• Tidak ada hasil yang ditemukan

1.5 Metodologi Penelitian

1.5.2 Studi Kepustakaan

Dalam tahapan ini penulis mencari informasi, teori, dan mempelajari untuk mencapai penulisan suatu ilmiah yang tidak hanya mampu memberi jawaban atas permasalahan, tetapi juga layak untuk menjadi suatu karya ilmiah karena memenuhi persyaratan keilmiahan. Penulis kemudian membaca bahan bacaan tersebut guna menambah khazanah berpikir dan sebagai salah satu sumber informasi pendukung. Penulis mengumpulkan bacaan tentang kajian sastra, kajian kebudayaan, musikologis, dan juga tulisan hasil penelitian.

Dalam penyusunan skripsi ini penulis memakai beberapa hasil penelitian dalam bentuk skripsi sebagai acuan study kepustakaan. Di antaranya adalah skripsi Destri Damayanti Purba, 2011, yang menulis skripsi bertajuk Studi Deskriptif Musik Dalam Konteks Upacara Adhi Triwula Pada Masyarakat Hindu Tamil Di Kuil Shri Singgamma Kali Koil Medan. Medan: USU. Skripsi ini mendeskripsikan pertunjukan musik religi yang digunakan dalam upacara adhi triwula di dalam peradaban masyarakat Hindu Tamil di Kuil Shri Singgama Kali Koil Medan. Pendekatan yang digunakan adalah secara etnomusikologis terutama pendekatan struktural musik dan upacara. Skripsi lainnya adalah Sandro Batubara, 2012, yang berjudul Studi Deskriptif Musikal Dalam Konteks Upacara Mandalabhisekam pada Masyarakat Hindu Tamil di Kuil Shri Balaji Venkateshwara Koil Medan. Medan: USU. Di dalam skripsi ini Sandro Batubara mendeskripsikan musik yang digunakan di dalam upacara mandalabhisekam pada masyarakat Hindu Tamil di Kuil Shri Balaji Venkateshwara Koil Medan. Sama dengan Destri Purba, skripsi ini juga menekankan deskripsi pada pertunjukan musik religi

dalam salah satu upacara masyarakat Hindu Tamil. Pendekatan yang dilakukan juga secara etnomusikologis, terutama pada aspek teks dan musik.

1.5.3 Penelitian Lapangan

Sebagai sebuah disiplin ilmu yang mempelajari manusia dan produk budayanya, khususnya musik, displin etnomusikologi tentu tidak terlepas dari kerja lapangan. Karena budaya dan musik khususnya nyata serta jelas berada di tengah-tengah manusia yang dinamis sehingga perlu diadakan penelitian lapangan agar mampu melihat realitasnya secara objektif dan faktual. Dalam konteks ini penulis melakukan kerja lapangan yaitu wawancara dan pengamatan.

1.5.3.1 Wawancara

Untuk lebih melengkapi data penelitian, penulis juga melakukan wawancara. Wawancara adalah sebuah proses pengumpulan informasi keterangan dengan tujuan penelitian melalui tanya-jawab antara penulis dengan informan maupun responden.

Dalam hal melakukan wawancara, penulis akan berpedoman kepada metode wawancara, bentuk pertanyaan, persiapan wawancara, dan pencatatan hasil wawancara, seperti dikemukakan oleh Koenjaraningrat (1985 : hlm.129- 155), yaitu :

a) Metode wawancara dapat dibagi dalam dua golongan besar yaitu : wawancara berencana dan wawancara tidak berencana. Daftar pertanyaan pada wawancara berencana telah disusun dalam daftar pertanyaan sebelum diajukan kepada para responden, sedangkan

pada wawancara tidak berencana tidak terdapat daftar pertanyaan sebelum dilakukan wawancara. Di dalam wawancara tidak berencana juga terdapat bentuk wawancara terfokus, yaitu wawancara terpusat pada pokok permasalahan, wawancara bebas, yaitu pertanyaan yang diajukan tidak terpusat dan dapat beralih dari satu pokok ke pokok yang lain tapi tetap mendukung informasi penelitian dan wawancara sambil lalu, pembedaanya dalam wawancara sambil lalu orang-orang yang akan diwawancarai tidak diseleksi terlebih dahulu.

