• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gerombolan Pengacau

4 SOSIO HISTORIS DAN KONFLIK AGRARIA DI LAMPUNG

Sosio Historis Lampung

Lampung Pada Masa Pra-Kolonial

Lampung merupakan sebuah wilayah peradaban yang terbangun dari berbagai peralihan kerajaan. Power shift yang terjadi di wilayah yang subur ini kemudaian membentuk sebuah agraris yang makmur. Daerah lampung merupakan salah atu bagian dari rencana invasi kerajaan Sriwijaya yang dijadikan sebagai batu loncatan kedua setelah Bangka dalam menaklukkan ―Yan bhumi Jawa tida

bhakti ka Criwijaya”.

Bukti tertulis mengenai usaha Sriwijaya untuk menaklukkan kerajaan Tarumanegara dapat dilihat pada prasasti Kota Kapur Bangka yang berangka tahun 688 M. Dengan ditemukannya Prasasti Palas Pasemah di kampung selatan dekat Kalianda bahwa daerah lampung dijadikan basis untuk menguasai pulau Jawa. Dengan demikian, Lampung memang sudah lama dijadikan daerah basis

atau ―Buffer zone‖ secara politik untuk memantau Jawa sebagai pusat kekuasaan.Di samping prasasti Palas Pesamah yang terdapat di pantai Timur bagian selatan daerah Lampung, didapati pula prasasti Ulu Belu di kecamatan Wonosobo Tanggamus. Kemungkinan juga pengaruh wangsa Sailendra sudah sampai di daerah Lampung

Dalam buku Sejarah Daerah Lampung dijelaskan bahwa orang Lampung berasal dari keturunan Umpu Serunting, kemudian setelah kerabat mereka bertempat tinggal di Skala Brak dan mendirikan Keratunan Pemanggilan. Umpu Surinting ini melahirkan 5 (lima) anak laki-laki, yaitu; (1) Indra Gajah yang menurunkan orang Abung, (2) Blunguh menurunkan orang Peminggir, (3)Pak Lang menurunkan orang Pubian, (4) Pandan dikabarkan menghilang dan (5)

Sangkan dikatakan ada di Sukadana Ham. (Supangat, 1978). Kelima anak ini kemudian terbentuk kerajaan-kerajaan kecil yang menyebar. Terbentuknya kerajaan-kerajaan kecil ini akibat adanya konflik, perpecahan dan kejadian- kejadian yang secara sosial, politik dan ekonomi mengharuskan mereka menyebar.

Sebagaimana yang diuraikan di dalam kitab ―Kuntara Raja Niti‖, disebabkan oleh orang-orang Bajau (perampok/bajak laut) datang menyerang tempat tinggal mereka di Keratun Pemanggilan, bahkan akhirnya Keratun Pemanggilan runtuh dan masyarakatnya meninggalkan dan menyebar dari Skala Brak ke daerah dataran rendah Lampung lebih tepatnya di wilayah Abung Lampung Utara. (Supangat, 1978). Sebagaimana masyarakat yang lain pada umumnya, konflik diantara sesama mereka yang berakibat adanya perpecahan pun terjadi pada masyarakat Lampung, misalnya konflik yang mengakibatkan keturunan Indra Gajah harus menetap di Ulok Tigou Ngawan di hulu sungai Way Abung (Kecamatan Tanjung Raja Lampung Utara) di bawah kepemimpinan Minak Rio Beguduh dan mendirikan Keratun di Puncak. Di masa pemerintahan Minak Rio Beguduh Lampung mengalami pertubuhan pesat sebagai wilayah pesisir yang membentuk masyarakat agraris pedalaman yang dinamis, sehingga menarik perhatian para armada Angkatan lau Majapahit singgah di pantai bagian timur daerah kekuasaan Keratun Pugung sekitar tahun 1365.

