• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA

2.2. Landasan Teori

2.2.7. Teori PAM

Policy Analysis Matrix (PAM) atau matriks kebijakan digunakan untuk menganalisis pengaruh intervensi pemerintah dan dampaknya pada sistem komoditas. Sistem komoditas dapat dipengaruhi melalui empat aktivitas yaitu tingkat usahatani, penyampaian dari usahatani ke pengolahan, pengolahan serta pemasaran (Pearson, et al 1998).

Menurut Indriyati (2007), metode PAM dapat mengidentifikasi tiga analisis, yaitu analisis keuntungan (privat dan sosial), analisis daya saing (keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif), dan analisis dampak kebijakan. Dalam metode PAM terdapat asumsi-asumsi yang digunakan, antara lain :

1) Perhitungan berdasarkan Harga Privat (Privat Cost), yaitu harga yang benar terjadi dan diterima oleh produsen dan konsumen atau harga yang benar-benar terjadi setelah adanya kebijakan.

2) Perhitungan berdasarkan Harga Sosial (Sosial Cost) atau Harga Bayangan (Shadow Price), yaitu harga pada kondisi pasar persaingan sempurna atau harga yang terjadi apabila tidak ada kebijakan. Pada komoditas yang dapat diperdagangkan (Tradeable), harga bayangan adalah harga yang terjadi di pasar internasional.

Universitas Sumatera Utara

3) Output bersifat Tradeable dan input dapat dipisahkan ke dalam komponen asing (Tradaeble) dan domestik (Non Traedable).

4) Eksternalitas positif dan negatif dianggap saling meniadakan.

Tabel 2.3 Matriks analisis PAM

Uraian Penerimaan Biaya Keuntungan

Tradeable Non Tradeable

Harga Privat A B C D

Harga Sosial E F G H

Dampak Kebijakan I J K L

Sumber : Monke and Pearson, 1989

Keterangan :

A : Penerimaan Privat G : Biaya Input Non Tradable Sosial B : Biaya Input Tradeable Privat H : Keuntungan Sosial

C : Biaya Input Non Tradaeble Privat I : Transfer Output

D : Keuntungan Privat J : Transfer Input Tradeable E : Penerimaan Sosial K : Transfer Faktor

F : Biaya Input Tradaeble Sosial L : Transfer Bersih 2.3 Kajian Penelitian Terdahulu

Aldila (2016) dalam penelitianya tentang β€œDaya Saing Bawang Merah Di Wilayah Sentra Produksi Di Indonesia” dengan menggunakan metode Policy Analysis Matrix (PAM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha tani bawang merah di Cirebon, Brebes dan Tegal menguntungkan secara finansial tetapi tidak menguntungkan secara ekonomi. Hasil analisis daya saing usaha tani bawang merah di Cirebon, Brebes dan Tegal menunjukkan usaha tani bawang merah tidak memiliki keunggulan komparatif tetapi masih memiliki keunggulan kompetitif.

Dampak kebijakan pemerintah terhadap output menunjukkan adanya proteksi pemerintah terhadap harga bawang merah. Sementara itu, kebijakan pemerintah terkait input masih bersifat disinsentif kepada petani. Petani harus membayar input lebih mahal dari seharusnya Secara simultan kebijakan pemerintah

Universitas Sumatera Utara

terhadap input dan output mendukung terhadap produksi bawang merah di Cirebon, Brebes dan Tegal

Novianto (2012) dalam penelitiannya tentang Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Komoditas Kentang di Kabupaten Wonosobo dengan menggunakan metode Policy Analysis Matrix (PAM) menunjukkan hasil bahwa berdasarkan hasil analisis PAM diketahui nilai Rasio Biaya Privat (PCR) di Desa Sigedang lebih rendah daripada nilai PCR di Desa Dieng. Artinya, komoditas kentang di Desa Sigedang memiliki keunggulan kompetitif yang lebih besar dari usahatani kentang di Desa Dieng pada musim penghujan. Sedangkan nilai Rasio Biaya Sumberdaya Domestik (DRC) di Desa Sigedang sebesar 0,76 lebih kecil daripada nilai DRC di Desa Dieng yakni sebesar 0,84. Hal ini mengindikasikan bahwa komoditas kentang di Desa Sigedang memiliki keunggulan komparatif yang lebih besar bila dibandingkan dengan Desa Dieng.

