• Tidak ada hasil yang ditemukan

TANTANGAN DALAM PERUBAHAN PARADIGMA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

Salah satu perdebatan panjang waktu persiapan program adalah tentang tenaga pendamping masyarakat atau fasilitator. Bagi sebagian orang di pemerintahan, melihatnya masih dengan ‘mental proyek’, fasilitator adalah pengawas dan bukan sebagai community organizer. Waktu kita perkenalkan pendekatan pemberdayaan masyarakat, mereka sempat limbung karena bekerja bersama masyarakat itu sangat berbeda dibanding proyek membangun saluran air bersih, persampahan, membangun pasar dan semacamnya.

Awalnya, Bank Dunia juga tidak mengerti. Bagi Bank Dunia, pendamping adalah technical assistance, sehingga ada aturan bahwa biaya untuk pengadaan fasilitator dibatasi hanya sekian persen. Namun mereka mau cepat belajar dan menyadari bahwa pendamping bukan sekadar technical assistance, melainkan semacam ‘pemandu’ bagi masyarakat agar bisa berdaya dan mandiri. Dalam perjalanannya, Bank Dunia merekrut konsultan dengan latar belakang pemberdayaan masyarakat sehingga perbedaan pandangan ini bisa dijembatani meski lewat proses yang cukup alot sampai akhirnya bisa satu frekuensi.

Bappenas dan Bank Dunia bekerjasama menyusun berbagai elemen membentuk fasilitator, dimana nilai-nilai yang dianut, prinsip kerja serta sistem pelatihan monitoring dan evaluasi kita susun dan bahas secara mendetil. Itu semua tercermin dalam kurikulum pelatihan fasilitator. Fasilitator harus memiliki seperangkat pengetahuan agar bisa membantu masyarakat mengenali akar persoalan hidup mereka sehari-hari. Misalnya, untuk soal kesehatan kan tidak cukup hanya membangun Puskesmas. Perlu pendamping masyarakat yang mengajak masyarakat berpikir dan mengenali kondisinya. Waktu dibedah persoalannya, ternyata ketahuan akarnya adalah pada kondisi rumah

106

dan lingkungan yang tidak sehat, rumah gelap karena tidak ada jendela, got mampet, tidak ada sanitasi dan air bersih, sampah di mana-mana. Cara hidup mereka adalah sumber penyakitnya. Dengan pendampingan, masyarakat jadi mengerti persoalan yang mereka hadapi.

Dalam P2KP fasilitator juga mendampingi proses pembentukan Unit Pengelola Kegiatan (UPK) yang dikelola oleh masyarakat melalui mekanisme demokratis untuk mengurus tata kelola uang yang masuk dan penggunaannya. Kita merancang pemilihan calon pengurus, membuat AD/ART, melatih administrasi keuangan termasuk pembukuan sederhana sehingga layak audit oleh auditor independen, tata cara penyampaian laporan ke publik dan pelatihan-pelatihan teknis sesuai program yang disepakati masyarakat.

Pendamping juga melibatkan tenaga ahli yang berkualitas yang dapat mentransfer pengetahuan pembangunan infrastruktur pada masyarakat. Misalnya, bagaimana membuat saluran air ke rumah-rumah warga dari sumber air yang posisinya di bagian atas atau bawah di wilayah itu, bagaimana memilih pompa air yang berkualitas. Nah, dana program baru bisa dicairkan jika masyarakat sudah menyusun proposal kegiatan tahunan. Selain infrastruktur, ada banyak juga akhirnya kegiatan jenis lain seperti pengelolaan pasar, perawatan penderita kusta, pembangunan dan perawatan pembangkit tenaga mikro hidro. Yang menarik, ada juga usulan kegiatan untuk meredam konflik serta pelatihan bagi warga untuk melakukan pemantauan dan evaluasi sederhana.

Proses rekrutment fasilitator awalnya juga mendapat tantangan, utamanya dari aturan pengadaan barang dan jasa Pemerintah waktu itu. Kita tidak boleh merekrut lembaga yang bukan perusahaan atau PT. Saya konsultasi dengan ahli hukum dari Bank Dunia, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) serta Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

107

Selanjutnya, waktu itu kita juga harus berhadapan dengan masalah yang tidak kalah serius yaitu bagaimana menemukan perusahaan konsultan pelaksana program. Kebanyakan perusahaan yang ada tidak mengenal paradigma pemberdayaan masyarakat. Di sisi lain, untuk merekrut Lembaga Swadaya Masyarakat yang paham dan punya latar belakang pemberdayaan ada tantangannya dalam hal manajemen proyek seperti keuangan, monitoring dan evaluasi. Saya lihat ada celah dalam perjanjian pemerintah dan Bank Dunia terkait pengadaan perusahaan konsultan ini. Akhirnya saya minta agar proses pengadaan barang dan jasa P2KP memungkinkan adanya penggabungan antara perusahaan konsultan, perguruan tinggi, dan LSM. Permintaan tersebut disetujui.

REZIM PROYEK

Sebetulnya persoalan utama yang muncul dalam pelaksanaan kerja fasilitator bukan paradigma proyek, tetapi siklus anggaran yang terlalu kaku dan pendek, yang membuat seolah-olah fasilitator terjebak dalam siklus kegiatan proyek. Ternyata pemberdayaan masyarakat tidak bisa selesai dalam setahun siklus anggaran pemerintah. Hal itu lah yang kemudian pelan-pelan diperbaiki sehingga intisari community organizing berhasil diperkenalkan.

Prakarsa pemberdayaan bisa datang dari siapa saja. Saat masyarakat setuju untuk menjalankan inisiatif pembangunan, apa pun bentuknya dan dari mana pun asalnya, inisiatif itu sudah menjadi sebuah proyek. Ada dimensi target, baik apa yang dihasilkan, termasuk bagaimana, kapan dan siapa yang menghasilkannya. Kalau kematangan ini ada di salah satu pihak, apakah anggota masyarakat atau pendamping, efektivitas penggunaan dana biasanya tinggi. Nah, seberapa jauh kita bisa lepas dari belenggu target dan dana proyek sebetulnya tergantung dari tingkat kematangan berorganisasi antara pendamping dan masyarakat yang didampingi. Proyek hanyalah bungkus dari usaha membantu masyarakat.

108

Pemberdayaan masyarakat bukan tujuan, tetapi cara untuk ikut membangun. Jika dulu peran pemerintah yang dominan, dengan program pemberdayaan peran pemerintah lebih sebagai enabler masyarakat agar aktif membangun. Ujung atau tujuan program pemberdayaan masyarakat adalah kue pembangunan yang diciptakan dan dirasakan masyarakat: bisa kesejahteraan yg lebih baik, bisa pendidikan yang lebih luas, produksi ekonomi lokal lebih baik, dan lain-lain.

Yang terpenting adalah masyarakat bisa mengenali, menganalisis dan mencari pemecahan atas permasalahannya. Kalaupun belum bisa menyelesaikannya, minimal mereka tahu ke mana mencari jawaban untuk memecahkan masalahnya. Kalau ada krisis lagi, saya berharap masyarakat bisa berdiskusi antar mereka sehingga tahu apa yang harus dilakukan. Kalau sampai ada kalimat keluar dari masyarakat menyangkut satu persoalan, ‘… waaah.. akhirnya kita bisa selesaikan juga masalah ini…’ itulah esensi pemberdayaan masyarakat.”