BAB I: PENDAHULUAN
E. Tinjauan Kepustakaan
4. Tindak Pidana Lingkungan Hidup
50
48Gustav Redbruch sebagaimana dikutip oleh Sudikno Mertokusumo, 1999, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, Liberty, Yogyakarta, hlm. 15.
49Bambang Sutiyoso, 2009, Metode Penemuan Hukum Upaya Mewujudkan Hukum yang Pasti dan Berkeadilan, UII Pres, Yogyakarta, hlm. 6.
50 Secara etimologis kata Tindak Pidana dan Lingkungan Hidup berasal dari kata:
Dalam setiap tindak pidana yang
a) Istilah Tindak Pidana merupakan istilah teknis-yuridis dari kata bahasa Belanda Strafbaar Feit atau Delict dengan pengertian perbuatan yang dilarang oleh peraturan hukum pidana dan tentu saja dikenakan sanksi pidana bagi siapa saja yang melanggarnya.
Dalam kepustakaan ilmu hukum pidana istilah Strafbaar Feit atau Delict ini ada yang menterjemahkannya dengan istilah-istilah:
1. Tindak Pidana, istilah resmi dalam perundang-undangan pidana kita seperti Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi, Undang-Undang Tindak Pidana Terorisme dan seterusnya.
2. Perbuatan Pidana (Moeljatno, 2008, Asas-asas Hukum Pidana, Rineka Cipta, Jakarta, hlm. 3.
3. Perbuatan Kriminal menurut A. Z. Abidin, istilah ‘perbuatan pidana’ yang dipakai oleh Moeljatno kurang tepat karena dua kata benda bersambungan, yaitu
‘perbuatan’ dan ‘pidana’ (Lihat Andi Hamzah, 2015, Hukum Pidana, PT.
Sofmedia, Jakarta, hlm. 119).
4. Peristiwa Pidana, Prof. Drs. E. Utrecht, SH mempergunakan istilah ‘peristiwa pidana’ dikarenakan menerjemahkan istilah ‘feit’ menjadi peristiwa, tetapi Moeljatno menolak istilah ‘peristiwa pidana’ karena peristiwa itu adalah pengertian konkret yang hanya menunjuk kepada suatu kejadian yang tertentu saja (Lihat Andi Hamzah, 2015, Hukum Pidana, PT. Sofmedia, Jakarta, hlm.
118).
5. Delik, yang sebenarnya berasal dari bahasa latinDelictum. Istilah ini dapat dijumpai dalam berbagai literatur, misalnya Prof. DR. Jur. Andi Hamzah, SH (Andi Hamzah, 2012, Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia &
Perkembangannya, PT. Sofmedia, Jakarta, hlm. 118).
b) Istiah Lingkungan Hidup dalam bahasa asingnya disebut environment (bahasa Inggris), l’
evironnment (bahasa Prancis), umwelt (bahasa Jerman), Milieu (bahasa Belanda) secara harfiah diterjemahkan menjadi life environment namun pada kenyataannya selalu diterjemahkan sebagai enviment. Menurut Emil salim (1982:14-15) lingkungan hidup diartikan sebagai segala benda, kondisi, keadaan dan pengaruh yang terdapat dalam ruangan yang kita tempati yang mempengaruhi hal yang hidup termasuk kehidupan manusia. Menurut Danusaputro (1980:65) lingkungan adalah semua benda dan kondisi
dilakukan terdapat unsur-unsur tindak pidana.Unsur tindak pidana secara garis besar dibagi dalam dua macam unsur yaitu unsur yang bersifat objektif yakni unsur yang berada di luar keadaan batin manusia/si pembuat tentang perbuatannya, akibat perbuatan dan keadaan-keadaan tertentu yang melekat pada perbuatan dan objek tindak pidana.Kemudian unsur subjektif yakni unsur yang mengenai batin atau melekat pada keadaan batin orangnya. Unsur-unsur tindak pidana dapat juga dilihat setidak-tidaknya dari dua sudut pandang, yakni :51 (1) dari sudut teoritis; dan (2) dari sudut undang-undang. Teoritis artinya berdasarkan pendapat para ahli hukum, yakni yang tercermin pada bunyi rumusannya.
