BAB III METODOLOGI PENELITIAN
E. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian desain didaktis ini akan dilakukan tiga tahapan penelitian, yaitu analisis situasi didaktis sebelum pembelajaran, analisis metapedadidaktik, dan analisis retrosfektif. Maka tahapan analisis data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Analisis situasi didaktis sebelum pembelajaran (prospektif), yaitu analisis tes learning obstacle dan hasil wawancara untuk mengidentifikasi learning obstacle konsep elips pada irisan kerucut. Setelah itu dilakukan penyusunan desain didaktis dengan konsep elips pada irisan kerucut.
2. Analisis metapedadidaktik, yaitu analisis situasi dan berbagai respon saat desain didaktis konsep elips diimplementasikan
3. Analisis retrospektif, yaitu analisis hasil implementasi desain didaktis awal beserta respon β respon siswa yang munul. Hasil analisis ini berupa desain didakits revisi.
33 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Proses penelitian desain didaktis ini dilakukan dalam tiga tahap analisis yang diformulasikan berdasarkan tahap berpikir guru. Tahap pertama, dilakukan sebelum pelaksanaan pembelajaran yaitu analisis prospektif dimana difokuskan pada kegiatan analisis learning obstacle, rekontekstualisasi dan repersonalisasi.
Kegiatan rekontekstualisasi dan repersonalisasi bertujuan sebagai dasar pengembangan desain didaktis hipotesis dan antisipasi didaktis pendagogis (ADP).
Tahap kedua, dilakukan selama pembelajaran berlangsung dengan menerapkan analisis metapedadidaktik. Tahap ketiga, setelah pelaksanaan proses pembelajaran, dilakukan analisis retrospektif, yaitu merefleksikan apa yang terjadi selama kegiatan pembelajaran berlangsung kemudian dikaitkan dengan desain didaktis hipotesis. Ketiga tahap tersebut diformulasikan sebagai langkah untuk mendapatkan desain didaktis empirik yang dapat dikembangkan dan disempurnakan.
A. Analisis Prospektif
Analisis prospektif merupakan analisis situasi didaktis sebelum pembelajaran yang terdiri dari tiga analisis yaitu learning obstacle, repersonalisasi dan rekontekstualisasi, serta pengembangan desain didaktis. Analisis learning obstacle ialah memetakan dan menguraikan semua hambatan yang dialami oleh peserta didik pada konsep elips. Analisis repersonalisasi dan rekontekstualisasi ialah menganalisis konteks materi elips dengan mempertimbangkan hambatan belajar siswa (learning obstacle) dan lintasan belajar siswa (learning trajectory).
Pengembangan desain didaktis disusun berdasarkan hasil analisis repersonalisasi dan rekontekstualisasi. Hasil pengembangan desain tersebut berupa desain didaktis hipotesis yang terdiri dari Hypothetical Learning Trajectory (HLT) dan Lembar Kerja Siswa (LKS).
34
1. Analisis Learning Obstacle Materi Elips
Dalam penyusunan desain bahan ajar yang baik perlu dilakukan identifikasi learning obstacle yang dialami oleh siswa pada konsep yang akan dipelajari, dalam hal ini ialah konsep elips pada irisan kerucut. Setelah mengidentifikasi learning obstacle langkah selanjutnya ialah menganalisisnya sebagai pertimbangan dalam pembuatan desain bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Hal ini dilakukan agar dapat mengatasi hambatan yang dialami oleh siswa sebelumnya.
Dalam mengidentifikasi learning obstacle konsep elips, peneliti menyusun instrumen tes yang terdiri dari enam butir soal yang mewakili seluruh konsep elips.
Instrumen tes tersebut di uji cobakan kepada siswa SMA Plus Pembangunan Jaya kelas XI MIPA yang terdiri dari 23 siswa. Siswa yang mengikuti tes tersebut telah mempelajari materi elips pada semester ganjil. Setelah melaksanakan tes, peneliti melakukan wawancara kepada siswa.
