• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penilaian manfaat pilihan dari masyarakat untuk tidak menggunakan sumberdaya TNBB didasarkan pada nilai flora dan fauna, baik yang telah maupun belum dimanfaatkan saat ini. Sedang penilaian manfaat warisan dihitung berdasarkan kesediaan masyarakat membayar agar flora fauna dan habitat dapat bermanfaat bagi generasi yang akan datang. Penilaian manfaat keberadaan terhadap keanekaragaman hayati TNBB diukur berdasarkan kesediaan membayar masyarakat agar flora fauna yang dilindungi/endemik dan habitat satwa yang terdapat di TNBB tetap tersedia dimasa mendatang.

Hasil penelitian menunjukkan nilai pilihan terhadap manfaat flora fauna sangat bervariasi tergantung pada jenis dan potensi yang telah dan akan diperoleh masyarakat dimasa yang akan datang. Penilaian manfaat pilihan flora yaitu meliputi: tumbuhan obat, bambu, rotan, tengkawang, durian. Sedang penilaian manfaat pilihan terhadap jenis fauna yaitu sebanyak 54 jenis antara lain: babi hutan, rusa, tembadau, nuri tanau, tekukur, julang jambul hitam, prenjak kuning, monyet ekor panjang, serta jenis fauna lainnya yang belum dimanfaatkan saat ini. Kesediaan membayar manfaat pilihan flora berkisar Rp. 2.000 - Rp. 30.000 perjenis, dengan nilai pilihan tertinggi adalah rotan (Rp. 10.000 – Rp.

30.000/jenis) dan terendah adalah tanaman obat (Rp. 2.000 – Rp. 10.000/jenis). Sedang untuk jenis fauna, kesediaan membayar masyarakat berkisar antara Rp. 2.500 – Rp. 250.000/ekor dengan nilai tertingi jenis tembadau (sejenis banteng) yaitu Rp. 50.000 – Rp. 250.000/ekor dan terendah yaitu jenis burung prenjak kuning (Rp. 2.500 – Rp. 10.000/ekor).

Berdasarkan nilai pilihan (option value) masyarakat terhadap manfaat flora fauna perjenis diketahui rata-rata kesediaan membayar pada tahun 1997 yaitu Rp. 175.500,-/ha (Rp. 10.000 – Rp. 500.000/thn) dengan nilai total manfaat pilihan sebesar Rp. 40.376.520. Dengan menggunakan faktor diskonto 10%/tahun, nilai kesediaan membayar tahun 2003 meningkat Rp. 57,37 juta dengan WTP

pilihan rata-rata Rp. 249.439/ha (Tabel 26). Nilai manfaat pilihan masyarakat

persatuan luas ini hampir sama dengan metode transfer benefit konservasi habitat

US$ 300/km2/thn oleh Ruitenbeek (1998) dalam Glover dan Timothy (1999) atau

Rp. 171.000/ha (1US$ = Rp. 8500) dan pada tahun 2003 sebesar Rp. 255.000/ha (1US$ = Rp. 8500). Sementara jika dibandingkan dengan nilai keanekaragaman hayati hasil perhitungan UNDP dan KLH (1998) lebih rendah yaitu sebesar Rp. 1,5 juta/ha (transfer benefit). Perbedaan ini disebabkan oleh metode penilaian dan asumsi yang digunakan penilaian manfaat pilihan dari potensi flora fauna, serta adanya preferensi masyarakat yang berbeda tergantung pada kondisi sosisal keonomi mayarakat dan pengetahuan terhadap manfaat dan fungsi sumberdaya hutan yang dinilai.

