BAB IV HASIL PENELITIAN PEMBAHASAN
5. Tindak Tutur Verdiktif
Tindak tutur verdiktif adalah tindak tutur dimana penutur memberikan penilaian atas apa yang telah dikerjakan mitra tuturnya. Verba-verba pada tuturan verdiktif berada pada kerangka ‘saya … anda atas….’. tindak tutur tersebut menampilkan penilaian penutur atas perbuatan mitra tutur sebelumnya, maka tindak tutur ‘performatif berarti retrospektif. Pada penelitian tindak tutur dalam khotbah bahasa Batak Toba di Gereja HKBP Solo ditemukan sepuluh macam subtindak tutur yang masuk dalam tindak tutur verdiktif, yaitu; (a) mengucapkan selamat datang, (b) memberi semangat, (c) mendukung, (d) berterima kasih, (e) memberi kesanggupan, (f) menyangkal, (g) berpasrah (h) mengkritik, (i) mengharap, (j) membela.
commit to user
a. Mengucapkan Selamat Datang
Mengucapkan selamat datang berarti mempersilahkan orang lain untuk memasuki ruangan yang telah disediakan oleh penutur. Majelis jemaat HKBP Solo dan pos Pelayanan Sragen menyambut dengan sukacita kehadiran Bapak, Ibu, Saudara saudari dalam persekutuan ibadah minggu ini. Khususnya bagi Bapak, Ibu, Saudara saudari yang baru pertama kali bersekutu dengan kami dalam ibadah minggu, kami mengucapkan “Selamat Datang Selamat Beribadah Tuhan memberkati”. Jadi subtindak tutur ‘mengucapkan selamat datang’ adalah tindak pertuturan yang dilakukan penutur untuk mempersilahkan mitra tutur memasuki tutur jenis ini dapat diperhatikan data berikut.
(46) Selamat datang di Gereja HKBP Solo Selamat Beribadah
Frasa pada tuturan (46) Selamat datang di Gereja HKBP Solo Selamat Beribadah merupakan penanda lingual subtindak tutur ‘mengucapkan selamat datang’. Frasa yang disampaikan oleh penutur tersebut merupakan pertanda bahwa hubungan antara penutur dan mitra tutur belum akrab atau baru pertama kali datang bertibadah di Gereja HKBP Solo. Hal ini terbukti pada klausa Pendeta yang disampaikan penutur mengandung makna untuk menghormati mitra tuturnya yaitu Pendeta. Maksud penutur mengatakan Majelis jemaat HKBP Solo dan pos Pelayanan Sragen menyambut dengan sukacita kehadiran Bapak, Ibu, Saudara saudari dalam persekutuan ibadah minggu ini. Khususnya bagi Bapak, Ibu, Saudara saudari yang baru pertama kali bersekutu dengan kami dalam ibadah minggu, kami mengucapkan “Selamat Datang Selamat Beribadah Tuhan memberkati”.
Faktor yang menentukan terjadinya subtindak tutur ‘mengucapkan selamat datang’ adalah kedatangan Bapak, Ibu, Saudara saudari dalam persekutuan ibadah
commit to user
minggu ini. Khususnya bagi Bapak, Ibu, Saudara saudari yang baru pertama kali bersekutu dengan kami dalam ibadah minggu Tuhan memberkati. Frasa selamat datang di Gereja HKBP Solo Selamat Beribadah yang diucapkan penutur bermakna mempersilahkan untuk memasuki ruangan yang disediakan penutur kepada Bapak, Ibu, Saudara saudari yang baru pertama kali bersekutu dengan kami dalam ibadah minggu ini.
b. Memberi Semangat
Memberi semangat berarti memberikan sesuatu yang berupa dorongan jiwa kepada orang lain supaya tetap bersemangat, atau tetap pada pendiriannya. Jadi yang dimaksut dengan subtindak tutur ‘memberi semangat’ adalah suatu tindakan pertuturan yang berupa dorongan jiwa yang dituturkan oleh penutur kepada mitra tutur, agar mitra tutur tetap bersemangat atau tetap pada pendiriannya. Contohnya berikut akan menjadikan lebih jelas tentang suntindak tutur ‘memberi semangat’.