Berdasarkan hasil tes instrumen tersebut, peneliti menemukan beberapa learning obstacle yang difokuskan pada hambatan yang bersifat epistimologi berdasarkan respon siswa setelah instrumen diberikan. Berikut ini adalah proses pengerjaan siswa dalam menyelesaikan soal berkaitan dengan konsep elips.
Tabel 4. 1
Kodifikasi dan Persentase Hambatan Siswa pada Konsep Elips
No.Soal Kodifikasi
Hambatan yang dialami siswa
Persentase learning
Siswa tidak dapat membaca unsur-unsur pada elips yang berpusat di menggunakan persamaan elips tegak yang berpusat di (0,0)
63,48%
3 3A Siswa yang keliru dalam
menentukan jari-jari mayor dan titik 64,78% 68,48%
35
fokus pada elips datar yang berpusat di (h,k)
3B
Siswa keliru dalam menggunakan persamaan elips datar yang berpusat di (h,k)
72,17%
4
4A
Siswa yang mengalami kesulitan mengubah persamaan bentuk umum elips menjadi persamaan elips sederhana
93,91%
96,09%
4B
Siswa keliru dalam menentukan titik fokus dan titik pusat pada elips yang berpusat di (h,k)
98,26%
5
5A
Siswa keliru dalam menentukan jari-jari mayor dan minor pada elips yang berpusat di (0,0)
96,52%
98,26%
5B Siswa keliru dalam menggunakan
elips yang berpusat di (0,0) 100,00%
6
6A
Siswa keliru dalam menentukan jari-jari mayor dan minor pada elips yang berpusat di (0,0)
84,78%
92,39%
6B
Siswa keliru dalam menentukan jarak fokus ke titik pusat menggunakan phytagoras
100,00%
Persentase rata-rata hambatan epistimologis siswa
pada konsep Elips 80,20%
Keterangan :
Persentase /kode hambatan siswa : 100% β ( π‘ππ‘ππ π πππ πππππ
π½π’πππβ π ππ π€π π₯ π πππ ππππ πππππ₯100%) Persentase /butir soal : rata-rata persentase hambatan tiap butir soal
Secara keseluruhan dapat dilihat dari presentase rata-rata hambatan epistimologis siswa pada konsep elips yaitu sebesar 80,20%. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang mengalami hambatan pada konsep elips. Tentunya hal ini perlu menjadi perhatian untuk mencari apa saja penyebab hambatan tersebut, sehingga menjadikan sebagai dasar pertimbangan untuk mengembangkan desain didaktis yang sesuai agar dapat mengatasi hambatan epistimologis siswa.
Berikut ini merupakan peta hambatan serta analisis hambatan siswa pada konsep elips.
36
Gambar 4. 1
Peta Hambatan Epistimologis Siswa pada Konsep Elips
Berdasarkan data hasil identifikasi learning obstacle konsep elips yang diujicobakan kepada beberapa subjek, hambatan epistimologis siswa terkait konsep elips dikelompokkan sebagai berikut.
1. Definisi dan unsur-unsur elips
Pada kelompok ini, siswa mengalami hambatan atau hambatan dalam membaca apa saja unsur-unsur dari gambar elips yang telah disajikan. Hal ini menyebabkan siswa tidak dapat membedakan unsur-unsur yang terdapat pada dua gambar elips yang berbeda.
2. Elips berpusat di (0,0)
Pada kelompok ini, siswa mengalami hambatan dalam menggunakan persamaan elips di (0,0). Selain itu, siswa keliru dalam menentukan jari-jari mayor & minor, panjang sumbu mayor & minor, lactus rectum, serta jarak fokus ke titik pusat menggunakan phytagoras.
37
3. Elips berpusat di (h,k)
Pada kelompok ini, siswa mengalami hambatan dalam menggunakan persamaan elips di (h,k); siswa keliru dalam mengubah persamaan bentuk umum ke persamaan sederhana; serta siswa hambatan menentukan jari-jari mayor & minor, titik pusat, dan titik fokus.
