• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Pustaka.

Dalam dokumen TUGAS AKHIR teknik Industri FIX (Halaman 50-66)

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

METODE PENELITIAN

3. Studi Pustaka.

Studi pustaka dalam hal ini dilakukan untuk mempelajari tema penelitian dengan literatur dan informasi yang terkait.

BAB 35 Penentuan Sumber Data

BAB 36 Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumber obyek yang diteliti (Djarwanto, 1997). Data primer dari penelitian ini adalah data hasil wawancara dan observasi langsung dengan department Quality Control (QC) dan Kepala Kelompok

Cabinet Side yaitu bapak Thatit sebagai narasumber untuk mengetahui apa saja factor-

factor yang menjadi penyebab terjadinya kecacatan produk.

BAB 37 Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung dari sumber-sumber yang berhubungan dengan penelitian, dengan mengumpulkan data-data yang sebelumnya telah dikumpulkan oleh pihak lain (Djarwanto, 1997). Data sekunder dari

penelitian ini adalah data yang berasal dari department Quality Control yaitu jumlah kecacatan per hari selama Bulan Januari-Juni.

BAB 38 Populasi

Populasi adalah keseluruhan karakteristik atau sifat yang dimiliki objek (Sugiyono, 2004). Populasi dalam penelitian ini adalah jumlah produk cacat bagian Cabinet Side

selama Divisi Cabinet Side beroperasi.

BAB 39 Sampel

Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Sugiyono, 2004). Sampel pada penelitian ini adalah data kerusakan cabinet Side Arm

Penelitian Kajian Literatur Tujuan Penelitian Perumusan Masalah Batasan Masalah Kajian Empiris - Penelitian Terdahulu Kajian Teoritis - Lean Manufacturing - Lean Six sigma - Six Sigma

- Diagram Fishbone, Pareto - Root Cause Analysis (RCA) - Failure Mode Efect Analysis (FMEA)

Pengolahan Data Pengumpulan Data

Data Sekunder : Data Produk Cacat Divisi Machine Bridge selama bulan Mei-Juni 2017 Data Primer : Wawancara WKK dan Observasi

Mendalam

Measure - Perhitungan Control Chart - Pendefnisian CTQ dan Diagram Pareto

- Perhitungan DPMO dan Tingkat Sigma Defne

- Mendefnisikan Laur Proses Machine Bridge - Value Stream Mapping

- check Sheet - Seven Waste - Diagram SIPOC

Analyze - Root Cause Analysis (RCA)

- Fishbone Diagram - Analisis FMEA

Improve - Kaizen

- Rencana Tindakan perbaikan Berdasarkan Tahapan Analysis

Control

- Tindakan Pengawasan sesuai tahap improve

Analysis DMAIC

Usulan Perbaikan

Kesimpulan Dan Saran

Selesai

Berikut ini adalah penjelasan dari diagram alur penelitian di atas: 1. Observasi Lapangan.

Observasi lapangan dilakukan penulis untuk mengetahui dan mengidentifikasi proses-proses terkait dengan proses Produksi Side Arm R/L, Side Board R/L, Side

Base R/L, Leg R/L pada Divisi Cabinet Side department Wood Working, PT. Yamaha

Indonesia.

2. Identifikasi Masalah Awal.

Setelah dilakukan observasi lapangan penulis berusaha mengidentifikasi permasalahan di section Cabinet Side di PT Yamaha Indonesia yaitu pengidentifikasian Side Arm R/L, Side Board R/L, Side Base R/L, Leg R/L yang rusak atau defect.

3. Kajian Literatur.

Tinjauan Pustaka dilakukan pada saat penelitian dilakukan di PT Yamaha Indonesia dengan mengumpulkan referensi-referensi terkait dengan proses produksi Side Arm

R/L, Side Board R/L, Side Base R/L, Leg R/L di Divisi Cabinet Side sehingga penulis

memperoleh gambaran dan mengidentifikasi permasalahan yang ada di perusahaan. Kajian empiris juga sangat membantu penulis untuk menentukan dan memperhitungkan bagaimana penelitian yang penulis teliti terstruktur dan sesuai dengan disiplin ilmu teknik industri yang dijadikan acuan penulis dalam melakukan penelitian.

4. Perumusan Masalah.

Dalam perumusan masalah ini, penulis menjabarkan apa saja masalah yang akan dibahas dalam penelitian yang penulis lakukan saat ini pada divisi Cabinet Side

dengan objek penelitian kecacatan pada produk Side Arm R/L, Side Board R/L, Side

Base R/L, Leg R/L.