Menurut Moeljatno, unsur tindak pidana adalah:52
termasuk didalamnya manusia dan tingkah laku perbuatannya, yang terdapat dalam ruang dimana manusia berada dan mepengaruhi kelangsungan hidup serta kesejahteraan manusia dan jasad hidup lainnya. (lihat Prof. syamsul Arifin SH., M.H, 2014, Hukum Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup di Indonesia Edisi Revisi, PT.
Sofmedia, Jakarta, hlm. 47). Menurut UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dalam Pasal 1 ayat (1) adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain (Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, 2009, Fokus Media, Bandung). Fuad Amsyari mengelompokkan lingkungan hidup terdiri atas 3 (tiga) macam yakni :
(a) perbutan; (b) yang dilarang (oleh aturan hukum); (c) ancaman pidana (bagi yang melanggar larangan).
Sementara sudut undang-undang adalah bagaimana kenyataan tindak pidana itu dirumuskan menjadi tindak pidana tertetu daam pasal-pasal peraturan
perundang-1. Lingkungan fisik (physical environment), yaitu segala sesuatu yang di sekitar kita yang berbentuk benda mati, seperti rumah, kenderaan, gunung, udara, sianr matahari, dan lain-lain yang semacamnya;
2. Lingkungan biologis (biological environment), yaitu segala sesuatu yang berada di sekitar manusia yang berupa organisme hidup lainnya selain dari manusia sendiri, binatang, tumbuh-tumbuhan, jasad renik (plankton) dan lain-lain;
3. Lingkungan sosial (social environment), yaitu manusia-manusia lain yang berada di sekitarnya seperti tetangga, teman dan lain-lain (Lihat DR. Ruslan Renggong, SH., M.H, 2016, Hukum Pidana Khusus (Memahami Delik-delik di Luar KUHAP), Prenadamedia Group, Jakarta, hlm. 157).
51 Adami Chazawi, 2013, Pelajaran Hukum Pidana Bagian I, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, hlm. 79.
52Ibid.
undangan. Berdasarkan rumusan-rumusan tindak pidana tertentu dalam KUHP dapat diketahui adanya 11 unsur tindak pidana, yaitu:53
a. Unsur tingkah laku;
b. Unsur melawan hukum;
c. Unsur kesalahan;
d. Unsur akibat konstitutif;
e. Unsur keadaan yang menyertai;
f. Unsur syarat tambahan untuk dapatnya dituntut pidana;
g. Unsur syarat tambahan untuk memperberat pidana;
h. Unsur syarat tambahan untuk dapatnya dipidana;
i. Unsur objek hukum tindak pidana;
j. Unsur kualitas subjek hukum tindak pidana;
k. Unsur syarat tambahan untuk memperingan pidana.
Di dalam ilmu hukum pidana dikenal beberapa jenis tindak pidana, diantaranya adalah:54
1. Delik Materiil (materieel delict) delik yang dianggap telah selesai dengan ditimbulkannya akibat yang dilarang dan diancam dengan hukuman oleh undang-undang.
2. Delik Formil (formil delict) delik yang dianggap telah selesai dengan dilakukannya tindakan yang dilarang atau yang diancam dengan hukuman oleh undang-undang.
3. Delik Commisionis (delicta commisionis) delik yang berupa pelanggaran terhadap larangan-;aranagan di dalam undang-undang.
4. Delik Omissionis (delicta omissionis) delik yang berupa pelanggaran terhadap keharusan menurut undang-undang.
5. Dolus dan Culpa (opzettelijk delicten dan culpooze delicten) dolus adalah tindak pidana yang dilakukan dengan sengaja sedangkan Culpa adalah tindak pidana yang dilakukan dengan kelalaian atau kealpaan.
6. Delik Aduan (klachtdelicten) adalah tindak pidana yang hanya dituntut apabila ada pengaduan dari orang yang dirugikan.
