KONSTRUKSI TEORI GENERAL SUSTAINABLE-INTERIOR DESIGN
5.2.1 Tanggungjawab Sosial Desain Interior
Socio-design adalah konsep yang dikemukakan sebagai salah satu pilar atau aspek dari sustainable design. Rasionalisasi rumusannya serta bagaimana implementasinya menjadi bahasan sebagai bagaian dari tanggungjawab sosial bidang ilmu desain (interior). Pendekatan dengan bahasan sosiologi lingkungan dan sosiologi desain digunakan untuk merumuskan pemahaman spesifik dalam bidang desain. Rumusan akhirnya adalah integrasi antara desain dan tanggung jawab sosial dalam konteks sustainability.
Hubungan antara desain dan aspek sosial dalam konteks sustainability dibahas dalam batasan bahas sosiologi lingkungan dan sosiologi desain. Kedua bahasan tersebut melibatkan hubungan manusia dengan lingkungan dan desain.
Sosiologi Lingkungan
Pada bahasan sosiologi lingkungan, dibahas hubungan antar manusia dengan alam atau lingkungan melalui pemaparan watak manusia dalam konteks sebagai homo ecologicus and homo sociologicus. Persoalan lingkungan tidak dapat dilepaskan dari persoalan sistemik yang perlu dibongkar dan dirumuskan ulang untuk penyelamatan lingkungan secara integral antara bahasan ekologi, sosial, dan ekonomi (Susilo, 2008). Berikut adalah jalinan antar unsur dalam sistem ekologi (lingkungan fisik), sistem sosial, dan sistem ekonomi (gambar 5.23):
Gambar 5.23. Jalinan antar unsur dalam sistem ekologi, sosial, dan ekonomi (Susilo, 2008). Implementasi sustainable development antar negara beragam, berkaitan dengan bagaimana menerjemahkan visi sustainable development menjadi lebih konkrit sesuai dengan kondisi keberagaman wilayah masing-masing. Hal ini menuntut masing-masing bidang merumuskan sustainable development yang applicable untuk bidangnya (sustainable city, sustainable industry, sustainable design, dan lain-lain).
Sosiologi Desain
Sosiologi desain dipicu dan berkembang oleh semakin kompleksnya permasalahan desain dan kehidupan manusia. Sosiologi desain merupakan suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku individu, sekelompok orang, atau masyarakat yan dipengaruhi oleh karya desain tertentu dan sebaliknya, yaitu karya-karya desain yang menciptakan situasi social tertentu dengan pendekatan komprehensif. Baik yang bertujuan untuk analisa sosial maupun untuk masukan kepada para pelaku desain sebagai dasar untuk memecahkan permasalahan, atau upaya untuk mencari jalan keluar melalui pendekatan desain yang baru, ataupun kebijakan sosial yang baru (Sachari, 2007).