Tabel 26. Kerugian Ekonomi Berdasarkan Nilai Pilihan, Warisan dan Keberadaan Keanekaragaman Hayati dan Habitat TNBB

N

o Manfaat Keanekaragaman Hayati

Luas Terbakar (ha) WTP Perhektar (Rp/ha) (1997) WTP Total (Rp) (1997) WTP Perhektar (Rp/ha) (2003) WTP Total (Rp) (2003)

1 Nilai Manfaat Pilihan Flora Fauna 230 175.550 40.376.520 249.439 57.370.997

2 Nilai Manfaat Warisan 230 357.120 82.137.633 507.432 116.709.363

a. Habitat 185.279 42.614.170 301.932 69.444.363

b. Flora Fauna 171.841 39.523.463 205.500 47.265.000

3 Nilai Manfaat Keberadaan 230 452.372 104.045.469 642.775 147.838.206

a. Habitat Satwa 242.608 55.799.840 397.175 91.350.206

b. Flora Fauna Dilindungi 209.764 48.245.629 245.600 56.488.000

Perbedaan kesediaan membayar terhadap nilai pilihan diduga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, jenis pekerjaan dan pendapatan masyarakat. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa ketiga variabel berpengaruh positip dan signifikan pada taraf kepercayaan 95% (uji t dan uji F) (n = 60 orang) dengan persamaan regresi sebagai berikut sebagai berikut:

ƒ Ln WTP pilihan = -3,30 + 0,188 Ln Kerja + 0,631 Ln Didik + 1,06 Ln Income ... (1997)

R2 = 75% (t=-2,35) (t=1,44) (t= 4,08) (t= 10,,01)

ƒ Ln WTP pilihan = -3,36 + 0,185 Ln Kerja + 0,627 Ln Didik + 1,07 Ln Income ... (2003)

R2 = 75,5% (t=-2,36) (t=1,43) (t= 4,09) (t= 10,18)

Dari persamaan regresi terlihat makin tinggi pendidikan dan pendapatan maka nilai WTP masyarakat semakin besar, dan 75% keragaman kesediaan membayar manfaat pilihan flora fauna perhektar dapat dijelaskan oleh ketiga

variabel, sedang 25% lainnya dipengaruhi oleh faktor lain (Lampiran 10).

Pekerjaan tidak nyata pengaruhnya karena sebagian besar masyarakat (90%) bermata pencaharian sebagai petani dan pengumpul hasil hutan, sehingga semakin banyak ragam pekerjaan WTP semakin rendah (petani, pedagang, pegawai). Sementara pendidikan dan pendapatan berpengaruh nyata diduga karena 80% memiliki pendidikan formal dengan pendapatan yang bersedia dikeluarkan rata-rata 18% dari pendapatan pada tahun 1997 (Rp. 934.000/tahun) dan Rp. 1,32 juta/tahun (2003). Sehingga makin besar ketergantungan masyarakat (pekerjaan dan pendapatan) dan mengetahui fungsi TNBB maka kesediaan masyarakat untuk membayar semakin besar agar manfaat pilihan flora fauna tersedia dimasa datang.

Penilaian manfaat warisan (bequest value) di TNBB mencakup manfaat flora fauna dan habitat satwa. Untuk jenis flora masyarakat bersedia membayar antara Rp. 2.500 – Rp. 500.000/jenis dan yang terbesar pada jenis kayu ulin (Rp. 50.000 – Rp. 500.000/jenis) dan yang paling rendah adalah tanaman obat (Rp. 2.500 – 35.000/jenis); sementara nilai warisan jenis fauna antara Rp. 2.500 – Rp. 300.000/ekor, dengan nilai terbesar jenis tembadau (Rp. 50.000 – 300.000/ekor) dan terendah burung prenjak kuning (Rp. 2.500 – Rp. 10.000/ekor); sementara habitat satwa berkisar Rp. 50.000 – Rp. 250.000/ha.

