• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

A. Deskripsi Konseptual

4. Teori Belajar yang Terkait

Memahami teori tentang bagaimana seseorang belajar serta kemampuan menerapkannya dalam pengajaran matematika merupakan persyaratan penting untuk menciptakan proeses pembelajaran efektif.27 Berbagai studi tentang perkembangan intelektual manusia telah menghasilkan sejumlah teori belajar yang beragam. Teori belajar yang mendukung digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut:

25 Tatang Suratno, Didaktik dan Didactical Design Research. Dalam D.Suryadi, E. Mulyana, T.Suratno, D.A.K. Dewi, dan S.Y.Maudy (Eds.) Monograf Didactical Design Research, (Bandung : Rizqi Press, 2016), h.8

26 Didi Suryadi,Ibid,h.3

27 Didi Suryadi, Op.Cit., h.1

20

a. Teori Ausubel

Teori ini dikenalkan oleh David Ausubel ialah tentang belajar bermakna. Bagi Ausubel, belajar bermakna merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep yang relevan. Hal ini terdapat dalam struktur kognitif seseorang.28 Jadi belajar bermakna dapat dikatakan melalui tahapan mengetahui, memahami, mengaplikasikan, dan memilikinya untuk dimanfaatkan lebih lanjut.Terdapat empat tipe belajar berdasarkan teori belajar Ausubel:29 1) Belajar dengan penemuan bermakna, mengaitkan pengetahuan yang

sudah dimilikinya dengan materi pelajaran yang sedang siswa pelajari.

2) Belajar dengan penemuan tidak bermakna, pelajaran yang ditemukan sendiri oleh siswa tanpa dikaitkan dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya, lalu siswa hafalkan.

3) Belajar menerima bermakna, materi yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai bentuk akhir, lalu pengetahuan yang baru siwa kaitkan dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya.

4) Belajar menerima tidak bermakna, materi yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai bentuk akhir, lalu pengetahuan yang baru siswa hafalkan tanpa mengaitkan dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya.

Misalnya jika siswa menemukan persamaan elips, siswa akan mengaitkannya dengan unsur-unsur dari elips itu sendiri sehingga siswa dapat memvisalisasikan dalam bentuk gambar terlebih dahulu.

Selanjutnya siswa akan menemukan dan menbangun pengetahuannya sendiri dari berbagai macam masalah elips yang lainnya.

28 Ratna Wilis Dahar, Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran,(Jakrta: Erlangga,2011),h.95 29 Amin Otoni Harefa, Penerapan Teori Pembelajaran Ausubel dalam Pembelajaran,Majalah Ilmiah Warta Dharmawangsa,Edisi 3,ISSN: 1829-7463, 2013, h.48-49

21

b. Teori Vygotsky

Menurut Vygotsky menyatakan bahwa seluruh fungsi mental yang lebih tinggi berasal dari lingkungan sosial. Meskipun pembelajaran sosial mempengaruhi konstruksi pengetahuan, tetapi harus diperhitungkan dalam menjelaskan pembelajaran dan perkembangan.

Terdapat ringkasan tentang poin-poin pokok dalam teori Vygotski sebagai berikut :30

a. Interaksi-interaksi sosial itu penting; pengetahuan dibangun diantara dua atau lebih orang.

b. Pengaturan-diri dikembangkan melalui internalisasi (mengembangkan sebuah representasi internal) dari tindakan -tindakan dan operasi-operasi mental yang terjadi dalam interaksi sosial

c. Perkembangan manusia terjadi melalui alat-alat kultural (bahasa, simbol-simbol) yang diteruskan dri orang ke orang

d. Bahasa adalah alat kultural yang paling penting. Bahasa berkembang dari tuturan sosial, ke tuturan pribadi, ke tuturan tersembunyi (di dalam)

e. Zona perkembangan proksimal (ZPD/zone of proximal development) adalah perbedaan antara apa yang dapat dilakukan sendiri oleh anak-anak dan apa yang dapat mereka lakukan dengan bantuan orang lain. Interaksi dengan orang-orang dewasa dan teman-teman sebaya dalam ZPD mendorong perkembangan kognitif.

Dari poin-poin tersebut dapat disimpulkan bahwa proses siswa dalam mempelajari suatu konsep tidak terlepas dari aktifnya siswa dalam berinteraksi dengan teman sebaya maupun orang dewasa yang telah menguasai materi tersebut. Orang dewasa yang dimaksudkan ialah guru. Peran guru tidak hanya sebatas mengajar saja,

30 Dale H.Schunk,Learning Theories An Educational Perspective (Teori-Teori Pembelajaran :Perspektif Pendidikan ), (Yogyakarta:Pustaka Pelajar,2012),h.340-341

22

namun guru harus berperan sebagai fasilitator untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Menurut Vygotsky, kegiatan belajar dapat meningkatkan keaktifan siswa untuk berinteraksi dengan orang yang lebih dewasa maupun dengan teman sebayanya. Pemecahan masalah yang dilakukan oleh siswa akan berbeda dengan pemecahan melalui bantuan orang yang lebih dewasa (zone of proximal development). Bantuan yang diberikan terhadap setiap individu siswa tidaklah konstan, melainkan memberi bantuan secara bertahap, sehingga guru mampu menciptakan situasi didaktis.

