• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Penyajian Data

2) Tema Minor

Tema minor adalah tema-tema tambahan atau tema sampingan dari tema mayor. Tema minor ini sering disebut sebagai permasalahan dalam sebuah cerita.

Dalam novel Kutemukan Engkau di Setiap Tahajudku karya Desi Puspitasari ada beberapa tema minor atau masalah-masalah yang mengacu dalam tema mayor, antara lain adalah sebagai berikut.

a. Masalah Keagamaan Agus

Masalah religius dalam novel Kutemukan Engkau di Setiap Tahajudku dikisahkan Ibu Agus yang selalu mematuhi segala perintah agama.

56

"Setelah memasukkan motor dan mengunci kembali gembok, Agus berjingkat masuk ke rumah. Keadaan di dalam tampak gelap. Dari pintu kamar Ibu yang sedikit terbuka, cahaya lampu menghambur keluar. Agus melongok. Ibunya mendongak. Matanya basah. Agus sudah hafal. Air mata kesedihan; kehilangan anak pertama,"kehilangan" kehangatan suami, dan juga "kehilangan" Agus yang makin sering bersikap seenaknya sendiri."

(Desi Puspitasari, 2013 : 54)

Dalam kutipan di atas pengarang menjelaskan selain menjalanakan salat Tahajud hampir tiap malam, Ibu juga menjalankan perintah agama yaitu puasa.

"Ibu sahur?" serak suara Agus bertanya. Ibu, dalam kesendiriannya, sedang menyantap sereal dicampur buah. Agus duduk lalu menenggak habis air putih di gelas Ibu." (Desi Puspitasari, 2013 : 56)

Selain menjalankan salat Tahajud setiap malam dan menunaikan ibadah puasa, Ibu juga selalu sabar menghadapi semua cobaan yang menimpanya. Mulai dari kehilangan Bayu, anak pertama yang meninggal karena sakit, bapak yang makin sibuk dengan pekerjannya dan anak kesayangan yang selalu keluyuran setiap malam.

b. Masalah Pengorbanan Ibu

Masalah pengorbanan dalam novel Kutemukan Engkau di Setiap Tahajudku digambarkan oleh Agus yang rela berubah demi cintanya yang menuntut dia untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Agus dulunya anak jalanan yang urakan, berandal dan sering kebut-kebutan menjelma menjadi orang yang lebih berguna.

"Laki-laki itu ... aneh rasanya ketika melihatnya kini mengenakan kemeja rapi, celana formal, dan sepatu pantofel. Airin menggeser majalah yang menutupi wajahnya dan menyipitkan mata. Itu bukan sepatu pantofel, melainkan sepatu bot? Atau sepatu laki-laki bertali. Yang pasti, bukan sepatu formal laki-laki yang bersemir dan membosankan. Rambut Agus

57

dibanding satu minggu lalu sekarang sudah mulai panjang. Ikalnya terlihat.

Antingnya juga." (Desi Puspitasari, 2013 : 154)

Dalam kutipan di atas pengarang menjelaskan bahwa mengubah kebiasaan buruk memang sulit awalnya, tetapi setelah dijalani apalagi demi sebuah cinta yang tulus begitu mudahnya.

c. Masalah Kasih Sayang antara Bapak dan Agus

Masalah kasih sayang yang ditampilkan dalam novel Kutemukan Engkau di Setiap Tahajudku digambarkan antara Agus dan bapaknya yang menurut Agus bapaknya pilih kasih antara dia dan kakaknya yang telah meninggal dunia.

"Kakak laki-laki Agus, Bayu, meninggal sekitar lima tahun lalu. Anak laki-laki yang diharapkan bisa meneruskan perusahaan keluarga pergi karena sakit. Mendiang kakak laki-laki Agus sangat telaten, kalem, santun, dan dekat dengan Bapak. Bayu selalu menurut, tidak pernah membangkang. Tidak seperti Agus yang sudah ugal-ugalan sejak SMP.

Agus kuliah di jurusan yang sesuai permintaan Bapak hanya demi Ibu."

