BAB III PENINGKATAN KINERJA GURU
2. Urgensi Kinerja Guru
Kesediaan dan keterampilan seseorang tidaklah cukup efektif untuk mengerjakan tugas sebagai guru tanpa memiliki semangat kerja serta pemahaman yang jelas tentang apa yang akan dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya. Dengan demikian, sangat dibutuhkan kinerja, apalagi untuk melaksanakan tugas sebagai tenaga pendidik yang berharap mendapatkan kebaikan. Al-Qur‘an surat At-Taubah ayat 105 menjelaskan sebagai berikut:
dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan
34 Imam Nawawi, Terjemah Riyadhus solihin jilid 1, Jakarta: Pustaka Amani, 1990, hal. 133.
yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.
Ayat tersebut menunjukkan pentingnya kinerja bagi setiap manusia, karena yang akan membuktikannya bukan hanya orang-orang yang beriman, tetapi juga Allah dan Rasul-Nya. Hal ini menunjukkan tingginya penghargaan atas orang yang melakukan pekerjaan yang baik dan untuk mendorong manusia melakukan kebaikan dengan sebaik-baiknya. Sabda Rasulallah SAW dalam hadis riwayat Imam Bukhori, hadis nomor 554 (Al-Bayan Digital Hadits).
“Hendaklah setiap Muslim itu bersedekah. Nabi ditanya oleh para sahabat, bagaimana kalau tidak bisa melaksanakannya? Jawab Nabi, hendaklah ia bekerja dengan tangannya sehingga bermanfaat bagi dirinya dan dapat bersedekah. Para sahabat bertanya kembali, jika tidak mampu? Nabi menjawab, hendaklah ia menolong orang yang membutuhkan. Para sahabat bertanya lagi, jika tidak mampu?
Nabi menjawab, hendaklah ia mengerjakan kebaikan dan menahan diri dari kejahatan. Sesungguhnya itu merupakan sedekah bagi dirinya.”
Berdasarkan tuntutan ayat Al-Quran dan Hadits tersebut manusia diperintahkan untuk melakukan bekerja dengan sebaik-baiknya. Dalam hal ini, setiap pekerjaan, termasuk mendidik yang dilakukan oleh guru perlu dilakukan dengan baik. Kinerja guru sangat penting guna membina generasi muda yang akan meneruskan kehidupan ini kelak.35
Sebagaimana diterangkan dalam Al-Quran dan tafsirnya, dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya, agar beliau mengatakan kepada kaum muslimin yang mau bertobat dan membersihkan diri dari dosa-dosa dengan cara bersedekah dan mengeluarkan zakat dan melakukan amal saleh sebanyak mungkin. Di samping itu, Allah juga memerintahkan kepada Rasul-Nya agar menyampaikan kepada umatnya, bahwa apabila mereka telah melakukan amal-amal saleh tersebut maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin lainnya akan melihat dan menilai amal-amal tersebut. Akhirnya mereka akan dikembalikan-Nya ke alam akhirat, akan diberikannya kepada mereka ganjaran atas amal-amal yang telah mereka lakukan selama hidup di dunia. Kepada mereka dianjurkan agar tidak hanya merasa cukup dengan melakukan tobat, zakat, sedekah dan salat semata-mata, melainkan haruslah mereka mengerjakan semua apa yang diperintahkan kepada mereka. Allah akan melihat amal-aml yang
35 Andri, ―Pengaruh Profesionalisme dan Kinerja Tenaga Pendidik Terhadap Hasil Belajar Al-Qur‘an Hadits Peserta Didik Di MTs Negeri 1 Subang).‖ Tesis, Jakarta:
Pascasarjana PTIQ Jakarta, 2017.
mereka lakukan itu, sehingga mereka semakin dekat kepada-Nya. Rasul dan kaum Muslimin akan melihat amal-amal kebajikan itu, sehingga merekapun akan mengikuti dan mencontohnya pula. Sedangkan Allah memberikan pahala yang berlipat ganda bagi mereka yang menjadi panutan, tanpa mengurangi pahala mereka yang mencontoh.
Ayat inipun berisi peringatan keras terhadap orang-orang yang menyalahi perintah agama, bahwa amal mereka itupun nantinya akan diperlihatkan kepada Rasul dan kaum Muslimin lainnya kelak di Hari Kiamat. Dengan demikian akan tersingkaplah aib mereka, karena akan terbukti bahwa amal-amal kebajikan mereka adalah amal sedikit, dan sebaliknya dosa dari kejahatan-kejahatan yang mereka lakukan lebih banyak. Bahkan di dunia inipun akan diperlihatkan pula kurangnya amal saleh mereka dan banyaknya kejahatan yang mereka lakukan.
Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa amalan orang-orang yang hidup, diperlihatkan kepada orang-orang yang telah mati, yaitu dari kalangan kaum keluarga dan sanak famili yang ada di alam barzakh.36
Dalam Tafsir Maudhu‘i, ayat ini mengandung budaya kerja, budaya di sini menyangkut attitude and behavior (sikap dan perilaku), yang meliputi tingkat ketaatan karyawan pada nilai-nilai dan norma/aturan yang berlaku yaitu bagaimana karyawan menjunjung tinggi nilai-nilai dan norma/aturan yang ada, tingkat komunikasi dan koordinasi pada semua tingkatan, tingkat kepedulian dan tanggung jawab yaitu bagaimana peran, sikap dan tanggung jawab karyawan pada keberhasilan tujuan organisasinya serta tingkat kemangkiran/
absensi.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa produktivitas kerja suatu organisasi sangat dipengaruhi oleh produktivitas kerja karyawannya. Atau dapat dikatakan bahwa produktivitas adalah perbandingan antara hasil dari suatu pekerjaan karyawan dengan pengorbanan yang telah dikeluarkan. Atau juga bisa dikatakan, produktivitas kerja karyawan akan bisa dicapai melalui motivasi yang kuat ditopang dengan budaya kedisiplinan kerja yang tinggi.
Sebagai seorang muslim yang meyakini keniscayaan balasan di Hari Akhir, maka produktivitas kerja bisa ditumbuhkan dengan membangun keyakinan yang benar, baik menyangkut hasil maupun cara.
Ayat ini merupakan targib (rangsangan/motivator) bagi mereka yang taat dan tarhib (ancaman) yang tidak taat. Seakan Allah berfirman, ―Bekerjalah dengan sungguh-sungguh demi masa depanmu,
36Departemen Agama RI, Al-Qur‟an dan Tafsirnya (Edisi yang Disempurnakan), Jakarta: Lentera Abadi, 2010, cet. Jilid IV, hal. 201.
baik untuk dunia maupun akhirat, maka masing-masing memiliki konsekuensi pahala (reward) maupun hukuman (punishment).‖ Jika di dunia perilakunya baik, maka ia akan mendapat pujian di dunia sekaligus pahala yang besar di akhirat.37 Begitu juga dalam bekerja, jika ia berprestasi maka secara otomatis ia juga akan memperoleh penghargaan, bonus, promosi jabatan dan lain-lain. Bahkan, jika kesungguhannya dalam bekerja ia sadari sebagai ibadah maka ia akan memperoleh pahala di akhirat kelak.38
Hamka mengartikan amal dalam ayat ini dengan bekerja, usaha, perbuatan atau keaktifan hidup. Karena nilai kehidupan ditentukan oleh amalan yang bermutu. Maka tidak boleh ada mukmin yang kosong waktunya daripada amal. Amal itu tidak akan lepas daripada perhatian Allah dan Rasul dan orang yang beriman. Di dalam surat Al-Isra surat 17 ayat 84 yang turun di Makkah, Tuhan berfirman:
“Katakanlah: Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya39 masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalanNya.”
Setelah dihubungkan dengan ayat ini, menurut Hamka bahwa Tuhan menyuruh kita bekerja menurut bakat dan bawaan, menurut tenaga dan kemampuan. Bekerjalah menurut bakat itu, tidak usah dikerjakan pekerjaan lain yang bukan tugas kita, supaya umur tidak habis percuma. Pergaulan hidup manusia menghendaki dalam segala simpang siurnya. Bertani, beternak, memburuh, berkuli, menjadi tentara, menjadi negarawan, menjadi pengarang, menjadi pedagang.
Ayah mendidik anak, ibu memelihara rumah tangga , murid belajar, guru mengajar. Walaupun tukang arit rumput atau membuka perusahaan besar. Walaupun menjadi nakhoda kapal atau pilot pengemudi pesawat terbang, dan sopir pembawa mobil. Dokter mengobati orang, perawat merawat orang sakit, ahli hukum menegakkan hukum. Apatah lagi, bertambah kemajuan hidup manusia, bertambah pula timbul kejuruan dalam hal-hal yang khas. Timbullah spesialisasi. Hamka menghubungkan ayat 105 surat At-Taubah dengan
37 Ar-Razi, Mafatihul Ghaib, jiid 8, hal. 145.
38 Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, Tafsir Al-Qur‟an Tematik, Kerja dan Ketenagakerjaan, Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur‘an, 2010, cet. I, hal. 149-150.
39 Termasuk dalam pengertian Keadaan disini ialah tabiat dan pengaruh alam sekitarnya.
ayat 84 Surat Al-Isra‘ tadi, menjadikan rangsangan yang hebat dari Tuhan melarang manusia malas dan membuang-buang waktu. Mutu pekerjaan mesti ditingkatkan, dan selalu mohonkan petunjuk daripada Tuhan.
Ayat ini dengan tegas menyuruh manusia mempertinggi produksi, dan tiap-tiap manusia mestilah produktif, mengeluarkan hasil, dan tahu di mana tempat kita masing-masing.40
Amalan yang bermutu menurut penulis adalah kinerja yang baik, yang sesuai dengan harapan (ekspektasi) dan tujuan dari sebuah program lembaga tercapai. Kinerja guru yang maksimal menjadi salah satu ukuran keberhasilan sebuah Lembaga Pendidikan. Capaian maksimal dari usaha seorang guru/karyawan menjadi pertimbangan bagi atasan (pimpinan) untuk memberikan penghargaan (reward) atas usaha yang dilakukan. Inilah Al-Quran memberikan gambaran bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan maksimal akan mendapatkan balasan.