• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS A.Deskripsi Teoritik

1. Strategi Pembelajaran Aktif

a. Pengertian Strategi pembelajaran

Strategi pembelajaran adalah rangkaian kegiatan terkait dengan pengelolaan peserta didik, pengelolaan lingkungan belajar, pengelolaan sumber belajar, dan penilaian untuk mencapai tujuan pembelajaran.1

Strategi pembelajaran menurut Kemp dalam Wina Sanjaya, strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan peserta didik agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.2

Strategi pembelajaran menurut Dick and Carey dalam Wina Sanjaya, strategi pembelajaran adalah suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada peserta didik.3

Dapat disimpulkan strategi pembelajaran adalah suatu rangkaian kegiatan untuk pembelajaran yang didalamnya tertera indikator, tujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan penilaian untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Dalam dunia pendidikan, strategi diartikan sebagai a plan, method, or series of activities designed to achieves a particular educational goal.

Dari beberapa pengertian di atas, maka dapat dinyatakan bahwa strategi pembelajaran merupakan perencanaan yang berisi

1

Warsono & Hariyanto, Pembelajaran Aktif Teori dan Asesmen, (Bandung: Rosda, 2014), h. 35.

2

Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan,

(Jakarta: Kencana Prenadamedia, 2006), h. 126.

3

tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pembelajaran yang efektif dan efisien .

Ada dua hal yang patut kita cermati dari pengertian di atas.

Pertama, strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan

(rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam pelajaran. Ini berarti penyusunan suatu strategi baru sampai pada proses penyusunan rencana kerja belum sampai pada tindakan. Kedua, strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Artinya arah dari semua keputusan penyusunan strategi adalah pencapaian tujuan. Dengan demikian, penyusunan langkah-langkah pembelajaran, pemanfaatan berbagai fasilitas dan sumber belajar semua diarahkan dalam upaya pencapaian tujuan. Oleh sebab itu, sebelum menentukan strategi, perlu dirumuskan tujuan yang jelas yang dapat diukur keberhasilannya, sebab tujuan adalah rohnya dalam implementasi suatu strategi.4

b. Prinsip-Prinsip Penggunaan Strategi Pembelajaran dalam Konteks Standar Proses Pendidikan

Yang dimaksud dengan prinsip-prinsip dalam bahasan ini adalah hal-hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan strategi pembelajaran. Prinsip umum penggunaan strategi pembelajaran adalah bahwa tidak semua strategi pembelajaran cocok digunakan untuk mencapai tujuan dan semua keadaan. Setiap strategi memiliki kekhasannya sendiri-sendiri. Menurut Killen dalam Wina Sanjaya, kekhasan dari strategi pembelajaran adalah, No teaching strategy is better than others in all circumatances, so you have to be able to use a variety of teaching strategies, and make rational decisions

about when each of teaching strategies is likely to most effective.

4

Oleh sebab itu guru perlu memahami prinsip-prinsip umum penggunaan strategi pembelajaran sebagai berikut:5

1) Berorientasi pada tujuan

Dalam sistem pembelajaran tujuan merupakan komponen yang utama. Segala aktivitas guru dan peserta didik, mestilah diupayakan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Ini sangat penting, sebab mengajar adalah proses yang bertujuan. Oleh karenanya keberhasilan suatu strategi pembelajaran dapat ditentukan dari keberhasilan peserta didik mencapai tujuan pembelajaran.

2) Aktivitas

Belajar bukanlah menghafal sejumlah fakta atau informasi. Belajar adalah berbuat, memperoleh pengalaman tertentu sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Karena itu, strategi pembelajaran harus dapat mendorong aktivitas peserta didik. Aktivitas tidak dimaksudkan terbatas pada aktivitas fisik, akan tetapi juga meliputi aktivitas yang bersifat psikis seperti aktivitas mental. Guru sering lupa dengan hal ini. Banyak guru yang terkecoh oleh sikap peserta didik yang pura-pura aktif padahal sebenarnya tidak

3) Individualitas

Mengajar adalah usaha mengembangkan setiap individu peserta didik. Walaupun kita mengajar pada sekelompokan peserta didik, namun pada hakikatnya yang ingin kita capai adalah perubahan perilaku setiap peserta didik.