Sebagian besar hambatan yang dialami siswa adalah kekeliruan dalam mengaplikasikan rumus-rumus dalam suatu masalah. Hal ini dikarenakan siswa cenderung menghafal jenis-jenis elips beserta rumusnya, sehingga siswa bingung dalam penggunaan rumus persamaan elips maupun unsur-unsur elips pada masalah yang berbeda dari biasanya. Berikut ini adalah analisis hambatan siswa pada konsep elips berdasarkan uji identifikasi learning obstacle.
a. Analisis hambatan definisi dan unsur-unsur elips
Sebagian besar siswa mengalami hambatan dalam membaca unsur-unsur elips, hal tersebut disebabkan karena siswa cenderung menghafalkan unsur-unsur secara umum. Hal ini juga menyebabkan siswa bingung ketika disajikan gambar yang berbeda. Berikut ini soal nomor 1 beserta kesalahan siswa terkait unsur-unsur elips.
Soal nomor 1 :
Tuliskan perbedaan-perbedaan dari dua gambar berikut !
Soal nomor satu merupakan soal yang mencakup kemampuan siswa dalam menganalisis unsur-unsur elips pada sebuah koordinat kartesius. Rata-rata siswa
38
yang tidak menguasai soal nomor satu sebanyak 79,13%. Siswa mengalami hambatan ketika membaca apa saja unsur-unsur yang terdapat pada dua bentuk elips yang berbeda. Dalam soal ini, siswa diminta untuk menuliskan unsur-unsur yang terdapat dari dua bentuk elips yang telah disajikan. Berikut hambatan siswa dalam menyelesaikan soal nomor 1.
Gambar 4. 2
Respon Kesulitan Siswa Membaca Unsur βUnsur Soal Nomor 1
Pada gambar 4.2, sebanyak 79,13% siswa tidak dapat membaca unsur-unsur elips selain bentuk dan titik pusat pada kedua gambar elips tersebut. Hal ini dikarenakan siswa cenderung menghafalkan unsur-unsur tanpa melihat bentuk elips pada koordinat kartesius. Berdasarkan hasil wawancara salah satu perwakilan siswa menyatakan tidak tuntas menjawab soal nomor 1, dikarenakan siswa lupa dengan unsur βunsur elips baik yang berpusat di (0,0) maupun di (h,k). Hal ini menunjukkan bahwa siswa hanya melakukan penghafalan dan tidak memahami unsur-unsur elips secara utuh.
b. Analisis hambatan elips yang berpusat di (0,0)
Sebagian besar siswa mengalami hambatan pada konsep elips yang berpusat di (0,0) baik masalah dalam bentuk gambar maupun masalah kontekstual. Hal ini diutarakan oleh beberapa siswa yang telah diwawancarai terkait hambatan pada konsep elips yang berpusat di (0,0). Hambatan yang dialami siswa terkait masalah kontekstual yaitu siswa tidak dapat memahami masalah tersebut, sehingga siswa tidak dapat menafsirkan informasi yang terdapat pada masalah tersebut. Berikut ini
39
soal nomor 2 beserta kesalahan siswa terkait menggunakan formula latus rectum dan persamaan elips berpusat (0,0)
Soal nomor 2 :
Tentukan persamaan elips yang berpusat di titik asal O(0,0), sumbu mayor pada sumbu y dengan panjang 4 satuan, serta panjang lactus rectum sama dengan 9/2 ! Soal nomor dua merupakan soal yang mencakup kemampuan siswa menentukan persamaan elips jika diketahui beberapa unsur. Rata-rata siswa yang tidak menguasai soal nomor dua sebanyak 46,30%. Siswa mengalami hambatan ketika menentukan jari-jari minor menggunakan formula lactus rectum. Dalam soal ini, siswa diminta untuk mencari jari-jari mayor dari panjang sumbu mayor yang telah diketahui, lalu mencari jari-jari minor menggunakan formula lactus rectum kemudian mensubstitusikan jari-jari mayor dan jari-jari minor ke dalam persamaan elips. Berikut kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal nomor 2.