5. Tujuan Penelitian.

Tujuan penelitian yaitu penulis kemudian memfokuskan pokok permasalahan yang ada yaitu banyaknya Side Arm R/L, Side Board R/L, Side Base R/L, Leg R/L yang cacat pada saat proses produksi ataupun proses sebelumnya dengan memberikan analisa dan perbaikan pada proses produksi Side Arm R/L, Side Board R/L, Side Base

R/L, Leg R/L dengan aplikasi dan metode penyelesaian sesuai dengan teori dan

Bedasarkan data reject yang diperoleh penulis kemudian data diolah sesuai dengan teori, kajian pustaka, dan metode six sigma yang diterapkan. Berikut ini adalah urutan dari pengolahan data:

a. Define.

Penulis mendefinisikan pokok permasalahan yang menyebabkan kecacatan produk pada proses Cabinet Side dengan cara mendefinsisikan alur proses

Cabinet Side Pada PT. Yamaha Indonesia, kemudian memeriksa dan mendata data

sesuai dengan produk yang diproduksi. Kemudian mendefinisikan cacat berdasarkan proses Cabinet Side yang dilakukan.

b. Measure.

Setelah dilakukan analisa cacat pada produk cacat langkah selanjutnya adalah perhitungan dengan menggunakan control chart yang mana dari perhitungan ini ada atau tidak data yang keluar dari batas yang ditentukan. Setelah mengetahui variabel cacat pada proses Cabinet Side kemudian penulis menganalisis cacat tertinggi dengan menggunakan diagram pareto. Langkah berikutnya adalah menghitung cacat terpilih sesuai dengan intensitas cacat tertinggi yang mana perhitungan selanjutnya menghitung DPMO dan tingkat sigma.

c. Analyze.

Setelah dilakukannya perhitungan di atas kemudian penulis menganalisis apa yang menjadi penyebab dari kecacatan yang terjadi menggunakan diagram fishbone. Analisa ini dilakukan dengan mendata dan mengidentifikasi segala faktor yang menyebabkan produk cacat pada setiap faktor yang ada dalam perusahaan. Analisis perbaikan juga dengan cara menggunakan analisis FMEA.

d. Improve.

Berdasarkan analisis yang sudah dilakukan kemudian penulis memberikan rencana tindakan perbaikan sesuai dengan pokok permasalahan yang ada dengan

berbagai pertimbangan dan kajian serta informasi yang diperoleh dari perusahaan. Dalam hal ini, penulis melakukan Improvement menggunakan Kaizen.

e. Control.

Control berfungsi untuk melakukan pengendalian dari tahap perbaikan yang sudah

dilakukan dari awal dan menjaga agar perbaikan tetap stabil dan terus berjalan. 8. Analisis dan Pembahasan DMAIC.

Tahap ini merupakan penjelasan terperinci dari proses pengolahan data di atas. 9. Usulan Perbaikan.

Pada tahap ini penulis menjabarkan apa saja perbaikan yang telah dilakukan agar produk yang diproduksi hanya sedikit yang mengalami kerusakan sehingga menaikan level sigma dari produk tersebut.

10. Kesimpulan dan Saran

Tahap kesimpulan dan saran berisi kesimpulan dan saran dari penulis terhadap perusahaan sesuai dengan fokus permasalahan yang diangkat berdasarkan rencana tindakan perbaikan bagi perusahaan guna mengurangi produk defect pada proses produksi di Divisi Cabinet Side, Department Wood Working, PT. Yamaha Indonesia

BAB 41 Kebutuhan Data

Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini yaitu data yang berkaitan dengan proses produksi sebagai berikut :

1. Define

Define merupakan tahap awal dalam pembuatan DMAIC pada Six Sigma yang

bertujuan untuk mendeskripsikan permasalahan yang terjadi pada perusaahaan. Pada tahap ini berisi tentang penjelasan alur produksi pada bagian Cabinet Side melalui diagram SIPOC (Supplier,Input,Process,Output, dan Costumer). Pada tahap ini juga berisi tentang current state value stream mapping yang digunakan untuk mengetahui aliran proses produksi dari awal hingga akhir. Selain itu, pada tahap ini juga mengidentifikasi pemborosan-pemborosan apa saja yang terjadi pada bagian

3. Analysis

Dalam tahap analisis bagian DMAIC, data yang diperlukan adalah data jenis cacat produk, jumlah cacat dominan pada jenis cacat yang ada pada bagian Cabinet Side

melalui perhitungan diagram Pareto yang nantinya akan dianalisis menggunakan Fishbone diagram dari setiap jenis cacat yang terjadi pada produk yang dihasilkan oleh bagian Cabinet Side.