4) Integritas

Mengajar harus dipandang sebagai usaha mengembangkan seluruh pribadi peserta didik. Mengajar bukan hanya mengembangkan kemampuan kognitif saja, akan tetapi juga meliputi pengembangan aspek afektif dan aspek psikomotor.

5

Oleh karena itu, strategi pembelajaran harus dapat mengembangkan seluruh aspek kepribadian peserta didik secara terintegrasi.6

c. Pengertian Pembelajaran Aktif

Secara harfiah active menurut Hornby dalam Mohammad Jauhar, active adalah in the habit of doing things, energetic. Artinya terbiasa berbuat segala hal dengan menggunakan segala daya. Pembelajaran yang aktif berarti pembelajaran yang memerlukan keaktifan semua peserta didik dan guru secara fisik, mental, emosional, bahkan moral dan spiritual. Guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga peserta didik aktif bertanya, membangun gagasan, dan melakukan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman langsung, sehingga belajar merupakan proses aktif peserta didik dalam membangun pengetahuannya sendiri. Dengan demikian, peserta didik didorong untuk bertanggung jawab terhadap proses belajarnya sendiri.7

Keterlibatan aktif dimulai dengan keinginan menyertakan seluruh peserta didik tanpa melihat kecenderungan kecerdasannya, kesempatan mendapat keuntungkan dari pengajaran yang kaya yang akan mendorong peserta didik menjadi pelajar yang lebih cerdas. Dengan tujuan mengajar pelajar yang berpikir penuh, yang aktif mengejar ilmu, guru juga akan menjadi lebih aktif terlibat dan membuat perubahan-perubahan berarti dalam cara menyampaikan kurikulum dan mengembangkan potensi belajar setiap peserta didik.8

6

Ibid., h. 133.

7

Mohammad Jauhar, Implementasi PAIKEM dari Behaviorostik sampai Konstruktivistik,

(Jakarta: Prestasi Pustakaraya, 2011), h. 156.

8

James Bellanca, 200+ Strategi dan Proyek Pembelajaran Aktif untuk Melibatkan

Pembelajaran aktif menurut Mahchmudah dalam Sofan Amri, suatu bentuk pembelajaran yang memungkinkan peserta didik berperan secara aktif dalam proses pembelajaran, baik dalam bentuk interaksi sesama peserta didik maupu peserta didik dengan pengajar pada proses pembelajaran aktif tersebut. Belajar aktif menurut Silberman dalam Sofan Amri belajar aktif meliputi berbagai cara untuk membuat peserta didik aktif sejak awal melakukan aktivitas-aktivitas yang membangun kerja kelompok, dan dalam waktu yang singkat, membuat mereka berpikir tentang materi pelajaran.9

Pembelajaran aktif adalah istilah payung bagi berbagai model pembelajaran yang berfokus kepada peserta didik sebagai penanggung jawab belajar.10

Active Learning (Pembelajaran Aktif), yaitu peserta didik

aktif selama kegiatan pembelajaran, dapat berupa secara fisik melakukan sesuatu atau secara intelektual melakukan sesuatu (sebagai abstraksi dari peserta didik yang bersifat reflektif).11

Pembelajaran aktif melibatkan pembelajaran yang terjadi ketika peserta didik bersemangat, siap secara mental dan bisa memahami pengalaman yang dialaminya.12

Pembelajaran aktif adalah suatu pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk belajar aktif. Ketika peserta didik belajar dengan aktif, berarti mereka yang mendominasi aktivitas pembelajaran. Dengan ini mereka secara aktif menggunakan otak, baik untuk menemukan ide pokok dari materi pelajaran sekolah, memecahkan persoalan, atau mengaplikasikan apa yang baru mereka pelajari ke dalam suatu persoalan yang ada dalam

9

Sofan Amri, Implementasi Pembelajaran Aktif dalam Kurikulum 2013, (Jakarta: Prestasi Pustakaraya, 2015), h. 1. 10 Warsono, op.cit., h. 5. 11 Ibid., h. 24. 12