(47) Ajarima hami asa unang na holan namangido hami alai asa boi hami mangalehon dalan na denggan di ngolu nami on asa marparbue ganup marsada-sada.
Pada tuturan (47) Ajari kami agar kami tidak selalu meminta, tetapi agar kami bisa memberikan jalan yang terbaik di dalam kehidupan kami ini, dan bisa berbuah disetiap orang, merupakan tindakan pertuturan yang berupa dorongan jiwa yang dituturkan oleh penutur kepada mitra tutur, agar mitra tutur tetap bersemangat atau tetap pada pendiriannya mitra tutur yang dalam hal ini bersemangat untuk mendapat berkat dari Tuhan di Gereja HKBP Solo. Berkat tersebut berupa kesehatan jasmani maupun rohani dan Tuhan memberkati semua aktifitas yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, sebelum mendapat berkat jemaat mendapat godaan atau tantangan dari semua pihak baik manusia maupun iblis yang selalu mengoda jemaat
commit to user
yang mau bertobat dan mengikuti semua perintah Tuhan. Penutur melihat kekawatiran mitra tutur kemudian mengatakan ‘tantangan berat’. Maksud frasa yang diucapkan penutur adalah penutur membenarkan bahwa bersemangat mitra tutur memang berat. Tetapi penutur berusaha untuk membesarkan hati atau memberi semangat kepada mitra tutur yang sudah kecil hati dengan mengatakan ‘jiwamu kuat pemegang amanat’. Kedua frasa tersebut merupakan penanda lingual subtindak tutur ‘memberi semangat’.
Sebagai faktor yang menentukan subtindak tutur ‘memberi semangat’ adalah situasi yang dialami oleh mitra tutur, yaitu kekhawatiran hati mitra tutur seandainya yang terpilih jemaat yang tidak takut akan Tuhan. Selain itu, tujuan pertuturan tersebut juga menentukan terjadinya subtindak tutur ‘memberi semangat’.
c. Mendukung
Mendukung berarti menyatakan dukungan kepada orang lain. Jadi subtindak tutur ‘mendukung’ adalah tindak pertuturan yang disampaikan penutur untuk menyatakan dukungan kepada mitra tutur atas perbuatannya. Tuturan yang berkaitan dengan subtindak tutur jenis ini dapat diperhatikan contoh-contoh berikut.
(48) Amang Inang mulai tapukka hita marminggu nakkaning ngapigahali hubege marende manang markoor memang ondo hasomalan ni halak Kristen. Jala di huta-huta di parsoburan maksuthu on do lasni rohakku molo ro hamu tu jabu ai godang do namabalu ga namabalu mangaratto muse gellengna di luat na dao manang naung sahat tu Solo on haroa, jadi holan na marende buku ende do jala disi do hu ida haporseahon ni HKBP na di bentuk dari buku ende.
Penutur pada penuturan (48) Bapa, Ibu mulai kita beribadah mulai tadi sudah berapa kali aku mendengar nyanyi atau koor memang ini kebiasaan orang Kristen. Kalau di kampung-kampung di parsoburan maksudku inilah membuat senang hatiku,
commit to user
punya suami merantau juga anaknya di daerah lain atau sudah sampai di solo ini, jadi hanya bernyanyi buku nyanyian saja disitulah saya melihat kepercayaan orang HKBP yang di bentuk dari buku nyanyian. Pertuturan yang disampaikan penutur untuk menyatakan dukungan kepada mitra tutur atas perbuatannya baik melalui bernyanyi maupun mendengarkan firman Tuhan. Kata ‘dukung’ pada klausa tersebut merupakan penanda lingual subtindak tutur ‘mendukung’. Penutur melakukan hal tersebut karena faktor status sosial antara pendeta dengan jemaat penutur layak mendukung Jemaat yang mau bertobat baik melalui nyanyian maupun mendengar firman Tuhan yang telah disapaikan oleh pendeta dan penutur berusaha untuk memenangkan hati dan pikiran dan seluruh jiwa dan raganya diserahkan kepada Tuhan dengan demikian, faktor sosial antara pendeta dengan jemaat menjadi faktor penentu terjadinya subtindak tutur ‘mendukung’.
d. Berterima Kasih
Berterima kasih berarti menyampaikan ucapan terima kasih kepada orang lain. jadi subtindak tutur ‘berterima kasih’ adalah tindak pertuturan yang dilakukan penutur untuk mengucapkan terima kasih kepada mitra tuturnya. Untuk mengetahui subtindak tutur jenis ini dapat diamati contoh-contoh berikut.
