BAB IV PERAN MANAJEMEN KONFLIK DALAM PENINGKATAN
1. Strategi Kalah-Kalah (Lose-Lose Strategy)
Strategi pertama ini menjelaskan cara mengatasi konflik dengan menghindari konflik dan mengabaikan masalah yang timbul. Atau bisa berarti bahwa kedua belah pihak tidak sepakat untuk menyelesaikan konflik atau menemukan kesepakatan untuk mengatasi konflik tersebut.
2Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah Konsep, Strategi, dan Implementasi, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2017, cet. XVI, hal. 117.
3Arif Yusuf Hamali dan Eka Sari Budihastuti, Pemahaman Praktis Administrasi, Organisasi, dan Manajemen Strategi Mengelola Kelangsungan Hidup Organisasi, Bandung:
Prenadamedia Group, 2019, cet. I, hal. 190.
Dalam hal ini tidak memaksakan keinginan yang berkonflik, dan juga tidak terlalu menginginkan sesuatu yang dimiliki atau dikuasai pihak lain. Strategi ini hanya bisa dilakukan untuk potensi konflik yang ringan dan tidak terlalu penting. Dengan tujuan agar tidak menjadi beban pikiran dalam kehidupan, namun sebaiknya setiap potensi konflik harus segera dapat diselesaikan.
Dalam perspektif Al-Qur‘an, strategi kalah-kalah digambarkan dengan saling menahan amarah dan saling memaafkan untuk mengendalikan konflik. Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Ali Imran [3] ayat 134:
“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”
Menurut Syaikh Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah dalam Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir.
Alkisah, suatu ketika seseorang bertamu di rumah Maimun bin Mahram, dengan sesegera mungkin pembantu yang bekerja di rumah beliau datang melayani Maimun dan tamunya membawakan semangkuk gulai, tiba-tiba kakinya tergelincir dan kuah gulai itupun tumpah menyiram tubuh Maimun hingga basah. Dengan gerakan spontan, Maimun hendak memukulnya, namun pembantunya segera mengingatkan Maimun, seraya berkata, "Wahai Tuanku, sampai sejauh mana engkau melaksanakan firman Allah Swt. yang berbunyi : { ََظٍَْغْلا
ََهٍِمِظاَنْلاَو } "... dan orang-orang yang mengekang amarahnya.". "Itu sudah ku laksanakan," jawab Maimun. Kemudian pembantunya itu berkata kembali, "Bagaimana dengan ayat berikutnya : { َِساَّىلا َِهَع ََهٍِفاَعْلاَو } "...dan saling memaafkan kesalahan orang lain". "Ya, sekarang ku maafkan kekhilafanmu itu" ucap Maimun. Namun, pembantunya itu kembali berkata, melanjutkan ayat tersebut : { ََهٍِىِس ْحُمْلا َ ةِحٌُ ََُّاللَّو }
"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan".
Atas kejadian seperti itu, akhirnya Maimun berkata, "Kini aku berbuat baik kepadamu, dengan membebaskan (memerdekakanmu) dirimu, semata-mata hanya karena Allah Swt."4
4 https://tafsirweb.com/1266-quran-surat-ali-imran-ayat-134.html.Diakses 20 Mei 2021.
Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini { َِساَّىلا َِهَع ََهٍِفاَعْلاَو ََظٍَْغَْلا ََهٍِمِظاَنْلاَو }bahwa jika mereka marah, maka mereka menahannya, yakni menutupinya dan tidak melampiaskannya. Selain itu mereka pun memberikan maaf kepada orang-orang yang berbuat jahat kepadanya.
Dikuatkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah ra. Rasulallah SAW bersabda:
َسْيَى ُديِد َظلا ِثَغَ ُّصُّلاِة
اٍََجِإ ُديِد َظلا يِ لَّا َ
ُمِيٍَْح ُّ َصْفَج َدِِْغ ِب َضَغ ْ ىا
“Orang yang kuat itu bukan terletak pada kemampuan berkelahi, tetapi orang yang kuat itu adalah yang dapat mengendalikan diri ketika sedang marah.”5
Lafadz hadist tersebut menjelaskan tentang perilaku kontrol diri (mujahadah an nafs). Seseorang yang mampu mengontrol emosi diri ketika marah adalah orang kuat yang sebenarnya.
Dari keterangan di atas, penulis berpendapat bahwa ketika terjadi perselisihan (konflik) saling menahan amarah, mengendalikan hawa nafsu dan saling memaafkan merupakan salah satu solusi dalam penyelesaian masalah. Saling mengalah melalui pengendalian emosi negataif (marah), memenej situasi dan mengkondisikan suasana yang kondusif menjadi jalan keluar dalam terbebasnya dari perseteruan yang berkepanjanagn. Suasana akan semakin nyaman dan kondusif ketika terbebas dari rasa kebencian yang terjadi di antara rekan kerja dengan saling memaafkan. Disinilah, konsep Al-Qur‘an menjadi solusi terbaik dalam penanganan konflik yang terjadi di dalam lembaga pendidikan.
Menjadi rujukan pertama dan terakhir ketika rujukan lain tidak mampu untuk menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi. Strategi kalah-kalah menjadi cocok dengan perspektif Al-Qur‘an melalui konsep saling memaafkan dan menahan amarah.
Penghindaran dapat diartikan menarik diri atau menekan konflik.
Menghindari konflik bukan merupakan penyelesaian yang efektif dan juga tidak menghilangkan, tetapi konflik harus dihadapi. Tetapi dalam beberapa keadaan penghindaran merupakan alternatif sementara yang paling baik.6 Menurut Hamali, strategi ini disebut juga strategi
5 ‗Abdullah bin Muhammad bin ‗Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh, Lubabut Tafsir Min Ibni Katsir (terjemahan) Tafsir Ibnu Katsir Jilid 2, Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi‘i, 2016, cet. XIX, hal. 139.
6 Veithzal Rivai Zainal, et.al., Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi, Jakarta:
Rajawali Pers, 2017, edisi. IV, cet. XI, hal. 299.
akomodasi atau strategi kompromi, di mana kedua belah pihak berkorban untuk kepentingan bersama.7
Sebagaimana Filley, House dan Kerr mengutarakan bahwa pendekatan ini dapat mengambil beberapa bentuk. Pendekatan pertama adalah kompromi atau melalui pengambilan jalan tengah yang diterima oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Pendekatan kedua adalah penyuapan dengan memberikan pembayaran kepada salah satu pihak yang terlibat dalam konflik. Pendekatan ketiga merupakan bentuk penggunaan pihak ketiga atau wasit (arbitrator).8
Pendekatan terakhir (ketiga) dalam pembahasan ini merupakan implementasi dari Al-Qur‘an Surat An-Nisa ayat 35, sebagaimana terjadi pada perselisihan diantara suami istri.
نوَإِ
َف آٍَِِِ يَة َقاَلِط ًُخ فِخ
ْ أُرَػ بٱ ِِّي ْ َ
أ ٌَِّ اٍَّٗهَخ نِإ ٓآَِي َْأ ٌَِّ اٍَّٗهَخَو ۦ
ِقِ ّفَُٔي اّٗدََٰل صِإ ٓاَديِرُي ُ َللّٱ
َنِإ ٓآٍََُِ يَة َ َللّٱ
اّٗيِۡتَخ اًٍيِيَغ َن َكَ
٣٥
“Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Ketika terjadi konflik diantara guru, maka solusi yang bisa dilakukan sesuai dengan makna yang terkandung dalam ayat di atas adalah menghadirkan pihak ke tiga.(arbitrator). Dalam hal ini yang menjadi pihak ketiga adalah kepala sekolah atau pimpinan lembaga.
