BAB IV HASIL PENELITIAN
4.4 Penyajian Data
4.4.4 Tanggung Jawab
Media pertanggungjawaban yang menjadi alat evaluasi oleh pihak yang memberikan kewenangan untuk menilai kinerja pejabat pemerintah harus dibuat secara tertulis dalam bentuk laporan yang bersifat periodik.Bentuk laporan diupayakan sesuai dengan standar yang ditetapkan sebelumnya.Keseragaman bentuk maupun isi laporan harus mengarah kepada pemanfaatan laporan untuk keperluan daya banding antara kinerja suatu instansi pemerintah dengan instansi pemerintah lainnya.Laporan akuntabilitas tersebut membuat tugas pokok dan fungsi yang jelas serta kriteria kinerja yang memadai.Pengembangan Sumber
Daya Manusia (SDM) BPTPM Kota Cilegon merupakan salah satu misi BPTPM Kota Cilegon agar tercapainya tanggungjawab pegawai dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi. Hal demikian diungkapkan Sapiudin selaku Kepala Sub Bagian Umum & Kepegawaian (I2)sebagai berikut:
“Kalau PNS kan ada kode etiknya tuh, kalau THL kan ga ada.Makanya dibuat Surat Perjanjian Kerja (SPK)-nya tiap orang satu jadi kaya perjanjian kontrak di atas materai, biar ga melanggar pasal-pasal disini.Nanti kalau melanggar, ya bisa diberhentikan dengan tidak hormat. Kaya ini kan ya, mengundurkan diri pindah keperusahaan. Bikin surat pernyataan pengunduran dirinya.Ya kalau pegawai engga mengajukan surat pengunduran diri kalau ada hal-hal yang tidak diinginkan dia nuntut segala macamkan statusnya jelas. Misalnya gini, dia sekarang masih status kerja di sini sedangkan ada kegiatan yang masih harus dikerjain sama dia nah di SPK tercantumkan peraturan mainnya gimana. Sekarang ada pelaksanaan kegiatan tanggal 20, tanggal 10 dia udah ngundurin diri, itukan tidak berhak tidak boleh begitu. Kalau dia nuntut honornya belum diambil segala macam buktinya apa, tanggal 10 aja dia udah berhenti. Kan ada data ininya dokumen-dokumennya harus lengkap jadi secara tertulis bukan lisan.Kalau dia mengadukan secara macam-macam enak kita ada alat buktinya, 2 (dua) lampiran aja udah cukup jadi kita antisipasi. Ini mungkin ya kedepan juga masih ada kekurangannya seperti apa. Kemarin juga ada yang baru, jadi dia izin ikut pendidikan daftar kepolisian, kita kasih dua atau tiga hari izin cuma dia engga mengundurkan diri pas dia diterima langsung bikin pengunduran diri kalau langsung pengunduran diri sebelum keterima malah kan bingung, terima sana engga di sini udah berhenti. Cuma apa yang kaya gini mah THL banyak yang dari kebijakan-kebijakan pimpinan. Samalah dengan PNS izin sakit sampai sekian tahun, setahun ga sembuh-sembuh baru diberhentikan.Kalau struk, ga bisa apa-apa. Ya untuk antisipasi aja ini mah, mungkin untuk pengalaman juga dari Badan Keuangan Daerah (BKD) kan banyak gugatan segala macam makanya kita harus punya bukti buat jaga-jaganya. Sedia payung sebelum hujan.Yang kepolisian itu Munawir mengundurkan diri tapi langsung di isi lagi, kita masih butuh tenaga dibidang perizinan.Jadi sehari kosong, hari ketiga udah ada yang masuk lagi.(Wawancara dengan Sapiudin, 13 Agustus 2015, Pukul 03.20 di kantor BPTPM Kota Cilegon).
