• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. METODOLOGI PENELITIAN

3.5. Metode Analisis Data

3.5.4. Struktur Hierarki Kebijakan Pengembangan Pasar

= CH (t;i 1) VW (a 1) CVij ij t Untuk ; i = 1, 2, 3, ... n; j = 1, 2, 3, ... n; t = 1, 2, 3, ... n di mana : ) 1 ; (t i

CHij = nilai prioritas elemen ke-i terhadap elemen ke-t pada tingkat di atasnya (i-1), yang diperoleh dari hasil pengolahan horisontal )

1 (i

VWt = nilai prioritas pengaruh elemen ke-t pada tingkat ke (i-t) terhadap sasaran utama, yang diperoleh dari hasil perhitungan horisontal P = jumlah tingkat hierarki keputusan

r = jumlah elemen yang ada pada tingkat ke-i s = jumlah elemen yang ada pada tingkat ke (i-t)

c. Mengevaluasi inkonsistensi untuk seluruh hierarki. Pada pengisian judgement pada tahap MPB (Matriks Banding Berpasangan) terdapat kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam membandingkan elemen satu dengan elemen yang lainnya, sehingga diperlukan suatu uji konsistensi. Dalam PHA penyimpangan diperbolehkan dengan toleransi Rasio Inkonsistensi di bawah sepuluh persen. Langkah ini dilakukan dengan mengalikan setiap indeks konsistensi dengan prioritas-prioritas kriteria yang bersangkutan dan menjumlahkan hasil kalinya. Hasil ini dibagi dengan pernyataan sejenis yang menggunakan indeks konsistensi acak, yang sesuai dengan dimensi masing-masing matriks. Untuk memperoleh hasil yang baik, rasio inkonsistensi hierarki harus bernilai kurang dari atau sama dengan sepuluh persen.

3.5.4. Struktur Hierarki Kebijakan Pengembangan Pasar Tradisional

Penentuan struktur hierarki dalam Proses Hierarki Analisis (Lampiran 3) didasarkan pada literatur-literatur dan didiskusikan bersama dengan narasumber. Struktur hierarki ini terdiri dari empat level sebagai berikut :

1. Level pertama merupakan tujuan dari dilakukannya proses hierarki analisis yaitu pengembangan pasar tradisional. Tujuan ini ditetapkan terkait dengan hasil analisis kebijakan sehingga dapat digunakan sebagai masukan untuk pemerintah daerah bagi kebijakan pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor.

2. Level kedua yaitu penentuan aspek yang paling diutamakan dalam tujuan pengembangan pasar tradisional, terdiri dari :

• Aspek ekonomi, penentuan aspek ini didasarkan pada kebijakan pembangunan di Kota Bogor yang dititikberatkan pada pembangunan ekonomi, sehingga tujuan pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor dapat diarahkan untuk pertumbuhan ekonomi.

• Aspek manajemen, penentuan aspek ini didasarkan pada kebutuhan akan pengelolaan manajemen pasar secara lebih profeional.

• Aspek teknis, penentuan aspek ini didasarkan pada kondisi riil di mana pasar tradisional mulai tersaingi oleh keberadaan pasar modern yang lebih bersih, menarik dan rapi sehingga aspek ini penting untuk diperhitungkan.

• Aspek sosial, penentuan aspek ini didasarkan pada keberadaan pasar tradisional yang tidak lepas dari kehidupan sosial masyarakat karena adanya proses pertemuan langsung antara pembeli dan penjual.

3. Level ketiga merupakan kriteria dari aspek-aspek pada level kedua, yaitu : • Aspek ekonomi, kriterianya yaitu meningkatkan PAD, menciptakan lapangan

kerja dan meningkatkan kesejahteraan pedagang dan masyarakat.

• Aspek manajemen, kriterianya yaitu meningkatkan manajemen pengelolaan pasar tradisional secara profesional; membentuk pasar tradisional menjadi

usaha yang efisien; meningkatkan pelayanan kepada masyarakat; penataan dan pembinaan PKL.

• Aspek teknis, kriterianya yaitu peningkatan sarana dan prasarana pasar dan kondisi fisik pasar lebih bersih dan rapi.

• Aspek sosial, kriterianya yaitu mengurangi potensi konflik dengan masyarakat; terciptanya kondisi pasar yang aman, nyaman dan bersih bagi konsumen dan menciptakan pasar yang berdaya saing sehingga lebih kompetitif.

