• Tidak ada hasil yang ditemukan

7.5.3 Usulan Program Dan Kegiatan

Secara lebih rinci rencana pengembangan air limbah dijabarkan ke dalam kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

1. Peningkatan manajemen pengelolaan air limbah yang lebih komprehensif

 Penyusunan masterplan/ rencana induk Pengelolaan Air Limbah yang dilengkapi dengan rencana terincinya (DED)

 Penyusunan rencana pengelolaan sanitasi lingkungan untuk berbagai karakteristik perumahan

2. Pembangunan dan penanganan infrastruktur air limbah

 Mengembangkan IPAL kolektif untuk air limbah rumah tangga dan limbah lainnya di setiap kawasan perumahan, terutama untuk perumahan skala besar

 Mengembangkan septic tank komunal (

off site sanitation

) pada kawasan permukiman kepadatan tinggi dan bantaran sungai

 Mengembangkan setic tank komunal yang dilengkapi dengan IPAL (yang memiliki pemisahan antara

black water

dan

grey water

) untuk daerah permukiman dengan kepadatan sangat padat (>200 jiwa/ha)

 Mengembangkan sistem on site baik septic tank individual maupun komunal yang dilengkapi dengan peningkatan sarana penanganan lumpur tinja meliputi mobil tinja dan IPLT untuk kawasan permukiman dengan kepadatan <200jiwa/ ha

 Mengembangkan fasilitas MCK di daerah padat penduduk dan di sekitar bantaran sungai bagi masyarakat yang memanfaatkan air sungai untuk keperluan tersebut

 Mencegah pemanfaatan sungai untuk pembuangan limbah rumah tangga maupun limbah lainnya

 Meningkatkan kapasitas IPAL Tegal gundil dan cakupan pelayanannya

 Membangun instalasi biogas di IPAL Tegal Gundil

 Pembangunan instalasi pengolahan lumpur tinja (IPLT) di Tegal Gundil

 Membangun IPAL & IPLT di setiap kecamatan

 Optimalisasi IPAL di Tegal Gundil

3. Meningkatakan penggunaan sanitasi berbasis masyarakat yang ramah lingkungan

4. Meningkatkan pengawasan terhadap IPAL non Domestik (kawasan indsutri dan rumah sakit)

5. Peningkatan kepedulian masyarakat dalam menjaga sungai dan lingkungan sekitarnya dari pencemaran; dan

6. Penetapan pembayaran denda bagi pencemar badan air.

Prioritas Program yang perlu dilaksanakan dalam mengelola air limbah domestik di Kota Bogor adalah: Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan air minum

dan air limbah. Solusi teknis pengelolaan air limbah yang diusulkan terbagi menjadi 3 (tiga) kategori yaitu:

a. Sistem off-site : saluran perpipaan air limbah konvensional dengan instalasi pengolahan air limbah, semua dikelola oleh operator terpusat b. Sistem on-site: fasilitas baru dan yang diperbaharui dengan pemeliharaan

umumnya secara keseluruhan menjadi tanggung jawab rumah tangga atau kelompok masyarakat

c. Sistem intermediate: kombinasi dari kedua sistem di atas dengan tugas pemeliharaan dibagi antara operator terpusat dan partisipasi masyarakat. Usulan dimaksud juga mempertimbangkan:

a. pembuangan grey water b. air limbah non domestik

c. pengumpulan dan pengolahan lumpur tinja

1. Pengelolaan air limbah domestik dengan off-site system

Kota Bogor dibagi menjadi tiga zona drainase; area ini telah diadopsi dalam zona pengumpulan air limbah. Berdasarkan metodologi yang telah dijabarkan pada Bab 5, sebagian besar Kelurahan yang diidentifikasi sebagai “sesuai untuk sistem perpipaan off-site” terbagi dalam 2 zona pengumpulan air limbah, yaitu zona Pusat dan Zona Timur. Kedua zona tersebut adalah sebagai berikut:

Zona Pusat terbentang antara Sungai Cisadane dan Sungai Ciliwung dengan total luas wilayah 1200 hektar dan sekitar 70,000 rumah tangga berkepadatan tinggi (>300jiwa/hektar) ditambah dengan wilayah komersial. Pada zona ini direncanakan sekitar 34.000 sambungan rumah tangga dan komersial pada tahun 2030. Usulan lokasi IPAL untuk zona pusat adalah di kelurahan Kayumanis, di lokasi yang sama dengan lokasi pembuangan sampah ;

Zona Timur terbentang di sebelah timur Sungai Ciliwung dengan total luas wilayah 1400 hektar dan sekkitar 79.000 rumah tangga di wilayah berkepadatan tinggi ditambah dengan wilayah komersial. Zona timmur akan memiliki dua area perpipaan air limbah:

 Area pengumpulan Ciluar dengan total sekitar 12.000 rumah tangga dan komersial pada tahun 2030. Usulan lokasi IPAL untuk zona ini terletak di kelurahan Ciluar;

 Area pengumpulan Tegal Gundil dengan total sekitar 3.000 sambungan rumah. Air limbah akan diolah di IPAL eksisting Tegal Gundil.

