Dalam berbagai bidang pembangunan, agar suatu tujuan dapat tercapai secara efisien diperlukan alokasi sumberdaya secara optimal. Sumberdaya tersebut dapat berupa sumberdaya modal fisik, sumberdaya modal manusia dan sumberdaya alam. Dalam konteks ini, migrasi adalah suatu bentuk realokasi sumberdaya modal manusia (Ananta 1986).
Model yang sering digunakan untuk menganalisis mobilitas penduduk di suatu wilayah adalah model dorong-tarik (push-pull factors), yang dikembangkan oleh Everett S. Lee. Model dorong-tarik ini menyatakan penyebab utama seseorang pindah ke daerah lain adalah karena kondisi sosial ekonomi di daerah asal yang tidak memungkinkan untuk memenuhi kebutuhannya (needs). Karenanya, prasyarat utama yang akan mendorong seseorang untuk pindah adalah adanya perbedaan nilai kefaedahan wilayah (place utility) antara daerah asal dengan daerah tujuan. Daerah tujuan harus mempunyai nilai kefaedahan wilayah yang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah asal. Dengan kata lain, jika dikaitkan dengan pembangunan, berdasarkan kerangka model ini dapat dikemukakan bahwa ketimpangan pembangunan antar daerah merupakan faktor yang menjadi pemicu mobilitas penduduk (Junaidi & Hardiani 2009).
Terdapat empat kelompok faktor yang mempengaruhi orang mengambil keputusan untuk bermigrasi dan proses migrasi, yaitu (Lee 1992): yaitu (1) Faktor-faktor yang terdapat di daerah asal; (2) Faktor – faktor yang terdapat di daerah tujuan; (3) Penghalang antara; dan (4) Faktor – faktor pribadi. Tiga kelompok faktor yang pertama secara skematis dapat dilihat pada gambar 5.
Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi orang untuk menetap di suatu daerah atau menarik orang untuk pindah ke daerah tersebut. Selain itu, terdapat juga faktor-faktor yang memaksa seseorang untuk meninggalkan daerah tersebut. Keseluruhan faktor-faktor ini ditunjukkan dalam Gambar 5 dengan tanda (+) dan (-). Faktor-faktor lain yang ditunjukkan dengan tanda (0) ialah faktor-faktor netral
yang tidak mempengaruhi keputusan seseorang untuk menetap atau pindah dari daerah tersebut.
Gambar 5 Faktor daerah asal dan daerah tujuan serta penghalang antara dalam migrasi.
Sumber: Lee (1992).
Beberapa faktor mempunyai pengaruh yang sama terhadap beberapa orang, tetapi terdapat juga faktor yang berpengaruh berbeda terhadap seseorang. Oleh karenanya akan terdapat perbedaan sikap antara setiap migran dan calon migran terhadap faktor + dan -, yang terdapat baik di daerah asal maupun daerah tujuan. Sebagai contoh, bagi orang tua yang mempunyai banyak anak kecil, akan memberikan nilai + pada daerah dengan fasilitas pendidikan dan kesehatan yang bagus meskipun biaya hidup relatif mahal di daerah tersebut (misalnya karena harga/sewa rumah relatif mahal). Sementara bagi orang yang hidup sendiri mungkin tidak terpengaruh untuk tinggal di daerah tersebut, karena tidak ada anak yang harus disekolahkan.
Keputusan bermigrasi dalam konteks ini merupakan hasil perbandingan faktor-faktor yang terdapat di daerah asal dan di daerah tujuan. Selain itu, diantara dua tempat tersebut selalu terdapat sejumlah rintangan yang dalam keadaan- keadaan tertentu tidak terlalu berat, tetapi dalam keadaan-keadaan lain tidak dapat diatasi. Yang paling utama diantara rintangan-rintangan tersebut adalah jarak.