Dalam kajian ilmu sosial secara umum, beberapa bagian dari ilmu sosial berkaitan dengan politik, ekonomi, hukum, psikologi, antropologi, bahasa, dan budaya. Demikian pula dengan desain, aspek-aspek yang tersebut juga menjadi bagian dari kajian desain. Tetapi dalam hal tertentu memiliki implikasi ke arah pemecahan masalahnya melalui usulan desain. Sedangkan dalam kajian sosiologi
Konstruksi Pendidikan Kelompok Sosial Pelayanan kesehatan & kesejahteraan sosial Kebudayaan Individu Keluarga Hiburan Tingkat Upah Penanaman Modal Industri Tabungan Pembayaran Kesejahteraan Tenaga Kerja Udara Air Kehutanan Sekolah Jalan Ruang Terbuka Sistem
Sosial SistemFisik
Sistem Ekonomi
murni lebih bersifat analitis dan cenderung berupa pemaparan sebuah fenomena yang terjadi. Sehingga hubungan aspek social dan desain adalah fenomena sosial masyarakat dan pemecahannya atau fenomena desain dan dampaknya secara sosial masyarakat. Seperti yang gambaran berikut (gambar. 5.24):
Gambar 5.24. Relasi antara aspek sosial, masyarakat, dan karya desain (Sachari, 2007). Desain sebagai pemecahan masalah dari fenomena sosial masyarakat, ataupun fenomena desain yang berdampak secara sosial masyarakat adalah 2 hal terpenting sebagai peran sekaligus tanggungjawab desain dalam kehidupan manusia. Berikut adalah salah satu bagan pemahaman social design oleh Burkett (2012) yang diunggahkan pada jaringan social entrepreneurship and social innovation. (gambar 5.25): Karya Desain Masyarakat Perabotan Rumah/ Bangunan Kota Negara Dunia
Gambar 5.25. Social Design (http://www.design21sdn.com/share/19801)
Secara umum ketika membahas tentang ’desain’ maka yang sering muncul adalah bahasan tentang high-end product seperti arsitektur, barang perlengkapan rumah tangga, alat transportasi, dan mode fashion. Padahal sebenarnya ’desain’ lebih dari hanya sekedar produk. Inti terdalam dari ’desain’ adalah upaya untuk menciptakan cara membuat dunia dan kehidupan yang berlangsung di dalamnya menjadi lebih baik. Bahasan desain adalah tentang menemukan solusi, inovasi praktis, dan mengupayakan perbaikan untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Jika desain dibahas sebagai ’desain sosial’, maka penerapan prinsip-prinsip desain ditujukan untuk merespon realitas sosial dan merancang cara untuk mengatasi masalah sosial, serta dengan orientasi akhir menciptakan masyarakat adil sejahtera dan berkelanjutan. Hal ini senada dengan yang sering dikemukakan juga oleh Papanek (2011) dalam bukunya Design For The Real World: Human Ecology and Social Change. Selanjutnya Burkett (2012) mengemukakan bahwa desain sosial dapat menunjukkan hasil tertentu dari sebuah proses desain yaitu desain untuk tujuan sosial seperti upaya pemenuhan kebutuhan, layanan, dan mempermudah atau mengefektifkan proses dalam manusia beraktivitas.
Desain sosial tidak selalu harus menciptakan hal baru, tetapi juga bisa mengupayakan sesuatu menjadi lebih efektif sesuai sistem yang ada, termasuk meningkatkan layanan bagi masyarakat secara lebih luas. Desain sosial juga sering dipahami sebagai desain dari masyarakat untuk masyarakat, implementasinya bisa berupa desain yang berorientasi pada proses desain itu sendiri dan melibatkan subjek penggunanya secar integral untuk merancang pemenuhan kebutuhannya. Desain sosial memberikan gambaran kepada pelaku desain tentang isu-isu sosial, yang seringkali berbeda dari apa yang dipahami sebelumnya dalam proses merancang pada umumnya.
Desain bisa dibuat untuk membentuk perilaku sosial masyarakat, atau sebaliknya desain dibuat sebagai respon dan berdasar pada perilaku sosial masyarakat. Utamanya dalam konteks sustainability, maka desain memiliki peran dan tanggungjawab besar secara sosial untuk optimalisasi pencapaian sustainability dengan mengintegrasikan aspek social yang diintegrasikan dengan aspek ekologi dan ekonomi.
Studi sosial-desain memiliki unsur-unsur dan prinsip-prinsip yang terdiri dari beberapa aspek (http://www.uxmatters.com). Unsur aspek sosial-desain sebagai berikut: motivation, identity, control, independence, privacy, authority, gaming, community, emergence. Ada beberapa kunci perbedaan antara desain sosial dan formalistik. Kunci desain sosial sebagai berikut: skala kecil, lokal, teknologi tepat guna, berorientasi pada manusia, definisi ulang klien untuk menyertakan pengguna, berkaitan dengan makna dan konteks, biaya rendah, pendekatan desain bottom up, inklusif, demokratis. Kunci desain formalistik sebagai berikut: skala besar, nasional atau internasional, teknologi tinggi, berorientasi pada lembaga, pemilik sebagai klien eksklusif, berkaitan dengan gaya dan orientasi, biaya tinggi, pendekatan desain top down, eksklusif, otoriter.