Pat Hillingsworth & Gina Lewis., Pembelajaran Aktif: Meningkatkan Keasyikan

kehidupan nyata. Dengan belajar aktif ini, peserta didik diajak untuk turut serta dalam semua proses pembelajaran, tidak hanya mental akan tetapi juga melibatkan fisik. Dengan cara ini biasanya peserta didik akan merasakan suasana yang lebih menyenangkan sehingga hasil belajar dapat dimaksimalkan.13

Dapat disimpulkan, pembelajaran aktif adalah suatu bentuk model pembelajaran yang membuat peserta didik menjadi aktif. Peserta didik diajak menyelesaikan masalah dengan menggunakan pengetahuan yang mereka miliki dan menerapkan apa yang telah mereka pelajari.

d. Karakteristik Pembelajaran Aktif

Menurut Bonwell dan Eison dalam Sofan Amri pembelajaran aktif memiliki karakteristik sebagai berikut:

1) Penekanan proses pembelajaran bukan pada penyampaian informasi oleh pengajar melainkan pada pengembangan keterampilan pemikiran analitis dan kritis terhadap topik atau permasalahan yang dibahas.

2) Peserta didik tidak mendengarkan pembelajaran pasif, tetapi mengerjakan sesuatu yang berkaitan dengan materi pelajaran 3) Penekanan pada eksplorasi nila-nilai dan sikap-sikap berkenaan

dengan materi pembelajaran

4) Peserta didik lebih banyak dituntut berpikir kritis, menganalisa dan melakukan evaluasi

5) Umpan balik yang lebih cepat akan terjadi pada proses pembelajaran.14

13

Hisyam Zaini, Bermawy Munthe & Sekar Ayu Aryani, Strategi Pembelajaran Aktif di

Perguruan Tinggi, (Yogyakarta: CTSD (Centre for Teaching Staff Development), 2002), h. Xii.

14

e. Ciri-Ciri Pembelajaran Aktif

Berikut ini disajikan sejumlah ciri-ciri atau indikator terjadinya pembelajaran aktif pada setting kelas.

1) Kegiatan belajar suatu kompetensi dikaitkan dengan kompetensi lain pada suatu mata pelajaran atau mata pelajaran lain

2) Kegiatan belajar menarik minat peserta didik 3) Kegiatan belajar terasa menggairahkan peserta didik

4) Semua peserta didik terlibat secara aktif dalam kegiatan belajar 5) Mendorong peserta didik berpikir secara aktif dalam kegiatan

belajar

6) Saling menghargai pendapat dan hasil kerja (karya) teman 7) Mendorong rasa ingin tahu peserta didik untuk bertanya 8) Mendorong peserta didik melakukan eksplorasi (penjelajahan) 9) Mendorong peserta didik mengekspresikan gagasan dan

perasaan secara lisan, tulisan, dalam bentuk gambar, produk tiga (3) dimensi, gerak, tarian, atau permainan

10)Mendorong peserta didik agar tidak takut berbuat kesalahan 11)Menciptakan suasana dalam melakukan kegiatan belajar

12)Mendorong peserta didik melakukan variasi kegiatan individual (mandiri), pasangan, kelompok, atau seluruh kelas.

13)Mendorong peserta didik bekerja sama guna mengembangkan keterampilan sosial

14)Kegiatan belajar banyak melibatkan berbagai indera

15)Menggunakan alat, bahan, atau sarana bila dituntut oleh kegiatan belajar

16)Melibatkan kegiatan melakukan, seperti melakukan observasi, percobaan, penyelidikan, permainan peran, permainan (game) 17)Mendorong peserta didik melalui penghargaan, pujian,

pemberian semangat

19)Menerapkan teknik bertanya guna mendorong peserta didik berpikir dan melakuakan kegiatan

20)Mendorong peserta didik mencari informasi, data, dan mencari jawaban atas pertanyaan