Pardede (2014) dalam penelitiannya tentang Analisis Usahatani Bawang Merah (Studi Kasus : Desa Cinta Dame, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir) dengan menggunakan metode purposive menunjukkan bahwa Usahatani bawang merah di daerah penelitian layak diusahakan karena Produksi bawang merah di daerah penelitian lebih besar dari BEP produksi yaitu sebesar 222 kg. Harga bawang merah daerah penelitian lebih besar dari BEP harga yaitu sebesar Rp 6.614 per kg. R/C Ratio bawang merah di daerah penelitian sebesar 2,48 lebih besar dari 1. Produktivitas bawang merah di daerah penelitian sebesar 4,5 ton per hektar lebih rendah dari produktivitas bawang merah tingkat Kabupaten Samosir (6,2 ton per hektar) dan tingkat Kabupaten Simalungun (14,6 ton per hektar).

Disimpulkan bahwa produktivitas bawang merah di daerah penelitian masih

Universitas Sumatera Utara

tergolong rendah.

2.4. Kerangka Pemikiran

Usahatani bawang merah adalah suatu kegiatan untuk memproduksi bawang merah yang dilakukan oleh petani dan memiliki umbi bawang merah sebagai hasil dari kegiatan produksi. Kegiatan produksi mencakup kegiataan dari praproduksi, produksi dan postproduksi.

Usahatani bawang merah membutuhkan berbagai input produksi agar produksi dapat berlangsung dan menghasilkan ouput bawang merah yang berkualitas. Input produksi sendiri dapat terbagi menjadi input tradeable dan input non-tradeable.

Kegiatan produksi bawang merah membutuhkan biaya dalam kegiatannya yang disebut biaya produksi. Biaya produksi berasal dari biaya praproduksi, biaya produksi dan biaya pada saat postproduksi. Biaya produksi usahatani bawang merah pada daerah penelitian akan dibandingkan dengan biaya produksi standar usahatani bawang merah.

Output produksi usahatani bawang merah adalah umbi bawang merah. Umbi ini yang memiliki nilai jual atau harga. Dari harga dan ouput, akan dihasilkan penerimaan usahatani bawang merah. Biaya produksi yang digunakan dan penerimaan yang didapatkan mempengaruhi pendapatan atau keuntungan yang diterima petani bawang merah.

Produktivitas adalah hasil perbandingan dari jumlah produksi dengan luas lahan.

Produktivitas daerah penelitian dapat mencerminkan tinggi atau rendahnya produksi bawang merah. Universitas Sumatera Utara

Keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif dapat diketahui nilainya dengan membandingkan biaya input produksi dengan penerimaan yang diterima petani bawang merah melalui Teori PAM. Jika usahatani memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif, maka usahatani tersebut berdaya saing.

Keterangan

Menyatakan Hubungan Menyatakan Pengaruh

Gambar 1. Skema Kerangka Pemikiran Usahatani

Bawang Merah

Daya Saing Produksi

Penerimaan Pendapatan

Keunggulan Komparatif Produktivitas

Harga Input Produksi

Biaya Produksi

Output Produksi

Keunggulan Kompetitif Non

Tradeable

Tradeable

Universitas Sumatera Utara

2.7 Hipotesis Penelitian

Sesuai dengan landasan teori, maka diambil hipotesis penelitian yaitu:

1. Biaya produksi di daerah penelitian tinggi dibandingkan standar biaya.

2. Produktivitas didaerah penelitian tinggi.

3. Komoditas bawang merah di daerah penelitian memiliki keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif (berdaya saing).

Universitas Sumatera Utara

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penentuan Daerah Penelitian

Penentuan daerah penelitian dilakukan secara metode purposive artinya penentuan daerah dilakukan dengan sengaja. Dalam buku metode penelitian oleh Sugiarto (2001), menjelaskan bahwa purposive adalah teknik penentuan dengan pertimbangan tertentu yang telah dibuat terhadap suat objek sesuai dengan tujua.

Kabupaten Samosir dipilih atas dasar pertimbangan karena Kabupaten Samosir merupakan daerah yang memproduksi bawang merah.