b) Berdasarkan bentuk pertanyaannya wawancara terbagi atas dua, yaitu, wawancara tertutup dan wawancara terbuka. Perbedaan keduanya terletak pada jawaban yang dikehendaki dari informan. Pada wawancara tertutup, pertanyaannya dirancang sedemikian rupa agar jawaban dari informan terbatas dan sudah ditentukan sebelumnya, sedangkan pada wawancara terbuka, pertanyaannya dirancang sedemikian rupa sehingga jawaban responden atau informan tidak terbatas dalam beberapa kata atau kalimat.

c) Persiapan wawancara, ada tiga hal yang perlu diperhatikan sebelum wawancara, yaitu : 1) seleksi individu untuk diwawancara, dimana orang-orang yang akan diwawancarai harus terlebih dahulu diklasifikasikan ke dalam dua bagian yaitu, wawancara untuk mendapatkan keterangan dan data informasi dari orang-orang yang mempunyai keahlian tentang pokok wawancara yang disebut informan dan wawancara untuk mendapatkan keterangan, data, dan pandangan terkait hal-hal tertentu sebagai bahan perbandingan dari

orang tertentu disebut responden. 2) pendekatan terhadap orang yang telah diseleksi. 3) pengembangan suasana lancar dalam wawancara. Setelah membangun hubungan emosional dan komitmen dengan orang yang akan diwawancara harus juga dipikirkan cara agar informan mampu menjawab dengan lancar, bersedia memberi informasi sebanyak-banyaknya, dan bersikap kooperatif.

d) Pencatatan hasil wawancara. Hal ini bisa dilakukan pada saat wawancara berlangsung maupun setelah wawancara selesai. Secara umum ada lima cara pencatatan hasil wawancara, yaitu: 1) pencatatan langsung, dilakukan pada saat wawancara berlangsung, 2) pencatatan dari ingatan, dilakukan setelah wawancara selesai, 3) pencatatan dengan alat perekam, pencatatan yang dilakukan dengan bantuan tape recorder, 4) pencatatan dengan angka ataukata-kata yang mempunyai nilai, pencatatan yang dilakukan berdasarkan nilai kategori jawaban, 5) pencatatan dengan kode, pencatatan yang dilakukan berdasarkan kode kategori jawaban. Mengingat penelitian yang akan penulis lakukan bersifat kualitatif, maka teknik pencatatan hasil wawancara seperti tertera pada nomor 4 (empat) dan nomor 5 (lima) di atas, tidak digunakan.

Secara teknis, selain mengacu pada cara kerja di atas, penulis juga akan mempersiapkan kelengkapan peralatan wawancara. Seperti alat tulis, kertas, tape recorder, kaset, dan keperluan lainnya yang mendukung proses wawancara tersebut.

1.5.3.2 Pengamatan di Lapangan

Pengamatan adalah melihat secara langsung objek penelitian di lapangan guna mendapatkan informasi dan data tambahan. Pengamatan atau observasi adalah suatu penelitian secara sistematis menggunakan kemampuan indra manusia (Suwardi, 2006:133). Meskipun indra manusia menjadi instrumen utama, pendokumentasian hal-hal tertentu di lapangan dengan menggunakan video maupun tape recorder diharapkan dapat lebih memantapkan proses pengamatan dan hasil yang diperoleh.