Sementara itu, menurut Olivier Sevin (1989: 49 – 69) memperkirakan sebagai masyarakat asli Lampung adalah orang Pubian yang menempati kawasan antara Padangratu, Kota Agung, Teluk Betung, serta wilayah selatan Gunung Sugih di mana kawasan ini dibelah Way Sekampung. Pada sekitar abad ke-17 hingga ke-19 terjadi gelombang migrasi dari luar memasuki Lampung. Selanjutnya pada abad ke-19 terjadi kolonisasi dari Jawa. Menurut tradisi sejarah lisan, emigran yang masuk ke Lampung juga berasal dari Pagaruyung, Bengkulu, Jambi, masyarakat Melayu, dan Bugis (Warganegara, 1994: 3 – 13; Hadikusuma, 1989: 44 – 52).

Ketika Banten memasuki Lampung pada tahun 1530, daerah Lampung terbagi dalam wilayah keratuan (persekutuan hukum adat) yang terdiri Keratuan di Puncak menguasai wilayah Abung dan Tulangbawang, Keratuan Pemanggilan menguasai wilayah Krui, Ranau, dan Komering, Keratuan di Pugung menguasai wilayah Pugung dan Pubian, serta Keratuan di Balau menguasai wilayah sekitar Teluk Betung. Ketika Banten berpengaruh kuat di Lampung, Keratuan di Pugung terbagi lagi dan berdiri Keratuan Maringgai (Melinting) dan Keratuan Darah Putih (Kalianda). Dengan demikian setelah punahnya Kerajaan Tulangbawang di Lampung tidak dikenal adanya pemerintahan dalam bentuk kerajaan tetapi yang berkembang adalah sistem pemerintahan demokratis dalam bentuk keratuan (Soebing, 1988: 35).

Pada sekitar abad ke17–18 keratuan tersebut membentuk pemerintahan persekutuan adat berdasarkan buay (keturunan) yang disebut paksi (kesatuan buay inti atau klan) dan marga (kesatuan dari bagian buay atau jurai dalam bentuk kesatuan kampung atau suku (Hadikusuma, 1989: 157). Sistem pemerintahan marga di Sumatera diciptakan oleh Kesultanan Palembang dalam rangka upaya

48

menguasai kehidupan politik dan perekonomian daerah-daerah yang berada di bawahnya (Mintosih, 1993: 42 -45).

Sistem pemerintahan marga cenderung lebih birokratis untuk kepentingan kehidupan sosial politik yang lebih besar dan kompleks. Berbeda dengan sistem kepemimpinan tradisional seperti keratuan di Lampung, pemerintahan marga merupakan bagian dari sistem pemerintahan otoriter di mana para pemimpinnya dipilih dan diangkat secara rasional (tidak secara turun temurun) oleh pemegang kekuasaan yang lebih tinggi. Pembentukan marga mengacu pada Undang-undang Simbur Cahaya, yaitu suatu kodifikasi ketentuan hukum kerajaan yang berlaku abad ke-17 di wilayah Kesultanan Palembang. Kodifikasi undang-undang itu dilakukan oleh Ratu Sinuhun Sending, permaisuri Sultan Sending Kenayan (1629

– 1636).

Hierarki pemerintahan di bawah sultan terdiri dari daerah-daerah yang dipimpin pejabat setingkat gubernur masa sekarang yang disebut Rangga. Kerangga, atau Tumenggung,wilayah kekuasaannya disebut Ketemenggungan. Daerah kekuasaan Rangga terdiri beberapa Marga yang dipimpin Pesirah Marga. Para pesirah yang banyak berjasa kepada sultan diberi gelar Adipati atau Depati. Sebuah marga terdiri sejumlah desa yang dipimpin Kerio atau Proatin. Kepala desa yang di desanya terdapat Pesirah tidak disebut Kerio tetapi disebut Pembarap. Kedudukan pembarap sedikit lebih tinggi dari kerio, karena pembarap juga merupakan wakil Pesirah. Setiap desa terdiri beberapa kampung yang dipimpin Penggawa. Pada tahun 1826 sistem pemerintahan marga diambil alih pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Sejak itu dalam struktur pemerintahan, marga berada di bawah dan tunduk kepada kekuasaan Residen.