21)Mendorong peserta didik menemukan sendiri

22)Peserta didik pada umumnya berani bertanya secara kritis.15

f. Keuntungan Pembelajaran Aktif

Pembelajaran aktif, selain mengoptimalkan segi keaktifan peserta didik dalam pembelajaran, juga banyak memberikan keuntungan lain yang mendukung kegiatan pembelajaran. Keuntungan pembelajaran aktif adalah sebagai berikut:

1) Peserta didik akan lebih termotivasi karena akan lebih mudah belajar disaat mereka merasa senang

2) Berlangsung dalam lingkungan yang tenang, karena percobaan dan kegagalan diterima

3) Adanya partisipasi dari semua kelompok

4) Tiap orang bertanggung jawab atas pembelajarannya masing-masing

5) Fleksibel dan relevan

6) Sesuatu menyatakan pemikirannya

7) Masing-masing memberikan koreksi jika ada kesalahan16

Menurut Machmudah dalam Sofan Amri secara umum dengan melakukan pembelajaran aktif (active learning) akan diperoleh hal-hal sebagai berikut:

1) Interaksi yang timbul selama proses pembelajaran akan menimbulkan positive interdependence dimana konsolidasi pengetahuan yang dipelajari hanya dapat diperoleh secara bersama-sama melalui eksplorasi aktif dalam belajar

15

Ibid., h. 79-80.

16

2) Setiap individu harus terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan pengajar harus dapat mendapatkan penilaian untuk setiap peserta didik sehingga terdapat individual accountability

3) Agar proses pembelajaran aktif ini berjalan dengan efektif, diperlukan tingkat kerjasama yang tinggi sehingga dapat memupuk social skill.17

g. Kekurangan atau Hambatan dalam Pembelajaran Aktif

Pembelajaran aktif membutuhkan terlalu banyak waktu.18 Hambatan lain datang dari beberapa faktor, antara lain: 1) Peserta didik

Ada beberapa kondisi yang membuat penerapan strategi

active learning tidak berjalan sesuai yang diinginkan.

Faktor-faktor berikut ini bisa terjadi pada peserta didik. a) Bersifat pasif. Mereka cenderung lebih nyaman jika

proses pembelajaran disampaikan dengan metode ceramah

b) Tidak terbiasa memecahkan persoalan secara mandiri

c) Lebih senang menunggu jawaban dari guru. 2) Pengajar

Kegagalan praktek startegi active learning dapat bersumber pada pengajar. Beberapa kondisi di bawah ini dapat menyebabkan kegagalan tersebut

a) Tidak memahami strategi dengan langkah-langkahnya yang benar

b) Tidak ada instruksi yang jelas

c) Ragu-ragu dengan strategi yang digunakan d) Bereksperimen dengan sesukanya

17

Ibid.

18

Mel Silberman, Pembelajaran Aktif 101 Strategi untuk Mengajar Secara Aktif, (Jakarta: PT Indeks, 2013), h. Xi.

3) Materi

Materi yang akan diajarkan merupakan faktor yang sangat penting dalam implementasi startegi active learning.

a) Materi terlalu mudah

b) Materi bukan problem solving

c) Materi tidak diketahui oleh peserta didik d) Materi tidak tersedia

4) Sarana

Sebagai penunjang pembelajaran, sarana mempunyai peran penting dalam kesuksesan implementasi strategi

active learning. Diantara sarana yang kurang

mendukung kesuksesan implementasi adalah sebagai berikut.

a) Minimnya peralatan b) Lingkungan tidak kondusif

c) Bentuk kelas yang tidak mendukung19

h. Teknik Information Search

1) Pengertian Teknik Information Search

Teknik information search ini bisa disamakan dengan ujian open-book. Tim-tim kelas mencari informasi (biasanya yang diungkapkan dalam pengarahan ala ceramah) yang menjawab pertanyaan yang diajukan kepada mereka. Teknik

information search ini sangat membantu menjadikan materi yang

biasa-biasa saja menjadi lebih menarik.20

Information search adalah teknik pembelajaran yang

dilakukan peserta didik secara berkelompok. Peserta didik

19

Hisyam Zaini, Strategi Pembelajaran Aktif Implementasi dan Kendalanya Di Dalam Kelas, Jurnal FKIP, Universitas Negeri, 2009, h. 8.