(49) Mauliate ma dohonon nami tu ho ale Tuhan, alana nunga di sungguli ho hami Tuhan, asa tottong tarida ma jati dirinami songon jorom asa tongtong mian tondimi tu rohanami ikkon di balokkon hami ma angka pangalaho naso denggan na hombar tu lomo ni roham.
Penutur pada tuturan (49) Terimakasih Tuhan kami ucapkan karena Tuhan masih membimbing kami, agar bisa kelihatan jati diri kami seperti rumahmu Tuhan dan terus hidup rohmu di dalam hati kami Tuhan, dan kami akan membuang tingkah laku yang tidak baik sesuai dengan ke inginanmu Tuhan. Pertuturan yang dilakukan penutur untuk mengucapkan terima kasih kepada mitra tuturnya setelah khotbah
commit to user
bahasa Batak Toba di Gereja HKBP Solo. Frasa ‘terima kasih’ yang disampaikan penutur merupakan penanda lingual subtindak tutur ‘berterima kasih’. Penutur merasa senang atas kehadiran mitra tutur dalam khotbah bahasa Batak Toba di Gereja HKBP Solo. Dalam hal ini, penutur adalah Pendeta, sedangkan mitra tutur adalah jemaat. Penutur memberi semangat kepada mitra tutur untuk berjuang untuk memenangkan firman Tuhan di Gereja HKBP Solo.
Sebagai faktor yang menentukan terjadinya tutur ‘berterima kasih’ adalah tujuan pertuturan. Penutur dalam hal ini bertujuan menghargai atas kehadiran mitra tutur atau jemaat dan untuk mengakhiri ibadah yang berlangsung di Gereja HKBP Solo. Hal ini terbukti pada klausa ‘terima kasih atas kehadiran bagi Bapak, Ibu, Saudara saudari yang baru pertama kali bersekutu dengan kami dalam ibadah minggu ini di Gereja HKBP Solo.
e. Memberi Kesanggupan
Memberi berarti memberikan sesuatu kepada orang lain yang berupa kesanggupan. Jadi subtindak tutur ‘memberi kesanggupan’ adalah tindak pertuturan yang disampaikan mitra tutur untuk memberikan sesuatu yang berupa kesanggupan kepada penutur. Tuturan yang berkaitan dengan subtindak tutur ‘memberi kesanggupan’ dapat diperhatikan pada data berikut:
(50) Tuhan Yesus menyembuhkan orang-orang lumpuh dan orang-orang yang buta ima na eha tabege, sogo rohana molo mamereng bahkan yang baik itu sering disalah sangka ndang diboto ho mengenai Tuhan Yesus kalau Tuhan sudah berkenan dalam hidup kita maka kita tidak meragukan mujizat-mujizat itu kepada kita, keluarga kita, mapun orang-orang yang kita hormati dan kita sanyangi.
Tuturan (50) Tuhan Yesus menyembuhkan orang-orang lumpuh dan orang orang yang buta itulah yang pernah kita pakai, tidak senang hatinya kalau melihat
commit to user
bahkan yang baik itu sering disalah sangka, tidak di ketahui mengenai Tuhan Yesus kalau Tuhan sudah berkenan dalam hidup kita maka kita tidak meragukan mujizat- mujizat itu kepada kita, keluarga kita, maupun orang-orang yang kita hormati dan kita sanyangi. Pertuturan yang disampaikan mitra tutur untuk memberikan sesuatu yang berupa kesanggupan kepada penutur dan penutur bertanya kepada mitra tutur tentang kesanggupan memberikan kemenangan kepada Tuhan yang maha pengasih. Mitra tutur merespon dengan mengatakan ‘sanggup’. Kata ‘sanggup’ merupakan penanda lingual subtindak tutur ‘memberi kesanggupan’. Kata tersebut adalah jawaban singkat dan respon yang lengkap, yaitu kami sanggup memberikan kemenangan kepada Tuhan yang maha pengasih. Dalam hal ini, penutur berstatus sosial sebagai jemaat di Gereja HKBP Solo dengan demikian, penutur dan mitra tutur adalah satu keluarga, yaitu keluarga jemaat yang ada di Gereja HKBP Solo pada umumnya anggota keluarga jemaat saling kenal dan mengerti masalah yang dihadapi dalam keluarga jemaat serta hubungannya akrab.
