• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KAJIAN TEORETIS

B. Kajian Teoretis

4. Teori Kritik Sastra Feminis

Secara etimologis kata feminisme berasal dari Bahasa latin, yaitu femina yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan menjadi feminine, artinya

memiliki sifat sebagai perempuan. Kemudian kata itu ditambah ism menjadi feminism yang berarti hal ihkwal tentang perempuan, atau dapat pula berarti

paham mengenai perempuan.

Tujuan feminis adalah meningkatkan kedudukan dan derajat perempuan agar sama atau sederajat dengan kedudukan serta derajat laki-laki (Djajanegara, 2003: 4). Maggi Humm dalam bukunya yang berjudul Dictionary Of Feminis Theories (1990), menyatakan bahwa feminisme adalah

sebuah ideologi pembebasan perempuan karena yang melekat dalam semua pendekatannya adalah keyakinan bahwa perempuan mengalami ketidakadilan karena jenis kelamin. Jadi feminis adalah suatu gerakan yang memperjuangkan hak-hak perempuan dan berusaha meningkatkan derajat perempuan agar sama atau sederajat dengan laki-laki.

Dikutip dari skripsi Suwarti (2009: 12), kritik sastra feminisme berawal dari hasrat para feminis untuk mengkaji karya penulis-penulis wanita di masa silam dan untuk menunjukkan citra wanita dalam karya penulis-penulis pria yang menampilkan wanita sebagai makhluk yang dengan berbagai cara ditekan, disalahtafsirkan, serta disepelekan oleh tradisi patriarchal yang dominan (Djajanegara, 2000: 27). Kedua hasrat tersebut menimbulkan berbagai ragam cara mengkritik yang kadang-kadang berpadu.

Misalnya, dalam meneliti citra wanita dalam karya sastra penulis wanita,

perhatian dipusatkan pada cara-cara yang mengungkapkan tekanan-tekanan yang diderita tokoh wanita. Oleh karena telah menyerap nilai-nilai patriarkal, mungkin saja seorang penulis wanita menciptakan tokoh-tokoh wanita dengan stereotipe yang memenuhi persayaratan masyarakat pratiarkal. Sebaliknya, kajian tentang wanita dalam tulisan laki-laki dapat saja menunjukkan tokoh-tokoh wanita yang kuat dan mungkin sekali justru mendukung nilai-nilai feminis. Di samping itu, kedua hasrat pengkritik sastra feminis memiliki kesamaan dalam hal kanon sastra. Kedua-duanya menyangsikan keabsahan kanon sastra lama, bukan saja karena menyajikan tokoh-tokoh wanita stereotipe dan menunjukkan rasa benci dan curiga terhadap wanita, tetapi juga karena diabaikannya tulisan-tulisan mereka.

Feminisme muncul dilatarbelakangi oleh ketidakadilan gender yang terjadi dalam masyarakat. Ketimpangan gender tersebut membuat kaum perempuan seolah-olah direndahkan dan dipandang hanya dengan sebelah mata saja. Itulah yang menyebabkan munculnya gerakan feminisme untuk memperjuangkan agar perempuan memiliki kedudukan dan hak yang sama dengan laki-laki.

2) Jenis-jenis Kritik Sastra Feminis

Adapun jenis-jenis kritik sastra feminis yang berkembang di masyarakat adalah :

a. Kritik Ideologis

Kritik sastra feminis ini melibatkan wanita, khususnya kaum feminis sebagai pembaca, (Djajanegara, 2003: 2008).

b. Kritik yang mengkaji penulis-penulis wanita

Dalam ragam ini termasuk tentang penelitian sejarah karya sastra wanita, gaya penulisan, tema, genre, dan struktur tulisan wanita, disebut juga dengan gynoritic (Djajanegara, 2003: 29).

c. Kritik sastra feminis-sosialis

Meneliti tokoh-tokoh wanita dari sudut pandang sosialis. Kritik sastra feminis-sosialis yaitu kelas-kelas masyarakat pengkritik feminis mencoba mengungkapkan bahwa wanita merupakan kaum yang tertindas (Djajanegara, 2003: 30).

d. Kritik sastra feminis-psikoanalitik

Kritik sastra ini diterapkan pada tulisan-tulisan wanita. Para feminis percaya bahwa pembaca wanita biasanya mengidentifikasikan dirinya atau menempatkan dirinya pada si tokoh wanita tersebut pada umumnya merupakan cermin penciptanya (Djajanegara, 2003: 31).