Sejumlah rintangan yang sama dapat menimbulkan pengaruh yang berbeda-beda pada masing-masing individu, yang akan mempengaruhi keputusan migrasinya. Selain itu, masih banyak faktor pribadi yang berpengaruh terhadap seseorang yang akan pindah, faktor-faktor itu dapat mempermudah atau memperlambat migrasi. 0 + - + 0 + - + 0 - 0 + - 0 + + + 0 - - 0 + - + 0 + - + 0 - 0 + - 0 + + + 0 - -
Daerah Asal Daerah Tujuan
Dari berbagai faktor tersebut, Todaro dan Smith (2008) mengemukakan bahwa motivasi utama seseorang untuk pindah adalah motif ekonomi, yakni karena adanya ketimpangan ekonomi antara berbagai daerah. Motif utama tersebut sebagai pertimbangan ekonomi yang rasional, dimana mobilitas mempunyai dua harapan, yaitu harapan untuk memperoleh pekerjaan dan harapan untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi dari pada yang diperoleh di daerah asal.
Berdasarkan hal tersebut terlihat bahwa migrasi pada dasarnya adalah suatu mekanisme penyeimbang yang akan memindah manusia dari suatu tempat yang relatif kurang dimanfaatkan ke daerah yang relatif lebih dapat dimanfaatkan. Mekanisme pasar akan mengatur perpindahan atau alokasi sumberdaya modal manusia sehingga ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran dapat dikurangi. Meskipun demikian menurut Ananta (1986) mekanisme pasar memiliki kelemahan utama yaitu hanya tergantung pada visi individu, tanpa melihat visi dalam lingkup yang lebih luas yang akan menguntungkan masyarakat banyak (termasuk dirinya sendiri). Para migran tidak akan berpikir apakah kepindahannya ke suatu daerah akan membantu mengurangi kemiskinan di daerahnya atau bahwa berpindahnya akan mendorong pembangunan ekonomi di daerah yang dituju. Hal ini menjadi faktor penjelas fenomena terjadi migrasi dari desa ke kota atau daerah jarang penduduk ke daerah padat penduduk, meskipun di kota atau daerah padat penduduk belum tentu terdapat banyak peluang pekerjaan.
Dalam konteks kegagalan mekanisme pasar, maka perlu campur tangan pemerintah untuk membuat migrasi berjalan di arah yang benar. Salah satu bentuk campur tangan tersebut adalah pelaksanaan program transmigasi. Campur tangan pemerintah dalam hal ini adalah memperbaiki tanda yang diberikan oleh mekanisme pasar dengan membangun daerah tujuan transmigrasi dengan berbagai fasilitas serta dukungan finansial dan non-finansial kepada transmigran sehingga calon migran tertarik untuk pindah ke daerah tujuan transmigrasi.
Selanjutnya terkait dengan konsep pembangunan daerah tujuan transmigrasi (kawasan transmigrasi), secara umum, terdapat enam teori utama yang mendasarinya yaitu teori tempat sentral (central place theory), teori kutub pertumbuhan (growth pole theory), teori aglomerasi, teori kutub pembangunan
terlokalisasikan (localized poles of development), teori ekonomi geografi baru dan teori simpul-simpul jasa distribusi. Teori tempat sentral diturunkan dari karya Christaller pada Tahun 1933 (Rustiadi et al. 2009). Menurut teori tempat sentral, distribusi penduduk secara spasial tersusun dalam sistem pusat hierarki dan kaitan-kaitan fungsional ini. Teori tempat sentral menganggap bahwa ada hierarki tempat. Setiap tempat sentral didukung oleh sejumlah tempat yang lebih kecil yang menyediakan sumber daya (industri dan bahan baku). Tempat sentral merupakan pemukiman yang menyediakan jasa-jasa bagi penduduk daerah yang mendukungnya.
Komponen dasar dari sistem tempat sentral adalah hierarki, penduduk ambang dan lingkup pasar. Penduduk ambang adalah jumlah minimum penduduk yang harus ada untuk dapat menopang kegiatan jasa. Lingkup pasar dari suatu kegiatan jasa adalah kesediaan orang untuk menempuh jarak tertentu untuk mencapai tempat penjualan jasa tersebut. Tingkat tempat sentral tergantung pada jasa yang tersedia di lokasi tersebut sehingga membentuk tingkat rendah sampai tingkat tinggi.