Pada masa Kesultanan Banten, masyarakat adat Lampung sudah tidak lagi

berbentuk keratuan, tetapi dalam bentuk ―marga‖ yang membawahi ―pekon-

pekon‖. Makna substantif marga sudah digeser ketika kedudukan pengetua marga

dijadikan kepala marga yang disebut ―bandar‖, meskipun masih didasarkan pada

faktor keturunan.

Falsafah Hidup dan Struktur Masyarakat Adat

Masyarakat Lampung mengenal falsafah hidup yang lebih dikenal dengan sebutan Pi-il Pesenggiri. Dalam Pi-il Pesenggiri mengadung makna keharusan

hidup bermoral tinggi, berjiwa besar, tahu diri dan kewajiban. Falsafah Fi‘il

pesenggiri ini mencakup empat nilai dasar yang dijadikan sebagai pedoman dalam pergaulan hidup sehari-hari. Keempat nilai dasar itu, yakni; pertama, bejuluk beadek (memiliki gelar adat) yang bermakna keharusan berjuang meningkatkan kesempurnaan hidup, bertata tertib dan tatakrama yang sebaik-baiknya. Kedua,nemui nyimah (ramah, terbuka, peduli), yang berarti keharusan berlaku hormat dan sopan terhadap semua anggota masyarakat, tolong menolong dan menghormati tamu. Ketiga, nengah nyappur (bermasyarakat, bergaul) bermakna keharusan untuk bergaul di tengah-tengah masyarakat dengan mengemukakan pikiran dan pendapat dalam bentuk musyawarah mufakat. Kelima, sakai sambayan bermakan keharusan berjiwa sosial, tolong menolong, gotong-royong, bahu membahu, saling memberidan menerima), yang dijadikan pedoman bagi

masyarakat adat lampung baik―Pepadun” yang berdiam di pedalaman dan

“Saibatin” atau ―Peminggir‖ yang berdiamdi sepanjang wilayah pesisir.

Prinsip nilai Pi-il Pesenggiri ini berpedoman pada Titie Gematei adat dari leluhur, merupakan nilaidasar yang intinya setiap anggota dituntut untuk bermoral tinggi atau berjiwa besar agar hidup secara logis, etis dan estetis. (Rizani Puspawidjaja. 2002; 8). Nilai dasar tersebut diwadahi dalam struktur adat, dimana para penyimbang (kepala atau pemuka suku) berperan penting dalam menentukan tata cara dan haluan hidup masyarakat adat. Peran para penyimbang dalam kelembagaan adat antara lain selalumelakukan proatin (bermusyawarah), yang diketuai oleh pemuka adat tertua,setiap melaksanakan kegiatan adat.

Karena sikap terbuka masyarakat adat lampung lebih besar daripada sikap tertutupnya, maka dalam hubungan keluar mereka bersikap hati-hati. Apabila hubungan itu akan meninggikan martabat dan harga dirinya tentu saja hubungan yang dijalin akan berbeda sifatnya dengan hubungan yang biasa saja.