Gambar 4. 3
Respon Kesulitan Siswa dalam Menggunakan Formula Latus Rectum Soal Nomor 2
Pada jawaban siswa diatas, sebanyak 29,13% siswa belum benar dalam menentukan jari-jari minor dari formula lactus rectum. Namun, siswa benar dalam menentukan jari-jari mayor dari panjang sumbu mayor yang telah diketahui di soal tersebut. Siswa tersebut berpikir 2 (π2
2) = 2 (9
2), sehingga π2 = 9 β π = 3.
Selanjutnya siswa tersebut mensubstitusikan π = 2 πππ π = 3 kedalam persamaan elips.
40
Gambar 4. 4
Respon Kesulitan Siswa Menggunakan Persamaan Elips Pusat (0,0) Soal Nomor 2
Pada gambar diatas, sebanyak 63,48% siswa sudah benar dalam menentukan jari-jari minor dan jari-jari mayor dengan menggunakan apa yang sudah diketahui sebelumnya pada soal. Namun, siswa tersebut keliru dalam menggunakan persamaan elips, yang seharusnya persamaan elips yang digunakan adalah π₯
2 π2+
π¦2
π2= 1. Berikut ini soal nomor 5 beserta kesalahan siswa terkait menentukan jari-jari mayor & minor dan persamaan elips berpusat (0,0).
Soal nomor 5 :
Suatu kelengkungan tanah yang berlubang berbentuk setengah ellips dengan lebar alas 48 meter dan tinggi 20 meter. Berapa lebar kelengkungan itu pada ketinggian 10 meter dari alas !
Soal nomor lima merupakan soal yang mencakup kemampuan siswa dalam menyelesaikan permasalahan elips dalam kehidupan sehari-hari dengan menggunakan unsur-unsur dan persamaan elips. Rata-rata siswa yang tidak menguasai soal nomor lima sebanyak 98,26%. Siswa mengalami hambatan dalam menafsirkan lebar alas 48 meter sebagai panjang sumbu mayor dan ketinggian
41
lubang tersebut 20 meter sebagai jari-jari minor. Dalam soal ini, siswa diminta untuk mencari jari-jari alas serta jari-jari dari ketinggian lubang, lalu disubstitusikan ke dalam persamaan elips berikut π₯
2 π2+π¦2
π2 = 1. Dengan begitu dapat diperoleh lebar kelengkungan pada ketinggian 10 meter dengan mensubstitusikan 10 meter kedalam bentuk persamaan elips sebelumnya. Berikut kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal nomor 5.
Gambar 4. 5
Respon Kesulitan Siswa Menentukan Jari-Jari Mayor dan Minor Soal Nomor 5
Pada jawaban diatas, sebanyak 96,52% siswa tersebut tidak menyelesaikan soal dengan cara yang semestinya. Hal ini dapat dilihat dari jawaban siswa tersebut hanya menuliskan jawaban berdasarkan logika. Siswa tersebut membuat kesimpulan lebar alas yang awal bagian kanan dan kirinya dikurangi 2 meter, sehingga diperoleh 48π β 2π β 2π = 44π pada saat ketinggian 10 meter. Hal ini mengakibatkan sebanyak 100% siswa tidak mampu menyelesaikan hingga memsubstitusikannya ke dalam persamaan elips.Berikut ini soal nomor 6 beserta kesalahan siswa terkait menentukan jari-jari mayor & minor dan jarak fokus ke titik pusat menggunakan phytagoras pada elips berpusat (0,0).
Soal nomor 6 :
Di suatu kota terdapat sebuah taman bermain. Taman tersebut dikelilingi oleh suatu jalan berbentuk elips dengan panjang mayor dan minor berturut-turut 442 meter dan 342 meter. Apabila pengelola taman tersebut ingin membangun air mancur pada masing β masing sisi taman tersebut, tentukan jarak antara air mancur tersebut
!
42
Soal nomor enam merupakan soal yang mencakup kemampuan siswa dalam menyelesaikan permasalahan elips dalam kehidupan sehari-hari dengan menggunakan unsur-unsur elips. Rata-rata siswa yang tidak menguasai soal nomor enam sebanyak 92,39%. Siswa mengalami hambatan dalam menafsirkan pertanyaan yang menanyakan jarak antara air mancur yang sebenarnya mencari panjang fokus 1 dengan fokus 2. Dalam soal ini, siswa diminta untuk mencari jarak antar air mancur pertama ke air mancur kedua, lalu siswa diminta untuk mencari jari-jari mayor dan minor dari panjang mayor dan minor yang telah diketahui pada soal. Dengan begitu diperoleh jarak fokus dari titik pusat dengan menggunakan phytagoras. Berikut kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal nomor 6.
