• Tidak ada hasil yang ditemukan

TWA Baning selain memiliki fungsi wisata, juga memiliki fungsi untuk pelestarian flora fauna maupun habitat satwa. Hasil inventarisasi dan laporan survei terdapat 37 jenis fauna dan 41 jenis flora beserta habitatnya. Nilai pilihan terhadap flora tumbuhan obat dengan kesediaan membayar Rp. 2.500 – 12.500/jenis, untuk jenis fauna seperti: babi hutan, ayam hutam, enggang badak, dan jenis burung (murai, puyuh, tekukur dan cucak rawa) nilai kesediaan membayar masyarakat antara Rp. 2.500 – Rp. 100.000/ekor dengan nilai tertinggi pada jenis ayam hutan dan babi hutan sedang yang terendah pada jenis tupai.

Berdasarkan kesediaan membayar responden, nilai pilihan (option value) perjenis flora fauna per hektar tahun 1997 yaitu Rp. 88.375,-/ha. Kesediaan membayar (WTP) sangat bervariasi dari Rp.7500 - 500.000/tahun dengan total nilai sebesar Rp. 5,25 juta/tahun, dan pada tahun 2003 meningkat yaitu Rp. 125.572/ha (Rp.10.657 – Rp. 710.450/tahun) dengan total nilai manfaat pilihan

sebesar Rp. 7,47 juta (Tabel 27).

Tabel 27. Kerugian Ekonomi Berdasarkan Nilai Pilihan, Warisan dan Keberadaan Keanekaragaman Hayati dan Habitat TWA Baning

No Manfaat Keanekaragaman Hayati

Luas Terbakar (ha) WTP Perhektar (1997) (Rp/ha) WTP Total (1997) (Rp) WTP Perhektar (2003) (Rp/ha) WTP Total (2003) (Rp)

1 Nilai Manfaat Pilihan flora fauna 59,5 88.375 5.258.313 125.572 7.471.536

2 Nilai Manfaat Warisan 59,5 320.527 19.071.357 455.436 27.098.457

a. Habitat 195.024 11.603.928 272.933 16.239.528

b. Flora Fauna 125.503 7.467.429 182.503 10.858.929

3 Nilai Manfaat Keberadaan 59,5 404.710 24.080.245 575.052 34.215.595

a. Habitat Satwa 289.460 17.222.870 361.252 21.494.495

b. Flora Fauna Dilindungi 115.250 6.857.375 213.800 12.721.100

Total (1+2+3) 59,5 813.611 48.409.873 1.156.060 68.785.588

Nilai manfaat pilihan di TWA Baning dengan pendekatan WTP relatif rendah (50%) dibanding dengan metode transfer benefit biaya konservasi habitat

dengan nilai sebesar Rp. 171.000/ha (US$ 1 = Rp. 5.700 tahun 1997) dan tahun 2003 menjadi Rp. 255.000/ha (1US$ = Rp. 8500). Hal ini diduga dipengaruhi potensi flora fauna pada areal TWA lebih rendah dibanding kawasan hutan primer di daerah tropis persatuan luas.

Keragaan kesediaan membayar pilihan flora fauna diduga dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi masyarakat. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa kesediaan membayar nilai pilihan flora fauna yang telah maupun belum dimanfaatkan saat ini dipengaruhi secara positip oleh jenis pekerjaan, pendidikan dan pendapatan masyarakat, sebagaimana dapat dilihat pada persamaan berikut:

ƒ Ln WTP pilihan = - 1,92 + 0,638 Ln Kerja + 0,875 Ln Didik + 0,839 Ln Income ... (1997)

R2 = 73% (t=-0,79) (t=2,13) (t= 3,24) (t= 4,45)

ƒ Ln WTP pilihan = - 1,61 + 0,628 Ln Kerja + 0,871 Ln Didik + 0,830 Ln Income ... (2003)

R2 = 73,2% (t=-0,66) (t=2,10) (t= 3,24) (t= 4,51)

Ketiga variabel tersebut nyata pengaruhnya terhadap WTP pilihan flora

fauna pada taraf kepercayaan 95% (uji t maupun Uji F) dengan R2 = 73%

(Lampiran 11). Kemampuan ketiga varaibel sosial ekonomi menerangkan keragaman WTP masyarakat sebesar 73%, sedang sisanya 27% ditentukan oleh faktor lain. Tingkat pendidikan dan pendapatan berpengaruh terhadap kesediaan membayar, karena sebagian besar responden (95%) dengan yang memiliki pendidikan formal bersedia membayar yaitu rata-rata 6,39% dari pendapatannya pada tahun 1997 (Rp. 1,38 juta/thn) dan pada tahun 2003 (Rp. 1,96 juta/tahun). Sedang jenis pekerjaan berpengaruh nyata karena sebagian besar masyarakat (57%) umumnya masih memanfaatkan hasil hutan meskipun jenis pekerjaan beragam (petani, pengumpul hasil hutan, pedagang, pegawai).