4. Level keempat merupakan alternaif strategi bagi pengembangan pasar tradisional yang terdiri dari :

• Pembentukan PD. Pasar, pemilihan strategi ini didasarkan pada rekomendasi dari penelitian yang dilakukan oleh Balitbangdiklat dan PT. Oxalis Subur. Penelitian ini menyatakan bahwa upaya untuk mengembangkan pasar tradisional di Kota Bogor dapat dilakukan dengan pembentukan PD. Pasar bagi seluruh pasar tradisional yang ada di Kota Bogor. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pasar tradisional di Kota Bogor layak untuk dijadikan sebagai PD. Pasar dilihat dari potensi dan peluangnya.

• Pemberdayaan pedagang dan pengelola pasar, pemilihan strategi ini didasarkan untuk mendorong pedagang supaya lebih berkembang dan mandiri dalam usahanya. Pemberdayaan pedagang dilaksanakan dengan memberikan penyuluhan kepada para pedagang mengenai kewirausahaan, pengelolaan usaha sehingga lebih efisien dan sistem pemasaran. Pemberdayaan pengelola pasar dilakukan dengan pemberian pelatihan atau diklat tentang manajemen usaha yang profesional.

• Pendistribusian PKL ke pasar-pasar yang telah dibangun. Salah satu kendala dalam pengembangan pasar tradisional di Kota Bogor yaitu banyaknya pedagang yang tidak mau menempati kios-kios yang ada di pasar-pasar yang baru dibangun. Akibatnya mereka lebih memilih menjadi PKL yang tersebar di sekitar Pasar Kebon Kembang, Pasar Baru Bogor, di Jalan Surya Kencana dan di Jalan Otista. Hal tersebut berdampak pada pasar-pasar yang baru dibangun oleh Pemerintah. Akibat sepinya pedagang maka konsumen pun enggan berbelanja di pasar tersebut. Maka strategi ini dapat menjadi alternatif dengan mendistribusikan seluruh PKL ke pasar-pasar yang belum terisi seperti Pasar Jambu Dua, Pasar Cimanggu, Pasar Tanah Baru dan Pasar Pamoyanan. • Pembangunan pasar lingkungan, penentuan strategi ini didasarkan pada

kondisi geografis dan budaya masyarakatnya yang lebih suka berbelanja di tempat yang dekat dengan rumahnya. Pasar lingkungan merupakan pasar yang berskala pemukiman dan lebih bersifat tidak permanen. Meskipun bangunannya tidak permanen bukan berarti kondisinya tidak baik, hal ini pula dapat menjadi insentif bagi pedagang karena harga kios yang jauh lebih murah.

• Menjalin kemitraan dengan UKM dan koperasi, pemilihan strategi ini didasarkan pada upya untuk meningkatkan pertumbuhan pasar tradisional melalui kemitraan yang dijalin dengan UKM dan koperasi, karena basis kegiatan dari pasar tradisional merupakan usaha yang bersifat kerakyatan. Adanya UKM maka pasar tradisional dapat menjadi tempat pemasaran bagi produk-produk UKM sehingga akan lebih berkembang. Koperasi dapat membantu para pedagang di pasar tradisional terutama dalam hal permodalan.

• Pemberian bantuan kredit, pemilihan strategi ini karena salah satu permasalahan utama yang dimiliki pedagang yaitu kepemilikan modal. Seringkali terjadi banyak pedagang yang mengalami kebangkrutan akibat tidak memiliki modal dan terpaksa menjadi pengangguran. Untuk pengembangan pasar tradisional, maka pemberian bantuan kredit kepada para pedagang sangat diperlukan. Pemerintah dapat memfasilitasi pedagang dengan kredit bunga kecil melalui koperasi.

• Pembentukan forum komunikasi. Alternatif ini dipilih karena untuk merencanakan suatu kebijakan dalam pengembangan pasar tradisional perlu dibuat forum komunikasi di mana semua pihak yang berkepentingan terlibat. Sehingga tujuan yang ingin dicapai melalui kebijakan dapat mengakomodir semua kepentingan dari stakeholders. Forum komunikasi yang dilaksanakan harus melibatkan instansi Pemerintah Daerah, Pemerintah Kelurahan, Pemerintah Kecamatan, pihak pengelola pasar baik UPTD maupun swasta dan pedagang serta masyarakat sekitar pasar.