Lampung Sebagai Buffer Zone Jawa

Propinsi Lampung yang luasnya sekitar 35.000. kilometer persegi atau 7 persen luas Sumatera merupakan daerah yang sangat strategis. Daerah tersebut merupakan daerah penghubung antara pulau Jawa dan Sumatera serta daerah- daerah lainnya seperti Kalimantan. Hubungan antara daerah Lampung dengan daerah Sumatera bagian selatan lainnya sudah lama terjalin, dengan demikian Lampung merupakan daerah yang selalu terbuka dengan dunia luar. Lebih lagi ketika pelabuhan Bakauheni diresmikan pada tahun 1981, terjadi penyatuan antara Sumatera dan Jawa yang hanya dipisahkan oleh selat sunda dengan jarak tempuh tidak lebih dari tiga jam pelayaran. Maksudnya antara dua pulau yang berbeda ini tentang hal transportasi bisa dikategorikan sebagai transportasi antar daerah. Walaupun terpisah dengan selat sunda, keberadaannya bukan sebagai penghalang untuk terciptanya komunikasi yang lancar, bila menghitung lama perjalanan Jakarta-Bandar Lampung terasa lebih dekat dibanding perjalanan Jakarta- Semarang. Hal ini sebagaimana ditulis oleh mantan Bupati Lampung Tengah

dalam harian kompas dengan judul ―Bakauheni, Pintu Masuk lampung‖...dari

Jakarta ke Merak hanya ditempuh dua jam dengan kendaraan pribadi, setelah menyeberang di Bakauheni Lampung yang berjarak 87 km bisa ditempuh dengan menggunakan bus umum dalam waktu satu setengah jam, bila demikian adanya ibarat propinsi yang berada di ujung selatan pulau Sumatera adalah Buffer Zone yang mendukung DKI Jakarta. (Kompas, 15 Maret 1989).

Apalagi setelah daerah lampung menjadi daerah penerima program transmigrasi, rupanya kemudahan prasarana dan program transmigrasi itu banyak mengundang pendatang berbondong-bondong turut masuk ke wilayah Lampung, bahkan para spekulan tanah pun sudah menguasai jauh sebelum jalan-jalan yang menghubungkan antar daerah yang ada di Lampung di buat. Artinya, orang yang melakukan perambahan hutan di Lampung, bukan hanya mereka yang mencari lahan untuk bercocok tanam, akan tetapi juga mereka yang mencari lahan untuk investasi. Hal ini menunjukkan bahwa Lampung merupakan daerah yang sangat strategis dalam pengembangan wilayah dan ekonomi pada era selanjutnya.

50

Heterogenisitas Masyarakat Lampung

Wilayah Lampung secara administratif menjadi provinsi sejak tahun 1964. Hingga saat ini provinsi Lampung dibagi menjadi 2 (dua) kota dan 12 (dua belas) kabupaten. Sejak dulu wilayah Lampung sudah dihuni oleh beragam etnik, meskipun etnik pendatang bermukin dalam bentuk kampung (desa) mulai sejak awal abad 20. Kemajemukan etnik ini menurut sejarah sudah terjadi sejak menjadi bagian Kesultanan Banten dan kerajan Sriwijaya. Asimilasi dan amalgamasi juga sudah terjadi sejak lama. Contohnya di desa Canti, Lampung Selatan, terdapat

tokoh adat Lampung yang disebut ―Dalom‖ ternyata berasal dari keturunan etnik Jawa Timur (Surabaya). Kedudukan sebagai tokoh adat ini (keturunan Jawa) berlanjut secara turun-temurun hingga sekarang (Bappenas, 2000).

Masyarakat Lampung memiliki sikap pluralisme yang berproses secara mendalam dan dalam jangka sangat panjang. Pada awalnya kemajemukan etnik tersebut dibedakan menjadi dua, yakni etnik asli Lampung (kalau bisa disebut

asli) dan pendatang. Oleh karena itu wilayah Lampung disebut dengan ―Sang Bumi Ruwa Jurai‖.