Selanjutnya teori kutub pertumbuhan pertama kali diperkenalkan oleh Fancois Perroux pada Tahun 1949 (Mercado 2002). Kutub pertumbuhan didefinisikan sebagai “pusat dari pancaran gaya sentrifugal dan tarikan gaya sentripetal”.
Salah satu unsur fundamental dalam pengembangan wilayah adalah keberadaan pusat. Dalam konteks ini, konsep titik pertumbuhan (growth point concept) merupakan mata rantai antara struktur daerah-daerah nodal yang berkembang dengan sendirinya dan perencanaan fisik dan regional. Selanjutnya menurut Haruo (2000), dalam rangka mendorong pertumbuhan di negara-negara berkembang, maka disarankan strategi pengembangan wilayah dalam bentuk pengkonsentrasian investasi pada sejumlah kutub pertumbuhan yang terbatas.
Terkait dengan titik pertumbuhan ini, Friedman dan Alonso (1964) diacu dalam Stimson et al. (2002) melahirkan konsep yang dikenal dengan sebutan interaksi antara inti dan tepi (core and periphery interaction). Pembangunan berawal dari sejumlah relatif sedikit pusat-pusat perubahan (centre of change) yang terletak di titik-titik interaksi yang berpotensi tinggi dalam batas atau bidang
jangkauan komunikasi. Daerah-daerah inti (core regions) tersebut merupakan pusat-pusat utama dari pembaharuan. Sementara wilayah-wilayah teritorial lainnya merupakan daerah-daerah tepi/pinggiran (periphery regions) yang berada jauh dari pusat perubahan, yang tergantung kepada daerah-daerah inti.
Dengan demikian konsep titik pertumbuhan itu merupakan mata rantai penghubung antara struktur wilayah-wilayah nodal yang berkembang dengan sendirinya dengan perencanaan fisik dan wilayah. Akan tetapi, kutub pertumbuhan tidak hanya merupakan lokalisasi dari industri-industri inti. Kutub pertumbuhan harus juga mendorong ekspansi yang besar di daerah sekitar, dan karenanya efek polarisasi strategi adalah lebih menentukan dari pada perkaitan- perkaitan antarindustri.
Pendapatan di daerah pertumbuhan secara keseluruhan akan mencapai maksimum apabila pembangunan dikonsentrasikan pada titik-titik pertumbuhan dibandingkan jika terpencar di seluruh daerah. Dengan demikian, interaksi antara masing-masing titik pertumbuhan dan daerah pengaruhnya adalah unsur yang panting dalam teori ini. Interaksi ini mempunyai beberapa aspek sebagai berikut:
Pertama, interaksi ini akan menimbulkan ketidak seimbangan struktural di
daerah yang bersangkutan. Jika suatu titik pertumbuhan digandengkan dengan pembangunan suatu kompleks industri baru, maka kompleks tersebut akan ditempatkan di sekitar titik pertumbuhan. Memang harus diakui industri-industri penyuplai di daerah pengaruh tentu akan ikut terdorong berkembang, tetapi perbedaan yang besar dalam kemakmuran antara titik pertumbuhan dan daerah yang mengitarinya akan tetap terdapat. Selanjutnya di luar perbatasan daerah pengaruh, tingkat pendapatan dapat mengalami stagnasi dan daerah mengalami kemunduran.
Kedua, industri-industri penggerak (propulsive industries) di kutub
pertumbuhan adalah industri-industri ekspor yang melayani pasar-pasar ekstra regional. Teori titik pertumbuhan secara implisit bersumber pada konsep basis ekspor tetapi dengan memberinya dimensi ruang, karena industri-industri inti (key industries) berlokasi pada titik pertumbuhan sedangkan industri-industri suplai, tenaga kerja, bahan-bahan mentah dan pelayanan-pelayanan dapat terpencar- pencar di seluruh daerah pengaruh. Pendapatan yang terima di daerah pengaruh
bersal dari penerimaan faktor terutama upah yang diperoleh para pekerja yang tinggal di daerah pengaruh tetapi bekerja di titik pertumbuhan. Salah satu perbedaan antara titik pertumbuhan dan daerah pengaruhnya adalah bahwa titik pertumbuhan dapat dianggap sebagai pasar tenaga kerja sentral dan daerah pengaruhnya sebagai daerah sumber tenaga kerja.
