Kreativitas pendidik sangat penting dalam usaha menciptakan suasana kelas yang menyenangkan dan membuat anak usia dini tertarik untuk belajar. Untuk dapat melaksanakan pendidikan yang mengarah pada pendidikan yang mempunyai nilai – nilai islam, maka diperlukan beberapa standar yang harus dimiliki guru, (Muhktar Latif, dkk, 2014, 252), diantaranya :
1. Memiliki 18 sikap; mutu, hormat, jujur, bersih, kasih sayang, sabar, syukur, ikhlas, disiplin, tanggung jawab, khusuk, rajin, berpikir positif, ramah, rendah hati, istikamah, taqwa dan qanaah.
2. Mempunyai pengetahuan yang banyak tentang bagaimana caranya hidup di dunia ini, antara lain; bagaimana otak berkembang dari awal kehamilan sampai 18 tahun, ciri-ciri/
tanda-tanda dan sifat sifat dari benda-benda dan kejadian serta klasiikasi
3. Excellent
4. Mempunyai kemampuan bekerja dalam tim 5. Mampu membuat anak mencintai belajar.
Untuk menjadi guru yang excellent, maka guru harus mempunyai hal hal sebagai berikut: 1. Dapat mengerti apa yang anak ucapkan dan anak lakukan sehingga dapat memberikan
Book Two ~ Internasional Prooceeding Seminar “Konsepsi dan Implementasi Pendidikan Islam Anak Usia Dini” 37
respon, komentar yang positif pada anak dan dapat memperkaya belajar anak. Contoh: “Al- hamdulillah kamu sudah dapat membuat kalimat yang lebih lengkap, sekarang kalimatnya sudah ada empat kata. Mau mencoba membuat kalimat yang lain”
2. Dapat memberikan “feedback” yang spesiik, bukan komentar yang umum. Contoh: “ Pagi ini kamu sudah dapat pakai baju sendiri dan memasangkan kancing tiga buah”
3. Dapat menajdi model bagi anak. Semua nilai luhur yang dibangun di anak dapat dimodel- kan oleh guru utama.
4. Guru dapat mendemontrasikan cara yang benar dalam melakukan sesuatu. Contoh: cara menggunting.
5. Guru dapat memberikan pertanyaan yang dapat mempengaruhi anak untuk maju. 6. Guru yang dapat memberikan pijakan pada anak agar mereka dapat belajar.
7. Guru dapat membuat rencana kurikulum yang membuat anak berhasil mencapai tujuan pembelajarannya.
8. Guru dapat memantau tahap perkembangan anak dan belajar anak melalui observasi de- tail dari waktu ke waktu dari main anak dan mengumpulkan hasil/ “milestone” anak. 9. Guru dapat membangun jembatan antara rumah dan sekolah. Artinya guru harus memba-
ngun kerjasama yang erat dengan orang tua.
10. Guru harus terus belajar karena guru tidak dapat memberikan informasi kepada peserta didik apa yang belum diketahui.
Menjadi guru yang menyenangkan bagi anak didik adalah hal penting, bagaimana bisa anak menerima pelajaran jika anak tidak menyukai gurunya sendiri, yang ada anak jadi tidak berminat untuk belajar dan tidak mau sekolah. Menjadi guru yang disukai anak didik membutuhkan proses, bukan hal yang mudah bagi setiap pendidik untuk mengajar anak pada usia dini, apalagi anak biasanya lebih menyukai dunia bermain dibandingkan belajar. Tentunya seorang guru harus memiliki metode agar dapat mengambil hati muridnya, dengan itu anak akan menerima setiap pelajaran dari guru dengan baik.
Semua butuh pendekatan yang berbeda-beda, setiap anak memiliki sifat yang berbeda apalagi seorang anak pada usia dini yang karakternya belum terbentuk secara utuh. Tugas orang dewasa, guru, dan orangtua adalah membentuk karakternya menjadi lebih baik, juga memperkenalkan hal yang baik dan buruk karena anak seusia itu cenderung belum memahami
perbedaan tersebut. Lalu apa yang harus dilakukan guru agar anak bisa menyukainya?
