• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi Ekspositori dalam Pembelajaran Matematika

BAB II KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

3. Strategi Ekspositori dalam Pembelajaran Matematika

Wina menjelaskan bahwa “strategi ekspositori adalah strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok siswa untuk sekelompok siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi pelajaran secara optimal”.39

Berdasarkan defenisi tersebut, strategi ekspositori lebih menekankan pada pemberian konsep materi pelajaran dan memberikan contoh-contoh latihan soal dalam bentuk ceramah, tanya jawab, dan penugasan.

b. Karakteristik Strategi Pembelajaran Ekspositori

Wina menyampaikan terdapat beberapa karakteristik dan ciri-ciri dari strategi ekspositori, yaitu:40

1) Penyampaian materi pelajaran secara verbal, artinya bertutur secara lisan merupakan alat utama dalam melakukan strategi ini, oleh karena itu sering orang-orang mengidentifikasikannya dengan ceramah.

2) Materi pelajaran yang disampaikan adalah materi pelajaran yang sudah jadi, seperti data atau fakta, konsep-konsep tertentu yang harus dihapal sehingga tidak menuntut siswa untuk berpikir ulang. 3) Tujuan utama pembelajaran adalah penguasaan materi pelajaran itu

sendiri. Siswa diharapkan dapat memahaminya dengan benar dengan cara dapat mengungkapkan kembali materi yang telah diuraikan.

Kegiatan pembelajaran dengan menggunakan strategi ekspositori lebih berorientasi pada guru (teacher centered). Guru telah mengelola dan membuat bahan ajar yang telah dipersiapkan secara sistematis dan lengkap. Guru lebih aktif memberikan informasi atau menjelaskan materi

39

Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2008), Cet. V, h. 177.

40

pembelajaran dengan memberi contoh-contoh soal serta penyelesaiannya, memberi kesempatan siswa untuk bertanya, dan sebagainnya. Sebaliknya siswa lebih pasif, siswa menerima informasi dari guru kemudian membuat rangkuman. Pada pembelajaran yang menerapkan strategi ekspositori cenderung hanya terjadi komunikasi satu arah (one way communication), yaitu guru dengan murid atau sebaliknya murid dengan guru.

c. Tahapan Pembelajaran Matematika dengan Strategi Ekspositori

Menurut Wina ada beberapa langkah dalam penerapan strategi ekspositori, yaitu:41 1) Persiapan (preparation) 2) Penyajian (presentation) 3) Menghubungkan (correlation) 4) Menyimpulkan (generalization) 5) Penerapan (application)

4. Efektivitas Dalam Pembelajaran

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) definisi efektivitas adalah sesuatu yang memiliki pengaruh atau akibat yang ditimbulkan, manjur, membawa hasil dan merupakan keberhasilan dari suatu usaha atau tindakan.42

Efektivitas pembelajaran merupakan tingkat keberhasilan guru dalam mengajar kelompok siswa tertentu dengan menggunakan strategi tertentu untuk mencapai tujuan tertentu, maka efektivitas pembelajaran merupakan kriteria penting dalam setiap pembelajaran.

Suatu pembelajaran disebut efektif manakala pembelajaran tersebut telah mencapai tujuan pendidikan. Tujuan yang diinginkan dalam pembelajaran itu mencakup pada penguasaan IPTEKS sebagai bahan ajar, pembentukan keterampilan/ kemampuan belajar yang lebih efektif dan efisien (belajar mengenai bagaimana cara belajar), bahkan pembentukan kemampuan meta-kognisi (kemampuan penegndalian proses kognitif itu sendiri).43

41

Ibid., h.183-188.

42

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2012), Ed. 4, h.352.

43

Masitoh dan Laksmi Dewi, Strategi Pembelajaran, (Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Islam Departemen Agama Republik Indonesia, 2009), Cet-1. h.262.