Sebagai faktor yang menentukan terjadinya subtindak tutur ‘memberi kesanggupan’ adalah saling pengertian yaitu penutur menginginkan banyak jemaat memberikan kemenangan kepada Tuhan yang maha pengasih di Gereja HKBP Solo. Selain itu, keakraban juga menjadi faktor penentu terjadinya subtindak tutur ‘memberi kesanggupan’.
f. Menyangkal
Menyangkal berarti menyatakan tidak mau menerima sesuatu yang dilakukan orang lain. jadi subtindak tutur menyangkal adalah suatu tindak pertuturan di mana penutur tidak menerima tindakan yang dilakukan mitra tutur atau penutur mempunyai
commit to user
pendapat lain. Untuk memahami subtindak tutur ‘menyanggah’ dapat dilihat pada contoh berikut.
(51) Pilatus menyuruh memasang juga tulisan di atas kayu salib itu, bunyinya: “Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi.” Ia datang kepada pemilik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak meneriman-Nya.
Tuturan (51) kata ‘tetapi’ pada klausa ‘orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak meneriman-Nya’ merupakan penanda lingual subtindak tutur ‘menyangkal’ dalam hal ini, penutur dituduh orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak meneriman-Nya. Pada umumnya orang yang dituduh melakukan sesuatu yang tidak benar, maka orang tersebut akan menyangkal, sebab hal ini berkaitan dengan hukum, dan orang itu akan selalu menghindar hukum walaupun kenyataanya melakukan hal seperti yang dituduhkanya. Demikian juga yang dilakukan penutur dengan menyangkal atas tuduhan tersebut dan memberikan keterangan dengan mengatakan ‘Pilatus menyuruh memasang juga tulisan di atas kayu salib itu, bunyinya: “Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi.” Ia datang kepada pemilik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak meneriman-Nya’.
Sebagai faktor penentu terjadinya subtindak tutur ‘menyangkal’ terletak pada klausa ‘orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak meneriman-Nya’ yang dituduhkan kepada penutur klausa tersebut mengandung makna menuduh. Penutur merasa tidak orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak meneriman-Nya maka penutur melakukan subtindak tutur ‘menyangkal’.
g. Berpasrah
Berpasrah berarti menyerahkan segala permasalahan atau urusan kepada Tuhan atau kepada siapa yang dianggap. Jadi subtindak tutur ‘berpasrah’ adalah
commit to user
tindak pertuturan yang dilakukan oleh penutur untuk menyerahkan segala permasalahan atau urusan kepada Tuhan atau kepada siapa saja yang dianggap mampu. Contoh berikut akan menjadikan lebih jelas tentang subtindak tutur ‘berpasrah’.
(52) Ale Tuhan Yesus Kristus nami sai tu ho ma dipasahat hami asa marurat di ngolu namion suang songoni dakdanak dohot naposo bulung marsibur magodang, sai homa na mandongani hami dohot mangajari-ajari hami saonari sahat tu marsogot.
Penutur pada tuturan (52) Tuhan Yesus Kristus hanya kepadamu kami sampaikan biar berakar di dalam kehidupan kami begitu juga anak-anak dan muda mudi, hanya engkau yang menemani dan mengajari kami sekarang sampai selama- lamanya. Pertuturan yang dilakukan oleh penutur untuk menyerahkan segala permasalahan atau urusan kepada Tuhan dalam hal ini manusia harus menjauhkan sifat-sifat yang tidak baik bagi kita sendiri, keluarga, masyarakat, dan lingkungan kita masing-masing. Kita juga wajib berusaha untuk mencukupi kebutuhan hidup dalam sehari-hari, dan mendekatkan diri kepada Tuhan, karena Tuhan yang mengatur dalam kehidupan manusia. Tuhan tidak akan mengubah nasib hambany-Nya kalau hamba tersebut tidak mengubahnya sendiri, karena Tuhan Yesus Kristus yang melindungi dan mengajari kita sekarang sampai selama-lamanya. Klausa yang disampaikan penutur tersebut merupakan subtindak tutur ‘berpasrah’. Frasa ‘berserah diri’ pada klausa kepada Tuhan Yesus Kristus sajalah hendaknya engkau berserah diri, juga menjadi penanda lingual subtindak tutur ‘berpasrah’. Penutur menyuruh mitra tutur untuk berpasrah hanya kepada Tuhan yesus Kristus tentang segala sesuatu yang dihadapannya, karena tidak ada kekuatan yang menyamai kekuatan Tuhan.