Gambar 4. 6
Respon Kesulitan Siswa Menentukan Jari-Jari Mayor dan Minor Soal Nomor 6
Pada jawaban siswa diatas, sebanyak 84,78%% siswa tidak menyelesaikan soal dengan semestinya. Hal ini dapat dilihat dari jawaban siswa tersebut hanya menyatakan jari-jari minor dan jari-jari mayor. Seluruh siswa tidak dapat menyelesaikan permsalahan diatas hingga menenukan jarak kedua air mancur.
43
c. Analisis hambatan elips yang berpusat di (h,k)
Sebagian besar siswa mengalami hambatan yang sama dengan elips yang berpusat di (0,0) pada konsep elips yang berpusat di (h,k) yaitu baik masalah dalam bentuk gambar maupun masalah kontekstual. Hal ini diutarakan oleh beberapa siswa yang telah diwawancarai terkait hambatan pada konsep elips yang berpusat di (h,k). Hambatan yang dialami siswa terkait masalah kontekstual yaitu siswa tidak dapat memahami masalah tersebut , sehingga siswa tidak dapat menafsirkan informasi yang terdapat pada masalah tersebut. Berikut ini soal nomor 3 beserta kesalahan siswa terkait menentukan jari-jari mayor & minor dan menggunakan persamaan elips berpusat (h,k).
Soal nomor 3 :
Perhatikan gambar di bawah ini !
Soal nomor tiga merupakan soal yang mencakup kemampuan siswa menentukan persamaan elips jika diketahui beberapa unsur dalam bentuk gambar pada koordinat kartesius. Rata-rata siswa yang tidak menguasai soal nomor tiga sebanyak 68,48%. Siswa mengalami hambatan ketika menentukan jari-jari minor dan jari mayor pada gambar. Dalam soal ini, siswa diminta untuk mencari jari-jari mayor menggunakan salah satu titik puncak yang telah diketahui pada gambar dan mencari jarak fokus dari titik pusat menggunakan salah satu titik fokus yang telah diketahui pada gambar, kemudian mencari jari-jari minor menggunakan rumus phytagoras lalu substitusi jari-jari minor dan mayor ke dalam persamaan elips . Berikut kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal nomor 3.
Tentukan persamaan elips dari gambar berikut !
44
Gambar 4. 7
Respon Kesulitan Siswa Menentukan Jari-Jari Mayor& Minor serta Titik Fokus Soal Nomor 3
Pada jawaban siswa diatas, sebanyak 64,78% siswa sudah benar dalam menentukan titik pusat dan 2 titik fokus berdasarkan gambar yang sudah disajikan.
Siswa tersebut menggunakan rumus jumlah jarak titik sembarang (T) pada elips terhadap dua titik fokus sama dengan 2a untuk menentukan jari-jari mayor.
Selanjutnya, siswa tersebut mensubstitusikan titik sumbu x pada titik fokus 1 (F1) dan titik sumbu x pada titik fokus 2 (F2) kedalam persamaan TF1 + TF2 = 2a. Hal ini keliru, dikarenakan jarak titik T ke F1 maupun T ke F2 bukan berasal dari titik fokus itu sendiri.
Gambar 4. 8
Respon Kesulitan Siswa Menggunakan Persamaan Elips Pusat (h,k) Soal Nomor 3
Pada jawaban diatas, sebanyak 72,17% siswa belum benar dalam penggunaan rumus persamaan elips yang berpusat di (h,k). Siswa tersebut tidak mengkuadratkan (π₯ β π) dan (π¦ β π), sehingga persamaan elips yang benar menjadi (π₯βπ)
2
π2
+
(π¦βπ)2
π2
= 1.