Lokasi penelitian ini dilakukan di desa Cinta Dame di kecamatan Simanindo dengan pertimbangan bahwa kecamatan Simanindo merupakan daerah usahatani bawang merah dan memiliki produksi terbesar di Kabupaten Samosir pada tahun- tahun sebelumnya tetapi pada tahun 2016 mengalami penurunan.

Tabel 3.1 Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas per Kecamatan di Kabupaten Samosir pada tahun 2016.

No Kecamatan Luas Panen

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2016. Universitas Sumatera Utara

3.2 Metode Penentuan Sampel

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah petani bawang merah yang mengusahatanikan bawang merah di Desa Cinta Dame, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir. Sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih. Dimana dalam menentukan ukuran sampel, dihitung dengan cara Metode Slovin (1960), dengan menggunakan rumus sebagai berikut.

𝑛 = 𝑁

1 + 𝑁 (𝑒)2 Dimana:

n = Besar Sampel N = Jumlah Populasi e = error

Dengan menggunakan error sebesar 10% serta jumlah populasi petani bawang merah (N) di Desa Cinta Dame sebanyak 60 petani maka berdasarkan rumus Slovin (1960) diperoleh besar sampel petani bawang merah adalah sebagai berikut :

𝑛 =

1+𝑁 (𝑒)𝑁 2

=

60

1+60(0,1)2

=

38 Petani

Dalam pemilihan 43 sampel dari populasi sebanyak 60 petani digunakan metode Simple Random Sampling. Pemilihan sampel dilakukan secara random atau acak dengan memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Menurut Supriana (2016), Metode ini dipakai karena setiap unit penelitian atau satuan elementer dari populasi

Universitas Sumatera Utara

mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel. Sampel ditentukan melalui teknik pengundian.

3.3. Metode Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara kepada petani bawang merah di Desa Cinta Dame, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir dengan menggunakan daftar pertanyaan/kuesioner yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Sedangkan dat asekunder diperoleh dengan mencatat laporan maupun dokumen dari instansi yang berhubungan dengan penelitian. Data ini diperoleh dari Dinas Pertanian, Badan Pusat Statistik, Balai Penyuluhan Pertanian, Dinas-dinas lain yang terkait dalam penelitian ini serta literatur-literatur yang berhubungan dengan penelitian ini.

3.4. Metode Analisis Data

Untuk tujuan pertama, yaitu untuk menganalisis berapa biaya produksi, penerimaan dan pendapatan usahatani bawang merah di daerah penelitian dianalisis secara deskriptif yaitu mengamati bagaimana biaya produksi, penerimaan dan pendapatan usahatani bawang merah yang diperoleh dari hasil wawancara dengan petani bawang merah di Desa Cinta Dame, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir dengan menggunakan rumus:

Rumus untuk biaya produksi:

TC = FC + VC

Universitas Sumatera Utara

Keterangan:

TC = total biaya (Rp) FC = biaya tetap (Rp)

VC = biaya variable (Rp) (Soekartawi, 2002)

Untuk mengetahui penerimaan dari usahatani bawang merah digunakan rumus:

TR = Y x Py

Dimana:

TR = Total Penerimaan (Rp) Y = Produksi (Kg)

Py = Harga (Rp) (Soekartawi, 2002)

Untuk mengetahui pendapatan dari usahatani bawang merah digunakan rumus:

Pd = TR – TC

Dimana:

Pd = Pendapatan usahatani (Rp)

TR = Total penerimaan (Rp) (total revenue) TC = Total biaya (Rp) (Soekartawi, 2002)

Untuk tujuan kedua, yaitu untuk menganalisis tingkat produktivitas bawang merah di daerah penelitian meggunakan metode analisis deskriptif dengan membandingkan produktivitas daerah penelitian dengan produktivitas Kecamatan Simanindo,produktivitas Kabupaten Samosir sebagai salah satu sentra produksi bawang merah di Provinsi Sumatera Utara, produktivitas Sumatera Utara dan

Universitas Sumatera Utara

Produktivitas Nasional. Untuk mengetahui produktivitas daerah penelitian

Untuk tujuan ketiga, yaitu untuk menganalisis daya saing (keunggulan komparatif) usahatani bawang merah di Kabupaten Samosir dianalisis dengan menggunakan Policy Analysis Matrix (PAM) atau matriks kebijakan. Matriks ini digunakan untuk mengetahui keunggulan komparatif komoditas bawang merah di daerah penelitian. Berikut adalah tabel PAM