27

Hal ini senada dengan Watkins yang menyatakan bahwa efektivitas pembelajaran bisa dipertimbangakan jika konteks pembelajaran dan tujuannya telah ditentukan.44

Berikut ini beberapa pendapat mengenai suatu pembelajaran dikatakan efektif:

a. Menurut Nana Sudjana, pembelajaran yang efektif berorientasi pada proses (by process) dan hasil (by product).45 Sehingga diasumsikan bahwa semakin tinggi proses, maka semakin tinggi pula hasil yang dicapai. Dengan demikian penilaian efektivitas pembelajaran dapat menggunakan dua indikator, yaitu proses dan hasil pembelajaran. b. Pupuh dan Sobry menyebutkan indikator efektivitas pembelajaran

sebagai berikut:46

1) Daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi, baik secara individu maupun kelompok;

2) Prilaku yang digariskan dalam tujuan pembelajaran khusus (TPK) telah dicapai oleh siswa baik secara individual maupun kelompok; 3) Terjadinya proses pemahaman materi yang secara sekuensial

(sequential) mengantarkan materi tahap berikutnya.

Berdasarkan uraian yang telah disebutkan di atas, dalam penelitian ini efektivitas pembelajaran mengacu pada keberhasilan dari segi kognitif yaitu menunjukkan perbedaan yang signifikan antara kemampuan awal dan akhir berpikir kreatif matematis (gain kemampuan berpikir kreatif matematis siswa). Pupuh dan Sobry juga menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas pembelajaran yaitu sebagai berikut:47

44

Chris Watkins dkk, Effective Learning in Classroom, (London: Paul Chapman Publishing, 2007), Cet-1. p.17.

45Heru Kurniawan, “Upaya Peningkatan Efektivitas Pembelajaran Matematika Melalui Model

Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization (TAI) Pada Siswa Kelas V SD

Negeri Sidomulyo Tahun Pelajaran 2011/2012,” Prosiding Seminar Nasional Matematika Dan

Pendidikan FMIPA UNY Yogyakarta, 10 November 2012, h. 370.

46

Pupuh Fathurrohman dan Sobry Sutikno, Strategi Belajar Mengajar Strategi Mewujudkan Pembelajaran Bermakna Melalui Penanaman Konsep Umum dan Konsep Islami, (Bandung: PT Refika Aditama, 2009), Cet-3, h.113.

a. Tujuan

Tujuan pembelajaran merupakan pedoman arah yang akan dicapai dalam kegiaan belajar mengajar. Semakin jelas tujuan pembelajaran maka semakin mudah menentukan alat dan cara mencapainya.

b. Guru

Performance guru dalam mengajar dipengaruhi oleh banyak faktor

seperti kepribadian, latar belakang pendidikan, pengalaman dan pandangan filosofis guru terhadap murid. Misalnya guru yang memiliki pandangan bahwa siswa laksana gelas kosong akan banyak menggunakan pendekatan metode yang teacher-centered. Hal ini dikarenakan siswa bisa diisi apapun. Padahal yang terpenting bagi guru adalah mengetahui siswa dengan segala potensi dan kekuatannya. c. Peserta Didik

Peserta didik dengan segala perbedaannya seperti motivasi, minat, bakat, perhatian, harapan, latarbelakang, dan sebagainya menyatu dalam sebuah sistem belajar dikelas. Perbedaan-perbedaan inilah yang dikelola dan diorganisir oleh guru untuk mencapai proses pembelajaran yang optimal.

d. Kegiatan Pengajaran

Kegiatan pengajaran meliputi lingkungan belajar serta gaya mengajar guru. Gaya mengajar guru dapat mempengaruhi gaya belajar siswa. Gaya mengajar menurut Muhammad ali yaitu gaya mengajar klasik, teknologis, personalisasi, dan interaksional. Perbedaan gaya mengajar yang digunakan guru dapat menyebabkan perbedaan kegiatan mengajar.

e. Evaluasi

Evaluasi yang dilakukan harus benar-benar dapat mengevaluasi tujuan yang telah ditetapkan, bahan yang diajarkan, dan proses yang dilakukan.

47

29

Dokumen terkait