Dengan alasan bahwa perkembangan dan kemajuan daerah Lampung tidak terlepas dari saling hubungan di antara kedua kelompok etnik tersebut, maka daerah Lampung disimbolkan sebagai "Sai Bumi Ruwa Jurai‖. Artinya, dalam masyarakat Lampung terbangun komitmen moral yang mengakui adanya perbedaan etnik, tetapi perbedaan itu dimaknai sebagai persatuan dan kesatuan dimana masing-masing etnik dapat mengaktualisasikan diri dan berprestasi secara bebas tanpa memandang afiliasi kelompok etniknya.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa suku asli Lampung itu terbagi menjadi beberapa kesatuan sistem masyarakat adat yang lazim disebut marga, diantara marga-marga tersebut adalah marga; Abung, Sungkai, Tulang Bawang, Way Kanan dan Pubian, kelima marga ini memakai sistem adat

―Pepadun‖.(Depdikbud, 1984). Mereka mempunyai sistem dan pandangan hidup

tersendiri sebagaimana terlihat dari adat masyarakatnya, dan hingga kini masih berlaku. Tradisi kuat seperti ini terlihat pada upacara perkawinan, pengangkatan menjadi keluarga besar atau keluarga batih (nuclear family), termasuk dalam hal pemberian gelar-gelar kehormatan serta acara adat lainnya yang bersifat kemasyarakatan pada tingkat desa.

Secara teritorial, sampai saat ini etnik Lampung masih tetap eksis dan dipelihara sebagai suatu komunitas masyarakat adat, berbasis genealogis dan memiliki wilayah teritorialnya sendiri. Pada mulanya pemukiman mereka terkonsentrasi di wilayah pegunungan dan dataran rendah sepanjang sungai di sekitar pantai timur dan selatan. Kemudian berkembang dalam wilayah kampung (desa) seiring dengan semakin bertambahnya jumlah warga. Kampung-kampung tersebut semakin menyebar dengan lahan pertanian disekitarnya. Mereka tetap berpegang pada garis keturunan laki-laki (patrilineal) yang tegas dengan anak laki-laki tertua sebagai pemimpin utama dalam struktur otoritas adat.

Anak laki-laki tertua mempunyai tanggung jawab terhadap keluarga adik- adiknya, dimana anak laki-laki tertua harus menyediakan rumah untuk adik laki- lakinya yang akan menikah beserta peralatan rumah tangga/perabotan. Hal ini merupakan bukti nyata bahwa rasa ikatan kekeluargaan dan kesukuan terasa

sangat kuat. Terkadang untuk melanggengkan ikatan kekeluargaan dan kesukuan tersebut, mereka rela berkorban baik moral, material dan tenaga serta hal-hal yang mereka anggap mampu untuk dikorbankannya. Orang lampung baik yang saibatin maupun yang pepadun mempunyai tanggungjawab yang besar terhadap keberlangsungan hidup keluarganya, oleh sebab itu ikatan kekerabatan antara sesama orang lampung begitu kuat dan kokoh. Tanggung jawab ini tidak hanya sebatas dalam aktivitas-aktivitas serimonial dalam bentuk perkawinan, akan tetapi tanggung jawab tentang keberlangsungan kehidupan terhadap orang yang masih ada ikatan kekerabatan.

Setelah menetap, tata kehidupan masyarakat adat Lampung menganut sistem keratuan, yang dipimpin oleh Ratu atau Umpu dan dipilih berdasarkan asas primus inter pares.(Depdikbud. 1977/1978 : 54) Masing-masing Ratu berkuasa di wilayahnya bersama para pengikutnya dalam satu keturunan. Kesatuan masyarakat adat ini berbeda menurut asal suku yang masing-masing terdiri atas berbagai buai atau kebuwayan dan masing-masing kebuwayan terdiri atas beberapa suku. Setiap suku asal memiliki wilayah teritorial disebut marga dan setiap kebuaiyan memiliki wilayah teritorial disebut kampung atau pekon, anek, dan tiyuh. Masing-masing wilayah pekon terdiri atas beberapa suku dan masing- masing suku terdiri atas beberapa keluarga besar (cangkai). Kemudian pada masing-masing keluarga besar terdiri atas beberapa keluarga inti (nuwa).(Joan Hardjono, 1985: 17)