(Desi Puspitasari, 2013: 37)

Dari kutipan di atas penulis menyimpulkan bahwa selepas kepergian anak pertamanya, Bapak tenggelam dalam pekerjaan sebagai wujud perasaan kehilangan. Setahun dua tahun pertama alasan berduka masih bisa dimengerti.

Tahun-tahun berikutnya, Bapak semakin tenggelam dalam kesibukan karena sudah terbiasa dan lupa bahwa masih ada Ibu yang bersedih di rumah.

"Saya mengerti Bapak melakukan ini semua karena rasa sedih. Lima tahun dan rasa kehilangan itu masih ada. Bapak bersedih. Saya tertekan. Ibu juga lebih bersedih. Bapak tahu itu?" Agus balas memandang Bapak."Jadi, kapan Bapak akan keluar kota lagi untuk urusan pekerjaan? Kehadiran Bapak di rumah hanya membuat saya tertekan dan Ibu hilang selera makan." (Desi Puspitasari, 2013 : 38)

58

Dalam kutipan di atas jelas bahwa anak kesayangan ibu merasa tidak diperhatikan lagi oleh bapaknya. Apalagi ibunya juga merasakan kehilangan yang teramat sangat yang juga sudah tidak mendapatkan perhatian dari suaminya semenjak kepergian Bayu kakak Agus lima tahun lalu.

d. Masalah Percintaan Agus

Masalah percintaan yang ditampilkan dalam novel Kutemukan Engkau di Setiap Tahajudku dimunculkan dengan tokoh Agus yang kagum dengan sahabatnya sewaktu sekolah dulu. Airin namanya.

"Airin makin cantik, ya? tanya Agus meminta pendapat Angga." (Desi Puspitasari, 2013 : 17)

Dari kutipan di atas penulis menyimpulkan bahwa ia merasakan ada benih cinta yang tumbuh dihatinya setelah pertemuan waktu itu dengan gadis berjilbab yang ditemuinya tempo hari.

"Sudahlah, Gus. Mengaku saja. Kamu tadi sampai lupa menutup mulut dan mengiler begitu kok, waktu lihat Airin senyum!

Agus diam. Menahan diri. Di kepalanya, terbayang lagi dua titik manis di ujung bibir Airin saat tersenyum. Angga lalu membahas sikap Agus yang menarik tangan, tidak mau bersalaman dengan Dewa. Bengkel kecil itu penuh dengan ledakan tawa." (Desi Puspitasari, 2013 : 19)

Dalam kutipan di atas pengarang menjelaskan bahwa ia mulai memikirkan gadis yang makin menjadi cantik dan anggun, semakin membuatnya jatuh hati pada sahabatnya sewaktu sekolah dulu. Sampai pada akhirnya ia memutuskan untuk menyatakan perasaannya kepada gadis itu dan menikahinya.

"Agus menyelesaikan kalimat dengan mantap. Ia memejamkan mata dan mengucap syukur. Kalimatnya lancar dan benar. Betapa lega hatinya ketika orang-orang di dalam ruangan berseru serempak, "SAAAH!!!"

(Desi Puspitasari, 2006 : 170)

59

Berdasarkan kutipan di atas penulis menyimpulkan bahwa pada akhirnya mereka hidup bahagia dalam bahtera rumah tangga dengan orang-orang mereka cintai.

e. Masalah Pendidikan Agus

Masalah pendidikan dalam novel Kutemukan Engkau di Setiap Tahajudku digambarkan pada saat Agus yang menempuh kuliah masih saja sibuk dengan teori-teori yang ia ikuti sudah kuliah memasuki tahun kelima.

"Belum lulus juga, Gus?" Laki-laki itu sengaja menaikkan intonasi bicara supaya terdengar sangat heran. "Setahuku, bahkan Jurusan Ekonomi pun bisa ditempuh dalam waktu 3,5 tahun. Tetapi, kalau kamu memang benar-benar lelaki cerdas bisa saja hanya 3 tahun. Atau genius 2,5 tahun. Tetapi, kalau sampai lebih dari 5 tahun ... Yah." (Desi Puspitasari, 2013: 33) Dari kutipan di atas penulis menyimpulkan bahwa Agus merasa kesal dan pada akhirnya ia pun membuktikan bahwa bisa segera menempuh skripsi dan lulus. Setelah lulus ia memutuskan bekerja di salah satu perusahaan milik bapaknya.