Elevasi dari zona-zona tersebut sangat bervariasi; dan tidak seluruh wilayah dapat dilayani secara grefitasi: sekitar 50% area pengumpulan air limbah membutuhkan pemompaan ke saluran induk air limbah. Peletakan saluran induk akan direncanakan sebaik mungkin ahar dapat mengalirkan air limbah secara grafitasi ke IPAL.

Tinggi permukaan air tanah cukup rendah, yaitu lebih dari 4m, sehingga dapat diperkirakan air tanah tidak akan menjadi kendala dalam pemasangan pipa air limbah. Infiltrasi air tanah ke saluran perpipaan pada periode operasional juga diperkirakan dapat diabaikan.

Seluruh ruas pipa induk pada zona Pusat dan Timur harus diperhitungkan dengan baik agar ukurannya dapat terintegrasi dengan baik pada sistem perpipaan air limbah skala kota pada tahun 2030.

Kebutuhan pengelolaan air limbah sistem

off site :

 Perbaikan IPAL Tegalgundil : kolam pengolahan dan laboratorium  Penambahan sambungan rumah IPAL Tegalgundil

 Pembangunan IPAL Paledang, Ciluar dan Kayu Manis  Penguatan kelembagaan UPTD PAL

 Sosialisasi dan promosi pemasangan SR

2. Pengelolaan air limbah domestic dengan on site-intermediate system

Sistem air limbah domestic dengan on site dan intermediate system diterapkan pada daerah-daerah yang tidak terjangkau system offsite. Sistem ini ditujukan kepada rumah tangga dan komunitas (beberapa rumah tangga) melalui pembangunan seperti berikut ini :

 Pemberian pemahaman kepada masyarakat tentang bahaya BABS  Stimulan Pembangunan MCK keluarga

 Pembangunan/rehabilitasi MCK komunal  Pembangunan tangki septik komunal

 Pembangunan MCK komunal berikut septic tank komunal

 Penambahan sambungan rumah pada lokasi yang telah terbangun tangki septik komunal

 Pelayanan masyarakat dalam pemberian pemahaman tentang tangki septik sesuai dengan NSPK

 Intensifikasi penyebaran informasi pelayanan sedot tinja  Peningkatan jumlah armada sedot tinja

 Mengembangkan sistem sedot tinja untuk kawasan padat penduduk yang tidak terjangkau armada truk tinja

 Monitoring dan evaluasi serta bantuan teknis pembangunan jamban keluarga dan tangki septik keluarga

7.6 Drainase

7.6.1 Isu Strategis, Kondisi Eksisting, Permasalahan Dan Tantangan Drainase A.Isu Strategis Pengembangan Drainase

Isu strategis pengembangan drainase Kota Bogor adalah:

 Tingginya laju pertumbuhan sosial ekonomi serta meluasnya pembangunan sarana dan prasarana lingkungan terutama dalam Kota Bogor dan daerah sekitarnya yang berada dalam ruang lingkup kawasan resapan air Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung & Cisadane bagian hulu, selain berpengaruh langsung mengurangi kemampuan lahan sekitarnya dalam mengkonservasi Sumber Daya Air. Dilain pihak kerusakan (degradasi) lingkungan yang terjadi di wilayah Kota Bogor akan berpengaruh terhadap kondisi lingkungan kewilayah bagian hilirnya. Keserasian dan kelestarian lingkungan terganggu dimana badan-badan air mengalami pencemaran sehingga kualitas sumber air alami menjadi kurang sehat.

 Terjadinya perubahan tata guna lahan pada kawasan pertanian, areal permukiman penduduk maupun alih fungsi kawasan sumber-sumber air seperti areal genangan/ cekungan rawa, situ / danau dan mata air menjadi areal terbangun secara kurang terkendali, sehingga berdampak lajut pada kecenderungan semakin menurunnya daya dukung kawasan resapan curah hujan serta meningkatnya daya rusak air yang menimbulkan meningkatnya bencana banjir, tanah longsor, erosi dan sedimentasi.

B.Kondisi Eksisting Pengembangan Drainase

Drainase Kota Bogor mencakup 2 (dua) sub-DAS Ciliwung yang menempati bagian Timur dan sub-DAS Cisadane menempati bagian Barat wilayah administratif Kota Bogor. Aliran sungai Ciliwung dan Sungai Cisadane bersumber dari dataran tinggi kawasan pegunungan di bagian tengah Propinsi Jawa Barat mengalir kearah Utara melewati dataran relatif landai, hingga bermuara di Laut Jawa di sekitar pusat Kota Jakarta dan Kota Tangerang.

DAS Ciliwung - Cisadane mencakup areal seluas ± 1.141.336 Ha atau 11.413,36 km2 secara geografis mencakup kawasan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi) yang terletak pada posisi astronomis antara: 06o 00’ Lintang Selatan - 06o 50’ Lintang Selatan, dan 106o 25’ Bujur Timur –106o 55’ Bujur Timur. Karakteristik aliran sungai Ciliwung – Cisadane diidentifikasikan berkaitan erat dengan pengaruh lingkungan geofisik (geomorfologi, iklim, curah hujan), maupun lingkungan sosial ekonomi (aktifitas budidaya pertanian dan penggunaan lahan).