Selain sistem masyarakat adat Lampung ―Pepadun‖, di daerah Lampung

masih terdapat enam kesatuan masyarakat adat Pesisir/Peminggir, diantaranya; Belalau/Ranau, Krui, Pesisir Semangka, Pesisir Teluk, Pesisir Rajabasa, Pesisir Milingting-Meringgai. Keenam kesatuan sistem masyarakat adat ini bertempat tinggal di daerah pinggiran propinsi Lampung di pesisir pantai bagian barat, selatan dan timur.Kesatuan masyarakat adat peminggir/pesisir seasal keturunan dengan marga Abung, Way Kanan, Sungkai, Tulang Bawang dan Pubian, yakni semuanya berasal dari Skala Brak, suatu daerah dataran tinggi di kaki gunung Pesagi kecamatan Belalau (Kenali) kabupaten Lampung Barat, termasuk pula kesatuan masyarakat adat marga Komering dan Kayu Agung yang bertempat tinggal secara menetap di sepanjang Sungai Komering Sumatera Selatan.(Abadullah Subing, 1983). Sedangkan marga Pesisir Semangka, Pesisir Teluk, Pesisir Rajabasa, pesisir Melinting-Meringgai berasal dari keturunan suku Banten dan percampuran perkawinan diantara keduanya (Pemda Bandar Lampung, 1984).

Bila dilihat dari struktur sosial dan struktur budaya, diantara sebelas (11) bagian-bagian kesatuan adat Lampung, maka marga Abung merupakan yang terbanyak jumlah anggotanya dan menempati wilayah yang paling luas, dan kekerabatan Abung juga merupakan yang paling menonjol dengan sistem adat

―Pepadunnya‖. Kesatuan adat Abung mempunya sembilan (9) persekutuan kebuaian (marga) yang lazim disebut dengan ―Abung Siwomego” artinya Abung 9 (sembilan) marga. Dari 9 (sembilan) marga tersebut 4 (empat) diantaranya berasal dari satu ayah yang bernama ―Minak Paduka Begedtgh‖yang mempunyai dua orang istri ratu, dari istri ratu yang pertama lahirlah 4 orang nak yaitu; Unyai (Minak Trio Diso), Unyi (Minak Ratu di Bumi), Uban (perempuan) dan Betan Subing yang bergelar Minak Permata Jagad.(Dekdibud, 1984;15-22).

52

Petani dan Struktur Penguasaan Agraria

Kebijakan Agraria Masa Kolonial

Perubahan kekuasaan di tangan kolonial Belanda tidak banyak merubah sistem pemerintahan adat masyarakat lampung. Pada tahun 1873, Belanda menetapkan Karesidenan Lampung dibagi dalam enam Onder Afdeeling (Kawedanaan). Pada tahun 1928, Belanda menetapkan Ordonansi yang disebut Inlandsche Gemeent Ordonantie Buitengewestan. Dengan peraturan ini, marga diberi legitimasi struktural dalam pemerintahan Hindia Belanda. Kepala-kepala marga (Pasirah) dipilih dari para pemimpin adat tingkat marga dan ketika Jepang berkuasa seluruh sistem adat tidak berjalan.

Meskipun tidak merubah sistem pemerintahan adat masyarakat Lampung, pemerintah kolonial Belanda berusaha mengaburkan makna kepemimpinan marga sehingga semakin jauh dari makna substantifnya sehingga kedudukan kepala marga menjadi terancam. Pada pertengahan abad 19 sistem marga tidak diakui dan dipersempit pada wilayah kampung (desa). Ini berarti hak ulayat marga menjadi hilang dan juga diperparah ketika berpedoman pada kekuatan hukum domeinverklaring. Struktur otoritas adat diubah menjadi struktur otoritas wilayah administrarif pemerintah kolonial. Di atas kampung diangkat seorang Demang (banyak yang bukan dari etnik Lampung) yang berada dibawah kontrol langsung seorong controleur Belanda.(Bruno Verbist dan Gamal Pasya. 2004: 22). Baru pada tahun 1928 sistem marga diakui kembali sebagai inlandsegemeente, yakni daerah otonom tingkat terbawah yang membawahi kampung-kampung.