Berdasarkan paparan permasalahan di atas masalah religius yang membawa Agus ke dalam jalan kebenaran yang mengantarkannya meraih semua impiannya. Pengorbanan Agus demi mendapatkan gadis pujaan yang dicintainya.

Kuliahnya dan berhasil lulus lalu bekerja dan yang terpenting adalah bisa mendapatkan cinta Airin. Meniru dari apa yang ibunya lakukan dengan salat tahajud dan meminta pertolongan kepada-Nya serta berserah diri dan tawakal.

Akhirnya, Agus pun hidup bahagia bersama cintanya, Airin.

60

Berdasarkan paparan masalah peristiwa di atas, dapat disimpulkan bahwa tema yang terdapat dalam novel Kutemukan Engkau di Setiap Tahajudku adalah kasih sayang. Berdasarkan makna pokok cerita, tema yang terdapat pada novel Kutemukan Engkau di Setiap Tahajudku dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu tema mayor dan tema minor. Dalam tema mayor ditunjukkan oleh kasih sayang tokoh utama (Agus) bersama keluarga dan kekasihnya, sedangkan dalam tema minor, misalnya ditunjukkan oleh Agus melaksanakan shalat Tahajud.

Nilai keindahan tema di dalam novel Kutemukan Engkau di Setiap Tahajudku penulis kategorikan ke dalam tema berat karena dalam novel tersebut membahas masalah hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan, misalnya masalah pendidikan dan masalah cinta. Permasalahan pendidikan dibahas secara mendalam mulai dari awal cerita yakni masalah Agus harus menyelesaikan pendidikan sarjana selama 7 tahun. Permasalahan cinta juga dibahas secara mendalam mulai dari awal perkenalan Agus dengan Airin saat meringkus pencopet. Selain itu, permasalahan cinta antara Agus dan Airin semakin memuncak ketika Dewa juga mencintai Airin. Persaingan mendapatkan cintanya Airin semakin keras dengan permintaan Airin yang tidak ingin mncari kekasih melinkan mencari imam rumah tangga. Masalah hubungan antara manusia dengan Tuhan dibahas secara mendalam dalam bentuk sholat Tahajud yang dilakukan Agus dan Ibunya.

61 b. Tokoh dan Penokohan

Tokoh menunjuk pada orang atau pelaku cerita, sedangkan penokohan menunjuk pada cara pengarang dalam melukiskan sifat tokoh tersebut. Dalam skripsi ini, penulis berfokus pada tokoh utama, yaitu tokoh yang tergolong penting dan ditampilkan secara terus menerus sehingga mendominasi sebagian besar cerita. Di bawah ini disajikan pembahasan data mengenai tokoh utama dan penokohan dalam novel Kutemukan Engkau di Setiap Tahajudku.

1. Tokoh

Nurgiyantoro (2013: 247) dan Sudjiman (1988: 14) mengatakan tokoh menunjuk pada orang yang menjadi pelaku cerita, sedangkan penokohan adalah pelukisan gambaran dan penciptaan citra tokoh yang ditampilkan dalam sebuah cerita. Dalam skripsi ini, penulis berfokus pada tokoh utama, yaitu tokoh yang tergolong penting dan ditampilkan secara terus menerus sehingga mendominasi sebagian besar cerita. Di bawah ini disajikan pembahasan data mengenai tokoh utama dan penokohan dalam novel Kutemukan Engkau di Setiap Tahajudku.

a) Tokoh Utama

Tokoh utama dalam novel Kutemukan Engkau di Setiap Tahajudku adalah Agus. Hal ini karena dalam novel tersebut menceritakan kehidupan Agus. Agus merupakan tokoh yang memiliki sifat percaya diri yang tinggi, rela berkorban, penyayang, dan patuh pada orang tua. Sifat-sifat tersebut dibuktikan dalam

62

kutipan yang terdapat dalam novel Kutemukan Engkau di Setiap Tahajudku sebagai berikut.

