TINJAUAN PERILAKU SEKSUAL MENYIMPANG DALAM SUDUT PANDANG PSIKOLOGI KRIMINAL
B. Teori Psikologi Kriminal Terhadap Kejahatan
Menurut ahli-ahli ilmu jiwa dalam bahwa kejahatan merupakan salah satu tingkah laku manusia yang melanggar hukum di tentukan oleh instansi-instansi yang terdapat pada diri manusia itu sendiri. Maksudnya tingkah laku manusia pada dasarnya di sadari oleh basic needs yang menentukan aktivitas manusia itu.42
Dalam mengidentifikasi permasalahan mengenai adanya kecenderungan individu untuk berprilaku kriminal adalah dengan menggunakan teori-teori psikologi yang berpangkal pada pendekatan transorientasional mencakup proses
42
penilaian sosial (social judgement), proses pemberian sifat (atribution), proses kelompok (group process) serta teori peran.43
a. Teori perbandingan sosial
Adapun mengenai teori-teori tersebut adalah sebagai berikut :
44
Pada dasarnya teori ini berpendapat bahwa proses saling mempengaruhi dan Perilaku saling bersaing dalam interaksi sosial ditimbulkan oleh adanya kebutuhan untuk menilai diri sendiri (self
evaluation) dan kebutuhan ini dapat dipenuhi dengan membandingkan
diri dengan orang lain; b. Teori inferensi45
Teori ini pada dasarnya mencoba untuk menerangkan kesimpulan pengamatan terhadap perilaku tertentu dari orang lain atau niat (jahat) dari orang lain tersebut;
Berdasarkan penelaahan kedua teori diatas diketahui bahwa pemahaman akan orientasi permasalahan psikologi kriminal adalah terhadap terjadinya persaingan dalam proses interaksi sosial dimana dilakukan dengan pengamatan yang diorientasikan terhadap adanya identifikasi unsur sikap jahat atau mens rea dari individu.
Tinjauan psikologi dalam dapat dikategorikan sebagai pisau analisis dalam memahami tingkah laku individu yang memilki kerentanan untuk berprilaku jahat,
43
Sarlito Wirawan Sarwono, Log.Cit, hal 169
44
Festinger, Comparative Social Phsychology Theorie, (Jakarta : Gramedia, 2001), hlm. 170
45
berdasarkan hal tersebut Sigmund Freud mengungkapkan teori mengenai
structure personality sebagai berikut :46
a. Das Es atau Id, merupakan sumber gejala sesuatu yang terlupa dan
unsur-unsur kejiwaan yang dibawa bersama lahir adalah merupakan kekuatan-kekuatan hidup seperti nafsu, dan instink yang terlupa.
b. Das Ich atau Ego, merupakan pusat seluruh perawakan jiwa dan
khususnya inti daripada alam sadar.
c. Das uber ich atau superego, merupakan instansi puncak jika
dibandingkan dengan instansi yang lain (das es dan das ich), segala norma-norma dan tata kehidupan yang pernah mempengaruhi das ich membekas dan berada pada das uber ich
Ketiga unsur personality diatas meruapakan unsur yang saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu sama lain.
Setelah mempelajari mengenai unsur personality diatas diketahui bahwa seseorang yang melakukan perilaku terlarang karena hati nurani, atau superego begitu lemah atau tidak sempurna sehingga ego nya (yang berperan sebagai suatu penengah antara superego dan id) tidak mampu mengontrol dorongan-dorongan dari id (bagian dari kepribadian yang mengandung keinginan dan dorongan yang kuat untuk dipuaskan dan dipenuhi).
Berkaitan dengan studi mengapa individu memiliki kecenderungan untuk berprilaku disasosiatif terhadap kondisi di lingkungannya dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang di identifikasikan sebagai perbuatan jahat, para tokoh
46
psikologi mempertimbangkan suatu variasi dan kemungkinan cacat dalam kesadaran, ketidak matangan emosi, sosialisasi yang tidak memadai di masa kecil, kehilangan hubungan dengan lingkungan, perkembangan moral yang lemah.47
Kejahatan memiliki keterkaitan dengan kondisi individu penjahat, terdapat teori-teori yang mengemukakan variabel mengapa individu berperilaku jahat yaitu sebagai berikut :
Para sarjana psikologi tersebut mengkaji bagaimana agresi di pelajari, situasi apa yang mendorong kekerasan atau reaksi delinquent, bagaimana kejahatan berhubungan dengan faktor-faktor kepribadian, serta asosiasi antara beberapa kerusakan mental dan kejahatan.
48
a. Teori psikis, berdasarkan teori ini dijelaskan bahwa sebab-sebab kejahatan dihubungkan dengan kondisi kejiwaan seseorang
b. Teori psikopati, berbeda dengan teori-teori yang menekankan pada intelegensia ataupun kekuatan mental pelaku, teori psikopati mencari sebab-sebab kejahatan dari kondisi jiwa yang abnormal. Seorang penjahat di sini terkadang tidak memilki kesadaran atas kejahatan yang telah diperbuatnya sebagai akibat gangguan jiwanya.
c. Teori kejahatan sebagai gangguan kepribadian digunakan untuk menjelaskan perilaku yang dikategorikan sebagai crime without victim (kejahatan tanpa korban)
Sementara itu berdasarkan definisi yang dikemukakan oleh ajaran klasik yang didasarkan pada orientasi hedonistic psychology, menurut ajaran ini manusia
47
Topo Santoso,dkk, Log.Cit, hlm. 36
48
mengatur tingkah lakunya atas dasar pertimbangan suka dan duka. Suka yang diperoleh dari tindakan tertentu dibandingkan dengan duka yang diperoleh dari tindakan yang sama. Si petindak diperkirakan berkehendak bebas dan menentukan pilihannya berdasarkan perhitungan hedonistis saja. Hal ini dianggap penjelasan final dan komplit dari sebab musabab terjadinya perbuatan menyimpang yang dikategorikan sebagai kejahatan.49
Berdasarkan alur penelitian psikologis yang berbeda telah menguji hubungan antara kepribadian dengan kejahatan. Pertama, melihat pada perbedaan- perbedaan antara struktur kepribadian (structure personality) dari penjahat dan bukan penjahat. Kedua, memprediksi tingkah laku. Ketiga, menguji tingkatan diamana dinamika-dinamika kepribadian moral beroperasi dalam diri penjahat dan keempat, mencoba menghitung perbedaan-perbedaan individual antara tipe-tipe dan kelompok-kelompok pelaku kejahatan.50
Pendekatan psychoanalitic masih tetap menonjol dalam menjelaskan baik fungsi normal maupun fungsi asosial, tiga prinsip dasar dari pendekatan ini menarik kalangan psikologis yang mempelajari kejahatan, yaitu tindakan dan tingkah laku orang dewasa dapat dipahami dengan melihat pada perkembangan masa anak-anak mereka, tingkah laku dan motif-motif bawah sadar adalah jalinan dan interaksi itu mesti diuraikan bila kita ingin mengerti kejahatan, kejahatan pada dasarnya merupakan representasi dari konflik psikologis dalam diri individu yang tidak dapat dikendalikan atau di kontrol.51
49
Topo Santoso, dkk, Ibid, hlm. 28
50
George Boeree, Log.Cit, hlm. 93
51