1. Memahami Kepribadian dan Karakter Anak
Seorang guru perlu memahami perkembangan anak didiknya. Anak memiliki karakter yang unik satu sama lain. Untuk memahami karakter anak guru harus melakukan pendekatan internal, dan memulai dengan apa yang disukai anak, berbicara dengan bahasa anak sehingga anak mengerti dan tidak takut berkomunikasi dengan guru. Jalinlah ikatan yang positif agar anak tetap nyaman, selain melakukan pendekatan dengan murid, guru juga perlu berkomunikasi dengan orangtua murid mengenai hal-hal yang berkaitan dengan anak didiknya, sehingga guru lebih mengenal anak didiknya lebih dalam.
2. Sabar dan Penuh Kasih Sayang
Anak-anak usia dini memiliki pola belajar yang berbeda dengan sekolah tinggi, diperlukan kesabaran ekstra untuk menghadapinya. Dibutuhkan peran guru yang efektif dalam mengajar dan sesuai dengan kebutuhan anak, guru harus mampu mendampingi mereka, semisal anak bermain-main ketika pelajaran berlangsung, bukan berarti sebagai guru langsung memarahinya, jika hal seperti itu dilakukan maka sudah pasti guru langsung dicap jelek oleh muridnya. Murid menjadi tidak menyukai guru, alhasil tidak mau menerima pelajaran dan tidak mau datang ke
sekolah. 3. Kreatif
Guru yang kreatif kaya akan ide, ia tidak hanya mengajar berdasarkan kurikulum atau materi yang sudah ditetapkan tetapi ia juga mengembangkannya , sehingga proses transfer ilmu tidak dengan cara yang sama dan dapat bervariasi. Guru yang kreatif sudah pasti tidak membosankan untuk anak didiknya dan tidak pernah menyerah dalam belajar sesuatu, guru juga bisa berbagi dengan guru lainnya untuk memperkaya ilmu pengetahuan dan bercerita pengalaman- pengalaman yang berbeda.
4. Selalu Tersenyum
Senyum adalah sedekah yang paling mudah, guru yang selalu tersenyum pastinya memberikan energi positif untuk menyenangkan hati muridnya. Jangan sampai menunjukkan mimik wajah yang terlalu serius di depan anak didik.
Berikut gambaran yang menunjukkan tentang bagaimana menjadi guru yang menyenangkan bagi anak usia dini, berdasarkan beberapa hal yang harus dilakukan danharus dijauhi dalam mendidik anak usia dini:
Pendidikan anak usia dini bukan sekedar mengetahui tingkat kemampuan atau tingkat perkembangan anak pada setiap tingkat usia tertentu seperti menangis jika merasa terganggu, bercerita, dan lainnya, tetapi harus mengetahui proses perkembangan anak pada semua aspek perkembangan untuk dapat dioptimalkan.
Menurut (Risang Melati, 2012: 16-17), cara efektif menjadi guru PAUD yang disukai anak, diantaranya adalah:
Book Two ~ Internasional Prooceeding Seminar “Konsepsi dan Implementasi Pendidikan Islam Anak Usia Dini” 39 1. Mendidik anak lewat cara bermain; yaitu guru mengarahkan anak selama belajar lewat
bermain artinya selama bermain anak belajar cara bersosialisasi, problem solving, negosi- asi, manajemen waktu, resolusi konlik, berada dalam grup besar/kecil.
2. Mendidik anak dengan cara menanamkan nilai-nilai keingintahuan; dengan menanamkan nilai keingintahuan akan menumbuhkan kecerdasan kognitif, menanamkan nilai-nilai mor- al dan keagamaan seperti kejujuran, kesetiaan, ketaatan, dan nilai-nilai luhur lainnya. 3. Melibatkan anak dalam menentukan kegiatan; hal ini sangat berpengaruh untuk menjad-
ikan anak berperan aktif, menaruh minat, mencoba ide, bercerita tentang apa yang dilaku- kannya.
