Di sisi lain, semakin kecil skala peta, informasi yang ditampilkan makin kurang rinci yang ditunjukkan dengan feature reduction factor makin besar dan sebaliknya makin besar skala peta maka feature reduction factor makin sedikit.

Gambar 3.18. Grafik hubungan skala peta dengan cakupan area dan kerincian informasi (feature reduction factor) (Muehrcke, 1978)

III.3.6. Toponim

Tiap unsur rupabumi selalu diberi nama. Pemberian nama bertujuan untuk identifikasi lingkungan fisik di sekitar manusia dalam rangka komunikasi sesama manusia atau untuk acuan dengan menunjuk suatu obyek geografis tertentu. Nama unsur rupabumi disebut toponim yang berasal dari bahasa Inggris toponym (Rais, dkk., 2008). Ilmu yang mempunyai obyek studi tentang toponim umum dan

kecil besar Global/luas Lokal/sempit banyak sedikit C akupa n a rea F eat ur e r educ ti on f ac tor Skala peta

toponim khusus nama-nama unsur rupabumi adalah Toponimi (Raper, 1996). Aurousseau (1957) seorang ahli toponimi dari Inggris mendefinisikan toponimi adalah ilmu pengetahuan yang mengkaji riwayat atau asal-usul (sejarah) nama tempat tinggal atau nama bukan tempat tinggal manusia dan nama kenampakan geografis di suatu daerah atau negara. Nama unsur rupabumi selalu terkait dengan hubungan antara manusia (Man) dengan tanah tempat tinggalnya (The Land) di suatu wilayah. Oleh sebab itu sebagai suatu ilmu, maka toponimi selalu berkaitan erat dengan kajian tentang linguistik (bahasa), antropolgi, kebudayaan, sejarah, politik, psikologi dan kartografi (Kerfoot, 2009).

Nama unsur rupabumi terdiri atas dua elemen, yaitu elemen generik dan elemen spesifik. Elemen generik adalah nama yang menerangkan dan/atau menggambarkan bentuk umum suatu unsur rupabumi dalam bahasa tertentu di daerah tertentu. Sebagai contoh: sungai (dalam bahasan Indonesia), krueng (sungai dalam bahasa Aceh), dolok (gunung dalam bahasa Batak). Elemen spesifik adalah nama diri dari elemen generik yang sudah disebutkan sebelumnya, sebagai contoh: Merapi adalah nama spesifik dari elemen generik yang berupa gunung, Yogyakarta adalah nama spesifik dari elemen generik yang berupa wilayah administrasi kota.

Toponim juga dapat dikelompokan menjadi dua yaitu endonim (endonym) dan eksonim (exonym). Endonim adalah nama unsur rupabumi dalam bahasa resminya. Eksonim adalah nama diri unsur rupabumi yang dipakai dalam suatu bahasa tertentu untuk entitas geografis yang berada di luar daerah dimana bahasa tersebut mempunyai status resmi yang berbeda dalam bentuk dari nama yang dipakai dalam bahasa resminya. Sebagai contoh, Negeri Belanda dan Selandia Baru adalah eksonim bahasa Indonesia untuk masing-masing endonim Nederland dan New Zealand. Resolusi UN Conference on the Standardization of Geographical Names mengusulkan agar dikurangi pemakaian eksonim dalam penggunaan nama-nama geografis secara internasional (Rais, dkk., 2008).

Toponim dapat saja berubah. Perubahan nama-nama geografis dapat disebabkan oleh perang atau penaklukan suatu wilayah sehingga nama-nama geografis yang ada kemudian diubah oleh pemenangnya, atau pasca kolonial,

ketika suatu negara merdeka, nama-nama geografis diubah sehingga tidak lagi menggunakan nama-nama geografis yang digunakan oleh penjajah sebelumnya. Perubahan nama geografis juga bisa disebabkan oleh mengikuti nama-nama asli atau karena mengikuti suatu sistem standardisasi, misalnya sistem Romanisasi (Kerfoot, 2009).