Morfologi sungai dibagian hulu dicirikan dengan pola aliran menjari daun. Anak sungai mengalir dari berbagai arah, merupakan sungai perennial (mata air potensial hampir sepanjang tahun), bersumber dari celah batuan diantara lereng perbukitan terjal, dengan kenampakan warna air cukup jernih. Penggunaan lahan pada areal tangkapan hujan dibagian hulu umumnya diindikasikan berupa hutan konservasi, hutan produktif, sawah tadah hujan dan perladangan tanaman hortikultura / sayuran.

Intensitas erosi tebing dicirikan dengan kuatnya arus banjir tahunan, diindikasikan cenderung mengancam kelestarian tebing, lahan pertanian dan fondasi bangunan disekitar sempadan sungai terutama disekitar areal rawan genangan banjir.

Kemiringan dasar sungai dicirikan dengan akumulasi endapan material bawaan sungai (

bed load

), berupa pasir halus hingga kasar serta batuan berbentuk bulat, ukuran sedang hingga boulder. Alur sungai didekitar kota Bogor cenderung melebar berkisar antara (25 – 40) meter.

Untuk drainase lingkungan, hasil dari studi EHRA (

Environmental Health Risk

Assessment

) atau Penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan pada tahun 2010, menunjukkan beberapa kelurahan yang dinilai beresiko tinggi drainase yakni pada 40 kelurahan. Resiko drainase merupakan resiko yang paling banyak dialami kelurahan-kelurahan di Kota Bogor. Kecamatan yang terbanyak memiliki kelurahan yang beresiko tinggi drainase adalah Kecamatan Tanah Sareal (10 Kelurahan), disusul Kecamatan Bogor Selatan (8 kelurahan), Bogor Tengah (7 kelurahan). Namun diantara 40 kelurahan beresiko tinggi, kelurahan yang beresiko sangat tinggi adalah Kelurahan Pasir Jaya, Babakan Pasar, Tegallega, Sempur, Panaragan, Cibogor, Bondongan, Ranggamekar, Cikaret, Kedunghalang, Cibuluh, Cimahpar, Kedungjaya, Kebonpedes, Kedungwaringin. Dalam tatanan drainase makro juga terdapat wilayah yang cukup beresiko tinggi yang harus

menjadi prioritas penanganan yaitu seperti Kelurahan Cibuluh, Kelurahan Kayu Manis dan Kelurahan Kebon Pedes.

Kondisi penanganan terdahulu dalam pengelolaan drainase lingkungan masih memiliki banyak kekurangan hal ini ditunjukkan dengan sangat terbatasnya data sekunder yang tersedia akan inventarisasi drainase lingkungan terutama drainase lingkungan pada permukiman tidak tertata. Meskipun dengan berbagai kondisi tersebut diatas berkat hasil identifikasi dan pengamatan dalam studi EHRA Kota Bogor Tahun 2010 dapat diketahui bahwa tingkat keberadaan saluran pengaliran air hujan (SPAH)/drainase lingkungan baru mencapai 41,80%, dan 6,2% dari 41,80% tersebut memiliki potensi resiko tinggi terhadap kondisi sanitasi dimana 6,2%nya tidak mengalir.

Tabel 7.52 Kinerja Drainase Kota Bogor 2011 - 2015 No INDIKATOR

TINGKAT PELAYANAN DAN TARGET

PELAYANAN SATUAN KETERANGAN

2011 2012 2013 2014 2015 A Pengelolaan Drainase

1 Panjang drainase yang dikelola 269.54 269.54 269.54 269.54 km' FS Kolam retensi 2011 a Primer - - - - - km liat MP Drainase b Sekunder - - - - - km c Tersier - - - - - km d Lingkungan 2,357.78 2,300 2,400 2,500 2,600 m' Diswasbangkim 2 Panjang drainase yang

seharusnya dibangun 73.00 73 73 68 - km' DBMP &SDA 3 % Panjang drainase yang

dikelola 100.65 54.17 - - - % DBMP &SDA 4 Jumlah sumur resapan

743 775 825 875 925 unit BPLH (target RPJMD 50 unit per tahun dari 2012)

5 Jumlah kolam retensi - - 1 1 - unit DBMP &SDA 6 Panjang drainase berfungsi

campuran air limbah km

B Genangan

1 Luas genangan yang

tertangani 4.5 9 - - - ha DBMP &SDA 2 Luas daerah rawan

genangan 42 32 22

-

- ha RPJM 2010-2014 3 % Luas daerah tertangani 10.7 28.125

- - - % DBMP &SDA 4 Titik genangan 35 32 27 25 23 titik DBMP &SDA 5 Titik genangan yang sudah

ditangani 3 5 2 2 2 titik DBMP &SDA