SMK MASA DEPAN
2. TENAGA KERJA ASING DAN KESEMPATAN KERJA
Kajian rinci mengenai pengaruh masuknya Tenaga Kerja Asing (TKA) terhadap peluang pekerjaan untuk tenaga kerja lokal telah banyak dilakukan oleh ahli-ahli ekonomi (Bachtiar & Fachmi, 2011). Meskipun demikian, masih terdapat perbedaan pendapat di kalangan ahli ekonomi dan politik mengenai setuju atau tidaknya adanya tenaga kerja asing di negara teremigran. Di satu pihak terdapat beberapa ahli yang setuju bahwa masuknya TKA ke dalam pasar tenaga kerja suatu negara membawa dampak negatif terhadap peluang kesempatan kerja untuk pekerja lokal. Sementara itu, dalam waktu yang bersamaan tidak sedikit pula yang berpendapat bahwa TKA tidak akan mengurangi pe1uang kesempatan kerja bagi pekerja lokal karena mereka merupakan pelengkap dalam proses produksi.
Perubahan struktur ekonomi merupakan salah satu faktor penyebab masuknya TKA ke dalam pasar tenaga kerja suatu negara (Piore, 1979). Perubahan struktur ekonomi ini telah menyebabkan munculnya dualisme dalam pasar tenaga kerja, yaitu pasar tenaga kerja primer (khususnya dalam sektor industri) yang ditandai oleh ciri-ciri pekerjaan umumnya stabil, upah tinggi, suasana kerja menyenangkan, dan memberikan banyak kemudahan. Sementara pasar tenaga kerja sekunder, misalnya dalam sektor pertanian, mempunyai ciri-ciri yang sebaliknya, yaitu pekerjaan tidak
menentu, upah rendah, suasana kerja tidak menyenangkan, dan pekerjaan penuh dengan risiko.
Hipotesis menarik yang mengenai TKA ini adalah semakin tinggi perkembangan ekonomi yang dicapai oleh suatu negara, semakin banyak pula peluang kesempatan kerja yang tersedia bagi TKA. Perubahan struktur ekonomi yang mengarah kepada suasana kerja yang lebih baik menyebabkan tenaga kerja lokal (TKL) lebih berminat untuk bekerja dalam pasar tenaga kerja primer, sementara pekerjaan yang tidak terisi dalam pasar tenaga kerja sekunder merupakan peluang bagi pekerja asing untuk menikmatinya.
Pengalaman di Amerika Serikat memperlihatkan bahwa masuknya TKA secara besar-besaran ke dalam pasar tenaga kerja negara memberikan peluang kesempatan kerja. Sektor-sektor khusus yang tersedia dalam sektor yang tidak diminati oleh TKL telah dikuasai oleh pendatang asing yang berasal dari berbagai negara, seperti Kanada, Meksiko, Kuba, Cina, Jepang, India, dan Filipina (Fry, 1996). Masuknya TKA ini telah memberikan dampak yang cukup berarti terhadap pertumbuhan ekonomi, peluang kesempatan kerja, dan tingkat upah yang diterima TKL di negara tersebut. Terdapat dua asumsi dalam pro dan kontra tenaga kerja asing dengan penjelasan sebagai berikut.
a. Pendapat yang Pro dengan TKA
Pada kelompok pro beragumen bahwa TKA mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan permintaan masyarakat terhadap barang-barang danjasa yang dihasilkan serta pembentukan modal yang terjadi di negara bersangkutan (Simonet al., 1993). Pendapat ini umumnya didasarkan pada hukum Say's yang mengemukakan bahwa penawaran akan selalu menciptakan permintaan (supply create its own demand). Sementara pendapat lainnya mengemukakan bahwa masuknya TKA yang relatif banyak akan menghambat pertumbuhan ekonomi karena pendidikan dan kualitas sumber daya mereka yang rendah. Malahan tidak sedikit pula di antara beberapa ahli yang berpendapat bahwa masuknya TKA seperti ini hanya akan menimbulkan berbagai persoalan di bidang sosial, ekonomi, dan politik di negara penerima TKA tersebut karena banyak di antara mereka yang masuk secara illegal.