Nama-nama geografis adalah elemen yang sangat penting dalam data spasial dan kartografi. Peta yang menggambarkan unsur-unsur rupabumi harus mencantumkan toponim. Tidak lengkapnya atau kesalahan toponim pada suatu peta mengakibatkan peta tersebut sulit digunakan sebagai alat komunikasi (Kerfoot, 2009). Oleh sebab itu pencantuman toponim di peta harus mengacu suatu standar tertentu. Di dalam ilmu kartografi, pemberian nama unsur rupabumi harus mengikuti tata cara baku secara internasional yang mengacu kepada United Nation Geographical Names (UNGN) (Rais, dkk., 2008; Soendjojo dan Riqqi, 2012). Di Indonesia untuk pembakuan nama rupabumi telah dibentuk Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi melalui Peraturan Presiden No.12 tahun 2006 tentang Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi (Rais, dkk., 2008).

Dalam boundary making, baik pada tahap delimitasi maupun demarkasi, pendefinisian batas wilayah dapat dilakukan secara deskriptif menggunakan nama-nama geografis (toponim) dan secara geometris dengan koordinat geografis, azimuth dan jarak, atau dilakukan secara bersama-sama secara deskriptif dan secara geometris (Jones, 1945). Sebagai contoh penggunaan nama-nama geografis dan parameter geometris di dalam pendefinisian batas wilayah adalah seperti tertulis di dalam Article III Treaty tahun 1904 antara Belanda dan Portugis di Pulau Timor ditulis sebagai berikut (Deeley, 2001):

“ The boundary between O’Kussi and Ambeno belongs to Portugal and the Dutch dominions on the Island of Timor are formed by a line:

1. Proceeding from the mouth of the Noel [river] Besi, from where the summit of Pulu [island] Batek can be sighted, on a 30º47’NW astronomical azimuth, following the thalweg of the Noel Besi, that of the Noel Niema and of the Bidjael Sunan, up to its source;...

Berdasar contoh treaty tersebut, nama-nama unsur rupabumi endonim untuk sungai (Noel Besi, Noel Niema), nama pulau (Pulu Batek), nama bukit (summit) yaitu Bidjael Sunan digunakan untuk mendefinisikan batas wilayah, selain parameter azimut astronomis.

Dalam dokumen resmi, nama geografis harus ditulis secara akurat/tepat dan mengikuti standar baku yang telah ditetapkan. Hal ini sangat diperlukan terutama untuk komunikasi dan akses data, informasi dan pengetahuan secara internasional dalam dunia yang saat ini bersifat global dan dijital. Keakuratan nama geografis baik dari aspek pencatatan, penyimpanan, otoritasi dan penyebarannya (authorization and dissemination) adalah dasar yang sangat penting dalam pembuatan dokumen, peta dan basis data untuk berbagai keperluan seperti perencanaan wilayah, pembangunan infrastruktur, pariwisata, penanganan bencana dan batas wilayah. Kesalahan, ketidaktepatan dan ketidaksesuaian serta kesalahan pengucapan kata nama geografis eksonim dalam konotasi politik dan sejarah seperti batas wilayah internasional berpotensi menimbulkan sengketa (Kerfoot, 2009).

III.3.7. Kartometrik

Kartometrik (cartometric) berasal dari kartometri (cartometry) adalah pengukuran dan perhitungan nilai-nilai numeris dari peta (International Cartographic Association, 1973 dalam Maling, 1989). Ada empat jenis pengukuran dasar dalam kartometrik yaitu: (1) pengukuran jarak, (2) pengukuran luas, (3) pengukuran arah dan (4) penghitungan jumlah obyek yang tergambar di peta. Beberapa besaran lain dapat diturunkan dari kombinasi pengukuran dasar tersebut. Sebagai contoh besaran volume adalah diperoleh dari pengukuran tinggi (jarak vertikal) dengan pengukuran luas. Lereng diperoleh dari pengukuran tinggi dengan pengukuran jarak datar. Kerapatan (density) suatu obyek diperoleh dari pengukuran jumlah suatu obyek dan pengukuran luas. Posisi suatu titik diperoleh dari pengukuran jarak dan jarak (Maling, 1989).

Kartometrik yang banyak digunakan dalam batas wilayah, adalah: (1) pengukuran panjang garis (segmen), (2) pengukuran jarak, (3) pengukuran arah, (4) pengukuran luas, (5) pengukuran tinggi dan (6) pengukuran posisi (Adler,

1995).Dalam kartometrik ini, faktor skala peta memegang peran yang sangat penting.

III.3.8. Angka signifikan (significant figure) untuk estimasi ketelitian data

Dalam dokumen BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar belakang (Halaman 78-84)

Dokumen terkait