Sejalan dengan pemikiran diatas, Nanang Budiutomo berpendapat bahwa strategi ini bisa dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu melalui jalan tengah atau musyawarah (kompromi) dan melibatkan pihak ketiga untuk menjadi penengah. Ketika mengalami jalan buntu melalui musyawarah, maka dapat diselesaikan dengan mengundang pihak ketiga untuk campur tangan dalam menyelesaikan konflik.
Ada dua tipe dalam campur tangan pihak ketiga ini sebagaimana dijelaskan Nanang Budiutomo, yaitu sebagai berikut:
7 Arif Yusuf Hamali dan Eka Sari Budihastuti, Pemahaman Praktis Administrasi, Organisasi, dan Manajemen Strategi Mengelola Kelangsungan Hidup Organisasi, ..., hal.
190.
8 Selvie M. Tumengkol, ―Dinamika Konflik Dalam Organisasi,‖ dalam Jurnal LPPM Bidang EkoSosBudKum, Vol. 3 No. 1 Tahun 2016, hal. 57.
a. Mediasi (Mediation)
Mediasi dipergunakan oleh mediator untuk menyelesaikan masalah tidak seperti dengan arbitrasi, karena seorang mediator tidak mempunyai kekuasaan secara langsung terhadap pihak-pihak yang bertikai dan rekomendasi yang diberikan bersifat tidak mengikat.
b. Arbitrasi (Arbritration)
Arbitrasi adalah prosedur dimana pihak ketiga mendengarkan kedua belah pihak yang berselisih, pihak ketiga bertindak sebagai hakim dan penengah dalam menentukan penyelesaian konflik melalui suatu akad yang mengikat.9
Kompromi adalah tawar-menawar, yaitu menerima sesuatu dengan imbalan yang lain. Upaya ini melibatkan pertimbangan berbagai isu, tawar-menawar dengan menggunakan negosiasi trade-off,10 dan mencari solusi yang memberi kepuasan bagi kedua belah pihak. Tidak ada pihak yang menang, namun keduanya mendapat kepuasan dari situasi tersebut. Untuk sementara, kedua pihak mungkin merasa sakit hati karena mereka harus melepaskan sesuatu yang penting bagi mereka, namun kompromi biasanya memberikan solusi yang dapat diterima.11
Namun menurut Veithzal Rivai Zainal, et.al., strategi ini merupakan cara tradisional untuk menyelesaikan konflik antarkelompok. Kompromi dapat digunakan secara efektif ketika bentuk tujuan (misalnya uang) dapat dibagi secara adil. Jika ini tidak mungkin, salah satu kelompok harus merelakan sesuatu yang berharga sebagai konsesi. Oleh karena itu, sebenarnya tidak pernah ada pihak yang benar-benar puas menerima hasil kompromi, dengan demikian, berarti kompromi sekadar merupakan pemecahan konflik yang bersifat sementara.12
Sedangkan pendapat James G. Petterson dalam bukunya ―How to Become a Better Negosiator‖, yang dikutip oleh Panggabean strategi ini sangat baik dipergunakan:
1) Bila permasalahnnya tersebut sederhana atau sepele.
2) Bila pihak-pihak dalam suatu konflik kurang mampu menawarkan win-win solution.
3) Bila potensi kekalahan dalam konflik lebih berat.
9 Nanang Budiutomo, ―Macam-macam Konflik dan Cara Memanajemen Konflik dalam Organisasi,‖ dalam https://bukubiruku.com/macam-macam-konflik-manajemen-konflik-dalam-organisasi/.Diakses pada 05 Februari 2021.
10 (Bertukar nilai) Meminta konsesi balasan dari setiap konsesi yang kita buat.
11 Ekawarna, Manajemen Konflik dan Stres, ..., hal. 89.
12 Veithzal Rivai Zainal, et.al., Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi, ..., hal. 299.