Ketiga, fungsi tempat sentral dari titik pertumbuhan dapat memperjelas
hubungan antartitik pertumbuhan dan daerah pengaruhnya. Tersedianya pelayanan sentral adalah salah satu keuntungan aglomerasi yang penting pada titik pertumbuhan. Tetapi, secara konsepsional, titik pertumbuhan dan tempat sentral tidaklah identik. Tempat-tempat sentral banyak sekali dan tersusun dalam suatu hierarki, sedangkan titik pertumbuhan hanya sedikit dan dalam beberapa hal hanya satu di suatu daerah.
Konsep kutub pertumbuhan pada dasarnya mempunyai pengertian tata ruang secara abstrak. Suatu kutub berarti suatu pengelompokan atau konsentrasi unsur- unsur dan Perroux menganggap tata ruang secara abstrak yang menekankan karakteristik regional tata ruang ekonomi. Terkait dengan hal tersebut, Boudeville (1961) diacu dalam Adisasmita (2008) mengemukakan teori kutub pembangunan yang terlokalisasikan (localized poles of development). Menurut Boudeville tata ruang ekonomi tidak dapat dipisahkan dari tata ruang geografis.
Teori Boudeville berusaha menjelaskan mengenai impak pembangunan dari adanya kutub-kutub pembangunan yang terlokalisasikan pada tata ruang geografis. Ia mendefinisikan kutub pertumbuhan wilayah sebagai seperangkat industri-industri sedang berkembang yang berlokasi di suatu daerah perkotaan dan mendorong pertumbuhan lebih lanjut perkembangan ekonomi melalui wilayah pengaruhnya.
Teori Boudeville ini juga dianggap mampu menjembatani teori-teori tempat sentral dan teori kutub pertumbuhan. Teori tempat sentral hanya menjelaskan adanya pola pusat-pusat tertentu pada tata ruang geografis dan tidak membahas adanya perubahan pola-pola tersebut. Teori kutub pertumbuhan lebih menjelaskan pembangunan industri dan perubahan-perubahan pada tata ruang industri. Dengan kata lain lebih melihaat perubahan-perubahan struktural tetapi kurang menjelaskan pengelompokan pada tata ruang geografis. Dalam konteks ini, teori
Boudeville menjelaskan tidak hanya mengenai pengelompokan geografis semata tetapi juga peristiwa-peristiwa geografis dan transmisi pembangunan diantara pengelompokan-pengelompokan tersebut. Hal ini berkaitan dengan hirarkie wilayah yang selanjutnya dapat digunakan sebagai landasan untuk memahami pusat-pusat kota dan saling ketergantungannya.
Pengkonsentrasian investasi pada sejumlah titik pertumbuhan yang terbatas, pada dasarnya mengacu pada konsep aglomerasi. Konsep aglomerasi industri pertama kali dibahas secara eksplisit oleh Alfred Weber pada tahun 1909 dalam analisis teori lokasi industri. Weber berusaha menetapkan lokasi industri yang optimal dalam arti pemilihan lokasi yang mempunyai biaya minimal. Lokasi dengan biaya minimal tersebut mungkin berorientasi pada tersedianya tenaga kerja atau transportasi ataupun ditentukan oleh keuntungan-keuntungan yang ditimbulkan oleh aglomerasi. Kekuatan aglomerasi terdiri atas minimum besarnya pabrik yang efisien dan keuntungan-keuntungan eksternal (Adisasmita 2008).