4. Improve

Pada tahap improve di DMAIC data yang dibutuhkan adalah data yang berasal dari analisis penyebab cacat pada diagram Fishbone yang nantinya akan digunakan untuk menentukan nilai RPN (Risk Priority Number) melalui penilaian Severity,

Occurance dan Detectability dalam menentukan prioritas penyebab terjadinya cacat

pada produk yang dihasilkan oleh bagian Cabinet Side. Selain itu pada tahap ini terdapat usulan perbaikan dengan pendekatan Kaizen (Continous Improvement).

5. Control

Pada tahap ini merupakan upaya yang akan dilakukan untuk mengawasi dan mempertahankan perbaikan-perbaikan yang telah dilakukan. Agar menjadi standar operasional dalam melakukan pekerjaan pada bagian Cabinet Side. Tahap ini berupa upaya yang dilakukan dalam mengawasi dan mempertahankan perbaikan yang telah dilakukan. Upaya ini diharapkan mampu menerapkan usulan dari hasil improve

yang dilakukan dalam kurun waktu tertentu seperti data penanganan yang dilakukan oleh bagian Cabinet Side saat ditemukannya produk cacat, serta penentuan waktu

BAB IV

PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB 42 PENGUMPULAN DAN

PENGOLAHAN DATA

BAB 43 Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data ini berisi tentang data-data yang telah dikumpulkan oleh peneliti melalui beberapa metode pengumpulan data. Data-data yang dikumpulkan yaitu data umum perusahaan serta data-data perusahaan yang berkaitan dengan penelitian untuk diolah sebagai bahan pertimbangan dan penyelesian pada penelitian yang sedang dilakukan Berikut merupakan data-data yang akan dibahas pada sub bab dibawah ini.

BAB 44 Profil Perusahaan

Pada tahun 1887 di Jepang, tepatnya di Kota Hamamatsu berdiri sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan alat musik berupa organ bernama Yamaha Organ Works. Seorang industriawan Jepang bernama Mr. Torakusu Yamaha merupakan perintis dari usaha pembuatan organ tersebut. Kemudian di bawah pimpinan Mr. Gen’ Ichi, Yamaha mulai bergerak di dalam bidang pendidikan musik. Beliau mendirikan kursus-kursus musik dan sekolah-sekolah musik, mengadakan konser-konser dan festival-festival serta mendirikan Yamaha Music Foundation guna mewadahi kegiatan- kegiatan tersebut yang berpusat di kota Tokyo, Jepang.

kerja sama antara Yamaha Organ Works dengan seorang pengusaha Indonesia. Awalnya, Mr. Gen’ Ichi Kawakami sebagai pimpinan Yamaha Organ Works merasa

terkesan pada Rakyat Indonesia yang pada umumnya suka akan kesenian khususnya musik, hal itu dirasakannya saat melakukan kunjungan pertamanya ke Indonesia pada tahun 1965.

Pada tahun 1972 dalam kunjungan Mr. Gen’ Ichi Kawakami yang kedua kalinya ke Indonesia, beliau mengutarakan gagasannya untuk mendirikan industri alat musik di Indonesia kepada sahabatnya Bapak Drs. Hoegeng Iman Santoso. Namun karena Bapak Hoegeng tidak suka dengan bidang bisnis, Mr. Gen’ Ichi Kawakami diperkenalkan kepada salah seorang sahabatnya yang sudah lama berkecimpung di bidang bisnis, yaitu Bapak Ali Syarif.

PT YI pada awalnya memproduksi berbagai alat musik diantaranya Piano, Electone,

Pianica, dan lain sebagainya. Namun mulai bulan Oktober 1998, PT Yamaha Indonesia

mulai memfokuskan produksi pada piano saja di atas area seluas 15.711 m2, yang berlokasi di Kawasan Industri Pulogadung Jalan Rawagelam I/5 Jakarta 13930 Jakarta Timur. Piano Yamaha terdiri dari berbagai jenis dengan kemampuan akustik, disklavier dan instrumen yang dibisukan. Fungsi yang beraneka ragam tersebut hadir dalam beberapa bentuk dan desain. Piano-piano tersebut tidak hanya diproduksi langsung di Jepang namun beberapa model juga telah diproduksi di Indonesia dengan teknologi dan keterampilan modern yang disesuaikan dengan kondisi iklim dan material dasar yang terdapat di Indonesia.