Ketentuan hukum pidana dalam Undang-Undang Nomor. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Pasal 97-120
53Ibid., hlm. 82
54 Andi Hamzah, Op.Cit.,hlm. 226.
secara tegas menetapkan bahwa tindak pidana lingkungan termasuk kejahatan dan delik lingkungan dalam undang-undang tersebut meupakan delik materiil dan delik formil.55
“pengertian tindak pidana lingkungan hidup atau delik lingkungan adalah perintah dan larangan undang-undang kepada subyek hukum yang jika dilanggar diancam denganpenjatuhan sanksi-sanksi pidana, antara lain pemenjaraan dan denda dengan tujuan untuk melindungi lingkungan hidup secara keseluruhan maupun unsur-unsur dalam lingkungan hidup seperti hutan, satwa, lahan, udara, dan air serta manusia, oleh sebab itu, dengan pengertian ini delik lingkungan hidup tidak hanya ketentuan-ketentuan pidana yang dirumuskan dalam UUPPLH, tetapi juga ketentuan-ketentuan pidana yang dirumuskan dalam peraturan perundang-undangan lain sepanjang rumusan ketentuan itu ditujukan untuk melindungi lingkungan hidup secara keseluruhan atau bagian-bagiannya”.
Takdir Rahmadi menyatakan bahwa:
56
Pengertian tindak pidana lingkungan hidup sebagaimana diatur dalam Pasal 98 UUPPLH sampai Pasal 115 UUPPLH, melalui metode kontruksi hukum dapat diperoleh pengertian bahwa inti dari tindak pidana lingkungan hidup (perbuatan yang dilarang) adalah “mencemarkan atau merusak lingkungan”.
Konsep dasar tindak pidana lingkungan hidup yang ditetapkan sebagai tindak pidana umum (delict genus) dan mendasari pengkajiannya pada tindak pidana khususnya (delict species).
57
55Kejahatan atau rechtdelicten menurut Prof. Moeljatno adalah perbuatan-perbuatan yang meskipun tidak ditentukan dalam undang-undang, sebagai perbuatan pidana, telah dirasakan sebagai onrecht, sebagai perbuatan yang bertentangan dengan tata hukum (lihat Prof. Moeljatno, 2008, Asas-asas Hukum Pidana, Rineka Cipta, Jakarta, hlm. 78).
56Takdir Rahmadi, 2011, Hukum Lingkungan di Indonesia, PT. RajaGrafindo, Jakarta, hlm. 221.
57Kata “mencemarkan” dengan “pencemaran” dan “merusak” dengan “perusakan” adalah memiliki makna substansi yang sama, yaitu tercemarnya atau rusaknya lingkungan, tetapi keduanya berbeda dalam memberikan penekanan mengenai suatu hal yakni dengan kalimat aktif dan dengan kalimat pasif (kata benda) dalam proses menimbulkan akibat (lihat di Alvi Syahrin, 2011, Ketentuan Pidana Dalam UU No. 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, PT. Sofmedia, Jakarta, hlm. 35). Menurut Muhammad Erwin pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat energi, atau komponan lain ke dalam
Teknik perumusan tindak pidana lingkungan hidup begitu luas dan abstrak, hal ini dapat menyulitkan penegak hukum pidana lingkungan, sebab jika aparat penegak hukum (termasuk hakim) tidak peka dalam mengikuti perkembangan di bidang lingkungan hidup, akan dapat memberi peluang bagi penegak hukum untuk menyelewengkan hukum untuk kepentingan lain.58
1. Pencemaran air (air permukaan) akibat berbagai kegiatan sektor pembangunan (indrustri, pertambangan, perhotelan, rumah sakit, dan lain-lain);
Undang-Undang Republik Indonesia No. 32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan Hidup (UUPPLH) merupakan payung dari undang-undang sektoral lainnyadi bidang lingkungan hidup. Sehingga, rumusantindak pidana lingkungan hidup sangat berkaitan dengan industri, kehutanan, pertambangan, keanekaragaman hayati dan lain-lain. Adapun ruang lingkup perkara lingkungan hidup adalah:
2. Pencemaran udara dan gangguan (kebisingan, getaran, kebauan) akibat kegiatan sektor pembangunan (industri, pertambangan dan kegiatan lainnya);
3. Pengelolaan limbah B3 tanpa izin, tidak mengelola limbah B3, atau pembuangan limbah B3, impor limbah, B3 atau limbah B3;
lingkungan hidup oleh karena kegiatan manusia sehingga malampaui baku mutu lingkungan hidup yang telah ditetapkan, sedangkan perusakan lingkungan adalah tindakan orang yang menimbulkan perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik, kimia dan/atau hayati lingkungan hidup sehingga melampaui kriteria baku kerusakan lingkungan hidup (lihat di Muhammad Erwin, 2015, Hukum Lingkungan Dalam Sistem Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup di Indonesia, PT. Rafika Aditama, Bandung, hlm. 39).