Malmberg dan Maskell (1997) mengemukakan aglomerasi berkaitan dengan konsentrasi spasial dari penduduk dan kegiatan-kegiatan ekonomi. Ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Montgomery (1988) bahwa aglomerasi adalah konsentrasi spasial dari aktivitas ekonomi di kawasan perkotaan karena penghematan akibat lokasi yang berdekatan (economies of proximity) yang diasosiasikan dengan kluster spasial dari perusahaan, para pekerja dan konsumen.
Keuntungan-keuntungan konsentrasi spasial sebagai akibat dari ekonomi skala disebut dengan ekonomi aglomerasi (agglomeration economies) (Mills & Hamilton 1989). Ekonomi aglomerasi juga berkaitan dengan eksternalitas kedekatan geografis dari kegiatan-kegiatan ekonomi, dan ekonomi aglomerasi merupakan suatu bentuk dari eksternalitas positif dalam produksi yang merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya pertumbuhan kota (Bradley & Gans 1998). Ekonomi aglomerasi diartikan sebagai penurunan biaya produksi karena kegiatan-kegiatan ekonomi berlokasi pada tempat yang sama. Alfred Marshall menggunakan istilah localized industry sebagai pengganti istilah ekonomi aglomerasi. Hoover juga membuat klasifikasi ekonomi aglomerasi menjadi 3 jenis yaitu large scale economies merupakan keuntungan yang diperoleh perusahaan karena membesarnya skala produksi perusahaan tersebut
pada suatu lokasi, localization economies merupakan keuntungan yang diperoleh bagi semua perusahaan dalam industri yang sama dalam suatu lokasi dan
urbanization economies merupakan keuntungan bagi semua industri pada suatu lokasi yang sama sebagai konsekuensi membesarnya skala ekonomi dari lokasi tersebut. Berbeda dengan pendapat para ahli ekonomi yang lain, O’Sullivan (2009) membagi ekonomi aglomerasi menjadi dua jenis yaitu ekonomi lokalisasi dan ekonomi urbanisasi. Dalam hal ini ekonomi aglomerasi adalah eksternalitas positif dalam produksi yaitu menurunnya biaya produksi sebagian besar perusahaan sebagai akibat dari produksi perusahaan lain meningkat.
Dalam konteks teori ekonomi geografi baru, dapat dikemukakan bahwa dalam jangka waktu yang lama, para ekonom telah mengabaikan konsep semacam jarak, ruang dan biaya transportasi dalam analisis-analisisnya terhadap ketidakmerataan pembangunan secara regional. Pada Tahun 1950an dan 1960an, Myrdal, Hirschman, Kaldor dan lainnya menjelaskan mengenai pembangunan spasial yang tidak merata melalui konsep cumulative causation (O‘Hara 2002; Mac.Kinnon 2008). Ekonomi geografi Marxist pada 1980-an mengemukakan ketidakmerataan pembangunan regional sebagai proses historis. Massey (1984) mengemukakan pembagian tenaga kerja secara spasial terutama disebabkan adanya transformasi dan perebutan dalam politik, lebih dari sekedar faktor perekonomian.
Ketidakmerataan pembangunan secara regional ini menurut model ekonomi geografi baru memiliki elemen-elemen berikut. Pertama, penekanan penyebab konsentrasi yang tidak berhubungan dengan sumber daya alam bawaan (natural endowment). Kedua, penekanan interaksi antara pasar yang berbeda, antara perusahaan, supplier dan konsumennya, dan peranan ganda dari pekerja sebagai faktor produksi dan konsumen. Ketiga, kekuatan sentripetal yang mendorong konsentrasi geografis lebih lemah dibandingkan kekuatan sentrifugal. Keempat, pentingnya fondasi mikro. Khususnya, ekternalitas positif tidak diasumsikan, tetapi diturunkan dari saling mempengaruhi antara biaya transportasi, peningkatan skala pengembalian dan mobilitas faktor.