Aspek utama dalam menghasilkan produk piano dengan kualitas dan penampilan yang terbaik adalah dengan mempersiapkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan tinggi terhadap teknologi dan material-material dasar pilihan. Demi meningkatkan kemampuan setiap tenaga kerja, baik pekerja lama maupun baru, semuanya melalui proses evaluasi dan pelatihan yang konsisten. PT Yamaha Indonesia memperoleh penghargaan ISO 9001 dan ISO 14001 yang membuktikan perhatian PT Yamaha Indonesia yang besar terhadap kualitas sistem produksi terbaik yang sejalan dengan keamanan dan kelestarian lingkungan.

Pembuatan piano melalui berbagai proses yang mendetail diantaranya pengolahan kayu, cat, perakitan, penyinaran, penyelarasan suara dan nada, serta inspeksi hukum dan kualitas. Untuk mendukung kegiatan produksi, PT YI mengadakan berbagai aktivitas seperti Do Re Mi Fa Kaizen (lingkaran pengendalian kualitas) sebagai salah satu

pelanggan Yamaha di seluruh dunia, berupa produk dan layanan Yamaha di bidang akustik, rancangan, teknologi, karya cipta, dan pelayanan yang selalu mengutamakan pelanggan. Sedangkan Misi yang ditetapkan oleh PT Yamaha Indonesia adalah sebagai berikut:

1. Mempromosikan dan mendukung popularisasi pendidikan musik. 2. Operasi dan manajemen yang berorientasi pada pelanggan. 3. Kesempurnaan dalam produk dan pelayanan.

4. Usaha yang berkesinambungan untuk mengembangkan dan menciptakan pasar. 5. Peningkatan dalam bidang penelitian dan pengembangan secara berkala serta

globalisasi dari bisnis Yamaha.

6. Secara terus menerus mengembangkan pertumbuhan bisnis yang positif melalui diversifikasi produk.

BAB 45 Struktur Organisasi

Struktur organisasi perusahaan ini adalah line organization, yaitu pelaksanaan perintah berjalan secara vertikal mengikuti garis instruksi dari atas ke bawah, wewenang dan perintah dari atasan langsung ke bawah dan sebaliknya, tanggung jawab bawahan kepada atasan langsung hingga ke pimpinan perusahaan di PT Yamaha Indonesia yang dipimpin oleh seorang Manager yang bertanggung jawab terhadap General Manager. Dalam pelaksanaanya, Manager membawahi asisten Manager, Foreman, Ketua Kelompok dan Wakil Ketua Kelompok yang semua itu bertanggung jawab terhadap

General Manager. Berikut adalah struktur organisasi PT Yamaha Indonesia yang

Gambar 4. 1 Struktur Organisasi PT Yamaha Indonesia (Sumber: Data Umum HRD, PT Yamaha Indonesia)

BAB 46 Tenaga Kerja dan Waktu Kerja

PT Yamaha Indonesia mempekerjakan karyawan baik itu kontrak (6bulan) maupun karyawan yang sudah tetap. Bentuk perusahaan PT Yamaha Indonesia adalah Perseroan Terbatas Tertutup karena pemilikan saham masih dalam kalangan internal saja. Jumlah tenaga kerja PT Yamaha Indonesia hingga saat ini (Agustus 2014) adalah 1522 orang. Pembagiannya adalah sebagai berikut:

1. Dewan komisaris = 3 Orang 2. Direktur utama = 1 Orang

3. General Manager = 4 Orang

4. Manajer

a. Produksi = 4 Orang

b. Purchasing = 1 Orang

c. Quality Control = 1 Orang

d. Quality Management = 1 Orang

Waktu kerja PT Yamaha Indonesia adalah Senin–Jumat selama 40 jam dengan jadwal kerja sehari-hari sebagai berikut:

1. Senin – Kamis

a. 07:00 – 09:20 : Bekerja

b. 09:20 – 09:30 : Istirahat Minum Teh c. 09:30 – 12:00 : Bekerja

d. 12:00 – 12:50 : Istirahat Makan Siang e. 12:50 – 16:00 : Bekerja

2. Jumat

a. 07:00 – 09:20 : Bekerja

b. 09:20 – 09:30 : Istirahat Minum Teh c. 09:30 – 11:30 : Bekerja

d. 11:30 – 12:50 : Istirahat Makan Siang atau sholat Jumat (muslim) e. 12:50 – 16:30 : Bekerja

Di luar ketentuan waktu di atas, maka di perhitungkan sebagai kerja overtime

dengan mengajukan Surat Permohonan Lembur atau SPL yang ditandatangani sampai dengan Manager di masing-masing departemen.