58Alvi Syahrin,Beberapa Isu Hukum Lingkungan Kepidanaan,Op.Cit, hlm. 23.
4. Pencemaran air laut atau perusakan laut (terumbu karang, mangrove &
padang lamun);
5. Kerusakan lingkungan akibat illegal logging dan pembakaran hutan;
6. Kerusakan lingkungan akibat kegiatan pertambangan dan illegal mining;
7. Kerusakan lingkungan akibat alih fungsi lahan, usaha perkebunan illegal;
8. Pelanggaran tata ruang, pelanggaran tata ruang yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan.
Jenis tindak pidana lingkungan adalah :
1. Tindak pidana materiil
Tindak pidana lingkungan materiil diatur dalam Undang-Undang RI Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Pasal 98, 99, 112), Undang-Undang RI Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan (Pasal 47, 48, 50), Undang-Undang RI Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan (Pasal 78 ayat (1), ayat (11)).
2. Tindak pidana formil
Tindak pidana lingkungan formil diatur dalam Undang-Undang RI Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Pasal 100-111, 113-115), Undang-Undang RI Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan (Pasal 78 ayat (3) - (6)), Undang-Undang RI Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan (Pasal 46), Undang-Undang RI Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Pasal 158-162), Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian
(Pasal 27), Undang-Undang RI Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Pasal 70, 71, dan 73).
F. Metode Penelitian
Penelitian bertujuan untuk mengungkapkan kebenaran yang sistematis, metodologis, dan konsisten.59 Metode ilmiah dari suatu ilmu pengetahuan adalah segala cara dalam rangka ilmu tersebut, untuk sampai kepada kesatuan pengetahuan.60 Metode penelitian pada dasarnya adalah suatu sarana pokok dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni, sehingga dalam suatu penelitian yang dilakukan, harus bertujuan untuk mengungkapkan kebenaran secara sistematis, metodologis, dan konsisten.61
Penulisan skripsi ini menggunakan metode penelitian hukum. Penelitian hukum menurut Morris L. Cohen yaitu:
Metode penelitian hukum yang digunakan antara lain :
1. Jenis Penelitian
62
59Kata ‘’penelitian” sebenarnya merupakan terjemahan dari istilah research yang di Negeri Belanda baru digunakan secara umum sekitar tahun 1930-an. Semula pengertian researchhanya digunakan untuk penelitian di bidang teknik dan ilmu alam. Kemudian istilah research juga mulai digunakan dalam ilmu ekonomi, ilmu-ilmu sosial dan yang terakhir dalam ilmu hukum serta politik (Lihat Sunaryati Hartono, 1994, Penelitian Hukum di Indonesia Pada Akhir Abad ke-20, Alumni, Bandung, hlm. 96),
60Koentjaraningrat, 1974, Pengantar Antropologi, Aksara Baru, Jakarta, hlm. 37.
61Zainuddin Ali, 2009, Metode Penelitian Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, hlm. 17
62Abdul Hakim, dalam disertasi Pertanggungjawaban Pelaku Usaha Melalui Kontrak Baku dan Asas Kepatutan Dalam Perlindungan Konsumen (studi hubungan hukum antara pelaku usaha dengan konsumen perumaha), Universitas Sumatera Utara, 2013, hlm. 41.
