• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tabel 17. Isu-isu strategis terkait Rumah Sakit Pendidikan

Isu strategis Kondisi Saat Ini Kondisi Yang DIharapkan 1. Peran, fungsi

dan status RS Pendidikan

a) RS Pendidikan saat ini dimiliki oleh Kemenkes, Kemendiknas, Kemenhan, POLRI, Pemda Provinsi, Kabupaten dan Swasta.

b) Peran RS Pendidikan meliputi pendidikan dokter dan tenaga kesehatan lain,

pelayanan kesehatan dan riset kesehatan. c) Klasifikasi RS Pendidikan meliputi RS

Pendidikan Utama, Afiliasi, Satelit. d) Terjadi perbedaan peran RS Pendidikan

berdasarkan kepemilikannya (Depkes vs Diknas vs Dep Lain vs Pemda vs swasta). e) Fungsi riset pada RS belum optimal f) Masih berbedanya persepsi tentang terminology RS yang digunakan: RS Pendidikan, RS akademik, RS Universitas, Pusat Kesehatan Akademik.

g) Dari 97 RS yang berfungsi sebagai RS pendidikan, baru 37 yang telah ditetapkan sebagai RS pendidikan berdasarkan SK Menkes.

h) Saat ini penetapan RS pendidikan masih didasarkan pada Keputusan Menkes No 1069/Menkes/SK/XII/2008

i) Untuk memenuhi kebutuhan pendidikan dokter dan tenaga kesehatan lainnya diperlukan penambahan jumlah tempat tidur dan RS pendidikan.

a) RS Pendidikan dapat berfungsi sebagai wahana pendidikan skill, pembentukan etik dan norma, dan pengembangan riset bagi profesi dokter dan tenaga kesehatan lain b) Penetapan peran, fungsi dan

status RS pendidikan

ditetapkan setelah memenuhi persyaratan standar RS pendidikan yang ditetapkan oleh menteri kesehatan berkoordinasi dengan Mendiknas

c) Sesuai dengan UU No 44 Tahun 2009 tentang RS, pengaturan RS pendidikan didasarkan pada peraturan pemerintah(saat ini draft PP tentang RS pendidikan telah disusun oleh Kemenkes). d) Setiap institusi pendidikan

kedokteran harus mempunyai minimal 1 RS Pendidikan Utama dan mempunyai

beberapa RS Pendidikan Satelit sebagai jejaring.

2.Standardisasi dan akreditasi RS

a) Pedoman standar RS pendidikan saat ini ditetapkan oleh Kepmenkes.

a) Seluruh RS pendidikan harus diakreditasi

Pendidikan b) Instrumen akreditasi IPD di dalamya terdapat penilaian RS pendidikan.

c) Saat ini akreditasi RS pendidikan dilakukan oleh tim akreditasi RS pendidikan yang dibentuk oleh Menkes, yang komponennya terdiri dari Kemenkes, KKI, ARSPI, AIPKI, MKKI.

d) Masih terbatasnya jumlah RS yang berfungsi sebagai RS pendidikan yang terakreditasi (37 dari 97 RS).

e) Mekanisme koordinasi dalam penetapan akreditasi RS pendidikan antara Kemenkes dengan Kemendiknas belum optimal.

b) Akreditasi harus dapat memberikan insentif bagi RS pendidikan (fungsi pendidikan, pelayanan dan penelitian dapat dijalankan) dan memberikan pelayanan yang lebih baik bagi konsumen

c) Klasifikasi dan Standardisasi RS pendidikan harus diterapkan bagi seluruh RS Pendidikan (tidak dibedakan menurut

kepemilikannya).

d) Akreditasi ditetapkan oleh Menkes melalui koordinasi dengan Mendiknas, yang didasarkan pada hasil penilaian tim akreditasi RS.

e) Adanya mekanisme Koordinasi efektif antara Kemenkes dan Kemendiknas serta stakeholder lainnya (KKI, ARSPI, AIPKI, MKKI, BAN-PT) dalam penetapan dan pembinaan RS Pendidikan f) Diterbitkannya PP tentang RS

Pendidikan (sesuai UU 44 tahun 2009)

g) Adanya badan otonom yang diberi kewenangan untuk melakukan akreditasi RS pendidikan.