BAB 47 Produk Yang Dihasilkan

PT Yamaha Indonesia memproduksi dua macam piano yaitu Upright piano dan Grand

1. Upright piano adalah piano dengan posisi vertikal/tegak. Berikut adalah contoh dari

upright piano yang ditunjukkan oleh Gambar 4.2.

Gambar 4.2 Upright Piano

(Sumber: Data Umum Process Control, PT Yamaha Indonesia)

2. Grand piano adalah piano dengan posisi horizontal. Berikut adalah contoh grand

piano yang ditunjukkan oleh Gambar 4.3.

Gambar 4. 2 Grand Piano

1. Rottary Press.

Dalam proses Rottary press proses yang dilakukan yaitu press Baker kepada seluruh cabinet yang diproses pada bagian cabinet side. Proses pertama adalah proses pemberian lem pada baker yang dilakukan menggunakan mesin Glue Spreader, setelah selesai selanjutnya proses yang dilakukan yaitu mengatur cabinet (Side arm,

Side Base, Side Board, dan Leg) pada mesin press dan mengepaskan pada jig press

untuk meletakkan Baker pada cabinet, selanjutnya pemasangan baker dilakukan satu persatu pada cabinet hingga selesai. Selanjutnya proses press dilakukan dengan waktu yang telah ditentukan oleh PT.Yamaha Indonesia. Setelah beberapa menit maka proses selanjutnya adalah mengeluarkan dan melepaskan cabinet (Side arm,

Side Base, Side Board, dan Leg) dari jig press.

2. Edge Former

Pada proses edge former ini, baker yang telah di press dengan cabinet diratakan sehingga sesuai dengan bentuk cabinet yang diproses, proses Edge former ini berguna untuk memotong baker yang dibuat berlebih sehingga tidak sesuai dengan bentuk cabinet yang diproses tujuannya adalah agar pada proses nomi lebih mudah dalam membersihkan sisa-sisa lem yang masih menempel yang mana jika tidak dilakukan proses edge sander akan lebih susah dalam proses penomian dan juga dapat menyebabkan kecelakaan kerja berupa tangan tergores, terluka, dll.

3. Mentory

Pada proses Mentory ini, cabinet yang telah selesai di proses nomi dan edge former dilanjutkan pada proses mentor yang mana ujung-ujung dari cabinet dirapikan agar tidak tajam sehingga dapat melukai operator pada tahap selanjutnya.

4. Chipping

Pada proses chipping cabinet yang melalui proses ini hanyalah Leg B2, proses yang dilakukan sama dengan proses edge former yaitu memotong baker yang dibuat berlebih sehingga tidak sesuai dengan bentuk cabinet yang diproses tujuannya

adalah agar pada proses nomi lebih mudah dalam membersihkan sisa-sisa lem yang masih menempel.

5. Band Saw

Pada proses press Leg B1 dan B2 selain press pada body, cabinet Leg B1 dan B2 masih melalui press pada kepala Leg. Proses press kepala Leg ini menggabungkan beberapa leg B1 dan B2 untuk di gabungkan dengan baker. Setelah penggabungan selesai, baker yang disambungkan pada beberapa leg tadi dipotong menggunakan mesin band saw sehingga beberapa leg tersebut terpisah dan menjadi sendiri-sendiri

6. Sanding

Proses sanding ini berguna untuk meratakan sisa-sisa baker pada seluruh body sehingga memenuhi standar dari Divisi quality control.

7. Nomi

Proses Nomi ini berguna untuk membersihkan cabinet dari sisa-sisa lem yang masih menempel pada cabinet setelah proses press dan edge former tujuannya adalah untuk memenuhi satndar divisi quality control dan mudah untuk dilakukan pengecetan dan proses lainnya setelah itu.

8. Aqua Proff

Proses aqua proff ini adalah pemberian cat aqua proff untuk cabinet side base saja. Proses aqua proff ini berguna untuk memenuhi standar divisi quality control.

BAB 49 Layout Produksi

Berikut ini adalah gambar layout dari bagian cabinet case yang berada pada departemen Wood working Factory 2 lantai 1.

Dalam dokumen TUGAS AKHIR teknik Industri FIX (Halaman 50-66)