Legal research, in a nutshells the process of finding the law that governs activities in human society. It involves locating both the rules are enforced by the state and commentaries which explain or anlyse these rules.
(Terjemahan: penelitian hukum, sebagai proses penemuan hukum dalam kehidupan masyarakat. Hal ini meliputi peraturan yang diterapkan negara dan penjelas yang menjelaskan atau menganalisis undang-undang).
Pengertian penelitian hukum disajikan dari pandangan para ahli, yang meliputi Soerjono Soekanto mengemukakan penelitian hukum adalah suatu penelitian ilmiah yang mempelajarai suatu gejala hukum tertentu dengan menganalisisnya atau melakuakn pemeriksaan yang mendalam terhadap fakta hukum untuk kemudian mengusahakan suatu pemecahan atas permasalahan yang timbul dari gejala yang bersangkutan.63 Peter Mahmud Marzuki menerangkan pengertian penelitian hukum adalah suatu proses untuk menemukan aturan hukum maupun doktrin-donktrin hukum guna menjawab isu hukum yang dihadapi.64 F.
Sugeng Santoso menyajikan penelitian hukum adalah penelitian yang diterapkan atau diberlakukan khusus pada ilmu hukum.65
Adapun jenis Penelitian hukum dalam penulisan skripsi ini adalah penelitian hukum normatif. Menurut Soerjono Soekanto dan Sri Mamuji penelitian hukum normatif atau disebut juga penelitian hukum kepustakaan adalah penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau data
63Bambang Sunggono, 2003, Metode Penelitian Hukum, Rajawali Press, Jakarta, hlm. 38.
64Peter Mahmud Marzuki, 2005, Penelitian Hukum, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, hlm.
35.
65F. Sugeng Susanto, 2007, Penelitian Hukum, CV Ganda, Yogjakarta, hlm. 29.
skunder belaka.66 Menurut Mukti Fajar ND dan Yulianto Ahmad menjelaskan pengertian penelitian hukum normatif adalah penelitian hukum yang meletakkan hukum sebagai sistem norma, mengenai asas-asas, norma, kaidah dari peraturan perundang-undangan, putusan pengadilan, perjanjian serta doktrin (ajaran).67
a. Bahan hukum primer yaitu bahan hukum yang bersifat autoritatif artinya mempunyai otoritas.
2. Data dan Sumber Data
Data penyusunan skripsi ini menggunakan data skunder yang meliputi bahan hukum primer, bahan hukum skunder, bahan hukum tersier.
68 Bahan hukum primer terdiri dari berbagai peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan penulisan skripsi ini serta putusan pengadilan yang merupakan konkretisasi dari perundang-undangan.69
b. Bahan hukum skunder yaitu bahan yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer. Bahan hukum sekunder terdiri dari rancangan undang-undang, buku teks, tulisan-tulisan tentang hukum baik dalam bentuk buku ataupun jurnal-jurnal serta artikel ahli hukum pidana yang berhubungan dengan skripsi ini.
66Soerjono Soekanto dan Sri Mamuji, 2010, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, RajaGrafindo Persada, Jakarta, hlm. 13-14.
67Salim HS dan Erlies Septiana Nurbani, 2013, Penerapan Teori Hukum Pada Penelitian Tesis dan Disertasi, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, hlm. 13.
68Peter Mahmud Marzuki, Op. Cit, hlm. 141.
69Ibid., hlm. 142
c. Bahan hukum tertier yaitu bahan-bahan yang memberi petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder. Bahan hukum tertier seperti kamus hukum, kamus besar bahasa indonesia, ensiklopedia.
3. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah penelitian kepustakaan (library research). Dalam hal ini, penulis melakukan penelitian terhadap putusan pengadilan, literatur literatur, peraturan perundang-undangan, buku-buku, majalah, jurnal-jurnal, dan internet yang dinilai relevan dengan permasalahan yang akan dibahas penulis dalam skripsi ini.