Uraian Penerimaan Biaya Keuntungan

Tradeable Non Tradeable

Harga Privat A B C D

Harga Sosial E F G H

Dampak Kebijakan I J K L

Sumber : Monke and Pearson, 1989

Keterangan :

A : Penerimaan Privat G : Biaya Input Non Tradable Sosial B : Biaya Input Tradable Privat H : Keuntungan Sosial

C : Biaya Input Non Tradable Priva t I : Transfer Output

Kriteria uji:

PCR < 1 : H0 diterima yaitu Usahatani Bawang merah di daerah penelitian memiliki daya saing dari segi keunggulan kompetitif

PCR > 1 : H1 diterima yaitu ushatani bawang merah di daerah penelitian tidak memiliki daya saing dari segi keunggulan kompetitif

2) Rasio Biaya Sumber Daya (DRC)

DRC = 𝐺

πΈβˆ’πΉ = π΅π‘–π‘Žπ‘¦π‘Ž 𝑖𝑛𝑝𝑒𝑑 π‘π‘œπ‘› π‘‡π‘Ÿπ‘Žπ‘‘π‘’π‘Žπ‘π‘™π‘’ π‘†π‘œπ‘ π‘–π‘Žπ‘™

π‘ƒπ‘’π‘›π‘’π‘Ÿπ‘–π‘šπ‘Žπ‘Žπ‘› π‘†π‘œπ‘ π‘–π‘Žπ‘™β€“ π΅π‘–π‘Žπ‘¦π‘Ž 𝐼𝑛𝑝𝑒𝑑 π‘‡π‘Ÿπ‘Žπ‘‘π‘’π‘Žπ‘π‘™π‘’ π‘†π‘œπ‘ π‘–π‘Žπ‘™

Kriteria uji:

DRC < 1 : H0 diterima yaitu Usahatani Bawang merah di daerah penelitian memiliki daya saing dari segi keunggulan komparatif

DRC > 1 : H1 diterima yaitu ushatani bawang merah di daerah penelitian tidak memiliki daya saing dari segi keunggulan komparatif

Universitas Sumatera Utara

3.5 Definisi dan Batasan Operasional 3.5.1 Definisi

1. Bawang Merah adalah komoditi yang dibudidayakan oleh petani rakyat di Desa Cinta Dame, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir.

2. Petani bawang merah adalah petani yang melakukan kegiatan usahatani bawang merah baik secara komersial maupun sebagai sampingan.

3. Produksi adalah hasil panen dari tanaman menghasilkan bawang merah yang dijual yaitu berupa umbi dalam satuan kg.

4. Input Produksi adalah segala sesuatu yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan produksi seperti seperti tenaga kerja luar keluarga, pupuk, alat pertanian, sewa lahan, pajak bumi bangunan dan pestisida.

4. Biaya produksi adalah seluruh biaya yang dikeluarkan secara tunai kepada pihak lain oleh petani bawang merah selama satu musim tanam seperti biaya tenaga kerja luar keluarga, pupuk, alat pertanian, sewa lahan, pajak bumi bangunan dan pestisida.

5. Penerimaan usahatani bawang merah adalah hasil produksi berupa umbi dalam satuan kg dikali dengan harga produksi yang diterima petani langsung dalam satu musim tanam dengan satuan Rupiah.

6. Produktivitas usahatani bawang merah adalah nilai bobot hasil tanaman per satuan luas dalam 1 musim tanam atau jumlah hasil produksi per luas lahan yang dinyatakan dalam Ton/Ha.

7. Harga Input adalah harga input produksi usahatani bawang merah yang di ukur dari harga privat maupun harga sosialnya dalam satuan Rupiah.

Universitas Sumatera Utara

8. Harga Output adalah harga umbi bawang merah yang di ukur dari harga privat maupun harga sosialnya dalam satuan Rupiah.