Faktor yang menentukan terjadinya subtindak tutur ‘berpasrah’ adalah keterbatasan kemampuan manusia dan yang terkuat hanya Tuhan. Tuturan yang
commit to user
disampaikan penutur kalau Tuhan Yesus Kristus sudah menolongmu tidak ada orang bisa mengalahkanmu, tetapi kalau Tuhan Yesus Kristus sudah membuatmu kalah tidak ada orang yang bisa membantumu dan menolongmu, karena Tuhan Yesus Kristus merupakan tanda-tanda manusia itu lemah, sekalipun sebagai penentu subtindak tutur ‘berpasrah’.
h. Mengkritik
Mengkritik berarti memberi kecaman atau tanggapan yang kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan terhadap baik-buruknya suatu perbuatan, pendapat dan sebagainya yang telah dilakukan orang lain. jadi subtindak tutur ‘mengkritik’ adalah tindak pertuturan yang disampaikan penutur untuk memberi kecaman atau tanggapan kepada penutur untuk memberi kecaman atau tanggapan kepada mitra tutur terhadap perbuatan, pendapat dan sebagainya. Data berikut akan menjadikan lebih jelas tentang subtindak tutur jenis ini.
(53) Petrus langsung bertindak cepat tetapi Johannes berpikir lebih dalam dan matang, molo di sukun hita saonari dibagian nise mahita saonari adong contohnya si Maria dohot si Marta, ittor hebo do si Marta marhobas tu dapur mungkin dijalang pe ndang dijalang alai ianggo si Maria di dogani do Kristus Ima na didokkon ianggo si Maria dipeot do hatai jala dipahusorhusor rohana.
Penutur dalam tuturan (53) menyatakan pada klausa pertama Petrus langsung bertindak cepat tetapi Johannes berpikir lebih dalam dan matang, kalau di tanya kita sekarang dibagian mana kita sekarang ada contohnya si Maria dengan si Marta, langsung koncar kancir si Marta mempersiapkan atau menyiapkan diri di dapur mungkin di salam pun tidak di salam tetapi kalau si Maria di temaninya Kristus menunggu dan mendengar apa yang di katakan untuk itu di katakan kalau si Maria disimpan perkataan itu jadi dipila-pila di dalam hatinya. Pertuturan yang disampaikan
commit to user
kecaman atau tanggapan kepada mitra tutur terhadap perbuatan, pendapat dan sebagainya Tuturan tersebut bukan untuk tidak mengulang kejadian pelaksanaan yang telah dilakukan simarta namun lebih ditujukan sebagai subtindak tutur ‘mengkritik’. Tuturan mengkritik juga disampaikan penutur pada klausa terakhir kita tidak ingin lagi ada suasana di mana si Marta ittor hebodo marhobas tu dapur mungkin di jalang pe dang di jalang, maksud penutur pada tuturan tersebut bukan untuk tidak menginginkan lagi jemaat atau simarta melakukan hal seperti itu. walaupun simarta atau jemaat yang baru bertamu atau baru ketemu sama keluarga jadi tidak perlu langsung memasak ke dapur alangkah baiknya terlebih dahulu kita mendengar cerita tamu atau keluarga kita yang baru datang.