4. Analsis Data
Data sekunder yang telah diperoleh kemudian dianalisis secara kualitatif yaitu penulisan semaksimal mungkin memakai bahan-bahan yang ada berdasarkan asas-asas, pengertian serta sumber hukum yang ada dan menarik kesimpulan dari bahan tersebut.
G. Sistematika Penulisan
Untuk memberikan gambaran secara menyeluruh tentang isi skripsi, maka secara garis besar sistematikanya terdiri atas :
Bab I Pendahuluan
Diuraikan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan kepustakaan mengenai pengertian pembuktian, alat bukti keterangan ahli, putusan dan jenis putusan serta pengertian dan ruang
lingkup tindak pidana lingkungan hidup, metode penelitian, dan sistematika penulisan skripsi. Berlatar belakang kepada pengaruh alat bukti keterangan ahli yang dihadirkan di sidang pengadilan dihubungkan dengan sifat keyakinan hakim yang subjektif pada diri seorang hakim yang karena profesinya memiliki kewenangan untuk memutus sidang perkata tindak pidana lingkungan hidup.
Bab II Peran Keterangan Ahli Dalam Pembuktian Tindak Pidana
Diuraikan tentang teori dan sistem pembuktian pada umumnya, sistem pembuktian yang dianut di Indonesia pada khususnya, perbandingan sistem pembuktian menurut hukum acara pidana di indonesia dengan di negara lain, kedudukan keterangan ahli dalam upaya pembuktian tindak pidana.
Bab IIIKedudukan Keterangan Ahli Terhadap Keyakinan Hakim Dalam Upaya Pembuktian Pada Putusan Tindak Pidana Lingkungan Hidup
Diuraikan tentang alat bukti dalam pembuktian tindak pidana lingkungan hidup, klasifikasi ahli, hal-hal yang mempengaruhi keyakinan hakim dalam membuat putusan, peran ahli yang mempengaruhi keyakinan hakim pada putusan tindak pidana lingkungan hidup dalam rangka penegakan hukum lingkungan serta penggunaan alat bukti keterangan ahli dalam pembuktian tindak pidana lingkungan hidup terhadap beberapa putusan hakim
Bab IV Kesimpulan dan Saran
Diuraikan mengenai kesimpulan dan saran dari penulisan skripsi.
BAB II
KETERANGAN AHLI SEBAGAI ALAT BUKTI YANG SAH DALAM PEMBUKTIAN TINDAK PIDANA
2.1 Sistem atau Teori Pembuktian
Jimly Asshiddiqie menyatakan bahwa proses peradilan tanpa hukum materiil akan lumpuh, tetapi sebaliknya tanpa hukum formal akan liar dan bertindak semaunya.70 Hukum pidana materiil haruslah mendapat dukungan penuh dari hukum acara pidana, apabila tidak didukung maka hukum materiil akan menjadi tidak berdaya, begitu pula jika hukum acara pidana tersebut diterapkan tanpa adanya hukum materiil akan menjadi tidak berdasar penerapannya. Oleh karena itu antara hukum pidana materiil dan hukum pidana formil/hukum acara pidana dikonotasikan seperti layaknya simbiosis mutualisme.71
70 Prof. DR. Jimly Asshiddiqie, S.H, 2007, Pokok-pokok Hukum Tata Negara, Pasca Reformasi, BIP, Gramedia, hlm. 511.
71 Lilik Mulyadi, 2007, Hukum Acara Pidana (Suatu Tinjauan Khusus Terhadap Surat Dakwaan, Eksepsi, dan Putusan Peradilan, Teoritis dan Praktik, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, hlm. 4.