Dari pernyataan di atas peneliti melihat dalam hal ini akuntabilitas serta tanggungjawab Pegawai Upah Non PNS di BPTPM Kota Cilegon hanya berpedoman pada Surat perjanjian Kerja (SPK).Dalam hal ini SPK di keluarkan haruslah berdasarkan pertimbangan pasal-pasal yang tercantum dalam Surat Keputusan (SK) BPTPM Kota Cilegon Nomor: 800/07/SK-BPTPM tanggal 7 Januari 2015 tentang Pengangkatan Tenaga Harian Lepas (THL) di Lingkungan BPTPM Kota Cilegon. Berdasarkan SK tersebut,pegawaiTHL BPTPM Kota Cilegon tidaklah memiliki analisis jabatan atau analisis tugas yang pasti. Tidak adanya analisis jabatan akan menimbulkan hambatan pada penyelenggaraan pelayanan yang diberikan BPTPM Kota Cilegon, seperti yang diungkapkan oleh Riza Pahlevi selaku Legal and Licenses Office PT. KIEC (I6) sebagai berikut:
“Kalau PTSP Jakarta Selatan tuh professional berkas-berkas tuh langsung proses verifikasinya disitu, ga ada istilahnya ditampung dulu jadi enak. Kalau kita ada yang kurang langsung diberitahu sama front officenya tapi kalau Cilegon kan front officenya masih hanya menerima-menerima doang”.(Wawancara dengan Riza Pahlevi, 6 Agustus 2015, Pukul 10:30 di Wisma Krakatau, Cilegon).
Pendapat yang sama diutarakan tetapi berbeda oleh Bambang Tridasono selaku manager food and Beverages PT. Riamas Housing and Propertyndo (I5) sebagai berikut:
”Karena kemaren saya urus IMB habis berapa hari.Saya telepon mulur
dari waktu yang ditetapkan, saya telepon alasan mereka belum di survey. Nanti schedule kita masih banyak pak yang mengajukan juga masih banyak .Kadangkala seperti itu. Tapi ternyata ketika saya ke sana tanya sama yang bersangkutan, IMB Cilegon City Hotel sudah jadi apa belum kemudian back officenya menjawab sudah jadi satu bulan yang lalu, terus front office-nya bilang saya lupa telepon bapak, ya itu salah satunya
masih agak belum konsen bahwa ini pembagian tugas masing – masing. Misalnya di sana ada bagian resepsionis (front office) bisa diberikan tugas. Misalnya dari back office harusnya menyampaikan berapa jumlah SKRD yang harus di bayar kepada front office. Tapi hal itu sepertinya tidak jalan.Kan ada SKRD harus di ajukan kepada pemohon yang mengajukannya.Misal lewat telepon.Jadi kita tau kemaren saya datang ke sana 1 juli bilang lupa ditelepon biaya SKRD nya”.(Wawancara dengan Bambang Tridasono, 3 Juli 2015, pukul 10.20 WIB, di Cilegon City Hotel, Cilegon).
Dari pernyataan-pernyataan di atas dapat terlihat bahwa masyarakat yang melakukan pelayanan perizinan harus benar-benar berupaya sendiri mencari informasi mengenai prosedur pelayanan perizinan penanaman modal di BPTPM Kota Cilegon. Hal tersebut dikarenakan tidak ada analisis jabatan yang jelas mengenai tugas, pokok dan fungsi pegawai front office yang merupakan status kepegawaiannya THL. Sementara, sebagian masyarakat mengharapkan bahwa pegawai front office dapat memberikan informasi kepada pelanggan atau masyarakat terkakit pelayanan perizinan penanaman modal. Tujuan akuntabilitas atau perttanggungjawaban seharusnya untuk mencari jawaban terhadap pertanyaan yang berhubungan dengan pelayanan apa, siapa, kepada siapa, milik siapa, yang mana dan bagaimana. Akuntabilitas juga merupakan instrument untuk kegiatan kontrol terutama dalam pencapaian hasil pada pelayanan publik. Tetapi akuntabilitas yang dilakukan pegawai BPTPM Kota Cilegon belum mencapai hasil yang optimal pada pelayanan publik dalam menjalankan kegiatan kontrol seperti apa yang diungkapkan oleh Riza Pahlevi selaku Legal and Licenses Office PT. KIEC (I6) sebagai berikut:
“Sebenarnya untuk respon pegawainya sih cukup baik ya, tapi kadang kan kalau mencari kesempurnaan orang lain kan susah juga ya, itu tinggal kitanya juga ya untuk terus selalu memonitor apa yang sudah kita proses apa saja, harus selalu di pantau kalau tidak ya akan lama dan tidak akan berjalan. Ya, tapi sih Alhamdulillah sih sudah mulai kelihatan yang kita kerjakan pasti akan selesai seperti itu”.(Wawancara dengan Riza Pahlevi, 6 Agustus 2015, Pukul 10:28 di Wisma Krakatau, Cilegon).