Selanjutnya, jika pemahaman desain sosial tersebut dilanjut-pahamkan dalam konteks desain interior, maka pemahamannya akan menjadi desain sosial yang terbatas pada bahasan lingkup desain interior, dan disebut sebagai interior. Batasan bahas tersebut dapat dikonkritkan dengan batasan bahas
socio-interior, yaitu manusia, ruang, dan lingkungan sosial. Manusia sebagai subjek
dalam ruang, juga menjadi orientasi utama dalam perancangan bangunan dan ruang dalam. Manusia, ruang-bangunan, dan lingkungan sosial menjadi bagian
kesatuan dari desain interior yang berpendekatan sistem sosial. Pemahaman yang seimbang antara manusia dan aktivitasnya, wujud dan fungsi ruang, serta kebutuhan sosial (di dalam ruang) akan mengoptimalkan keseimbangan implementatif antara manusia, ruang-bangunan, dan lingkungan sosial.
Manusia-ruang-lingkungan (sosial), adalah elemen dari faktor sosial dalam bahasan desain interior. Manusia merupakan elemen organisme yang berhubungan timbal balik dengan elemen ruang dan lingkungan. Dalam bahasan hubungan timbal balik antara manusia-ruang-lingkungan (sosial) inilah, socio-interior menjadi topik kajian dan terapan. Pemahaman tentang manusia-ruang-lingkungan (sosial) serta hubungannya dengan projek desain interior digambarkan dalam skema sebagai berikut (gambar 5.26):
Gambar 5.26. Skema elemen sosial dalam bahasan socio-interior.
Dalam kajian terapan sosial desain interior ini, hubungan timbal-balik antara manusia-lingkungan sosial menjadi fokus bahas. Ruang, menjadi media yang mewujud dalam hubungan timbal balik tersebut. Manusia merespon kondisi lingkungan sosial dalam perwujudan ruang sebagai tempat aktivitasnya. Sedangkan lingkungan sosial dengan kondisinya, menjadi salah satu faktor penentu dalam perwujudan ruang.
”We shape our buildings and afterward our buildings shape us ” (Winston Churcill, 1943). Kuotasi tersebut memberikan pemahaman bahwa ada
Projek Desain Lingkungan (sosial) Ruang Manusia Keterangan :
Manusia, organisme yang berhubungan timbal balik terhadap ruang dan lingkungan sosial.
Ruang, wadah atau tempat manusia beraktivitas dalam batasan interior (ruang dalam). Lingkungan-sosial, sistem dan isu sosial internal dan eksternal yang berkaitan dengan
pencapaian optimalnya. Projek Desain, rancangan (desain) interior dimana keputusan di dalamnya akan dipengaruhi dan mempengaruhi bagaimana manusia berlaku terhadap ruang dan
korelasi saling mempengaruhi yang kuat antara terapan lingkungan fisik ruang-bangunan yang dibentuk dengan manusia penggunanya. Pola tersebut di atas juga berlaku dalam bahasan aspek sosial dan desain, dimana keduanya juga akan saling mempengaruhi. Terapan desain yang akan mempengaruhi proses atau sistem sosial yang berlangsung, dan sebaliknya, proses atau sistem sosial akan menjadi penentu bagaimana desain berikutnya akan direncanakan. Hal tersebut biasanya dibahas dalam keilmuan sosiologi desain, (Sachari, 2007).