(1) Percaya Diri

Sifat percaya diri yang dimiliki Agus dapat dilihat ketika Agus mengatakan cintanya kepada Airin. Ia sangat percaya diri ketika berbicara secara langsung pada Airin. Hal ini dibuktikan dalam kutipan sebagai berikut.

“Agus menoleh. Ia merendahkan suara. Berbisik cepat. “ Aku menyukaimu, Ai. Aku mencintai kamu Ai.”

Plong!

Airin berhenti tertawa.

Agus menghembus lega. Yang mengganjal dihati telah diungkapkan.

Tidak ada beban lagi. Keringat yang membasahi punggung tiba-tiba saja mongering. Angin menghembus segar dari segala penjuru.” Tokoh (Desi Puspitasari, 2013:84).

Berdasarkan kedua kutipan di atas, dapat disimpulkan bahwa Agus memiliki rasa percaya diri yang tinggi karena ia tidak malu mengungkapkan perasaan cintanya kepada Airin. Selain itu, ia juga tidak takut dengan resiko yang akan ditolak Airin atas perbuatannya.

(2) Rela Berkorban

Sifat rela berkorban tidak hanya pada sahabatnya tetapi ia rela merubah segala gaya hidupnya demi masa depannya. Agus dahulu nakaldan terlihat sangar dengan tindikan yang ada di telinganya. Semenjak ia bertemu Airin dan mulai ada benih cinta yang tumbuh saat pandangan pertamanya bertemu tempo hari, ia

63

berubah drastis mengubah gaya hidup dan kebiasaannya dan masa depannya.

Berikut kutipannya.

"Laki-laki itu ... aneh rasanya ketika melihatnya kini mengenakan kemeja rapi, celana formal, dan sepatu pantofel. Airin menggeser majalah yang menutupi wajahnya dan menyipitkan mata. Itu bukan sepatu pantofel, melainkan sepatu bot? Atau sepatu laki-laki bertali. Yang pasti, bukan sepatu formal laki-laki yang bersemir dan membosankan. Rambut Agus dibanding satu minggu lalu sekarang sudah mulai panjang. Ikalnya terlihat.

Antingnya juga." (Desi Puspitasari, 2013 : 154)

Berdasarkan kutipan tersebut, dapat diketahui bahwa Agus memiliki sifat rela berkorban demi berubah lebih baik. Hal itu dibuktikan dengan merubah penampilan menjadi lebih rapi.

(3) Penyayang

Sifat penyayang tampak dalam kutipan ketika Agus memluk Ibunya sepulang dari bermain bersama teman-temannya. Hal ini dibuktikan dengan kutipan sebagai berikut.

“Hampir subuh. Agus meluncur pulang. Napasnya membentuk lapisan uap tipis di kaca pelindung helm. Tanpa banyak suara, Agus membuka sendiri pintu pagar dan menyimpan motor. Di dalam rumah, pintu kamar terbuka dan terang. Agus melongok. Tidak ada Ibu di dalam. Terdengar suara batuk kering dari arah dapur. Agus terus saja. Di dapur, Ibu sedang membikin teh. Agus memeluk ibu dari belakang." (Desi Puspitasari, 2013 : 98) Berdasarkan kutipan tersebut, diketahui bahwa pengarang menggambarkan watak Agus sebagai laki-laki yang menyayangi Ibunya yang dibuktikan dengan pelukan kepada ibunya.

64 (4) Patuh pada orang tua

Sifat patuh yang dimiliki Agus dapat dilihat dari kutipan percakapan pada saat Agus bersama dengan ibu. Dalam kutipan percakapan, dideskripsikan Agus pulang lebih awal dari biasanya karena rindu dengan orang tuanya. Hal ini dibuktikan dengan kutipan sebagai berikut.

“ibu.” Agus mencium punggung tangan Ibu.