Hasil penelitian manfaat warisan persatuan luas terhadap flora fauna dan habitat satwa atas dasar kesediaan membayar masyarakat sekitar TNBB tahun

1997 yaitu sebesar Rp. 357.120/ha (Rp. 50.000 – 1.500.000/ha/thn) dengan total nilai warisan sebesar Rp. 82.137.633, dengan nilai habitat satwa lebih besar dibandingkan dan nilai flora fauna. Sementara penilaian manfaat warisan pada

tahun 2003 meningkat sebesar Rp. 507.432/ha atau Rp. 205.500/ha (Tabel 26).

Nilai warisan tersebut lebih rendah jika dibandingkan dengan hasil perhitungan hasil perhitungan UNDP dan KLH (1999) yang menggunakan

pendekatan transfer benefit yaitu sebesar Rp. 1,5 juta/ha terhadap hilangnya

manfaat keanekaragaman hayati akibat kebakaran tahun 1997 di Indonesia. Kisaran nilai kesediaan membayar manfaat warisan perorang perhektar sangat dipengaruhi oleh persepsi untuk diwariskan agar dapat dimanfaatkan oleh anak cucu mereka, yang terutama dipengaruhi oleh sejauhmana ketergantiungan secara sosial ekonomi terhadap keberadaan TNBB.

Dari hasil penelitian ini diketahui pula bahwa terdapat hubungan antara jenis pekerjaan, tingkat pendidikan dan pendapatan terhadap kesediaan masyarakat untuk membayar. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa variabel pekerjaan, pendidikan dan pendapatan masyarakat berpengaruh positip dan signifikan pada taraf kepercayaan 95% (uji t dan uji F) terhadap kesediaan membayar manfaat warisan keanekaraman hayati di TNBB, dengan persamaan regresi sebagai berikut:

ƒ Ln Warisan = -2,07 + 0,224 Ln Kerja + 0,654 Ln Didik + 1,02 Ln Income ... (1997)

R2 = 81,9% (t=-1,83) (t=2,13) (t= 5,27) (t= 11,96)

ƒ Ln Warisan = -2,26 + 0,212 Ln Kerja + 0,637 Ln Didik + 1,04 Ln Income ... (2003)

R2 = 82,9% (t=-2,02) (t=2,09) (t= 5,30) (t= 12,57)

Dari persamaan tersebut menunjukkan bahwa semakin baik tingkat pendidikan, jenis pekerjaan dan pendapatan maka kesediaan membayar akan semakin besar. Kesediaan membayar masyarakat terhadap manfaat warisan perhektar dapat dijelaskan oleh ketiga variabel sebesar 83%, sedang 17% lainnya

dijelaskan oleh faktor sosial ekonomi lainnya (Lampiran 10). Pengaruh ketiga

variabel terhadap kesediaan membayar erat kaitannya dengan persepsi masyarakat akan manfaat yang dapat diwariskan dimasa mendatang. Jenis pekerjaan nyata pengaruhnya karena masyarakat merasa keberadaan TNBB akan bermanfaat bagi anak cucu mereka, walaupun saat ini ketergantungan dari masyarakat yang

mempunyai pekerjaan beragam (petani, pegawai dan pedagang) relatif rendah dibanding masyarakat yang berprofesi sebagai pengumpul hasil hutan. Sementara pendidikan dan pendapatan masyarakat berpengaruh nyata karena masyarakat rata-rata telah memperoleh pendidikan formal dan mengetahui manfaat TNBB (80%) dan mereka bersedia membayar rata-rata 38% dari tingkat pendapatan yang mereka peroleh pertahunnya.