20

Mel Silberman, Active Learning; 101 Cara Belajar Siswa Aktif, (Bandung: Nuansa Cendekia, 2014), cet. 10, h. 164.

diminta mencari informasi yang berkaitan dengan materi mata pelajaran untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan guru kepada peserta didik.21

Teknik information search pertama-tama peserta didik diberi satu persoalan yang dapat dijawab dengan membaca beberapa rujukan (boleh juga hanya dengan satu rujukan). Semakin banyak rujukan akan semakin baik dan semakin memperlihatkan hakekat dari teknik ini. Setelah dijawab, guru meminta peserta didik untuk menyampaikan di kelas.22

Jadi dapat disimpulkan bahwa teknik information search adalah teknik pembelajaran aktif yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran yang dimana peserta didik dituntut untuk belajar mandiri serta berkerja sama dengan temannya dengan cara mencari informasi sendiri atas pertanyaan yang diajukan oleh guru atau peserta didik lainnya dari materi yang sedang dipelajarinya dengan berbagai sumber belajar seperti bahan bacan dari guru (hand-out), dokumen, jurnal, internet, dan berbagai macam sumber yang terkait dengan materi tersebut. 2) Langkah-langkah Teknik Information Search

Adapun prosedur atau langkah-langkah penerapan teknik information search ini sebagai berikut:

a) Peserta Didik diminta untuk mencari informasi yang terdapat dalam teks atau bahan bacaan

b) Guru membuat pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya terdapat dalam teks

c) Guru membagi kelas dalam kelompok-kelompok kecil tiga sampai lima orang perkelompok

21

Deny Luvita Sari, Siswandari, Sohidin., Perbandingan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Information Search dan Student Teams Achievement Divison, Jurnal FKIP, Vol 1, No. 3, 2013, h. 5.

22

d) Guru menjelaskan pertanyaan-pertanyaan yang guru buat, kepada kelompok-kelompok kecil tersebut

e) Peserta didik bersaing mencari informasi atau jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang telah ditentukan oleh guru untuk bersaing dalam pencarian informasi. Karena hal ini justru akan membuat mereka terpacu semangatnya

f) Peserta didik dan guru mengulang kembali semua jawaban dari peserta didik dan mengembangkan jawaban tersebut untuk menambah informasi peserta didik, sehingga jawaban yang didapat semakin jelas.23

Prosedur teknik information search menurut Melvin L.Silberman dalam bukunya adalah sebagai berikut;

a) Buatlah sekumpulan pertanyaan yang dapat dijawab dengan mencari informasi yang bisa ditemukan dalam buku sumber yang telah guru bagikan kepada peserta didik. Materi sumbernya bisa mencakup; buku pegangan, dokumen, buku teks, panduan referensi, informasi yang diakses melalui

komputer, artifak, peralatam “berat”: (misalnya mesin)

b) Bagikan pertanyaan-pertanyaan tentang topiknya

c) Perintahkan peserta didik untuk mencari informasi dalam tim-tim kecil. Kompetisi yang bersahabat bisa diwujudkan untuk mendorong partisipasi

d) Bahaslah jawabannya di depan kelas. Perluaslah jawabannya guna memperluas cakupan pembelajaran.24

Variasi

a) Buatlah pertanyaan yang mendorong peserta didik untuk menyimpulkan jawaban dari informasi sumber yang

23

Dede Rosyada, dkk., Buku Panduan Dosen Pendidikan Kewarganegaraan, (Jakarta, Prenada Media, 2004), h. 24.

24

tersedia, dan bukan menggunakan pertanyaan yang dapat dijawab langsung oleh hasil pencariannya

b) Sebagai pengganti pencarian jawaban, berikan peserta didik tugas yang berbeda semisal problema kasus untuk dipecahkan, sebuah latihan yang mengharuskan mereka mencocokan butir-butirnya, atau sejumlah kata yang diaduk-aduk yang menjelaskan istilah penting yang terkandung dalam informasi sumber jika bisa diurutkan dengan benar.25

2. Pemahaman Konsep IPS MI/SD

Dokumen terkait