Dalam teori ekonomi geografi baru, terdapat dua kekuatan utama penyebab aktivitas ekonomi terkonsentrasi secara geografis, yaitu kekuatan sentripetal dan
sentrifugal (Krugman 1998). Menurut Belke dan Heine (2004) kekuatan ini memiliki dampak signifikan terhadap keputusan faktor produksi yang begerak (mobil) untuk beraglomerasi atau deglomerasi secara geografi. Kekuatan sentripetal atau sentrifugal ini ditentukan oleh derajat integrasi, atau lebih tepatnya oleh besarnya biaya transportasi.
Sumber kekuatan sentripetal adalah efek ukuran pasar (keterkaitan atau
linkages), pasar kerja yang besar dan ekonomi eksternal murni (pure external economies). Pasar lokal yang besar menciptakan backward linkages (pasar yang besar adalah tempat yang lebih disukai untuk produksi barang karena skala ekonomi) dan forward linkages (pasar yang besar mendukung produksi lokal untuk barang-barang antara (intermediate goods), menurunkan biaya untuk industri hilir. Konsentrasi industri didukung oleh pasar kerja yang besar, terutama untuk keahlian khusus, sehingga tenaga kerja lebih mudah menemukan pekerjaan dan sebaliknya. Konsentrasi aktivitas ekonomi ini akan menciptakan lebih banyak (atau lebih sedikit) ekonomi eksternal murni melalui ketersediaan informasi. Selanjutnya, sumber kekuatan sentrifugal adalah faktor-faktor yang tidak bergerak (immobile factors), harga/sewa lahan (land rents) dan ekonomi dis-eksternal murni (pure external diseconomies). Faktor-faktor yang tidak bergerak (tanah dan sumber daya alam, dan dalam konteks internasional adalah penduduk) menghalangi konsentrasi produksi, baik dari sisi penawaran (beberapa produksi harus berlokasi di tempat pekerjanya) dan dari sisi permintaan (faktor yang terpisah-pisah menciptakan suatu pasar yang terpisah-pisah, dan beberapa produksi memiliki insentif untuk berlokasi dekat konsumen). Konsentrasi aktivitas ekonomi menciptakan peningkatan permintaan lahan, meningkatkan harga lahan dan dengan demikian menyebabkan suatu disinsentif untuk konsentrasi ke depan. Konsentrasi aktivitas ekonomi dapat menyebabkan lebih banyak (atau lebih sedikit) ekonomi dis-eksternal murni seperti kemacetan (congestion).
Selanjutnya, dalam konteks perekonomian dan perdagangan internasional, teori ekonomi geografi baru mengemukakan bahwa perbedaan antara negara industri dan non-industri, dapat dijelaskan sebagai hasil dari proses penurunan biaya perdagangan. Suatu konsep dasar diperkenalkan oleh Krugman dan
Venables (1995). Keduanya berasumsi bahwa semua faktor adalah bersifat tidak dapat bergerak antarnegara. Proses akumulasi terjadi melalui perbedaan antara pengembalian hasil tetap (constant-return) sektor pertanian dengan pengembalian hasil yang meningkat (increasing-return) sektor industri, baik yang menggunakan maupun menghasilkan input antara. Ide dasarnya adalah produsen barang-barang antara dalam suatu daerah dengan sektor industri yang besar akan memiliki akses yang besar ke pasar yang besar yang diberikan oleh industri hilir (backward linkage), sementara produsen ini (industri hilir) sebaliknya akan memiliki keuntungan akses yang lebih baik ke barang-barang antara yang dihasilkan di negara mereka sendiri (forward linkage).
Dalam contoh kasus, misalnya di dunia hanya ada dua negara yang identik dalam hal biaya transportasi barang-barang industri antarnegara tersebut. Jika biaya transportasi tinggi, masing-masing negara akan mencukupi dirinya sendiri. Tetapi jika terjadi penurunan biaya transportasi, akan meningkatkan kemungkinan perusahaan untuk mengekspor ke negara lain. Karenanya, negara yang memiliki sektor manufaktur yang lebih besar, akan mendapatkan keuntungan akses lebih baik, baik ke pasar maupun supplier. Jadi ketika biaya transpor turun, akan terjadi proses diferensiasi antara negara, dengan negara yang memiliki konsentrasi industi akan menjadi inti (core), sedangkan negara dengan produksi primer akan terdegradasi menjadi pinggiran (periphery).