3. Tenaga Pendidik dan

Kependidikan

a) Standar baku Rasio tenaga pendidik dengan peserta didik belum diterapkan oleh seluruh RS pendidikan

b) Jumlah dosen pada institusi pendidikan dokter dan tenaga kesehatan lainnya, baik yang berasal dari Dikti maupun berasal dari Kemenkes masih kurang.

c) Tenaga pendidik di RS masih tergantung pada dokter RS dan belum diatur

pengembangan kariernya

d) Terdapat perbedaan batas usia pensiun antara pendidik di RS pendidikan yang berasal dari Kemenkes (60 tahun) dan Pendidik yang berasal dari Kemendiknas

a) Adanya payung hukum yang mengatur tentang mobilisasi tenaga pendidik dalam bidang akademik dan riset sesuai kebutuhan di RS pendidikan. b) Penetapan dan implementasi standar rasio dosen dengan mahasiswa di seluruh RS pendidikan.

c) Disepakatinya pola rekruitmen tenaga pendidik dan kependidikan di RS pendidikan

d) Ruang lingkup tugas dan

(65 tahun).

e) Pengembangan karier dosen klinik di Kemenkes didasarkan pada Permenpan nomor PER/17/M.PAN/9/2008 , sedangkan karir dosen di Kemendiknas didasrkan pada UU No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen

kependidikan harus tercantum dalam ikatan kerjasama antara RS pendidikan dengan institusi pendidikan.

e) Disusunnya pola pengembangan karier bagi tenaga pendidik dan kependidikan pada RS pendidikan. 4. Pembiayaan

Operasional RS Pendidikan

a) Komponen pembiayaan dan satuan biaya (unit cost) kegiatan pendidikan di RS pendidikan belum terstruktur dan

terstandardisasi.

b) Sumber biaya untuk kegiatan

pendidikan pada RS pendidikan bervariasi tergantung kepemilikan RS (milik

Kemenkes, kementerian lain, pemda dan swasta)

c) Perbedaan komponen biaya, satuan biaya, sumber biaya dapat berpengaruh pada proses pendidikan, pelayanan, dan penelitian di RS pendidikan

a) Adanya standar biaya minimal yang menghasilkan kualitas lulusan sesuai kompetensi yang dibutuhkan.

b) Perhitungan satuan biaya pendidikan untuk setiap komponen disusun oleh sekretariat bersama antara RS pendidikan dan institusi pendidikan.

c) Disepakatinya RAB kegiatan pendidikan di RS pendidikan oleh Direktur RS Pendidikan dan Pimpinan Institusi Pendidikan. d) Disepakatinya kebijakan bersama

tentang pendanaan pendidikan kedoktera dan tenaga kesehatan lainnya oleh Direktur RS

Pendidikan dan Pimpinan Institusi Pendidikan. 5. Peta Kapasitas Produksi institusi pendidikan dan kebutuhan dokter

a) Belum tersedianya peta tentang kebutuhan tenaga dokter, dokter spesialis dan tenaga kesehatan lainnya secara nasional.

b) Meningkatnya permintaan izin

pembukaan institusi/program pendidikan kedokteran dan tenaga kesehatan lainnya. c) Meningkatnya minat peserta didik baik

dalam negeri maupun negara tetangga untuk mengikuti pendidikan kedokteran di Indonesia

d) Perencanaan pengembangan RS pendidikan belum didasarkan atas kebutuhan nyata

e) Rasio peserta didik dengan jumlah tempat tidur di RS pendidikan belum terstandardisasi

a) Adanya peta kapasitas produksi lulusan institusi pendidikan kedokteran secara nasional b) Adanya peta kebutuhan tenaga

dokter dan dokter spesialis secara nasional

c) Tersedianya perencanaan yang lebih baik tentang kebutuhan RS Pendidikan dan jumlah tempat tidur RS

6. Etika Medikolegal peserta didik dan pendidik*)

Penerapan etika medikolegal di RS pendidikan yang melindungi peserta didik, tenaga pendidik, konsumen dan

manajemen RS belum optimal.

a) Adanya payung hukum untuk penerapan Etika Medikolegal, bagi peserta didik, dokter pendidik, konsumen dan manajemen RS. b) Untuk mendukung penerapan

etika medikolegal di RS pendidikan dengan baik diperlukan instrumen yang meliputi: (i) standar

kompetensi, dan (ii) standar perilaku, dan (iii) standar pelayanan

Pelaksanaan proses pembuatan standar rumah sakit pendidikan yang difasilitasi oleh