Nilai keberadaan (existence value) diartikan sebagai nilai flora fauna langka atau dilindungi dan habitat satwa di TNBB agar tetap terlindungi keberadaannya dimasa datang. Kesediaan membayar kayu ulin yang dilindungi (Rp. 150.000 – 1.250.000), dan untuk jenis enggang gading, ayam hutan, orang utan, rusa, kelampiau berada pada kisaran nilai Rp. 15.000 – Rp. 1.000.000/ekor, dengan nilai tertinggi pada jenis orang utan dan yang terendah jenis kelampiau. Hasil analisis kesediaan membayar manfaat keberadaan flora fauna dilindungi dan habitat satwa dari penduduk desa sekitar yaitu Rp. 50.000 – Rp. 2.000.000/orang/thn atau rata-rata Rp. 452.372/ha dengan total nilai sebesar Rp. 104.045.469, dimana kesediaan membayar nilai habitat lebih tinggi dibanding flora fauna. Sementara tahun 2003 kesediaan membayar Rp. 642.775/ha dengan

nilai tertinggi Rp. 2,84 juta/thn dan terendah Rp. 71.045/tahun (Tabel 26).

Nilai rata-rata dari manfaat keberadaan flora fauna dilindungi dan habitat satwa ternyata lebih tinggi dibanding hasil perhitungan Ruitenbeek dalam Glover dan Timothy (1999) yaitu Rp. 171.000/ha (US$ 1 = Rp. 5.700 tahun 1997) dan pada tahun 2003 nilai kerugian biaya konservasi habitat yaitu Rp. 255.000/ha (1US$ = Rp. 8500). Sementara jika dibandingkan dengan nilai keanekaragaman hayati dari hasil perhitungan UNDP dan Kementerian LH (1998) ternyata lebih rendah yaitu sebesar Rp. 1,5 juta/ha (transfer benefit). Perbedaan ini menunjukkan bahwa pendekatan yang berbeda akan memberikan nilai yang berbeda tergantung potensi dan penilaian masyarakat.

Tingginya kesediaan membayar masyarakat terhadap manfaat keberadaan flora fauna dilindungi dan habitatnya diduga dipengaruhu oleh nilai keseluruhan manfaat yang selama ini diperoleh masyarakat. Dasar persepsi penilaian dari

masyarakat (responden) termasuk bias dalam penilaian karena diasumsikan

responden tidak memanfaatkan dan keberadaan TNBB sebatas sebagai sumber

ilmu pengetahuan dimasa mendatang. Penilaian yang bersifat bias ini telah diingatkan oleh Tietenberg (1992) sebagai salah satu bentuk kelemahan contingent valuation method yang sangat tergantung pada persepsi dan penilaian masyarakat. Hal ini terlihat jelas dengan penilaian masyarakat yang tinggal di sekitar TNBB lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat yang tinggal jauh dari TNBB yang ketergantungannya rendah terhadap keberadaan TNBB.

Perbedaan kesediaan membayar masyarakat selain dipengaruhi oleh lokasi dan intensitas pemanfaatannya, juga diduga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, jenis pekerjaan dan tingkat pendapatan. Hasil analisis menunjukkan ada korelasi positip antara kesediaan membayar (uji t = dan uji F) dengan jenis pekerjaan, tingkat pendidikan dan pendapatan masyarakat.

ƒ Ln Existing = -2,43 + 0,151 Ln Kerja + 0,294 Ln Didik + 1,08 Ln Income ... (1997) R2 = 73,8% (t=-1,82) (t=,121) (t= 2,00) (t= 10,78)

ƒ Ln Existing = -2,56 + 0,083Ln Kerja + 0,307 Ln Didik + 1,10 Ln Income ... (2003) R2 = 74,3% (t=-1,90) (t=0,68) (t= 2,12) (t= 11,06)

Tingkat pendidikan dan pendapatan berpengaruh nyata pada taraf kepercayaan 95% terhadap kesediaan membayar keberadaan habitat satwa dan flora fauna dilindungi karena besarnya ketergantungan dan pengetahuan masyarakat terhadap TNBB, hal ini ditunjukkan oleh adanya kesediaan masyarakat yang memperoleh pendidikan formal bersedia membayar lebih tinggi dibanding masyarakat yang tidak sekolah, dan rata-rata penduduk bersedia menyisihkan 48% dari pendapatan pertahun. Sementara jenis pekerjaan pengaruhnya tidak nyata karena semakin beragam pekerjaan (petani, dagang, pegawai) ketergantungan makin rendah sehingga kesediaan membayar rendah. Penilaian masyarakat ini bias karena didasarkan pada manfaat saat ini, sementara nilai keberadaan tidak didasarkan pada pemanfaatan tetapi fungsi keberadaannya. Namun demikian ketiga variabel dapat menjelaskan keragaman WTP keberadaan habitat dan flora fauna dilindungi sebesar 74% sedang 26% dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi lainnya.

