DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
6. Strategi dan Taktik Perjuangan STN
6.3. Tentang Front Persatuan (Lapangan Perjuangan Multi-Sektoral)
Perjuangan kaum tani tidak boleh dilepaskan menjadi sebuah gerakan kaum tani semata. Kita harus menggabungkan dan menjadikannya bagian dari perjuangan mayoritas kaum tertindas, sehingga dapat menjadi satu kekuatan besar yang berkemampuan merebut dan menggunakan kekuasaan politik (negara) secara tepat dan menguntungkan mayoritas tertindas. Oleh karenanya, agar tidak terjebak ke dalam perjuangan ekonomis, organisasi kaum tani harus terlibat aktif dalam merespon setiap perkembangan kondisi objektif politik bersama-sama dengan sektor yang lain. Dalam lapangan perjuangan umum kaum tertindas (multi-sektoral: buruh, tani, nelayan, mahasiswa, kmk, dll), organisasi tani kita lah yang berperan sebagai unsur utama pembangunan kekuatan politik gerakan massa demokratis-kerakyatan (Front Persatuan Nasional) di tingkat pedesaan; Front Persatuan ini merupakan pelipatgandaan kekuatan-kekuatan maju yang akan bertarung dalam berbagai lapangan: ekstra-parlementer (mobilisasi-mobilisasi aksi, dan panggung-panggung rakyat) termasuk parlementer sekali pun seperti Pemilu 2009. Dalam lapangan perjuangan multi-sektoral, pasca kongres, pembangunan Front Persatuan Nasional ini harus menjadi pekerjaan pokok kita.
Prinsip kerja pembangunan front persatuan ini adalah mengabdi pada tujuan perluasan anggota front, perluasan struktur organisasi pergerakan, serta aktivitas kongkrit bersama. Sebagai satu organisasi tani, STN dapat mencapai tujuan ini dengan berbagai cara, seperti
1. Mempelopori dan atau terlibat aktif mengorganisir pertemuan-pertemuan serta mensosialisasikan sikap tentang mendesaknya persatuan kaum tertindas, melalui pembentukan Partai Front Persatuan multi-sektoral yang berwatak progresif sebagai jawaban atas berbagai persoalan ekonomi-politik yang dihadapi rakyat Indonesia. Sasaran utama adalah organisasi-organisasi gerakan dari berbagai sektor yang selama ini aktif dalam perjuangan.
2. Memperkuat dan memajukan sekber-sekber yang sudah ada, di tingkat pusat ataupun daerah dalam rangka mendukung perjuangan melawan imperialisme bersama seluruh sektor rakyat lain (Partai Front Persatuan). Hal ini juga penting sebagai basis pembentukan bagi wadah persatuan tani progresif (federasi tani) secara nasional di kemudian hari. Tahapan kerja menuju konsolidasi tersebut dimulai dari diskusi-diskusi bersama, baik pada level pusat maupun lokal, tentang perkembangan situasi obyektif dan respon gerakan tani. Forum-forum diskusi ini akan mempertajam kesimpulan tentang kebutuhan persatuan gerakan secara nasional (multisektor), serta kebutuhan pembentukan sebuah core sektor tani dengan perspektif pembangunan federasi;
Pekerjaaan-pekerjaan dalam 2 lapangan tersebut di atas (sektoral dan multi-sektoral) sepenuhnya berada dalam bentuk-bentuk tindakan konkrit yaitu aksi/mobilisasi menuntut dan mobilisasi propaganda.
`6.4. Tentang Aksi Menuntut dan Perluasan Propaganda
Memenangkan perjuangan memerlukan mobilisasi-mobilisasi massa. Karena itu, selain aksi-aksi yang sifatnya respon mendesak, penting bagi kita untuk menjadwalkan aksi-aksi reguler. Aksi ini dapat berupa aksi front atau aksi STN. Untuk mencapai hasil yang maksimal dari aksi tersebut, maka diperlukan pra-kondisi berupa aksi-aksi di basis pedesaan dan setingkat kota. Targetnya adalah menuntut maupun target propaganda (kampanye). Yang membedakan kedua aksi tersebut terutama ada pada sasarannya. Mobilisasi aksi menuntut diarahkan pada instansi-instansi pemerintah, atau pihak-pihak yang berkonflik dengan kaum tani, dengan target menyampaikan dan memenangkan tuntutan. Sementara mobilisasi aksi propaganda diarahkan untuk memperkenalkan program-program perjuangan kita kepada massa tani dan rakyat desa lain, sekaligus mengajak mereka terlibat dalam perjuangan melalui organisasi atau wadah yang kita bentuk.