Berdasarkan hasil wawancara beberapa siswa dan kesalahan diatas dapat disimpulkan bahwa siswa tersebut tidak mengetahui cara mendapatkan jari-jari mayor, jari-jari- jari-jari minor , serta titik fokus berdasarkan gambar yang telah disajikan. Berikut ini soal nomor 4 beserta kesalahan siswa terkait menentukan titik fokus dan titik pusat elips berpusat (h,k):45
Soal nomor 4 :
Tentukan titik fokus dan titik pusat dari persamaan 25π₯2+ 9π¦2+ 100π₯ β 36π¦ β 89 = 0!
Soal nomor empat merupakan soal yang mencakup kemampuan siswa dalam menentukan titik fokus dan titik pusat dari bentuk umum persamaan elips. Rata-rata siswa yang tidak menguasai soal nomor empat sebanyak 96,09%. Siswa mengalami hambatan ketika menjabarkan bentuk umum persamaan elips menjadi persamaan elips yang sederhana. Dalam soal ini, siswa diminta untuk menjabarkan dan memanipulasi bentuk umum persamaan elips sehingga membentuk persamaan elips sederhana. Dengan begitu dapat titik pusat, jari-jari mayor, jari-jari minor, dan jarak fokus dari titik pusat, lalu untuk memperoleh titik fokus dengan menggunakan formula titik fokus pada elips yang berpusat di (h,k). Berikut kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal nomor 4.
Gambar 4. 9
Respon Kesulitan Siswa Menentukan Titik fokus dan Titik Pusat Elips Pusat (h,k) Soal Nomor 4
Pada jawaban siswa diatas, sebanyak 93,91% siswa tersebut tidak menjabarkan persamaan bentuk umum elips, melainkan siswa tersebut langsung menyatakan jari-jari minor dan jari-jari-jari-jari mayor kedalam bentuk persamaan elips sederhana. Siswa tersebut menyatakan jari-jari minor adalah 5 yang merupakan kuadratdari persamaan 25π₯2+ 9π¦2+ 100π₯ β 36π¦ β 89 = 0 dan jari-jari mayor adalah 3 yang merupakan kuadrat dari persamaan 25π₯2+ 9π¦2+ 100π₯ β 36π¦ β 89 = 0. Setelah mendapatkan jari-jari minor dan jariβjari mayor, siswa tersebut menyatakan jarak titik fokus dari titik pusat (c) adalah 4 dengan menggunakan phytagoras. Siswa tersebut juga mengganggap bahwa titik pusat persamaan tersebut berada pada (0,0).
Sebanyak 98,26% siswa tidak dapat menyelesaikan hingga menemukan titik pusat dan titik fokus.
46
Berdasarkan hasil wawancara beberapa siswa, mereka tidak menjawab nomor 4 secara tuntas. Mereka menyatakan tidak terbiasa dengan soal semacam ini, karena soal seperti ini jarang digunakan sebagai latihan di sekolah. Dalam penyampaian guru di kelas soal semacam ini menggunakan rumus cepat dan mereka lupa apa rumus cepatnya. Menurut penuturan guru matematika di sekolah tersebut menyatakan bahwa beliau hanya sekilas membahas soal semacam ini. Hal ini disebabkan waktu yang dibutuhkan untuk membahas elips secara mendetail tidak cukup, karena materi irisan kerucut tidak hanya elips.
Berdasarkan hasil analisis kemampuan siswa dalam mengerjakan soal tentang konsep elips pada irisan kerucut, diperoleh beberapa hambatan yang dialami oleh siswa. Hambatan siswa (learning obstacle) pada hal ini dibagi menjadi 2 jenis, yaitu :
a) Jenis 1 : learning obstacle terkait materi pendukung yaitu : (1) Siswa tidak dapat membaca elips pada koordinat kartesius (2) Siswa tidak dapat memanipulasi aljabar
b) Jenis 2 : learning obstacle terkait dengan konsep elips pada irisan kerucut yaitu;
(1) Siswa tidak dapat membaca unsur-unsur pada elips
(2) Siswa keliru dalam menggunakan persamaan elips yang berpusat di (0,0) (3) Siswa keliru dalam menentukan jari-jari mayor, jari-jari minor, titik fokus,
panjang sumbu mayor pada elips yang berpusat di (0,0)
(4) Siswa keliru dalam menggunakan persamaan elips yang berpusat di (h,k) (5) Siswa keliru dalam menentukan jari-jari mayor, jari-jari minor, titik fokus,
panjang sumbu mayor pada elips yang berpusat di (h,k)
(6) Siswa yang mengalami hambatan mengubah persamaan bentuk umum elips menjadi persamaan elips sederhana
Hasil analisis hambatan - hambatan yang muncul pada respon siswa dalam menjawab masalah elips akan dijadikan acuan prediksi respon siswa guna menyusun antisipasi didaktis pendagogis agar dapat meminimalisasi dan mengurangi hambatan yang dialami oleh siswa.