Gambar 75. Dampak Keberhasilan Pengelolaan TKA
Masuknya TKA ke dalam pasar tenaga kerja beberapa negara yang dikaji membawa dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, peluang kesempatan kerja, dan tingkat upah yang berlaku terhadap TKL. Alasan yang dikemukakan adalah karena masuknya TKA dapat meningkatkan pembentukan modal dan menciptakan peluang pekerjaan bam bagi TKL. Di samping itu, masuknya TKA tidak membawa dampak yang negative terhadap tingkat upah pekerja lokal karena mereka saling melengkapi (komplemen) dalam proses produksi.
b. Pendapat yang Kontra dengan TKA
Pada kelompok kontra beragumen bahwa TKA masuknya TKA membawa dampak negatif dan signifikan terhadap tingkat upah dan pe1uang pekerjaan untuk TKL. Menurut mereka masuknya TKA lebih bersifat pengganti (substitute) terhadap TKL karena minat TKA untuk terlibat dan menjadi buruh di negara tersebut sangat kurang. Mereka umumnya bekerja pada pekerjaan yang bersifat tidak tetap dan bahkan banyak pula di antara TKA tersebut yang bekerja secara ilegal. Keadaan ini menyebabkan berbagai tuntutan TKL untuk meningkatkan kesejahteraan mereka terhambat. Menurut Greenwood & McDowell ( 1986) masuknya TKA dalam pasar tenaga kerja negara tersebut dapat menghambat pertumbuhan ekonomi, kesempatan kerja dan tingkat upah untuk TKL karena TKA tersebut mendapatkan manfaat dari penggunaan modal tanpa mereka harus membayarnya. Artinya, TKA memanfaatkan fasilitas publik di suatu negara tanpa mereka harus membayar pajak, padahal pajak digunakan untuk membangun fasilitas publik tersebut. Keadaan ini akan menyebabkan terbatasnya jumlah modal yang tersedia untuk pekerja lokal.
Gambar 76. Dampak Kegagalan Pengelolaan TKA
Indonesia sebagai negara yang akan mengalami bonus demografi bergerak secara dinamis menuju perubahan. Salah satu kebijakan membuka kran TKA menunjukkan bahwa negara membuka diri terhadap persaingan global baik MEA maupun AFTA. Jenis pekerjaan yang bervariasi menyebabkan Indonesia perlu banyak belajar pada negara-negara lain yang mengutamakan segala sektor dalam kolaborasi internasional. Berikut ini potret TKA di Indonesia.
Gambar 77. Jumlah Tenaga Kerja Asing di Dunia
Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan, jumlah Tenaga Kerja Asing (TKA) di Indonesia hingga akhir 2018 sebanyak 95.335 pekerja. Jumlah ini hanya sebesar 0.04% dari total penduduk Indonesia yang mencapai 268 juta jiwa atau sebesar 0,07% dari total angkatan kerja nasional. Persentase ini lebih kecil dibandingkan dengan di beberapa negara lainnya seperti terlihat pada grafik di bawah ini. Sebagai perbandingan, jumlah TKA di
Malaysia sebanyak 3,3 juta jiwa atau mencapai 10,06% dari total penduduknya. Kemudian Singapura dengan jumlah TKA 1,1 juta jiwa atau 19,36% dari jumah penduduknya. Bahkan, TKA di Uni Emirat Arab mencapai 8,4 juta jiwa atau 87,55% dari total penduduknya.
Gambar 78. Infografis Perpres Nomor 20 Tahun 2018 tentang TKA (Sumber:
Kompas, 2018)
Kondisi di atas menunjukkan bahwa Indonesia mulai bersaing dengan negara lain dalam rekruitmen tenaga kerja asing. Kebijakan tersebut ternyata memberikan kesan baik dan buruk bagi SMK. SMK sebagai lembaga pendidikan kejuruan yang mencetak tenaga terampil harus berani bersaing dengan tenag kerja asing. Kelemahan dari tenaga kerja dari SMK adalah dalam penguasaan Bahasa Asing. Untuk itu, SMK perlu membekali diri dalam kemampuan berkomunikasi dalam Bahasa asing sehingga mampu bersaing dengan tenaga kerja asing.