c. Piaget

Menurut Piaget bahwa proses belajar seseorang harus disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif yang dilalui oleh individu tersebut. Terdapat empat tahap, antara lain tahap sensomotor, tahap ini berlangsung pada usia anak 1,5 sampai 2 tahun; tahap praoperasional, tahap ini berlangsung pada usia anak 2 sampai 8 tahun; tahap operasional konkret, tahap ini berlangsung pada anak usia 7/8 tahun sampai 12/14 tahun); dan tahap operasional formal, tahap ini berlangsung pada anak usia 14 tahun keatas.31

Menurut Piaget, terdapat tiga tahapan proses belajar siswa antara lain sebagai berikut :32

a. Asimilasi

Asimilasi merupakan proses pengintegrasian informasi baru ke struktur kognitif yang telah ada sebelumnya. Proses ini terjadi secara kontinu selama proses perkembangan intelektual anak.

b. Akomodasi

Akomodasi merupakan proses penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi baru. Proses akomodasi terjadi untuk mengubah struktur kognitif yang telah ada agar sesuai dengan stimulus yang

31 Evelin Siregar dan Hartini Nara, Teori Belajar dan Pembelajaran, (Bogor : Ghalia Indonesia. Cet ke-2, Oktober 2010, h.33

32Evelin Siregar dan Hartini Nara,Ibid, h.32

23

baru didapat. Proses asimilasi dan akomodasi terjadi secara bersama-sama sehingga menyebabkan terjadinya proses adaptasi dan perkembangan struktur intelektual.

c. Equilibrasi (penyeimbang)

Equilibrasi merupakan penyeimbang anatar dunia luar dengan dunia dalam. Maksudnya ialah setiap individu yang ingin beradapatasi dengan lingkungnnya harus mencapai keseimbangan antara aktivitas individu (internal) terhadap lingkungannya (eksternal).

Misalnya seorang siswa sudah mengetahui prinsip fungsi kuadrat, jika guru memperkenalkan siswa metode penyelesaian elips, maka terjadilah proses pengintegrasian antara prinsip fungsi dengan metode penyelesaian elips, ini dinamakan proses asimilasi.

Jika siswa diberikan soal elips yang diketahui titik pusatnya berbeda, maka situasi ini dinamakan akomodasi. Agar siswa dapat terus berkembang, maka diperlukan proses penyeimbangan.

d. Teori Van Hiele

Teori Van Hiele dikembangkan oleh dua pendidik berkebangsaan Belanda, Pierre Marie Van Hiele dan Dina Van Hiele-Geldof. Teori ini menjelaskan perkembangan berfikir siswa dalam belajar geometri.

Menurut teori ini, seseorang akan melalui lima level perkembangan berfikir dalam belajar geometri, yaitu sebagai berikut:33

a. Level 0 : Tingkat Visualisasi

Tingkat ini disebut tingkat pengenalan. Pada level ini siswa hanya mengetahui suatu bangun geometri sebagai suatu keseluruhan tanpa mengamati ciri-ciri dari bagian bangun tersebut.

b. Level 1 : Tingkat Analisis

33 Abdussakir,Pembelajaran Geometri Sesuai Teori Van Hiele,Jurnal Madrasah, Vol.11 No.1,2009,h.3-4

24

Tingkat ini dikenal sebagai tingkat deskriptif, dimana siswa sudah mampu mengenal bangun geometri beserta ciri-cirinya dan siswa sudah terbiasa menganalisis bagian-bagian suatu bangun geometri.

c. Level 2 : Tingkat Abstraksi

Tingkat ini disebut juga tingkat pengurutan atau tingkat relasional.

Dengan kata lain siswa pada level ini siswa sudah bisa memahami hubungan antar sifat bangun yang satu dengan sifat bangun yang lain.

d. Level 3 : Tingkat Deduksi Formal

Pada tingkat ini siswa dapat memahami peran definisi, aksioma, dan teorema dalam geometri. Selain itu, siswa juga mampu menyusun bukti – bukti secara formal.

e. Level 4 : Tingkat Rigor

Tingkat ini disebut juga tingkat matematis dimana siswa mampu melakukan penalaran secara formal tentang sistem-sistem matematika, termasuk sistem geometri, tanpa memerlukan model konkret sebagai acuan.

Jika diterapkan pada peneliian ini sebagai contohnya yaitu bermula dengan siswa mengamati bentuk elips dari persamaan elips yang telah diketahui sebelumnya, lalu siswa akan menganalisis dari unsur-unsur yang didapatkan dari mengamati, dengan begitu siswa akan menghubungkan konsep elips dengan unsur-unsurnya.

Selanjutnya siswa akan menerapkan aksioma dan teorema yang ada tanpa mengetahui model konkretnya.