e. Kritik sastra feminis-lesbian

Yaitu hanya meneliti penulis dan tokoh wanita saja. Tujuan kritik sastra feminis-lesbian adalah pertama-tama mengembangkan suatu definisi yang cermat tentang makna lesbian. Kemudian menentukan apakah definisi ini dapat diterapkan pada penulis atau teks karyanya (Djajanegara, 2003: 37).

f. Kritik sastra feminis-ras

Kaum feminis ras atau feminis-etnik di Amerika menganggap dirinya berbeda dengan kaum feminis kulit putih (Djajanegara: 2003: 36).

Kajian sastra feminis mempunyai dua fokus. Pertama, menggali, mengkaji serta menilai karya penulis-penulis perempuan dari masa silam.

Mereka mempertanyakan tolok ukur apa saja yang dipakai pengkritik sastra terdahulu sehingga kanon sastra didominasi penulis laki-laki. tujuan kedua mengkaji karya-karya tersebut dengan pendekatan feminis. Ketiga, pengkritik sastra feminis terutama berhasrat mengetahui bagaimana cara menerapkan penilaian estetik, di mana letak nilai estetiknya serta apakah nilai estetik yang telah dilakukan sungguh-sungguh sah. Singkatnya menilai tolok ukur yang digunakan untuk menentukan cara-cara penilaian lama (Suwarti, 2009: 15)

Berdasarkan ketiga tujuan di atas, dapat disimpulkan bahwa apa yang dikehendaki pengkritik sastra feminis adalah hak yang sama untuk mengungkapkan makna-makna baru yang mungkin berbeda dari teks-teks lama.

Di samping itu, pendekatan feminisme adalah pendekatan terhadap karya sastra dengan fokus perhatian pada relasi gender yang timpang dan mempromosikan pada tataran yang seimbang antara laki-laki dan perempuan (Djajanegara, 2003: 2007). Feminisme bukan merupakan pemberontakan kaum wanita kepada laki-laki, upaya melawan pranata sosial, seperti institusi rumah tangga dan perkawinan atau pandangan upaya wanita untuk mengingkari kodratnya, melainkan lebih sebagai upaya untuk mengakhiri penindasan dan eksploitasi perempuan (Fakih, 2012:5). Feminisme muncul akibat dari adanya prasangka gender yang

menomorduakan perempuan. Anggapan bahwa secara universal laki-laki berbeda dengan perempuan mengakibatkan perempuan dinomorduakan.

Perbedaan tersebut tidak hanya pada kriteria sosial budaya. Asumsi tersebut membuat kaum feminis memperjuangkan hak-hak perempuan disemua aspek kehidupan dengan tujuan agar kaum perempuan mendapatkan kedudukan yang sederajad dengan kaum laki-laki.

Akhirnya, peneliti menyimpulkan bahwa kritik sastra feminis berawal dari hasrat para feminis, yaitu hasrat rasa cinta dan setia kawan terhadap penulis wanita terdahulu dan hasrat perasaan prihatin terhadap kedudukan dan kondisi kaum perempuan. Kedua hasrat inilah yang menimbulkan berbagai ragam cara mengritik sastra dari segi feminis.

Akan tetapi, kritik sastra feminisme yang paling banyak digunakan.

5. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Novel Cinta di Dalam Gelas Karya Andrea Hirata di Kelas XII SMA

Pemerintah sudah membuat buku panduan baik panduan guru maupun panduan peserta didik. Dengan demikian, dalam kaitannya dengan rencana pembelajaran dalam kurikulum 2013, guru tidak perlu lagi mengembangkan perencanaan tertulis yang berbelit-belit, karena sudah ada pedoman dan pendampingnya.