Klausa Petrus langsung bertindak cepat tetapi Johannes berpikir lebih dalam dan matang, kalau di tanya kita sekarang di bagian mana kita sekarang ada contohnya si Maria dengan si Marta, langsung koncar kancir si Marta mempersiapkan atau menyiapkan diri di dapur mungkin di salam pun tidak di salam tetapi kalau si Maria di temaninya Kristus menunggu dan mendengar apa yang di katakan untuk itu di katakan kalau si Maria disimpan perkataan itu jadi di pila-pila di dalam hatinya. Penutur dan mitra tutur tidak ingin kembali yang telah dilakukan simarta pada tuturan si Marta langsung koncar kancir si Marta untuk mempersiapkan diri di dapur mungkin di salam pun tidak di salam untuk itu kepada jemaat yang ada di gereja HKBP Solo agar tidak mengulang perbuatan yang sama seperti si Marta, tuturan ini hanya mengandung makna mengkritik. Klausa tersebut merupakan penanda lingual subtindak tutur ‘mengkritik’. Penutur dalam hal ini telah melanggar prinsip kerjasama (maksim kualitas) yaitu dengan mengatakan sesuatu yang dianggap tidak benar, tetapi penutur telah mematuhi prinsip kesantunan yaitu untuk tidak menyakitkan hati mitra tutur.
commit to user
Sebagai faktor penentu terjadinya subtindak tutur ‘mengkritik’ adalah tujuan pertuturan yang disampaikan penutur. Penutur memiliki tujuan pertuturan untuk mengkritik, karena mitra tutur selalu berbuat yang tidak benar. Kalau penutur dan mitra tutur sudah berbuat baik maka orang lain tidak akan mengkritik lagi.
i. Mengharap
Mengharap berarti menginginkan sesuatu yang belum jelas tetapi dengan harapan bahwa yang diinginkan itu terlaksana. Mitra tutur, atau pihak ketiga ini di luar mitra tutur yang diharapkan oleh penutur untuk mengabulkan keinginannya. Jadi yang dimaksud dengan subtindak tutur ‘mengharap’ adalah suatu tindak dimana penutur mengharapkan mitra tutur atau yang lain di luar mitra tutur untuk mengabulkan keinginannya contoh-contoh berikut akan menjadi lebih jelas tentang subtindak tutur ‘mengharap’.
(54) Siallang na tupama manang ahape na rade sipanganon disi, jadi molo tungpe tuan rumah mengharapkan manang isepe na ro tu pesta i memakan apa adanya, mangallang apa adanya jala ikkon boi do mangihutton manang ahape na lao allanggonna, makana adong uppasa horas hamu mangallang horas muse hami na mamangan.
(55) Asa boi tongtong di tongatonga ni huriam mauliate ma di ho Tuhan pasupasuma hami saluhutna di ragam parukkilon sai homa ale Tuhan na mandongani hami mauliate ma di ho godang dope sipangidoon nami alai pos do rohanami di boto ho do saluhutna na adong di bagasan rohanamibe ale Tuhan hupasahat ma tu tanganmu mauliate ma diho sai sesama na sa dosa nami di bagasan Yesus Kristus terpujima goarmu. Pada tuturan (54) penutur memberitahukan mitra turur tentang harapannya dengan mengatakan makanan yang sudah tersedia atau apapun yang tersedia makanan di situ, jadi kalau datang tuan rumah atau pemilik rumah mengharapkan atau siapapun yang datang ke pesta itu memakan apa adanya, memakan apa adanya dan harus bisa mengikuti atau apapun yang mau dimakan, untuk itu ada perumpamaan selamat kamu makan selamat juga kepada kami yang memakan. Kata-kata tuan rumah mengharapkan atau siapapun yang datang ke pesta itu harus memakan apa adanya,
commit to user
penutur adalah semua tamu yang datang ke pesta maupun semua jemaat yang ada di Gereja HKBP Solo semuanya adalah anak-anak Tuhan. Penutur memohon kepada Tuhan agar mengabulkan semua keinginan tuan rumah maupun ke inginan jemaat yang ada di gereja HKBP Solo. Hal ini terbukti pada kata ‘semuanya’ yang diucapkan penutur. Penutur melakukan hal tersebut karena status penutur sebagai tuan rumah maupun sebagai jemaat yang layak untuk didoakan atau mengharapkan saudara- saudari semua yang ada di Gereja HKBP Solo semuanya adalah anak-anak Tuhan.
Penutur pada tuturan (55) Biar bisa senantiasa di tengah-tengah jemaat gerejamu terimakasih kami ucapkan kepada kamu Tuhan berkati kami semuanya di