• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.8 Teori Niche (Ekologi Media)

Seiring dengan berkembangnya teknologi menyebabkan hadirnya jenis-jenis media baru yang membuat munculnya fenomena kompetisi antar media. Menurut Kriyantono (2006: 272) teori Niche muncul dari adanya disiplin ekologi, yang merupakan konsep sentral dalam penelitian tentang kompetisi antar industri media. Ekologi berkenaan dengan hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungan di sekitarnya. Herawati dan Budi (2007: 113-114) mengutip (Sendjaja, 1993) menjelaskan bahwa teori Niche dapat digunakan untuk riset tingkat kompetisi antar media massa, baik itu media surat kabar, radio, maupun televisi.

Niche secara harfiah dapat diartikan sebagai celung, ruang kehidupan, atau wilayah makanan sebagai sumber penunjang suatu mahluk hidup. Menurut teori ini, untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya setiap makhluk hidup memerlukan penunjang yang ada di alam sekitarnya. Media massa lah yang dianggap sebagai makhluk hidupnya dan yang berkompetisi memperebutkan sumber penunjang di lingkungan industri media massa, begitu pula media massa radio.

Memahami ekologi bagi media massa, tidak jauh berbeda dengan ilmu ekologi pada umumnya. Hal ini disebabkan ekologi pada media massa, seperti yang disebutkan Dimmick & Rothenbuhler (1984) merupakan hasil adopsi dari penerapan ilmu ekologi makhluk hidup yang telah lebih dulu diaplikasian dalam bidang psikologi dan ekonomi oleh para sosiolog pada tahun 1920. Sementara itu Randle (2003) menjelaskan dasar dari teori Niche memprediksikan kemungkinan dari hidup berdampingan dan kepunahan ketika dua spesies berkompetisi untuk sumber penunjang yang sama di dalam lingkungan yang telah ditentukan. Ruang kehidupan (Niche) binatang didefinisikan berkaitan dengan makanan dan lawan; interaksi diantara keduanya menentukan kemampuan binatang untuk bertahan (Zeenath Hanif, 2012).

Dimmick dan Rohtenbuhler menganalogikan fenomena kompetisi antar industri media sebagai suatu proses ekologis. Dalam pandangannya kompetisi media dapat digambarkan seperti makhluk-makhluk hidup yang harus mempertahankan hidupnya dalam suatu lingkungan (pasar). Bagaimana ia bertahan adalah bagaimana makhluk media tersebut mampu mencari,

mendapatkan dan merebut sumber makanan yang tersedia dalam lingkungan tersebut. Persoalannya adalah jika sumber makanan yang ada di lingkungan tersebut terbatas sementara makhluk hidup yang menggantungkan dirinya kepada sumber tersebut semakin banyak maka faktor kompetisi tidak terelakkan (Mudjiyanto, 2017:118). Dengan demikian ekologi media menggambarkan usaha-usaha media dalam berkompetisi dengan media lainnya demi memperebutkan sumber kehidupan. Dimana sumber kehidupan suatu media ialah sumber-sumber ekonomi demi kelangsungan hidup media itu sendiri.

Zeenath Hanif (2012) menjelaskan penerapan teori niche dalam media massa dimulai pada tahun 1981, saat itu National Association of Broadcaster menggunakan ekologi niche sebagai perumpaan untuk memprediksi fluktuasi program-program jaringan kabel nasional di tengah-tengah bentuk media baru. Serta digunakan untuk mempelajari iklan di televisi, radio dan koran (Dimmick & Rothenbuhler, 1984). Teori ini juga digunakan untuk menguji penggunaan online berdasarkan faktor gender dan perpindahan fungsi (Kayany & Yelsma, 2000). Duta-Bergman (2004) menyebutkan teori ini juga digunakan untuk membandingkan pengunaan dalam konten berita tradisional antara penguna online dan offline. Lee & Lung (2004) teori ini digunakan dalam mengukur efek perpindahan yang disebabkan oleh penambahan internet dalam anggaran suatu media.

Dalam Teori Niche, sumber penunjang kehidupan menjadi faktor utama yang diperebutkan untuk bertahan hidup. Begitu pun Teori Niche dalam ekologi media. Dalam mempertahankan keberlangsungan hidupnya, media harus mencari

cara untuk bertahan dalam kompetisi dengan media lainnya. Dimmick & Rothenbuhler (1984) menyampaikan tiga faktor dalam eksistensi suatu media, yaitu: capital, types of content and types of audience.

Faktor capital, meliputi struktur permodalan dan pemasokan iklan. Hal ini ini dapat dilihat dari besaran kue iklan yang didapatkan (misalnya secara nasional) dan bagaimana proporsi yang akan dikonsumsi oleh berbagai media. Types of audiences menunjukan jenis khalayak sasaran atau target audiences. Faktor ini dapat dilihat dari data asumsi/profile media yang bersangkutan atau dari penelitian khusus untuk mengetahui profile khalayak dan kebutuhan konsumsi media mereka. Types of content, menunjukan aspek program atau jenis ini media. Faktor konten merupakan deskripsi isi dari media yang bersangkutan, hal tersebut dapat dilihat dari berbagai rubrikasi atau program acara yang ada (Herawati & Budi, 2007).

Ketiga faktor inilah yang harus dilakukan oleh media dengan melakukan berbagai strategi. Faktor-faktor tersebut juga dapat dijadikan tiang utama agar media massa dapat berkembang dalam kondisi persaingan yang ketat. Adanya pertambahan jumlah media dan munculnya media baru berarti meningkatkan kompetisi di antara media lama dan baru untuk memperebutkan dan mempertahankan audiensnya. Dengan demikian kompetisi antar media massa pada dasarnya adalah kompetisi untuk memperebutkan ketiga sumber daya tersebut.

Kompetisi antar media pada dasarnya adalah kompetisi memperebutkan ketiga sumber tersebut. Dalam praktiknya, terdapat korelasi antara types of

content, types of audience dan capital bahwa: semakin baik isi suatu media, maka semakin banyak khalayak sasaran yang dapat direbut, dan semakin besar pemasukan iklan bagi industry media tersebut (Haryati, 2012).

Perkembangan teknologi telah menggeser perilaku audiences dalam mengakses informasi, tanpa dipungkiri hal ini memengaruhi cara media radio bekerja. Media saat ini bersaing dalam menarik audience melalui media sosial. Karena khalayak yang semakin berkembang dengan penggunaan media sosial. Selain itu melalui media sosial, media analog atau konvensional ini dapat memberikan informasi seputar program mereka kepada audience. Sehingga media sosial menjadi salah satu penunjang kehidupan media analog. Kenyataanya ini dikarenakan media radio perlu melakukan suatu cara untuk tetap menjaga keberlangsungannya dengan melihat masyarakat yang kebanyakan juga menggunakan media sosial. Oleh sebab itu, media massa yang digunakan juga harus sesuai dengan yang diminati masyarakat digital agar mampu tetap bertahan untu mempertahankan loyalitas pendengarnya.

Sesuai dengan faktor penunjang dalam teori Niche, penelitian ini ingin mengetahui dan melihat apakah media sosial menjadi salah satu penunjang kompetisi media radio Xchannel di Kota Serang. Seperti yang telah disampaikan bahwa, media yang ingin bertahan harus beradaptasi. Karena radio di Kota Serang mulai menggunakan media sosial, peneliti ingin melihat peran media sosial yang digunakan dalam upaya mempertahankan media radio tersebut.

Dokumen terkait