“tidak ngebut di jalan, Gus! Masih sore tumben, sudah pulang.”

“kangen ingin ketemu Ibu (Desi Puspitasari, 2013 : 34))

Dalam kutipan di atas pengarang menjelaskan watak Agus yang patuh pada orng tua dengan perilakunya mencium pungung tangan Ibu sebagai bentuk rasa hormat.

b) Tokoh Tambahan

Tokoh-tokoh tambahan dalam novel Kutemukan Engkau di Setiap Tahajudku antara lain : Ibu Agus, Airin, Ayah Agus, Heri, Dewa, Pak Jiman, Joko, Anggga. Tokoh tokoh tersebut tidak digambarkan secara detail sehingga tidak dibahas lebih mendalam oleh penulis. Fokus pada skripsi ini adalah tokoh utama.

2. Penokohan

Pelukisan tokoh melalui teknik dramatik adalah pendiskripsian tokoh cerita dengan menunjukkan kediriannya sendiri melalui aktivitas yang dilakukan, baik secara verbal lewat kata-kata maupun nonverbal lewat tindakan atau tingkah laku, dan melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi (Nurgiantoro, 2013; 283).

65 Teknik ini mencakup beberapa macam:

a) Pelukisan Pikiran dan Perasaan (Portroyal of Trought Steam of Trought)

Teknik pelukisan dan perasaan ini menyatakan bahwa keadaan dan jalan pikiran serta perasaan, apa yang melintas di dalam pikiran dan perasaan, serta apa yang dipikir dan dirasakan oleh tokoh, dalam banyak hal akan mencerminkan sifat-sifat kediriannya juga (Nurgiantoro, 2013: 289). Sebagai contoh Dewa selalu berprasangka buruk kepada Agus. Hal ini dapat diketahui dari kutipan sebagai berikut.

“Dewa menatap Agus geram. Ia berbalik dan masuk ke mobil, menyusul Airin yang mulai meluncur keluar kampus." (Desi Puspitasari, 2013 : 7)

Dari kutipan di atas penulis menyimpulkan bahwa Dewa selalu berprasangka buruk kepada Agus yang mengira akan merebut Airin darinya.

Tokoh ini tidak senang jika ada laki-laki lain yang mendekati Airin, perempuan yang ia taksir dan berniat untuk dijadikannya istri dan Ibu bagi adiknya, Gadis.

b) Reaksi Tokoh (Reaction to Event)

Nurgiyantoro (2013: 293) menyatakan teknik reaksi tokoh lain dimaksudkan sebagai reaksi yang diberikan tokoh lain terhadap tokoh utama, atau tokoh-tokoh yang dipelajari kediriannya, yang berupa pandangan, pendapat, sikap, komentar dan sebagainya.

“Laki-laki pengangguran, mana bisa mendekati perempuan cantik dan cerdas ... aku tidak sedang membicarakanmu, Rin, hanya mengambil contoh secara umum mengenal perempuan cantik dan cerdas, untuk dijadikan pacar atau pasangan hidup." Dewa tertawa seakan kalimatnya barusan lucu.

66

"Apalagi yang belum lulus. Bukan begitu, Gus?"

(Desi Puspitasari, 2013 : 33)

Dewa mengatakan bahwa Agus tidak pantas hidup berdampingan dengan Airin , karena masa depan yang belum jelas.

c) Cakapan (Conversation of Outher about Character)

Teknik cakapan dimaksudkan untuk menunjuk pada tingkah laku verbal berwujud kata-kata para tokoh. Kata-kata yang dimaksud menggambarkan sifat atau perwatakan dari tokoh yang mengungkapkannya (Nurgiantoro, 2013: 286).

Hal itu sesuai dengan kutipan di bawah ini.