Hal-hal yang berkaitan dengan bahasan desain interior dan proses atau sistem sosial terbagi dalam 2 lingkup, yaitu lingkup dalam dan luar ruang (terbatas). Kedua lingkup bahasan tersebut tetap menjadikan manusia pengguna ruang sebagai subjek utama bahasan. Bahasan lingkup dalam ruang terdiri dari : Korelasi manusia pengguna ruang dengan manusia pengguna lain dalam beraktivitas (dengan sesama pengguna dalam ruang); Korelasi manusia pengguna ruang dengan lingkungan fisik dan produk dalam beraktivitas (dengan terapan lingkungan fisik dan produk dalam ruang). Sedangkan bahasan lingkup luar ruang (terbatas) terdiri dari: Korelasi manusia pengguna ruang dengan manusia lain di luar ruang (dengan manusia lain di luar ruang); Korelasi manusia pengguna ruang dengan isu-isu sosial dibalik terapan fisik dan produk (dengan isu-isu sosial dibalik pilihan produk yang digunakan dalam ruang). Bahasan tentang desain interior dengan proses dan lingkup sistem sosial tersebut diatas dapat digambarkan dengan bagan berikut (gambar. 5.27):
Gambar 5.27. Bagan Lingkup Bahas Socio-Interior
(desain) interior dimana keputusan di dalamnya akan dipengaruhi dan mempengaruhi bagaimana manusia berlaku terhadap manusia lain, ruang, pelengkap ruang, dan kesalingterhubungannya. Tanggungjawab tersebut adalah bagian dari tanggungjawab menuju desain interior yang berkelanjutan, tentu saja tetap dalam arahan orientasi isu degradasi lingkungan.
Tanggungjawab desain interior pada aspek sosial bisa diimplementasikan dengan 2 pendekatan, baik secara searah maupun 2 arah. Pendekatan yang dimaksud adalah desain yang berorientasi dipengaruhi oleh tujuan pemenuhan kebutuhan sosial manusia penggunanya dan sebaliknya, desain yang berorientasi untuk mempengaruhi perilaku sosial manusia penggunanya, tentu saja dalam batasan interior. Pendekatan pertama bisa diimplementasikan untuk kondisi manusia pengguna yang dianggap sudah sadar akan kebutuhan sosialnya dan bagaimana memenuhinya, sehingga desain interior mengikuti untuk mengakomodasi aktivitas dari perilaku yang dibutuhkan. Sedangkan pendekatan kedua bisa diterapkan untuk kondisi manusia pengguna yang dianggap perlu untuk dipengaruhi atau dibentuk perilaku sosialnya selama beraktivitas berada dalam ruang, sehingga desain interior yang diterapkan adalah desain yang menentukan bagaimana manusia penggunanya berlaku dalam ruang.
Tanggungjawab desain interior pada aspek sosial dalam ruang, intinya adalah bahasan terkait hubungan manusia dengan manusia, dan manusia dengan ruang dan pelengkap ruang. Hubungan yang terjadi bisa saling mempengaruhi dalam upaya merespon isu desain berkelanjutan karena degradasi lingkungan. Beberapa bahasan konkrit diantaranya adalah: bagaimana manusia pengguna bisa berinteraksi langsung maupun tidak langsung dengan manusia pengguna lainnya di dalam ruang; bagaimana manusia pengguna bisa berinteraksi dengan ruang dan pelengkap ruang untuk optimalisasi aktivitas (misal: direct interface dengan material dan juga produk teknologi); bagaimana ruang dan pelengkapnya bisa mempengaruhi perilaku aktivitas manusia dalam ruang, dan lain-lain.
Tanggungjawab desain interior pada aspek sosial luar ruang terbatas, intinya adalah bahasan terkait hubungan manusia dengan manusia, dan manusia dengan isu-isu sosial dibalik terapan ruang dan pelengkap ruang. Hubungan yang terjadi bisa saling mempengaruhi dalam upaya merespon isu desain berkelanjutan karena degradasi lingkungan. Beberapa bahasan konkrit diantaranya adalah:
bagaimana manusia pengguna dalam ruang bisa berinteraksi langsung maupaun tidak langsung dengan manusia lain di luar ruang; bagaimana manusia pengguna ruang merespon isu-isu sosial dibalik terapan ruang dan pelengkap ruang (misal pilihan produk yang berdasarkan social story behind the product); bagaimana pilihan produk terapan dalam ruang dapat mempengaruhi peningkatan kualitas hidup dan perekonomian komunitas tertentu, dan lan-lain.
5.2.2 Identifikasi Prinsip Variable Socio-Interior