Sebelum kedatangan VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) kehidupan masyarakat Lampung di bawah kekuasaan kesultanan Banten cukup tenteram, terutama masa kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682). Masyarakat Lampung mulai terusik ketika VOC masuk menguasai hasil pertanian di wilayah Lampung. Ini diperoleh dari hasil adu domba mendukung Sultan Haji dalam merebut kedudukan Sultan dari Sultan Ageng Tirtayasa. Sejak itu mulai terjadi perpecahan antar tokoh adat, yakni ada yang mendukung Sultan Haji (seperti Jenang Raja Ngembar di Semangka) dan ada yang menolak (pendukung Sultan Ageng Tirtayasa). Masyarakat Lampung mulai terang-terangan menolak menjadi bagian dari wilayah kesultanan Banten ketika dipimpin oleh Aria Adi Sendika (1751) yang diangkat atas dukungan VOC. Resistensi secara besar- besaran melawan kolonial Belanda berlangsung sekitar selama 40 tahun (1817- 1856) dan menewaskan ratusan korban di kedua belah pihak.

Pada masa ini wiIayah marga bukan lagi hanya dimiliki oleh masyarakat adat Lampung, tetapi juga untuk kelompok pendatang. Kepala marga masyarakat adat Lampung disebut Pesirah sedangkan kepala marga penduduk pendatang disebut Pasemah. Pasemah dipilih melalui pemilihan umum dan hubungan genealogis tidak lagi menjadi faktor utama. (Joan Hardjono,1985:21). Disini terkonstruksi dualisme ikatan sosio-kultural antar penduduk dalam kesatuan wilayah teoritorial marga, yakni diikat secara adat dan secara administatif

pemerintahan. Ini jelas bahwa pembentukan struktur otoritas baru tersebut lebih ditujukan untuk memudahkan kontrol politik.

Wilayah marga dengan hak ulayatnya dipersempit setelah dikurangi untuk wilayah cadangan hutan dan untuk dijadikan hak erfpacht yang kemudian diserahkan kepada pemodal asing, tahun 1890 sudah dibuka wilayah perkebunan di dekat pelabuhan Panjang dengan mendatangkan pekerja dari Jawa. Kedudukan tanah ulayat yang sudah berkurang itu menjadi terkonsentrasi kepada kewenangan kepala marga adat (pesirah) sebagai pemimpin wilayah otonom tingkat bawah. Di bawah kewenangan pesirah itulah banyak penduduk pendatang memanfaatkan untuk mendapatkan tanah.(Joan Hardjono. 1985 : 23)

Bersamaan dengan peperangan yang belum selesai, pemerintah kolonial mengeluarkan kebijakan cultuurstelsel (1830-1870). Sistem ini merupakan intensifikasi sistem tradisional, dimana usaha perkebunan negara sedapat mungkin mereduksi biaya produksi dan kalau mungkin menghilangkannya dengan mengkaitkan sistem tradisional yang masih berjalan. (Suhartono. 1995 :67).Peran dominan negara dalam sektor pertanian ini mendapat tekanan dari kelompok liberal karena menutup pintu akses mereka dalam mengembangkan usaha pertanian di daerah jajahan. Akhirnya dikeluarkan kebijakan Domeinverklaring melalui Agrarische Wet (1870) dan lebih dipertegas dalam Agrarische Besluit (1870).

Kebijakan agraria ini mencabut keberlakuan hukum adat atas pemilikan tanah dan berubah menjadi tunduk di bawah hukum Eropa. Sejak ini semua tanah adat di Lampung menjadi tanah negara. Tanah ulayat marga diakui setelah dikurangi sebagai cadangan hutan dan tanah untuk hak erfpacht yang kemudian oleh Pemerintah Hindia Belanda diberikan hak pengelolaannya kepada para pemodal asing.(Joan Hardjono, 1985). Menjelang akhir abad 19 banyak perkebunan di buka di Lampung, yang pertama kalinya (1890) dibuka dionderafdeling Telukbetung.