9. Usahatani adalah suatu kegiatan untuk memproduksi bawang merah yang dilakukan oleh petani rakyat di desa Cinta Dame.

10. Tenaga kerja adalah seseorang yang melakukan pekerjaan dan dibayar oleh petani dan bukan merupakan tanggungan petani bawang merah (Tenaga kerja luar keluarga).

10. Keunggulan Komparatif adalah salah satu alat ukur daya saing yang dihitung atas harga privat pada nilai rupiah yang berlaku pada tahun 2018.

11. Keunggulan Kompetitif adalah pengukur daya saing usahatani bawang merah yang dihitung atas harga sosial dan nilai rupiah yang berlaku pada tahun 2018.

12. Harga Privat adalah harga yang berlaku dan diterima petani bawang merah dan mencerminkan nilai akibat kebijakan.

13. Harga sosial adalah harga pada pasar persaingan sempurna yang mencerminkan nilai sosial yang ditentukan dengan harga FOB (free on board) dan harga CIF (Cost, insurences, and freight).

11. Policy Analysis Matrix adalah suatu alat analisis yang digunakan untuk mengkaji dampak kebijakan harga, daya saing dan kebijakan investasi pertanian.

12. Daya saing adalah kemampuan produsen dalam menghasilkan bawang merah yang sesuai dengan permintaan konsumen dan dapat memenuhi pengujian internasional.

13. Pendapatan adalah selisih antara penerimaan yang diterima petani dan semua biaya produksi yang dikeluarkan secara tunai dalam satu musim tanam. Universitas Sumatera Utara

14. Input produksi adalah komponen-komponen yang digunakan petani dalam satu musim tanam seperti tenaga kerja, alat pertanian, pupuk, dan pestisida.

15. Input Tradable adalah input yang dapat diperjualbelikan sehingga memiliki harga internasional seperti pupuk NPK, TSP, dan ZA.

16. Input Non Tradable adalah input yang tidak dapat diperjualbelikan sehingga tidak memiliki harga internasional.

17. Output produksi adalah hasil produksi petani bawang merah dalam bentuk umbi dengan satuan kg.

3.5.2 Batasan Operasional

1. Daerah penelitian di Desa Cinta Dame, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir.

2. Sampel penelitian adalah Petani rakyat yang mengusahakan tanaman bawang merah yang telah menghasilkan (TM) di Desa Cinta Dame, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir.

3. Waktu penelitian dilaksanakan pada tahun 2018

4. Alat ukur daya saing yang digunakan adalah Keunggulan Komparatif dan Keunggulan Kompetitif.

Universitas Sumatera Utara

BAB IV

DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN

4.1 Luas dan Letak Geografis Desa Cinta Dame

Desa Cinta Dame, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara merupakan salah satu desa dari 21 (dua puluh satu) desa yang ada di Kecamatan Simanindo. Desa Cinta Dame memiliki luas wilayah sebesar Β± 1.435 Ha (Β±14,35 km2) atau 7,24% dari luas wilayah kecamatan yaitu Β± 198.200 Ha (Β± 198,20 km2).

Desa Cinta Dame, terbentang antara 2032’- 3045’ LU dan 98044’– 98050’ BT.

Desa Cinta Dame berada pada ketinggian 1.539 - 1.630 meter dari atas permukaan laut beriklim tropis dengan suhu rata-rata 230 C .

Desa Cinta Dame merupakan desa potensial dari Kecamatan Simanindo yang jaraknya hanya 24,2 Km dari Kantor Kecamatan Simanindo. Desa Cinta Dame memiliki batas wilayah sebagai berikut:

Sebelah Utara : Danau Toba Sebelah Selatan : Desa Maduma Sebelah Timur : Desa Simanindo Sebelah Barat : Desa Simarmata

4.2 Keadaan Penduduk

Penduduk Desa Cinta Dame, pada tahun 2017 tercatat berjumlah 1.457 jiwa yang terdiri dari beberapa suku. Jumlah Penduduk menurut jenis kelamin di Desa Cinta Dame disajikan pada tabel berikut:

Universitas Sumatera Utara

Tabel 4.1. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Desa Cinta Dame

Sumber: Kantor Kepala Desa Cinta Dame, 2018

Jika dilihat dari aspek rasio gender kondisi Desa Cinta Dame dapat dilihat perbedaan gender lebih banyak untuk laki-laki sebesar 729 dibandingkan untuk perempuan sebesar 728 dengan selisih 1 jiwa lebih banyak untuk gender laki-laki.