“Belum lulus juga, Gus?" Laki-laki itu sengaja menaikkan intonasi bicara supaya terdengar sangat heran. "Setahuku, bahkan Jurusan Ekonomi pun bisa ditempuh dalam waktu 3,5 tahun. Tetapi, kalau kamu memang benar-benar lelaki cerdas bisa saja hanya 3 tahun. Atau genius 2,5 tahun. Tetapi, kalau sampai lebih dari 5 tahun ... Yah." (Desi Puspitasari, 2013 : 33) Dewa terlalu merendahkan Agus yang ia anggap sebagai laki-laki yang tidak pantas untuk Airin. Ia pikir bahwa dialah yang pantas untuk Airin.

Kelemahan dari teknik ini adalah tidak semua apa yang dikatakan tokoh merupakan sifat yang sebenarnya dari tokoh tersebut karena mungkin saja doa yang diucapkannya adalah hal-hal yang baik dan ideal, namun dalam pelaksanaannya berbeda sama sekali.

c. Alur

Dalam suatu karya sastra, alur merupakan unsur yang sangat penting karena tanpa adanya alur cerita sastra tidak akan menarik, dan pembaca tidak merasakan nilai estetis dalam cerita.

67 1) Tahapan Alur

Tasrif dalam Nurgiyantoro (2010: 149-150) mengklasifikasikan tahapan alur menjadi lima bagian sebagai berikut: (a) tahap penyituasian (situation), merupakan tahap pembukaan cerita, pemberian informasi awal, dan lain-lain, yang terutama, berfungsi untuk melandastumpui cerita yang dikisahkan pada tahap berikutnya; (b) tahap pemunculan konflik (generating circumtances), merupakan tahap awal munculnya konflik dan konflik tersebut berkembang pada tahap-tahap berikutnya; (c) tahap peningkatan konflik (rising action), merupakan tahapan peningkatan konflik yang muncul pada tahap sebelumnya dan dikembangkan untuk menjadikan cerita tersebut lebih menegangkan; (d) tahap klimaks (climax), merupakan tahapan konflik yang terjadi dan dialami oleh tokoh utama berada pada intensitas puncak dan; (e) tahap penyelesaian (denouement), merupakan tahap penyelesaian konflik dan konflik mereda karena ada jalan keluar penyelesaian.

Berikut dipaparkan tahapan-tahapan alur dalam novel Kutemukan Engkau di Setiap Tahajudku.

a) Tahap Penyituasian (Situation)

Tahap penyituasian adalah tahap pembukaan cerita yang dikisahkan ke tahap berikutnya. Dapat juga dikatakan sebagai paparan cerita. Pada tahap pertama ini pengarang melukiskan keadaan Agus sebagai anak jalanan yang memang urakan. Dia sering menghabiskan waktunya bersama teman-temannya di jalanan untuk balapan motor. Berikut kutipannya.

68

“Tengah malam. Langit luas membentang hitam. Cerah. Penuh bintang. Di sebelah utara, suara motor yang akan berlomba menderu kencang. Berjajar dalam satu garis lurus menunggu aba-aba. Rute balapan kali ini pendek saja. Hanya perlu memutar sekali. Titik berangkat akan sama dengan titik akhir. Jalan sepi di pinggir kota ini terlalu sayang kalau tidak digunakan unutk balapan.

Kaca pelindung helm sudah diturunkan. Mata tajam Agus menatap fokus ke arah depan. Ia memainkan gas, dan melirik ke kiri. Memainkan gas lagi, dan melirik ke kanan. Angga dan Budi, lawan tandingnya, sedang menatap ke arah depan dengan serius.” (Desi Puspitasari, 2013 : 1)

Dalam kutipan di atas pengarang menjelaskan bahwa seringnya kebut-kebutan di jalanan, suatu siang ia ngebut di jalan bersama temannya, Angga.

Secara tidak sengaja ia bertemu dengan teman semasa SMAnya dulu, Airin namanya. Ia menolong Agus dan Angga membekuk pencopet.

"Agus?”

Orang itu memanggil namanya. Suara perempuan. Seorang gadis berjilbab putih berdiri tegap memegang tas yang berhasil diamankan.

(...) "Lupa, ya? Gadis itu membentak galak. Ia kembali berdiri tegap.

