BAB XI Teori Kepribadian
D. Teori kepribadian Skinner
Dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya: 1). Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat. 2).
Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah. (Baharudin dan Nur Wahyuni, 2009 ; 70).
Menurut Skinner sebagaimana dikutip oleh Saiful Sagala, dalam belajar ditemukan hal-hal berikut: Pertama. kesempatan
terjadinya peristiwa yang menimbulkan respons belajar. Kedua, respon si pelajar. Ketiga, konsekuensi yang bersifat menggunakan respon tersebut, baik konsekuensinya sebagai hadiah maupun teguran atau hukuman (Syaiful Sagala, 2006 ; 14).
Menurut Skinner, kepribadian merupakan hasil dari sejarah penguatan pribadi individu (individual’s personal history of reinforcement). Walau pembawaan genetis turut berperan namun penguatan-penguatan menentukan perilaku khusus yang terbentuk dan dipertahankan serta merupakan khas bagi individu yang bersangkutan.
Skinner lebih menyukai menyelidiki kepribadian dengan memfokuskan pada aspek belajar dengan perilaku-perilaku yang banyak mengizinkan individu melangsungkan hidup dan berhasil dalam transaksinya dengan lingkungan. Seseorang selama hidup belajar tentang kemungkinan-kemungkinan yang menghasilkan kepuasan dan kesakitan dalam situasi tertentu. Individu belajar membedakan stimulus atau situasi yang merupakan kesempatan untuk memperoleh penguatan karena perilaku tertentu atau situasi yang tidak mengarah ke penguatan perilaku yang sama. Perilaku yang dipelajari ini disebut perilaku dibawah kontrol stimulus.
Ada 4 asumsi yang membentuk landasan untuk kondisioning operan (Margaret E. Bell Gredler ; 122). Asumsi-asumsi itu adalah sebagai berikut:
1. Belajar itu adalah tingkah laku.
2. Perubahan tingkah-laku (belajar) secara fungsional berkaitan dengan adanya perubahan dalam kejadian-kejadian di lingkungan kondisi-kondisi lingkungan.
3. Hubungan yang berhukum antara tingkah-laku dan lingkungan hanya dapat di tentukan kalau sifat-sifat tingkah-laku dan kondisi eksperimennya di devinisikan menurut fisiknya dan di observasi di bawah kondisi-kondisi yang di control secara seksama.
4. Data dari studi eksperimental tingkah-laku merupakan satu-satunya sumber informasi yang dapat di terima tentang penyebab terjadinya tingkah laku.
Dalam mempermudah pemahaman terhadap pengondisian operan penyusun mengutip mekanismenya dari Mark K. Smith dkk, diantaranya: Pertama, penguatan atau imbalan positif: Respon yang diberikan imbalan kemungkinan akan diulang. Kedua, penguatan negatif: Respons yang membuat lari dari rasa sakit atau situasi situasi yang tidak diharapkan kemungkinan akan diulangi. Ketiga, penghentian atau tidak ada penguat: Respons yang tidak diperkuat kemungkinan tidak akan diulangi (Mark K. Smith dkk, 2009 ;82).
(mengabaikan perilaku yang buruk seharusnya menghentikan perbuatan tersebut)
Skinner memandang reward (hadiah) atau reinforcement (penguatan) sebagai unsur yang paling penting dalam proses belajar.