Desa Cinta Dame terdiri dari 3 (tiga) Dusun yang masing-masing dikepalai oleh kepala dusun. Dusun-dusun tersebut terdiri atas Dusun Situnjang, Dusun Malau, dan Dusun Rautbosi.

Tabel 4.2. Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian di Desa Cinta Dame Tahun 2017

No Mata Pencaharian Tahun 2017

1. Petani 765

2. Pedagang 51

3. Pegawai Negeri Sipil 25

Jumlah 841

Sumber: Kantor Kepala Desa Cinta Dame, 2018

Penduduk Desa Cinta memiliki mata pencaharian yang beragam, akan tetapi menurut observasi peneliti, mata pencahariaan yang dominan adalah petani. Hal ini disebabkan luas lahan yang disediakan untuk pertanian berlimpah sehingga mendorong penduduk untuk bertani.

4.3. Sarana dan Prasarana

Perkembangan dan kemajuan masyarakat sangat dipengaruhi oleh sarana dan prasarana. Apabila semakin baik sarana dan prasarana maka laju pembangunaan akan semakin cepat, begitu juga sebaliknya. Di Desa Cinta Dame, terhubung Universitas Sumatera Utara

dengan daerah lain melalui jalan yang ada di desa tersebut. Keadaan jalan secara umum masih kurang baik dan hanya sebagian yang beraspal yaitu jalan raya samosir yang merupakan jalan negara sehingga para pengendara harus berhati-hati melalui jalan di Desa Cinta Dame. Berikut pada tabel 4.3 dapat disajikan infrastruktur jalan dan jembatan yang berada di desa Cinta Dame:

Tabel 4.3. Infrastruktur Jalan dan Jembatan di Desa Cinta Dame Tahun 2017

No Infrastruktur Jumlah Satuan

Jembatan:

Sumber: Kantor Kepala Desa Cinta Dame, 2018

Perkembangan dan kemajuan masyarakat sangat dipengaruhi oleh sarana dan prasarana. Hal ini dapat dilihat dari sarana yang tersedia seperti sarana ibadah, pendidikan, kesehatan dan kantor kepala desa. Berikut pada Tabel 4.4. dapat disajikan beberapa sarana yang ada di Desa Cinta Dame:

Tabel 4.4. Sarana dan Prasarana yang Tersedia di Desa Cinta Dame Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir

No. Kategori Jumlah Satuan

GedungSD/Sederajat 2 Buah

Gedung SLTP/Sederajat 1 Buah

Gedung SLTA/Sederajat 0 Buah

3. Sarana Kesehatan :

Sumber: Kantor Kepala Desa Cinta Dame 2018

Universitas Sumatera Utara

4.4. Karakteristik Responden

Responden dalam penelitian ini adalah petani bawang merah di Desa Cinta Dame, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir. Penyebaran kuesioner ke berbagai responden dilakuan sesuai persyaratan dan dapat dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin, usia, jumlah tanggungan, tingkat pendidikan dan pengalaman berusahatani bawang merah.

Tabel 4.5. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di Desa Cinta Dame, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir.

Jenis Kelamin Jumlah (Orang) Persentase (%)

Laki-laki 28 73,68

Perempuan 10 26,32

Total 38 100

Sumber : Data Diolah, 2018.

Dari tabel 4.5. dapat dilihat bahwa responden penelitian dominan laki-laki dengan jumlah 28 orang dengan persentase 73,68% dari total responden dan sisanya perempuan dengan jumlah 10 orang dengan persentase 26,32% dari total responden. Total responden yang diteliti yaitu 38 responden.

Tabel 4.6. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia di Desa Cinta Dame, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir.

Usia Jumlah (Orang) Persentase (%)

21-30 tahun 2 5,26

31-40 tahun 8 21,05

41-50 tahun 14 36,84

51-60 tahun 14 36,84

Total 38 100

Sumber : Data Diolah, 2018.