Kurikulum yang digunakan untuk menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran adalah kurikulum 2013 yang sesuai Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional. Kurikulum yang baru ini nantinya dapat berperan

penting dalam memajukan sisitem pendidikan yang ada di Indonesia. Adapun susunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kurikulum 2013 yaitu:

a. Kompetensi Inti

Kompetensi inti dalam penelitian ini adalah memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.

b. Kompetensi Dasar

Kompetensi dasar adalah kemampuan hasil mengajar yang harus dicapai oleh peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran materi pokok mata pelajaran tertentu. Cakupan materi pada kompetensi dasar lebih sempit dibanding dengan standar kompetensi. Selain itu, kata kerja yang digunakan adalah operasional, seperti: menyimak, membaca, membicarakan, menulis, mengapresiasi, menghitung, mengidentifikasi, membedakan, menafsirkan, menganalisis, menerapkan, dan merangkum (Sukirno, 2009:104).

c. Indikator

Indikator adalah kompetensi dasar yang lebih spesifik. Indikator merupakan acuan dalam menentukan penilaian. Oleh karena itu, rumusan indikator harus dapat diukur dengan berbagai teknik dan alat penilaian.

Untuk itu, kata kerja yang digunakan pada indikator sepenuhnya harus operasional dan cakupan materinya lebih terfokus, atau lebih sempit dibanding dengan kata kerja pada kompetensi dasar (Sukirno, 2009: 105).

d. Tujuan Pembelajaran

Kurikulum 2013 berbasis kompetensi dapat dimaknai sebagai suatu konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan tugas-tugas dengan standar performansi tertentu, sehingga hasilnya bisa dirasakan peserta didik yang berupa penguasaan terhadap kompetensi tertentu.

Tujuan pembelajaran merupakan merupakan komponen utama yang terlebih dahulu harus dirumuskan guru dalam proses belajar mengajar. Tujuan pembelajaran dinamakan juga sasaran belajar. Di samping itu, tujuan pengajaran berpusat pada siswa dirasakan dapat memberikan petujnuk yang terarah bagi perkembangan alat evaluasi , pemilihan materi, dan kegiatan belajar mengajar, serta penetapan media dan alat pengajaran. Keberhasilan proses belajar mengajar lebih banyak dinilai dari seberapa jauh perubahan-perubahan perilaku yang diinginkan telah terjadi pada diri siswa (Ibrahim, 2010: 69-70).

Melalui sebuah novel, guru dapat membantu pembentukan karakter sesuai usianya. Novel yang mengandung feminisme, dalam hal ini tokoh perempuan yang bergerak maju, memiliki kecerdasan, sebagai tulang punggung keluarga, dan mecoba memperbaiki posisi kaum perempuan yang selama ini ditindas oleh kaum adam dapat menjadi contoh bagi siswa dan dapat bermanfaat.

e. Materi Pembelajaran

Sesuai kurikulum 2013, guru tidak lagi menjadi pusat pembelajaran karena pembelajaran dalam kurikul 2013 berbasis kompetensi dapat menggunakan aneka sumber belajar yang ada.

Materi pembelajaran erat hubungannya dengan sumber belajar.

Sumber belajar dapat berupa buku pelajaran baik yang wajib maupun buku penunjang, media cetak, media elektronik, lingkungan sekitar, dan bisa berupa karya dari siswa supaya siswa lebih mudah dalam memahami materi.

f. Metode Pembelajaran

Metode pembelajaran adalah salah satu alat untuk mencapai tujuan.

Dengan memanfaatkan metode secara akurat, guru akan mampu mencapai tujuan pembelajaran. Metode pembelajaran yang terdapat dalam kurikulum 2013 adalah siswa ditekankan untuk aktif. Tetapi, guru dapat menentukan metode yang akan digunakan dan memilih metode yang

sesuai dengan tujuan pembelajaran, bahan dan keadaan peserta didik, untuk menghindari rasa kurang sesuai terhadap pembelajarannya, guru sebaiknya menggunakan metode yang beragam dan menggunakan media pembelajaran agar proses belajar mengajar di kelas lebih efektif. Metode yang dapat digunakan untuk pembelajaran sastra antara lain: metode ceramah, tanya jawab, diskusi, dan penugasan. Keempat metode tersebut akan saling menunjang dan melengkapi dalam pembelajaran sastra.

Model pembelajaran merupakan suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas agar tujuan yang telah disusun bisa dicapai secara optimal (Rusman, 2014: 133). Penulis tipe investigasi kelompok (Group Investigation). Perencanaan dengan tipe investigasi kelompok (Group Investigation) adalah kelompok yang dibentuk oleh siswa itu sendiri dengan anggota 2-6 orang, tiap kelompok bebas memilih topic dari keseluruhan materi yang akan diajarkan, dan membuat laporan kelompok.