4. Mendongeng dan bercerita; kegiatan ini merupakan cara yang paling efektif dan menyenangkan karena bercerita adalah metode komunikasi universal yang sangat ber- pengaruh pada jiwa manusia.
5. Mendidik melalui bernyanyi dan menggambar; dengan nyanyian akan membuat anak lebih tertarik dalam belajar sedangkan dengan manggambar akan mampu memberi pesan yang mendalam.
Salah satu tokoh pendidikan di Indonesia, Ki Hajar Dewantoro yang mendirikan Taman Indria untuk anak usia dini berpandangan bahwa pendidikan adalah ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. Artinya pendidikan dilaksanakan dengan memberi contoh teladan, memberi semangat, dan mendorong anak untuk berkembang. Sistem yang dipakai ialah sistem “among” dengan maksud memberi kemerdekaan, kesukarelaan, demokrasi, toleransi, ketertiban, kedamaian, kesesuaian dengan keadaan, dan hindari perintah dan paksaan. Sistem ini mendidik anak menjadi manusia yang merdeka batinnya, pikirannya, dan tenaganya, serta dapat mencari pengetahuan sendiri.
The National Association for the Education of Young Children (NAEYC) meyakini bahwa kualitas program anak usia dini memiliki kualitas tinggi akan menyediakan keamanan dan pemeliharaan
lingkungan yang dapat meningkatkan perkembangan kognitif, bahasa, isik, sosial, emosional,
dan spritual.
KESIMPULAN
Perfomance guru pendidikan anak usia dini merupakan seperangkat kinerja yang dilakukan oleh guru dalam meningkatkan kinerja guru sebagai tugas utama, dan mengupayakan untuk memaksimalkan proses pembelajaran bagi anak usia dini berdasarkan tahap perkembangan anak.
Pengembangan kinerja guru merupakan faktor yang amat menentukan pada keberhasilan proses pendidikan dan pembelajaran dalam era perkembangan pengetahuan saat ini. Kinerja guru terutama guru anak usia dini pada dasarnya menggambarkan kemampuan guru untuk terus menerus melakukan upaya peningkatan kompetensi yang berkaitan dengan peran dan tugas sebagai pendidik. Kemampuan untuk terus menerus meningkatkan kualitas kinerja yang dilakukan oleh guru terutama untuk perkembangan anak usia dini akan memperkuat kemampuan profesional guru sehingga dengan peningkatan tersebut kualitas proses dan hasil pendidikan dan pembelajaran akan makin bermutu.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pendidikan Nasional. (2005). Peraturan PemerintahRepublik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 TentangStandar Nasional Pendidikan. Departemen Pendidikan Nasional: Ja- karta
Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat, Kementerian Pendi- dikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
El Khuloqo, Ihsana, (2015), Manajemen Pendidikan Anak Usia Dini Pendidikan Taman Kehidupan Anak, Pustaka Pelajar: Yogyakarta
https://id.wikipedia.org/wiki/Guru
Kementerian Agama RI, 2015, Guru Kelas RA (Modul Bahan Ajar Pendidikan Dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG)
Latif, Mukhtar, dkk, 2014, Orientasi Baru Pendidikan Anak Usia Dini, Kencana: Jakarta
Melati, Risang, 2012, Kiat Sukses Menjadi Guru Paud Yang Disukai Anak Anak, Araska: Yogyakarta Nurani Sujiono,Yuliani, 2009, Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, PT. Indeks: Jakarta Peraturan Pemerintah 74 tahun 2008 dan Permendiknas Nomor 16 tahun 2007.
Sanjaya, Wina, 2007, Strategi Pembelajaran Bereorientasi Standar Proses Pendidikan, Kencana: Jakarta
Tabrani Rusyan dkk. (2000) Upaya Meningkatkan Budaya KinerjaGuru, Dinamika Karya Cipta:
Cianjur
Undang-Undang RI No 14 tahun 2005,
Yus, Anita, 2012, Model Pendidikan Anak Usia Dini, Kencana: Jakarta
Book Two ~ Internasional Prooceeding Seminar “Konsepsi dan Implementasi Pendidikan Islam Anak Usia Dini” 41