Tujuan dari hukum acara pidana itu adalah mencari, menemukan, dan menggali kebenaran materiil/materieele waarheid atau kebenaran yang
sesungguhnya atau kebenaran yang hakiki.72Karena konsekuensi demikian, dalam hukum acara pidana tidaklah dikenal adanya kebenaran formal/formeele waarheid yang semata-mata ditujukan pada formalitas-formalitas hukum.73 Jika hakim telah dapat menetapkan prihal adanya kebenaran melalui proses hukum acara pidana, maka aspek ini merupakan pembuktian tentang suatu hal dengan tujuan mengetahui bagaimana cara meletakkan suatu hasil pembuktian terhadap perkara yang sedang diadilinya. Adapun dimensi pembuktian melalui hukum pembuktian meliputi:74
a. Penyebutan alat-alat bukti yang dapat dipakai hakim untuk mendapatkan gambaran dari peristiwa yang sudah lampau (opsomming van bewijsmiddelen)75
b. Penguraian cara bagaimana alat-alat bukti itu dipergunakan (bewijsvoering)
;
76
72 Tujuan dari hukum acara pidana adalah untuk mencari dan mendapatkan atau setidak-tidaknya mendekati kebenaran materiil ialah kebenaran yang selengkap-lengkapnya dari suatu perkara pidana dengan menerapkan ketentuan hukum acara pidana secara jujur dan tepat, dengan tujuan untuk mencari siapakah pelaku yang dapat didakwakan melakukan suatu pelanggaran hukum dan selanjutnya meminta pemeriksaan dan putusan dari pengadilan guna menentukan apakah terbukti bahwa suatu tindak pidana telah dilakukan dan apakah orang yang didakwa itu dapat dipersalahkan (lihat Lilik Mulyadi, Seraut Wajah Putusan Hakim Dalam Hukum Acara Pidana Indonesia:
Perspektif, Teoritis, Praktik, Teknik Membuat, dan Permasalahannya, Op. Cit., hlm. 6)
73Menurut R. Wirjono Projodikoro kebenaran biasanya hanya mengenai keadaan-keadaan yang tertentu yang sudah lampau.Makin lama waktu lampau itu, makin sukar bagi hakim untuk menyatakan kebenaran atas keadaan-keadaan itu. Oleh karena roda pengalaman di dunia tidak mungkin diputar balikkan lagi, maka kepastian seratus persen, bahwa apa yang diyakini oleh hakim tentang suatu keadaan, betul-betul sesuai dengan kebenaran, tidak mungkin dicapai maka acara pidana sebetulnya hanya dapat menunjukkan jalan untuk berusaha guna mendekati sebanyak mungkin persesuaian antara keyakinan hakim dan kebenaran sejati. Untuk mendapaykan keyakinan hakim, maka membutuhkan alat-alat guna menggambarkan lagi keadaan-keadaan yang sudah lampau itu. (Lihat
74Ibid., hlm. 119.
75Bewijsmiddelen adalah alat-alat bukti yang digunakan untuk membuktikan telah terjadinya suatu peristiwa hukum (Lihat Eddy O.S. Hiariej, Op. Cit., hlm 17). Dalam hukum acara pidana di Indonesia, alat bukti yang diakui di pengadilan berdasarkan Pasal 184 KUHAP mengenai alat bukti yang sah dalam hukum acara pidana adalah :
;
1. Keterangan saksi;
2. Keterangan ahli;
3. Surat;
4. Petunjuk;
5. Keterangan terdakwa
c. Kekuatan pembuktian dari masing-masing alat-alat bukti itu (bewijskracht der bewijsmiddelen).77
Sebelum dunia ilmu hukum mengenal sistem dan metode pembuktian modern, dalam sejarah hukum dikenal sistem pembuktian sebagai berikut:78
Sistem pembuktian ini muncul dalam bentuk pembuktian dengan siksaan (ordeal), dimana Tuhan/roh nenek moyang dianggap akan membantu pihak yang tidak bersalah dari kesakitan/bahaya fisik atas siksaan yang diberikan kepada seorang tersangka. Model siksaan ini ada berbagai macam, termasuk model siksaan dengan memakai api yang menyala, besi panas, air panas, air dingin.
Model pembuktian dengan memakai tangan Tuhan juga muncul dalam wujud 1) Sistem pembuktian bebas
Model pembuktian dengan memakai tangan Tuhan juga muncul dalam wujud 1) Sistem pembuktian bebas