Selanjutnya, setiap kelompok mempersentasikan hasil laporan kepada seluruh kelas, untuk saling tukar pendapat dan informasi tentang hasil laporan masing-masing kelompok (Rusman, 2012:220).

1) Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation

Rusman (2012: 223), mengemukakan bahwa model pembelajaran kooperatif dirancang untuk membantu terjadinya

pembagian tanggungjawab ketika siswa mengikuti pembelajaran.

Model pembelajaran kooperatif tipe group Investigation, langkah-langkah pembelajarannya adalah:

a. membagi siswa ke dalam kelompok kecil yang terdiri dari ± 5 siswa;

b. memeberikan pertanyaan terbuka yang bersifat analitis;

c. mengajak setiap siswa untuk berpartisispasi dalam menjawab pertanyaan kelompoknya secara bergiliran searah jarum jam dalam kurun waktu yang disepakati.

2) Kelebihan dan Kelemahan Model Group Investigation

Model Group Investigation memiliki kelebihan dan kelemahan.

Adapaun kelebihan dari model pembelajaran Group Investigation sebagai berikut.

a) Meningkatkan kemampuan kreativitas siswa yang ditempuh melalui pengembangan proses kreatif menuju suatu kesadaran dan pengembangan alat bantu yang secara eksplesit mendukung kreativitas.

b) Meningkatkan peluang keberhasilan dalam memecahkan suatu masalah.

c) Memebangun keterampilan komunikasi antarkelompok.

Selain memiliki beberapa kelebihan, model pembelajaran Group Investigation juga memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan dari model pembelajaran Group Investigation sebagai berikut.

a) Tidak cocok untuk siswa yang kurang aktif dalam komunikasi, karena dalam model pembelajaran ini sangat membutuhkan keterampilan berkomunikasi.

b) Menggunakan emosional daripada intelektual.

g. Langkah-langkah Pembelajaran

Sebelum memasuki proses pembelajaran novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata, penulis memamparkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Di bawah ini penulis menyajikan langkah-langkah pembelajaran sastra dengan mengulas isi novel dan unsur kebahasaan di kelas XII SMA.

1) Kegiatan Awal

Dalam kegiatan awal seorang guru sekurang-kurangnya melakukan sebagai berikut:

a) mengawali kegiatan dengan salam dan berdoa,

b) mengondisikan kelas dan mengetahui kesiapan siswa untuk mengikuti pembelajaran,

c) pendidik memeriksa kehadiran peserta didik,

d) pendidik memberi informasi tentang kompetensi, tujuan, manfaat, langkah pembelajaran, dan penjelasan terkait materi pembelajaran yakni novel,

e) pendidik juga meminta tanggapan peserta didik terkait prosa atau novel,

f) peserta didik diminta untuk membentuk kelompok, satu kelompok terdiri dari empat atau lima siswa.

2) Kegiatan Inti

Dalam kegiatan inti pembelajaran yang dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Guru memberikan materi unsur intrinsik.

2. Guru dan siswa bertanya jawab tentang unsur intrinsik novel.

3. Guru meminta siswa membentuk kelompok.

4. Guru memberi tugas kepada setiap kelompok untuk membaca novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata.

5. Guru menyediakan subjek penelitian (novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata) dan meminta siswa membaca novel.

6. Guru meminta siswa untuk mengerjakan tugas kelompok di rumah (berupa membaca novel, menganalisis unsur intrinsik, dan mencari bentuk-bentuk ketidakadilan gender yang dialami oleh tokoh utama perempuan dalam novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata.

7. Guru membatasi waktu penyelesaian tugas kelompok 8. Guru mengakhiri proses belajar mengajar dengan salam.

h. Alat Belajar

Alat belajar atau disebut juga media belajar merupakan alat yang berfungsi sebagai alat bantu belajar mengajar yang efektif. Alat belajar yang baik disesuaikan dengan tujuan dan isi materi pelajaran (Sukirno, 2009: 108).

i. Alokasi Waktu

Alokasi waktu pembelajaran adalah durasi waktu yang digunakan pada waktu proses pembelajaran itu dimulai sampai berakhir proses pembelajaran itu. Pembelajaran mengenai mengulas isi novel dan unsur kebahasaan dalam novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata di kelas XII SMA, waktu yang digunakan adalah dua kali pertemuan satu jam pelajaran 45 menit, satu kali pertemuan adalah dua jam pelajaran 90 menit.