Dari tabel 4.6. dapat dilihat bahwa responden dominan pada rentang usia 41-50 tahun dan rentang 51-60 tahun dengan jumlah 14 Orang atau 36,48% dari total responden. Pada rentang usia 31-40 tahun responden berjumlah 8 orang atau 21,05% dan responden yang paling sedikit berada pada rentang 21-30 tahun dengan jumlah 2 orang dengan persentase 5,26%.

Universitas Sumatera Utara

Tabel 4.7. Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah Tanggungan di Desa Cinta Dame, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir.

Jumlah Tanggungan Jumlah (Orang) Persentase (%)

0-2 orang 7 18,42

3-5 orang 29 76,31

β‰₯ 6 orang 2 5,26

Total 38 100

Sumber : Data Diolah, 2018.

Dari tabel 4.7. dapat dilihat bahwa responden dominan memiliki jumlah tanggungan sebanyak 3-5 orang dengan jumlah responden sebesar 29 orang atau 706,31% dari total responden dan paling sedikit memiliki jumlah tanggungan lebih dari 6 orang dengan jumlah responden sebesar 2 orang atau 5,26% dari total responden.

Tabel 4.8. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Desa Cinta Dame, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir.

Tingkat Pendidikan Jumlah (Orang) Persentase (%)

SD 19 50

SMP 10 26,31

SMA 9 23,69

Total 38 100

Sumber : Data Diolah, 2018.

Dari tabel 4.8. dapat dilihat bahwa responden dominan pada tingkat pendidikan SD yaitu sebanyak 19 orang atau 50% dari total responden kemudian diikuti tingkat pendidikan SMP sebanyak 10 orang atau 26,31% dari total responden, dan yang paling sedikit yaitu tingkat pendidikan SMA dengan jumlah 9 orang dengan persentase sebanyak 23,69% dari total keseluruhan responden.

Tabel 4.9. Karakteristik Responden Berdasarkan Kepemilikan Lahan di Desa Cinta Dame, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir.

Status Kepemilikan Jumlah (Orang) Persentase (%)

Milik Sendiri 16 42,11

Sewa 22 57,89

Total 38 100

Sumber : Data Diolah, 2018 Universitas Sumatera Utara

Dari Tabel 4.9. diketahui bahwa status kepemilikan lahan petani bawang merah di Desa Cinta Dame paling dominan berstatus sewaan sebanyak 22 responden dengan persentase 57,89% dari total responden. Sedangkan yang berstatus kepemilikan sendiri sebanyak 16 orang responden dengan persentase 57,89% dari total responden.

Tabel 4.10. Karakteristik Responden Berdasarkan Pengalaman Berusahatani di Desa Cinta Dame, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir.

Pengalaman Berusahatani

(Tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%)

0-10 13 34,21

11-20 7 18,41

21-30 12 31,57

β‰₯31 6 15,78

Total 38 100

Sumber : Data Diolah, 2018.

Dari tabel 4.10. dapat dilihat bahwa responden dominan memiliki pengalaman berusahatani dibawah 10 tahun dengan jumlah 13 orang atau 34,21% dari total responden. Kemudian diikuti dengan rentang 21-30 tahun dan 11-20 tahun dengan responden pada masing-masing rentang berjumlah 12 dan 7 orang atau 31,57%

dan 18,41% dari total responden dan responden yang paling sedikit yaitu diatas pada rentang diatas 31 tahun dengan berjumlah 6 orang atau 15,78% dari total responden.

Tabel 4.11. Karakteristik Responden Berdasarkan Kepemilikan Modal di Desa Cinta Dame, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir.

Jenis Kelamin Jumlah (Orang) Persentase (%)

Milik Sendiri 9 23,68

Pinjaman 29 76,32

Total 38 100

Sumber : Data Diolah, 2018

Universitas Sumatera Utara

Dari Tabel 4.11. diketahui bahwa status kepemilikan modal petani bawang merah di Desa Cinta Dame paling dominan berstatus pinjaman sebanyak 29 responden dengan persentase 76,32% dari total responden. Sedangkan yang berstatus kepemilikan sendiri sebanyak 9 orang responden dengan persentase 23,68% dari total responden.

Universitas Sumatera Utara

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Biaya Produksi, Penerimaan dan Pendapatan Usahatani Bawang Merah

5.1. Biaya Produksi, Penerimaan dan Pendapatan Usahatani Bawang Merah

Dokumen terkait