Penilaian manfaat warisan (bequest value) keanekaragaman hayati flora fauna dan habitat satwa di TWA Baning menunjukkan bahwa nilai jenis flora berkisar Rp. 5.000 – Rp. 1,5 juta/jenis, dimana nilai tanaman obat (Rp. 5000 – Rp. 25.000) dan kayu ramin (Rp. 50.000 – Rp. 1.500.000). Sedang nilai warisan fauna yaitu Rp. 2.500 – Rp. 250.000/jenis dengan nilai tertinggi jenis Enggang badak dan Ayam hutan (Rp. 25.000 – Rp. 250.000) dan yang terendah jenis tupai (Rp. 25.000 – Rp. 50.000/ekor). Sementara nilai warisan untuk fungsi habitat satwa antara Rp. 50.000 – Rp. 500.000/ha/thn. Sehingga jika dikonversi

persatuan luas, nilai manfaat warisan di TWA Baning tahun 1997 yaitu sebesar Rp. 320.527/ha dengan total nilai potensial sebesar Rp. 19,07 juta, dan meningkat

menjdi Rp. 27 juta dengan nilai per hektar Rp. 455.436/ha (Tabel 27).

Dari hasil wawancara terdapat perbedaan kesediaan membayar dari masyarakat menurut lokasi yaitu makin dekat dengan lokasi TWA Baning kesediaan membayar semakin besar, hal ini ditunjukkan oleh kesediaan membayar masyarakat desa Baning Kota (Rp. 173.000 – Rp. 247 ribu/thn), Ladang (Rp. 127.000 - 180 ribu/thn), dan Tanjung Puri (Rp. 67.500 – Rp. 95.000/thn). Keragaan WTP manfaat warisan umumnya sangat dipengaruhi oleh keinginan untuk mewariskan kepada anak mereka, tetapi besarnya WTP sangat ditentukan oleh tingkat pendapatan dan jenis manfaat yang diperoleh saat ini. Hasil analisis regresi variabel pekerjaan, pendidikan dan tingkat pendapatan terhadap WTP

masyarakat ternyata berpengaruh positip (Uji t α=0.05 dan Uji F) sebagaimana

dapat dilihat pada persamaan berikut dan Lampiran 11.

ƒ Ln Warisan = - 0,39 + 0,977 Ln Kerja + 0,966 Ln Didik + 0,715 Ln Income ... (1997)

R2 = 64,5% (t=-0,12) (t=2,52) (t= 2,76) (t= 2,93)

ƒ Ln Warisan = - 0,10 + 0,967 Ln Kerja + 0,962 Ln Didik + 0,709 Ln Income ... (2003)

R2 = 64,6% (t=-0,03) (t=2,50) (t= 2,76) (t= 2,97)

Dari persamaan koefisien regresi tersebut menunjukkan makin beragam jenis pekerjaan, tingkat pendidikan dan tingkat pendapatan, maka makin besar kesediaan membayar manfaat warisan flora fauna dan habitat, yang ditunjukkan

oleh nilai R2 = 64%, sedang sisanya dipengaruhi faktor lain. Signifikansi jenis

pekerjaan terutama dipengaruhi oleh adanya ketergantungan masyarakat terhadap TWA, dan masyarakat yang berpendidikan tinggi (95% sekolah dan dominan perguruan tinggi) cenderung membayar lebih besar yaitu rata-rata 23,18% dari tingkat pendapatan.

Kesediaan membayar keberadaan (existence value) flora dilindungi di areal TWA Baning antara lain: kayu ramin (Rp. 300.000 – 1.500.000), sedang jenis fauna dilindungi antara lain: burung enggang badak, ayam hutan, dan burung cucak rawa (Rp. 25.000 – Rp. 300.000/ekor), dengan nilai keberadaan tertinggi yaitu ayam hutan dan enggang badak. Sedang untuk fungsi sebagai habitat satwa,

masyarakat bersedia membayar antara Rp. 100.000- Rp. 1.000.000/tahun. Pendugaan nilai keberadaan dari flora fauna dilindungi dan habitat satwa persatuan luas pada tahun 1997 yaitu antara Rp. 7.500 – Rp. 1.500.000/tahun, dengan nilai rata-rata sebesar Rp. 404.710/ha. Sementara pada tahun 2003

kesediaan membayar rata-rata yaitu Rp. 575.052/ha (Tabel 27).