Kita cenderung untuk belajar suatu respons jika diikuti oleh reinforcement (penguat). Skinner lebih memilih istilah reinforcement dari pada reward, ini dikarenakan reward diinterpretasikan sebagai tingkah laku subjektif yang dihubungkan dengan kesenangan, sedangkan reinforcement adalah istilah yang netral. Penemuan Skinner memusatkan hubungan tingkah laku dengan konsekuen (Sri Esti Wuryani Djiwandono, 2008 ; 131). Contoh, jika tingkah laku individu segara diikuti oleh konsekuensi menyenangkan, maka individu tersebut akan menggunakan tingkah laku itu lagi sesering mungkin. Untuk penguat itu sendiri sering kali berbentuk penghargaan non-fisik, seperti; pujian dsb (Kelvin Seifert, 2010 ;34). Penguatan (reinforcement) itu sendiri dibagi menjadi dua, penguatan positif dan penguatan negatif. Penguat positif adalah rangsangan yang memperkuat atau mendorong suatu tindak balas. Sedangkan penguatan negatif ialah penguatan yang mendorong individu untuk menghindari suatu tindakan balas tertentu yang tidak memuaskan (Agus Suprijono, 2011 ; 21)
Sebagaimana yang diungkapkan oleh C. Asri Budiningsih (2005), ada beberapa alasan mengapa Skinner tidak setuju dengan hukuman:
1. Pengaruh hukuman terhadap perubahan tingkah laku bersifat sangat sementara.
2. Dampak psikologis yang buruk mungkin akan terkondisi (menjadi bagian dari jiwa si terhukum) bila hukuman berlangsung lama.
3. Hukuman mendorong si terhukum mencari cara lain (meskipun salah dan buruk) agar ia terbebas dari hukuman. Dengan kata lain, hukuman dapat mendorong si terhukum melakukan hal-hal lain yang kadang kala lebih buruk dari pada kesalahan yang diperbuatnya (C. Asri Budiningsih, 2005 ;26).
Menurut Skinner hukuman yang baik (operant negative) adalah anak merasakan sendiri konsekuensi dari perbuatannya, misalnya anak perlu mengalami sendiri kesalahan dan merasakan akibat dari kesalahan. Penggunaan hukuman verbal maupun fisik seperti: kata-kata kasar, ejekan, cubitan, jeweran justru akan berakibat buruk bagi siswa (Sugihartono et.al, 2007 ;99) Satu hal yang perlu dipahami mengenai penguatan, baik penguatan positif maupun penguatan negatif, bahwasanya keduanya bisa dikondisikan (Winfred F. Hill, 2011 ;103).
Penguatan berhubungan dengan tingkah laku yang merupakan hubungan antara perangsang dan respon. Tingkah laku terjadi apabila ada stimulus khusus. Skinner berpendapat, pribadi seseorang terbentuk dari akibat respon terhadap lingkungannya, untuk itu hal yang paling penting untuk membentuk sebuah kepribadian adalah adanya penghargaan dan hukuman. Penghargaan akan diberikan untuk respon yang diharapkan sedangkan hukuman untuk respon yang salah.
Pendapat skinner ini memusatkan hubungan antara tingkah laku dan konsekuen. Contoh, jika tingkah laku individu segera diikuti oleh tingkah laku menyenangkan, individu akan menggunakan tingkah laku itu lagi sesering mungkin. Skinner membedakan adanya dua macam respon, yaitu:
1. Respondent response (reflexive response), yaitu respom yang ditimbulkan oleh suatu perangsang-perangsang tertentu. Misalnya, keluar air liur saat melihat makanan tertentu.
2. Operant response (instrumental response), yaitu respon yang timbul dan berkembangnya diikuti oleh perangsang-peerangsang
Kelebihan dan kekurangan Teori B.F. Skinner juga dapat menambah literasi bagi guru. Kelebihan pada teori ini, pendidik diarahkan untuk menghargai setiap anak didiknya. hal ini ditunjukkan dengan dihilangkannya sistem hukuman. Hal itu didukung dengan adanya pembentukan lingkungan yang baik sehingga dimungkinkan akan meminimalkan terjadinya kesalahan. Sedangkan kekurangan teori ini bahwa tanpa adanya sistem hukuman akan dimungkinkan akan dapat membuat anak didik menjadi kurang mengerti tentang sebuah kedisiplinan. hal tersebuat akan menyulitkan lancarnya kegiatan belajar-mengajar.