Keragaan nilai kesediaan membayar masyarakat dari manfaat pilihan (option value), manfaat warisan (bequest value) dan manfaat keberadaan (existence value) dari flora fauna dan habitat satwa di TNBB yang dipengaruhi

oleh tingkat pendapatan, pendidikan dan jenis pekerjaan, namun terdapat kecenderungan bahwa preferensi kesediaan membayar semakin menurun dengan meningkatnya harga yang harus dibayar oleh masyarakat untuk melestarikan TNBB. Hal ini sesuai dengan hukum permintaan yaitu makin tinggi harga atau nilai suatu barang maka permintaan akan semakin berkurang. Perilaku kesediaan membayar masyarakat agar TNBB tetap lestari dimasa datang dengan pendekatan

kurva permintaan dapat dilihat pada Gambar 15.

(a) (b) Gambar 15. Kurva Permintaan Masyarakat terhadap Nilai Pilihan, Warisan dan

Keberadaan Flora Fauna dan Habitat di TNBB, tahun 1997 (a) dan tahun 2003 (b)

NP = nilai pilihan, NW = nilai warisan dan NK = nilai keberadaan

Berdasarkan kurva permintaan masyarakat diketahui surplus konsumen masyarakat dari manfaat keberadaan flora fauna dan habitat di TNBB untuk tahun 1997 yaitu sebesar Rp. 25,46 milyar/thn (Qd=101.228 org dan WTP = Rp. 567.500/org/thn), manfaat warisan Rp. 19,53 milyar/thn (Qd= 91.934 org dan WTP = Rp. 415.357,-/org/thn), dan manfaat pilihan flora fauna Rp. 4,96 milyar/thn (Qd=132.104 org dan WTP = Rp. 135.000/org/thn). Sementara untuk tahun 2003, surplus konsumen rata-rata meningkat 49,20%, yaitu nilai manfaat keberadaan Rp. 36,17 milyar/tahun (Rp. 806.361/org/thn); manfaat warisan Rp. 27,75 milyar/thn (Rp. 590.181/org/thn); dan manfaat pilihan sebesar Rp. 7,04 milyar/thn (Rp. 191.822,-/org/thn). Nilai surplus konsumen ini mengambarkan jasa lingkungan yang belum ternilai oleh pasar dan merupakan nilai ekonomi potensial yang seharusnya diterima oleh TNBB, karena adanya ketergantungan

0 200000 400000 600000 800000 1000000 1200000 1400000 0 50000 100000 150000 200000 250000 Qd (orang) WT P (R p /t h n ) Qd = 190959 - 0.15 NK NK = 1207716 - 6.32 Qd Qd = 186007 - 0,22 NW NW = 821276 - 4.41 Qd Qd = 205607 - 0.54 NP NP = 377629 - 1.83 Qd 0 200000 400000 600000 800000 1000000 1200000 1400000 1600000 1800000 2000000 0 50000 100000 150000 200000 250000 Qd (orang) W T P (R p/ thn ) Qd = 190959 - 0.11 NK NK = 1716044 - 8.98 Qd Qd = 186007 - 0.15 NW NW = 1166952 - 6.27 Qd Qd = 205607 - 0.38 NP NP = 536574 - 2.60 Qd 148

masyarakat yang besar terhadap keberadaan flora fauna dan habitat di TNBB agar tetap tersedia dimasa yang akan datang.