Jadi, dua kali peretemuan memerlukan waktu 180 menit.

j. Sumber Belajar

Sumber belajar adalah bahan ajar yang membuat teks atau materi ajar yang dijadikan rujukan untuk mencapai kompentesi dasar. Sumber belajar hendaknya dipilih dan diselaraskan dengan kompetensi dasar yang akan dicapai (Sukirno, 2009: 108).

Sumber belajar yang dipakai dalam pembelajaran sastra adalah sumber belajar yang berkaitan dengan sastra, buku-buku yang berkaitan dengan materi pembelajaran novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea

Hirata, serta buku LKS mata pelajaran wajib Bahasa Indonesia kelas XII SMA tentang unsur intrinsik dan pembelajaran novel.

k. Penilaian

Penilaian adalah prosedur dan cara menilai pencapaian setiap indikator oleh siswa (Sukirno, 2009: 107). Penilaian dapat diberikan pada saat proses belajar masih berlangsung dan dapat diberikan secara khusus.

Terdapat juga tiga jenis penilaian yaitu penilaian sikap, penilaian pengetahuan, dan penilaian keterampilan. Pemaparannya sebagai berikut:

1) penilaian sikap dapat dilakukan dengan observasi, penilaian diri, penilaian antar teman, dan penilaian jurnal;

2) penilaian pengetahuan dapat dilakukan dengan tes tulis, tes lisan, dan penugasan;

3) penilaian keterampilan dapat dilakukan dengan tes praktik.

62

Metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh penulis dalam mengumpulkan data penelitiannya. Dalam hal ini dipaparkan sumber data, objek penelitian, fokus penelitian, teknik pengumpulan data, instrumen penelitian, teknik analisis data, teknik penyajian hasil analisis.

A. Sumber Data

Sumber data merupakan subjek dari mana data penelitian diperoleh (Arikunto, 2013: 172). Sugiyono (2015: 308-309) mengelompokkan sumber data menjadi dua, yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data, sedangkan sumber data sekunder adalah sumber data yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya melalui orang lain atau melalui dokumen. Sementara itu, dalam Suwarti (2009:21) mengungkapkan bahwa data adalah semua informasi atau bahan mentah yang disediakan oleh alam yang harus dicari dan dikumpulkan oleh pengkaji sesuai dengan masalah yang akan dicari.

Sumber data primer dalam penelitian ini yaitu novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata memiliki tebal 316 halaman, di terbitkan oleh Penerbit Bentang di Sleman Yogyakarta cetakan pertama tahun 2011. Sumber data

sekunder dalam penelitian ini adalah data-data yang bersumber dari buku-buku acuan yang berhubungan dengan permasalahan yang menjadi objek penelitian.

B. Objek Penelitian

Objek penelitian adalah titik perhatian suatu penelitian (Arikunto, 2013:

161). Objek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah bentuk-bentuk ketidakadilan gender pada tokoh utama perempuan dalam novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata yang meliputi, gender dan marginalisasi terhadap perempuan, gender dan subordinasi terhadap perempuan, gender dan stereotip terhadap perempuan, gender dan kekerasan terhadap perempuan, gender dan beban kerja.

C. Fokus Penelitian

Fokus merupakan batasan masalah penelitian kualitatif yang berisi pokok masalah yang bersifat umum (Sugiyono, 2015: 285-286). Penelitian ini difokuskan pada (1) unsur-unsur intrinsik dalam novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata yang terdiri dari tema, alur, penokohan, latar, sudut pandang, (2) bentuk-bentuk ketidakadilan gender pada tokoh utama perempuan dalam novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata yang berupa marginalisasi perempuan, subordinasi, stereotip terhadap perempuan, kekerasan, dan beban kerja, dan (3) rencana pelaksanaan pembelajaran di kelas XII SMA.

D. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data (Sugiyono, 2015: 208). Teknik pengumpulan data yang digunakan penulis adalah teknik studi pustaka, teknik simak, dan teknik catat. Teknik studi pustaka adalah metode pengumpulan data dengan mencari lewat buku, majalah, koran, dan literatur lainnya yang bertujuan untuk membentuk sebuah landasan teori (Aruikunto, 2013: 158). Teknik simak adalah teknik penyimakan terhadap penggunaan bahasa (Sudaryanto, 2015: 203), teknik simak yang penulis lakukan yaitu dengan membaca novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata secara kritis dan teliti. Teknik catat adalah teknik pencatatan dengan menggunakan kartu data dan segera dilanjutkan dengan klasifikasi (Sudaryanto, 2015: 205).

Adapun langkah-langkah yang dilakukan penulis dalam mengumpulkan data adalah sebagai berikut:

1. Membaca secara kritis keseluruhan teks novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata;

2. mencatat data yang berupa unsur-unsur intrinsik (tema, alur, penokohan, latar, dan sudut pandang) yang terdapat pada novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata;

3. mencatat bentuk-bentuk ketidakadilan gender pada tokoh utama perempuan (marginalisasi, subordinasi, stereotip, kekerasan, dan beban kerja) yang terdapat pada novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata;

4. mengelompokkan data berupa unsur-unsur intrinsik yang terdapat pada novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata;

5. Mengelompokkan data berupa bentuk-bentuk ketidakadilan gender pada tokoh utama perempuan yang terdapat pada novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata.

E. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh penulis dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah , dalam arti lebih cermat, lengkap, dan sistematis sehingga mudah diolah (Arikunto, 2013:

203).Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah peneliti sebagai instrument utama dibantu dengan kartu pencatat data yang berguna untuk mencatat data hasil pembacaan novel, dan alat tulis. Ada pun bentuk kartu pencatat data sebagai berikut.

Tabel 3.1

Unsur Intrinsik Novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata

No. Unsur Intrinsik Data Halaman

1. Tema 2. Alur 3. Penokohan 4. Latar

5. Sudut Pandang

Tabel 3.2

Bentuk-Bentuk Ketidakadilan Gender Tokoh Utama Perempuan Novel Cinta di Dalam Gelas Karya Andrea Hirata

No. Analisis Gender Data Halaman

1. Marginalisasi 2. Subordinasi 3. Stereotip 4. Kekerasan 5. BebanKerja

F. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data merupakan bagian yang penting dalam sebuah penelitian karena dengan analisis data yang diteliti akan dapat diketahui makna atau jawaban pemecahan masalahnya. Sugiyono (2015: 334) mengungkapkan bahwa analisis adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain sehingga dapat mudah dipahami, dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain.

Endrawarsa, (2013: 161) mengungkapkan bahwa analisis isi adalah strategi untuk menangkap pesan karya sastra. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik content analysis atau metode analisis isi.

Adapun langkah-langkah yang dilakukan penulis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. menganalisis data yang berupa narasi dan percakapan yang terdapat dalam novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata yang mengandung unsur intrinsik;

2. menganalisis data yang berupa narasi dan percakapan yang terdapat dalam novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata yang mengandung analisis

gender pada tokoh utama perempuan yaitu bentuk-bentuk ketidakadilan gender;

3. menyimpulkan unsur-unsur intrinsik dan bentuk-bentuk ketidakadilan gender pada novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata.

G. Teknik Penyajian Hasil Analisis Data

Sudaryanto, (2015: 240-241) menyatakan teknik penyajian data ada dua teknik, yaitu penyajian data yang bersifat informal dan penyajian data yang bersifat formal. Penyajian data informal adalah perumusan dengan kata-kata biasa, walaupun dengan terminologi yang sifatnya teknis, sedangkan teknik penyajian data formal adalah perumusan dengan apa yang umum dikenal sebagai tanda atau lambang-lambang. Teknik yang digunakan untuk menyajikan hasil analisis dalam penelitian ini adalah teknik penyajian informal. Berdasarkan

Sudaryanto, (2015: 240-241) menyatakan teknik penyajian data ada dua teknik, yaitu penyajian data yang bersifat informal dan penyajian data yang bersifat formal. Penyajian data informal adalah perumusan dengan kata-kata biasa, walaupun dengan terminologi yang sifatnya teknis, sedangkan teknik penyajian data formal adalah perumusan dengan apa yang umum dikenal sebagai tanda atau lambang-lambang. Teknik yang digunakan untuk menyajikan hasil analisis dalam penelitian ini adalah teknik penyajian informal. Berdasarkan

Dokumen terkait