Model yang sama memprediksi penurunan yang berlanjut dalam biaya transpor akan menghasilkan pembalikan nasib. Alasannya, daerah periphery
memiliki keuntungan kompetitif dalam bentuk upah murah. Keuntungan ini lebih diimbangi oleh akses yang kuat dari negara maju terhadap pasar (backward linkage) dan input (forward linkages). Namun, penurunan biaya transportasi menyebabkan penurunan juga dari pentingnya keterkaitan ini. Jadi, terdapat titik kritis kedua di mana industri menemukan keuntungan untuk bergerak ke lokasi upah yang lebih murah.
Untuk menjelaskan ketidakseimbangan regional pada negara-negara berkembang, model ini juga dapat digunakan. Dalam mengkonversi analisis core- periphery dalam perbedaan regional, maka pekerja diasumsikan sebagai faktor yang bisa berpindah-pindah seperti kapital dan tenaga kerja trampil, dan
mengasumsikan bahwa pekerja tidak terampil adalah relatif faktor yang tidak bergerak. Dengan skala ekonomi yang besar dan biaya transpor yang tinggi, akan menghasilkan keseimbangan core-periphery yang dapat memiliki perbedaan yang besar dari upah faktor-faktor yang tidak bergerak.
Melalui perspektif geografi ekonomi, Bank Dunia dalam laporan pembangunan dunia Tahun 2009 (WB 2009) menyoroti ketimpangan melalui tiga dimensi yang dikenal dengan istilah 3D, yaitu konsentrasi kegiatan ekonomi (density), aspek jarak (distance) dan pembagian/pemisahan geografis sebagai faktor penghalang terjadinya integrasi ekonomi (division).
Kepadatan atau densitas menunjuk pada massa atau agregat ekonomi per unit lahan, atau kepadatan geografis ekonomi. Kepadatan adalah tingkat output
yang diproduksi (dan karenanya pendapatan yang diperoleh) per unit lahan. Nilainya tertinggi di kota-kota besar di mana aktivitas ekonomi terkonsentrasi dan lebih rendah di lingkungan-lingkungan pedalaman.
Mengingat kepadatan ekonomi yang tinggi membutuhkan konsentrasi tenaga kerja dan modal secara geografis, kepadatan ekonomi terkait erat dengan pekerjaan dan kepadatan penduduk. Oleh karenanya, kepadatan populasi kadang kala digunakan sebagai nilai pengganti dari kepadatan ekonomi ini.
Jarak mengukur seberapa mudah modal mengalir, tenaga kerja berpindah, barang diangkut, dan layanan disediakan antara dua lokasi. Jarak dalam pengertian ini merupakan sebuah konsep ekonomi, bukan semata-mata fisik. Terkait dengan jarak ekonomi, maka jarak mengukur seberapa mudahnya menjangkau pasar. Ini menentukan akses terhadap kesempatan. Daerah yang jauh dari pusat-pusat yang ekonominya padat di suatu negara biasanya lebih tertinggal.
Untuk perdagangan barang dan jasa, jarak mencakup waktu dan biaya moneter. Penempatan dan kualitas infrastruktur transportasi dapat mempengaruhi jarak ekonomi antara dua area, meskipun jarak euclidean (garis-lurus) antara area tersebut adalah sama. Selanjutnya untuk mobilitas tenaga kerja, jarak juga mencakup “biaya fisik” karena keterpisahan dari wilayah yang sudah dikenalnya. Seperti pada perdagangan, jarak ekonomi untuk migrasi terkait, tetapi tidak sama artinya, dengan jarak fisik. Hambatan-hambatan yang dibuat manusia, termasuk
kebijakan, juga dapat meningkatkan jarak, seperti pungutan liar dan “uang keamanan”.
Wilayah yang maju memiliki kepadatan ekonomi tinggi, sementara daerah