Dari hasil survey diketahui pula bahwa terdapat perbedaan kesediaan membayar nilai keberadaan dari flora fauna dilindungi dan habitat satwa di setiap desa sampel. Masyarakat desa Baning Kota rata-rata bersedia membayar lebih tinggi (Rp. 231.000 – Rp. 328.228/thn), dibanding desa Ladang (Rp. 153.250 – Rp. 217.753/thn) dan desa Tanjung Puri (Rp. 80.875 – Rp. 114.915/thn). Perbedaan kesediaan membayar masyarakat diduga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, pendapatan dan jenis manfaat yang diharapkan dimasa yang akan datang. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa ketiga variabel berpengaruh positip, namun yang signifikan pengaruhnya pada taraf kepercayaan 95% yaitu tingkat pendidikan dan pendapatan, dengan kemampuan model menerangkan WTP keberadaan sebesar 62%, sedang 38% dipengaruhi faktor lain, sebagaimana

dapat dilihat pada persamaan berikut dan Lampiran 11.

ƒ Ln Existing = - 1,66 + 0,556 Ln Kerja + 0,968 Ln Didik + 0,842 Ln Income ... (1997) R2 = 62,1% (t=-0,53) (t=1,44) (t= 2,77) (t= 3,45)

ƒ Ln Existing = - 1,30 + 0,549 Ln Kerja + 0,966 Ln Didik + 0,829 Ln Income ... (2003) R2 = 62% (t=-0,41) (t=1,42) (t= 2,78) (t= 3,48)

Variabel pekerjaan tidak signifikan diduga karena ketergantungan langsung terhadap TWA Baning yang rendah yang ditunjukkan oleh kesediaan membayar rendah karena mereka tidak boleh memanfaatkan flora fauna dan habitat satwa. Sementara pendidikan berpengaruh nyata karena 95% masyarakat yang memiliki pendidikan merasa penting dengan keberadaan TWA dan bersedia untuk membayar agar tetap tersedia yaitu sebesar 20% dari pendapatan pertahun.

Meskipun terdapat kesediaan membayar masyarakat untuk manfaat pilihan, manfaat warisan dan manfaat keberadaan flora fauna dan habitat di TWA Baning. Namun, kurva permintaan masyarakat semakin menurun dengan meningkatnya harga yang harus dibayar oleh masyarakat dalam melestarikan

TWA Baning. Hal ini sesuai dengan hukum permintaan bahwa makin tinggi harga atau nilai maka permintaan akan semakin berkurang. Kurva permintaan masyarakat terhadap kesediaan membayar nilai pilihan, warisan dan keberadaan

flora fauna dan habitat di TWA Baning dapat dilihat pada Gambar 16.

Berdasarkan kurva permintaan masyarakat diketahui surplus konsumen masyarakat dari nilai keberadaan flora fauna dan habitat di TWA Baning untuk nilai tahun 1997 sebesar Rp. 302 juta/tahun (Qd= 4.068 org dengan WTP Rp. 237.632/org/thn), manfaat warisan Rp. 235 juta/tahun (Qd= 3.817 org dan WTP Rp. 183.088/org/thn), dan manfaat pilihan flora fauna Rp. 34 juta/tahun (Qd= 4.150 org dengan WTP Rp. 122.632/org/thn). Sementara pada tahun 2003, surplus konsumen meningkat rata-rata 42% terdiri atas manfaat keberadaan sebesar Rp. 429 juta/thn (Rp. 337.651/org/thn); manfaat warisan yaitu Rp. 333 juta/tahun (Rp. 260.150/org/thn); dan manfaat pilihan sebesar Rp. 246 juta/thn (Rp. 174.247/org/thn). Adanya kesediaan membayar terhadap nilai keberadaan yang lebih tinggi dibandingkan nilai warisan dan pilihan, yang berarti masyarakat dalam memberikan penilaian sudah memperhitungkan usaha-usaha pelestarian keanekaragaman hayati yang ditunjukkan oleh adanya surplus konsumen terhadap jasa lingkungan, namun belum ternilai oleh pasar dan merupakan nilai potensial dari keberadaan TWA Baning, apabila tidak terjadi kebakaran hutan.

(a) (b)

Gambar 16. Kurva Permintaan Masyarakat terhadap Nilai Pilihan, Warisan

dan Keberadaan Flora Fauna dan Habitat di TWA Baning, tahun 1997 (a) dan tahun 2003 (b)

NP = nilai pilihan, NW = nilai warisan dan NK = nilai keberadaan 0 100000 200000 300000 400000 500000 600000 700000 800000 0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000 Qd (orang) WT P (R p /t h n ) Qd = 6612 - 0.010 NK NK = 617562 - 93.39 Qd Qd = 6384 - 0.014 NW NW = 455244 -71.30 Qd Qd = 6974 - 0.023 NP NP = 302829 - 43.41 Qd 0 100000 200000 300000 400000 500000 600000 700000 800000 900000 1000000 0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 Qd (orang) W TP ( R p/ thn) Qd = 6612 - 0.0075 NK NK = 877493 - 132.70 Qd Qd = 6384 - 0.0098 NW NW = 646857 - 101.32 Qd Qd = 6974 - 0.016 NP NP = 430290 - 61.69 Qd