Sebagai bahan acuan penulis dalam melakukan pengamatan, penulis merujuk pada rangkuman Posman Simanjuntak dalam buku Berkenalan dengan Antropologi (2000:hlm.8-10) yang berisi pendapat para antropolog tentang bahan amatan, metode pengamatan berdasarkan keterlibatan, dan metode pengamatan berdasarkan cara yang dilakukan, yaitu :

a) Bahan amatan. Terbagi atas 8 (delapan) hal, yaitu: 1) pelaku atau partisipan, menyangkut siapa saja yang terlibat dalam kegiatan yang diamati, 2) kegiatan, yaitu menyangkut bentuk, bagaimana, dan apa akibat yang dihasilkan dari kegiatan yang dilakukan partisipan, 3) tujuan, menyangkut apa yang menjadi tujuan partisipan melakukan hal yang diamati, 4) perasaan, menyangkut ungkapan-ungkapan emosi partisipan, baik dalam bentuk tindakan, ucapan, ekspresi muka, atau gerak tubuh, 5) ruang atau tempat, yaitu lokasi dari peristiwa yang diamati, 6) waktu, menyangkut jangka waktu kegiatan yang diamati, 7) benda atau alat, menyangkut jenis, bentuk, bahan, dan kegunaan benda atau alat

yang dipakai, 8) peristiwa, menyangkut kejadian-kejadian lain yang terjadi secara bersamaan dengan kegiatan yang diamati.

b) Berdasarkan keterlibatan peneliti, metode pengamatan dibedakan sebagai berikut: 1) pengamatan biasa, dalam pengamatan ini peneliti tidak memiliki keterlibatan apapun dengan pelaku yang menjadi objek penelitian, 2) pengamatan terkendali, juga pengamatan yang tidak terlibat dengan objek, namun, dalam pengamatan ini peneliti mengamati objek pada lingkungan yang terbatas untuk meningkatkan ketepatan data dan informasi, 3) pengamatan terlibat, dalam pengamatan ini pengamat ikut berpartisipasi pada kegiatan yang diamati.

c) Berdasarkan cara yang dilakukan, metode pengamatan dibedakan atas: 1) pengamatan tidak berstruktur, dalam pengamatan ini tidak terdapat format pencatatan dan ketentuan yang baku, selain itu pengamatan ini bersifat eksploratif, 2) pengamatan berstruktur, dalam mengumpulkan data, peneliti berpedoman secara sistematis kepada format pencatatan dan ketentuan baku yang telah ditetapkan sebelumnya.

1.5.4 Kerja Laboratorium

Setelah mendapatkan data di lapangan, penulis akan mulai mengolah data tersebut ke dalam bentuk laporan penelitian. Data tersebut berupa catatan- catatan, rekaman hasil wawancara penulis dengan narasumber. Pada kerja laboratorium ini penulis juga akan mengambil beberapa buah sampel lagu nyanyian Bhajan.

1.6 Lokasi Penelitian

Untuk menentukan lokasi penelitian, paling tidak ada dua kriteria yang harus diperhatikan, yaitu: (1) menguntungkan atau tidak tempat yang dipilih untuk pengambilan data yang lengkap dan (2) apakah orang-orang yang ada di tempat itu benar-benar siap dan respek dijadikan subjek penelitian (Suwardi, 2006:108).

Merujuk pendapat diatas, penulis melihat bahwa Kumara Shanti Sai Centre yang beralamat di Jln. Lobak no.18, kelurahan Darat, kec Medan Baru, Medan. Lokasi penelitian ini ditetapkan dengan beberapa alasan yaitu :

1) Di tempat ini penulis bisa mendapat data penelitian yang lengkap dan representatif tentang Bhajan karena Bapak Mohan Leo yang juga seorang pendiri Sai Study Group tinggal di lokasi penelitian ini.

2) Di lokasi penelitian ini upacara Bhajan rutin diadakan seminggu sekali sehingga penulis bisa melakukan observasi dan pengumpulan data.

3) Di lokasi penelitian ini dapat beberapa nara sumber yang layak dan mendukung penuh penulisan karya ilmiah ini, seperti memberi bahan bacaan, dokumentasi, meluangkan waktu untuk diwawancarai, dan sebagainya.

4) Lokasi penelitian ini relatif terjangkau sehingga meningkatkan efesiensi penelitian, pendalaman materi-materi penelitian, pelibatan penulis sebagai pengamat terlibat (paticipant observer), dan hal-hal lain yang berkait.

Dokumen terkait