"Ai, Airin? Agus kembali mengerjap. Tak percaya. "Airin, kan? (Desi Puspitasari, 2013 : 12)

Setelah pertemuan itu Agus pun sering memikirkan Airin. Airin yang sekarang sudah menjadi wanita anggun, berjilbab yang cantik. Dari kutipan di atas, dapat diketahui bahwa awal kehidupan Agus dilukiskan sebagai anak yang suka balapan motor.

b) Tahap Pemunculan Konflik (Generating Circumtances)

Tahap ini merupakan tahap cerita mulai bergerak. Peristiwa mulai tampak ketika Agus bertemu Dewa, lelaki tampan dan kaya. Teman Airin satu kampus dan yang selalu satu proyek dengan Airin. Agus cemburu dengan kedekatan mereka

69

dan akhirnya Agus pun berniat untuk bersaing secara sehat untuk mendapatkan Airin.

“Ia melihat Dewa berlari menyusul dan menjajari Airin. Lelaki itu tampak mengatakan sesuatu. Airin terlihat berpikir sejenak lalu menggeleng pelan.

Dewa tak langsung surut, ia masih berusaha mengatakan sesuatu." (Desi Puspitasari, 2013 : 28)

Agus pun selalu berusaha untuk mendekati Airin dengan cara apapun. Lalu ia nekat untuk datang ke rumah Airin dan menemui Airin.

“Agus berpikir sejenak. Pagar tinggi menjulang menghalangi pandangannya.. Debar jantung Agus hampir-hampir tidak dapat dikendalikan. Tiba-tiba saja, perut Agus mules. Nyeri. Agus mengangkat tangan yang gemetaran, hendak memencet tetapi urung. Tangannya berbalik merapikan rambut yang sudah diikat, memantaskan jaket jins biri dongker yang dipakainya, lalu mengatur napas supaya lebih tenang." (Desi Puspitasari, 2013 : 74)

Berdasarkan kutipan di atas, penulis menyimpulkan bahwa kedatangannya ke rumah Airin bukan tanpa alasan, ia datang karena ingin menyatakan cinta kepada Airin, gadis yang dicintainya.

“Agus menoleh. Ia merendahkan suara. Berbisik cepat. "Aku menyukaimu, Ai. Aku mencintai kamu, Ai.

" Plong!

Airin berhenti tertawa.

Agus menghembus lega. Yang mengganjal di hati telah diungkapkan.

Tidak ada beban lagi. Keringat yang membasahi punggung tiba-tiba saja mengering. Angin berembus segar dari segala penjuru." (Desi Puspitasari, 2013 : 84)

Dari kutipan di atas penulis menyimpulkan bahwa setelah mengungkapkan perasaannya Agus lega, sekarang tidak ada lagi yang mengganjal di dalam hatinya. Karena ia telah mengungkapkannya kepada Airin gadis yang ia cintai.

70 c) Tahap Peningkatan konflik (Ricing Action)

Pada tahap ini masalah mulai memuncak. Keadaan ini terjadi akibat Airin yang tidak ingin hanya sekedar pacaran saja. Ia ingin mencari imam untuk keluarganya kelak. Suami yang dapat membimbing istri dunia dan akhirat serta mengasihi anak-anak mereka.

“Aku bicara singkat saja, Gus." Airin berkacak pinggang sambil berdiri tegap. Pandangannya tajam meski tidak tepat menatap mata Agus."

"Terima kasih."

Agus mengangkat bahu.

"Apa rencanamu selanjutnya?"

"Kita pacaran?"

"Setelah itu?"

Agus kembali mengangkat bahu." "Aku ... belum merencanakan untuk yang lebih jauh."

"Kalau begitu bisa kukatakan, kamu mengatakan perasaan suka tanpa pertimbangan. Sembarangan. Kamu tidak tahu bagaimana sulitnya seorang perempuan menjaga hati." (Desi Puspitasari, 2013 : 88)

"Kalau begitu bisa kukatakan, kamu mengatakan perasaan suka tanpa pertimbangan. Sembarangan. Kamu tidak tahu bagaimana sulitnya seorang perempuan menjaga hati." (Desi Puspitasari, 2013 : 88)