Program Transmigrasi Masa Kolonial

Pada permulaan abad ke XX pemerintah Kolonial Belanda mulai

menyadari bahwakemiskinansedang

meningkatdipulauJawa,kemiskinaninisalahsatunya diakibatkan karenakepadatan pendudukyangsemakin tinggi.Untuk memperbaiki kondisi rakyat pedesaan di Jawa, pemerintah HindiaBelanda mulai memperkenalkankebijakan baruyang disebut denganPolitik Etis.PemerintahKolonialBelanda mulaimemikirkankemungkinanterlaksananya kolonisasi,yaitupenempatanpetani- petanidaridaerahyangpadatpenduduknya di Jawa ke desa-desa baru yang kosong di luar jawa, yang disebut dengan ―koloni‖.

Sebagai pelaksanaannya,makadilakukan pemindahan penduduk dari pulau Jawa keluarJawayang lebihdikenaldenganistilahtransmigrasi,yaituperpindahan dalamhalinimemindahkanorang daridaerahyangyang padatpenduduknyake daerahyang jarang penduduknyadalambatasnegaradalamrangkakebijaksanaan nasionaluntuktercapainyapenyebaranpendudukyang lebihseimbang(H.J. Heeren,

54

dariC.Th.VanDeventertahun1899dalamPolitikEtis.

Programtersebutmencakuptigahal yaitupendidikan,pembuatanirigasi,dan pemindahan penduduk dari daerahyangpadat diJawakedaerah di luar Jawa.

Pada tahun

1905diberangkatkanrombongantransmigran(kolonis)yangpertama

sebanyak155keluargake daerahGedongTataan,keresidenanLampung. Pemindahan rombongantransmigran di Gedong Tataan terus dilakukansampai tahun1921,lama-kelamaandaerahGedong Tataaninipunmenjadipadatdengan adanyarombongan transmigranini. PemerintahKolonial pun berupayauntuk membukadaerahbaru karenasudahtidakadalagitanahyang bisadibukauntuk perluasandiGedong Tataanini.Makauntukmengatasikepadatanpendudukdi daerahGedong Tataantersebut pemerintah kolonial pun membukadaerah kolonisasikeduayaitudidaerahWonosobo,terletakkira-kira 10kilometer sebelahbarat Kota Agung,daerahinidipilihkarena air untukirigasicukupbanyakdanmudah dialirkankedaerahtanahpertanian.

Pemindahan rombonganke daerahWonosobo

inihanyasampaiduatahunsajayaknisampaitahun 1923,karena terhambat biayapemindahannya.Namunsetiaptahunnyamasihbanyak rombongan transmigranyang datangdengankemauandanbiayasendiriuntuktinggalditanah kolonisasiLampung.Rombongantransmigraninirata-rata berasaldariKedu, Banyumas, Yogyakarta, Solo, Kediri, Madiun dan Pekalongan.

KemudiandibukalagidaerahkolonisasibarudengannamaGedong Dalamyang dilanjutkandenganpenempatanrombongantransmigrandidaerahkolonibaru

yangluasyaitu daerah Sukadana. Selanjutnyadibukalagidaerahkolonisasibaru dengannamaKarangrejo,terletak kira-kira20kmdarikampungGunung Megangyangletaknya17kmdariTalang Padang.Danmulaitahuninilah untukpertamakalinya dipindahkanrombongan transmigran dariBloradanLumajang. Keadaan di daerah-daerah kolonisasi di Lampungmakinlamamakinbaik.Karena itusetiaptahun makinbesar jumlah kolonis-sukarelayang datangpindahkesana.Begitupulajumlahkolonisyang dipindahkan olehpemerintah pun semakin bertambah besar (Amral Sjamsu,