6.4.1. Mobilisasi Menuntut
Sebagaimana digambarkan dalam situasi nasional, saat ini kaum tani menghadapi serangan serangan neo-liberalisme (liberalisasi perdagangan), yang menghancurkan tenaga produktif dalam negeri. Kasus beras impor, gula impor, kenaikan harga BBM, TDL, kebangkrutan industri pupuk, mahalnya harga pupuk, tak adanya bantuan kredit murah untuk kaum tani, tak adanya bantuan teknologi yang murah dan tepat guna bagi kaum tani, peranan Bulog yang tidak mampu
menjadi distributor pangan nasional yang menguntungkan kaum tani dan memangkas habis rente yang dinikmati kaum tengkulak adalah bukti-bukti penerapan kebijakan yang menyerahkan nasib kaum tani kepada pasar yang dikuasai pemodal besar dan negeri-negeri imperialis. Bukannya menyelesaikan, bahkan pemerintahan SBY-JK justru dengan terus dengan sigap melaksanakan pesanan kebijakan dari kaum imperialis untuk meliberalkan peraturan yang menyangkut tani seperti pemilikan dan pemanfaatan sumberdaya air, juga perkebunan melalui berbagai RUU. Belum lagi permasalahan sengketa-sengketa agraria akibat perampasan tanah oleh negara.
Konflik-konflik pertanian ini yang secara kreatif kita kelola dan hadap- hadapkan kepada penguasa; merupakan landasan bagi radikalisasi menuntut untuk menyampaikan dan memenangkan kepentingan-kepentingan tani. Selain itu, isu- isu lainnya di tingkat pedesaan juga dapat kita angkat seperti kasus korupsi birokrasi desa, BPD yang melempem, Pemkab yang tidak mementingkan tani, dan lain-lain yang mendekatkan kesadaran massa pada pemecahan mendasar persoalan yang dihadapinya.
6.4.2. Mobilisasi propaganda
Salah satu tugas utama dalam masa-masa perjuangan belum mencapai puncaknya adalah propaganda dan agitasi yang bersifat progresif (maju). Selama ini pekerjaan tersebut masih kita dilakukan dengan cara-cara lama; terbatas pada agitasi atau kritisi terhadap berbagai persoalan, tanpa memperhatikan isian maju propagandanya. Sementara, aspek yang terpenting dari propaganda kita adalah pada isi dan wataknya yang progresif.Oleh karena itu, slogan-slogan dan seluruh sikap politik kita, dalam menanggapi satu atau berbagai persoalan dalam situasi
kongkrit yang ada, harus mendapatkan perhatian dan pengkajian yang seksama; lahir dari kehidupan aktual kaum tani, kepentingan-kepentingan dan aspirasi mereka dan, di atas segala-galanya, dari perjuangan bersama yang dilancarkan oleh mereka.
Karena itu kita harus melancarkan mobilisasi propaganda progresif dalam berbagai bentuknya dan semakin mendekatkan lapisan massa tani yang belum sadar ke barisan perjuangan. Adapun bentuk-bentuk dari mobilisasi aksi propaganda tersebut adalah :
a. Propaganda lisan dari orang ke orang
b. Propaganda melalui terbitan: Tani Bergerak, aksi selebaran, pamplet, dll c. Aksi orasi keliling;
d. Rapat umum atau vergadering;
e. Diskusi terbuka di basis: baik yang diselenggarakan sendiri, ataupun memanfaatkan panggung yang tersedia: pengajian, pertemuan paguyuban, dll.
BAB III PEMBAHASAN