47
2. Repersonalisasi dan Rekontekstualisasi
Sebelum melakukan pengembangan desain didaktis peneliti melakukan kegiatan repersonalisasi dan rekontekstualisasi terlebih dahulu. Kedua kegiatan tersebut berguna untuk memprediksi dan mengantisipasi berbagai hambatan peserta didik dalam mempelajari konsep matematika.
a. Repersonalisasi
Kegiatan repersonalisasi, peneliti melakukan analisis buku teks matematika peminatan, mengkaji serta eksplorasi konteks yang digunakan dalam penelitian guna menghubungkan konsep matematika yang akan dipelajari. Sebelum membuat bahan ajar, guru perlu memahami konsep materi pembelajaran yang akan diajarkan.
Eksplorasi konteks dilakukan untuk menganalisis konsep elips dari beberapa sumber yang tersedia. Bahan yang eksplorasi yang digunakan ialah buku teks matematika peminatan yang digunakan untuk mengembangkan konsep elips.
Buku teks yang digunakan di sekolah tempat peneliti melakukan penelitian yaitu buku matematika peminatan kelas XI penerbit I dan buku teks matematika peminatan kelas XI penerbit II. Eksplorasi konsep dimulai dengan menganalisis peta konsep yang disajikan oleh kedua buku tersebut. Namun, kedua buku tersebut tidak memaparkan peta konsep materi elips secara khusus, sehingga peneliti melakukan analisis dan didapatkan peta konsep sebagai berikut.
Gambar 4. 10 Peta Konsep Elips
Penyajian konsep elips pada kedua buku yang dijadikan sumber belajar cukup lengkap, hanya saja peneliti menemukan kekurangan dari masing-masing kedua buku tersebut. Hal ini akan menjadi fokus peneliti untuk mengembangkan dalam penyajian materi elips. Ketika analisis penyajian konsep pada kedua buku tersebut
48
dilakukan, peneliti mendapatkan bahwa buku teks matematika peminatan kelas XI pada penerbit I membahas unur-unsur elips yang berpusat di (h,k) dengan menyajikan bentuk elips mendatar maupun tegak dengan koordinat yang cukup jelas. Namun penyajian bentuk elips tersebut tidak dapat menuntun siswa untuk mendapatkan konsep elips yang berpusat di (h,k).41 Berikut gambar penyajian konsep elips yang berpusat di (h,k).
Gambar 4. 11
Sajian Konsep Elips (h,k) di Buku Matematika peminatan Penerbit I Berdasarkan gambar di atas, siswa langsung diberikan gambar elips mendatar atau horizontal pada sistem koordinat kartesius, lalu dilanjutkan dengan pemaparan unsur-unsur yang terdapat pada elips yang berpusat di (h,k). Hal ini menyebabkan siswa cenderung membedakan dari titik pusat dan bentuknya saja, tanpa harus
Sajian Konsep Elips (h,k) di Buku Matematika peminatan Penerbit I Berdasarkan gambar di atas, siswa langsung diberikan gambar elips mendatar atau horizontal pada sistem koordinat kartesius, lalu dilanjutkan dengan pemaparan unsur-unsur yang terdapat pada elips yang berpusat di (h,k). Hal ini menyebabkan siswa cenderung membedakan dari titik pusat dan bentuknya saja, tanpa harus